30 C
Medan
Saturday, March 7, 2026

Pesangon Suami Rp165 Juta Cair, Tangis Haru Linda Pecah di Acara Sosper Dodi Simangunsong

MEDAN, SumutPos co– Haru biru menyelimuti Lapangan Jalan Garu VI Ujung, Kelurahan Harjosari I, Sabtu (7/3/2026). Di tengah hiruk-pikuk Sosialisasi Perda (Sosper) Administrasi Kependudukan, sepasang suami istri, Rivai Sihombing dan Linda Susiani, datang dengan satu misi khusus: menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Anggota DPRD Medan, Dodi Robert Simangunsong.

Pasalnya, penantian panjang selama dua tahun berakhir manis. Hak pesangon Rivai sebesar Rp165 juta yang sempat tertahan di perusahaan, akhirnya cair dalam waktu kurang dari satu bulan setelah diperjuangkan oleh politisi Partai Demokrat tersebut.

Linda menceritakan kisah di balik keberhasilan ini dengan mata berkaca-kaca. Awalnya, ia hampir melewatkan acara Sosper pada Februari lalu karena harus bekerja demi sesuap nasi. Namun, sebuah dorongan kuat di hatinya membuat ia melangkah ke acara tersebut dan memberanikan diri duduk di barisan paling depan.

“Tuhan yang mempertemukan saya dengan Pak Dodi. Saat sesi tanya jawab, saya sampaikan masalah kami sambil menangis. Pak Dodi langsung berjanji akan membantu,” kenang Linda di hadapan Camat Medan Amplas Zulfahmi Tarigan, Lurah Harjosari I Fahmi Mais Matondang dan ratusan warga.

Janji itu bukan sekadar bualan politik. Tiga hari setelah pertemuan tersebut, Linda diundang ke gedung DPRD Medan untuk melengkapi berkas. Hasilnya nyata: dana ratusan juta rupiah yang menjadi hak suaminya kini sudah di tangan.

Bagi Dodi Robert Simangunsong, keberhasilan ini adalah “bahan bakar” tambahan untuk terus mengabdi. Wakil Ketua Fraksi Demokrat ini menegaskan, memperjuangkan hak warga, khususnya di Dapil IV (Medan Amplas, Kota, Area, dan Denai), adalah kewajiban mutlak.

“Jika kinerja saya bermanfaat bagi warga, itu adalah reward terbesar bagi saya dan tim. Kami tidak akan bosan membantu,” tegas Dodi.

Ia juga mengapresiasi Disnaker Sumut yang responsif sehingga masalah ini tidak berlarut-larut. “Semoga tidak ada lagi ‘Rivai-Rivai’ lain yang haknya terabaikan,” tambahnya.

Keluh Kesah KIS dan Bansos
Acara Sosper itu tidak hanya diisi dengan kabar bahagia. Dinamika warga juga terlihat saat Betty Boru Gultom mengadukan nasibnya. Istri tukang becak bermotor (Betor) ini mencurahkan keresahannya terkait Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang non-aktif, padahal ia harus rutin kontrol ke rumah sakit.

Betty juga mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal, dia sangat membutuhkan bantuan tersebut untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Menanggapi hal ini, perwakilan Dinas Sosial, Diniati, memberikan edukasi penting mengenai DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional). Ia menjelaskan bahwa warga harus memastikan diri masuk dalam desil 1-4 untuk layak menerima bantuan. Proses pendaftaran bisa dilakukan manual via kelurahan atau aplikasi Cek Bansos.

Meski demikian, Lurah Harjosari I, Fahmi Mais Matondang, mengingatkan warga untuk tetap realistis. “Masuk data DTSEN bukan berarti otomatis dapat bantuan. Semua tergantung kuota dari Kementerian Sosial di pusat,” jelasnya menutup diskusi yang penuh interaksi tersebut. (adz)

MEDAN, SumutPos co– Haru biru menyelimuti Lapangan Jalan Garu VI Ujung, Kelurahan Harjosari I, Sabtu (7/3/2026). Di tengah hiruk-pikuk Sosialisasi Perda (Sosper) Administrasi Kependudukan, sepasang suami istri, Rivai Sihombing dan Linda Susiani, datang dengan satu misi khusus: menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Anggota DPRD Medan, Dodi Robert Simangunsong.

Pasalnya, penantian panjang selama dua tahun berakhir manis. Hak pesangon Rivai sebesar Rp165 juta yang sempat tertahan di perusahaan, akhirnya cair dalam waktu kurang dari satu bulan setelah diperjuangkan oleh politisi Partai Demokrat tersebut.

Linda menceritakan kisah di balik keberhasilan ini dengan mata berkaca-kaca. Awalnya, ia hampir melewatkan acara Sosper pada Februari lalu karena harus bekerja demi sesuap nasi. Namun, sebuah dorongan kuat di hatinya membuat ia melangkah ke acara tersebut dan memberanikan diri duduk di barisan paling depan.

“Tuhan yang mempertemukan saya dengan Pak Dodi. Saat sesi tanya jawab, saya sampaikan masalah kami sambil menangis. Pak Dodi langsung berjanji akan membantu,” kenang Linda di hadapan Camat Medan Amplas Zulfahmi Tarigan, Lurah Harjosari I Fahmi Mais Matondang dan ratusan warga.

Janji itu bukan sekadar bualan politik. Tiga hari setelah pertemuan tersebut, Linda diundang ke gedung DPRD Medan untuk melengkapi berkas. Hasilnya nyata: dana ratusan juta rupiah yang menjadi hak suaminya kini sudah di tangan.

Bagi Dodi Robert Simangunsong, keberhasilan ini adalah “bahan bakar” tambahan untuk terus mengabdi. Wakil Ketua Fraksi Demokrat ini menegaskan, memperjuangkan hak warga, khususnya di Dapil IV (Medan Amplas, Kota, Area, dan Denai), adalah kewajiban mutlak.

“Jika kinerja saya bermanfaat bagi warga, itu adalah reward terbesar bagi saya dan tim. Kami tidak akan bosan membantu,” tegas Dodi.

Ia juga mengapresiasi Disnaker Sumut yang responsif sehingga masalah ini tidak berlarut-larut. “Semoga tidak ada lagi ‘Rivai-Rivai’ lain yang haknya terabaikan,” tambahnya.

Keluh Kesah KIS dan Bansos
Acara Sosper itu tidak hanya diisi dengan kabar bahagia. Dinamika warga juga terlihat saat Betty Boru Gultom mengadukan nasibnya. Istri tukang becak bermotor (Betor) ini mencurahkan keresahannya terkait Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang non-aktif, padahal ia harus rutin kontrol ke rumah sakit.

Betty juga mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal, dia sangat membutuhkan bantuan tersebut untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Menanggapi hal ini, perwakilan Dinas Sosial, Diniati, memberikan edukasi penting mengenai DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional). Ia menjelaskan bahwa warga harus memastikan diri masuk dalam desil 1-4 untuk layak menerima bantuan. Proses pendaftaran bisa dilakukan manual via kelurahan atau aplikasi Cek Bansos.

Meski demikian, Lurah Harjosari I, Fahmi Mais Matondang, mengingatkan warga untuk tetap realistis. “Masuk data DTSEN bukan berarti otomatis dapat bantuan. Semua tergantung kuota dari Kementerian Sosial di pusat,” jelasnya menutup diskusi yang penuh interaksi tersebut. (adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru