Home Blog Page 13147

DL Sitorus Digugat Rp38 Miliar

MEDAN- PT Tor Ganda, milik DL Sitorus  digugat Rp38,9 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Padangsidimpuan, karena tidak memenuhi kewajibannya pada masyarakat adat eks Luhat Simangambat, Barumum Tengah Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) dalam perjanjian pengelolaan lahan produksi kelapa sawit seluas 72 ribu hektar.

Gugatan tersebut dilayangkan 16 tim kuasa hukum Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Ikatan Advokasi Indonesia (Ikadin) Cabang Medan, diantaranya Irvan Surya Harahap SH, Agam I Sandan SH, Ali Panca Sipahutar SH, Jerman Pohan SH, Siti Fauziah Nasution SH, dengan nomor register perkara No.25/Pdt.G/2012/PN-Psp pada tanggall 18 Juli 2012 yang diterima panitera muda perdata Hj Erllinawati SH.

Gugatan dilayangkan Zamhuri Hasibuan (42) warga Desa Simangambat, Simangambat  Paluta. (rud)

PON XVIII Kian Dekat, Venue Masih Mengkhawatirkan

JAKARTA- Gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 hanya menyisakan waktu kurang lebih sebulan lagi. Meski waktu kian sempit, bukan berarti permasalahan semakin berkurang. Sebaliknya, bermacam masalah justru mengemuka seiring lambannya PB PON menyiapkan multieven olahraga empat tahunan tersebut. Yang paling urgent ialah kondisi delapan venue yang belum juga selesai dibangun. Delapan venue itu ialah menembak, biliar, boling, baseball, softbal, squash, futsal serta panahan.

Kondisi tersebut langsung memantik sikap para Pengurus Besar (PB) masing-masing cabor. PP Perpani, misalnya. Kabid Binpres Nyoman Budiana terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya tentang persiapan Riau menggelar PON. Bukan hanya dari segi venue, tetapi juga peralatan pertandingan yang belum jelas juntrungnya. Dari 30 item peralatan yang dinginkan PP Perpani, Riau hanya sanggup memenuhi lima di antaranya. Itupun dengan jumlah yang tak sesuai keinginan PP Perpani. Yakni bantalan (30 biji dari 100 yang diinginkan PP Perpani), kaki bantalan (30/100), target face 122 cm (250), target face 80 ring 6 (350/750) serta target face 80 ring 5 (500/750).

“Kondisi venue pertandingan juga tidak rata. Banyak lubangnya. Itu membahayakan atlet karena bisa keseleo. Kami sudah meminta untuk diratakan dengan pasir. Kalau tidak bisa, kami sudah mendapatkan lokasi untuk pemindahan venue,” terang Nyoman saat ditemui di kantor PP Perpani kemarin.
Pria asli Bali tersebut kian geram karena PP Perpani sebenarnya sudah memberikan advice sejak Januari 2011 lalu. Mereka juga sering melakukan pertemuan. Sayangnya, semua saran serta pertemuan tersebut hanya masuk di telinga kanan dan keluar telinga kiri. Karena itu, PP Perpani langsung menyiapkan deadline untuk PB PON.

“Lapangan harus selesai tanggal 25 Agustus. Sementara peralatan harus siap pada 1 September nanti. Kuantitas dan kualitas peralatan juga harus sesuai. Jika tidak, kami tak berani merekomendasikan,” tegas Nyoman.

PB PON bukannya tutup mata dengan kritik bertubi-tubi yang dialamatkan kepada mereka. Namun, mereka memilih bermain aman dengan cara melemparkan optimisme. Ketua I PB PON Emrizal Pakis menyatakan, pihaknya memang mendapatkan beberapa saran untuk memindahkan lokasi pertandingan.

“Kami selaku tuan rumah telah menyiapkan 45 venues pertandingan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Riau. Dan, tetap meyakinkan seluruh pihak yang hadir bahwa seluruh venues bisa dimanfaatkan pada PON mendatang sebagai tempat pertandingan,” kata Emrizal.

Plt Kadispora Riau tersebut menambahkan, kekhawatiran hanya tersisa di beberapa venue yang kemungkinan besar tidak akan selesai tepat waktu.
“Selama bisa digunakan sebagai fungsional pertandingan, tidak ada masalah. Dan memang kami manfaatkan venues meskipun ada beberapa yang masih minimalis. Terkait venue menembak di Rumbai, saat ini kegiatan sudah masuk tahap pemasangan peralatan. Pihak pelaksana terus memaksimalkan persiapan dengan minimalis dan bisa fungsional, dan memang tidak bisa siap 100 persen,” ucap Emrizal. (ru/ali/egp/jpnn)

Oknum Dewan Terjaring Razia Mesum

BINJAI- Tim gabungan Polres Binjai dan Pemko Binjai, kembali melakukan razia hotel-hotel kelas melati dan hiburan karaoke di Kota Rambutan, Sabtu (4/8) tengah malam. Dari operasi ini, petugas mengamankan sejumlah pasangan tanpa identitas resmi dari kamar hotel, termasuk diantaranya oknum wakil rakyat Langkat.

Keterangan diperoleh, razia pertama kali dilakukan di Jalan T Amir Hamzah, Binjai Utara. Sasaran pertama petugas adalah Café Idola, yang dijadikan tempat hiburan karaoke. Dari lokasi ini, petugas tak berhasil menemukan pasangan selingkuh ataupun narkoba.

Lantas, tim gabungan bergegas menuju kafe lesehan Bunda di Jalan Ringroad Binjai-Deliserdang. Setibanya di Kafe Lesehan Bunda, petugas tak mampu berbuat banyak, setelah pemilik kafe dengan begitu akrab menjual nama salah seorang petugas yang juga berkantor di satu institusi hukum di Kota Binjai, dan membuat petugas langsung angkat kaki setelah sedikit terlibat perbincangan dan negosiasi dengan pemilik kafe.

Usai dari Kafe Lesehan Bunda, tim bergerak menuju hotel-hotel kelas melati di Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Binjai Timur. Namun sayang, petugas tidak merazia semua hotel yang ada, seperti Hotel Binjai dan Lestari.

Meski tidak merazia Hotel Lestari dan Hotel Binjai, tapi petugas mengobrak-abrik seluruh ruangan Hotel Garuda yang bersebelahan dengan kedua hotel yang tidak dirazia tadi. Dari dalam hotel, sejumlah pasangan selingkuh kaget mengetahui kehadiran petugas.

Bahkan, sepasang penghuni kamar yang mengendarai mobil Honda Jazz BK 29 VS diduga oknum DPRD Langkat berinisial AM langsung terburu-buru keluar dari dalam kamar dan memasuki mobilnya. Aksi pria itu akhirnya gagal saat mau memundurkan kenderaannya karena menabrak petugas Satuan Samapta Polres Binjai yang kemudian memaksa pengemudi mobil memakai baju kaos berkera itu turun dari dalam mobilnya.

Sementara itu, teman wanitanya MS, mengendarai mobil Honda Jazz warna silver B 183 LK juga kabur dari dalam kamar dan masuk kedalam mobilnya. Meski berulang kali dibujuk dan dipaksa petugas untuk keluar dari mobil, namun wanita yang disebut-sebut pegawai di Kecamatan Stabat itu, tak bersedia membuka kaca mobilnya, hingga petugas pun meninggalkannya di teras hotel.

Kasat Reskrim AKP Aris Fianto mengatakan tidak semua orang dibawa karena tidak semua yang terjaring terpantau.(ndi)

Selam dan Tenis Meja Butuh Rp10,2 Miliar

DUMAIKOTA-Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON)  XVIII  Riau di Dumai membutuhkan anggaran sekitar Rp8,9 Miliar untuk pengadaan barang dan jasa dari dua cabang olahraga (cabor) yang  akan dipertandingkan di Dumai.

Setidaknya ada 10 fokus bidang yang menangani soal sekretariat dan operasional sekretariat, pertandingan, sarana dan prasarana, transportasi, akomodasi, konsumsi, upacara, kesehatan, humas dan promosi, serta protokol. Semula, usulan dana dari keseluruhan bidang ini mencapai Rp10,2 Miliar lebih. Namun diperkirakan realisasinya hanya membutuhkan Rp8,9 Miliar.

Demikian disampaikan Sekretaris Sub PB PON Dumai, Dwi Oristiawan dalam pertemuan yang digelar Sub PB PON Dumai di Gedung Media Centre, Jalan Putri Tujuh, Senin (6/8). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pimpinan SKPD, perwakilan TNI, Polri, PHRI dan beberapa perusahaan yang terlibat dalam persiapan PON di Dumai.

‘’Kita berharap disesuaikan dengan kemampuan keuangan, sedapat mungkin dilakukan rasionalisasi,’’ ungkapnya  Dia menjelaskan untuk keperluan pengadaan barang dan jasa dua Cabor PON yakni selam dan tenis meja yang dipertandingkan di Dumai merupakan dana hibah yang berasal dari APBD Kota Dumai. Saat ini sudah tersedia hanya sekitar Rp2,65 Miliar dari APBD murni. Sedangkan sisanya bakal dianggarkan Pemko Dumai dalam APBD Perubahan.
Sementara itu, untuk venue selam laut yang terletak di sekitar Pelabuhan Roro, Kelurahan Purnama sudah mulai dikerjakan. Diharapkan pada 6 September nanti seluruh venue telah selesai dan tinggal di uji coba.

‘’Selain dari pada venue senam laut, sudah rampung tinggal finishing saja. Secepatnya mudah-mudahan tuntas karena seminggusebelum hari ‘H’ akan dilakukan tahap uji coba,’’ pungkas Dwi. (men/jpnn)

Bupati Tinjau Jalan Menuju Produksi Pertanian

PAKPAK BHARAT- Bupati Remigo Yolando Berutu, meninjau langsung pembukaan jalan menuju perladangan warga  Dusun Uruk Ndeas, Desa Boangmanalu Kecamatan Salak, Kabupaten Pakpak Bharat yang merupakan salah satu kawasan  kantong-kantong produksi pertanian di Kecamatan Salak.
“Ini bagian dari tindak cepat dan respon kita atas kebutuhan riil masyarakat. Dan sepanjang bisa kita langsung respon akan kita lakukan,” sebut Remigo, disela-sela peninjauanya ke lokasi pembukaan jalan dimaksud, Senin (6/8).

Inisiasi masyarakat Urukndeas tersebut kata Bupati salah satu upaya mempercepat pembangunan. “Ini akan memotong mata rantai birokrasi yang seringkali menghambat pembangunan,” katanya. (mag-14)

Cino Tak Masalah Duel Mundur

JAKARTA-Raja Sapta Oktohati, owner Mahkota Promotion, promotor Chris John dan Daud Yordan sudah mengumumkan jika duel kedua petinju kebanggaan Indoensia itu tidak bisa dilangsungkan pada September karena waktu yang mepet. Chris John dan Daud Yordan dijadwalkan baru akan naik ring kembali pada Desember mendatang.

Pergeseran jadwal itu disikapi santai oleh Daud Yordan yang saat ini menjadi pemegang gelar juara dunia tinju kelas bulu IBO. Ketika dihubungi Cino, sapaan akrab Daud Yordan sama sekali Mengaku tidak masalah dengan mundurnya jadwal itu.  Dia mengaku hanya akan menyesuaikan kembali jadwal latihannya.

“Ya, promoter sudah memberitahukan kalau jadwal pertandingannya mundur. Saya tidak masalah,” kata Daud Yordan yang beberapa hari kemarin memang ada di Jakarta. Petinju kelahiran 10 Juni 1987 itu mengaku menyerahkan sepenuhnya urusan kapan dia baik ring lagi kepada promotor.

“Semua saya serahkan manajemen. Sebagai petinju saya hanya menjalani latihan dan pertarungan saja,” sambung petinju yang merebut gelar juara dunia ketika menang KO pada ronde kedua atas petinju Filipina Lorenzo Villanueva di Singapura 5 Mei lalu itu.

Petinju yang belum lama melepas masa lajangnya itu juga mengaku jika pihaknya sudah mengetahui calon lawan yang akan dihadapi. (ali/jpnn)

Polisi tak akan Usut Kematian Tahanan LP Lubukpakam

MEDAN- Kepolisian Pancur Batu mengaku tidak mengusut kasus kematian Yes Yene Rison Ginting (38) alias Icon, tahanan yang tewas di dalam sel Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pancurbatu, Minggu (5/8) kemarin. Hal itu dikatakan Kapolsek Pancurbatu, AKP Darwin Sitepu kepada Sumut Pos, Senin (6/8) petang.

Darwin mengatakan, langkah tersebut diambil pihaknya karena dari hasil visum dokter mengatakan, tewasnya tahanan kasus narkoba itu murni karena adanya kelainan jantung. “Kami gak ada mengarah ke pengusutan kematiannya. Dari hasil visum dokter yang kami terima, korban tewas karena serangan jantung,” ujarnya.

Darwin juga mengatakan pihaknya tidak akan memeriksa ataupun meminta keterangan dari rekan-rekan korban yang berada di dalam satu sel tahanan. “Biarkan kejaksaan yang mengambil sikap. Kami gak campuri urusan itu. Itu sepenuhnya kewenangan kejaksaan. Kan ada pihak pengawas kejaksaan,” sebutnya.

Sebelumnya, kematian korban yang merupakan warga Jalan Sentosa, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deliserdang itu sempat tak diterima oleh pihak keluarga. Ratusan keluarga Yes Yene Rison Ginting sempat mengamuk di Kantor Cabang Kejaksaan Lubukpakam, Pancurbatu, Kabupaten Deliserdang.
Kepala Cabjari Lubukpakam di Pancur Batu Wuriadhi Paramita mengatakan, pihaknya akan mengecek jajarannya terkait izin berobat yang dipersoalkan keluarga korban. “Kami ambil jalan tengahnya. Kalau memang terbukti ada kesalahan prosedur, kami akan mengambil tindakan,” ujar Wuriadhi. Wuriadhi juga menyebutkan, akan menyelidiki laporan pelanggaran yang dilakukan kejaksaan dalam kasus ini. (mag-12)

Petinju Thailand Lemah Di Parut

JAKARTA – Chris John tak memiliki waktu banyak untuk beristirahat. Ini tidak lain karena, akhir September nanti, petinju dengan julukan The Dragon ini sudah harus naik ring. Ya, pemegang gelar Super Champion kelas bulu WBA itu akan ditantang oleh lawan tangguh asal Thailand Chonlatarn Piriyapinyo.
Dari rilis yang dipublikasikan oleh Boxrec, situs resmi tentang tinju dunia, pertarungan untuk perebutan gelar ke-17 petinju asal Banjarnegara ini akan berlangsung di Singapura pada 29 September mendatang.

Itu berarti, waktu persiapan Chris tidak lebih dari tiga bulan. Karena Chris baru saja mempertahankan gelarnya dari Shoji Kimura petinju Jepang, juga di Singapura pada 5 Mei lalu.

“Dia (Chris John, Red) adalah petinju tersukses di Indonesia saat ini. Oleh karena itu prestasi yang telah dia ukir tersebut harus disuport oleh siapa saja,” kata Anis Roga, mantan  juara kelas terbang junior IBF Interkontinental pada tahun 1997 kepada Jawa Pos, kemarin (5/8).
Nah, Anis pun mencoba untuk berbagi pengalamannya. Pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur ini mengatakan mayoritas petinju Thailand memiliki kelemahan di bagian perut. Sehingga, lanjut Anis, bila Chris ingin menang mudah, maka dia harus sesering mungkin menyerang dibagian tersebut. (dik/jpnn)

Rohingya Dalam Konstalasi Politik Internasional

Oleh: Muhaimin Z.Achsin

Analisis konflik ini memakai Onion model (model yang melihat konflik sebagai bawang yang memiliki lapisan-lapisan) yang lebih kompleks dari yang diperkenalkan oleh Galtung dengan memposisikan bagian lapisan-lapisan (layers onion) sebagai tempat agent/aktor (perspektif gerak bolak-balik subjek-objek) serta posisi dan kepentingan yang terhubung agar dapat menjelaskan dimensi politik dan ekonomi pada saat yang bersamaan. Mengupas bawang dari lapisan terluar sampai kedalam.

Pada area permukaan konflik Rohingya ini menjadi isu sektarian semata (dimana mayor menyerang minor) dengan menggali sejarah dari kaum Rohingnya dan tahun pemerintah berkuasa. Pertanyaanpun kita majukan selangkah mengapa diskriminasi minoritas Rohingya “baru” mendapatkan  perhatian publik/dunia akhir-akhir ini.

Dalam tulisan ini titik analisanya untuk menjawab pertanyaan tersebut dan darinya diperoleh sebuah  hipotesa awal bahwa konflik ini melebihi dari konflik sektarian maupun rasis semata tetapi mempunyai dimensi politik dan ekonomi yang terhubung dengan konstalasi politik internasional. Hipotesa itu dibangun oleh sub-sub hipotesa sebagai berikut dengan tidak melihat trigger konflik sebagai satu-satunya causalitas:

Lapisan permukaan: sektarian/rasisme

Dari  perspektif Mayoritas melihat minoritas sebagai “threat” (ancaman). Seiring menguatnya sell jaringan komunitas Rohingnya (ARNO dan ARU) baik dari fund maupun sinyalemen interkoneksi dengan jaringan Taliban dan organisasi Islam radikal Asia Tenggara. Ancaman disini disimulasikan seperti aktivitas Moro di Filipina. Narasi pun diperkuat dengan mencoba mencari kesejarahan dan menyalahkan British Settlement yang memberikan tempat bagi mereka yang berujung pada narasi orang Rohingya bukan merupakan penduduk asli Burma akibatnya blaming the victims. Konflik sektarian/rasis sebelumnya dan stigmasisasi Muslim offensif memperparah konstruksi pemikiran mayoritas ini dan berdampak pada tindakan yang diambil.

Dari perspektif minoritas Rohingya mereka menginginkan hidup berdampingan dengan penduduk mayoritas karena keberadaan mereka sudah ada sejak lama. Perjuangan minoritas ialah mendapatkan pengakuan, perlindungan dan hak yang sama dengan mayoritas dalam territorial Burma maka dari itu mereka membuat organisasi sebagai penyatu dan berharap punya bargaining position dengan berjejaring dalam menyuarakan hak. Dan adapun perjuangan membentuk wilayah sendiri disinyalir segelintir elit politik.

Lapisan Pertengahan: Negara ( Junta vs Demokratis)

Perspektif Junta: Pemerintahan Burma yang berbentuk Junta (dipimpin oleh militer) yang sekarang menduduki posisi strategis di ASEAN berpresepsi internasionalisasi issu ini mengancam legitimasi kekuasaan mereka sebagai pemerintahan resmi negara dengan formasi Junta. Posisi ini tidak menguntungkan mereka, jika sampai digulingkan maka kantong-kantong mata pencaharian mereka juga turut hilang terkecuali memakai pola umum yaitu pihak pimpinan militer oportunis (berbisnis) ber fusi kembali ke dalam pemerintahan demokratis (menjadi koalisi palsu untuk mengamankan kepentingan).

Dengan Internasionalisasi issu ini maka Junta semakin rentan untuk mendapat intervensi maupun pressure internasional. Jadi dalam hal ini kepentingan Junta untuk melokalisasi issu menjadi perlu ataupun dengan peredaman konflik dengan memperlihatkan pihak internasional mereka bekerja keras untuk meredam konflik dengan cara mengundang organisasi internasional untuk masuk dan mengawasi.

Perspektif demokrasi: Perjuangan demokrasi di Burma di representasikan pada seorang tokoh Aung San Suu Kyi. Dalam hal ini demokrasi mendapat celah ataupun momentum untuk membeberkan kondisi objektif negaranya di bawah rezim represif militer Junta yang selama ini bekuasa. Suu Kyi dilihat sebagai tokoh politik yang mempunyai massa (dalam hal ini pihak Mayoritas) makanya dalam berbagai kesempatannya “tampaknya” Suu Kyi tidak terlalu berpihak kepada minoritas dalam pembicaraannya karena kekwatiran akan kehilangan simpati Mayoritas rakyat Burma ataupun kontra produktif dengan perjuangan demokrasi yang dibangun. Dengan hadiah Nobel tampaknya secara implicit internasional menaruh perhatian pada demokratisasi di Burma kedepannya dan khususnya kunjungannya pertamanya ke Inggris.

Lapisan Inti: Eksternalist (China-AS-UK)

Inti disini bisa diartikan yang terbesar/terdalam/yang tidak kelihatan, ketika ekonomi bertemu politik. Dari energy perspective kita dapat melihat sesuatu dari arah berbeda. Kepentingan ekonomi ada dibelakang dan sifatnya menyetir walaupun hal tersebut bukan menjadi satu-satunya faktor tetapi sangat signifikan untuk melihat ke arah mana bola panas mengarah. Untuk Myanmar/Burma sendiri khususnya Arakan yang menjadi region dimana di dalamnya konflik terjadi, menurut Arakanoilwatch.org daerahnya mengandung 22.5 trillion cubic feet (tcf) gas dan mineral berharga lainnya.

China dalam hal ini dihubungkan karena kedekatannya (baik secara geografis maupun politik) dengan pemerintahan Junta sebagai salah satu bukti perusahaan CNOOC (China memainkan peranan mayor dalam industri migas di Burma). Dalam hal domestik Burma, mengganti Junta ke Demokratis artinya menggeser posisi China ke koalisi demokrasi AS-UK (dan sekutu yang lain(pro demokratis) dengan konsesi asistensi pembangunan demokratis (utang pembangunan) dan terutama untuk pengelolaan daerah pertambangan migas dan non-migas dijanjikan lebih terbuka dan adil buat masyarakat.
Narasi ini menjadi jual-beli karena dilukiskan kondisi pemerintahan Junta penuh fraud dan corruption. Kepentingan kebebasan bersuara dan politik masyarakat domestik yang selama ini dibatasi bak bagai gayung bersambut dengan demokrasi yang dijanjikan ini.

Untuk lebih luas lagi membaca kepentingan ekonomi ini yang berusaha di kawinkan dengan politik sebagai suatu tindakan yaitu menghadirkan para “pejuang demokrasi” (AS dan sekutunya dalam hal ini UK (Inggris) karena kedekatan sejarah dan konsesi perusahaan migas) dalam konstalasi politik domestik Burma terutama pada bagian politik regional Asia Tenggara merupakan suatu ancaman bagi China. Hal ini dilihat dari naiknya tensi perebutan wilayah “Laut China Selatan” yang mengandung begitu besar potensi minyak dan gas dimana China menjadi kekuatan oposisi besar bagi ASEAN dalam menyelesaikan sengketanya berbasis normatif UNCLOS.

Posisi “Laut China Selatan” merupakan nilai ke ekonomian tingkat tertinggi dari ekspektasi berperan lebihnya para  hegemon dalam konstalasi politik Asia Tenggara.  Pendek kata dilemma domestik Myanmar kini ada di dua arah jalan serupa dengan kondisi Indonesia 1998 (otoriter atau ke demokratis-neoliberal) dan siapa pemenangnya? kita dapat melihatnya nanti tetapi jika dikalkulasi perubahan akan terjadi. Aksi menunjukkan hegemony dengan “membantu” salah satu pihak ini bukannya tindakan altruistic tetapi mempunyai kepentingan politik dan ekonomi besar dan jangka panjang
Membaca aspek transfer ide sebagai bagian yang terkadang tidak terlihat oleh umum, yaitu: pertama, jika reaksioner dari fundamentalis Islam dari berbagai jaringan yang dianggap “terrorist” ini maka akan memperkuat discourse moslem as terrorist tentunya ini akan berosonansi lebih luas dari yang di kalkulasi yaitu selain penegasan diskursus semacam itu (stigmasisasi muslim) akan memperkuat pendudukan negara-negara oleh pasukan koalisi seperti NATO (eksistensi dipertahankan) untuk terus melaksanakan kebijakan paranoia “terrorist” yang dimplementasikan di hampir semua negara sekarang ini tidak terkecuali Indonesia. Untuk bargaining NATO kita teringat oleh konflik south Ossetia 2008 lalu yang pas juga bertepatan Olimpiade di Beijing.

Kedua, transfer ide akan semakin menguatkan discource  dalam termin democratic peace theory yang dianut baik regional maupun global. Yaitu dibawah kondisi demokratis negara lebih stabil, konflik ataupun ancaman perang negara dapat dikurangi. Akibatnya transfer ide pembenaran peperangan atas nama  demokrasi baik secara moral dan etika terjadi. Demokrasi yang dipraktekkan negara-negara berkembangpun terlalu banyak bermain di lapisan permukaan yaitu kebebasan berbicara dan berpolitik secara emosional serta mengesampingkan partisipasi rasional aktif rakyat untuk mengawasi masyarakat untuk mencegah keadaan social-economic injustice dan mewujudkan distribusi kekayaan merata untuk mengurangi kemiskinan.

Sebagai solusi jangka pendek bagi individu dengan keterbatasan ruang dan gerak bisa memberikan bantuan solidaritas ke organ-organ sosial yang akan/telah masuk ke wilayah konflik yang difasilitasi kedutaan untuk melakukan kerja sosial dan tim pemantau. Untuk pemerintah pusat ataupun daerah selain “mengutuk” ialah memperbolehkan/menampung para refugees/pengungsi dimanapun pengungsi berlabuh walaupun dapat menimbulkan konflik lebih kecil tetapi demi kemanusiaan hal itu harus dilakukan.

Tulisan ini untuk menambah daya analisis wacana agar tidak terjebak apalagi sampai memproduksi embrio kebencian kemudian menyalahkan “agama” karena tindakan ini merupakan suatu Fatalis. Mengajak untuk tetap membaca kondisi objektif  lebih dalam dengan melihat aktornya dan struktur konfliknya terlebih pada produksi konflik serta masalah sosial dan ekonomi lainnya. Keharusan untuk meng counter narasi dominan Hungtington tentang “clash of civilization” usaha membenturkan agama, mendekonstruksinya agar menjadi “Harmony of civilization” karena dunia milik semua mahluk hidup dan essensi dari toleransi ialah Majority for minority (mayoritas melindungi minoritas/ kuat melindungi yang lemah).

Penulis: Mahasiswa pasca-Sarjana Hubungan Internasional Fisip UGM

PT LI Lunasi Hutang

Sriwijaya FC Berikan 60 Persen ke Pemain

JAKARTA- PT Liga Indonesia (PT LI) akhirnya melunasi uang hadiah untuk klub Indonesia Super League (ISL) musim kompetisi 2011-2012. Uang hadiah keseluruhan yang harus mereka berikan mencapai Rp4 miliar.

CEO PT Liga Indonesia  (PT LI) Joko Driyono mengatakan bahwa pihaknya tidak berniat menunda pemberian hadiah. Proses pemberian hadiah menurutnya memang tidak langsung, seperti kompetisi pada tahun-tahun sebelum-sebelumnya.

“Uang hadiah sudah kami bayarkan dan sudah kami serahkan kepada klub pada hari Jumat (3/8) lalu,” terangnya, kemarin (6/8).

Hadiah kompetisi diberikan kepada juara ISL, Sriwijaya FC, dan runner up ISL Persipura Jayapura. Masing-masing mendapat hadiah Rp2,5 miliar dan  Rp1,5 miliar. Selain hadiah ke klub, PT LI juga memberikan hadiah personal kepada pemain terbaik dan top skorer ISL, masing-masing mendapat Rp100 Juta.
Dengan rincian tersebut, PT LI total telah mengeluarkan Rp4,2 Miliar untuk membayarkan kewajibannya kepada klub-klub ISL. Selain uang hadiah kepada klub, PT LI juga sudah melunasi tanggungannya terkait pelaksanaan kompetisi.

“Kami pasti akan membayar apa yang telah menjadi kewajiban kami. Kami selalu melakukan koordinasi dengan klub, jadi tidak ada masalah,” tutur lelaki asal Ngawi tersebut.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, pihak Sriwijaya FC membenarkan PT LI telah membayarkan uang hadiah ISL. Namun, jumlah yang diterima tidak utuh Rp2,5 miliar. Direktur Keuangan PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Augie Bunyamin, menyebut pihaknya hanya menerima Rp2 Miliar.
“Untuk sisanya akan diberikan saat Sriwijaya bakal tampil di Liga champions Asia (LCA). Itu tidak masalah,” ujarnya.

Dari Rp2 miliar itu, Sriwijaya tidak menerima utuh Karena masih harus dipotong pajak sebesar 15 persen. Karena itu, uang yang telah masuk dalam rekening Sriwijaya FC saat ini sekitar Rp1, 7 miliar. Seperti janji manajemen, 60 persen uang hadiah itu juga harus dinikmati oleh pemain. Baru, sisanya akan dimasukkan ke rekening klub.

Rencananya, pekan ini 60 persen uang untuk pemain itu akan dibagikan langsung ke rekening masing-masing. Besarannya sesuai dengan kontribusi yang diberikan, karena itu, manajemen akan berkoordinasi terkait hal ini dengan pelatih terlebih dahulu. (aam/jpnn)