Home Blog Page 13189

Enno Lerian Keguguran

Enno Lerian
Enno Lerian

Mantan penyanyi cilik, Enno Lerian dilanda musibah. Ia mengalami keguguran ketika mengandung buah hati dari pernikahannya yang kedua dengan pengusaha, Priambodo Sustyo. Hal itu dibenarkan oleh sahabat dekat sekaligus mantan manajer Enno, Aldi.

“Benar keguguran, itu pas hamil dua bulan lebih,” ujar Aldi kepada wartawan. “Tapi stabil sih sekarang, sudah sehat. Dia langsung kerja lagi,” imbuhnya.

Dikisahkan Aldi, setelah dinikahi Priambodo 30 Juli 2011, Enno langsung menjalani program memiliki momongan. Enno ingin segera memiliki anak lagi.

“Sesudah nikah itu dia memang langsung menjalani program hamil. Waktu hamil, ya seneng aja kan dengar teman hamil. Pas keguguran sedih lah, tapi dia orangnya nggak terlalu larut sama kesedihan. Sekarang sudah stabil keadaannya,” ucap Aldi.

Sayang Aldi tidak bisa memastikan kapan pelantun hit anak Si Nyamuk Nakal dan Dakocan itu keguguran. “Saya sih nggak tahu tepatnya ya. Saya tahunya juga minggu-minggu kemarin,” jelasnya.

Sebelum berita keguguran ini, pernikahan Enno dan Priambodo sudah bermisteri. Pasalnya, sebelum menikah, Enno santer pacaran sama mantan suami Rachel Maryam, Muhammad Akbar Pradana alias Ebes. Kala itu Enno disebut-sebut orang ketiga dibalik perceraian Rachel dan Ebes. Santer terdengar pula Enno telanjur dihamili oleh Priambodo.

“Ya soal gosip-gosip gitu nggak benar lah, sebelum nikah dia baru haid kok. Jadi nggak mungkin ya. Ya sebetulnya Enno nggak ngerahasiain, kita nggak mau repot juga menyita waktu. Karena awalnya kita pikir nanti aja biar ramai sekalian, tapi ya memang resiko juga ya,” tangkis ibunda Enno, Rina Puspitasari kala itu.

Aldi juga ikut membela. Kata dia, Enno dan Priambodo menikah baik-baik. Mereka maju ke pelaminan karena beneran klop.

“Enno sempat single sebulan, dua bulan, terus ketemu dengan Prim. Dua sampai tiga bulan mereka putuskan menikah. Saya nggak tahu keputusan ini asalnya dari mana. Saya juga nggak berani tanya. Mungkin karena dia orang Jawa kasih tanggal baik. Kenalnya dari perkenalan gitu. Priambodo kan juga duda satu anak, mungkin mereka merasa cocok. Alasan (hamil) apa. Saya nggak bisa ngomong, Enno yang tahu,” ucap Aldi.

Sebelum Priambodo, Enno menikah dengan Mohammad Nayaka Untara pada 2003. Dari Naya, Enno memiliki anak lelaki yang diberi nama Bumi Pradipta Pria Untara. Namun pada 2006, Enno dan Naya bercerai. Sebelum Enno melayangkan gugatan cerai, dia dan Naya sempat lama pisah ranjang. Tujuannya untuk introspeksi. Tapi cara itu tidak ampuh, mereka kerap bertengkar. Kala itu muncul kabar, masalah terbesar karena Enno dekat dengan sejumlah pria. Di antaranya pengusaha bernama Deni, seorang DJ asal Bandung dan wartawan sebuah majalah. Namun gosip tadi dibantah pengacara Enno kala itu, Engkus Kusnadi. “Saya bisa jamin itu. Perceraian mereka murni karena kurangnya komunikasi,” tegas Engkus.

Ibu Enno, Rina mengaku tidak mengetahui akar permasalahan Enno-Naya. Karena mereka di matanya masih terlihat akur. “Saya kaget waktu Enno mengatakan itu pada saya. Enno sama sekali nggak pernah cerita soal masalah rumah tangganya. Mungkin dia kasihan sama mamanya, “ cetus Rina.
“Sebagai ibu, hati saya perih. Tapi saya tidak mau menangis. Saya tidak ingin Enno melihat saya bersedih, kasihan dia. Nanti beban dia jadi bertambah,” lanjutnya.

Rina berharap, hubungan antar keluarganya dan keluarga Naya yang telah terjalin baik bakal terjaga. Juga buat perkembangan Bumi.
“Perpisahan, kan, hanya status saja. Enno dan Naya selalu bilang kok kalau mereka berdua akan selalu mengurus Bumi. Mereka berdua sayang pada Bumi,” katanya. (rm/jpnn)

Berpikir seperti Orang Medan, Bertutur seperti Orang Solo

Sahur Bersama Tokoh Masyarakat Sumut, Hery Subiansauri (6)

Melanjutkan sahur bersama tokoh masyarakat, Tim Sahur Sumut Pos kali ini menyambangi kediaman Dir Binmas Poldasu Kombes Pol DR H Hery Subiansauri SH MH MSi. Berbicara tentang dunia kepolisian menjadi topik hangat pagi itu. Di antara beragam topik yang dibicarakan, ia menyebutkan lima rahasia sukses.

Tim Sumut Pos, Medan

KELUARGA: Kombes Pol Hery Subiansauri  keluarga saat sahur bersama Sumut Pos.//redyanto/sumut pos
KELUARGA: Kombes Pol Hery Subiansauri dan keluarga saat sahur bersama Sumut Pos.//redyanto/sumut pos

Mulai pukul 03.10 WIB Tim Sahur Sumut Pos saling kontak. Meski tak bersamaan berangkat, langkah kaki membawa kami ke satu tujuan. Dua puluh menit kemudian, enam orang Tim Sahur Sumut Pos tiba di Komplek Malibu, Kecamatan Medan Polonia; kediaman Hery Subiansauri.

Senyum muncul dari pria yang akrab disapa ‘Komandan’ itu, menyambut kedatangan Tim Sahur Sumut Pos. “Mau minum apa? Teh manis, kopi?” ujarnya.
“Merasa sepi kalo nggak ada tamu. Senang rasanya hari ini Tim Sahur Sumut Pos datang ke rumah saya yang sederhana ini,” tambahnya.

Kemudian Hery mengenalkan isterinya kepada Sumut Pos. Dengan mengenakan baju muslim HJ Chery Subiansauri sempat berbincang ringan dengan Tim Sahur Sumut Pos. Nyaris hampir seluruh perbincangan dibuahi canda. Tak pelak, tawa memenuhi rumah yang tak kecil itu. Meski begitu, bukan berarti tak ada cerita duka. Hery membawa Tim Sumut Pos pada masa kelam, saat dia masih belum seperti sekarang.  Semua itu bermula dari kasus yang katanya off the record, tepatnya pada 1997. “Sejak tahun itu saya berubah. Saya tidak pernah lagi benci dengan orang,” katanya.

Hery pun mengaku berubah drastis. Dia menjadi mengerti dan memaknai hidup dan menghargai orang lain. Hingga, setiap tahun pun dia selalu menunaikan ibadah ke tanah suci Makkah. “Di Makkah saya selalu memohon ampun kepada sang Khalik,” ungkapnya.

Sekitar 30 menit berbincang diruang tamu, Tim Sahur Sumut Pos dipersilahkan mencicipi hidangan sahur yang sudah tersusun rapi di atas meja. Usai santap sahur, sesaat kemudian, anak-anak Hery bernama HJ Wulan Subiansauri dan HJ Dewi Subiansauri turun dari lantai dua kemudian langsung menyalami Tim Sahur Sumut Pos. “Yang paling bungsu masih tidur. Namanya Akbar Subiansauri,” sebut Mantan Kapolres Subang tersebut.

Rasa humor yang tinggi di diri Hery, membuat Tim Sahur Sumut Pos tidak ada henti-hentinya tertawa. Dari bicara dunia Kepolisian, topik pembicaraan pun berganti ke mana suka.

Usai santap sahur dan salat Subuh bukan berarti perbincangan selesai. Hery terus mengajak Sumut Pos berbincang di kursi meja makan. Petuah pun dia keluarkan tanpa canggung. “Ada lima kiat jika kita ingin sukses. Pertama berpikirlah seperti orang Medan, bertutur katalah seperti orang Solo, bertingkah lakulah seperti orang Surabaya, bekerjalah seperti orang China dan yang terakhir berusahalah seperti orang Padang,” sebutnya.

Dari perbincangan itu, terkuak kalau Hery ‘double job’. Selain bertugas di Direktorat Bina Mitra Masyarakat Polda Sumatera Utara, beliau juga bertugas sebagai dosen di 6 Universitas di Kota Medan. “Ya, saya mengajar di enam universitas di Kota Medan. Saya ngajarnya di Fakultas Fisip dan Hukum,” ujarnya.

Menurut cerita dari beberapa kalangan, Hery dianggap sangat peduli pada bawahan. Menyikapi hal itu, Hery tak menampik. Bahkan, ketika membeicarakan anggotanya yang susah, sang Kombes sampai menitikkan air mata. “Ibarat pohon, akarnya selalu ke bawah. Makanya pohon itu kokoh. Begitu juga dengan manusia, kita harus selalu melihat ke bawah. Jadi bos, pikirkan anggota. Jika itu kita laksanakan, dengan sendirinya, kita akan kokoh,” tegasnya.
“Itulah sebab, ketika saya memakai sepatu, kepala saya yang menunduk. Jadi, bukan kaki saya yang naik,” tambah Hery berfilosofi.

Di akhir-akhir perbincangan, mantan Kapolres Sukabumi itu menyampaikan pesan. “Kalau orang banyak dimarahi karena kesalahannya, tingkat kinerjanya akan turun. Namun sebaliknya jika orang itu dipuji-puji, tingkat kinerja dan prestasinya pasti semakin baik. Jadi jika Anda menjadi bos, jangan seenaknya saja sama bawahan. Saya banyak belajar dari hinaan yang saya terima dulu dari atasan saya pada 1997,” jelasnya.

Suasana akrab, tawa, canda mengalir deras. Maklum saja, karakter Hery begitu humoris. Tim Sahur Sumut Pos sampai terpingkal-pingkal tertawa mendengar candaannya. Bahkan, waktu pun tak terasa berlalu hingga sekira hampir pukul 07.00 WIB. Tim Sumut Pos pun langsung permisi. Dengan langkah kaki yang ringan, Hery yang pagi itu menggunakan peci hitam mengantarkan Tim Sahur Sumut Pos sampai ke pagar rumah. (*)

Mobil Listrik Seharga Dua Sepeda Motor

Gang Car Karya PT DI Siap Jelajah Jalan Sempit

GANG CAR: Mobil listrik karya PT Dirgantara Indonesia ()  diberi nama Gang Car dipajang  markas PT   Bandung, Jumat (27/7).//Hilmi Setiawan /JAWA POS/jpnn
GANG CAR: Mobil listrik karya PT Dirgantara Indonesia (DI) yang diberi nama Gang Car dipajang di markas PT DI di Bandung, Jumat (27/7).//Hilmi Setiawan /JAWA POS/jpnn

BANDUNG- PT Dirgantara Indonesia (DI) tak mau ketinggalan mendukung lahirnya mobil listrik nasional. Perusahaan produsen pesawat itu memberikan alternative mobil listrik bernama Gang Car. Sesuai namanya, mobil tersebut siap menjelajah gang-gang sempit perkotaan karena bodinya yang ramping.
Direktur Utama (Dirut) PT DI Budi Santoso Jumat (27/7) memamerkan Gang Car dengan empat varian. Yakni, dua varian berpenumpang dua orang termasuk supir. Kemudian satu varian berpenumpang empat orang termasuk supir. Terakhir, mobil berpenumpang dua orang termasuk supir, dilengkapi bak terbuka di bagian belakang.

Budi mengatakan, sejatinya mobil itu sudah tercipta lebih dari 10 tahun lalu. “Waktu itu kami buat karena sedang menganggur, tidak ada order pekerjaan utama (pembuatan pesawat terbang, Red),” katanya. Saat ini, kata Budi, anggota tim pencipta Gang Car itu tinggal tersisa dua orang saja.

Gang Car ini diciptakan untuk masyarakat yang tinggal di gang-gang kecil. Lebar mobil ini tidak sampai 150 cm. Sehingga cukup mudah untuk melewati gang-gang sempit. “Keunggulan kami di sini. Gang sempit tidak bisa dilalui kendaraan-kendaraan pada umumnya kan?” jelasnya.

Meski belum diproduksi secara masal, PT DI sudah memiliki cetakan untuk membuat bodi mobil tersebut. Sehingga jika nantinya Gang Car dipilih pemerintah untuk diproduksi secara masal, mereka sudah siap.

Ganjalan utama saat ini adalah merubah sistem bahan bakar. Budi menuturkan jika Gang Car ini diciptakan sepuluh tahun lalu dengan bahan bakar minyak (BBM). Tetapi sekitar sepekan lalu, Budi mengaku mendapat telepon dari Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk mengubah sumber energy Gang Car dari BBM menjadi listrik.

Budi menjanjikan, dalam sepekan ke depan, Gang Car harus bisa jalan dengan sumber energi listrik. Dia optimistis mobil ini siap dipamerkan di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 30 Agustus mendatang. Dia yakin, PT DI tidak akan mengalami hambatan berarti dalam merubah sumber energi dari BBM ke listrik.

Mobil ini, kata Budi, mampu melaju dengan kecepatan 60 km per jam. Soal harga, Budi memperkirakan, mobil yang sudah dipatenkan ini, harganya setara dengan dua motor bebek standar. “Mobil ini mudah-mudahan bisa menjadi alternatif penduduk perkotaan,” katanya.

Mendikbud Mohammad Nuh yang ikut meninjau proyek Gang Car mengaku senang karena saat presentasi di depan SBY nanti, sudah memiliki banyak alternatif mobil listrik nasional. “Insyallah tanggal 10 Agustus nanti saya presentasi ke presiden,” kata dia.

Nuh menceritakan, Kemendikbud menjadi koordinator program mobil listrik nasional. Dalam presentasi di hadapan Presiden SBY nanti, Nuh akan memaparkan seluruh jenis mobil listrik nasional yang selama ini berhasil ia kumpulkan.  (wan/nw/jpnn)

Syarat Pengalaman Punya Celah Manipulasi

JAKARTA – Fraksi Partai Keadilan Sejahtera menilai pengaturan syarat pengalaman bagi calon kepala daerah memiliki banyak manfaat. Namun, pasal tersebut tetap memiliki celah potensi kecurangan yang bisa dimanfaatkan partai politik untuk mengusung calon yang sejatinya belum memenuhi kualifikasi berpengalaman.

“Kami setuju pasal itu supaya tidak main-main,” kata anggota Komisi II DPR Agus Purnomo di Jakarta, kemarin (26/7). Syarat berpengalaman itu sendiri diatur pada ketentuan pasal 47 RUU Pemerintah Daerah.

Agus tidak menampik bahwa keberadaan pasal itu untuk menghindari pencalonan calon kepala daerah yang instan. Sosok pengusaha ataupun artis saat ini kerap dicalonkan sebagai kepala daerah demi pertimbangan elektabilitas suara. Sementara, kualitas calon kepala daerah itu sendiri kadang terabaikan. .
Menurut Agus, hal yang harus diantisipasi adalah celah manipulasi atas syarat pengalaman yang diatur dalam RUU Pemda. Perlu diketahui, syarat pengalaman itu hanya bisa diverifikasi secara administratif. Sosok yang tidak dikenal luas publik atau belum memiliki track record yang baik, bisa maju sebagai calon berdasar syarat pengalaman itu.

Wakil Ketua Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya Ahmad Muzani menilai syarat berpengalaman tidak perlu diatur di RUU Pemda. Jika pasal itu diatur, harus ada konsekuensi pengaturan pasal itu di revisi UU Pilpres. “Kalau kepala daerah rumit dan njlimet, pemilu presiden harus lebih rumit,” ujarnya secara terpisah.

Menurut Muzani, syarat pengalaman sebagai calon kepala daerah tidak perlu diatur. Syarat itu cukup mengatur bahwa calon kepala daerah diusung oleh parpol atau gabungan parpol, atau suara masyarakat jika calon itu independen. “Jangan diperumit. Nanti kompetisinya dalam proses demokrasi. Betapapun hebatnya, kalau tidak dipilih, sama saja,” tandasnya. (bay/agm/jpnn)

Seleksi Panwasda Terganjal Dana

MEDAN- Seleksi anggota Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Sumatera Utara (Sumut)di 32 Kabupaten/Kota se-Sumut untuk Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) tahun 2013 mendatang terancam tertunda. Hal ini lantaran hingga saat ini Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi Sumut (Provsu) tak kunjung mengucurkan anggaran ke Tim Seleksi (timsel) Panwaslu. Timsel terpaksa menanggulangi biaya seleksi ini secara swadaya.

“Untuk pendaftaran dan seleksi administrasi, bisalah kita lakukan secara swadaya. Kalau untuk biaya seleksi selanjutnya dari mana kami dapat anggarannya, sementara Panwaslu Provinsi Sumatera Utara hingga penutupan pendaftaran ini belum sepeser pun memberikan dana,” ungkap Ketua Tim Seleksi Calon Panwaslu Zulkarnain Nasution, Sekretaris Panwaslu, Juni Sitanggang, dan anggota Sofyan Shauri Nasution di Jalan Airlangga, Medan, Kamis (26/7). Untuk tahapan seleksi lanjutan timsel mengaku ‘menyerah’ karena butuh dana Rp300 juta.

Menurut Zulkarnain, dampak dari semua itu timsel Panwaslu tak bisa memastikan apakah tahapan seleksi selanjutnya bisa dilaksanakan atau tidak. ‘’Kalau sudah ada anggaran nanti dilanjutkan, tapi kalau anggarannya tak ada ya, terpaksa seleksi ditunda dulu,” katanya.

Pihak Panwaslu Sumut membenarkan soal ketiadaan anggaran dari Pemprovsu tersebut. “Anggaran dari pemerintah belum kami terima,” ungkap Pimpinan Panwaslu, Ahmad Solihin, dan Kepala Bagian Humas Panwaslu Sumut, Fakhruddin, yang dikonfirmasi terpisah, kemarin.

Berdasarkan penjelasan Biro Keuangan Provsu, lanjut Solihin, anggaran Panwaslu tak bisa dikucurkan karena belum ditampung di buku Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Sumut. Alokasi anggaran Panwaslu akan dimasukkan di Perubahan-APBD (P-APBD)  Sumut 2012 yang dibahas pada Agustus mendatang. Solihin berpendapat mengacu Permendagri 57/2009 seyogianya tak ada alasan Pemprovsu mengabaikan anggaran  Pilgubsu di APBD 2012. “Ini murni kesalahan Pemprovsu. Kenapa anggaran Pilgubsu tak ditampung di APBD 2012, padahal tahapan pengawasan Pilgubsu 2013 dimulai sejak tahun ini,” tukasnya.

Hingga penutupan pendaftaran calon Panwaslu kabupaten/kota pada Kamis (26/7), pukul 17.00 WIB, terdaftar 543 orang yang mendaftar di Kantor Seleksi Penerimaan Panwaslu Jalan Airlangga, Medan. (ari)

[table caption=”Pendaftar Panwaslu Kabupaten/Kota”]

1. ,Medan    ,    111 orang
2. ,Deli Serdang    ,    48 orang
3. ,Simalungun     ,     27 orang
4., Mandailing Natal     ,     19 orang
5. ,Siantar     ,     18 orang
6. ,Asahan     ,     18 orang
7. ,Tapanuli Tengah    ,    17 orang
8. ,Tapanuli Selatan     ,     17 orang
9. ,Batubara     ,     17 orang
10. ,Padang Lawas     ,     16 orang
11. ,Langkat     ,     15 orang
12., Toba Samosir     ,     15 orang
13. ,Gunung Sitoli     ,     15 orang
14., Labuhan Batu     ,     15 orang
15. ,Dairi     ,     14 orang
16. ,Binjai     ,     13 orang
17. ,Tebing Tinggi     ,     13 orang
18., Serdang Bedagai     ,     12 orang
19. ,Tapanuli Utara     ,     12 orang
20. ,Sibolga     ,     12 orang
21., Humbahas     ,     11 orang
22. ,Labuhan Batu Utara     ,     11 orang
23. ,Tanah Karo     ,     10 orang
24. ,Tanjung Balai     ,     10 orang
25., Samosir     ,     9 orang
26. ,Nias Utara     ,     orang
27. ,Padang Lawas Utara     ,     9 orang
28. ,Pakpak Bharat     ,     7 orang
29. ,Nias Selatan     ,     7 orang
30. ,Nias Barat     ,     6 orang
31. ,Labusel    ,    6 orang
32. ,Nias     ,     4 orang

[/table]

Chairuman Harahap Safari Ramadhan

MEDAN – Anggota DPR RI asal Sumut, Dr H Chairuman Harahap, SH, MH yang juga bakal calon Gubsu dari Partai Golkar bersama rombongan mulai 24 Juli 2012 menggelar safari Ramadhan di sejumah masjid di kabupaten/kota di Sumut. Tujuan kegiatan religi ini dimaksudkan untuk lebih membuka dialog dan mendekatkan diri ke tengah-tengah masyarakat.

“Nantinya seluruh kegiatan ini diisi dengan siraman rohani, berbuka puasa bersama dan berdialog dengan masyarakat yang dilakukan Bapak Chairuman Harahap dan tim lainnya,” kata juru bicara Chairuman Centre, Diatche Gunung Tua Harahap di Medan, Senin (23/7).

Menurur Diatche, segala persiapan untuk kegiatan di bulan suci Ramadhan ini sudah dilaksanakan dengan baik, sehingga diharapkan safari ini dapat berjalan sesuai rencana. “Di semua lokasi safari Ramadhan, Bapak Chairuman tampil berdialog bersama masyarakat,” ujar Diatche.

Ia menambahkan, untuk Kota Medan, selama hampir sepekan, kegiatan dimulai 24 Juli 2012 pukul 19.00 WIB di sejumlah masjid, di antaranya Masjid Juang 45, Kecamatan  Medan Perjuangan. Untuk luar kota Medan dimulai Sabtu  (28/7) di Masjid Tanah 1000, Kecamatan Binjai Selatan, disusul Deliserdang, yakni di Masjid Nurul Hakim, Desa Cinta Rakyat, dan Masjid Percut Sei Tuan dan Masjid Muhammadiyah, Galang  digelar mulai  1-4 Agustus 2012.

Sedangkan di Langkat,  dimulai 29 Juli 2012, di Masjid Alawiyah, Kecamatan Sei Wampu dan 5 Agustus 2012 di Masjid Jami’, Pangkalan Susu, dan 10 Agustus 2012 di Masjid Zabal Nur, Kecamatan Bahorok.

Pada 8 Agustus Chairuman akan bersafari ke  Masjid Simpang Dolok, Kecamatan Rambutan, Tebingtinggi. Selanjutnya  9 Agustus 2012 di Kecamatan Lima Puluh, Batubara, disusul  di Kabupaten Simalungun yang digelar Masjid at-Taqwa Huta Siderejo, Kecamatan Panombena Pane pada 12 Agustus.

Pada safari terakhir yang digelar dari 13-15 Agustus  akan dilangsungkan di  Asahan  dan Tanjung Balai  serta di Rantau Prapat, yang digelar di Masjid An-Namiroh, Kedai Ledong, Kecamatan Kisaran Timur, dan TB  Selatan Tanjung Balai, Datuk Bandar, serta ditutup di Sigambal,    Rantau Selatan. (ton/rel)

Dilantik Soekarno di Banda Aceh, Merangkap Ketua DPR Sumut

Sejarah Gubsu Pertama Sumut Mr SM Amin (1947-1949)  

Mr SM Amin, Gubernur Sumatera Utara Pertama
Mr SM Amin, Gubernur Sumatera Utara Pertama

Pada era RIS, identitas Sumatera Utara hilang karena wilayahnya masuk dalam Negara Sumatera Timur. Pada 15 Agustus 1950, pascakembalinya RI dari bentuk RIS ke NKRI, provinsi Sumut kembali terbentuk dengan wilayah mencakup tiga keresidenan, yakni Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli dengan Medan sebagai ibukota. Gubernur definitif pertamanya adalah A. Hakim yang pada 1953 digantikan Mr S.M. Amin.

SEJARAH mencatat Mr SM Amin sebagai Gubsu pertama sejak 14 April 1947 dengan jabatan sebelumnya Gubernur Muda Sumatera Utara. Pada 19 Juni 1948 dia dilantik Presiden Soekarno sebagai gubernur definitif berdasarkan UU No. 10 Tahun 1948. Uniknya dalam era ini, SM Amin merangkap sebagai eksekutif sekaligus legislatif. Ia pula ditetapkan selaku Ketua DPR Provsu, namun dengan catatan tidak memiliki hak suara.

Dalam UU 10/1948 tentang ‘’Pemerintahan Sumatra’’ yang ditetapkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang awalnya dibentuk sebagai badan pembantu Presiden. Dalam UU itu dijelaskan, berhubung luasnya Sumatra perlu dibagi menjadi tiga provinsi, yakni Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan.

Khusus Provinsi Sumatra Utara kelak membawahi tiga keresidenan, yakni Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatra Timur, dan Keresidenan Tapanuli. Dalam buku ‘’Penyelenggaraan Pemerintahan di Provinsi Sumatera Utara’’ (1991) dituliskan, meskipun  UU Pembentukan Provinsi Sumut baru ditetapkan pada 15 April 1948, namun setahun sebelumnya Pemerintah Pusat sudah mempersiapkan gubernur muda sebagai pemimpin pemerintahan pertama.
Maka, dalam buku ‘’Mr SM. Amin: Perjalanan Hidupku Selama Sepuluh Windu’ (1987) ditorehkan nama Mr SM Amin sebagai Gubsu pertama. SM Amin saat itu merangkap dua jabatan strategis yakni Kepala Jabatan Kehakiman Daerah Aceh dan akil Ketua Dewan Perwakilan Keresidenan Aceh. Sebagai pemimpin pertama di provinsi baru ini SM Amin dilantik oleh Presiden Soekarno pada 15 Juli 1948 di Banda Aceh.

Ada kisah kecil kenapa pelantikan itu dilakukan di Banda Aceh. Ketika itu Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumut sepenuhnya diduduki oleh Belanda. Itu pula alasan SM Amin sempat memindahkan ibukota Provinsi Sumut ke Pematang Siantar. Begitu kota yang berjarak 130 kilomrter dari Medan ini uga diduduki Belanda pada agresi II, SM Amin memindahkan roda pemerintahan di Kutaraja (sebutan awal Banda Aceh). Itulah yang membuat Presiden Sukarno melantik SM Amin sebagai Gubernur Sumut pertama di Banda Aceh.

Selang lima bulan dilantik sebagai gubernur, SM Amin melantik DPR Sumatera Utara dalam sidang paripurna di Tapak Tuan yang berlangsung dari 13-16 Desember 1948. Lantas, timbul pertanyaan kenapa begitu cepat SM Amin bisa melantik para anggota Dewan (DPR) Provinsi Sumut? Apakah tidak didahului proses politik yang panjang agar ada pembagian proporsional diantara faksi-faksi yang ada saat itu?

Mengutip artikel sejarawan dan wartawan Muhammad TWH (2010), dituliskan, SM Amin mengadopsi strategi Gubernur Sumatera Mr. Teuku Moehd Hasan. Setelah Provinsi Sumatera ‘dimekarkan’ menjadi tiga provinsi dan dilantiknya Gubernur Muda untuk masing-masing provinsi, Gubernur Muda mempersiapkan perangkat pemerintahan daerah, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat, juga perangkat-perangkat daerah lainnya.

Akibat agresi Belanda bisa dibayangkan betaap sulitnya tugas yang diemban Mr SM Amin ketika itu. Berkonsultasi dengan partai-partai politik untuk menyusun keanggotaan DPR Provinsi Sumut juga bukan perkara enteng. Posisi ibukota di Banda Aceh membuat hubungan ke Residenan di Tapanuli sangat susah, demikian juga hubungan ke Sumatera Timur. Kesulitan ini dapat dilihat, ketika anggota Dewan dari Tapanuli, dan dari Sumatera Timur dipanggil untuk dilantik dan bersidang di Tapak Tuan.

Mereka yang datang dari Tapanuli harus menempuh perjalanan laut dengan menggunakan motor boa, padahal di laut terus menerus kapal perang Belanda melakukan patroli. Bila ada boat ke luar dari daerah pasti akan diberondong dengan senjata otomatis. Demikian pula anggota Dewan dari Sumatera Timur agar sampai di Tapak Tuan harus menempuh hutan belantara. Anggota DPR Provinsi Sumatera Utara periode awal ini tercatat 45 orang, namun yang bisa menghadiri pelantikan, sekaligus sidang pertama  itu, berjumlah 29 orang saja. Mr SM Amin termasuk sosok fenomenal dalam dunia politik Indoensdia pada masa itu.

Berdarah Batak Mandailing, SM Amin yang lahir dan besar di Tanjung Pinang, sebuah kota tua di pinggir laut di Kepulauan Riau, dia tadinya diharapkan menjadi dokter oleh ayahnya. Akan tetapi, cita-cita prestius itu kandas di tengah jalan lantaran dirinya tak betah melanjutkan pendidikan di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1913.

STOVIA merupakan sekolah dokter yang diperuntukkan untuk semua ras walaupun semula hanya diperuntukkan pada golongan pribumi. SM Amin tak tahan melihat gaya pendidikan di internaat (asrama) yang penuh dengan penindasan. Dia amat  menentang segala praktik penindasan yang merendahkan hak asasi manusia, sekaligus membenci penjajahan dalam bentuk apapun. Setelah keluar dari STOVIA pada tingkat dua, SM Amin menyadari kekeliruan dan cara berpikirnya yang terlampau emosional.

‘’Padahal dengan menjadi dokter, saya bisa mengabdikan diari kepada bangsa dan negara,’’ katanya. Amin sempat tinggal bersama G.A.Tambunan, seorang penilik kesehatan di Batavia yang tinggal di kawasan Senen. Dia sempat mengisi waktunya dengan bekerja di salah satu firma di daerah itu sebelum memutuskan melanjutkan kembali pendidikan di sekolah hukum dan meraih gelar ‘Mr’ atau Meester in de Rechten.

Dari sini awal SM Amin berkecimpung di dunia birokrasi pada masa-masa awal pemerintahan, yang membawa langkahnya menjadi Gubsu pertama. Biografi lengkap tentang dirinya sudah pula dibukukan oleh Sejarawan Unimed DR. Phil. Ichwan Azhari, MS dengan judul ‘’SM. Amin: Riwayat Hidup & Perjuangannya’’.   (valdesz)

Penyelidikan Pembunuh Orangtua Serda TNI Prianto, Polisi Periksa Lima Saksi

LUBUK PAKAM-Kepolisian belum dapat mengungkap motif pembunuhan terhadap pasangan suami istri (pasutri), Suyan (67) dan Watinah (66) Warga Jalan Tanjungmorawa-Batangkuis Dusun IV Desa Telagasari Kecamatan Tanjungmorawa, Kamis, (26/7) sekitar pukul 22.00 wib.

Kapolsek Tanjungmorawa, AKP Telly Alvin SiK mengaku belum mengetahui motif pembunuhan orangtua Sersan Dua (Serdas) TNI Prianto, anggota Bataliyon 126/Kala Cakti di Kisaran itu. “Kasus ini masih lidik, urusan nyawa payah tanggapannya,” kata AKP Alvin.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Deliserdang, AKP Anggoro Wicaksono mengatakan saat ini pihaknya sudah memeriksa 5 saksi. “Hingga saat ini sudah lima saksi yang kami periksa. Lima saksi itu yakni anak korban, menantu dan tetangga korban,” ujarnya.

Hingga, Jum’at (27/7) rumah kediaman korban sebagai lokasi pembantain terjadi masih dipasang police line. Beberapa personel Reskrim Polres Deliserdang masih melakukan olah TKP. Beberapa tempat dirumah itu didokumentasikan dengan difoto, bahkan bercak darah yang menempel keramik, di dinding serta di kipasangin tidak luput didokumentasi.

Tetangga korban Warni (45), dirinya masih tidak percaya dengan kejadian yang dialami pasutri itu. Pasalnya siang harinya dirinya masih melihat Suyan berada di depan rumah. Korban masih membuka kedainya yang ada di depan rumahnya. “Kami tahu setelah mendengar jeritan minta tolong dari dalam rumah. Warga sini kenal dengan pasutri itu, bahkan tidak ada musuhnya,” ujar Warni.

Disebutkan pasutri itu dibunuh secara sadis dengan cara dibacok pada bagian lehernya, Kamis (26/7) malam. Suyan ditemukan tergeletak bersimbah darah di ruang tengah sedangkan Watina ditemukan dengan kondisi yang sama di dalam kamar.

Peristiwa pembunuhan itu diketahui putri korban, Fitriani yang baru pulang dari Tanjungmorawa sekitar pukul 22.00 WIB. Fitriani masih sempat memegang Suyan dengan kondisi bersimpah darah. Korban sempat diboyong ke RSU Pirngadi untuk divisum.

Sutris anak angkat korban, berharap agar polisi cepat menemukan pelaku serta motif pembunuhan terhadap orangtua angkatnya itu. ”Setahu saya Suyan dan Watinah gak punya musuh, dulu ada permasalah sama mantan menantunya tapi itu sudah lama sekali, urusannya juga sudah selesai,” kata Sutris.(mag12/btr/man/smg)

Jalan Rusak dan Polusi Udara, Warga Belawan Protes Proyek Dinas Perkim

LABUHAN-Puluhan warga bermukim Lingkungan VI dan VIII Kelurahan Nelayanindah Kecamatan Medan Labuhan, memblokir akses Jalan Khaidir Kecamatan Medan Labuhan. Warga memprotes munculnya polusi akibat debu yang timbul dari pengerjaan proyek penimbunan lahan perumahan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kota Medan, Jumat (27/7) kemarin.

Keterangan diperoleh Sumut Pos menyebutkan, warga merasa keberatan atas beroperasinya puluhan unit damtruk tronton pengangkut tanah merah di kawasan jalan tersebut, sehingga menimbulkan polusi udara dan kerusakan bangunan rumah milik warga.

“Tanah merah yang diangkut kadang berjatuhan di jalan dan kalau hari hujan tanah itu menjadi licin kayak kubangan lumpur, dan saat hari panas debunya berterbangan sampai menyesakkan napas dan mata warga terasa perih,” kata, Sumarni (34) salah seorang warga.

Pantauan Sumut Pos tumpahan tanah timbun yang diangkut oleh puluhan unit dam truk tersebut memang tampak berserakan di sepanjang akses jalan tersebut, sehingga debu berterberangan.

Camat Medan Labuhan, Zain Noval mengatakan, dari hasil pertemuan, mulai Senin mendatang pihak pelaksana proyek akan menggunakan truk pengangkut tanah berkapasitas lebih kecil dari sebelumnya, dan itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak.
Pihak pelaksana proyek juga berjanji akan melakukan penyiraman agar tidak menimbulkan polusi debu. (mag-4)

Banyak Calo, Sidang Tilang Ricuh

MEDAN- Sidang tilang yang dilaksanakan Pengadilan Negeri (PN) Medan ricuh, Jumat (27/7). Pasalnya, pengunjung sidang membludak dan pegawai pengadilan terbatas.Sidang yang dipimpin Hakim Subrata ini berlangsung di Ruang Cakra 7. Bahkan kericuhan terjadi juga tempat pembagian surat tilang.
Pantauan  wartawan, sidang yang dihadiri sekitar ribuan pengunjung itu ricuh karena pegawai tidak jelas dalam pembagian kertas tilang. Pegawai lebih cenderung mengutamakan calo dari pada pengujung yang sudah hadir mulai jam 8 pagi.

“Aku ini puasa jadi kekuatan ku berkurang, jangan dipersulitlah, teriak Sastri(45) yang sudah menunggu 2 jam. Rupanya, salah seorang pria dari belakang  berteriak juga, “Kami bayar bukan gratis,” hardiknya sambil menendang pintu ruang sidang. Mereka kecewa karena orang yang baru datang (calo) cepat dilayani sementara mereka sudah menunggu lama belum juga selesai. (gib/smg)