Kimi Antonelli mencetak sejarah setelah sukses mengunci gelar juara dunia Formula 1 2026 bersama Mercedes. Pembalap asal Italia tersebut tidak hanya menjadi juara dunia termuda sepanjang sejarah, tetapi juga menorehkan sejumlah rekor penting dalam perjalanan musim keduanya di ajang balap jet darat.
JUARA dunia Formula 1 (F1) terbagi dalam dua klaster. One-hit wonder seperti Nico Rosberg (2016), Jenson Button (2009), dan Kimi Raikkonen (2007). Satu lagi multiple champions seperti Michael Schumacher dan Lewis Hamilton (masing-masing 7 kali) maupun Sebastian Vettel dan Lewis Hamilton (masing-masing 4 kali). Setelah juara tahun ini, masuk manakah Kimi Antonelli kelak?
Usianya 18 tahun saat Antonelli tak kuasa menahan tangis setelah tersingkir dalam kualifikasi pertama (Q1) GP Belgia 2025 di Sirkuit Spa-Francorchamps. Ketika itu, musim debutnya berjalan jauh dari harapan. Bahkan, muncul suara-suara miring yang mempertanyakan kelayakannya memperkuat Mercedes.
“Banyak orang mengatakan setelah sembilan balapan tanpa poin bahwa dia seharusnya tidak berada di Mercedes. Bahkan, ada yang menganggap dia tidak pantas berada di Formula 1. Saya masih ingat air matanya di Spa,” kenang Team Principal Mercedes Toto Wolff kepada Sky Sports.
Setahun kemudian, Antonelli kembali menangis. Namun, kali ini bukan karena frustrasi. Melainkan karena dia mewujudkan impian menjadi juara dunia F1. Capaian finis ketiga di GP Meksiko kemarin (2/11) cukup untuk memastikan gelar, sekaligus mematahkan rekor Sebastian Vettel. Antonelli menahbiskan diri sebagai juara dunia termuda sepanjang sejarah F1 dalam usia 20 tahun 68 hari.
Antonelli jelas emosional. Pada lap terakhir, pembalap kelahiran Bologna, Italia, 25 Agustus 2006 itu mulai menangis hingga pandangannya sedikit tertutup. ”Semua kenangan sejak balap gokart hingga sampai di titik ini melintas di benak saya,” tutur Kimi menceritakan detik-detik sebelum finis di Autodromo Hermanos Rodriguez seperti dikutip dari laman resmi FIA.
“Itu adalah lap terakhir yang sangat istimewa. Saat melintasi garis finis, saya benar-benar meluapkan segalanya karena berhasil mewujudkan salah satu impian terbesar saya. Sungguh momen yang sangat istimewa,” imbuhnya.
Perayaan gelar Antonelli semakin istimewa karena dia berdiri di podium Foro Sol –bagian ikonik sirkuit yang menyerupai stadion– bersama Max Verstappen dan Lewis Hamilton, dua juara dunia dari generasi berbeda.
“Bisa berbagi podium dengan Max dan Lewis sungguh luar biasa. Saya menantikan lebih banyak pertarungan lagi dengan mereka di masa mendatang,” ucap Antonelli.
Jika dibandingkan dengan Verstappen yang telah mengoleksi empat gelar juara dunia, bahkan Hamilton dengan tujuh titel, jalan Antonelli jelas masih panjang. Namun, pembalap yang bergabung dengan program junior Mercedes sejak 2019 itu dinilai memiliki kualitas setara.
Setidaknya, hal itu diyakini Peter ‘Bono’ Bonnington, race engineer Antonelli di Mercedes. Sosok yang sebelumnya pernah mendampingi Schumacher dan Hamilton tersebut melihat Kimi juga memiliki bakat alami yang tidak dimiliki semua pembalap. “Kimi adalah generational talent berikutnya,” ucap Bono kepada Sky Sports.
“Dulu, saya sangat percaya pada hukum 10 ribu jam latihan. Namun, setelah menyaksikan pembalap hebat, saya menyadari bakat alami itu nyata. Ada selisih 0,2 detik yang tidak bisa diperoleh hanya dengan terus berlatih. Kimi memiliki itu, sama seperti Lewis dan Michael,” beber Bono. (ka/dns)

