Home Blog Page 13178

Guru Honorer Langkat Waspadai Penipuan

LANGKAT-Badan Kepegawain Daerah (BKD) Pem kab Langkat mengingatkan segenap guru honor di Kabupaten Langkat, tidak teperdaya segelintir oknum atau pihak yang meminta imbalan uang guna menguruskan status. Disarankan, mencari informasi ke instansi berkompeten.
“Tidak benar, mana ada staf BKD bernama Amir. Seperti yang disebutkan, menghubungi segenap guru honor sekaligus memintai uang imbalan terkait status si guru,” kata Kepala BKD, Amril Nasution.

Menurut dia kepada wartawan ketika, Senin (30/7) kemarin, rumor tersebut diterima pihaknya.
Mengenai adanya permintaan seorang oknum mengatasnamakan BKD, agar segenap guru honor menyetorkan sejumlah uang guna kejelasan status. (mag-4)

Takjil untuk Pengendara Sepeda Motor

MEDAN- PT Alfa Scorpii sebagai maen dealer sepeda motor Yamaha terus melakukan pendekatan ke seluruh masyarakat di penjuru Sumut. Targetnya, konsumen yang ada di Sumatera Utara bisa disapa pada saat Ramadan ini.

Tim Berkah Ramadan Yamaha baru saja bertolak ke Kota Sibolga untuk melakukan kegiatan Ramadan. Program kegiatan selama bulan Ramadan yang digagas PT Alfa Scorpii di Kota Kisaran juga bekerjasama dengan sub dealer Yamaha Leo Kisaran, Senin (30/7).

Chief Marketing Alfa Scorpii Medan, Freddy Lukman mengatakan Yamaha tetap berbuat untuk masyarakat, sebagai bagian pembuktian bahwa PT Alfa Scorpii tak pernah melupakan pencinta setianya.

Freddy menambahkan, kegiatan Berkah Ramadan yang digelar PT Alfa Scorpii bekerjasama dengan dealer-dealer mitra di sejumlah daerah. (*/ril)

Bekas Galian C Ilegal Ambil Nyawa

LUBUKPAKAM-Mhd Fery Agung Probowo (10) tewas tenggelam di bekas galian C ilegal di Dusun Dua Desa Pagarmerbau Dua Kecamatan Pagarmerbau, Selasa (31/7) sekitar pukul 14.30 WIB.

Korban yang tinggal di komplek SD Negeri 1019973 di Desa Pagarmerbau Dua Kecamatan Pagarmerbau itu, sebelum tewas bermain bersama temannya di genangan air bekas korekan galian C ilegal itu. Karena tidak bisa berenang murid kelas 5 SD Negeri 1019973 itu tenggelam. Peristiwa tenggelamnya korban sempat diinformasikan teman korban kepada warga, namun nyawa korban tak terselamatkan juga.

Setelah dilakukan pencarian selama 25 menit, akhirnya jasad korban ditemukan dengan kondisi sudah meninggal dunia.
Orangtua korban Margono (40) dan Sufini (33) membuat pernyatan kepada kepolisian, agar jasad anaknya tidak dioutopsi di Rumah Sakit Deliserdang. (btr)

Dipaksa Berhubungan Intim, jika Menolak Diancam Parang

Anak Kandung Menjadi Budak Seks Bapak di Langkat

Monang Sinambela (40) alias Bado pantas menerima ganjaran hukuman dipenjara. Itu karena ulahnya sendiri yang tega menjadikan putri kandungnya sebagai budak seks nya. Kini Bado hanya menghitung hari masa hukumannya yamg akan dijalani.

Terbongkarnya aksi, petani yang tinggal di Dusun VI, Desa Hinai Kanan, Kecamatan Hinai, Langkat itu tega menggarap sebuat saja Rini (13) anak kandungnya sendiri hampir selama dua tahun karena dirinya birahi melihat anaknya sedang ganti pakaian.

Tak tahan, diperlakukan seperti itu,ahirnya korban bersama Minauli Br Purba (40) ibu kandungnya langsung mendatangi Mapolsek Hinai untuk membuat pengaduan. Bahkan, selama dua hari keduanya terpaksa harus menginap di kantor polisi karena sudah tidak tahan dan takut pulang kerumahnya. Mendapat laporan itu, Sabtu (28/7) siang petugas Mapolsek Hinai langsung menjemput pelaku dari rumahnya untuk dijebloskan kedalam sel tahanan.

Informasi berhasil diperoleh, kasus pencabulan terhadap anak kandung itu terbongkar sekitar seminggu yang lalu. Saat itu, korban yang anak ketiga dari empat bersaudara itu pergi bersama ibunya mendatangi Mapolsek Hinai untuk membuat laporan pengaduan. Namun bukan masalah pencabulan, melainkan mereka melaporkan pelaku atas tuduhan sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Namun, karena tidak memiliki cukup bukti, maka akhirnya pihak Polsek Hinai berinisiatif langsung memanggil pelaku untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Setelah saling berdamai, pelakupun akhirnya langsung pulang kembali kerumahnya. Namun istri dan anaknya tidak mau ikut diajak pulang dan lebih memilih menginap selama dua hari dikantor polisi tersebut.

Lantas, petugas curiga dan menanyakan kepada keduanya tentang alasan mengapa tidak mau pulang kerumahnya. Lalu, korban yang memang sudah tidak tahan lagi menanggung beban derita yang dialaminya langsung cerita kepada petugas Polsek Hinai kalau dirinya tidak berani pulang karena takut dipukuli dan dirinya juga mengaku kalau sudah sering diajak berhubungan intim oleh pelaku.

“Udah sering digituin sama bapak om, mulai dari kelas satu dulu sampai sekarang kelas dua, kalau nggak mau diancam akan dibunuh pakai parang yang dibawanya, udah gitu dia juga mengancam akan membunuh aku kalau berani buka mulut, makanya aku bilang sama mamak kalau aku nggak mau pulang lagi kerumah, “ ucap Rini kepada petugas Polsek Hinai.

Sementara itu, Minauli Br Purba (40), ibu kandung korban mengaku sangat terpukul sekali dengan kejadian tersebut. Dirinya tidak menyangka suaminya berbuat seperti itu. “ Memang belakangan ini aku curiga sama dia karena sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, aku juga dilarangnya sering-sering berkomunikasi sama anak saya, “ kata Minauli.

Kepada petugas, Monang Sinambela (40), mengaku memang pernah melakukan perbuatan bejat tersebut. Namun dirinya membantah sering melakukan dan hanya baru sekali. Kejadiannya sekitar (13/6/2012) yang lalu di ruang tamu dalam rumahnya. Saat itu, dirinya yang baru pulang kerja tidak sengaja memergoki anaknya yang sedang ganti baju di ruang tamu tersebut. Karena bernafsu, dirinya langsung menangkap korban dan membekap mulutnya agar tidak dapat berteriak. Setelah itu, pelaku langsung merenggut kesucian anak kandungnya tersebut sampai puas. “ Aku udah nggak tahan lagi pas lihat dia ganti pakaian, apalagi saat itu rumah sedang sepi karena istriku masih diluar cari sawit brondolan, “ ucapnya.

Kanit PPA Polres Langkat Aiptu Agus Ginting saat dikonfirmasi Metro Langkat (Group Sumut Pos) mengakui adanya peristiwa pencabulan tersebut.
Pihaknya sudah menerima limpahan berkas perkara dari Polsek Hinai dan kini sedang melakukan penyelidikan. “ Pelakunya sudah dijebloskan kedalam sel tahanan, “ tegas Kanit. (dw/smg)

FPAY Sumut Buka Puasa di Yayasan Darul Aitam

Sejumlah pengurus Forum Peduli Anak Yatim (FPAY) Sumut berbuka puasa bersama dengan ratusan anak yatim Yayasan Darul Aitam Aceh Sepakat Jalan Medan Area Selatan, Senin (30/7). Acara buka puasa bersama itu diiringi pembacaan Ayat Suci Al Quran, tausyiah oleh Ustadz Azwir Ibnu Azis dan Solat Magribh bersama.

Ketua FPAY Sumut H Daudsyah Munthe menuturkan, FPAY Sumut sudah terbentuk 2 tahun yang lalu.

“Sejumlah pengurus mencoba untuk sharing atau menuangkan ide terkait dalam membina atau memberdayakan anak-anak yatim ini. Selama ini perhatian pemerintah kepada anak yatim masih sebatas merawat dan  memberikan pendidikan,” katanya.

Dengan adanya pemberdayaan atau pembinaan ini, lanjutnya, para anak yatim di Sumut bisa mandiri di tengah-tengah masyarakat, sehingga tidak terus menjadi tanggungan masyarakat akan tetapi bisa menanggung beban-beban yang ada di masyarakat.

“Buka puasa bersama ini wujud kepedulian dan semangat kekeluargaan sejumlah pengurus FPAY. Kami harap, anak-anak kam di sini semua terus mendoakan kami agar kami diberi kesehatan, rezeki, panjang umur dan lainnya agar bisa terus memperhatikan anak-anak yatim di Sumut,” tegasnya.
Sementara itu, Alustadz H. Azwir Ibnu Azis mengatakan, kegiatan yang dilakukan FPAY Sumut ini merupakan kegiatan yang luar biasa di mata Rasulullah.

“Ingatlah ketika orang begitu peduli kepada anak yatim, Allah akan menjamin untuk diangkat derajatnya. Tetapi ketika banyak orang yang sudah tidak peduli, kita termasuk orang yang mendustakan agama,” jelas Azwir.

Dia juga memberi semangat kepada anak-anak yatim itu agar tekun belajar.

“Semua orang mus limin di muka bumi ini Ayah kalian, tapi sayang masih banyak yang tidak mengaplikasikannya untuk peduli kepada kalian. Untuk itu, marilah sama-sama kita satukan umat ini membela dan peduli kepada anak yatim,” imbuhnya.

Sedangkan pengurus Yayasan Darul Aitam Mahmudin Hasibuan mengucapkan terimakasih kepada pengurus FPAY yang telah meluangkan waktu dan pemikiran untuk membantu dan membimbing anak yatim. Mahmudin berharap, kegiatan FPAY Sumut tidak sampai di sini saja, tetapi berkelanjutan dalam mem bimbing dan membina anak yatim Darul Aitam Aceh Sepakat.

“Kami berdoa agar pengurus-pengurus FPAY diberi kesehatan dan rezeki serta pengurus FPAY menjadi tokoh-tokoh di Sumut bahkan di Indonesia,” ungkap sembari diaminkan oleh ratusan anak yatim.(*/far)

Lelah pun Hilang Saat Berbagi

Bakti Sosial Big Reds Medan ke Panti Asuhan

Berbagi: Anggota Big Reds Medan saat menyerahkan bantuan  Panti Asuhan Pembangunan Didikan Islam Indonesia.//ISTIMEWA
Berbagi: Anggota Big Reds Medan saat menyerahkan bantuan ke Panti Asuhan Pembangunan Didikan Islam Indonesia.//ISTIMEWA

MEDAN -Ramadan menjadi momen untuk saling berbagi dengan sesama. Terutama bagi yang membutuhkan. Tak terkecuali Big Reds Regional Medan, official kelompok suporter klub asal Inggris, Liverpool FC. Minggu (29/7) dini hari kemarin Big Reds mengadakan bakti sosial ke Panti Asuhan Pembangunan Didikan Islam Indonesia,Jalan Jamin Ginting no. 271 Medan.

“Alhamdulillah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini walau terasa lelah karena padatnya acara tapi semua rasa itu hilang karena keihklasan kita untuk berbagi kepada saudara kita di panti asuhan dan melakukannya bersama- sama  para member Medan,” ujar Wakil Koordinator Big Reds Medan, Bowo kemarin.

Dana terkumpul sebesar Rp2,65 juta yang digalang dari para member. “Uang yang terkumpul dibelikan paket sembako berupa beras, minyak goreng, gula, telur, sarden, susu dan mie instant untuk langsung disalurkan ke Panti Asuhan Pembangunan Didikan Islam Indonesia. Disana Big Reds juga mengadakan sahur bersama,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara bertajuk “Big Reds Medan Kopite Ramadan 2012″ yang digelar sejak Sabtu (28/7) lalu. Diawali dengan buka puasa bersama, fun futsal dan nonton bareng pre season Liverpool FC vs Tottenham Spurs diakhiri dengan sahur dan bakti sosial.
Selain itu BigReds juga punya program “OGOT” One Goal One Thousand for Charity. Program ini adalah program amal bantuan untuk sepakbola, pendidikan dan anak-anak Indonesia, dimana satu gol yang dicetak oleh LFC bernilai 1000 rupiah dan akan dikumpulkan mulai dari awal musim hingga berakhirnya musim pertandingan LFC.  (mag-18)

Pemprovsu Gagal Atasi Busung Lapar

MEDAN-Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dinilai gagal melaksanakan visi-misi kepemimpinan Syampurno 2008-2013. Pasalnya, dengan visi misi  rakyat tidak bodoh, tidak lapar, tidak sakit dan punya masa depan, masih ditemukan ada anak penderita busung lapar di Sumut, tepatnya di Padang Lawas Utara (Paluta).

“Dengan gagalnya visi misi yang sudah dijadikan sebagai perda Sumut ini, maka tindakan Pempropsu dengan membiarkan ada masyarakat busung lapar merupakan bentuk pelanggaran perda,” kata Anggota DPRD Sumut asal daerah pemilihan (Dapil) Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) Mulkan Ritonga didampingi Pasiruddin Daulay kepada wartawan, di Medan, Selasa (31/7).

Seperti diberitakan, tiga bocah warga Desa Sidingkat, Kecamatan Padangbolak, Kabupaten Paluta dilaporkan mengalami gizi buruk. Ketiga bocah, Sehat Harahap (7), Saramadani Harahap (5) dan Bosi Harahap (9). Ibu ketiga anak tersebut, Masnuripa Siregar mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi ketiga anaknya. Menurutnya, penyebab ketidaknormalan anaknya adalah kurang gizi. (smg)

Menanti Kampus Antikorupsi

Oleh: Misbahul Ulum

Persoalan korupsi bukanlah hal baru di Indonesia. Bahkan sudah seperti lingkaran setan yang tak pernah menemukan titik akhir. Korupsi telah mendarah daging dan menyerang kesemua lapisan masyarakat. Mulai dari pejabat, birokrat, pengusaha, bahkan sampai kalangan akademisi-pun ikut terlibat dalam jaringan terlarang ini.

Akhir-akhir ini banyak diwartakan di media massa, beberepa PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia terindikasi kuat melakukan tindakan korupsi. Sungguh ironis, perguruan tinggi yang seharusnya berperan sebagai laboratorium negara, media transformasi nilai-nilai kebajikan serta tempat memupuk nilai-nilai keluhuran telah ternodai oleh praktik kotor korupsi.

Berbagai kasus korupsi di kampus-kampus yang belakangan marak terjadi umumnya disebabkan oleh penyelewengan yang dilakukan oleh para pejabat dan penyelenggara perguruan tinggi (Rektor, Staff). Akan tetapi, jika dilakukan analisis yang lebih dalam, korupsi di kampus sebenarnya memiliki varian yang sangat beragam.

korupsi tidak hanya sebatas penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh para pengelola perguruan tinggi semata. Akan tetapi lebih jauh, perilaku korup juga telah menjangkiti para mahasiswa yang menimba ilmu di perguruan tinggi. Hanya saja dilakukan dalam level yang lebih kecil.

Dari fenomena ini, dapat dilihat bahwa korupsi adalah penyakit laten yang sudah mendarah daging yang terkadang jarang sekali disadari oleh pelakukanya. Guna menanggulangi penyakit ini, diperlukan penanaman nilai-nilai antikorupsi sejak dini. Khususnya bagi kalangan mahasiswa yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa.

Pendidikan Antikorupsi

Cita-cita menjadikan kampus terbebas dari praktik korupsi ini sebentar lagi akan terjawab. Kemendikbud bersama dengan KPK resmi menerapkan pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan jenjang perguruan tinggi, sejak tahun ajaran baru 2012 ini.

Kebijakan baru itu setidaknya mampu menjawab persoalan korupsi di kampus yang belakangan mulai marak terjadi. Hal ini juga sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat luas akan bahaya korupsi. Khususnya di dunia kampus yang sudah begitu memprihatinkan.

Barangkali prkatik korupsi di kampus ini telah menjadi kekhawatiran semua orang. Oleh karenanya, penerapan pendidkan antikorupsi harus mendapat apresiasi serta dukungan dari semua kalangan. Terlebih kalangan akademisi dan perguruan tinggi sebagai penjaga moral dan etika bangsa.
Melalui pendidikan antikorupsi ini, diharapkan praktik-prkatik kotor korupsi akan segera terberantas. Lebih jauh, sekaligus uapaya untuk melakukan pemotongan generasi sejak dini dan menyelamatkan generasi muda (pelajar dan mahasiswa) dari praktik-praktik terlarang korupsi.

Kampus dan korupsi

Sesungguhnya kampus adalah miniatur dan cerminan negara. Didalamnya tidak hanya terdapat struktur kepemimpinan yang menyerupai negara saja. Tetapi  juga terdapat calon-calon pemimpin bangsa yang ditempa dengan nilai-nilai luhur guna menjadi pemimpin yang kuat di masa mendatang.
Praktik korupsi sebenarnya bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Bahkan di kampus yang dianggap sebagai tempat paling suci dan sakral juga tidak luput dari tindakan korup. Tidak hanya pejabat kampus saja. Bahkan oknum-oknum kampus seperti mahasiswa dan dosen juga terbiasa dengan praktik haram ini.

Misalnya saja adalah kebiasaan korupsi jam mengajar yang dilakukan dosen serta korupsi biaya SPP dari orang tua yang sering dilakukan oleh mahasiswa. Maka dari itu, tidaklah berlebihan jika pendidikan antikorupsi menjadi harga mati. Khususnya di perguruan tinggi.

Pemicu Korupsi

Perilaku korup biasanya diawali dengan kebiasaan berperilaku tidak jujur. Tindakan ini memang terkesan biasa saja. Bahkan telah menjadi hal yang legal. Perilaku ini dapat dijumpai dari kebiasaan contek menyontek mahasiswa saat UTS dan UAS, nitip absen disaat tidak berangkat kuliah, menggunakana jasa ghostwriter saat mengerjakan tugas, sampai membeli skripsi sebagai syarat kelulusan.

Itu semua adalah perilaku-perilaku kecil yang secara tidak sadar selalu dilakukan oleh mahasiswa hingga akhirnya menjadi sebuah konsensus dan seolah telah dilegalkan. Nah, Jika kebohongan-kebohongan kecil ini telah menjadi kebiasaan sejak dini, tentu tidak mengherankan jika kelak, mereka menjadi pemimpin yang tidak jujur.

Thomas Jefferson pernah berkata bahwa intisari dari seluruh pemerintahan adalah kejujuran. Jika kejujuran telah menjadi barang yang langka maka tidak heran jika perilaku-perilaku korup, curang selalu terjadi dan terulang. Lebih jauh, Thomas Lickona (1992) perbendapat bahwa budaya tidak jujur adalah salah satu tanda bangsa menuju jurang kehancuran. Dan harus dicatat “ketidakjujuran sekali akan menuntut ketidakjujuran lanjutan guna menutup ketidakjujuran pertama, dan begitu seterusnya”. Jika tindakan tidak jujur ini telah menjadi budaya generasi saat ini, merujuk pendapat Thomas Lickona, maka tinggal menunggu saat-saat kehancuran bangsa.

Kampus Antikorupsi

Pendidikan anti-korupsi seharusnya tak perlu ada manakala setiap mahasiswa memiliki integritas yang baik, dan kampus benar-benar menjadikan integritas dan kejujuran sebagai landasan. Dan harus disadari juga jika pendidikan antikorupsi sejatinya hanyalah alat untuk meminimalisir tindakan korup secara formal melalui jalur pendidikan semata. Keberhasilannya-pun hanya dapat dilihat dipermukaan saja. Belum tentu seseorang yang telah menempuh pendidikan antikorupsi lantas tidak korup. Sebab tindakan ini adalah tindakan laten yang disebabkan oleh kebiasaan tidak jujur.

Untuk itu, selain pengajaran pendidikan antikorupsi melalui jalur pendidikan formal, hal yang tak lebih kalah penting adalah menciptakan kampus antikorupsi, yakni penanaman budaya jujur pada diri mahasiwa serta seluruh elemen perguruan tinggi sejak dini. Ini adalah sebagai tindak lanjut dari pendidikan antikorupsi yang didapatkan di bangku perkuliahan.

Guna menyambut dan menerapkan pendidikan antikorupsi ini, seluruh komponen lembaga pendidikan harus bekerjasama dan saling bahu membahu. Seluruh civitas akademica juga berkewajiban menciptakan iklim lembaga pendidikan yang penuh dengan kejujuran. Jika kejujuran telah menjadi kebiasaan, maka secara otomatis praktik harap korupsi akan hilang dengan sendirinya.  Wallahu a’lam bi al-shawab.(*)

Penulis Pegiat AntiKorupsi di IAIN
Walisongo Semarang.

Bubur Pedas Daging, Sejarah Masjid Raya Tebingtinggi

ADUK: Sofiyan Yakup ahli juru masak bubur daging pedas  Mesjid Raya Nur Addin Tebingtinggi.//sopian/sumut pos
ADUK: Sofiyan Yakup ahli juru masak bubur daging pedas di Mesjid Raya Nur Addin Tebingtinggi.//sopian/sumut pos

TEBINGTINGGI- Selama bulan Ramadan pihak kenaziran Masjid Raya Nur Addin di Jalan Soeprapto,Kota Tebingtinggi  memberikan buka puasa kepada masyarakat Kota Tebingtinggi yaitu dengan menghadirkan bubur pedas daging gratis sebanyak 120 mangkok (piring) setiap harinya.
“Mulai awal Ramadan, Masjid Nur Addin tetap membuat bubur pedas daging kepada masyarakat Kota Tebingtinggi,”ujar Sofiyan Yakub (54) juru masak yang sudah profesional Senin (30/7).

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bubur pedas daging adalah beras sebanyak 5 kg,daging lembu 1,5 kg dan bahan utama yaitu rempah-rempah penyedap bubur secara alami.

Waktu untuk memasak bubur memakan hingga empat jam. Nasi (bubur) yang dimasuk terus diaduk hingga beras benar-benar menjadi bubur. “Bahan bakar tidak menggunakan kayu atapun kompor gas,tetapi kita memasak bubur daging pedas menggunakan arang yang didatangkan dari Kota Pekanbaru,”ujar Sofiyan.

Sofiyan Yakub dibantu oleh dua rekan kerjanya. ‘’Banyak masyarakat yang datang sore harinya,”kata Sofiyan.
Bahkan menurut Sofiyan juru masak bubur daging pedas,dua pejabat Pemko Tebingtinggi setiap harinya tidak bisa lepas dari menu bukaan yang satu ini. Mereka adalah Wakil Walikota Tebingtinggi Irham Taufik dan Staf Ahli Ismail Budiman.  Mereka setiap hari tetap memesan bubur pedas sebagai menu berbuka puasa,”ujarnya.

Sementara itu pihak kenaziran Mesjid Raya Nur Addin, Huzamrhi mengatakan bubur daging pedas ini hanya ada setiap bulan Ramadan dan sudah menjadi tradisi turun-temurun ratusan tahun lalu semenjak berdirinya jaman kerajaan Padang sekitar tahun 1856 yang memimpin di Kota Tebingtinggi. (mag-3)

Bus Kota dan Penegak Hukum

Sesama bus kota katanya tidak boleh saling mendahului. Kalimat klasik ini sangat ‘hidup’ di antara para sopir bus kota bukan? Ya, semacam kode etik (yang tak tertulis) di antara mereka agar tidak ada saling ‘bentrok’.

Sejatinya kalimat di atas tidak saya maknai sebagai etika antara sopir bus di jalanan kota semata. Saya melihatnya lebih luas lagi. Maksudnya, pesan dari kalimat klasik itu bisa disesuaikan dengan profesi atau pekerjaan lain.  Satu di antaranya adalah pada lembaga penegak hukum. Yang terbaru adalah antara Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Belakangan ini ‘perseteruan’ antara Polri dan KPK kembali mengemuka. Adalah kasus korupsi proyek pengadaan simulator SIM yang menjadi penyebab. KPK yang mengaku telah memantau dugaan korupsi ini sejak Januari 2012 silam, melakukan aksi mengejutkan dalam dua hari ke belakang. Mereka menggerebek Mabes Polri, tepatnya gedung Korp Lalu Lintas (Korlantas). Mereka pun menjadikan Irjen Pol Djoko Susilo sebagai tersangka korupsi.  Wow! Bisa bayangkan lembaga penegak hukum malah diincar oleh lembaga penegak hukum lainnya.

Itulah sebab, ketika KPK berusaha mencari bukti di Mabes Polri mereka mendapat sedikit perlawanan.  Kondisi malam itu sempat memanas. Tidak itu saja, barang bukti pun sempat ditahan. Bahkan, petugas KPK malah sempat ‘dikurung’.

Beruntung, para ‘Sopir Bus’ itu tak saling bertengkar hingga lalu lintas macet. Mereka menahan diri dan membiarkan ‘para pemilik perusahaan bus’ saling berdialog. Ya, para petinggi KPK dan Polri akhirnya berembuk soal penuntasan kasus itu. Pasalnya, di sisi lain, pihak Polri ternyata sedang mengusut kasus itu juga. Namun, pihak Polri belum menetapkan tersangka, sementara KPK telah lebih dulu melakukan itu.

Terserahlah. Yang jelas, ‘saling salip’ antara ‘bus kota’ ini sempat menimbulkan kecurigaan lain. Ya, ada ketakutan ‘para sopir bus’ akan bentrok seperti zaman dulu. Yakni di era kasus yang melibatkan Komjen Susno Duaji atau yang lebih dikenal dengan istilah cicak versus buaya. Untuk hal ini, Menko Polhukam Djoko Suyanto sampai buka suara. Katanya, “Jangan sampai nuansa seperti zaman lalu, cicak buaya, kpk vs polri tidak terjadi lagi.”

Akhirnya, ‘para pemilik bus kota’ telah berembuk. Ya, pimpinan KPK telah menggelar rapat dengan Kapolri Timur Pradopo. Hasilnya? kedua pihak sepakat adanya joint investigation atau penyidikan gabungan antara KPK dan Mabes Polri.

Selesai. Hm, bagi saya tidak. Bagaimana tidak, kalau ada ‘dua bus’ jalan beriringan di sebuah jalan raya, apakah jalan itu akan muat? Ya, bagaimana dengan pengendara lain bisa lewat, bukankah akan tercipta sebuah kemacetan. Hm semoga saja jalan itu lebar ya… (*)