Home Blog Page 13120

Menonton Televisi Layaknya di Layar Bioskop

Peluncuran Televisi Sharp Big Aquos 80 inch

Tren pengguna TV saat ini semakin menyukai layar datar yang besar dikarenakan menginginkan kepuasan saat menonton TV di rumah layaknya menonton di bioskop.

Ukuran sebuah TV menjadi latar belakang bagi seorang konsumen untuk membeli sebuah TV selain fitur teknologi yang ditawarkan.

Melihat tren tersebut, PT Sharp Electronics Indonesia meluncurkan seri terbaru dari AQUOS dengan mengeluarkan ukuran layar 80-inch. Ditunjang kemampuan Sakai plant memproduksi masal layar besar, dan keinginan untuk memuaskan pelanggannya, melatarbelakangi Sharp meluncurkan ukuran terbaru BIG AQUOS LC-80LE940X.  Dengan tampilan layar yang 214 % lebih luas dari LED 55 inch, Sharp mengajak konsumen untuk memiliki pengalaman layaknya menonton di bioskop dan melihat dunia dengan layar yang lebih besar  ‘See the world in big picture’.

“Sharp mulai memperkenalkan TV big size ke pasar Indonesia sejak tahun 2010 dengan meluncurkan AQUOS 60-inch dan dilanjutkan dengan peluncuran a bigger size AQUOS 70-inch pada tahun 2011. Sejak diluncurkan, minat konsumen terhadap TV layar besar sangat tinggi, hal ini dibuktikan dengan peningkatan pangsa pasarnya yang mencapai 25.9% dari total penjualan LCD TV 55-inch ke atas di Indonesia.” Ungkap Herdiana, Product General Manager PT Sharp Electronics Indonesia.

Seperti para pendahulunya, AQUOS 80-inch tetap mengusung teknologi Quattron yakni dengan menambahkan warna kuning pada teknologi 3 warna dasar RGB ( Red, Green, Blue ) sehingga menghasilkan kualitas gambar yang sangat nyata dan menakjubkan.

Marketing and Sales Senior General Manager PT SEID, Shinji Teraoka, mengatakan dalam sambutannya, “BIG AQUOS 80-inch dari Sharp akan menjadi ukuran TV yang paling besar di Indonesia, Sharp akan terus melakukan pengembangan produk disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan pasar. Di harapkan dengan peluncuran produk ini Sharp akan menjadi nomor 1 di pasar LCD di Indonesia.”

Disain elegan dengan lapisan aluminium halus dan ramping menambah tampilan BIG AQUOS semakin mewah. Kualitas gambar yang baik dan tajam dihasilkan dari kombinasi Quattron, X-Gen Panel dan teknologi High Speed LCD. Melalui fitur-fitur tersebut, Sharp ingin membawa para konsumennya merasakan tontonan mewah yang setara dengan tampilan bioskop.

Dengan menggunakan Quad Pixel Plus 2 yang telah diperbaharui, AQUOS 80-inch dapat  mengoreksi tampilan garis yang bergerigi ataupun bintik-bintik. Sementara fitur Aquo Motion pro yang mengombinasikan panel “200/240Hz” dengan backlight technology yang dapat membuat gambar yang bergerak cepat tidak meninggalkan bayangan.

Fitur baru yang dibenamkan dalam produk ini adalah 3D auto change dimana dengan teknologi ini, pengguna tidak perlu lagi mengatur pola 3D yang tepat seperti side by side atau dari 2D ke 3D, karena akan secara otomatis menyesuaikan dengan tampilan gambar di TV. Konsumen pun dapat mengakses internet melalui BIG AQUOS ini, dan menikmati musik, gambar, video yang disimpan dalam USB ataupun Smart Phone di BIG AQUOS hanya dengan menghubungkan kabel MHL ( Mobile High-Definition Link ) dari Smart Phone ke TV.

Tambahan fitur Wireless LAN Ready, akan membebaskan konsumen dari gulungan kabel yang berantakan. Tidak hanya itu Sharp pun memanjakan kosumen dengan menghadirkan line-up terbaru dari deretan seri Aquos Quattron 3D TV yang telah disempurnakan dari seri-seri sebelumnya. Sharp menghadirkan 4 line-up terbaru yaitu LC-60LE940X, LC-52LE840X dan LC-46LE940X yang memiliki fitur sama dengan BIG AQUOS 80-inch.
“Target penjualan rangkaian big size TV AQUOS ditetapkan sebesar 1.000 unit per bulan dimana dari jumlah tersebut Sharp menetapkan target penjualan AQUOS-80 Inch sebanyak 80 unit. AQUOS-80 Inch dijual dengan harga Rp. 88 Juta ,” jelas Herdiana.

Sebagai bentuk apresiasi Sharp terhadap konsumen LCD-nya, Sharp pun akan meluncurkan whatiseighty.com yang merupakan microsite dari www.sharp-indonesia.com.(*)

Ingin Bangun Banyak Kampus

Direktur Politeknik MBP Drs Tenang Malem Tarigan MSi Ak

Tenang Malem Tarigan masih tercatat sebagai dosen Politeknik Negeri Medan (Polmed). Ia telah mendirikan sejumlah kampus yang tergabung dalam Yayasan Mandiri Bina Prestasi (MBP) Group. Ada Akademi Manajemen  Informatika Komputer Medan Business Polytechnic (AMIK MBP), Politeknik Mandiri Bina Prestasi (MBP), Akademi Komputer (Amikom) Medan, Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKom) Medan, Politeknik Yanada dan Akademi Pariwisata Taman Harapan (Akpar Tampan).

BERSAMA KELUARGA: Direktur Politeknik MBP Drs Tenang Malem Tarigan MSi Ak bersama keluarga.//dedi mulia purba/sumut pos
BERSAMA KELUARGA: Direktur Politeknik MBP Drs Tenang Malem Tarigan MSi Ak bersama keluarga.//dedi mulia purba/sumut pos

TOKOH pendidikan Sumut ini meninggalkan desa kelahiran di Tanah Karo untuk belajar di SD Taman Pendidikan Mardi Lestari Medan lalu berlanjut ke SMP Negeri 6 Medan dan SMA Santo Thomas Medan. Karena orangtua hanya petani , sewaktu SMP dan SMA ia pun membantu kakak yang tinggal di Medan dengan bekerja apa saja.

Semasa remaja, Tenang pernah melakoni pekerjaan sebagai penjaga malam di pasar, tukang becak dan tukang parkir. Semua pekerjaan asalkan tak melanggar aturan dikerjakan agar dapat meraih kehidupan yang lebih baik dengan kerja keras dan keteguhan.

Itulah sekelumit kisah Tenang Malem Tarigan, bungsu dari empat bersaudara yang kini menjabat sebagai Direktur Politeknik MBP. Tenang Malem lalu bertutur tentang keluarga dan keinginan untuk terus mendirikan kampus baru melengkapi kampus yang telah ada.

Apa alasan Anda bikin banyak perguruan tinggi?

Saya awalnya mendirikan kursus komputer yakni Yanada. Kemudian tambah banyak muridnya menjadi kampus perguruan tinggi. Mulailah saya mendirikan kampus hingga terbentuk AMIK MBP. Dibantu teman-teman dari Polmed, akhirnya dibentuk pula Politeknik MBP.

Lantaran alumni diploma-3 semakin banyak, mereka pun ingin melanjutkan jenjang pendidikan strata-1. Dari pada nyambung ke tempat lain, saya buatlah STIKom Medan. Inilah riwayat berdirinya beberapa kampus tadi dimana karena didirikan satu per satu akhirnya menjadi banyak.

Program studi antaralain di Politeknik MBP ada 16 program studi, AMIK MBP dua program studi, Akpar Tampan dua program studi, Politeknik Yanada tiga program studi, STIKom tiga program studi. Pada 1997 didirikan Akademi Manajemen Informatika Komputer Medan Business  Polytechnic (AMIK MBP). Tahun 1998, Mendikbud melalui Dikti mengeluarkan izin yang menyatakan status AMIK MBP sebagai perguruan tinggi.

Kursus Yanada English Center, juga Yanada Bisnis Politeknik dan Medan Business Polytechnic dalam satu kampus menjadi Politeknik Mandiri Bina Prestasi (MBP) pada 2002 dengan izin Menteri Pendidikan Nasional No: 148/D/0/2002.Politeknik MBP singkatan dari Mandiri Bina Prestasi, beda dengan sebelumnya AMIK MBP yaitu Medan Businness Politeknic. Juga didirikan Akademi Komputer (AMIKOM) dengan izin Mendiknas tahun 2003. Didirikan pula Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKom) untuk jenjang studi  trata 1 dan Akademi Pariwisata Taman Harapan serta tahun 2008, YPK Yanada diubah namanya menjadi Politeknik Yanada.

Kenapa dibikin banyak?

Sebab memang banyak bidang studi pendidikan yang perlu dikembangkan. Hingga kini bidang studi yang dikendalikan ada 26 program studi pada beberapa kampus. Kalau nantinya dijadikan satu wadah bisa bikin universitas. Kita memang sedang mempersiapkan diri menjadi Universitas Mandiri Bina Prestasi.

Setelah mendirikan banyak kampus, masih ada keinginan bikin kampus baru?

Ada dua kampus lain yang akan dibangun. Aku masih mencari mitra di Hongkong dan India untuk bekerjasama.

Bagaimana Anda mengatur waktu untuk komunikasi dengan keluarga?

Bukan hanya saya yang mengelolanya. Ada teman-teman dan staf yang berjumlah 300 orang. Saya hanya melaksanakan supervisi. Karenanya bagi waktu dengan keluarga cukup lapang. Saya pun setiap saat bersama anak-anak. Misal ke AMIKom bawa anak-anak. Pulang sekolah pun mereka saya jemput. Ngajar pun tidak ditinggalkan sembari bawa anak. Tujuannya supaya mereka tahu apa pekerjaan bapaknya. Ini memberi contoh langsung kepada mereka. Dengan mengikuti kegiatan bapaknya di enam sekolah saja sudah cukup buat anak-anak dalam menjalani kebersamaan dengan keluarga.

Program lain untuk menjalin kebersamaan dengan keluarga?

Kadang-kadang kami berangkat ke luar negeri. Seperti pergi ke Hongkong, Jepang, Malaysia, Belanda dan negara-negara lainnya.

Adakah anak yang dipersiapkan meneruskan menjalankan kampus?

Saya beri kebebasan kepada anak untuk memilih bidang studi pendidikan yang mereka minati. Berhasil atau tidak mereka pada bidang studi itu yang dipilihnya itu tergantung pada kemampuan anak-anak. Jadi guru bagus, jadi dokter bagus, jadi pendeta juga bagus. Sebab tak ada jurusan pendidikan yang tidak bagus.

Apa hobi Anda?

Hobi saya menantang kesulitan dan menyerempet bahaya. Saya mau mencari tantangan. Kata orang sulit, kita ingin mengatasinya. Kalau kita tidak pernah mencoba, kita tidak akan mendapatkan ilmu. Saya sudah sering kecebur namun harus tahu kita mencari ilmu selamat. Misalnya kita terpaksa berutang, kita menjamini orang, kita berjanji pada orang atau kita investasi tentu semua ada risikonya. Kita pun harus tahu agar dapat mengelakan risiko tadi. Tidak selamanya janji-janji orang berbuah yang enak. Sebaliknya tidak selamanya janji yang pahit itu jadi pahit selamanya. Dari kita mengalami hal semacam ini jadi tahun kondisinya.

Apakah punya banyak kampus merupakan cita-cita Anda?

Tidak. Sejak kecil saya bercita-cita jadi Menteri Keuangan karena jadi presiden saya kira tidak mungkin. Cuma kenapa tak jadi menteri karena pas tamat kuliah akutansi tak ada lagi lowongan ikatan dinas di Departemen Keuangan pada tahun 1986. Padahal sebelum saya, alumni akutansi langsung wajib kerja di Departemen Keuangan. Tamat SMA, lulus menjadi mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas  Sumatera Utara (USU). Karena tidak masuk kerja di Departemen Keuangan, akhirnya saya memilih menjadi dosen. Kalau mau jadi Menteri Keuangan, saya mesti tinggal di Jakarta. Artinya, untuk menjadi orang-orang terpilih seperti menteri, kita harus bergaul di lingkungan orang-orang pintar atau di kawasan pusat pemerintahan.

Suka duka Anda menjadi pendidik?

Saya belajar sendiri dalam menekuni profesi. Kalau saya menunggu tempat bertanya, tidak ada jawabnya. Sebab saya mau menjadi yang terbaik. Saya pun harus bisa menggali sendiri sehingga harus lebih banyak keluar keringat. Karenanya, saya tidak ingin ada pekerjaan yang terbengkalai. Apalagi  Di enam kampus yang dikelola, saya tidak ada mengajar. Saya hanya mengajar di tempat kerja utama di Polmed. Saya tak ingin seperti kacang lupa pada kulitnya. Saya dibesarkan di Polmed. Mengajar bagi saya bukan lagi untuk mencari nafkah tetapi menyalurkan bakat. Sudah tanggung jawab moral dan pengabdian. Tahun 1989, kembali ke Medan untuk memulai tugas sebagai dosen Hukum Bisnis di Polmed. Selanjutnya mengajar komputer dan akuntansi. Sekarang menjadi dosen mata kuliah Pengantar Perpajakan dan Praktik Perpajakan.

Obsesi Anda di masa mendatang?

Kedepan saya mau jadikan kampus-kampus kita sebagai universitas yang terbaik dan berskala dunia. Selain Universitas Mandiri Bina Prestasi ada juga universitas yang bernama global. Bukan Global University tapi berkaitan dengan nama besar perguruan tinggi ternama di Asia dalam menjalin suatu kemitraan.

Harapan Anda pada dunia pendidikan di Sumut?

Saya melihat mutu pendidikan kita masih rendah antara lain karena yang mengajari pun mutunya rendah, penyelenggara pendidikan pun bermutu rendah. Jadi itu semua harus kita tingkatkan apalagi pemerintah telah beritikad baik membuat sertifikasi guru dan dosen. Harus dihindarkan praktik-praktik manipulasi dalam dunia pendidikan.

Disisi lain, dari 100 orang tamatan SLTA hanya 17 orang yang melanjutkan di perguruan tinggi . Kita harus ubah agar 83 orang lain bisa kuliah. Yang tamat SLTA tadi ada yang tidak punya uang, sehingga harus dibantu. (dmp)

[table caption=”Daftar Riwayat Hidup”]
Nama ,       Drs Tenang Malem Tarigan MSi Ak
Kelahiran   ,    Pergendangan Tanah Karo/10 Agustus  1958
Jabatan   ,    Pembina Yayasan Mandiri Bina   Prestasi (MBP Group)
Pendidikan[attr colspan=”2″]

,  S-1 USU (tahun 1986)
,  S-2 USU (tahun 2006)
Istri   ,  dr Anna Mari Ulina Bukit
Anak   [attr colspan=”2″]

,   1. Christianto Youstra Valentino Tarigan
,       2. Ambrocius Octavianus Ermulia Man  Gunanta Tarigan
,    3. Timothy Adi Prima Tarigan
,       4. Esther Helena Rehulina Tarigan
Jabatan  [attr colspan=”2″]
,  1. Pembina Yayasan AMIK MBP
,2. Pembina Yayasan AMIKom Medan
,  3. Direktur Politeknik Mandiri Bina Prestasi
, 4. Ketua Yayasan STIKom Medan
,   5. Ketua Yayasan Politeknik Yanada
, 6. Ketua Yayasan Akademi Pariwisata Taman Harapan
Penghargaan  [attr colspan=”2″]
, 1. Satya Lencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
,    2. Adhi Prima Karya Award Nasional
,   3. Tut Wuri Handayani Award dari IMI

[/table]

Rumah Tingkat Harus Ada Tangga Darurat

JAKARTA- Peristiwa kebakaran ruko di Medan dengan korban empat penghuninya tewas terjebak api lantaran ruko penuh jerjak besi, harus menjadi pelajaran bagi semua warga. Jangan sampai upaya untuk mengamankan harta benda, justru tidak mengantisipasi bahaya yang bisa mengancam jiwa penghuninya.

“Jangan mengkerangkeng rumah untuk menjaga harta, tapi sebenarnya mengkerangkeng diri sendiri dan keluarga jika terjadi bencana,” ujar Konsultan Perumahan dari Astudio Architect, Probo Hindarto di Jakarta, kemarin (8/8).
Seperti diberitakan, dalam peristiwa kebakaran itu, seorang pengusaha restoran beserta istri dan dua anaknya tewas terbakar tanpa bisa ditolong karena pintu dan jendela penuh dengan besi.

Peristiwa ini terjadi di ruko yang terletak di Jalan Gandhi No 225 simpang Jalan Emas pada Selasa (7/8) dini hari sekira pukul 04.15 WIB.

Probo mengingatkan, boleh-boleh saja warga mengkerangkeng rumah dengan terali besi. Namun, tetap harus ada bagian khusus yang bisa dibuka dari dalam untuk penyelamatan penghuninya jika terjadi bencana.
Alternatif lain, lanjut Probo, disiapkan tangga khusus untuk rumah atau ruko yang bertingkat. Memang, diakuinya, adanya tangga darurat ini bisa mengganggu tampilan rumah. Namun, bisa saja tangga didesain dengan permainan bentuk. “Tangganya bisa disembunyikan dengan memainkan bentuknya,” imbuhnya aristek yang membuka jasa konsultasi gratis ini.

Kalau pun bukan tanggap permanen, bisa saja yang tidak permanen, tapi harus selalu tersedia. “Di gedung-gedung besar sudah ada regulasi keharusan ada tangga darurat. Nah, yang perlu didorong adalah perlunya regulasi ada ada tangga darurat juga untuk perumahan,” ujar Probo.

Lebih lanjut Probo menjelaskan, sebenarnya tidak perlu warga membuat terali besi yang rapat memagari rumahnya. Beberapa alternatif untuk membuat pengamanan harta benda bisa dilakukan, antara lain dengan memasang CCTV yang bisa dipantau setiap saat lewat internet atau handphone.

Bisa juga dengan menggunakan alarm. “Tapi yang lebih aman lagi adalah, simpan barang-barang berharga di deposit, di bank, jangan disimpan di rumah. Untuk ruko, ya optimalkan peran satpam,” ujar Probo.
Dia menyarankan, saat memberi rumah dan ruko, perlu juga diperhatikan sistem pengamanan yang dilakukan oleh pengembang. Jika perumahan menggunakan one gate system, biasanya aspek keamanan lebih terjaga.
“Tapi perumahan yang menggunakan one gate system biasanya perumahan kelas menengah ke atas. Kalau untuk perumahan kelas menengah ke bawah, mengandalkan sistem pengamanan oleh warganya sendiri,” beber Probo. (sam)

Tenor FLPP Jadi 20 Tahun

JAKARTA- Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) terus mempermudah peraturan pemilikan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Selain memberi kelonggaran, pemerintah juga memperpanjang tenor FLPP dari 15 tahun menjadi 20 tahun.

“Kami baru saja membuat Peraturan Menteri Perumahan Rakyat (Permenpera) baru untuk mempermudah penyaluran FLPP kepada masyarakat luas. Peraturan tersebut termuat dalam Peraturan” Nomor 13 dan 14 tahun 2012. Permenpera baru ini sifatnya lebih melonggarkan Permenpera sebelumnya,” ujar Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo, Senin (6/8).

Permenpera Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pengadaan Perumahan Melalui Kredit / Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Dengan Dukungan FLPP. Sedangkan Permenpera Nomor 14 Tahun 2012 mengatur tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit / Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Dengan Dukungan FLPP. “Oleh karena itu, kita berharap Permenpera ini bisa direspons sebaik-baiknya seperti pengembang, perbankan dan masyarakat,” ujarnya.
Lantaran ada Permenpera Nomor 13 dan 14, maka Permenpera Nomor 4,5 7, 8 tahun 2012 secara total diganti dan dicabut. Oleh karena itu, sosialisasi Permenpera ini akan terus dilaksanakan. “Kalau peraturan yang ada diubah untuk menjadi lebih baik kan nggak apa-apa. Permenpera ini malah membantu masyarakat yang ingin memiliki rumah. Nah, agar bank lebih giat, kita akan berupaya agar masa tenor FLPP bisa menjadi 20 tahun,” sambungnya.

Dia mengatakan, untuk tenor 15 tahun, porsi FLPP pemerintah dan perbankan 50 : 50. Sedangkan tenor 20 tahun porsi FLPP pemerintah dan bank sekitar 70 : 30. KPR FLPP diberikan bagi MBR, baik berpenghasilan tetap maupun berpenghasilan tidak tetap. “Tentunya yang belum memiliki rumah dengan batas penghasilan pokok tertentu dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah,” tandasnya.

Beberapa persyaratannya antara lain pertama belum pernah memiliki rumah baik yang perolehannya melalui pembiayaan bersubsidi maupun tidak bersubsidi, kedua penghasilan pokok maksimal Rp3,5 juta untuk rumah tapak (non-susun) dan Rp5,5 juta untuk rumah susuk, ketiga memiliki NPWP dan SPT atau Surat Pernyataan Penghasilan. “Ini syarat mutlak dan tidak boleh dimain-mainkan,” tegasnya.

Sedangkan spesifikasi rumah yang diperbolehkan antara lain rumah tapak dengan luas minimal 36 meter persegi dan rumah susun yang luas paling sedikit 21 meter persegi dan tidak melebihi 36 meter persegi. Untuk meningkatkan pasokan rumah sejahtera dapat berasal dari orang perseorangan dan atau badan hukum di bidang perumahan dan kawasan permukiman. “Hal itu juga menjadi tantangan untuk kalangan pengembang untuk menambah suplai perumahan untuk MBR,” jelasnya. (wir/dos/jpnn)

Mari Belajar 10 Hal dari Olimpiade

Pelaksanaan Olimpiade 2012 di London, Iggris, akan berakhir. Banyak orang yang melihat sisi unik dari Olimpiade ini.
Greg Steir, seorang Pendiri dan President dari Pelayanan Internasional Dare 2 Share, pelayanan untuk para remaja, melihat banyak hal yang bisa dipelajari. Berikut ini sepuluh hal yang harus dipelajari oleh orang Kristen di seluruh dunia melalui Olimpiade, yaitu :

  1. Keselamatan itu gratis, namun penghargaan harus dikejar (2 Kor 5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.)
  2. Anak muda (seperti Missy Franklin – perenang yang meraih 4 emas dan 1 perunggu) bisa bersinar melebihi orang dewasa jika diberikan kesempatan (1 Tim 4:12 Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.)
  3. Kerjasama tim adalah segalanya (Filipi 1:27 Hanya hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil)
  4. Harus ada latihan sebelum hari besar datang (1 Tim 4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.)
  5. Mereka yang jatuh begitu keras (seperti Michael Phelps – perenang) bisa kembali dan menang (Gal 1:13-16 tentang Paulus yang membunuh orang-orang Yahudi namun dipanggil juga oleh Tuhan dan dia berkarya secara luar biasa.)
  6. Segala sesuatu belumlah berakhir sampai sesuatu itu berakhir (2 Pet 3:9,10)
  7. Membawa obor adalah hebat, namun pemegang medali emas lebih baik lagi (2 Tim 4:6-8 Paulus yang telah mencapai garis akhir dan telah memelihara iman.)
  8. Perayaan, bagaimanapun megahnya, kurang penting dibandingkan permainan yang dipertandingkan (Kol 2:16,17 Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus)
  9. Para komentator hanya berbicara, namun para atletlah yang bertindak (Yak 1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.)
  10. Yang terbaik akan segera datang (2 Kor 4:16-18 Tidak tawar hati mengenai sesuatu yang sementara sifatnya, tapi diperbaharui dan menunggu yang terbaik datang.)
    Dari suatu peristiwa, terkadang kita bisa memetik suatu makna di baliknya, terutama dalam hal kepercayaan kita kepada Kristus. Itulah pelajaran yang diberikan hidup dan Tuhan kepada kita bahwa dari setiap kejadian, selalu ada hikmahnya.(jc/tms)

Sebaiknya Semua Biaya Ditanggung Pendukung

Praeses GKPS Distrik V Minta Umat Kristen Peduli Calon Pemimpin Sumut

TEBINGTINGGI-Tingkat intelektual dan integritas seorang pemimpin saat ini cenderung menurun dibandingkan masa lampau. Bahkan, pemimpin sekarang banyak yang masuk ke rumah ketiga (penjara). Ditengarai, salah satu penyebabnya karena besarnya biaya yang dikeluarkan saat akan maju menjadi calon. Untuk mengembalikan dana, pemimpin terpilih mengambil jalan pintas, korupsi.

“Pemimpin yang diharapkan ke depan adalah seorang yang nasionalis dan dibiayai pendukungnya secara gotong-royong bukan berasal dari uang pribadi calon. Dengan demikian, saat memimpin tetap mengutamakan program pembangunan bukan memikirkan mengembalikan uang yang dipakai sebagai merebut pimpinan,” demikian ringkasan khotbah yang disampaikan Praeses GKPS Distrik V Pdt Almer Trivendi Purba pada kebaktian dan doa bersama masyarakat Tebingtinggi dengan RE Nainggolan MM, Selasa malam (7/8) di gedung Balai Kartini Kota Tebingtinggi.

Secara pribadi, Pdt Almer Purba mendukung calon Gubsu yang memiliki logika, perasaan dan pikiran. “Selain itu, memiliki hati dan iman serta untuk menjawab kerinduan masyarakat, munculnya seorang pemimpin yang nasionalis untuk membangun Sumut yang sudah begitu jauh tertinggal dari daerah lain,” sebut Pdt Almer Purba.

Pdt Almer Purba berpesan, jika RE Nainggolan kelak terpilih jadi pemimpin Sumut, harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan berani mengakui kesalahan dan memperbaikinnya ke depan.

Turut hadir dalam kegiatan itu, antara lain Ketua Sahabat R E Nainggolan Sumut Nelson Parapat SH, Sekretaris Ronald Naibaho, Eron Lumbangaol, Jadi Pane, Tambunan, Ketua Sahabat RE Nainggolan Tebingtinggi Agusman Purba , Sekretaris BAKG Tebingtinggi Pdt Firdaus Purba , Ketua GAMKI Tebingtinggi Ogamota Hulu , Ketua PWKI Mersi Sibarani SPd dan juga tokoh masyarakat Kota Tebingtinggi, Drs Eliyas Tarigan, Letkol Pur B Panjaitan serta ratusan warga Kota Tebingtinggi.

Melihat antusias masyarakat Tebingtinggi menggelar kegiatan tersebut, RE Nainggolan mengucapkan apresiasi terhadap seluruh Sahabat RE Nainggolan Tebingtinggim dan tokoh-tokoh masyarakat Kristiani. Dalam kesempatan itu, RE Nainggolan didampingi ibu Linda Mariyani Sihombing memaparkan berbagai program pembangunan Sumut yang dimulai dari desa jika terpilih menjadi Gubsu, program pendidikan hingga mewujudkan pembangunan jalan tol Medan-Tebingtinggi-Pematang Siantar. (mag-3)

Sekretaris FKUB: Hindari SARA, Tetap Kondusif

Menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) bakal calon Gubsu bermunculan menarik perhatian masyarakat. Isu Suku Antar Ras dan Agama (SARA) kabarnya ikut mewarnai kehadiran bakal calon Gubernur Sumut ini.

Menanggapi fenomena tersebut Sekretaris Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sumut, JA Ferdinandus mengimbau semua pihak tidak mengarahkan pencarian dan kemunculan para calon pada isu SARA karena bisa menimbulkan perpecahan dan melahirkan ketidaknyamanan dan ketidakkondusifan Sumut. “Kita semua bersaudara meski berbeda agama dan etnis di Sumut. Masyarakat Sumut hendaknya sadari bahwa yang dipilih bukan pemimpin agama tapi yang memimpin Sumut ke depan. Selain memiliki moralitas yang tinggi, calon pemimpin Sumut hendaknya punya elektabilitas, propesionalisme, biodata karier yang jelas, dikenal di Sumut dan pernah berbuat dengan ikut terlibat dalam pembangunan di Sumut.

Pemimpin tersebut juga hendaknya bebas dari KKN dan berusaha menjauhkan diri dari money politic. “Meski kita sadari bahwa cost politik mahal,” tegasnya.

Terakhir Ketua Sumatera Berdoa ini mengajak masyarakat untuk mengenal calon yang memiliki kriteria seperti yang diatas dan mengharapkan calon yang terpilih nantinya juga mengenal keberagaman di Sumut. (rs/tms)

Menunggu Ibu Pulang

Cerpen  T Agus Khaidir

SEPI sekali. Rumah kosong. Ibunya belum pulang juga. Padahal tadi, usai menjemputnya dari sekolah, ibu bilang hanya akan pergi sebentar. Ah, Mira, gadis cilik 11 tahun itu menghentakkan kakinya dengan kesal. Kenapa tadi tak bertanya ibunya kemana, tujuannya apa, perginya sama siapa. Ia benar-benar lupa karena terlanjur senang mendengar ibunya berjanji membawakan Kurma Ajwa untuk buka puasa.

Kurma Ajwa, iya, bagaimana Mira bisa lupa. Setahun lalu di acara berbuka puasa bersama di sekolahnya, Mira untuk kali pertama mencicipi kurma itu. Memang lezat tiada berperi. Dagingnya tebal, lemak, tapi tidak enek lantaran sedikit berair. Dua butir cukuplah untuk menawarkan lapar yang tadinya begitu merongrong. Konon, pohon-pohon Kurma Ajwa yang ada sekarang merupakan turunan pohon kurma yang ditanam sendiri oleh Rasulullah.
Mira melirik jam di dinding ruang keluarga. Pukul lima empat puluh menit. Cahaya meredup, berubah dingin seiring gerimis yang mendadak turun tanpa didahului gertak. Ibunya belum juga pulang. Kemana, sih? Sambil tersungut-sungut Mira menghempaskan diri ke sofa, lalu menyetel televisi.

Serangkaian acara komedi dan sinetron religi. Mira mengenal pemeran-pemerannya, bintang-bintang tamunya. Yang biasa-biasa juga. Hanya saja kali ini mereka tak berpenampilan seperti biasa. Mereka kali ini berkerudung berbaju kurung, serta berbicara dan bertingkah laku agak lebih sopan. Memuakkan!

Di saluran lain berita korupsi, isu SARA Pilkada, gosip artis, musik-musik jiplakan dari Korea, debat-debat kusir yang entah kapan berkesudahan, ceramah agama dari ustaz-ustaz yang ganteng maupun yang suka melucu. Kenapa tak ada kartun? Huh! Benar-benar memuakkan. Mira mematikan lagi televisi itu. Kemana, sih, ibu? Ia menghela nafas. Diliriknya jam dinding. Lima menit menuju pukul enam. Mira melangkah ke halaman, membuka pagar, melongok ke ujung jalan. Ah, sebenarnya bukan jalan. Barangkali lebih cocok disebut gang. Lebarnya tak sampai dua meter, hanya cukup dilalui satu mobil kecil atau dua sepeda motor berpapasan. Tak ada lapisan aspal. Hanya conblock motif segi enam yang dipasang tak terlalu rapi.

Di ujung jalan yang lebih menyerupai gang inilah angkot yang ditumpangi ibunya biasa berhenti. Mira sudah hafal benar bagaimana adegan selanjutnya berlangsung. Ibunya turun dari angkot itu dengan gerakan setengah melompat, lantas tergesa merogoh kantung roknya atau celana panjangnya atau blousenya, mengambil uang, kemudian menyodorkannya pada supir lewat jendela sebelah penumpang. Ibunya selalu memenyediakan uang pas untuk membayar ongkos angkot sejak tasnya disambar pejambret persis di tempat yang sama. Waktu itu, mereka baru satu minggu pindah ke kompleks ini, kompleks perumahan murah yang dalam beberapa tahun belakangan muncul sebagai trend bisnis properti. Selain jalannya yang sempit, rumah-rumah di kompleks ini diberdirikan hanya atas dua tipe, 36 dan 45. Tanpa dapur, tanpa halaman, dan sudah tentu tanpa pagar. Jika menginginkan, pemilik harus membangunnya sendiri. Begitupun, Mira kerap diajak ibunya bersyukur. Bukan cuma karena letaknya yang masih berada di kawasan inti kota, sehingga cukup dekat kemana-mana, tapi lebih pada kenyataaan betapa di luar sana banyak orang bahkan tak punya rumah sama sekali.
Dua tahun lalu, rumah ini dibeli ibunya dengan cara mencicil. Bagiannya dari pembagian harta gono-gini setelah bercerai dengan ayahnya, dijadikan ibunya sebagai uang muka.

Hari-hari dalam dua tahun berlalu cepat bagi Mira. Ia pindah sekolah, mendapat teman-teman baru yang tak kalah menyenangkan. Tapi semua keceriaannya sirna kala Ramadan tiba,  dan itu membuatnya makin benci pada ayahnya. Benci, kesal, tapi sekaligus rindu. Betapa berat menjalani puasa tanpa ayahnya. Sekarang tak ada lagi yang membangunkannya saat sahur. Tak ada lagi yang menggendongnya dari tempat tidur ke meja makan, menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya, membimbingnya melafazkan niat puasa. Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala. Sebenarnya lafaz ini sudah lama ia hafal luar kepala. Tapi entah kenapa, Mira suka membayangkan ayahnya menyangka ia tak bisa.

“Kenapa kau di luar, Mira? Masuklah, sebentar lagi berbuka. Apa bukaan apa kalian hari ini?” seorang perempuan tua melintas bernaung payung. Di tangannya bungkusan plastik, barangkali panganan berbuka. Mira kenal betul padanya. Tetangga berselang dua rumah. Dia baik dan ramah, dan punya dua cucu yang umurnya sebaya Mira, teman sepermainannya yang paling akrab di kompleks ini.
“Belum tahu, Nek.”

Perempuan itu menghentikan langkah. “Tak masak rupanya ibumu?”
“Ibu belum pulang.”

“Kemana ibumu? Tantemu di rumah, kan?”
“Tidak tahu, Nek. Tadi katanya pergi sebentar. Tante juga belum pulang.”
“Mau ke tempat nenek saja. Bukaan sama-sama Amel dan Lia. Iya?”
Mira menggeleng. “Tak usahlah, Nek. Mungkin sebentar lagi ibu pulang.”
Iya, mungkin sebentar lagi. Perempuan itu berlalu sembari berpesan, pintu rumahnya tidak dikunci jika Mira berubah pikiran. Langsung masuk saja, katanya. Mira mengangguk, tersenyum. Setelah perempuan itu menghilang di balik pagar, ia melongok lagi ke ujung jalan.

Tetap tak ada angkot berhenti. Rumah-rumah tetangga di kiri kanan tutup. Serentak Mira merasakan dirinya sangat sendiri. Tante Mia, adik bungsu ibunya yang sejak tiga bulan lalu tinggal bersama mereka, tadi pagi-pagi sudah bilang ada acara buka puasa dengan kawan-kawan sekampusnya. Sepi sekali. Nun dari masjid kompleks terdengar lantunan ayat-ayat suci. Syahdu. Dan Mira, makin merasakan rindu itu. Mengapa ibunya begitu keras hati? Padahal ayahnya sudah setengah mati minta maaf, bahkan sampai minta ampun segala, sampai mencium kaki ibunya sembari berjanji meninggalkan perempuan sialan itu. Mengapa ibunya membatu, lalu lancang pula menjatuhkan keputusan sendiri tanpa bertanya apapun pada dirinya? Apakah karena ia dianggap masih terlalu kecil untuk mengerti soal perceraian? Padahal Mira sangat mengerti. Ia tidak ingin mereka bercerai. Ia ingin tetap punya ayah dan ibu yang tinggal serumah seperti teman-temannya. Ia tak ingin seperti Awang.

Tapi Mira tak protes. Ia menurut saja saat dibawa ibunya pergi. Dari rumah besar berpagar gedong, ada kolam ikan cantik di sudut halaman yang dinaungi pohon mangga Arum Manis, ia pindah ke rumah sempit ini. Mira diam-diam sering merindukan rumahnya yang lama, merindukan ikan-ikan dan mangga Arum Manis itu. Tapi ia memang lebih rindu pada ayahnya. Sudah dua Ramadan tidak ada lagi acara jalan-jalan sore mencari panganan berbuka. Sudah dua Ramadan ia merindukan saat-saat mereka makan Sate Padang sepulang Tarawih. Tak peduli di restoran atau emperan kaki lima, mereka selalu makan bertiga. Sungguh mesra. Mira benar-benar tak habis mengerti, kemesraan seperti ini masih juga bisa membuat ayahnya membagi rasa cinta pada perempuan lain. Terlalu! Apa, sih, yang kurang dari ibunya? Dia cuma sedikit cerewet, sedikit suka merajuk, tapi dia baik. Cantik pula tentunya. Senyumnya manis sekali, dan dia pintar memasak, pandai menjahit, juga pandai menyanyi.

Tante Mia, adik bungsu ibunya, kira-kira seminggu lalu membawa kabar mengejutkan. Sekarang dia kembali ke pacar lamanya. Kakak tahu pacarnya? Lelaki tua yang wajahnya jauh lebih buruk dari Bang Zainuddin. Tapi walau buruk, lelaki yang disebut Tante Mia sebagai pacar perempuan itu lebih kaya dari ayahnya. Selama ini rupanya dia salah sangka, Kak. Rasain!
Mira tak terlalu paham kalimat Tante Mia. Namun ia kira kesimpulannya tak meleset jauh. Sekarang ayahnya dan perempuan sialan itu tak lagi bersama. Harusnya ini jadi kabar baik. Nyatanya tidak. Mira tahu ayahnya pernah beberapa kali menelepon dan ibunya menerima dengan sikap sangat ketus. Kenapa bara dendam harus dipelihara? Tapi Mira tak yakin juga ibunya membenci ayahnya sedalam itu. Ia pernah memergoki, usai bercakap dengan ayahnya, ibunya menangis sesengukan. Lalu kenapa tidak menerima saja ayahnya kembali?

Tante Mia bilang, persoalannya tak sederhana. Rumit, Mira. Serumit apa? Ini soal prinsip. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti.
Inilah! Orang-orang dewasa selalu menganggap anak-anak kecil tak tahu apa-apa perihal persoalan mereka. Terlalu menganggap remeh. Prinsip? Huh! Semenjak Awang membikin heboh satu sekolah lantaran dikabarkan menggetok kepala seorang lelaki dengan martil, ia telah berkenalan dengan kata itu.

Awang teman Mira di sekolahnya yang lama. Ia masuk di awal tahun ajaran kelas III. Meski duduk di bangku yang letaknya bersisian, mereka jarang bicara. Mira suka mengobrol (bahkan di dalam kelas hingga sering ditegur guru), tapi Awang, bocah berambut keriting kriwil panjang sebahu yang saban hari diantar pakai Alphard ke sekolah, itu pendiam sekali. Pada jam istirahat ia lebih sering di  kelas. Menggambar atau membaca komik yang dibawanya dari rumah. Sesekali keluar kelas, Awang tetap memilih menyendiri. Ia selalu duduk di sudut lapangan bola, di atas gundukan tanah yang oleh Mira dan kawan-kawannya selalu diandaikan sebagai gunung. Dari sana ia menonton anak-anak lain main bola sambil menikmati bekalnya.

Mengapa Awang bisa berbuat senekat itu? Mira mendapat jawabannya seminggu kemudian, setelah –lagi-lagi– Awang membikin heboh. Ia hilang. Lebih tepatnya, menghilang. Berjam-jam dicari tak kunjung ketemu. Wali kelas, guru-guru, kepala sekolah, bahkan pemilik sekolah, ikut  repot menelepon ke sana kemari. Seluruh orang tua siswa kelas III ditanyai apakah Awang ada di rumah mereka. Hasilnya nihil. Ibu Awang menangis. Lelaki yang datang bersamanya menyarankan untuk melapor polisi. Siapa tahu diculik orang. Lelaki itu perlente sekali. Kemejanya lincin, berdasi, tapi ada perban di kepalanya.

Setelah ibunya dan lelaki perlente itu pergi ke kantor polisi, Awang tiba-tiba muncul. Rupanya ia bersembunyi di antara rerimbunan batang tebu yang tumbuh liar di balik gundukan tanah dekat lapangan bola itu. Mira yang belum dijemput, duduk menemani Awang yang menangis di dalam kelas. Aku tak mau satu mobil dengan laki-laki itu. Kalimat inu berkali-kali ia teriakkan dengan nada makin histeris, hingga kepala sekolah menyerah dan memerintahkan wali kelas mengantar Awang pulang. Mira bertanya kenapa Awang begitu keras kepala. Awang, untuk pertama kalinya, tersenyum pada Mira. Ini soal prinsip, Mira. Kau tak akan mengerti. Kau punya ibu dan ayah. Aku tidak lagi. Karena laki-laki itu ayahku pergi. Mungkin lain kali aku harus buat perhitungan yang lebih serius dari sekadar menggetok kepalanya.

Dering telepon memutus lamunan Mira. Ia berlari ke ruang tengah. Siapa tahu ibunya.
“Halo!”

Ternyata Tante Mia. Mengabarkan ia bakal pulang lebih lama dari rencana semula. “Tante ke mal sebentar, ada kawan minta ditemenin beli baju buat lebaran. Bilang sama ibumu, ya, Mir. Dah…”
Bahkan Tante Mia tak menanyakan ibunya sudah pulang atau belum. Tapi, eh, Mira baru sadar, Tante Mia memang tak tahu ibunya pergi. Ini seperti rencana mendadak. Ia sendiri baru tahu tadi siang.
Gontai Mira melangkah ke dapur. Membuat teh manis. Dibukanya kulkas, ada pudding coklat sisa semalam. Jadilah, daripada tidak ada yang dikunyah. Azan Magrib terdengar saat Mira meletakkan pudding di meja makan. Bertepatan itu, dari depan terdengar suara derap kaki. Disusul suara yang ia rindukan sejak tadi.

“Mira, maaf ibu telat, nak. Tadi jalanan macet. Ini ibu bawakan Pizza.”
Lho, kok, Pizza? Bukan Kurma Ajwa?

Mira menghambur ke depan, siap mencecar rajuk. Tapi langkahnya mendadak terhenti. Ibunya tak datang sendiri. Seorang lelaki berdiri di sisi pintu. Lelaki itu tersenyum padanya.
“Oh, iya, ini Oom Sam. Kalian belum saling kenal, kan? Suruh masuk, dong. Magrib begini nggak baik berdiri di depan pintu. Nanti bisa kesambet setan, lho. Nanti…”
Ibunya terus mengoceh. Mira tak mendengarkannya lagi. Lelaki yang disebut ibunya Oom Sam memamerkan senyum makin lebar. Tapi Mira justru membayangkan wajah Awang.  Wajah yang juga bersenyum dan tangannya erat menggenggam martil.

Medan, 5 Agustus 2012

Umat Kristen Dukung dan Bantu Muslim Rohingya

Sebagai bentuk solidaritas terhadap apa yang terjadi dengan etnis Rohingya, Myanmar, Jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia dan GKI Taman Yasmin mengadakan ibadah bersama di depan Istana Merdeka, Jakarta (5/8).

Tema yang diambil adalah Simpati atas tragedi kemanusiaan di Myanmar. Pdt. Palti H Panjaitan dari HKBP Filadelfia didaulat menjadi pemimpin ibadah yang direncanakan setiap dwi mingguan tersebut.

Dalam ibadah keprihatinan, para peserta ibadah juga membuat Pernyataan Sikap yang intinya menyatakan simpati dan dukungan kepada Muslim Rohingya dan penegakan kebebasan beragama.Selain HKBP Filadelfia dan GKI Taman Yasmin, acara kerohanian bagi umat Kristiani ini juga diikuti oleh Forum Bhinneka Tunggal Ika.

sedangkan Christian Solidarity Worldwide (CSW) menjawab seruan Aung San Suu Kyi untuk meningkatkan bantuan bagi para pengungsi Myanmar di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar. Suu Kyi menyampaikan permintaan itu saat berbicara di Nobel Peace Prize di Oslo, dimana ia menceritakan kunjungan terakhirnya ke kamp pengungsi La Mae. Suu Kyi menyampaikan keprihatinannya mengenai “minimnya donor” dari para pekerja di kamp, yang mana ia tambahkan dapat diterjemahkan sebagai “minimnya belas kasihan”.

“Minimnya donor mengekspresikan dirinya secara tepat dalam pengurangan dana,” ungkapnya. Minimnya belas kasihan terlihat jelas dari kurangnya perhatian. Keduanya menjadi penyebab satu sama lain.

“Saya mengimbau kepada para pendonor di seluruh dunia agar dapat memenuhi kebutuhan para pengungsi ini yang sedang berada dalam pencarian, seringkali dalam situasi pencarian yang sia-sia untuk berlindung.”

CSW mengatakan bahwa pemotongan dana dari masyarakat internasional, termasuk Uni Eropa, telah mengakibatkan pengurangan jatah makanan hingga 25 persen. Keterbatasan pakaian, selimut, kelambu dan tempat tinggal juga sangatlah minim.

Hak asasi manusia dan agama mengatakan pemotongan anggaran ini berdampak serius terhadap kesehatan lebih dari 140.000 orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsi sepanjang perbatasan Thailan-Myanmar sebagai akibat dari konflik antar etnis.

CSW telah beberapa kali mengunjungi Myanmar, dan mendokumentasikan perampokan dan perusakan gereja yang terjadi di negara ini. Laporan ini menunjukkan bagaimana orang Kristen diperhadapkan pada pilihan apakah akan menjadi tenaga kerja paksa atau tinggal di kamp-kamp pengungsi.

Suu Kyi rencananya akan mengunjungi Inggris dalam empat hari ke depan, dimana dia akan menjadi orang pertama yang bukan kepala negara yang akan memasuki kedua Gedung Parlemen di Westminster, pada hari Kamis (21/6). Suu Kyi juga akan bertemu dengan David Cameron dan anggota komunitas Myanmar di pegasingan mereka di Inggris.(jc/tms)

Tuhan Pasti Bukakan Jalan

PA Terima Kasih Abadi Medan, Rumah untuk Anak-anak Terlantar

Anak-anak terlantar di Sumut berkumpul dalam rumah Panti Asuhan Terima Kasih Abadi Medan. Hunian anak yang berada di Jalan Pengayoman No 1 Medan terus melanjutkan pembangunan untuk melengkapi sarana kebutuhan anak-anak.
Saat bertemu Pimpinan Panti Asuhan Terima Kasih Abadi Pdt Drs F Zendrato, STh di kantornya di Jalan Pengayoman No 1 Medan, pendeta GTDI ini menceritakan bantuan untuk biaya sekolah anak-anak minim dan dukungan dana sangat terbatas dari pihak donatur maupun pemerintah, sementara motivasi untuk mengentaskan kemiskinan dan belajar untuk menjadi orang berguna bagi nusa dan bangsa sangat besar dari anak-anak, jelas putra dari pasangan Hamba Tuhan Alm Snk L Zendrato dan S Harefa ini.

Jadi solusinya selain terus mendukung semangat tersebut, kita tetap berdoa agar sekitar 105 anak-anak yang mengikuti pendidikan tidak putus sekolah. Puji Tuhan, sekitar 10 anak mendapat beasiswa dari Universitas Setiabudi Mandiri Medan untuk tahun ini. Ini semua kemurahan Tuhan, Dia telah menolong melalui beasiswa tersebut.
Selain biaya pendidikan anak, anak-anak juga masih membutuhkan biaya untuk kebutuhan makanan sehari-hari. Harapannya Tuhan akan membuka jalan untuk menolong, harap suami tercinta Tiur Elisabeth boru Pardede dan ayah dari 3 putri dan 1 putra ini.

Dilanjutkannya, sejak tahun 1981 kami telah menampung sekitar 10-15 anak di Jalan Danau Semayang, Sei Agul, Medan—lokasi tersebut merupakan hunian anak-anak sebelum dipindah kemari. Panggilan pelayanan bagi anak-anak terlantar tersebut telah menghantar anak-anak tersebut meraih kesuksesan. Ada anak-anak yang telah menjadi Gembala pendeta GTDI di Riau dan Jakarta. Selebihnya mejadi Tentara dan Wiraswasta yang berhasil. Untuk itu kita tetap doakan agar anak-anak tersebut menjadi berkat bagi masyarakat dan juga gereja, pinta Pdt Drs F Zendrato, STh.

Untuk itu bagi pihak-pihak yang memiliki kepedulian pada anak-anak tersebut dapat memberikan saran dan informasi untuk mendukung pelayanan Panti Asuhan Terima Kasih Abadi dapat menghubungi Pdt Drs F Zendrato, STh di No HP : 081375371709. (rs/tms)