26 C
Medan
Thursday, July 18, 2024

Terjepit Rumah Penduduk, jadi Lokasi Bermain

Melihat Tempat Sejarah di Medan, Makam Sultan Deli IV Tuanku Panglima Pasutan (1)

Bangunan itu sama sekali tidak istimewa. Bentuknya pun tak lebar. Makin terlihat kecil ketika sebelah kanan dan sebelah kiri bangunan itu berdiri rumah yang kokoh. Padahal, di tempat itu dimakamkan seorang Sultan, tepatnya Sultan Deli IV, Tuanku Panglima Pasutan (Marhom Kampung Besar).

Fachrul Rozi, Medan

MAKAM: Nurhayati (kiri), warga sekitar, saat ditemui Sumut Pos  makam Sultan Deli IV,  Tuanku Panglima Pasutan,  Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Aloha Kampung Besar Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan.//Fachrul Rozi/sumut pos
MAKAM: Nurhayati (kiri), warga sekitar, saat ditemui Sumut Pos di makam Sultan Deli IV, Tuanku Panglima Pasutan, di Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Aloha Kampung Besar Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan.//Fachrul Rozi/sumut pos

Bangunan yang berada di Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Aloha Kampung Besar Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan itu memang terlihat biasa saja.

Selain kondisinya terkesan dibiarkan dan terjepit di antara bangunan pemukiman warga, gudang, serta rel kereta api (KA), keberadaan lokasi makam tanpa dikelilingi pagar pembatas ini juga sering menjadi ajang lokasi bermain anak-anak.

Untuk menuju ke lokasi makam berjarak sekitar 500 meter dari jalan raya itu, kita haruslah melewati jalur perlintasan rel kereta apin
dan pemukiman warga. Persis di pinggiran rel, terlihat bangunan berwarna kuning berada di antara bangunan rumah warga. Ya, makam Sultan Deli IV, Tuanku Panglima Pasutan. Di bagian belakang bangunan itu areal tanah wakaf tempat perkuburan umum (TPU) masyarakat muslim setempat.

“Kalau siang dan malam hari, anak-anak sering bermain di sekitar makam ini,. Kadang saya pun membersihkan sampah yang dibuang sembarangan di atas makam,” kata Nurhayati (47) seorang warga yang bertempat tinggal persis di sebelah kiri makam.

Mirisnya, warga sekitar makam mengaku tidak tahu menahu soal siapa itu Tuanku Panglima Pasutan. Mereka hanya mengetahui nama dari jasad yang terkubur di dalam makam saja, tapi tidak mengetahui siapa sebenarnya, Tuanku Panglima Pasutan. “Kami hanya tahu namanya saja, itu pun karena ada tulisnya di bagian depan makam, tapi soal siapa Tuanku Panglima Pasutan, kami tidak tahu pasti,” ucapnya.

Hanya saja sebut Nur, sewaktu-waktu ada seorang pria tua yang bermukim sekitar 200 meter dari makam mendatangi dan melihat-lihat makam ini. “Atok Mahmuddin yang tinggal di depan sana kadang-kadang datang melihat. Menurut warga di sini, dia keluarga dari pemilik makam ini,” ujarnya sembari mengarahkan telunjuk tangan kanan ke arah barat.

Dari petunjuk itu, Sumut Pos pun mulai mencari dan menelusuri kediaman Mahmuddin. Setelah bertanya kepada seorang warga akhirnya kediaman berwarna hijau yang tak lain dihuni oleh keluarga Mahmuddin itu pun berhasil ditemukan. Setelah memperkenalkan diri kepada pria berusia sekitar 67 tahun ini, pembicaraan pun mulai mengarah kepada sejarah dari makam Sultan Deli yang keempat, Tuanku Panglima Pasutan.

“Dulu daerah di kampung ini masih tanah kosong ditumbuhi semak belukar, hanya beberapa rumah ada di sini. Makam Sultan Deli IV itu saya yang jaga dan membersihkannya. Sedangkan keluarga sultan di Istana Maimun terkadang datang untuk berziarah,” kata Mahmuddin.

Makam tersebut telah diusulkan menjadi situs bersejarah di Kota Medan dan pernah dipugar pada 2011 lalu. Menurut Mahmuddin, semasa hidup dan kepemimpinan Tuanku Panglima Pasutan, Kesultanan Negeri Deli terpecah menjadi dua. Kala itu sesuai sejarah, Tuanku Panglima Pasutan mulai memegang tampuk kekuasaan pada 1728, dan dia pun memindahkan kesultanan dari Padang Datar (sebutan kota Medan sekarang) ke Kampung Alai (sebutan daerah Labuhan Deli). Sedangkan adik kandungnya, Tuanku Umar menjabat sebagai Sultan Serdang pertama.

Pada masa pemerintahan Sultan Deli IV gelar datuk pun mulai ada kepada kepala-kepala suku yang merupakan penduduk asli Kesultanan Deli. “Jadi masa itu keempat datuk yang dipercaya dan diberi kekuasaan di daerahnya tetap tunduk kepada kesultanan,” ungkapnya.

Pada 1761, Tuanku Panglima Pasutan turun tahta. Tampuk pemerintahan Kesultanan Melayu Deli itu selanjutnya diteruskan Tuanku Panglima Gandar Wahid selaku Sultan Deli V. “Setelah turun tahta, Tuanku Panglima Pasutan meninggal dunia dan dimakam di Kampung Besar ini. Di makam satu atap ini juga ada empat jasad anggota keluarganya,” terang dia.

Dia juga mengaku, kalau kondisi makam Sultan Deli IV kini kian terjepit oleh bangunan pemukiman warga dan gudang yang mulai ramai memadati tanah-tanah kosong di pinggiran jalur perlintasan rel kereta api di Kampung Besar. Beberapa warga setempat menuturkan, mereka dapat mendirikan bangunan setelah mendapat restu dari pihak tertentu di perusahaan kereta api.

Keberadaan makam Sultan Deli IV dengan empat pilar penyanggah atap berwarna kuning dan pada pinggiran atapnya tampak ukiran khas Melayu tersebut juga terdapat tulisan Arab gundul (aksara Arab, berbahasa Melayu) tentang sejarah singkat, Tuanku Panglima Pasutan yang ditulis di atas batu berwarna hitam. Letak prasasti itu persis berada di bagian belakang makam. “Walau begitu warga di sini juga tetap menjaga makam ini dan sampai sekarang mudah-mudahan tidak pernah ada ritual atau hal-hal aneh dilakukan warga maupun orang lain di sekitar makam tua ini,” imbuhnya. (*)

Melihat Tempat Sejarah di Medan, Makam Sultan Deli IV Tuanku Panglima Pasutan (1)

Bangunan itu sama sekali tidak istimewa. Bentuknya pun tak lebar. Makin terlihat kecil ketika sebelah kanan dan sebelah kiri bangunan itu berdiri rumah yang kokoh. Padahal, di tempat itu dimakamkan seorang Sultan, tepatnya Sultan Deli IV, Tuanku Panglima Pasutan (Marhom Kampung Besar).

Fachrul Rozi, Medan

MAKAM: Nurhayati (kiri), warga sekitar, saat ditemui Sumut Pos  makam Sultan Deli IV,  Tuanku Panglima Pasutan,  Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Aloha Kampung Besar Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan.//Fachrul Rozi/sumut pos
MAKAM: Nurhayati (kiri), warga sekitar, saat ditemui Sumut Pos di makam Sultan Deli IV, Tuanku Panglima Pasutan, di Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Aloha Kampung Besar Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan.//Fachrul Rozi/sumut pos

Bangunan yang berada di Jalan KL Yos Sudarso Km 16,5 Aloha Kampung Besar Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan itu memang terlihat biasa saja.

Selain kondisinya terkesan dibiarkan dan terjepit di antara bangunan pemukiman warga, gudang, serta rel kereta api (KA), keberadaan lokasi makam tanpa dikelilingi pagar pembatas ini juga sering menjadi ajang lokasi bermain anak-anak.

Untuk menuju ke lokasi makam berjarak sekitar 500 meter dari jalan raya itu, kita haruslah melewati jalur perlintasan rel kereta apin
dan pemukiman warga. Persis di pinggiran rel, terlihat bangunan berwarna kuning berada di antara bangunan rumah warga. Ya, makam Sultan Deli IV, Tuanku Panglima Pasutan. Di bagian belakang bangunan itu areal tanah wakaf tempat perkuburan umum (TPU) masyarakat muslim setempat.

“Kalau siang dan malam hari, anak-anak sering bermain di sekitar makam ini,. Kadang saya pun membersihkan sampah yang dibuang sembarangan di atas makam,” kata Nurhayati (47) seorang warga yang bertempat tinggal persis di sebelah kiri makam.

Mirisnya, warga sekitar makam mengaku tidak tahu menahu soal siapa itu Tuanku Panglima Pasutan. Mereka hanya mengetahui nama dari jasad yang terkubur di dalam makam saja, tapi tidak mengetahui siapa sebenarnya, Tuanku Panglima Pasutan. “Kami hanya tahu namanya saja, itu pun karena ada tulisnya di bagian depan makam, tapi soal siapa Tuanku Panglima Pasutan, kami tidak tahu pasti,” ucapnya.

Hanya saja sebut Nur, sewaktu-waktu ada seorang pria tua yang bermukim sekitar 200 meter dari makam mendatangi dan melihat-lihat makam ini. “Atok Mahmuddin yang tinggal di depan sana kadang-kadang datang melihat. Menurut warga di sini, dia keluarga dari pemilik makam ini,” ujarnya sembari mengarahkan telunjuk tangan kanan ke arah barat.

Dari petunjuk itu, Sumut Pos pun mulai mencari dan menelusuri kediaman Mahmuddin. Setelah bertanya kepada seorang warga akhirnya kediaman berwarna hijau yang tak lain dihuni oleh keluarga Mahmuddin itu pun berhasil ditemukan. Setelah memperkenalkan diri kepada pria berusia sekitar 67 tahun ini, pembicaraan pun mulai mengarah kepada sejarah dari makam Sultan Deli yang keempat, Tuanku Panglima Pasutan.

“Dulu daerah di kampung ini masih tanah kosong ditumbuhi semak belukar, hanya beberapa rumah ada di sini. Makam Sultan Deli IV itu saya yang jaga dan membersihkannya. Sedangkan keluarga sultan di Istana Maimun terkadang datang untuk berziarah,” kata Mahmuddin.

Makam tersebut telah diusulkan menjadi situs bersejarah di Kota Medan dan pernah dipugar pada 2011 lalu. Menurut Mahmuddin, semasa hidup dan kepemimpinan Tuanku Panglima Pasutan, Kesultanan Negeri Deli terpecah menjadi dua. Kala itu sesuai sejarah, Tuanku Panglima Pasutan mulai memegang tampuk kekuasaan pada 1728, dan dia pun memindahkan kesultanan dari Padang Datar (sebutan kota Medan sekarang) ke Kampung Alai (sebutan daerah Labuhan Deli). Sedangkan adik kandungnya, Tuanku Umar menjabat sebagai Sultan Serdang pertama.

Pada masa pemerintahan Sultan Deli IV gelar datuk pun mulai ada kepada kepala-kepala suku yang merupakan penduduk asli Kesultanan Deli. “Jadi masa itu keempat datuk yang dipercaya dan diberi kekuasaan di daerahnya tetap tunduk kepada kesultanan,” ungkapnya.

Pada 1761, Tuanku Panglima Pasutan turun tahta. Tampuk pemerintahan Kesultanan Melayu Deli itu selanjutnya diteruskan Tuanku Panglima Gandar Wahid selaku Sultan Deli V. “Setelah turun tahta, Tuanku Panglima Pasutan meninggal dunia dan dimakam di Kampung Besar ini. Di makam satu atap ini juga ada empat jasad anggota keluarganya,” terang dia.

Dia juga mengaku, kalau kondisi makam Sultan Deli IV kini kian terjepit oleh bangunan pemukiman warga dan gudang yang mulai ramai memadati tanah-tanah kosong di pinggiran jalur perlintasan rel kereta api di Kampung Besar. Beberapa warga setempat menuturkan, mereka dapat mendirikan bangunan setelah mendapat restu dari pihak tertentu di perusahaan kereta api.

Keberadaan makam Sultan Deli IV dengan empat pilar penyanggah atap berwarna kuning dan pada pinggiran atapnya tampak ukiran khas Melayu tersebut juga terdapat tulisan Arab gundul (aksara Arab, berbahasa Melayu) tentang sejarah singkat, Tuanku Panglima Pasutan yang ditulis di atas batu berwarna hitam. Letak prasasti itu persis berada di bagian belakang makam. “Walau begitu warga di sini juga tetap menjaga makam ini dan sampai sekarang mudah-mudahan tidak pernah ada ritual atau hal-hal aneh dilakukan warga maupun orang lain di sekitar makam tua ini,” imbuhnya. (*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/