Bawaslu Pertanyakan Beda Tanggal Penerimaan Surat dari Disdik

Sidang gugatan pasangan calon JR Saragih dan Ance digelar di Kantor Bawaslu, Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/2/2018).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sidang gugatan pasangan calon JR Saragih dan Ance kembali digelar. Dalam persidangan tersebut, Bawaslu mempertanyakan soal jawaban adanya perbedaan tanggal penerimaan dari dinas pendidikan Jakarta.

Di persidangan, Ketua Majelis Syafrida R Rasahan, bertanya soal penegasan apakah tanggal penerimaan surat dari dinas pendidikan Jakarta diterima di tanggal 26 Januari 2018 kepada saksi yang dihadirkan oleh pihak termohon –dalam hal ini KPU Sumatera Utara– yakni Kasubbag Teknis KPU Sumatera Utara, Harry Dharma.

“Saya ingin bertanya kepada saudara saksi, karena tadi saudara saksi mengatakan surat dari dinas pendidikan Jakarta diterima pada tanggal 26 Januari 2018. Bisa saudara saksi baca kembali surat yang diterima dari Pokja KPU?” tegasnya di Bawaslu, Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/2/2018).

Saksi Harry Dharma mengaku bahwa kala itu bukan dirinya yang menerima melainkan tim kedua dari pihak termohon.

“Berita acara di surat tersebut di tanggal 25 Januari 2018 dan itu dibawa oleh tim kedua, mohon maaf saya tidak ada saat itu,” ucapnya.

Kemudian, Syafrida R Rasahan juga menanyakan soal klarifikasi surat yang dilakukan oleh pihak termohon.

“Apakah saudara saksi mengirimkan surat ke dinas pendidikan dan bertemu dengan kepala dinas?,” tanyanya lagi.

Kemudian, saksi yang diajukan oleh pihak termohon menjawab dengan tegas. “Tidak ada, Bu,” jawabnya.

Di sisi lain, Ketua Majelis lainnya yakni Hardy Munthe juga mempertanyakan soal klarifikasi yang dilakukan oleh termohon.

“Tadi saksi berkata, klarifikasi ini dilakukan atas dasar keraguan adanya dua stempel yang ada di fotocopy ijasah pemohon. Apakah, saksi juga menanyakan kepada pasangan calon?” paparnya.

Lagi-lagi, saksi menjawab dengan tegas atas pertanyaan yang diajukan oleh Bawaslu. “Tidak Pak,” ulasnya.

Tidak hanya dari pihak Bawaslu saja, dari pihak pemohon dalam hal ini JR Saragih dan Ance Selian juga kembali bertanya soal klarifikasi tersebut.

“Saya ingin menegaskan, saudara saksi sebagai Pokja di KPU Sumatera Utara apakah saudara mengkonfirmasi kepada kepala dinas?” tanya Kuasa Hukum JR Saragih dan Ance Selian Ikwanuddin Simatupang kepada saksi.

Saksi pun menjawab sama seperti yang ditanyakan Bawaslu kepadanya. “Tidak jumpa dan saya tidak mengonfirmasi kepada kepala dinas,” tukasnya. (osi)

Sidang gugatan pasangan calon JR Saragih dan Ance digelar di Kantor Bawaslu, Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/2/2018).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sidang gugatan pasangan calon JR Saragih dan Ance kembali digelar. Dalam persidangan tersebut, Bawaslu mempertanyakan soal jawaban adanya perbedaan tanggal penerimaan dari dinas pendidikan Jakarta.

Di persidangan, Ketua Majelis Syafrida R Rasahan, bertanya soal penegasan apakah tanggal penerimaan surat dari dinas pendidikan Jakarta diterima di tanggal 26 Januari 2018 kepada saksi yang dihadirkan oleh pihak termohon –dalam hal ini KPU Sumatera Utara– yakni Kasubbag Teknis KPU Sumatera Utara, Harry Dharma.

“Saya ingin bertanya kepada saudara saksi, karena tadi saudara saksi mengatakan surat dari dinas pendidikan Jakarta diterima pada tanggal 26 Januari 2018. Bisa saudara saksi baca kembali surat yang diterima dari Pokja KPU?” tegasnya di Bawaslu, Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/2/2018).

Saksi Harry Dharma mengaku bahwa kala itu bukan dirinya yang menerima melainkan tim kedua dari pihak termohon.

“Berita acara di surat tersebut di tanggal 25 Januari 2018 dan itu dibawa oleh tim kedua, mohon maaf saya tidak ada saat itu,” ucapnya.

Kemudian, Syafrida R Rasahan juga menanyakan soal klarifikasi surat yang dilakukan oleh pihak termohon.

“Apakah saudara saksi mengirimkan surat ke dinas pendidikan dan bertemu dengan kepala dinas?,” tanyanya lagi.

Kemudian, saksi yang diajukan oleh pihak termohon menjawab dengan tegas. “Tidak ada, Bu,” jawabnya.

Di sisi lain, Ketua Majelis lainnya yakni Hardy Munthe juga mempertanyakan soal klarifikasi yang dilakukan oleh termohon.

“Tadi saksi berkata, klarifikasi ini dilakukan atas dasar keraguan adanya dua stempel yang ada di fotocopy ijasah pemohon. Apakah, saksi juga menanyakan kepada pasangan calon?” paparnya.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi Pembangunan Dua Unit Kantor Kejatisu Panggil Kadis PU Asahan KISARAN-Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) memanggil Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Asahan, Taswir ST untuk diminta keterangannya terkait dugaan korupsi atas pembangunan dua unit kantor; Dinas Peternakan Kabupaten Asahan dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang terletak di atas tanah eks HGU PT BSP(Bakrie Sumatera Plantation) Kisaran atau di depan Pengadilan Negeri (PN) Kisaran. Panggilan Kejatisu itu berdasarkan Surat Nomor: R-266/N.2.23/Dek.3/06/2012,perihal adanya dugaan tindak pidana korupsi terhadap proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas Peternakan dan Gedung Satuan Polisi Pamong Praja Pemkab Asahan pada Tahun Anggaran 2011. Kadis PU Asahan Taswir dalam surat tersebut diperintahkan untuk bertemu dengan Kasi I pada Asisten Intelijen Kejati Sumut ,Zulfikar Nasution,SH .Sedang informasi yang diperoleh METRO (Group Sumut Pos), pemanggilan itu erat kaitannya dengan status tanah lokasi dididrikannya kedua bangunan kantor tersebut yang status kepemilikannya belum dalam penguasaan Pemkab Asahan. Bahkan disebut kini masalah tanah tempat kedua kantor itu didirikan sedang digugat Badan Penelitian Perjuangan Tanah untuk Rakyat (BPPR) di PN Kisaran. Soalnya, tanah lokasi kantor belum memiliki sertifikat kepemilikan sebagai asset Pemkab Asahan. “Hingga kini pertapakan kedua kantor masih status tanah Negara bebas. Artinya, Pemkab belum memiliki hak untuk mendirikan bangunan,” ujar sumber METRO. Mengenai adanya gugatan BPPTR di PN Kisaran soal lahan eks HGU PBSP dan sebagian dari lahan tersebut yang di atasnya telah dibangun dua kantor yakni Dinas Peternakan dan Satuan Polisi Pamong paraja dibenarkan Wakil Ketua BPPTR Asahan, Supriadi SL sedang dalam perkara di PN Kisaran. Dikatakannya, gugatan pihaknya sedang berlangsung di PN Kisaran. Adapun yang digugat adalah Bupati Asahan, Kadis PU Asahan dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari pembangunan kedua kantor itu. Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejatisu,Marcos Simaremare yang dikonfirmasi, Kamis (4/10) menyatakan akan segera mengecek perkara tersebut, sehingga diketahui pastinya,sejauh mana penanganan perkara itu. (ing/smg)

Lagi-lagi, saksi menjawab dengan tegas atas pertanyaan yang diajukan oleh Bawaslu. “Tidak Pak,” ulasnya.

Tidak hanya dari pihak Bawaslu saja, dari pihak pemohon dalam hal ini JR Saragih dan Ance Selian juga kembali bertanya soal klarifikasi tersebut.

“Saya ingin menegaskan, saudara saksi sebagai Pokja di KPU Sumatera Utara apakah saudara mengkonfirmasi kepada kepala dinas?” tanya Kuasa Hukum JR Saragih dan Ance Selian Ikwanuddin Simatupang kepada saksi.

Saksi pun menjawab sama seperti yang ditanyakan Bawaslu kepadanya. “Tidak jumpa dan saya tidak mengonfirmasi kepada kepala dinas,” tukasnya. (osi)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru