LABUHANBATU – Hidup Benny Lim (52) berubah ketika sebuah benjolan kecil muncul di belakang lehernya. Ukurannya, kata dia, tak lebih besar dari telur puyuh. Saat itu, Februari 2025, Benny tidak pernah membayangkan benjolan tersebut akan menjadi awal perjalanan panjang melawan kanker.
Di Rantauprapat, Sumatera Utara (Sumut), Benny menjalani kehidupannya secara sederhana. Ia bukan sosok yang banyak menuntut kehidupan. Namun, diagnosis penyakit ganas membuat kehidupan yang selama ini dijalaninya bersama keluarga mendadak penuh ketidakpastian.
Yang paling berat bukan hanya menghadapi penyakit. Ada tiga anak yang masih ingin ia lihat tumbuh dewasa.
Ada pendidikan mereka yang ingin ia kawal. Ada cita-cita sederhana seorang ayah: tetap berada di sisi anak-anaknya selama mungkin.
Itulah yang kemudian menjadi salah satu sumber kekuatan Benny untuk bertahan.
Benny mengaku tidak merasakan gejala mencolok pada awal 2025. Ia juga bukan penderita sinusitis yang kerap mengalami infeksi saluran pernapasan.
Namun, pada Februari 2025, muncul benjolan di bagian belakang leher sebelah kanan.
“Benjolannya sebesar telur puyuh,” ujar Benny kepada wartawan di Rantauprapat, Minggu (20/9).
Sejumlah kerabat kemudian menyarankannya berkonsultasi dengan dokter. Salah seorang dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pengambilan sampel dari benjolan tersebut. Benny ketika itu masih diliputi kekhawatiran sehingga memilih tidak menjalani tindakan tersebut.
Ia kemudian mencari pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Kota Medan yang menangani pasien kanker.
Hasil pemeriksaan CT scan membawa kenyataan yang tidak pernah dibayangkannya.
Benny didiagnosis menderita kanker nasofaring. Bahkan menurut diagnosis yang diterimanya ketika itu, penyakit tersebut sudah memasuki stadium 3.
Kanker nasofaring merupakan kanker yang tumbuh pada jaringan nasofaring, yakni bagian atas tenggorokan yang berada di belakang rongga hidung.
Bagi Benny, istilah medis tersebut bukan lagi sekadar nama penyakit. Itu menjadi pertanda dimulainya perjuangan panjang.
Dokter menyarankan Benny menjalani kemoterapi. Namun, pada fase awal perjalanan penyakitnya, ia memilih mencoba berbagai bentuk pengobatan alternatif di Medan.
Benny mengaku mendatangi sejumlah tempat dengan harapan menemukan jalan kesembuhan.
Tetapi kondisi fisiknya justru semakin menurun.
Gangguan pada mata mulai dirasakannya. Penglihatannya berubah. Bola matanya sempat terlihat juling, sementara penglihatannya menjadi berbayang.
Pembengkakan pada leher juga menjadi bagian dari perjuangan yang harus dihadapinya.
Kondisi tersebut akhirnya membuat Benny kembali mencari penanganan medis.
Pada Juli 2025, ia berangkat ke Penang, Malaysia, untuk melanjutkan pemeriksaan dan pengobatan di Adventist Hospital.
Di sana, berdasarkan diagnosis yang diterimanya, kanker telah memasuki stadium 4 dan sudah menyebar di beberapa bagian organ tubuh lainnya termasuk ke tulang.
Dokter kembali menyarankan kemoterapi dan radioterapi. Rencana pengobatan yang diterimanya ketika itu mencakup enam kali kemoterapi dan 33 kali radiasi, disertai terapi radiasi target pada jadwal tertentu.
Bagi keluarga Benny, persoalan berikutnya bukan hanya penyakit. Biaya pengobatan juga menjadi beban besar.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Benny kemudian memilih melanjutkan pengobatan ke Guangzhou, Cina.
Ia sempat menjalani perawatan di Royally Hospital Guangzhou sebelum kemudian berpindah ke Modern Cancer Hospital di kawasan yang sama.
Di sana, Benny kembali menjalani kemoterapi dan radioterapi. Ia mengenang kemoterapi pertama dengan istilah yang sederhana tetapi menggambarkan beratnya proses tersebut.
Rasa pedih dirasakannya selama sekitar dua hari. Namun setelah itu, Benny melihat perubahan pada kondisi fisiknya.
Pembengkakan mata yang sebelumnya mengganggu mulai berkurang. Benjolan di leher juga disebutnya mengalami pengempisan.
“Setelah kemoterapi pertama, rasa pedih memang terasa sekitar 2 sampai 3 hari. Tapi sesudah itu ada perubahan signifikan. Mata yang bengkak berkurang dan bengkak di kelenjar leher mengalami pengempisan,” tuturnya.
Pengobatan kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi dan radiasi sesuai rencana yang diberikan tim medis.
Benny menyebut dirinya menjalani enam kali kemoterapi dan 33 kali radiasi setiap hari sesuai rangkaian pengobatan yang dijalaninya.
Di tengah beratnya proses tersebut, ia menemukan sesuatu yang menurutnya membantu menjaga semangat, kesempatan untuk tetap menjalani hari sebagai manusia biasa.
Benny bercerita, selama menjalani pengobatan di Cina, pasien memiliki kesempatan mengikuti kegiatan rekreasi pada hari Minggu ke sejumlah destinasi wisata.
Bagi pasien kanker, menurut dia, suasana tersebut membuat proses pengobatan terasa sedikit lebih ringan.
Di balik cerita tentang perjalanan lintas negara tersebut, Benny tidak menggambarkan dirinya sebagai manusia yang selalu kuat.
Ia mengaku tetap memiliki rasa takut. Tetap ada kekhawatiran. Tetap ada hari-hari ketika kondisi tubuh membuat semangatnya turun.
Tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan rasa takut mengambil seluruh ruang dalam hidupnya.
Baginya, penyakit kanker menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki batas.
Karena itu, ia mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan dan menerima perjalanan hidup yang sedang dijalaninya.
“Hal utama dalam menghadapi kanker adalah tetap semangat dan bergembira serta fokus untuk sembuh karena masih ada orang-orang tercinta yang masih sangat membutuhkan kita. Memang ada rasa khawatir dan takut. Tapi saya memilih mendekatkan diri kepada Tuhan,” katanya.
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seseorang yang telah melewati perjalanan dari Rantauprapat ke Medan, Penang hingga Guangzhou untuk mendapatkan penanganan, semangat bukan lagi sekadar kata motivasi.
Semangat menjadi cara untuk menjalani hari berikutnya. Tiga Anak yang Menjadi Alasan untuk Bertahan. Membuat Benny ingin membuka mata setiap pagi.
Karena ketiga anaknya. Ia ingin melihat mereka tumbuh. Ia ingin menyaksikan pendidikan mereka. Ia ingin tetap menjadi ayah yang hadir ketika mereka membutuhkan.
Terlebih, dua anaknya memiliki prestasi akademik yang membuatnya semakin bangga sekaligus semakin kuat untuk berjuang.
Pengalaman Benny menyimpan satu pesan penting bagi mereka yang sedang menghadapi kanker: jangan kehilangan harapan.
Namun semangat, menurutnya, bukan berarti berpura-pura tidak takut. Semangat adalah keberanian untuk tetap menjalani hari meskipun rasa takut masih ada.
Ada hari ketika tubuh terasa lemah. Ada hari ketika biaya pengobatan terasa berat. Ada hari ketika seseorang bertanya dalam hati apakah dirinya masih mampu melanjutkan perjalanan.
Pada titik seperti itu, Benny memilih mengingat keluarganya. Mengingat ketiga anaknya. Mengingat alasan mengapa ia masih ingin bertahan.
Bagi para penyintas maupun pasien yang sedang menjalani pengobatan, pengalaman setiap orang tentu berbeda. Penanganan kanker juga perlu ditentukan bersama dokter dan tim medis berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Perjalanan Benny tidak dapat dijadikan ukuran bahwa satu metode pengobatan tertentu akan memberikan hasil yang sama kepada pasien lain.
Tetapi ada sesuatu yang universal dari kisahnya: harapan dapat menjadi bagian penting dari kekuatan seseorang ketika menghadapi penyakit berat.
Sebab bagi seorang ayah, terkadang alasan untuk bertahan hidup bukanlah sesuatu yang rumit. Cukup dengan melihat anak-anaknya tersenyum, lalu berkata dalam hati: “Saya masih ingin melihat kalian tumbuh”. (fdh/azw)

