Damkar
Cegah Stunting

Dugaan Penganiayaan Siswa di Binjai, Orangtua Sebut Guru dan Murid Terlibat

BINJAI – Dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa SMA Negeri 2 Binjai yang dilaporkan orangtuanya ke Polres Binjai memasuki babak penyelidikan. Orangtua korban, Aidil Syahputra (41), menyebut dugaan pemukulan terhadap anaknya tidak hanya dilakukan oleh seorang oknum guru berinisial YS, tetapi juga diduga melibatkan siswa.

Aidil mengatakan, dugaan penganiayaan tersebut terjadi di lingkungan sekolah, di luar ruang kelas, pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 16.15 WIB. Laporan telah dibuat ke Polres Binjai dengan nomor LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara.

“Pemukulan ini dilakukan dalam lingkungan sekolah, di luar kelas. Pengakuan anak saya, pelaku oknum guru (guru olahraga) dan murid,” ungkap Aidil, Selasa (29/9/2026).

Menurut Aidil, dirinya telah dimintai keterangan oleh penyidik. Polisi juga disebut telah melihat kondisi korban ketika masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Meski laporan telah dibuat, Aidil menyebut pihak yang dilaporkan belum memberikan keterangan kepada penyidik. Ia berharap proses hukum dapat mengungkap secara jelas siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Aidil juga membeberkan bahwa anaknya sebelumnya pernah mengalami kejadian lain yang melibatkan oknum guru. Menurut pengakuan anaknya, korban pernah ditampar ketika baju olahraga miliknya dinyatakan hilang.

“Motifnya sampai sejauh ini saya kurang tahu. Tapi pernah ada satu kejadian anak saya ditampar saat baju olahraganya hilang. Dia ditampar dan dimaki-maki, sempat juga anak saya nggak ngaku saat saya tanya,” ujar Aidil.

Aidil mengaku saat itu telah melakukan klarifikasi kepada pihak sekolah melalui sambungan telepon. Namun, persoalan tersebut saat itu tidak dilanjutkan.

Ia kemudian menyebut, berdasarkan pengakuan anaknya, dugaan pemukulan dalam peristiwa terbaru terjadi sebanyak empat kali. Namun, Aidil mengaku belum mengetahui secara pasti apakah orang yang diduga melakukan pemukulan tersebut merupakan pelaku yang sama.“Saya kurang tahu apakah pelaku yang sama,” ujarnya.

Aidil mengatakan, sejumlah pihak dari sekolah juga telah mendatangi kediamannya pada Jumat (25/9/2026). Rombongan tersebut disebut terdiri dari empat guru dan lima siswa.

Kedatangan mereka, kata Aidil, salah satunya untuk menanyakan mengenai dugaan pelaku. Namun, Aidil meminta persoalan tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian. “Sempat menanyai soal pelaku, saya bilang tanya saja ke polisi,” ujarnya.

Sementara itu, Yudhi, guru yang disebut dalam dugaan tersebut, membantah telah melakukan penganiayaan terhadap korban. Bantahan itu disampaikan Yudhi ketika dihadirkan Kepala SMA Negeri 2 Binjai Juliana br Sitepu saat wartawan melakukan konfirmasi di ruang kerjanya. “Tidak ada penganiayaan, kalau saya mau dikroscek sama polisi saya pun berani,” kata Yudhi.

Yudhi juga membantah berada di sekolah saat dugaan penganiayaan terjadi pada Rabu (16/9/2026). Ia mengaku tidak masuk sekolah karena sedang sakit dan baru menjalani operasi gigi. “Hari Rabu, 16 September 2026 saya tidak masuk ke sekolah. Saya sakit dua minggu, dan ini baru selesai operasi gigi. Saya pun nggak terima juga dituduh begitu, sementara saya dua minggu nggak masuk. Saya belum ada dapat surat panggilan,” akunya.

Yudhi mengaku keberatan karena dirinya dituding melakukan penganiayaan, sementara menurut keterangannya ia tidak berada di sekolah pada waktu kejadian.

Ia juga mengatakan, dirinya merasa guru kerap berada dalam posisi sulit ketika menghadapi persoalan antara guru dan siswa. “Ketika kami diginikan, nggak ada yang melindungi kami, kesal juga jadinya. Maaf ya, anak sekarang nggak bisa pelan (dikasih tahu), tapi mungkin karena wajah saya guru olahraga kesiswaan tempramen, dikira saya yang mukul, saya nggak terima juga,” katanya.

Meski membantah tuduhan tersebut, Yudhi mengatakan korban merupakan siswa yang dikenal pendiam dan baik. Ia juga mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang terlibat dalam dugaan penganiayaan tersebut.“Orangnya pendiam,” katanya.

Hingga kini, motif dan kronologi lengkap dugaan penganiayaan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. Keterangan dari korban, orangtua, pihak sekolah, maupun pihak-pihak yang disebut dalam laporan akan menjadi bagian penting untuk mengungkap peristiwa tersebut secara utuh. (ted/ila)

BINJAI – Dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa SMA Negeri 2 Binjai yang dilaporkan orangtuanya ke Polres Binjai memasuki babak penyelidikan. Orangtua korban, Aidil Syahputra (41), menyebut dugaan pemukulan terhadap anaknya tidak hanya dilakukan oleh seorang oknum guru berinisial YS, tetapi juga diduga melibatkan siswa.

Aidil mengatakan, dugaan penganiayaan tersebut terjadi di lingkungan sekolah, di luar ruang kelas, pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 16.15 WIB. Laporan telah dibuat ke Polres Binjai dengan nomor LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara.

“Pemukulan ini dilakukan dalam lingkungan sekolah, di luar kelas. Pengakuan anak saya, pelaku oknum guru (guru olahraga) dan murid,” ungkap Aidil, Selasa (29/9/2026).

Menurut Aidil, dirinya telah dimintai keterangan oleh penyidik. Polisi juga disebut telah melihat kondisi korban ketika masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Meski laporan telah dibuat, Aidil menyebut pihak yang dilaporkan belum memberikan keterangan kepada penyidik. Ia berharap proses hukum dapat mengungkap secara jelas siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Aidil juga membeberkan bahwa anaknya sebelumnya pernah mengalami kejadian lain yang melibatkan oknum guru. Menurut pengakuan anaknya, korban pernah ditampar ketika baju olahraga miliknya dinyatakan hilang.

“Motifnya sampai sejauh ini saya kurang tahu. Tapi pernah ada satu kejadian anak saya ditampar saat baju olahraganya hilang. Dia ditampar dan dimaki-maki, sempat juga anak saya nggak ngaku saat saya tanya,” ujar Aidil.

Aidil mengaku saat itu telah melakukan klarifikasi kepada pihak sekolah melalui sambungan telepon. Namun, persoalan tersebut saat itu tidak dilanjutkan.

Ia kemudian menyebut, berdasarkan pengakuan anaknya, dugaan pemukulan dalam peristiwa terbaru terjadi sebanyak empat kali. Namun, Aidil mengaku belum mengetahui secara pasti apakah orang yang diduga melakukan pemukulan tersebut merupakan pelaku yang sama.“Saya kurang tahu apakah pelaku yang sama,” ujarnya.

Aidil mengatakan, sejumlah pihak dari sekolah juga telah mendatangi kediamannya pada Jumat (25/9/2026). Rombongan tersebut disebut terdiri dari empat guru dan lima siswa.

Kedatangan mereka, kata Aidil, salah satunya untuk menanyakan mengenai dugaan pelaku. Namun, Aidil meminta persoalan tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian. “Sempat menanyai soal pelaku, saya bilang tanya saja ke polisi,” ujarnya.

Sementara itu, Yudhi, guru yang disebut dalam dugaan tersebut, membantah telah melakukan penganiayaan terhadap korban. Bantahan itu disampaikan Yudhi ketika dihadirkan Kepala SMA Negeri 2 Binjai Juliana br Sitepu saat wartawan melakukan konfirmasi di ruang kerjanya. “Tidak ada penganiayaan, kalau saya mau dikroscek sama polisi saya pun berani,” kata Yudhi.

Yudhi juga membantah berada di sekolah saat dugaan penganiayaan terjadi pada Rabu (16/9/2026). Ia mengaku tidak masuk sekolah karena sedang sakit dan baru menjalani operasi gigi. “Hari Rabu, 16 September 2026 saya tidak masuk ke sekolah. Saya sakit dua minggu, dan ini baru selesai operasi gigi. Saya pun nggak terima juga dituduh begitu, sementara saya dua minggu nggak masuk. Saya belum ada dapat surat panggilan,” akunya.

Yudhi mengaku keberatan karena dirinya dituding melakukan penganiayaan, sementara menurut keterangannya ia tidak berada di sekolah pada waktu kejadian.

Ia juga mengatakan, dirinya merasa guru kerap berada dalam posisi sulit ketika menghadapi persoalan antara guru dan siswa. “Ketika kami diginikan, nggak ada yang melindungi kami, kesal juga jadinya. Maaf ya, anak sekarang nggak bisa pelan (dikasih tahu), tapi mungkin karena wajah saya guru olahraga kesiswaan tempramen, dikira saya yang mukul, saya nggak terima juga,” katanya.

Meski membantah tuduhan tersebut, Yudhi mengatakan korban merupakan siswa yang dikenal pendiam dan baik. Ia juga mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang terlibat dalam dugaan penganiayaan tersebut.“Orangnya pendiam,” katanya.

Hingga kini, motif dan kronologi lengkap dugaan penganiayaan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. Keterangan dari korban, orangtua, pihak sekolah, maupun pihak-pihak yang disebut dalam laporan akan menjadi bagian penting untuk mengungkap peristiwa tersebut secara utuh. (ted/ila)

Artikel Terkait

Damkar
Cegah Stunting

Terpopuler

Artikel Terbaru