DPRD Medan Ingatkan Pemko, Jalan Belawan Harus Tahan Terjangan Rob

Pembangunan infrastruktur di Medan Utara, khususnya Kecamatan Medan Belawan, diminta tidak sekadar mengejar target pengerjaan dan serapan anggaran. Pemerintah Kota (Pemko) Medan harus mengutamakan kualitas konstruksi agar jalan yang dibangun mampu bertahan menghadapi banjir rob yang kerap melanda kawasan pesisir tersebut.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Medan, Zulham Efendi, mengingatkan bahwa karakteristik wilayah Belawan membutuhkan penanganan infrastruktur yang berbeda. Genangan air laut yang berulang berpotensi mempercepat kerusakan jalan apabila pembangunan tidak didukung konstruksi dan material yang memadai.

“Di Belawan itu ada banjir rob yang terus terjadi. Kondisi itu jelas berdampak terhadap infrastruktur. Oleh karena itu, saya ingatkan Pemko Medan agar memperhatikan kualitas pengerjaan di sana,” ujar Zulham, Selasa (20/10/2026).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut mengaku telah menyampaikan persoalan itu secara langsung kepada Wali Kota Medan dalam koordinasi di Balai Kota, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, pemerataan pembangunan di Medan Utara, terutama Belawan, memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, setiap proyek infrastruktur harus direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.

“Dalam rapat juga sudah saya sampaikan kemarin soal ini. Target pemerataan pembangunan di Medan Utara, khususnya Belawan, memiliki tantangan tersendiri. Di sana tidak bisa sekadar dikerjakan, tetapi harus benar-benar berkualitas sehingga hasilnya bisa bertahan lama,” katanya.

Zulham menegaskan, kualitas konstruksi jalan harus menjadi perhatian utama Pemko Medan. Keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari panjang ruas jalan yang dikerjakan atau besarnya anggaran yang terserap, tetapi juga dari daya tahan infrastruktur setelah digunakan masyarakat.

Ruas jalan yang kerap terdampak banjir rob, lanjutnya, perlu mendapat perhatian khusus dalam perencanaan pembangunan. Dengan begitu, anggaran yang dikeluarkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan mengurangi kebutuhan perbaikan berulang.

“Jalan-jalan yang kerap terdampak banjir rob harus menjadi prioritas perhatian Pemko Medan. Tujuan dan harapan kita, setiap pengerjaan di sana bisa bertahan lama,” ungkapnya.

Selain perencanaan, ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek, terutama terkait kesesuaian spesifikasi teknis, ketebalan konstruksi, serta kualitas material yang digunakan.

Zulham menyarankan agar ketebalan konstruksi jalan di kawasan rawan rob dipertimbangkan mencapai 50–60 sentimeter, dengan tetap memperhatikan kajian teknis dan kondisi masing-masing ruas jalan.

“Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan sesuai standar agar jalan tidak mudah rusak dan membutuhkan perbaikan berulang dalam waktu singkat. Misalnya dari ketebalan, saya sarankan dibuat 50–60 cm, sehingga saat rob datang warga masih bisa beraktivitas,” ujarnya.

Ia berharap Pemko Medan melakukan pemetaan terhadap ruas jalan yang rawan terdampak banjir rob. Pemetaan tersebut diperlukan untuk menentukan skala prioritas pembangunan berdasarkan tingkat kerusakan, risiko genangan, dan kebutuhan masyarakat.

Menurut Zulham, pembangunan infrastruktur di Belawan harus memberikan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi warga sehari-hari. Jalan yang dibangun dengan perencanaan matang dan pengawasan ketat diharapkan dapat mendukung kelancaran aktivitas masyarakat meskipun kawasan tersebut kerap dilanda banjir rob.

“Pembangunan harus menjawab kebutuhan warga. Jangan sampai jalan yang baru dibangun cepat rusak, sementara masyarakat terus menghadapi persoalan banjir rob. Kualitas dan penentuan prioritas pembangunan harus berjalan beriringan,” pungkasnya. (map/ila)

Pembangunan infrastruktur di Medan Utara, khususnya Kecamatan Medan Belawan, diminta tidak sekadar mengejar target pengerjaan dan serapan anggaran. Pemerintah Kota (Pemko) Medan harus mengutamakan kualitas konstruksi agar jalan yang dibangun mampu bertahan menghadapi banjir rob yang kerap melanda kawasan pesisir tersebut.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Medan, Zulham Efendi, mengingatkan bahwa karakteristik wilayah Belawan membutuhkan penanganan infrastruktur yang berbeda. Genangan air laut yang berulang berpotensi mempercepat kerusakan jalan apabila pembangunan tidak didukung konstruksi dan material yang memadai.

“Di Belawan itu ada banjir rob yang terus terjadi. Kondisi itu jelas berdampak terhadap infrastruktur. Oleh karena itu, saya ingatkan Pemko Medan agar memperhatikan kualitas pengerjaan di sana,” ujar Zulham, Selasa (20/10/2026).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut mengaku telah menyampaikan persoalan itu secara langsung kepada Wali Kota Medan dalam koordinasi di Balai Kota, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, pemerataan pembangunan di Medan Utara, terutama Belawan, memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, setiap proyek infrastruktur harus direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.

“Dalam rapat juga sudah saya sampaikan kemarin soal ini. Target pemerataan pembangunan di Medan Utara, khususnya Belawan, memiliki tantangan tersendiri. Di sana tidak bisa sekadar dikerjakan, tetapi harus benar-benar berkualitas sehingga hasilnya bisa bertahan lama,” katanya.

Zulham menegaskan, kualitas konstruksi jalan harus menjadi perhatian utama Pemko Medan. Keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari panjang ruas jalan yang dikerjakan atau besarnya anggaran yang terserap, tetapi juga dari daya tahan infrastruktur setelah digunakan masyarakat.

Ruas jalan yang kerap terdampak banjir rob, lanjutnya, perlu mendapat perhatian khusus dalam perencanaan pembangunan. Dengan begitu, anggaran yang dikeluarkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan mengurangi kebutuhan perbaikan berulang.

“Jalan-jalan yang kerap terdampak banjir rob harus menjadi prioritas perhatian Pemko Medan. Tujuan dan harapan kita, setiap pengerjaan di sana bisa bertahan lama,” ungkapnya.

Selain perencanaan, ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek, terutama terkait kesesuaian spesifikasi teknis, ketebalan konstruksi, serta kualitas material yang digunakan.

Zulham menyarankan agar ketebalan konstruksi jalan di kawasan rawan rob dipertimbangkan mencapai 50–60 sentimeter, dengan tetap memperhatikan kajian teknis dan kondisi masing-masing ruas jalan.

“Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan sesuai standar agar jalan tidak mudah rusak dan membutuhkan perbaikan berulang dalam waktu singkat. Misalnya dari ketebalan, saya sarankan dibuat 50–60 cm, sehingga saat rob datang warga masih bisa beraktivitas,” ujarnya.

Ia berharap Pemko Medan melakukan pemetaan terhadap ruas jalan yang rawan terdampak banjir rob. Pemetaan tersebut diperlukan untuk menentukan skala prioritas pembangunan berdasarkan tingkat kerusakan, risiko genangan, dan kebutuhan masyarakat.

Menurut Zulham, pembangunan infrastruktur di Belawan harus memberikan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi warga sehari-hari. Jalan yang dibangun dengan perencanaan matang dan pengawasan ketat diharapkan dapat mendukung kelancaran aktivitas masyarakat meskipun kawasan tersebut kerap dilanda banjir rob.

“Pembangunan harus menjawab kebutuhan warga. Jangan sampai jalan yang baru dibangun cepat rusak, sementara masyarakat terus menghadapi persoalan banjir rob. Kualitas dan penentuan prioritas pembangunan harus berjalan beriringan,” pungkasnya. (map/ila)

Artikel Terkait


Terpopuler

Artikel Terbaru