Home Blog Page 13

Gelontorkan Anggaran Rp64 Miliar, Jalan Rusak Menuju Bahorok dan Bukit Lawang Akhirnya Diperbaiki

KETERANGAN: Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya(BMBKCK) Sumatera Utara Chandra Dalimunthe,memberikan keterangan kepada wartawan.(Dinas BMBKCK Sumut)
KETERANGAN: Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya(BMBKCK) Sumatera Utara Chandra Dalimunthe,memberikan keterangan kepada wartawan.(Dinas BMBKCK Sumut)

MEDAN – Harapan masyarakat Langkat untuk menikmati akses jalan yang lebih baik menuju Kecamatan Bahorok dan kawasan wisata Bukit Lawang akhirnya mulai terwujud. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan anggaran sebesar Rp64,2 miliar untuk memperbaiki tiga ruas jalan provinsi yang selama ini menjadi keluhan warga sekaligus jalur strategis menuju destinasi wisata unggulan tersebut.

Perbaikan infrastruktur itu menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diusung Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dalam rangka mempercepat pembangunan dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.

Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya (BMBKCK) Sumut, Chandra Dalimunthe, mengatakan ketiga ruas jalan yang akan ditangani saat ini masih dalam tahap proses tender dan ditargetkan mulai dikerjakan tahun ini.

“Yang pasti bahwa tahun ini kerusakan pada tiga ruas jalan tersebut kita tangani. Tiga ruas jalan ini masuk dalam Program Hasil Terbaik Cepat Pak Gubernur Bobby,” kata Chandra, Jumat (5/6/2026).

Adapun tiga ruas jalan yang akan ditingkatkan meliputi ruas Simpang Marike–Timbang Lawang sepanjang 5,7 kilometer dengan nilai anggaran Rp34,2 miliar, ruas Kuala–Simpang Marike sepanjang 3 kilometer senilai Rp18 miliar, serta ruas Tanjung Selamat–Simpang 3 Namu Unggas sepanjang 2 kilometer dengan anggaran Rp12 miliar.

Menurut Chandra, pembangunan tersebut tidak hanya bertujuan memperbaiki kondisi jalan yang rusak, tetapi juga memperlancar mobilitas masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Lebih dari itu, akses yang lebih baik menuju Bahorok diyakini akan memberi dampak signifikan terhadap sektor pariwisata. Pasalnya, kawasan tersebut merupakan pintu masuk menuju Bukit Lawang, destinasi ekowisata terkenal yang menjadi habitat orangutan Sumatera dan selama ini banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Perbaikan jalan ini juga menjadi jawaban atas aspirasi masyarakat yang selama ini menginginkan akses menuju Bahorok dan Bukit Lawang lebih baik,” ujarnya.

Chandra mengungkapkan, usulan perbaikan jalan tersebut sebenarnya telah lama menjadi perhatian pemerintah provinsi. Namun pelaksanaannya sempat tertunda karena pemerintah harus memprioritaskan penanganan berbagai bencana yang terjadi di sejumlah daerah serta menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.

“Karena sebelumnya fokus pada penanganan bencana dan juga keterbatasan anggaran, maka tahun ini dijadwalkan untuk penanganannya,” jelasnya.

Saat ini, proses pengadaan dan tender proyek masih berlangsung. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap seluruh tahapan administrasi dapat segera rampung sehingga pekerjaan fisik di lapangan dapat dimulai dalam waktu dekat.

Pembangunan tiga ruas jalan tersebut juga menjadi bagian dari program Infrastruktur Terintegrasi yang digagas Pemprov Sumut untuk mempercepat pemerataan pembangunan di berbagai kabupaten dan kota.

Menurut Chandra, tahun 2026 ditetapkan sebagai momentum percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Sumatera Utara guna meningkatkan konektivitas, memperkuat ekonomi daerah, serta mendukung sektor pariwisata.

“Karena itulah tahun 2026 menjadi tahun akselerasi bagi pembangunan jalan maupun jembatan di Sumatera Utara,” pungkasnya. (san/ila)

12 Tower Transmisi Rusak, PLN Bergerak Cepat Normalkan Kelistrikan Sumatera Utara

Petugas PLN melakukan pengecekan di lokasi robohnya tower transmisi akibat cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang di Sumatera Utara, Jumat (05/06/2026). Azan purba./ Sumutpos

PLN (Persero) bergerak cepat melakukan pemulihan sistem kelistrikan setelah 12 tower transmisi mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Kamis (04/06/2026) malam.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.03 WIB tersebut mengakibatkan robohnya tiga tower transmisi pada jalur SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, yakni tower T18, T19, dan T20. Selain itu, tower T17 dan T21 mengalami kondisi bengkok.

Sementara pada jalur SUTT 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, sebanyak enam tower transmisi, yakni T77, T78, T79, T80, T81, dan T82 dilaporkan roboh. Sedangkan tower T76 mengalami kerusakan berupa bengkok.

Akibat gangguan tersebut, sistem kelistrikan di sebagian wilayah Sumatera Utara sempat terdampak. Namun melalui manuver sistem dan langkah pemulihan yang dilakukan secara intensif, PLN berhasil mengembalikan pasokan listrik secara bertahap hingga kembali menyala pada pukul 02.38 WIB.

Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Utara, Darma Saputra, mengatakan saat ini PLN telah mengerahkan seluruh personel dan peralatan untuk mempercepat proses penanganan di lapangan.

“PLN tengah melakukan penanganan darurat, termasuk pemasangan Tower Emergency (TE), guna mempercepat pemulihan jaringan transmisi yang terdampak,” ujarnya.

Untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan selama proses perbaikan berlangsung, PLN juga akan menerapkan manajemen beban di sejumlah wilayah di Sumatera Utara guna meminimalkan dampak pemadaman bagi masyarakat.

PLN memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan dan berkomitmen menjaga keandalan pasokan listrik. Informasi terkait progres pemulihan akan disampaikan secara berkala melalui kanal komunikasi resmi perusahaan. Mag-3

Keterangan Foto:

 

Rupiah Rp18.000; Kapan Rp19.000?

Oleh: Ilham Mendrofa

TADI malam saya bermimpi bertemu Alan Greenspan. Ya, Alan Greenspan. Ketua Federal Reserve Amerika Serikat yang selama hampir dua dekade menjadi salah satu orang paling berpengaruh dalam sistem keuangan dunia. Dalam mimpi itu, ia sudah sangat tua. Rambutnya putih seluruhnya. Kacamata tebal bertengger di ujung hidungnya. Di hadapannya bertumpuk lembaran dolar Amerika. Ia sedang menghitung. Pelan. Tenang. Seperti seorang petani yang sedang menghitung hasil panen.

Saya berdiri tidak jauh darinya. Di tangan saya ada setumpuk rupiah. Saya tahu ia tidak sedang mengejek saya. Tetapi saya memperhatikan sesuatu yang membuat dada saya sesak. Sesekali ia mengangkat kepala, lalu melirik ke arah saya dari balik kacamatanya.

Bukan tatapan menghina. Lebih menyakitkan dari itu. Tatapan iba. Seolah-olah rupiah yang saya genggam tidak lebih berharga daripada koran Wall Street Journal yang baru selesai dibaca lalu dilempar ke tempat sampah. Saya marah. Saya ingin membantah. Saya ingin menjelaskan bahwa negeri saya besar. Bahwa kami punya nikel, sawit, batu bara, laut yang luas, penduduk lebih dari 280 juta jiwa, dan mimpi menjadi negara maju.

Tetapi sebelum satu kata pun keluar dari mulut saya, saya terbangun. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Di layar telepon genggam, rupiah masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya tidak langsung memikirkan kurs. Saya justru memikirkan kepercayaan.

Sejujurnya, peduli apa sebagian besar rakyat terhadap kurs? Sebagian besar orang Indonesia tak pernah membeli dolar, tak membuka terminal Bloomberg, tak memantau indeks dolar, apalagi mengenal quantitative tightening. Yang mereka kenal jauh lebih sederhana: solar masih harus dibeli dengan barcode, antrean SPBU masih mengular di beberapa daerah, harga tandan buah segar sawit naik turun tanpa kepastian.

Orang tua cemas, apakah anak-anak benar-benar mendapat gizi layak. Bangunan koperasi desa yang dijanjikan megah masih banyak yang belum selesai. Lulusan sekolah masih mencari kerja. Pasien masih mengeluh tentang layanan kesehatan. Dan jutaan keluarga masih menghitung-hati apakah penghasilan bulan ini cukup sampai akhir bulan.

Kita hidup di tengah kegelisahan-kegelisahan itu. Kita ingin pengangguran berkurang, kemiskinan menyusut, sekolah lebih baik, puskesmas lebih layak, jalan lebih mulus, air bersih lebih mudah didapat. Kita ingin negara terasa hadir ketika rakyat membutuhkannya. Maka ketika para ekonom berbicara soal rupiah, banyak orang bertanya: Apa hubungannya dengan hidup saya?

Pertanyaan itu wajar. Namun justru di situlah persoalannya. Sebab rupiah bukan sekadar mata uang. Rupiah adalah ukuran kepercayaan terhadap Indonesia. Ketika rupiah melemah, dunia sedang menilai kemampuan kita mengelola negara. Ketika rupiah menguat, dunia memberi penghargaan bahwa Indonesia punya masa depan yang layak dipercaya.

Maka pertanyaan terpenting hari ini bukanlah berapa kurs rupiah terhadap dolar. Melainkan: tinggal berapa banyak kepercayaan dunia terhadap rupiah? Dan yang lebih menakutkan: tinggal berapa banyak kepercayaan kita sendiri terhadap rupiah?

Dalam ekonomi modern, nilai tukar adalah harga dari kepercayaan. Ia bergerak oleh perdagangan, investasi, dan ekspektasi. Pelemahan rupiah tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa cerita lebih besar tentang bagaimana negara ini dipandang dunia. Hari ini rupiah mendapat tekanan dari ketiga sisi itu.

Di sektor perdagangan, Indonesia masih memikul defisit migas. Ketika harga minyak dunia naik, kebutuhan dolar ikut meningkat. Surplus perdagangan pada April 2026 tinggal sekitar US$89 juta—terendah sejak 2020. Itu tanda bahwa bantalan devisa dari perdagangan semakin tipis. Surplus nonmigas masih ada, tapi nyaris habis ditelan kebutuhan energi.

Di sektor harga, inflasi mulai merangkak naik. Angka 3,08 persen pada Mei 2026 memang belum mengkhawatirkan, tetapi arah pergerakannya penting dicermati. Rupiah yang melemah membuat impor lebih mahal, impor mahal menaikkan biaya produksi, dan pada akhirnya tekanan itu turun ke pasar tradisional serta meja makan rakyat.

Di sektor keuangan, investor tak kenal patriotisme. Mereka menghitung risiko dan imbal hasil. Ketika rupiah melemah lebih cepat dari keuntungan yang mereka peroleh, mereka keluar. Begitu mereka keluar, tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Inilah yang disebut premi risiko: ongkos yang harus dibayar sebuah negara ketika kepercayaan mulai berkurang. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen. Langkah itu penting dan perlu. Namun suku bunga hanyalah rem, bukan mesin. Ia bisa memperlambat tekanan, tapi tak bisa menciptakan kepercayaan sendirian.

Menahan kurs adalah tugas bank sentral. Memperkuat rupiah adalah tugas seluruh negara. Pemerintah kerap mengatakan pelemahan rupiah terutama disebabkan faktor global. Itu tidak salah. Dolar AS memang sedang kuat, harga energi meningkat, ketegangan geopolitik membuat investor mencari tempat paling aman.

Namun penjelasan itu tidak cukup. Sebab badai global tidak memukul semua negara dengan cara yang sama. Brasil masih mampu menarik modal berkat kombinasi suku bunga tinggi dan ekspor komoditas yang kuat. Norwegia untung dari ekspor energi. India ditopang pasar domestik besar dan arus investasi stabil. Tidak semua mata uang kehilangan pijakan dengan tingkat yang sama.

Karena itu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah mengapa dolar kuat, melainkan mengapa ketika badai yang sama datang, rupiah terlihat lebih rapuh dibanding sebagian negara lain? Jawabannya membawa kita pada persoalan lebih dalam: kredibilitas kebijakan. Pasar ingin tahu apakah kebijakan fiskal dan moneter benar-benar searah. Apakah hilirisasi menghasilkan devisa bersih atau sekadar memindahkan pusat rente. Apakah devisa hasil ekspor benar-benar masuk ke sistem keuangan nasional atau hanya parkir di rekening valas. Apakah proyek-proyek besar negara memperkuat produktivitas atau justru memperbesar kebutuhan impor dan utang.

Pertanyaan-pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan pidato. Hanya data yang mampu menjawabnya. Yang dibutuhkan hari ini bukan lagi konferensi pers yang menenangkan, melainkan transparansi yang meyakinkan: berapa devisa hasil ekspor yang masuk, berapa yang dikonversi ke rupiah, berapa kebutuhan valas BUMN, berapa kebutuhan impor energi, dan berapa devisa bersih yang benar-benar dihasilkan dari hilirisasi. Kepercayaan lahir ketika data lebih kuat dari slogan.

Sejarah rupiah sendiri lahir dari gagasan yang sama. Namanya berasal dari kata Sanskerta rūpya—perak yang ditempa. Ketika Oeang Republik Indonesia mulai beredar pada 30 Oktober 1946, republik yang masih muda itu mengirim pesan kepada dunia: kami punya negara sendiri, pemerintahan sendiri, dan nilai yang kami percaya sendiri. Maka grafik rupiah bukan sekadar grafik ekonomi. Ia adalah rekam jantung republik.

Itulah sebabnya saya ingin menulis judul ini dan sengaja mengganggu. *Rupiah kapan Rp19.000?* Bukan karena kita menginginkan rupiah jatuh lebih jauh. Justru karena kita ingin mencegahnya. Rp19.000 bukan ramalan. Ia adalah pertanyaan moral kepada para penjaga kebijakan fiskal dan moneter: apakah mereka cukup cepat membaca tanda-tanda sebelum persoalan ekonomi berubah menjadi persoalan politik? Apakah mereka cukup jujur mengakui masalah sebelum pasar kehilangan kesabaran? Apakah mereka cukup berani memperbaiki fondasi sebelum rakyat kehilangan kepercayaan?

Kita tidak butuh pemerintah yang sempurna. Kita butuh pemerintah yang dapat dipercaya. Rupiah bukan hanya alat tukar, tapi juga janji. Dan seperti semua janji, nilainya tidak ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan, melainkan oleh kemampuan untuk menepatinya. Sebab pada akhirnya, nilai tukar bukan hanya harga mata uang, tapi juga harga dari kepercayaan kita terhadap masa depan.

Adalah Kepala Badan Saksi Nasional DPP Partai Demokrat.

Dukung Swasembada Energi Nasional, Gubsu Dorong Percepatan Legalisasi Sumur Minyak Rakyat

AUDIENSI: Gubsu Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kamis (4/6/2026).(Diskominfo Sumut)
AUDIENSI: Gubsu Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kamis (4/6/2026).(Diskominfo Sumut)

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong percepatan legalisasi sumur minyak masyarakat sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada energi nasional. Di Kabupaten Langkat sendiri tercatat terdapat 607 sumur minyak masyarakat yang sudah terverifikasi, yang berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan produksi energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Bobby saat menerima audiensi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumbagut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman, Medan, Kamis (4/6/2026).

Menurut Bobby, penerapan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 14 Tahun 2025 menjadi langkah penting dalam menata dan mengelola sumur minyak rakyat secara profesional sekaligus memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

“Ini satu hal yang kami ketahui, tujuannya mencapai cita-cita Pak Presiden mencapai swasembada energi untuk memenuhi target 610 ribu barel per hari, salah satunya dengan melibatkan masyarakat daerah,” kata Bobby.

Selama ini, keberadaan sumur minyak masyarakat kerap dianggap merugikan negara karena belum memiliki payung hukum yang jelas. Namun, melalui implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, aktivitas tersebut kini memiliki dasar legal yang kuat.

“Kita pemerintah daerah melalui BUMD diminta mengakomodir hasil sumur masyarakat, oleh karena itu percepatan cita-cita Pak Presiden harus kita wujudkan segera,” ujar Bobby.

Bobby menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut siap mendukung penuh percepatan legalisasi dan pengelolaan sumur minyak masyarakat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Kami dari Pemprov Sumut bersemangat untuk terus bersinergi. Kami dari Pemda tentu akan mendukung dan ingin menjadi bagian dari pencapaian tersebut. Oleh karena itu, apa pun hal dan persoalan di Sumut, mari kita sama-sama berkolaborasi mempercepat penyelesaian persoalan di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Langkat Syah Afandin berharap proses legalisasi dapat segera direalisasikan. Menurutnya, sumur minyak masyarakat merupakan potensi besar yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.“Sebenarnya ini potensi daerah, seperti lapangan pekerjaan, PAD, dan lain-lain,” kata Syah Afandin.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut Sebastian Julius mengatakan pihaknya terus mendorong percepatan implementasi kebijakan tersebut. Ia juga mengapresiasi sinergi yang selama ini telah terjalin dengan Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Daerah. “Alhamdulillah kerja sama cukup baik, ini yang kami harapkan untuk dipertahankan dan ditingkatkan,” kata Sebastian.(san/*)