Rektor Institut Kesehatan Helvetia Assoc. Prof. Dr. H. Ismail Efendy, M.Si mewisuda 719 lulusan magister, profesi, sarjana dan diploma di Regale International Convention Centre Medan, Rabu (30/9). Wisuda semakin meriah dengan hiburan yang ditampilkan Lebah Begantong.
Kegiatan ini dihadiri ketua dan anggota senat Institut Kesehatan Helvetia, Pembina Yayasan Helvetia Dr. dr. Razia Begum Suroyo, M.Kes, Kepala LLDikti Wilayah I Prof. Saiful Anwar Matondang, MmA, Ph.D, Ketua Aptisi Sumut Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Isa Indrawan, M.M, Ketua ABP-PTSI Sumut sekaligus Ketua BPH Institut Kesehatan Helvetia Prof. Dr. H. Bahdin Nur Tanjung, M.M dan undangan lainnya.
“Hari ini adalah hari yang istimewa. Hari ketika perjuangan panjang, air mata, doa, kerja keras, penelitian, praktik lapangan, ujian dan berbagai tantangan akademik
menemukan sebuah titik perayaan. Hari ini adalah penanda bahwa Saudara telah memperoleh amanah
baru. Amanah ilmu, amanah profesi dan amanah kemanusiaan,” sebut rektor
Tantangan kesehatan hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang penyakit menular atau pelayanan di rumah sakit. “Kita menghadapi penyakit tidak menular,
penuaan penduduk, kesehatan mental, perubahan iklim,
resistensi antimikroba, transformasi digital, kecerdasan buatan, ketimpangan akses pelayanan kesehatan serta kebutuhan akan tenaga kesehatan yang kompeten sekaligus berintegritas,” kata Assoc. Prof. Dr. H. Ismail Efendy, M.Si.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan jumlah tenaga kesehatan global telah melampaui 70 juta orang. Tetapi dunia masih menghadapi kekurangan sekitar 11,1 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030. Bahkan, lanjut rektor, sekitar 70 persen kekurangan tersebut diproyeksikan terkonsentrasi di kawasan Afrika dan Mediterania Timur.
“Data tersebut memberi pesan penting bahwa dunia membutuhkan tenaga kesehatan. Bukan hanya dalam jumlah yang cukup, tetapi tenaga kesehatan yang berkualitas, adaptif, profesional dan mampu menjawab persoalan masyarakat,” tegasnya.
Disisi lain, kata rektor, penyakit tidak menular semakin menjadi
tantangan besar kesehatan dunia. Secara global diketahui bahwa penyakit tidak menular menyumbang sekitar 74 persen dari seluruh kematian. “Artinya pencegahan penyakit, promosi kesehatan, perubahan perilaku, deteksi dini serta penguatan pelayanan kesehatan primer harus menjadi perhatian kita semua,” terang Assoc. Prof. Dr. H. Ismail Efendy, M.Si.
Ditengah perubahan tersebut, rektor mengingatkan lulusan Institut Kesehatan Helvetia akan memasuki dunia kerja yang berbeda dengan dunia ketika pertama kali masuk perguruan tinggi. Sebab teknologi kecerdasan
buatan (artificial intelligence) semakin berkembang. Rekam
medis elektronik, telemedicine, analitik data kesehatan, perangkat kesehatan pintar dan berbagai inovasi digital akan semakin menjadi bagian dari pelayanan kesehatan.
“Saya ingin mengingatkan teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tidak boleh kehilangan
kemanusiaannya. Tenaga kesehatan tidak boleh hanya pandai membaca data, tetapi juga harus mampu membaca kegelisahan pasien. Tidak cukup hanya mampu memberikan terapi, tetapi juga harus mampu memberikan harapan. Tidak cukup hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi harus memiliki empati, etika, dan tanggung jawab moral,” ujarnya.
Karena itu, Assoc. Prof. Dr. H. Ismail Efendy, M.Si menitipkan lima pesan kepada para
wisudawan. Jagalah integritas, jangan pernah berhenti belajar, gunakan teknologi dengan bijaksana, jadilah tenaga kesehatan yang hadir untuk semua dan jagalah nama baik almamater.
“Jadilah alumni yang
membanggakan. Berprestasilah, tetapi tetap rendah hati. Milikilah kompetensi, tetapi jangan kehilangan akhlak. Jadilah profesional yang cerdas sekaligus manusia yang peduli,” harap rektor.
Dalam kesempatan ini, rektor berterima kasih atas dukungan orangtua wisudawan dan sivitas akademika Institut Kesehatan Helvetia. Rektor juga berterima kasih kepada Yayasan Helvetia sebagai penyelenggara Institut Kesehatan Helvetia
yang berkomitmen memberi fasilitas tempat belajar yang memadai, lengkap dengan laboratorium modern, baik di kampus Sumarsono maupun kampus Teladan.
Demikian juga dukungan sarana lima rumah sakit di Medan yakni Mitra Medika Amplas, Mitra Medika Tembung, Mitra Medika Tanjung Mulia, Mitra Medika Wulan Windi dan Mitra Medika Premiere serta Mitra Medika di Pangkalpinang. “Seluruh rumah sakit modern tersebut dapat menjadi sarana belajar langsung bagi mahasiswa, serta menjadi peluang bagi para lulusan Institut Kesehatan Helvetia untuk mengabdi di dunia kesehatan,” katanya.
Dibagian akhir sambutannya, rektor meminta para lulusan Institut Kesehatan Helvetia untuk jadikan ilmu sebagai cahaya, jadikan profesi sebagai pengabdian, jadikan keberhasilan sebagai kesempatan untuk memberi manfaat. “Ingatlah, ukuran kesuksesan seorang tenaga kesehatan bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang dicapai. Tetapi seberapa banyak kehidupan yang dapat disentuh dan diperbaiki melalui ilmu yang dimiliki,” tegas rektor.
Kepala LLDikti Wilayah I mengingatkan lulusan diploma dan sarjana harus memiliki skill dan talenta plus agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Sebab kemajuan sistem komputer dan kecerdasan buatan telah banyak mengambil alih pekerjaan terutama dalam bidang administrasi dan kegiatan yang bersifat rutinitas.
Menurut Prof. Saiful Anwar Matondang, M.A, Ph.D kini lebih dibutuhkan calon karyawan yang memiliki inisiatif ‘menjemput bola’ memulai sesuatu, bekerja tepat waktu dan mau belajar terus menerus dengan kemauan sendiri.
Sementara itu Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Sumut Prof. Dr. H. Bahdin Nur Tanjung, M.M mengatakan bahwa wisuda dan ijazah yang diterima hari ini bukanlah akhir perjalanan. Melainkan tiket untuk memasuki dunia profesional dan pengabdian kepada masyarakat.
Prof. Dr. H. Bahdin Nur Tanjung, M.M menyebutkan bahwa gelar akademik harus diikuti dengan kompetensi, integritas, profesionalisme,
kepedulian, kemampuan beradaptasi dan semangat belajar sepanjang hayat. Dunia kesehatan terus mengalami perubahan
transformasi digital,
artificial intelligence,
telemedicine, perkembangan teknologi kesehatan,
perubahan pola penyakit, tuntutan mutu dan keselamatan pasien
serta meningkatnya harapan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Karena itu, lanjut ketua ABPPTSI Sumut, lulusan kesehatan tidak cukup hanya siap bekerja. Tetapi harus menjadi insan profesional yang siap belajar, siap berubah dan siap memberikan solusi.
“Saya ingin menitipkan lima pesan penting.
Jagalah integritas, jadilah tenaga kesehatan yang humanis, jangan pernah berhenti belajar, kuasai teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan serta jadilah kebanggaan almamater. Dimanapun bekerja, bawalah nama baik Institut Kesehatan Helvetia Medan dengan prestasi dan perilaku yang baik,” katanya.
Dalam wisuda ini, diberikan penghargaan kepada para lulusan terbaik. Dari program studi S2 kesehatan masyarakat adalah Mida Lestari Rambe, Gita Dwitari dan Adri Imanuel Lb. Tobing. Lulusan terbaik dari program studi S1 kesehatan masyarakat adalah Dea Indah Cahyani, Cinta Kinanti Putri dan Della Junita.
Lulusan terbaik dari program studi S1 administrasi rumah sakit adalah Ayu Ferinsix Zebua, Yusra Pandiangan dan Widi Suri Hartari. Lulusan terbaik dari program studi S1 gizi adalah Dana Sartika Margareta Waruwu, Ami Awairiyah Sueda dan Penti Mawaddah.
Lulusan terbaik dari program studi D4 kesehatan dan keselamatan kerja adalah Ananda Apriliana dan Ervan Kristin Telaumbanua. Lulusan terbaik dari program studi S1 farmasi adalah Markus Cristofeel Situmorang, Muhammad Al Qari dan Putri Salsabila.
Lulusan terbaik dari program studi S1 kebidanan adalah Dysha Latifah Hanoum, Dedek Nurhidayah dan Desraya Fau. Lulusan terbaik dari program studi D3 farmasi adalah Annisa Fitria, Mhd. Ilham Akbar Ucasa Putra dan Suci Adila Pratama Ramadani.
Lulusan terbaik dari program studi D3 keperawatan adalah Icha Ahnizar, Resya Maisie Hendrawan Kembaren dan Nasrul Harahap. Lulusan terbaik dari program studi D3 kebidanan adalah Diva Salsabila, Siska Noviani dan Hannah Amalia. (dmp)

