Keterbatasan fisik, tak menyurutkan semangat Suhari Pane, S.IP untuk menulis buku berjudul: Iran Pasca-Revolusi Islam. Buku karya Suhari Pane, S.IP yang merupakan wakil bupati Labuhanbatu periode 2010-2015 ini menghadirkan analisis mengenai perjalanan politik Iran sejak terbentuknya negara Iran, pemerintahan Dinasti Pahlavi, proses revolusi Islam hingga perkembangan sistem politik dan demokratisasi setelah revolusi.
Suhari Pane, S.IP kelahiran Rantauprapat pada 11 Agustus 1974. Ia menamatkan pendidikan di SD Negeri 115535 Rantauprapat, SMP Negeri 2 Rantauprapat, SMA Negeri 1 Rantauprapat dan Universitas Muhammadiyah Yogya. Suhari Pane, S.IP juga memiliki pendidikan non-formal empat bahasa asing. Yakni bahasa Prancis (dari Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta), bahasa Jepang (Pusat Studi Jepang Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), bahasa Mandarin (Awat Bahasa Asing) dan bahasa Belanda (Lembaga Indonesia Belanda).
Buku setebal 126 halaman karya Suhari Pane, S.IP dibedah di Merdeka Kupi Jalan Slamet Ketaren, Kompleks MMTC Blok Q Nomor 28-29 Medan, Sabtu (12/9). Buku yang diterbitkan Penerbit Merdeka Kreasi ini tidak hanya membahas kelembagaan politik, tetapi juga dimensi ideologis yang menjadi fondasi berdirinya Republik Islam Iran.
Bedah buku dengan moderator Iswan Kaputra, M.Si dihadiri Ketua Presidium Majelis Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (MPP ICMI) Muda Dr. H. Tumpal Panggabean, M.A, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Sumut Drs. Asrul Daulay, M.A, Dosen FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) Dr. Agus Marwan, S.IP, M.SP, pimpinan Penerbit Merdeka Kreasi Ardi Lubis, sejumlah akademisi, aktivis, pengelola perpustakaan dan jurnalis.
Buku ini dibedah oleh dua narasumber Guru Besar FISIP USU Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si dan Dosen Pemikiran Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Dr. Faisal Riza, MA. Bedah buku juga diramaikan bazar buku yang digelar Penerbit Merdeka Kreasi serta pembacaan puisi oleh Zulkarnaen Siregar dan Juhendri Chaniago.
Suhari Pane, S.IP menyusun buku tersebut berdasarkan berbagai sumber ilmiah, literatur akademik, dokumen historis dan kajian para ahli yang memiliki perhatian terhadap politik Timur Tengah dan demokratisasi Islam. Buku ini juga ingin menunjukkan bahwa proses demokratisasi tidak selalu memiliki pola yang seragam. Setiap negara memiliki karakteristik sejarah, budaya dan sosial yang berbeda sehingga melahirkan model demokrasi yang berbeda pula.
Pengalaman Iran, dalam konteks itu, menjadi salah satu contoh bagaimana demokrasi berusaha dikembangkan dengan tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai keagamaan yang dianut masyarakatnya.
Dalam konteks akademik, kajian tentang Iran dinilai penting karena negara tersebut menghadirkan model politik yang berbeda dari demokrasi liberal yang berkembang di negara-negara Barat.
Iran mengembangkan sistem politik dengan konsep Wilāyat al-Faqih, yakni kepemimpinan yang berlandaskan otoritas keagamaan dalam kerangka negara modern. Konsep tersebut kemudian melahirkan perdebatan mengenai sejauh mana demokrasi dapat berjalan dalam struktur pemerintahan yang berbasis agama.
Penggiat literasi yang juga dosen FISIP USU Dr. Agus Marwan, S.IP, M.SP menulis epilog buku tersebut. Ia menilai kajian tentang Iran penting untuk membuka perspektif baru mengenai hubungan Islam, negara dan demokrasi di era modern. Buku ini tidak hanya ditujukan bagi kalangan akademisi, mahasiswa dan peneliti, tetapi juga masyarakat umum yang ingin memahami politik internasional, Islam kontemporer dan dinamika dunia Muslim.
“Pengalaman Iran menunjukkan bahwa demokratisasi harus dipahami dalam konteks sosial dan historis masing-masing negara,” demikian gagasan yang ditekankan dalam epilog buku tersebut.
Guru Besar FISIP USU Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si mengatakan bahwa memahami Iran harus berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, bukan semata-mata persepsi yang berkembang. Ia mengungkapkan ada sejumlah realitas di Iran yang tidak selalu sama dengan gambaran yang selama ini berkembang di luar negeri tersebut. Iran juga menunjukkan bahwa negara yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai salah satu fondasi kehidupan bernegara tetap dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si menyebut bahwa masyarakat Iran memiliki kemampuan berpikir yang logis serta perkembangan teknologi yang patut dicermati. Karena itu, pengalaman Iran dapat menjadi bahan pembelajaran dalam melihat hubungan antara agama, kemajuan, ilmu pengetahuan dan kehidupan modern.
Dr. Faisal Riza, M.A mengatakan buku karya Suhari Pane, S.IP berusaha membaca perjalanan panjang Revolusi Islam Iran.
Buku ini mengajak pembaca menelusuri akar sejarah Persia yang membentuk identitas bangsa Iran, lahirnya tradisi Syiah sebagai salah satu fondasi kebudayaan politik, kemunculan Dinasti Pahlavi dan proyek modernisasi hingga Revolusi Islam 1979 yang mengubah arah sejarah Iran dan kawasan Timur Tengah.
Buku itu juga membahas tantangan yang dihadapi Republik Islam Iran setelah revolusi. Mulai dari demokratisasi, reformasi politik, tekanan ekonomi, sanksi internasional hingga rivalitas geopolitik yang terus memengaruhi kawasan Timur Tengah. (dmp)

