YEOSU – Langkah tunggal putra Indonesia di Korea Open 2026 Alwi Farhan harus terhenti di babak 16 besar. Alwi dikalahkan oleh tunggal putra Taiwan Wang Po-wei dengan rubber game (21-17, 23-25, 15-21) di Jinnam Gymnasium, Yeosu, Korea Selatan, Kamis (5/11).
Alwi mengatakan sangat tidak puas dengan kekalahannya. Apalagi, saat melawan Wang, dia tidak punya senjata andalan. “Sebaliknya, lawan punya smes-smes yang kencang dan kurang bisa saya antisipasi,” ungkapnya dalam rilis resmi PBSI.
Pebulu tangkis berusia 21 tahun itu menambahkan, apa yang terjadi padanya merupakan akibat dari persiapan minim. Awi merasa tidak maksimal.
“Ini kenyataan yang harus saya terima. Saya akan ambil positifnya dan perbaiki negatifnya,” kata pemuda asal Solo tersebut.
Alwi pun mulai mengalihkan fokusnya ke turnamen selanjutnya. Yakni, Japan Masters yang bergulir pada 10–15 November mendatang. Ada beberapa catatan yang akan digenjotnya dalam latihan menuju Japan Masters. Salah satunya soal kondisi fisik. “(Harus) latihan kardio dan menjaga badan,” ucap juara Indonesia Masters 2026 tersebut.
Kegagalan sektor tunggal putra juga terjadi di tunggal putri. Mutiara Ayu Puspitasari harus mengakui keunggulan tunggal putri Taiwan Lin Hsiang-ti dengan rubber game (20-22, 21-19, 13-21).
Ini merupakan penampilan perdana Mutiara pada turnamen BWF World Tour Super 500. “Saya merasa di pertama kali menghadapi turnamen Super 500, saya bersyukur penampilan saya cukup baik,” kata Mutiara dalam keterangan resmi PBSI, Kamis.
Mutiara menilai penampilannya mengalami peningkatan dibandingkan pertandingan sebelumnya. Namun, ia mengakui masih kesulitan menjaga ketenangan dan keyakinan ketika pertandingan memasuki poin-poin kritis.
Pada gim pertama, Mutiara sebenarnya memiliki peluang untuk merebut kemenangan sebelum kehilangan momentum pada pengujung gim. “Gim pertama memang ada kesempatan tapi saya merasa kurang tenang dan kurang yakin menghadapi poin-poin kritis,” ujar Mutiara.
“Di gim kedua sudah cukup berjalan baik tapi di gim ketiganya, ketika poinnya ketat, lagi-lagi saya merasa pressure pemain yang lebih top level itu berbeda ya dari tekanan pukulan dan tekanan mainnya,” jelasnya. (rid/dns)

