Home Blog Page 13121

Bagian Ariel Ditulis di Penjara

Cerita Lima Personel Noah

Seaneh apa pun kehidupan saya, saya tetap menyukurinya karena kehidupan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah keajaiban. Bareskrim, Kebon Waru adalah tempat mempersiapkan diri. Kami akan meneruskan perjalanan. -Ariel     

Pernyataan Ariel tersebut tertulis di bagian sampul belakang buku yang berjudul Kisah Lainnya: Catatan 2010–2012 yang ditulis lima personel band Noah, Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Buku setebal 228 halaman itu sudah dilempar di pasaran pada 7 Agustus lalu. Namun, buku tersebut baru diluncurkan secara resmi di The Only One Club, FX Lifestyle X’nter, Jakarta, Rabu (8/8) malam lalu.

Buku yang bersampul merah itu berisi apa saja yang selama ini tidak terucap, tentang Ariel dan tentang personel eks Peterpan lainnya selama dua tahun terakhir. Pada bab pertama pembaca disuguhi tulisan Ariel ketika kali pertama mengetahui bahwa file video pribadinya tersebar di internet.

Berdasar tulisan di buku itu, Ariel mengetahui kasus video porno tersebut dari asisten pribadinya, Kindi. Saat itu, dia meeting dengan Musica Studio. Dia menganggap, informasi tersebut hoax. Dia mendadak limbung ketika Kindi menyodorkan ponselnya. “Saya merasakan napas saya tertahan. Lalu, saya merasakan kepala saya seperti hendak meledak,” tulis pria yang bernama asli Nazriel Irham tersebut.

Setelah itu, praktis hidupnya berubah. Hari-harinya tidak lagi tenang. Selanjutnya, dia menuliskan segala yang selama ini tidak diceritakan media. Dia menggambarkan ketakutannya saat menghadapi masalah tersebut, bersembunyi, sampai akhirnya memutuskan untuk menghadapinya. Selain kasus yang dihadapi Ariel, buku itu menceritakan perjalanan Peterpan.

Ketika menulis buku tersebut, apakah Ariel tidak takut jika bagian gelap hidupnya saat menghadapi kasus hukum itu terkuak lagi? Bukankah itu berarti bahwa lukanya akan kembali diungkit? “Saya tidak takut. Alhamdulilah, sejauh ini, saya bisa mengatasinya,” ujarnya.

Tujuan buku itu ditulis, kata Ariel, adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak terjawab. Buku tersebut dibuat supaya orang bisa mengenal lima penulisnya secara lebih dekat di luar konteks band. “Buat fans terutama. Dengan demikian, mereka lebih tahu siapa kami,” terangnya.

Di buku ini, porsi tulisan Ariel memang paling banyak. Hampir semua ditulis untuk membunuh waktu di balik jeruji. Lucunya, tulisan yang dibuat di penjara tidak berupa naskah jadi. Selama jadi tahanan Bareskrim dan Rutan Kebon Waru Bandung, mantan pacar Luna Maya itu lebih banyak menulis puisi. Dari puisi-puisi itulah kemudian tulisannya bisa dibuat. “Saya lebih gampang menulis puisi dan menggambar sketsa,” ungkapnya.
Setelah dibaca banyak orang, lima personel Noah berharap, buku mereka bisa diterima meski tidak semua kisah ditulis. “Kami pilah-pilah. Yang tidak bermanfaat tidak kami masukkan di buku tersebut,” ungkap Lukman.
Apa pun itu, mereka ingin tetap didukung dalam berkarya, seperti keluarga yang senantiasa mendukung apa pun yang terjadi di band mereka. (jan/na/jpnn)

Dokter PTT Culik Bidan

Polres Karo dan Simalungun Pontang-panting Mengejar

MEDAN-Seorang dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) nekat menculik seorang bidan yang merupakan mantan kekasihnya. Penculikan dengan kekerasan yang merepotkan Polres Karo dan Simalungun itu dilakukan dr Manjus Damanik (29) yang bertugas di Sindar Raya Simalungun.

Penculikan bidan
Penculikan bidan

Dia menculik Lusika br Saragih (24) , bidan di RSUD Sultan Sulaiman Sergai. Pengungkapan kasus penculikan ini bak film aksi. Dari pengakuan Lusika, di Mapolres Karo pada Jumat (10/8) sekitar Pukul 10 :00 WIB, penculikan bermula ketika dia pulang kerja pada Kamis (9/8) sekira pukul 14.00 WIB.
Selain merepotkan Polres Karo, penculikan ini juga melibatkan Polres Simalungun. Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP M Adenan, Manjus memakai jasa dua orang berinisial DN dan GJ dalam melakukan aksi penculikan itu. Suruhan Manjus langsung menghadang menggunakan mobil angkot yang sengaja disewa. Tanpa tanya, kedua pria yang masih dalam pengejaran petugas ini menarik paksa Lusika ke dalam angkot.

Guna menjaga teriakan, korban sengaja dibius menggunakan cairan yang dituangkan dalam sapu tangan. Selanjutnya membawa korban yang masih menggunakan pakaian dinas medis ini ke Simpang Dolok Masihol, Serdang Bedagai. Di sini, Manjus ternyata sudah menunggu dengan Honda City BK 1139 HP-nya. Bahkan seperti memindahkan mayat, tubuh korban pun diboyong ke mobil Manjus hingga kedua pria itu menerima upah masing-masing sejuta rupiah.

Masih keterangan Adenan didampingi Manjus yang duduk di lantai dengan wajah babak belur, saat itu Lusika dibawa menuju Kabanjahe masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Di tengah perjalanan persisnya di persimpangan Jalan Kapten Pala Bangun Kabanjahe, korban tersadar dan dengan kondisi lemah memohon kepada pelaku untuk diberi air mineral. Permintaan itu bahkan berkali-kali diajukan korban, namun Manjus tidak mengindahkan. Namun entah kenapa, tak jauh dari Polres Karo, Manjus memberhentikan laju mobilnya persis di depan warung dan beranjak turun untuk membeli sesuatu. Kesempatan itupun dimanfaatkan Lusika dengan turun dari mobil setelah berhasil melepaskan ikatan di tangannya.

Akhirnya korban berhasil menghilang di tengah kegelapan. Saat itu, Manjus mengaku kalut dan memutuskan untuk tetap menunggu mantan kekasihnya itu yang sudah tiga bulan lalu putus. Tidak sampai sejam, ternyata Lusika kembali. Namun ia tidak sendiri, melainkan didampingi tiga pria bersenjata alias personel Jatanras Polres Karo. Ternyata, Lusika kabur dari mobil langsung mendatangi Polres Karo hingga melaporkan peristiwa yang menimpanya itu.
Kedatangan petugas itu, membuat Manjus terkejut bukan kepalang dan memilih tancap gas menggunakan sedan hitamnya. Petugas yang sigap turut mengejar pelaku. Tapi sayang, kendaraan yang digunakan petugas tidak sebanding dengan mobil yang dikendarai Manjus. Karenanya, berkordinasi pada Polsek di Karo untuk menghadang pelaku. Namun tetap saja lolos meski pengejaran sudah melewati 20 Km dari lokasi.

Bahkan sangkin kencangnya, di daerah Tiga Panah, Karo pelaku justru menyenggol pengendara sepeda motor hingga terhempas melewati marka jalan. Begitupun tetap tak membuatnya menyerah di tangan petugas. Pengejaran masih berlanjut sampai perbatasan Karo dan Simalungun, kali ini walau sudah dihadang dengan dua mobil, Manjus tak peduli hingga berhasil lolos ke wilayah hukum Polres Simalungun.

Petugas tak mau menyerah dan tetap mengejar Manjus yang sudah sendiri di dalam mobil. Bersamaan itu pula, kembali berkordinasi dengan Polres Simalungun untuk menghadang pelaku. Persisnya di persimpangan Haranggaol, Simalungun Manjus kembali menabrak seorang warga pejalan kaki. Meski tak meregang nyawa, korban tabrak lari itu harus mendapat perawatan intensif di salah satu rumah sakit Seribu Dolok, Simalungun.

Sempat Ditembak Polisi

Kembali Manjus tak mau menyerah dan terus tancap gas meski sudah tiga mobil mengejar dari arah belakangnya. Begitupun saat melewati Polres Simalungun di Raya, penghadangan tetap dilakukan, tapi tetap saja Manjus berhasil lolos hingga menuju daerah Pematangsiantar. Saat penghadangan itulah, petugas melepaskan satu kali tembakan ke arah mobil Manjus hingga mengenai cup depan tepatnya menembus radiator mobil. Tapi tidak melumpuhkan mobil dan kembali melaju kencang.

Petugas tak mau kalah, akhirnya memalang jalan di daerah Kecamatan Panei, Simalungun menggunakan mobil yang jumlahnya kurang lebih 20 unit. Benar saja, Manjus yang dari kejauhan masih tetap tancap gas dan berusaha mencari ruang untuk lolos. Tapi kali ini benar-benar terpojok. Karena untuk balik arah, Manjus sudah di buntuti lima unit mobil. Bahkan untuk mencari arah ke kiri dan kekanan, justru terbentang sawah. Kondisi itupun membuat Manjus menyerah dan menghentikan laju mobilnya. “Kami akui, si Manjus ini pintar mengendarai mobil,” cetus Adenan.

Ketika ditanya, Manjus mengaku saat itu hendak menuju Sidikalang, Dairi untuk menemui seorang pendeta yang bersedia memberkati pernikahan mereka meski tanpa perwakilan orangtua kedua pengantin. Terpaksa dilakukan karena, Lusika menurut kabar yang diterima Manjus, justru akan menikah akhir tahun 2012 dengan seorang pria bermarga Purba.

Mengaku terlalu sayang dengan Lusika apalagi mengenang tiga tahun masa pacaran, Manjus tidak terima hingga perasaan itu diutarakan pada korban. Namun sial, wanita berkulit putih rambut sebahu itu malah tidak memberi respon apa-apa pada Manjus. Hal itu membuatnya berang hingga nekat merencanakan penculikan itu. Dibantu dua orang pria, DN dan GJ yang dikenalnya di daerah Simalungun dengan upah sejuta rupiah untuk masing-masing, penculikan pun dilakukan tatkala korban turun dari angkot hendak pulang ke kos-kosannya di daerah Tebing Tinggi. (wan/mag-3/ndo/lik/smg)

Tembak Saja Aku, Pak ….

Manjus Damanik//fandho/metro siantar/smg
Manjus Damanik//fandho/metro siantar/smg

Ada bercak cairan pada pakaian dinas Lusika Saragih yang disita petugas dari dalam mobil Manjus Damanik. Kaitannya itu, Manjus membantah melakukan pemerkosaan terhadap mantan pacarnya itu.

Hanya saja, karena pakaian dinas korban sangat kotor, dia sempat menggantikannya sendiri di dalam mobil saat korban belum sadarkan diri akibat obat bius tadi.

Bahkan, Manjus membatah telah menyetubuhi korban selama tiga tahun membina asmara lewat status berpacaran. Manjus yang kebanyakan bungkam ini bahkan sesekali mengerang kesakitan pada bagian perut dan meminta petugas untuk menembaknya. “Udah aku tak tahu lagi, sakit kali. Tembak aja aku pak,” cetus Manjus ketika diajak petugas bicara.

Petugas pun menyita pakaian seragam putih korban yang tampak kotor akibat dipaksa masuk ke dalam angkot. Selain itu, petugas juga menemukan tali nilon berwana biru dan hijau di bangku belakang mobil. Tidak ketinggalan pula HP serta satu botol plastik kecil yang diyakini tempat cairan yang digunakan membius korban.

Karena penanganan sebelumnya oleh Polres Tanah Karo, Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP M Adenan didampingi penyidik Polres Simalungun, menyerahkan pelaku berikut barang bukti termasuk mobil. Penyerahan itu dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB di Polres Simalungun ke penyidik Polres Karo.

Sebelumnya, Lusika Saragih memang telah membuat laporan di Polres Karo. Pengaduan Lusika tercatat dengan LP No : 713/VIII/2012/SU/Res Tanah Karo tertanggal 9 Agustus 2012.

Lusika merupakan warga Jalan Abdul Rahim Lubis No 3  Kota Tebingtinggi. Dia merupakan bidan dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Plt RSUD Sultan Sulaiman dr Acmad Chaidir melalui Humas RSU M Isa Lubis SH saat dikonfirmasi membenarkan status lusika itu. “Ya, Bang, Lusika benar merupakan pegawai di RSUD Sultan Sulaiman, dia bertugas di ruang Melur bagian bidan anak,” terang Isa Lubis. (wan/mag-3/ndo/lik/smg)

6 Titik Longsor Ancam Arus Mudik

Medan-Sedikitnya ada 6 titik longsor yang harus diwaspadai pemudik. Hal ini berdasarkan hasil survey yang dilakukan tim gabungan Polri, Bina Marga, BBP JN I dan Jasa Raharja, Direktorat Lalulintas (Ditlantas) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) belum lama ini.

Di wilayah Polresta Medan rawan longsor terdapat di Jalan Jamin Ginting-Sembahe KM 34 s.d 38. Di wilayah Resor Karo terdapat di Jalan Medan-Kotacane KM 123-124, Desa Kuta Bangun, Kecamatan Tiga Binanga. Di Tapanuli Utara pemudik juga harus mewaspadai Jalan Tarutung-Sipirok KM 311-312 Desa Sitolu Ama Kecamatan Pahae Julu. “Kalau di kawasan Dairi waspadai rawan longsor di Jalan Sidikalang-Medan KM 11-12 Desa Sitinjo Kecamatan Sidikalang. Di Tobasa rawan longsor terdapat di Jalan Balige-Tarutung KM 248 Kecamatan Siborongborong. Dan, di Humbahas pemudik harus mewaspadai di kawasan Jalan Umum Doloksanggul-Pakkat KM 30-35 Dusun Batu Sendiri, Kecamatan Liang Toba,” beber  Kabag Bin Opsnal Poldasu, AKBP Achmad Nurdin, kemarin.

Selain daerah perbukitan, Nurdin mengatakan di 6 titik tersebut juga terdapat struktur tanah bebatuan dan kondisi tanah yang labil. “Banyak hutan gundul di kawasan tersebut. Maka waspadalah saat melintasi jalan tersebut,” ujarnya.

Untuk para pemudik, Nurdin menyampaikan ada sejumlah ruas jalan yang dapat dipakai sebagai jalur alternatif. Yakni, jalur Aceh Tenggara-Lawe Pakam-Kuta Buluh-Tiga Lingga-Sidikalang-Sumbul-Kabanjahe. “Jalur ini digunakan apabila terjadi longsor di Tiga Binanga, Kabupaten Karo KM 123-124,” sebutnya.

Dikatakannya, jika terjadi bencana tanah longsor di Dusun Buluh Didi, Dusun Tanjung Mulia, Pakpak Barat, pemudik bisa melalui jalur Aceh Singkil-Subulussalam-Manduamas-Barus-Pakkat-Dolok Sanggul- Sumbul-Kabanjahe. Jarak tempuh ini dikatakannya berjarak 197 Kilometer.
Lebih jauh dikatakannya, para pemudik juga dapat melalui jalur Siborongborong-Dolok Sanggul-Sumbul-Karo-Kabanjahe-Medan yang berjarak tempuh 211 kilometer atau menggunakan jalur Tebing Tinggi-Dolok Masihul-Lubukpakam dengan jarak 68 kilometer, jika terjadi longsor di Jalan Balige-Siborong-borong KM 248.

“Jika terjadi kemacetan di kawasan Serdang Bedagai (Sergei), pemudik bisa menggunakan jalur Tebing Tinggi-Bandar Kalifah-Tanjung Beringin-Sialang Buah-Pantai Cermin-Simpang Pantai Cermin, dengan jarak tempuh berkisar 20 kilometer,” jelasnya.
Sementara itu, kawasan perbatasan tampaknya menjadi perhatian khus pihak Poldasu. Hal ini terungkap saat gelar pasukan Operasi Ketupat Lebaran 1433 di Lapangan Merdeka Medan, Jumat (10/8) pagi.

“Semua pos, baik di perbatasan Sumut-Riau, dan perbatasan Sumut-Aceh akan diisi mulai besok (hari ini, Red). Saya akan lakukan peninjauan langsung ke perbatasan untuk memastikan pengetatan pengamanan,” ujar Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro.

Selain berpatroli, dikatakan Wisjnu petugas juga akan mengawasi dari pos-pos keamanan yang didirikan. “Kami juga akan mendukung kebijakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang merencanakan tidak akan  ada penumpang berdiri pada musim mudik ini. Jadi PT KAI tidak lagi menampung penumpang berdiri, semuanya duduk,” ujarnya.

Tanpa Perintah Tembak di Tempat

Dalam dukungannya itu, Wisjnu menyebutkan telah menempatkan personel Brimob untuk mengamankan gerbong-gerbong kereta api dan pengamanan di stasiun Kereta Api.

Namun, jenderal bintang dua itu menyatakan sejauh ini tidak ada perintah tembak di tempat terhadap pelaku kejahatan. Pasukan pengamanan diperintahkan untuk mendahulukan langkah prefentif untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat. “Tapi kita lihat. Kalau dia merampok, melawan dan membahayakan petugas ya kita lumpuhkan, tapi kalau bisa janganlah,” ucapnya.

Sementara itu, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Lodewijk F Paulus mengatakan akan mendukung kepolisian dalam pengamanan musim mudik tahun ini. Anggota akan membantu di titik-titik rawan kejahatan. “Kami melibatkan personel sebanyak 6 Satuan Setingkat Kompi (SSK). Satu SSK tergelar sekarang, sedangkan 5 SSK sudah stanby di markas masing-masing,” ujarnya.

Selain personel Polri, gelar pasukan Operasi Ketupat Lebaran di Lapangan Merdeka Medan juga dihadiri prajurit TNI, Dinas Perhubungan, Tim SAR, Dinas Kesehatan, pemadam kebakaran, Jasa Raharja, dan sejumlah Ormas lainnya. (mag-12)

Makan di Ruang Rapat, Banyak Tanya di Percetakan

Sahur Bersama Tokoh di Sumut, Gatot Pujo Nugroho (20)

Sahur Sumut Pos bersama tokoh kali ini berbeda dengan sahur-sahur lainnya. Jika sebelumnya tim Sumut Pos yang mendatangi rumah tokoh, kali ini malah tokoh yang mendatangi ‘rumah’ Sumut Pos. Tokoh yang memiliki inisiatif ini adalah Plt Gubsu, Gatot Pujo Nugroho.

Tim Sumut Pos, Medan

Sejatinya, beberapa waktu lalu, tepatnya di awal Ramadan, Tim Sumut Pos telah menggalang janji sahur bersama di rumah dinas Wakil Gubernur Sumut yang berada di Komplek Taman Setia Budi. Janji itu akhirnya tertunda karena Gatot mendadak sakit di bagian perutnya.

PERCETAKAN: Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho (tengah) saat berada  Percetakan Graindo usai sahur bersama Sumut Pos  Graha Pena Medan.//redyanto/SUMUT POS
PERCETAKAN: Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho (tengah) saat berada di Percetakan Graindo usai sahur bersama Sumut Pos di Graha Pena Medan.//redyanto/SUMUT POS

Rencana sahur bersama Gatot pun kembali diagendakan. Namun, beberapa hari lalu, mendadak Gatot muncul di ‘rumah’ Sumut Pos yang berada di Graha Pena di Jalan Sisingamangaraja Medan. Dia datang bersama rombongan sambil membawa nasi kotak Waroeng Nenek dan Mie Aceh, buah-buahan, dan minuman air mineral. Sahur bersama Gatot pun pindah lokasi; dari rumah dinas di Taman Setia Budi ke Graha Pena Medan.

Kehadiran mantan Ketua DPW PKS Sumut itu tak pakai pengawalan dan protokoler. Gatot hadir memakai sendal spon putih, jaket hitam, celana jeans biru serta baju koko warna merah marun. Saat itu, dia hadir menumpangi mobil Daihatsu Terios bersama Kabag Rumah Tangga, sedangkan Kabiro Keuangan dan Kadis Infokom mengendarai mobil sendiri.

Gatot tiba di Sumut Pos, ketika hari telah mencapai tengah malam. Dia langsung naik ke Lantai III gedung Graha Pena, ruang redaksi Sumut Pos. Setibanya di lantai itu, Gatot bersama rombongan langsung disambut awak redaksi.

“Maaf ya, yang tempo hari tiba-tiba saya sakit. Jadi kunjungan ini balasannya ya. Sekalian, saya juga ingin melihat kawan-kawan Sumut Pos yang sedang sibuk mengejar deadline,” kata Gatot yang disambut senyum oleh awak Sumut Pos.

Sesaat sebelum makan bersama, waktu dihabiskan dengan berdiskusi di ruang rapat redaksi membahas sejumlah persoalan di Sumut. Sembari diskusi belum menjurus ke arah serius, nasi kotak datang dan langsung disusun di depan masing-masing awak Redaksi Sumut Pos, Gatot, dan sejumlah rombongan.

Obrolan semakin akrab saat ditanyai menjelang Pilgubsu 2013. Hanya saja, Gatot yang menjalankan tugas orang nomor satu di Sumut itu belum mau terbuka tentang dicalonkannya dirinya menjadi Cagubsu dari PKS.

“Itukan masih 2013, jadi yang dekat sini dulu ya. Lebih baik Kualanamu dan Sei Mangkei saja ya,” ajaknya diskusi.

Sambil menyantap makanan nasi kotak yang berisi ayam penyet, sejumlah awak redaksi dan Gatot serta rombongan melahap makanan hingga habis. “Kalau di sini gak apa-apakan saya makan pete,” ucapnya sambil tertawa.
“Hajar saja mas,” celetuk awak redaksi.

Usai menyantap makanan, satu dua pertanyaan-pertanyaan mengalir. Gatot pun bercerita tentang kawasan industri Sei Mangkei. Bahwa apa yang terjadi, sebenarnya sekarang sedang dibahas di Pemerintah Pusat.

“Saya bersama Menteri Kehutanan, Bupati Simalungun, PTPN dan Meneg BUMN segera bertemu. Dalam kaitan ini, Meneg BUMN sudah memberikan sinyal mendukung pelaksanaan kawasan industri Sei Mangkei,” ujarnya.

Dia membeberkan, dalam pelaksanaan pembangunan kawasan industri Sei Mangkei sebagai program nasional peningkatan ekonomi koridor Sumatera, Menteri Kehutanan sebagai koordinatornya. Sehingga, pelaksanaan tetap dikoordinasikan dengan Menteri Kehutanan.

Sementara itu, dia juga menyebutkan tentang Bandar Udara di Kualanamu, pada Maret 2013 sudah bisa dioperasionalkan. Hanya saja, untuk jalur tolnya belum bisa dilakukan karena masih ada kendala pembebasan lahan dan pembangunan jalan. Tapi, jalan menuju ke Bandara Kualanamu tak ada masalah, termasuk dari jalur kereta api.

“Jadi jalur Medan-Kualanamu sudah tak ada masalah, akses jalannya sudah bisa dilalui, meskipun baru dua lajur dari rencana empat lajur,” ujarnya.
Menurut Gatot, pembangunan tol itu mirip pembangunan tol Semarang-Solo, pembebasan jalannya baru 20 persen, tender pembangunan sudah bisa dilaksanakan. Kualanamu-Tebingtinggi sudah 40 persen, harusnya bisa juga dilaksanakan tender.

“Kami memang sudah membuat MoU dengan PT Jasa Marga agar pelaksanaan pembangunan jalan tol bisa disegerakan, sembari tim pembebasan lahan terus berjalan,” paparnya.

Usai makan dan berdiskusi, awak redaksi bersama rombongan Gatot turun ke percetakan melihat proses cetak. Di tempat ini, perbincangan terus mengalir; lebih mengarah soal proses cetak koran. Gatot tampak tertarik. Ini dilihat dari beberapa pertanyaan yang dilontarkannya. Sebelumnya, rombongan Gatot juga menyaksikan proses pracetak yakni proses tata letak.

“Saya datang ke Sumut Pos ini ingin menyaksikan jam-jam sibuk produksi cetak koran, katanya jam 00.00 itu waktu sibuk. Makanya saya ingin menyaksikannya, sekaligus silaturahim dan sahur bersama,” sebutnya.

Sekira pukul 2.00, Gatot akhirnya permisi. Dia pun meninggalkan Graha Pena Medan.(*)

Siantar TV Raih Dukungan dari KPID Untuk Segera Beroperasi

MEDAN- Siantar TV, grup Jawa Pos Multimedia Corporation (JPMC), meraih dukungan dari Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPID) Sumut, untuk segera beroperasi melayani publik Kota Siantar khususnya dan beberapa daerah lainnya, antara lain, Asahan, Simalungun, Tebing Tinggi dan sekitarnya.
Hal itu terungkap dari respon positif sejumlah pihak di Sumut saat digelarnya Evaluasi Dengar Pendapat (EDP) KPID Sumut dengan empat perusahaan media, antara lain PT Maxi Media Cakrawala Televisi (TV Cabel), PT Kiss FM, PT Suara Bahana Sari Alam, dan PT Siantar Media TV, di Gedung KPID Sumut, Jalan Adinegoro, No.7 Medan, Jumat (10/8).

“Kami sangat mendukung kehadiran 4 media dan berharap bisa lulus semua. Kita berharap prosesnya tidak terlalu lama. Namun kami mengimbau, sebelum ada izin stasiun radio (Isr), Siantar TV jangan dulu mengudara agar sukses mendapat izin sesuai aturan yang berlaku. Kita ketahui ada tujuh kanal di Siantar, dan dua sudah mengajukan,” ungkap Perwakilan Balai Monitor Kelas II Sumut, R Sihombing, ungkapnya.

Prof Syukur Cholil Dalimunthe, penguji dari perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, pada kesempatan itu lebih mengamati persoalan program acara. Menurutnya, space yang disediakan Siantar TV sebesar dua persen untuk program agama, sebaiknya ditambah. “TV yang menonjolkan informasi sangat menarik. Begitu halnya dengan Siantar TV ini. Dengan catatan, informasi yang harus up to date. Jadi tidak menonjolkan hiburan saja. Untuk program agama ini, kalau bisa tawar-menawar ditingkatkan 4 persen. Kemudian untuk pelayanan masyarakat juga jangan hanya satu persen, bisa dua atau tiga persen,” cetusnya.

Menjawab dua masukan tersebut, Indrawan, selaku Penanggungjawab (Penjab) Siantar TV menyatakan, masukan tersebut akan menjadi pertimbangan bagi pihaknya. “Kami sangat mematuhi. Artinya, kami ingin operasional yang aman, tanpa kendala dan semacamnya setelah nanti beroperasi. Dan kami akan mempertimbangkan untuk konten siaran,” jawabnya.

Indrawan menjelaskan, PT Siantar Media TV merupakan jaringan Jawa Pos Multimedia Corporation (JPMC). Dilatarbelakangi adanya asumsi atau penilaian jika Kota Siantar adalah daerah yang berkembang di Sumut.

Keberadaan media, terlebih tv local bisa menjadi sarana atau wadah untuk menjembatani keinginan masyarakat. Selain itu, Siantar TV juga menjadi alternative pilihan tontonan bagi masyarakat.

Dalam agenda perjalanannya, sambungnya, Siantar TV akan mengakomodir kebutuhan masyarakat, mengedepankan paket etnis yang heterogen. “Untuk dapat lebih luas dan dinamis. Sehingga dapat mengimbangi siaran dari luar, khususnya tv nasional,” tuturnya.
Untuk visi, menurutnya, Siantar TV menjadi pendukung pengembangan Kota Siantar dan daerah sekitarnya serta untuk memperkuat otonomi daerah. Siaran Siantar TV sebagai barometer siaran tercepat dan akurat yang berisi beragam konten, baik hiburan, pendidikan dan lainnya.
Secara prosedur hukum, Siantar TV sudah memiliki Akta No.9 tentang pendirian Perseroan Terbatas (PT). Kontennya, yakni 95 persen siaran local dan 5 persen asing yang akan disaring atau difilter pada bagian produksi. “Siaran asing tidak serta merta begitu saja, akan difilter pada proses produksi,” tukasnya.
Untuk konten berita berisi penerangan dan informasi sebesar 40 persen, hiburan dan musik 30 persen, iklan 10 persen, agama 2 persen, dan tidak terkecuali program UMKM, pariwisata dan lainnya juga memiliki porsinya masing-masing.
Sejumlah rujukan acara yang akan ditayangkan pada Siantar TV, yaitu Album Anak Siantar, penyejuk rohani, kartun anak atau hiburan, Kabar Siantar yang berisi berita-berita terhangat, Warung Kota yang berisi acara dialogis yang membahas berbagai aspek, program Sekitar Kita berisi tentang seluk beluk pelayanan publik, Toba Nauli bercerita tentang dunia pariwisata, Ekonomi Rakyat, Mayakabar berisi informasi daerah, Nani bercerita tentang kuliner, Siantarman yang merupakan program khusus cerita lawak atau komedi, Martandang berisi Features, dan Lintas Berita yang berisi resume berita-berita yang ada.
“Siantar TV akan berkantor di Jalan Sangnawaluh Blok A, No.4, Siantar. Kami sudah mengajukan permohonan izin ke KPID dan ke Menkominfo. Penunjang Siantar Media Televisi, sudah tersedia. Untuk Sumber Daya Manusia (SDM), perekrutan akan dilakukan secara terbuka dengan penilaian transparan, penempatan sesuai kebutuhan. Dan diprioritaskan adalah SDM local,” urainya.
Salah seorang Komisioner KPID Sumut, Isfan Dariyan Nasution pada kesempatan itu, juga mengingatkan agar Siantar TV bisa mempersiapkan perencanaan pengoperasian saluran tv tersebut lebih matang. Hal itu supaya izin yang nantinya akan diberikan bias dimaksimalkan dalam perjalanannya. (ari)
“Kami melihat dari daya saing, khusus iklan tv-tv lainnya juga kesulitan untuk menggaet iklan atau memberi bantuan dalam siaran. Kita tidak ingin memberi izin untuk yang pertama dan terakhir. Karena kita lihat juga, Riau TV juga sempat mengalami kesulitan,” cetusnya.
Terkait hal itu, Indrawan mengatakan untuk masalah iklan, Siantar TV karena tv berjaringan maka akan sangat mungkin tidak begitu mengalami masalah. “Kami berjaringan dan kami tidak saling membagi iklan. Namun berkoordinasi dengan JPMC pusat. Jadi JPMC yang membagi iklan. Iklan di daerah, sangat jarang iklan produk karena biasanya iklan produk itu di Jakarta. Kalau ada produk di daerah, itu pasti dilempar ke Jakarta dulu. Caranya, selain mendapat share dr JPMC. Lebih pada penggarapan konten,” tuturnya. (ari)

Izin Selesaikan Permasalahan dengan Klub

Pemain ISL Tinggalkan TC

JAKARTA- Kabar mengejutkan keluar dari pemusatan latihan (TC) timnas PSSI Djohar Arifin di Jakarta. Pemain-pemain Indonesia Super League (ISL) yang sebelumnya bergabung, ternyata telah meninggalkan lokasi TC.

Pemain ISL yang keluar dari TC itu antara lain Bambang Pamungkas (Persija Jakarta), Firman Utina, Ponaryo Astaman, M. Ridwan (Sriwijaya FC), dan Ahmad Bustomi (Mitra Kukar).

Kabar tersebut disampaikan oleh penanggung jawab timnas, Bernhard Limbong, kemarin (10/8). Dia menjelaskan bahwa pemain-pemain ISL telah meminta izin kepada dirinya untuk sementara kembali ke rumah masing-masing.

“Mereka bukan keluar atau mundur, tapi izin untuk bertemu keluarganya. Mereka akan memberi penjelasan mengenai berita yang ramai beredar sekarang, itu yang membuat keluarganya khawatir,” ujarnya saat dihubungi .

Kabar yang dimaksud adalah terkait keputusan klub masing-masing pemain yang akan memberikan sanksi dan tidak akan memkai pemain itu lagi di klub. Karena itu, Limbong mengizinkan karena tidak ingin terjadi salah pengertian antara pemain dan keluarganya.
Melihat waktu TC yang tinggal lima hari lagi, Limbong menyebut pemain baru akan kembali mengikuti TC pada tahap kedua usai libur lebaran, 25 Agustus mendatang. Dia optimistis pemain ISL akan kembali berlatih dibawah arahan Nilmaizar.

“Mereka bilang kepada saya akan kembali lagi. Jika tidak, TC tetap akan berjalan, bangsa ini punya banyak pemain berkualitas, bukan hanya mereka,” tegas Jenderal bintang satu tersebut.

Selain lima pemain tadi, dalam latihan timnas kemarin juga belum terlihat tiga pemain asal Papua, Oktovianus Maniani, Titus Bonai, dan Pattrich Wanggai. Ketiganya belum kembali dari izin pulang, sehari setelah menjalani laga melawan Valencia, Minggu lalu (5/8).
Praktis dalam sisa lima hari TC tahap pertama kali ini hanya diikuti oleh 15 dari 23 pemain timnas. Melihat kondisi ini, Nil juga menyesalkan karena pemainnya kembali tidak lengkap. Namun, dia menjamin latihan tetap akan berjalan sesuai program.

“Ya, person saja yang berkurang, untuk program tetap. Kualitas latihan tetap kami jaga, sesuai dengan target dan apa yang sudah saya buat,” tuturnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Bambang Pamungkas  mengakui  meminta izin untuk kembali ke klub. “Lima pemain mohon izin ke pelatih untuk menyelesaikan masalah dengan klub,” katanya.  (aam/ali/jpnn)

LSM Pro-Syampurno Resmi Bubarkan Diri

MEDAN- Sejumlah LSM yang mendukung pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho di Pilgubsu 2008 silam memutuskan tak lagi satu ‘perjuangan’ mendukung pemerintahan Syamsul-Gatot (Syampurno). Elemen pendukung ‘Syampurno’ yang dinamai Gerakan Rakyat Bersatu (GRB) itu juga memilih membubarkan diri.

‘’LSM adalah salah satu elemen kuat yang mendukung ‘Syampurno’. Tapi selama ini tak pernah ada niat menjaga hubungan baik,’’ ungkap Koordinator GRB, Dadang Darmawan, di Kantor Yayasan Sintesa, Jumat (10/8).

Dadang mengaku kekecewaan terhadap ‘Syampurno’ sudah terakumulasi selama empat tahun belakangan. Saat memberikan keterangan, Dadang didampingi 15 koalisi NGO di Sumut antara lain, Sekretaris GRB Herdensi Adnin, Ketua DPW Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumut Wagimin, Sofyan dari Sintesa, Irwansyah Hasibuan dari Muslim Institute, Afrizal Kurniawan dari Serikat Becak Merdeka (SBM) dan Lentera, Wahyudi dari Bitra, Bagus Joko dari YARMAN, dan sejumlah perwakilan LSM lain.

Menurut Dadang, pihaknya tak melihat program yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai visi-misi mereka di Pilgubsu 2008 silam, yakni,  ‘rakyat tidak bodoh’, ‘rakyat tidak sakit’, dan ‘rakyat tidak lapar’.

“Selama empat tahun GRB tak pernah dilibatkan menyusun agenda kerakyatan. Kami  tak menemukan perubahan signifikan terhadap sektor-sektor diharapkan bersama petani, buruh, nelayan, dan masyarakat miskin kota,” katanya. “Meskipun kami menempatkan seorang staf ahli, tapi itu hanya formalitas belaka dan tak difungsikan dalam merumuskan kebijakan. Kami tersandera dengan hubungan semu,” tukas mantan Ketua Badan Koordinasi (Badko) HMI itu. (ari)

Baliho Kurang Efektif

JAKARTA – Sudah menjadi kebiasaan para kandidat kepala daerah, mereka jauh-jauh hari sudah menebar baliho dan poster-poster di jalan-jalan utama. Mereka sudah berani mengeluarkan dana untuk pengadaan sarana sosialisasi itu, meski belum jelas apakah nantinya lolos sebagai calon kepala daerah atau tidak.

Begitu pun terjadi di Sumut, menjelang pilgub 2013 mendatang. Bahkan, pemasangan baliho mulai memanaskan suhu politik, lantaran ada baliho kandidat yang dicopoti pihak tertentu.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Endang Wihdatiningtyas mengakui, memang pihaknya bersama Panwaslu belum bisa melakukan tindakan apa pun terhadap menjamurnya baliho dan poster para kandidat. Pasalnya, mereka yang memasang fotonya di baliho-baliho itu belum berstatus sebagai calon.
“Jadi kami nggak bisa nyemprit. Itu masih urusannya pemda, untuk menindak jika baliho maupun poster-poster itu dipasang di tempat sembarang, apalagi jika tidak membayar pajaknya,” ujar Endang kepada koran ini di Jakarta, kemarin (10/8).

Begitu pun jika sudah membayar pajak, tetap saja dalam batas waktu tertentu pemda lah yang berwewenang mencopotinya. Ini karena pemasangan baliho ada batas waktunya.

Bagaimana jika yang mencopoti ternyata kubu kandidat lainnya? Endang mengatakan, jika bisa dibuktikan siapa pelakunya, ya bisa diproses hukum. Tapi, lagi-lagi, tidak bisa kasusnya dilaporkan melalui Panwaslu di daerah. “Itu masih tindak pidana umum, tindak pidana ringan (tipiring, Red). Jadi belum bisa masuk kategori tindak pidana pemilu,’’ katanya. (sam)

Kemendagri Simulasikan Dua Opsi Pilkada Serentak

Usulan Pilkada secara serentak belum mendapat persetujuan kalangan DPR RI. Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan berbagai antisipasi jika Pilkada serentak jadi dilaksanakan.

Salah satunya dengan menggelar simulasi Pilkada serentak. Ada dua metode yang rencananya bakal dipakai dalam Pilkada serentak nanti, yakni pengelompokan Pilkada dan menyerentakkan pemilihan umum legislatif (Pileg) dan pemilihan umum presiden (Pilpres).

Direktorat Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Djohermansyah Johan, mengatakan, pemerintah mencoba melihat alternatif yang sesuai dengan perkembangan demokrasi lokal. Dari telaah Kemendagri, ujarnya, ada sejumlah alternatif yang bisa dilakukan jika Pilkada jadi diserentakkan.

Pertama, Pilkada dilakukan secara pengelompokan melalui tiga tahapan, yakni tahap pertama adalah masa jabatan kepala daerah yang habis pada 2014 akan dikelompokkan dengan kepala daerah yang habis masa jabatan pada 2015. Untuk 2014, ada 43 Pilkada yang bakal ditunda pelaksanaannya ke 2015. “Kira-kira ada 246 kepala daerah yang habis masa jabatannya. Jadi, pada 2015, Pilkada yang bakal digelar mencapai 289 dan direncanakan akan dilaksanakan pada September 2015,” ungkap Djohermansyah di Jakarta, kemarin.

Kemudian untuk tahap kedua, adalah bagi kepala daerah yang masa jabatannya habis pada 2016. Para kepala daerah ini akan dikumpulkan kembali seperti tahap pertama, bersama dengan kepala daerah yang habis masa jabatan pada 2017, untuk pelaksanaan Pilkada pada akhir 2017. Adapun tahap ketiga, akan melihat masa jabatan kepala daerah yang terpilih pada 2015 dan 2017. Untuk Pilkada 2015, masa jabatan habis pada 2020 dan Pilkada 2017 habis pada 2022. Di sini baru dapat digelar Pilkada serentak dengan mengisi penjabat atas masa jabatan kepala daerah yang sudah habis pada 2020 sampai 2021.

Kemudian, kepala daerah yang habis masa jabatannya pada 2022 akan dipercepat Pilkadanya pada 2021. Untuk opsi kedua, lanjutnya, Pilkada diserentakkan dengan Pileg yang sudah ditetapkan KPU pada 9 April 2014.Selain itu,juga digabungkan dengan pelaksanaan Pilpres yang rencananya digelar pada 9 Juli 2014.“Dengan format ini maka akan dipilih 524 gubernur,bupati/wali kota,serta 1 presiden.Tapi kelemahan dari opsi ini adalah,adanya pemotongan masa jabatan kepala daerah,”ungkapnya.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, rencana pemerintah untuk menyerentakkan Pilkada adalah langkah tepat. Menurut dia, langkah itu bisa mengurangi pembengkakan anggaran yang selama ini terjadi.

Sementara itu, usulan tentang pilkada yang dilakukan secara serentak mendapat respons positif oleh KPU Pusat. Namun perlu ada analisis teknis yang dilakukan oleh pemerintah dan DPR untuk menghasilkan aturan baru ini.

“Usulan itu bagus sebenarnya. Tapi perlu ada analisis teknisnya. Problemnya adalah apakah pihak pemerintah dan DPR mampu menghasilkan aturan sampai nanti bulan Oktober,” kata Ketua KPU Pusat, Husni Kamil Manik, saat ditemui di kantor KPU di Jakarta, Kamis (9/8).

Menurut Husni, KPU tidak masalah dengan digelarnya pilkada secara serentak. Apalagi KPU sudah berpengalaman sejak tahun 2008.
“Jadi secara teknis kita sudah berpengalaman. Nanti kita membutuhkan kepastian biaya,” ujarnya.

Pelaksanaan pilkada secara serentak perlu kepastian biaya, apakah akan dibiayai APBD atau tidak. Kalau aturan mengenai hal ini tidak ada, maka pembahasan di daerah akan sulit dilakukan. “Bahkan tidak mungkin disetujui karena tidak ada dasar hukumnya,” ucap Husni. (net/jpnn)

Wanita Alami Pelecehan Seksual Ngadu ke Propam

Polisi-Warga Nyaris Bentrok di Batangkuis

MEDAN- Kericuhan terjadi di bekas gudang PTPN II Bandarkalippa Kecamatan Batangkuis, warga terlibat bentrokan dengan beberapa anggota polisi yang melakukan penjagaan di sekitar lokasi tersebut. Akibatnya, seorang wanita Santi WM (30) mengalami pelecehan seksual dan menderita luka tembakan di pinggang kiri setelah dirinya ditembak seorang anggota polisi dengan senjata laras panjang saat terlibat bentrok sekitar pukul 23:30 WIB, (10/8)
“Payudara saya dipegangnya, sambil meletuskan senpinya di pinggan kiri saya, pinggang saya terasa perih kini karena bekas letusan senpinya itu,” kata Shanti WM (36) warga Desa Tanjungsari Kecamatan Batangkuis Deliserdang (DS) saat membuat pengaduan bersama enam rekannya di Profesi  dan Pengamanan (Propam) Poldasu, Jumat (10/9) sore.

Shanti membeberkan, kejadian berawal saat ia dan warga berkumpul di gudang kosong bekas milik PTPN 2 di Batangkuis. Datang empat pria menumpangi mobil Jip dan berhenti di depan gudang.

Orang yang memegang senpi lalu menyuruh warga pergi dari gudang bekas tembakau itu, tapi mereka bertahan. “Nongkrong di gudang itu biasa dilakukan warga di sini,” kata seorang rekan Shanti, Syaiful Bahri.

Mendengar jawaban itu, oknum polisi marah dan meletuskan senpinya ke udara dan ke bawah .  “Walau itu polisi, tak begitu caranya,” kata Syaiful.
Korban tak teriuma karena oknum polisi itu mendekati Shanti lalu tangan kirinya memegang payudaranya, sedangkan tangan kanannya meletuskan.
Tak senang dengan prilaku polisi itu, Shanty melapor ke Polres Deliserfang. Tapi, karena polisi itu bertugas di Sabhara Poldasu.  Polres Deliserdang mengarahkan ke Poldasu.

Propam Poldasu menganjurkan korban datang hari Senin untuk mengambil nomor registrasi pengaduannya. Kapolsek Batang Kuis AKP Iwan mengatakan jika peristiwa tersebut hanya salah paham. (wel/smg)