28 C
Medan
Tuesday, July 23, 2024

Konten Ekstrem di YouTube Gerus Pendapatan Iklan Google

Ilustrasi. Foto: AFP

NEW YORK, SUMUTPOS.CO – Google Inc kehilangan pemasukan hingga jutaan dolar setelah beberapa perusahaan terkemuka mencabut iklan dari YouTube.

Pencabulan iklan dilakukan, misalnya, oleh AT&T dan Verizon, GSK, Pepsi, Walmart, serta Johnson & Johnson.

Masalah tersebut berawal dari munculnya iklan dari merek-merek terkenal itu pada beberapa konten yang memuat pandangan ekstremis dan ujaran kebencian di YouTube.

Iklan merek Verizon bahkan muncul pada video berkonten ekstrem buatan ulama asal Mesir Wagdy Ghoneim dan video-video ujaran kebencian buatan Hanif Qureshi yang menjadi inspirasi teror pembunuhan.

’’Kami khawatir iklan kami juga muncul di konten video seperti itu,’’ ujar juru bicara AT&T dalam pernyataan resmi.

Peneliti Demos Alex Krasodomski-Jones menuturkan, masalah itu tidak hanya merusak reputasi perusahaan, tetapi juga menurunkan pendapatan.

YouTube mungkin didirikan sebagai situs web untuk berbagi video.

Namun, sama dengan Google dan Facebook, YouTube tidak lepas dari periklanan.

’’Fakta buruknya, banyak pengiklan yang masih belum tahu bagaimana iklan online mereka bekerja,’’ ungkapnya.

Sementara itu, staf ahli C Squared Charlie Crowe meyakini, setiap media pasti bakal berusaha menempatkan iklan sesuai dengan target.

’’Bedanya, di dunia online semuanya diatur berdasar algoritma. Elemen manusia dianggap persamaan. Itu masalahnya,’’ katanya.

Ilustrasi. Foto: AFP

NEW YORK, SUMUTPOS.CO – Google Inc kehilangan pemasukan hingga jutaan dolar setelah beberapa perusahaan terkemuka mencabut iklan dari YouTube.

Pencabulan iklan dilakukan, misalnya, oleh AT&T dan Verizon, GSK, Pepsi, Walmart, serta Johnson & Johnson.

Masalah tersebut berawal dari munculnya iklan dari merek-merek terkenal itu pada beberapa konten yang memuat pandangan ekstremis dan ujaran kebencian di YouTube.

Iklan merek Verizon bahkan muncul pada video berkonten ekstrem buatan ulama asal Mesir Wagdy Ghoneim dan video-video ujaran kebencian buatan Hanif Qureshi yang menjadi inspirasi teror pembunuhan.

’’Kami khawatir iklan kami juga muncul di konten video seperti itu,’’ ujar juru bicara AT&T dalam pernyataan resmi.

Peneliti Demos Alex Krasodomski-Jones menuturkan, masalah itu tidak hanya merusak reputasi perusahaan, tetapi juga menurunkan pendapatan.

YouTube mungkin didirikan sebagai situs web untuk berbagi video.

Namun, sama dengan Google dan Facebook, YouTube tidak lepas dari periklanan.

’’Fakta buruknya, banyak pengiklan yang masih belum tahu bagaimana iklan online mereka bekerja,’’ ungkapnya.

Sementara itu, staf ahli C Squared Charlie Crowe meyakini, setiap media pasti bakal berusaha menempatkan iklan sesuai dengan target.

’’Bedanya, di dunia online semuanya diatur berdasar algoritma. Elemen manusia dianggap persamaan. Itu masalahnya,’’ katanya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/