28 C
Medan
Friday, May 17, 2024

Miris Lihat ABG Sudah Nikah

Lola Amaria
Lola Amaria

SUMUTPOS.CO – Budaya seringkali membuat perempuan menjadi warga kelas dua. Di Indonesia, Anak Baru Gede (ABG) yang dinikahkan oleh orang tua dengan berbagai alasan, membuat artis Lola Amaria miris.

Lola mengaku punya cara sendiri untuk melawan kasus pelecehan dan perdagangan anak. Terutama di Indonesia.

Lola pun mengambil peran sebagai juri sebuah film pendek yang temanya mengangkat kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak perempuan di Indonesia. ”Dengan cara ini saya pingin ngomong, kalau saya menolak keras pernikahan anak usia dini yang sangat berpotensi berujung menjadi korban KDRT,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kasus perdagangan anak dan KDRT semakin meningkat belakangan ini. Namun tidak banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah munculnya korban-korban berikutnya.

”Sebenarnya kenapa saya mau ngisi acara ini karena masalah humanisme kemanusiaan. Jadi memang dalam beberapa tahun belakangan, beberapa kasus seperti ini masih banyak terjadi baik di Jakarta maupun di tempat lain di kota-kota kecil seperti Bogor atau Indramayu,” jelasnya.

Baginya, media film efektif sebagai kampanye untuk semakin menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga anak perempuan di dalam keluarga. ”Saya ingin, nantinya film pendek ini bisa mengispirasi,” tandasnya. (ash)

Lola Amaria
Lola Amaria

SUMUTPOS.CO – Budaya seringkali membuat perempuan menjadi warga kelas dua. Di Indonesia, Anak Baru Gede (ABG) yang dinikahkan oleh orang tua dengan berbagai alasan, membuat artis Lola Amaria miris.

Lola mengaku punya cara sendiri untuk melawan kasus pelecehan dan perdagangan anak. Terutama di Indonesia.

Lola pun mengambil peran sebagai juri sebuah film pendek yang temanya mengangkat kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak perempuan di Indonesia. ”Dengan cara ini saya pingin ngomong, kalau saya menolak keras pernikahan anak usia dini yang sangat berpotensi berujung menjadi korban KDRT,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kasus perdagangan anak dan KDRT semakin meningkat belakangan ini. Namun tidak banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah munculnya korban-korban berikutnya.

”Sebenarnya kenapa saya mau ngisi acara ini karena masalah humanisme kemanusiaan. Jadi memang dalam beberapa tahun belakangan, beberapa kasus seperti ini masih banyak terjadi baik di Jakarta maupun di tempat lain di kota-kota kecil seperti Bogor atau Indramayu,” jelasnya.

Baginya, media film efektif sebagai kampanye untuk semakin menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga anak perempuan di dalam keluarga. ”Saya ingin, nantinya film pendek ini bisa mengispirasi,” tandasnya. (ash)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/