Home Blog Page 13216

KEK Sei Mangkei Harus Beroperasi 2015

JAKARTA-Pemkab Simalungun punya tanggung jawab besar mempersiapkan beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. Pasalnya, sesuai ketentuan di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2012 tentang KEK Sei Mangkei, kawasan ekonomi seluas 2002,77 hektar yang terletak dalam wilayah Kecamatan Bosar Maligas itu harus sudah siap beroperasi awal 2015.

Sesuai dengan PP yang diterbitkan 27 Februari 2012 itu, Pemkab Simalungunlah yang menetapkan badan usaha yang melakukan pembangunan dan pengelolaan KEK Sei Mangkei. Di pasal 3 ayat (2) PP 29 Tahun 2012 itu menyatakan, “Badan Usaha sebagaimaan dimaksud pada ayat (1) melaksanakan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei sampai siap operasi dalam jangka waktu paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini.”

Target operasional 2015 ini diprediksi bakal meleset. Mengapa? Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Robert Endi Jaweng, menyebut sejumlah masalah yang bakal menghambat realisasi proyek nasional ini.

Pertama, rendahnya kepedulian Pemda. Namun menurut Robert, Pemda tidak serta-serta langsung disalahkan. Pemerintah pusat, menurutnya, seringkali tidak melibatkan Pemda secara aktif dalam membuat rencana program nasional di daerah, hingga ke tingkat pelaksanaannya. “KEK Sei Mangkei ini, sejauh mana Pemda dilibatkan dalam pembahasannya? Jangan-jangan tiba-tiba ketok palu,” ujar Robert Endi Jaweng kepada Sumut Pos di Jakarta, Senin (23/7).

Sementara, sesuai ketentuan, pengelolaan sebuah KEK langsung ditangani pusat, yang nantinya punya kepanjangan tangan di provinsi bernama Dewan Kawasan dan di kabupaten bernama Administrator Kawasan. Dewan Kawasan terdiri atas ketua, yaitu gubernur, wakil ketua yaitu bupati/walikota, dan anggota yaitu unsur Pemerintah di provinsi, unsur pemerintah provinsi, dan unsur pemerintah kabupaten/kota.

Dewan Kawasan bertugas melaksanakan kebijakan umum yang telah ditetapkan oleh Dewan Nasional untuk mengelola dan mengembangkan KEK di wilayah kerjanya, serta membentuk Administrator KEK. Tugas Administrator Kawasan Ekonomi Khusus ini, diatur secara rinci di UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Di  Pasal 23 ayat (1) disebutkan, Administrator KEK punya tiga tugas.

Pertama, melaksanakan pemberian izin usaha dan izin lain yang diperlukan bagi Pelaku usaha yang mendirikan, menjalankan, dan mengembangkan usaha di KEK. Kedua, melakukan pengawasan dan pengendalian operasionalisasi KEK. Ketiga, menyampaikan laporan operasionalisasi KEK secara berkala dan insidental kepada Dewan Kawasan. Diatur pula, pelaksanaan pemberian izin sebagaimana dimaksud adalah dilakukan melalui pelayanan terpadu satu pintu.

Selanjutnya, di pasal 24 dinyatakan, dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 23, Administrator KEK memperoleh pendelegasian atau pelimpahan wewenang di bidang perizinan dari Pemerintah dan pemerintah daerah.

Menurut Robert Endi Jaweng, pembukaan KEK selalu membuat Pemda terpinggirkan. Pasalnya, proses pembahasannya pun selalu dari atas ke bawah (top down). Sementara, saat ini merupakan era otonomi daerah. “Sehingga Pemda tak legowo jika di wilayahnya ada wilayah (enclave, red) yang pengelolaannya dikendalikan pusat, sementara Pemda tak dapat apa-apa,” ujar Robert.

Problem kedua soal pembagian kewenangan. Dijelaskan Robert, KEK Sei Mangkei ini nantinya memang tidak seperti Badan Otorita Batam (BOB), yang punya kewenangan mutlak mengurusi indistri di sana dan Pemko Batam tidak punya kewenangan apa pun di kawasan BOB. Pola pembagian kewenangan yang ‘ekstrem’ ini, menurut Robert, sering menjadi sumber konflik antara Pemko Batam dengan BOB.

Meski KEK Sei Mangkei tidak seekstrem BOB, tapi diingatkan Robert, sejak awal pembagian kewenangan ini harus jelas, yakni antara Pemkab Simalungun dengan Administrator KEK Sei Mangkei.

Saran Robert, agar Pemkab Simalungun bisa punya rasa memiliki, maka harus mendapatkan insentif tertentu atas keberadaan KEK Sei Mangkei ini. “Bisa saja dari fiskal, berapa porsi bagi hasil pajak penghasilan. Dan jangan pula masalah izin-izin menjadi sepenuhnya kewenangan pusat,” ujar pria asal Flores itu.

Prinsipnya, lanjut dia, jangan sampai Pemkab Simalungun yang punya wilayah, malah merasa mendapatkan beban atas keberadaan KEK Sei Mangkei. “Harus ada timbal baliknya dan jelas diatur sejak awal,” ujarnya.

Diingatkan Robert, ke depan, jika KEK Sei Mangkei nantinya maju, sudah pasti membawa dampak-dampak sosial lainnya. Bukan hanya yang baik seperti menyerap tenaga kerja, tapi juga implikasi yang buruk. Implikasi-implikasi sosial itu nantinya menjadi tugas pemda untuk menyelesaikannya. “Contohnya di Batam, banyak rumah-rumah liar dan kumuh. Itu implikasi kawasan industri, yang merangsang orang datang. Nah, itu tugas siapa? Itu urusan Pemda. Jadi, jangan sampai Pemda mendapatkan bebannya saja,” ucap Robert.

Dijelaskan, kunci persoalan ini adalah koordinasi yang bagus antara pusat dan daerah. Jika jelek koordinasinya, berbagai persoalan terus muncul tak terselesaikan. “Seperti soal lahan, pusat oke tapi Pemda belum oke. Kalau bisa, itu jadikan urusan internal pemerintah. Kalau sampai urusan internal pemerintah diekspor, maka para calon investor malas datang,” sarannya.

Lantas, bagaimana jika hingga 2015 KEK Sei Mangkei tak juga beroperasi? Di pasal 12 UU Nomor 39 Tahun 2009 sudah diatur, dalam hal setelah tiga tahun KEK belum siap beroperasi, Dewan Nasional melakukan perubahan atas usulan sebelumnya, memberikan perpanjangan waktu paling lama dua tahun, dan/atau mengambil langkah penyelesaian masalah pembangunan KEK.
Sementara, di Penjelasan PP Nomor 29 Tahun 2012 tentang KEK Sei Mangkei, disebutkan Pemkab Simalungun sudah setuju. “Pengusulan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei oleh oleh PT Perkebunan Nusantara III telah mendapat persetujuan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun dan diajukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus. Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus setelah melakukan pengkajian, menyetujui usulan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei dan mengajukan rekomendasi penetapannya kepada Presiden,” demikian bunyi Penjelasan PP 29 Tahun 2012. (sam)

Bicara Sumut Sejahtera, Lahap Santap Pakat

Sahur Bersama Tokoh Masyarakat Sumut, Gus Irawan Pasaribu

Tim Sahur Sumut Pos bertandang ke kediaman salah satu tokoh masyarakat di Sumatera Utara, Gus Irawan Pasaribu Minggu (22/7) dini hari lalu. Tim diperkenankan sahur bersama keluarga Bang Gus, demikian dia acap disapa, di kediamannya di Komplek Taman Setia Budi Indah (Tasbih)
Blok LL No 27 Medan.

Tim Sumut Pos, Medan

SAHUR: Gus Irawan  keluarga saat sahur bersama Sumut Pos, Minggu (22/7).//triadi wibowo/SUMUT POs
SAHUR: Gus Irawan dan keluarga saat sahur bersama Sumut Pos, Minggu (22/7).//triadi wibowo/SUMUT POs

Tim tiba tepat pukul 03.25 WIB. Tak lama menanti, istri Gus, Asrida Murni Siregar mempersilakan Sumut Pos masuk. Tim yang berjumlah empat orang diminta masuk ke ruang tamu. Hanya berselang lima menit kemudian, Gus Irawan Pasaribu muncul dengan stelan baju piama putih dipadu dengan renda coklat serta perpaduan celana keeper hitam. Sapaannya yang ramah menyalami satu per satu tim sahur, tak lupa menanyakan kabar.

Di rumah dua lantai itu, tampak perpaduan ornamen Eropa dan Timur Tengah. Perbincangan ringan pun digelar. Kebetulan Gus Irawan yang baru pensiun sebagai Direktur Utama Bank Sumut itu kini sedang bersiap maju menjadi bakal calon Gubernur Sumut. Maka, perbincangan tentu saja tak jauh-jauh dari konsep bagaimana menjadikan Sumut daerah yang maju nan sejahtera.

Menjadikan Sumut Sejahtera harus dimulai dari pemimpin yang berkomitmen, berpengalaman dan mampu menggerakkan perekonomian serta memiliki terobosan baru dalam menjalankan roda pemerintahan. Selanjutnya?

Di sela-sela perbincangan ringan itu, tim sahur Sumut Pos disuguhi minuman teh hangat, yang bercita rasa mint.

Ketika disinggung sejumlah pertanyaan mengenai kesibukannya pasca tak lagi menjabat Direktur Utama Bank Sumut, Gus Irawan malah mengaku memiliki kesibukan yang jauh lebih padat. Kini Gus harus menyambangi banyak masyarakat di seluruh penjuru Sumut.

Saat ditanya apa tujuannya, Ketua Umum KONI Sumut itu mengakui, bahwa apa yang dilakukannya hanya untuk meladeni apa yang sudah menjadi aspirasi banyak masyarakat dan organisasi kemasyarakatan (Ormas). Selanjutnya, adanya keputusan rapat keluarga yang menyebutkan harus menyahuti aspirasi masyarakat menuju Sumut satu pada tahun 2013 mendatang.

Bapak tiga anak dari Okti Divita Irawan alias Putri, Putra Ahmad Syarif Irawan dan Fauzan Fariz Irawan mengaku memiliki tekad dan selalu memegang komitmen setiap apa yang disampaikannya di hadapan publik. Hal itu bisa dilihat dari pengalaman bertugas selama 12 tahun menjadi Dirut Bank Sumut, dari mulai masa-masa sulit hingga sekarang yang disebut masa gemilang. Sehingga untuk mewujudkan Sumut Sejahtera itu perlu beragam kerja keras dan pengalaman memimpin.

Gus membeberkan, pada 2013 mendatang banyak hal yang terjadi di Sumut, bukan hanya pemilihan kepala daerah melainkan dimulainya operasional Bandara Udara di Kualanamu, pengoperasionalan Sei Mangkei dan PT Inalum yang habis kontraknya dengan pihak Jepang.
Seiring itu, Bang Gus yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah menyatakan, khusus PT Inalum, dirinya sudah membaca laporan keuangan perusahaan Jepang itu. Bila disebutkan selama 27 tahun merugi dan baru 3 tahun terakhir ini ada keuntungan. Sebenarnya itu tidak benar. “Jepang sudah kadali kita, saya sudah baca laporan keuangannya,” katanya.
Bang Gus menegaskan, Pemprovsu harus memiliki andil di PT Inalum, karena PT Inalum merupakan perusahaan untung. Hanya selama ini ada hal yang sangat mendasar yakni selisih kurs mata uang antara yen, dollar AS dan rupiah, di mana kredit PT Inalum memakai dollar AS dan pembayarannya pakai yen, inilah yang disebut merugi.
“Ini sangat tidak masuk akal, masa urusan mendasar saja tak bisa diselesaikan selama 27 tahun. PT Inalum perusahaan besar, jadi saya tidak percaya kalau Inalum itu merugi,” katanya.
Berangkat dari kepentingan pengambil alihan PT Inalum, Gus mengaku untuk mendatangkan investor ke Sumut sangat mudah. Pasalnya, Sumut merupakan propinsi kaya dan letaknya sangat strategis. Cara mendatangkan investor ke Sumut itu mesti ada tiga cara yaknbi, pangkas birokrasi, hapus biaya perizinan yang tak resmi dan berikan kepastian hukum kepada investor.
“Saya beranalogi, seperti kita naik sudako (angkutan umum, Red), pak sopir pasti kasih gratis bagi penumpang yang naik, tapi setelah turun baru pak sopir kasih tarif. Jadi sama halnya mengelola pemerintahan ini, bila investor mau masuk silahkan saja, bila perlu berikan pengawalan intens. Bila sudah masuk, maka kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya menaiki taksi,” paparnya.
Di tengah perbincangan yang menjurus serius itu, Istri Gus Irawan mengingatkan, bahwa makanan sudah tersedia dan mengajak sahur. Tim pun beranjak ke meja makan yang tak jauh dari ruang tamu. Di meja makan itu ada tiga anak Gus menunggu dan satu orang keponakannya.
Di meja makan tampak terhidang sejumlah menu makanan, mulai ikan bawal panggang, ikan teri sambal, udang goreng sambal kering, tempe goreng dan sayur rebusan serta sambal.
Melihat ada yang kurang, Gus langsung meminta pakat. Ya, pakat, makanan khas Mandailing yang merupakan rotan muda. Tak lama, sepiring pakat pun dihidangkan. Tampak Gus lahap menikmati pakat tersebut.
Masih di meja makan, Gus Irawan menegaskan, dalam mewujudkan kedua hal tersebut dan memajukan Sumut Sejahtera membutuhkan pemimpin yang memiliki leadership, smart managerial, dan mampu mengendalikan diri. “Tiga hal inilah yang mesti ada dalam seorang pemimpin untuk memajukan rakyatnya,” ujarnya di meja makan.
Tepat saat imsak, Gus Irawan pergi meninggalkan rumah bersamaan dengan tim sahur Sumut Pos yang juga sudah berpamitan izin pulang. Gus pergi untuk mengisi ceramah di Masjid Raya Al Mahsun Medan. (*)

Mobil Listrik jadi Kendaraan Dinas Menteri

JAKARTA – Impian Indonesia untuk memiliki mobil nasional (mobnas) listrik tak lama lagi bakal menjadi kenyataan. Ini setelah berbagai kementerian teknis siap bahu-membahu menyukseskan proyek mobnas listrik.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, tidak hanya mendukung, namun mobnas listrik juga akan menjadi kendaraan dinas para pejabat, termasuk anggota kabinet. “Begitu dinyatakan laik dan layak (jalan), semua menteri akan menggunakan (mobnas listrik),” ujarnya usai rapat koordinasi membahas mobnas listrik di kantornya kemarin (23/7).

Sebagaimana diketahui, selain mobil listrik Ahmadi yang berjenis city car, saat ini salah seorang kreatir mobil listrik di Jogjakarta yang oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan dijuluki Putra Petir, juga sedang ada pengembangan mobil listrik sekelas Ferrari. Selain itu, masih ada pengembangan beberapa jenis mobil listrik lainnya.

Menurut Hatta, pemerintah memang tidak main-main dalam pengembagan mobnas listrik. Karena itu, semua kementerian terkait sudah diinstruksikan untuk bersama-sama memberikan iklim kondusif bagi mobil ramah lingkungan tersebut. “Wujud konkritnya, pemerintah akan segera membentuk pusat pengembangan teknologi dan industri otomotif nasional,” katanya.

Hatta menyebut, masing-masing kementerian memiliki tanggung jawab sendiri. Misalnya, Kementerian Keuangan menyusun paket insentif pajak seperti pembebasan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), pengurangan bea masuk barang modal atau komponen mobnas listrik yang saat ini masih harus diimpor karena belum bisa diproduksi di Indonesia. “Tentu, kita juga akan mengembangkan industri komponen di dalam negeri, misalnya untuk baterai,” sebutnya.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian akan menyiapkan regulasi untuk proses produksi mobnas listrik, Kementerian ESDM menyiapkan infrastruktur seperti stasiun pengisian listrik (charge), adapun Kementerian Pendidikan Nasional serta Kementerian Riset dan Teknologi akan membantu proses riset dan sinergi dengan berbagai perguruan tinggi (PT). “Sedangkan BUMN, nanti bisa menjadi investor, swasta juga bisa,” ujarnya.

Hatta menyebut, pemerintah telah menggandeng enam perguruan tinggi dan 2 lembaga yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Adapun enam PT yang digandeng adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan Politeknik Manufaktur Bandung. “Laporan dari Mendikbud, kemajuannya sangat pesat,” katanya.

Menurut Hatta, pemerintah menargetkan, pada 2014, mobnas listrik yang saat ini masih dalam bentuk prototipe atau purwarupa, sudah bisa diproduksi massal. (owi/jpnn)

Produsen Tempe Mogok 3 Hari

Harga Kedelai di Luar Kendali

JAKARTA-Harga tempe di pasaran untuk tiga hari ke depan terancam melambung. Pasalnya, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyatakan untuk tak memproduksi tempe selama tiga hari ke depan, mulai 25 Juli hingga 27 Juli 2012.

Akibatnya, dikhawatirkan terjadi krisis tempe di pasaran. Aksi mogok ini dipicu makin tingginya harga bahan baku , yakni kedelai di pasar.
Ketua II Bidang Usaha Gakoptindo Sutaryo mengatakan, aksi penghentian produksi tahap awal ini bakal dilangsungkan di beberapa kota seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Banten. “Sebenarnya aksi ini akan kita laksanakan secara serentak setelah Lebaran, namun harga sudah tidak tahan lagi,” ungkap Sutaryo kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos) kemarin (23/7).

Sutaryo menjelaskan, para perajin tempe sudah tidak mampu lagi menahan fluktuasi harga kedelai yang berada di luar kendali. Dibeberkan, harga kedelai pada Januari-Februari tahun ini masih Rp5.500 per kilo. Angkanya makin naik pada April-Mei sebesar Rp6 ribu per kilo. Bahkan, pada Juni, rata-rata harga kedelai di pasaran sudah mencapai Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilo. “Tentu saja harga tersebut sudah tidak masuk akal untuk bahan baku kedelai,” terangnya.

Di dalam aksi tersebut, Sutaryo menegaskan ada beberapa poin yang diharapkan mampu diselesaikan oleh Pemerintah. Pertama, Sutaryo menyebutkan, pemerintah sudah harus masuk untuk mengintervensi pasar kedelai, supaya harga bisa terkendali. Kedua, intervensi tersebut bisa termasuk pembebasan bea masuk kedelai yang saat ini dipatok lima persen.

Ketiga, Bulog  diharapkan kembali menjadi penyangga kedelai. Dan permintaan keempat adalah, pihaknya menginginkan swasembada kedelai pada 2014 segera terlaksana, karena pelaksanaannya selalu mundur dari target.  (gal/kim/jpnn)

Survei Jadi Bisnis Menggiurkan

Aturan main bagi lembaga survei yang marak saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) dan Pemilu perlu dirumuskan dalam Undang-undang. Langkah ini diharapkan dapat menjaga etika ilmiah survei politik sekaligus menghindari komodifikasi dan manipulasi data.

Peneliti PRIDE Indonesia Agus Herta Sumarto menyebutkan, bisnis survei saat pilkada sangat menggiurkan. Pasalnya, berdasarkan data penelitian PRIDE Indonesia, bisnis survei pemilukada ini bisa meraup keuntungan sebesar Rp715,5 miliar. Analisis potensi ekonomi survei, satu kali pemilukada rata-rata 3-4 pasang calon.

Biaya satu kali survei sekitar Rp150 hingga Rp250 juta per calon untuk kabupaten/kotamadya. Dan dalam satu tahun minimal tiga kali survei. Jadi potensi ekonomi yang didapatkan dalam bisnis survei opini publik adalah Rp150 juta dikali 3 pasang calon dikali 3 kali survei dikalikan 530 kabupaten/kotmadya dan provinsi. Hasilnya, prospek bisnis ini akan menghasilkan uang sebesar Rp715,5 miliar.

“Ini peluang bisnis yang luar biasa. Sehingga banyak pihak yang kemudian berlomba-lomba melakukan survei, bahkan mendirikan lembaga survei,” ujarnya dalam diskusi ‘Survei Pemilukada DKI, Survei Ilmiah atau Dagang’ di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (17/7).

Dia mempertanyakan hasil survei yang dilakukan beberapa lembaga survei dalam pemilukada DKI putaran pertama yang menghasilkan hasil survei yang jauh berbeda satu sama lain.

Padahal, lembaga survei ini menggunakan pertanyaan, responden, populasi dan metode yang sama serta waktu survei yang tidak jauh berbeda. “Jika hasilnya tidak sama, maka hasil survei patut dipertanyakan. Jangan-jangan unsur keilmiahannya telah hilang,” terangnya.

Dia mencontohkan hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Cyrus Network, Puskaptis dan Median. Keempat lembaga survei ini menggunakan metode survei dan pertanyaan yang sama dengan waktu pelaksanaannya yang tidak jauh berbeda, namun hasilnya sangat berbeda sekali.
Seperti hasil survei Puskaptis yang dilakukan pada 2-7 April, prediksi perolehan suara pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) pada peringkat 1 meraih 47,22 persen dan pasangan Jokowi-Basuki peringkat kedua dengan suara 15,16 persen.

Kemudian Cyrus Network melakukan survei sehari setelahnya yaitu 8-16 April. Hasilnya terlihat berbeda dari prediksi perolehan suara, yaitu Foke-Nara 42,40 persen dan Jokowi-Widodo 31,80 persen.

“Puskaptis dan Cyrus Network, melakukan survei hanya beda satu hari, namun selebihnya sama pelaksanaannya. Tapi hasil surveinya bedanya sangat besar, apa mungin opini masyarakat berubah dalam waktu 24 jam? Begitu juga dengan MEDIAN dan LSI. Ini yang saya bilang lembaga survei itu keilmiahannya sudah hilang,” jelasnya.

Menurutnya, trik untuk melihat lembaga survei yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya,  dapat berdasarkan tiga hal. Yaitu, melihat track record lembaga survei itu, apakah hasil surveinya sering salah atau benar. Kemudian independensi lembaga survei yaitu siapa yang membiayai survei tersebut dan memiliki lembaga konsultan atau tidak.

“Inilah yang bisa jadi trik untuk melihat lembaga survei yang dipakai ilmiah atau tidak. Jadi kalau ada lembaga survei yang salah dicatat saja, biar terlihat track recordnya,” pungkasnya.

Terpisah, desakan serupa  mengemuka dalam diskusi ”Lembaga Survei, Ilmiah atau Dagang?” di Jakarta, akhir pekan lalu. Acara yang dipandu intelektual muda Muhammadiyah, Abd Rohim Ghazali, itu menghadirkan pembicara calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Didik J Rachbini, dan peneliti PRIDE Indonesia, Agus Herta Sumarto.

Didik mengungkapkan, dari banyak lembaga survei, hanya beberapa yang cukup independen dan mempertahankan etika ilmiah. Sebenarnya boleh saja lembaga survei menjadi konsultan politik untuk pemenangan kandidat tertentu. Namun, itu harus dilakukan secara transparan atau hasil surveinya hanya ditampilkan untuk internal pemesan. Berbahaya jika lembaga survei mengaku independen, tetapi melabrak kode etik, bahkan menjadi alat kampanye untuk memengaruhi publik.

Tanpa aturan main, manipulasi data oleh sebagian lembaga survei bakal membuat politik karut-marut. Didik pun mendesak semua pemangku kepentingan untuk merumuskan aturan main bersama, termasuk ketentuan sanksi bagi pelanggar aturan itu.
Agus menilai, sebagian lembaga survei kini lebih menonjolkan unsur komersial daripada etika ilmiah. Itu terjadi karena jumlah pilkada di Indonesia banyak dan sering sehingga memberikan peluang bisnis miliaran rupiah. Dalam situasi ini, lembaga survei kadang merekayasa metode demi memberikan data sesuai pesanan.

Di lain pihak, Direktur Eksekutif Cirus Surveyors Group Andrinof Chaniago mengatakan, lembaga survei harus membedakan diri ketika bertindak sebagai lembaga independen atau tim pemenangan kandidat tertentu.

Untuk itu, saat mengumumkan hasil survei, terutama yang mendekati pemungutan suara, lembaga survei setidaknya harus menjelaskan sumber dana pelaksanaan survei.

”Masalah di lembaga survei Indonesia, sering kali mereka tidak membuat batas yang jelas ketika juga bertindak sebagai konsultan pemenangan. Untuk itu, mereka perlu menjelaskan sumber dana pelaksanaan survei, bahkan jika perlu sampai metodologi dan proses pengumpulan data. Jika survei itu dibiayai kelompok tertentu, mereka tidak boleh menyebutnya independen,” kata Andrinof yang juga Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia.

Sementara, M Qodari dari Indobarometer mengaku seringkali ada klien yang memintanya untuk ditempatkan di posisi tertentu dalam survei.
”Saya menolaknya. Survei ini masalah kredibilitas. Lembaga survei akan dirugikan jika hasil surveinya sering berbeda dengan fakta di lapangan,” ucapnya. (wok/jpnn)

SEJARAH LEMBAGA SURVEI DI IDNONESIA

Survei opini publik di Indonesia mulai marak sejak era reformasi. Pada era Orba, survei-survei hanya berkisar soal merancang pembangunan dan tidak terkait sama sekali dengan politik, khususnya soal Pemilu.

1967

Lembaga survei opini publik PT Suburi dibentuk. Bergerak di survei-survei pembangunan dari proyek pemerintahan.

1972

Pemerintah mencabut izin PT Suburi karena dalam salah satu surveinya pada tahun itu menanyakan soal sifat kepemimpinan sejumlah tokoh.

1990

Tabloid ‘Monitor’ membuat survei popularitas tokoh, namun karena menyinggung isu SARA, tabloid itu ditutup.

1999

Pada pemilu 1999, muncul beberapa lembaga yang melakukan survei, diantaranya RCP (Resource Productivity Center), IFES (International Foundations for Election System), KPP (Komite Pemberdayaan Pemilih), Lab. Fisip UI, dan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi & Sosial).

2003

Lembagai Survei Indonesia (LSI) didirikan pada 17 September oleh Denny JA, Saiful Mujani, dan M. Qodari.

2004

Denny JA dan Qodari mundur dari LSI. Denny mendirikan Lingkaran Survei Indonesia, sedangkan Qodari mendirikan IndoBarometer.

2007

Asosiasi Riset Opini Publik se-Indonesia dibentuk. Saat musyawarah nasional lembaga survei se-Indonesia yang diikuti 34 lembaga survei. Denny JA terpilih sebagai ketua.

2009

Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia dibentuk dengan ketuanya Andrinof Chaniago, pimpinan Cirus Surveyors Group. Munas pertama organisasi ini digelar di Jakarta pada 24-25 Januari 2009 yang diikuti oleh 47 orang perwakilan dari 21 lembaga survei opini publik.

Olahan Berbagai Sumber

PKS Mulai ‘Ketar-ketir’

JAKARTA- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai ‘ketar-ketir’ perihal dukungan riil konstituennya di perhelatan Pilkada berbagai daerah. Hasil perolehan suara di Pilgub DKI menjadi cermin bagi partai yang dikenal dengan militansi pendukungnya itu menghitung ulang kekuatan mereka di Pilkada, Pemilu 2014, dan Pilpres 2014.

Sebagaimana terjadi pasangan calon gubernur DKI dari PKS, Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini resmi kandas di putaran pertama. Hanya saja, bagi PKS, kekalahan Hidayat-Didik tak akan mempengaruhi suara PKS pada Pilkada di sejumlah daerah dan Pemilu 2014 mendatang.

“Malah saya percaya sebaliknya. Ini akan memicu kader untuk bekerja lebih keras, karena ini semacam early warning,” kata Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta di ruang kerjanya, Senin (22/7).

Anis sangat meyakini adanya tren terpisah antara perolehan suara di pemilu legislatif, pilkada, dan pemilihan presiden. Perolehan suara di tiga pemilihan itu tidak melulu berbanding lurus. Bahkan sangat besar kemungkinan trennya berbanding terbalik.

Jadi, kata Anis, bila menang pemilihan kepala daerah di satu tempat maka partai akan menang pemilu legislatif di daerah itu. Tetapi bila kalah di pemilihan kepala daerah, perolehan suara partai akan anjlok di daerah itu.

“Itu yang saya maksud dengan split. Jadi, masyarakat bisa membedakan kapan saatnya memilih orang dan kapan saatnya memilih partai,” jelas Anis yang juga Wakil Ketua DPR ini.

Dalam pilkada DKI putaran pertama lalu, Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini menduduki posisi ketiga dengan jumlah suara 508.113. Jumlah total pemilih yang masuk DPT mencapai 6.962.348.  (net/jpnn)

Peleburan PIB dan PKBN Bermasalah

DIGUGAT: Yenny Wahid  (kanan) berbicara  seminar NU belum lama ini. Putri mantan Presiden Gus Dur ini menjadi ketua partai hasil fusi PIB  PKBN.  //jpnn/sumut pos
DIGUGAT: Yenny Wahid (kanan) berbicara di seminar NU belum lama ini. Putri mantan Presiden Gus Dur ini menjadi ketua partai hasil fusi PIB dan PKBN. //jpnn/sumut pos

Dewan Presidium Penyelamatan Partai Perjuangan Indonesia Baru (DPP PIB) resmi mengajukan surat keberatan dan permohonan ke Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkumham), Jumat (20/7).

Sebagaimana dikemukakan Ketua DPP PIB, Roder Nababan, secara khusus kepada koran ini di Jakarta, Senin (23/7), dalam surat itu tak cuma  berisi keberatan DPP PIB, melainkan permohonan agar Menkumham Amir Syamsuddin menolak hasil kongres Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB) di Hotel Redtop, Jakarta pada 12 Juli lalu.

“Kami menolak pula  pendaftaran perubahan nama, lambang, tanda gambar PPIB, serta perubahan susunan kepengurusan Dewan Pimpinan Nasional yang berubah menjadi Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB)”.

Buntut berdiri DPP PIB yang terdiri dari sejumlah Ketua DPD dan deklarator ini bermula dari kongres yang digelar pada 12 Juli lalu.

“Saya katakan itu kongres ilegal. Karena jumlah pesertanya yang hadir hanya 41 orang dan disebut 50 orang. Sementara kami yang punya hak suara di seluruh Indonesia mencapai 200 suara,” ungkap Ketua DPD PIB Provinsi Papua, Tofan Rudi Worumi, kepada koran ini.

Menurut Tofan, agenda kongres seyogianya mengganti kepengurusan DPN. Tapi justru yang terjadi adalah peleburan PIB dengan Partai Kebangkitan Bangsa Nasional (PKBN).

“Jadi direkayasa sedemikian rupa. Peserta sama sekali tak diberikan kesempatan memberi suara,” ungkapnya. Dia merasa aneh karena justru Yeni Wahid yang partainya tak lolos verifikasi menjadi ketua umum. Demikian juga sejumlah ketua DPD yang baru dipegang oleh orang-orang dari kubunya Yeni.
“Lantas kami dapat apa? Ini kan sama saja kami jual partai. Kalau ada deal-deal di pusat, jangan kami di daerah yang dikorbankan,” ungkap Tofan yang mengaku PIB di Papua punya sepuluh kursi di DPRD Kabupaten/kota.

Kekecewaan yang sama juga dikemukakan Ketua DPD Jambi, Roder Nababan. “Kami bukan merusak PKBN. Tapi ingin menyelamatkan PIB,” ungkapnya yang menyatakan paling tidak kini terdapat 13 DPD yang menolak hasil kongres dan akan membawa perkara ini ke jalur hukum.

‘’PIB dimasuki orang, lalu tiba-tiba kita yang sebelumnya dua kali lolos verifikasi malah ikut menjadi partai yang belum terdaftar. Ini kan sangat fatal. Ada apa sebenarnya dibalik ini semua? Kami harus menyelamatkan partai,” ungkap deklarator yang juga Ketua DPD Sumatera Selatan, Imron Terasip.
Hal senada juga dikemukakan Ketua DPD Bengkulu yang merupakan deklarator partai, Wafa, sejumlah deklarator, serta Ketua DPD dan DPC. Untuk itu mereka bermaksud menyelamatkan partai dan  terus berjuang. (gir)

IIK Jamsostek Medan Berbagi Kasih dengan Puluhan Yatim Piatu

Medan- Ikatan Isteri Karyawan Jamsostek (IIKJ) Cabang Medan menggelar bakti sosial dengan menyerahkan bingkisan serta santunan kepada puluhan anak yatim piatu dari Kelurahan Polonia Medan, binaan Ustaz Dalimunthe.

Penyerahan bingkisan berupa mie instan, beras, gula serta makanan siap saji berupa rendang dan uang tali asih kepada 50 anak yatim piatu yang dilaksanakan di Aula Jamsostek Medan, Kamis (19/7).

Turut hadiri Ketua IIK Jamsostek Wilayah I Ny Bandjar Aseli DS, Ketua IIK Cabang Medan Ny Pengarapen Sinulingga, Ketua IIK Cabang Belawan Ny Panji Wibisana, Kepala Kanwil I PT Jamsostek Bandjar Aseli DS, Kacab Jamsostek Medan Pengarapen Sinulingga dan pengurus IIK Jamsostek lainnya.

Ketua IIK Jamsostek Medan Ny Pengarapen Sinulingga usai menyerahkan bingkisan mengungkapkan, terkait bulan ramadhan sudah di ambang pintu, IIK Jamsostek Medan termotivasi untuk saling berbagi kepada anak yatim piatu.

“Kita berharap bingkisan maupun santunan yang diberikan dapat membuat hati para anak yatim piatu bahagia dalam menyambut puasa, Sabtu  nanti,” jelas Ny Pengarapen Sinulingga.

Sedangkan makanan yang sudah siap dimakan, lanjutnya, berupa rendang, dapat dinikmati para anak yatim piatu bersama keluarganya saat sahur pertama nanti.

Sementara Kacab Jamsostek Medan Pengarapen Sinulingga mengungkapkan, kegiatan berbagi dengan sesama tidak hanya menjadi agenda IIK Jamsostek Medan.

“Jamsostek Medan juga sering melaksanakan kegiatan sosial serupa. Dan ini adalah agenda tahunan, setiap jelang ramadhan,” jelas Pengarapen yang turut didampingi Kabid Progsus Yosep Rizal seraya mengucapkan terima kasih kepada mitra kerja Jamsostek Medan seperti bank BTN Syariah dan Bank Jabar yang turut mendukung kegiatan tersebut. (*/ila)

Buruh Deliserdang Minta Hapus Outsourcing

UNJUK RASA: Buruh berasal dari PT Yasanda,  PT Sam Karya Abadi,  PT Prabu Jaya, PT Tani Mas, PT Grand Continental Furnitur saat berunjuk rasa  depan kantor DRPD Deliserdang.//Batara/sumut pos
UNJUK RASA: Buruh berasal dari PT Yasanda, PT Sam Karya Abadi, PT Prabu Jaya, PT Tani Mas, PT Grand Continental Furnitur saat berunjuk rasa di depan kantor DRPD Deliserdang.//Batara/sumut pos

LUBUKPAKAM-Ratusan massa dari enam perusahaan yang tergabung dalam Serikat Buruh Mandiri Indonesia (SBMI) berunjuk rasa di depan kantor DPRD Deliserdang, Senin (23/7) sekitar pukul 10.00 Wib. Buruh menuntut penghapusan sistem kontrak kerja (outsourcing) pada perusahaan di Kabupaten Deliserdang. Para buruh berasal dari PT Yasanda, PT Sam Karya Abadi, PT Prabu Jaya, PT Tani Mas, PT Grand Continental Furnitur. Kelima perusahaan itu beroperasi di Kecamatan Patumbak, sedangkan satu perusahaan lagi dari PT RICH Indonesia berlamat di Dusun V Desa Bandarlabuhan Kecamatan Tanjungmorawa.

Ketua DPC SBMI Kabupaten Deliserdang Sukma Halawa dalam orasinya mengatakan buruh sangat kecewa dengan kinerja dinas tenaga kerja dan transmigrasi (Disnakertrans) pada saat perundingan Kamis (19/7) silam. Bahwa Disnakertrans bersikap tidak tegas untuk menegakkan UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 yang dilanggar pihak Perusahaan PT Yasanda terhadap buruh.  “Sejumlah buruh yang sempat dirumahkan belum juga dipekerjakan kembali,” pekik Halawa.

Bahkan katanya saat ini PT Yasanda belum menjalankan janji-janji yang tertuang dalam nota kesepakatan bersama seperti merenovasi musala dan kantor .
Selesai berorasi, rombongan buruh diterimah Ketua Komisi B DPRD Deliserdang Jaresman Sitanggang, dihadiri Kadisnakertrans Deliserdang Josia Gurusinga. Usai bertemu, para buruh tetap memilih bertahan di halaman kantor DPRD dengan cara mendirikan tenda besar hingga aspirasi mereka dijalankan.(btr)

10 Ton Sampah Diangkut dari Wilayah Pesisir

Pemko Medan Gelar Lomba Bersih Pantai Belawan

BERSANDAR: Sejumlah peserta menyandarkan kapal motornya  mengangkut sampah  telah dikumpulkan dari perairan Belawan untuk ditimbang  panitia, Rabu (18/7). //Rediamto/Sumut pos
BERSANDAR: Sejumlah peserta menyandarkan kapal motornya dan mengangkut sampah yang telah dikumpulkan dari perairan Belawan untuk ditimbang ke panitia, Rabu (18/7). //Rediamto/Sumut pos

Pengumpulan sampah itu dilakukan dengan cara, Pemko Medan melalui Dinas Pertanian dan Kelautan menggelar lomba kebersihan di wilayah Sungai Deli khususnya di Kelurahan Bagan Deli, Medan Marelan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian untuk memeriahkan hari ulang tahun (HUT) ke 422 Kota Medan. Dalam perlombaan tersebut, ada sebanyak 250 peserta yang dibagi ke 50 unit kapal motor. Masing-masing peserta diberikan tangguk jaring untuk  mengambil sampah. Adapun rute yang dilalui sepanjang 1,5 Km, mulai sungai deli tepatnya di Kelurahan Bagan Deli hingga ke pesisir pantai Belawan, tepatnya di Kampung Nelayan.

Para peserta diperlombakan untuk mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya, tim juri akan menilai tim yang paling banyak mendapatkan sampah dinobatkan sebagai pemenang.  Adapun peserta yang menjadi juara I yakni tim kerang layar C karena mampu mengumpulkan sampah sebanyak 2,1 ton,  selanjutnya juara II diperoleh tim Kelurahan Bagan Deli dengan mengumpulkan sampah sebanyak 2 ton dan juara III HNSI mampu mengumpulkan sebanyak 1,8 ton.

Dalam sambutannya Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM yang dibacakan Wakil Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin MSi menyampaikan,  budaya gotong royong dan budaya bersih adalah kebiasaan bangsa kita dalam melaksanakan aktivitasnya, sehingga budaya bersih dan semangat gotong royong   perlu kembali dihidupkan serta dibangkitkan kembali.

Dia menyebutkan, wilayah pesisir Kota Medan terdapat tiga kecamatan yakni Medan Belawan, Medan Marelan dan Medan Labuhan. Ketiga kecamatan tersebut merupakan kawasan yang masuk dalam program nasional, Mina Politan tahun 2011 sampai dengan 2014, karena kawasan itu memiliki potensi alam sumberdaya kelautan perikanan,  khususnya perikanan tangkap.

“Kiranya kita semua perlu merubah mindset berfikir eksploitasi menjadi restrukturisasi, yang maksudnya jangan mengambil hasil laut saja, tapi bagaimana meningkatkan kepadulian terhadap sumberdaya laut,” sebutnya.

Eldin berpendapat, kepedulian terhadap laut sangat penting dikembangkan ke depan. Bila selama ini kerusakan ekosistem perairan akibat pencemaran berupa sampah rumah tangga, maka harus sedini mungkin diantisipasi, yang pada gilirannya akan tercipta keseimbangan struktur siklus hidup biota perairan, baik di sungai maupun di laut, sehingga dapat dipastikan sektor kelautan dan perikanan mampu menjamin masa depan anak cucu kita.

“Saya sangat apresiasi Dinas Pertanian dan Kelautan, dan TNI Angkatan Laut Pangkalan I Belawan yang telah berupaya semaksimal untuk membangkitkan nilai-nilai kebersamaan, kebersihan dan penyalamatan lingkungan berikut habitat perairan pantai kita,” sebutnya.

Dia berharap, kegiatan bersih pantai ini bisa memberikan warna baru bagi masyarakat nelayan, khususnya bisa menjadi satu pola untuk meningkatkan rasa kepedulian dan kesadaran dalam menciptakan budaya bersih serta melestarikan dan memperbaiki siklus kehidupan laut sepanjang pantai, sehingga ekosistem laut menjadi baik.

Hadir pada kesempatan itu, Sekda Kota Medan Ir H Syaiful Bahri, Wadan Lantamal 1 Belawan Kol Mar Yanuar Ludfi, Dirpol Air Poldasu, Plt Kepala Pelabuhan Perikanan Belawan, Polresta Belawan, Plt Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Medan Ir Hj Emelia Lubis, Ketua DPC HNSI Kota Medan serta para pimpinan SKPD.

Eldin bersama sejumlah unsur pimpinan instansi menyerahkan langsung piala bagi para juara lomba bersih pantai. Pada kesempatan itu, Eldin memberikan piala penghargaan dan uang pembinaan serta penyerahan secara simbolis buku bagi anak-anak sekolah korban kebakaran di Kelurahan Bagan Deli. (gus)

Gotong Royong Rutin untuk Lingkungan Bersih

Menciptakan kebersihan dan keindahan serta lancarnya aliran drainase khususnya di Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Medan Denai. Warga beramai-ramai menggelar gotong royong massal bersama kepala lingkungan.

Program kerja bersih-bersih lingkungan menjadi  satu program wajib bulan dilaksanakan di Kelurahan Tegal Sari Mandala III. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, ada tahapan lingkungan yang dilakukan dan secara bergiliran seluruh wilayahnya menjadi bersih.

“Khusus gotong royong ini (Senin (23/7), kami bersihkan drainase di sepanjang jalan Rawa,” ucap Lurah Tegal Sari Mandala III, Zainal.
Dia menyebutkan, dalam membersihkan drainase itu, ditemukan tumpukan sampah, rerumputan dan gulma memperlambat kelancaran aliran air di drainase. Sehingga, bila tak dibersihkan berdampak menimbulkan luapan air.

Menurut dia, tujuan dilakukan gotong royong itu merupakan satu program Wali Kota Medan dalam menciptakan keindahan, kebersihan, dan kelestarian serta kenyaman masyarakat Kota Medan, khususnya agar terhindar dari banjir.

“Saya yakin dengan gotong royong, lingkungan bisa bersih dan sehat, serta masyarakat bebas dari penyakit demam berdarah,” ujarnya.
Zainal mengakui, kegiatan gotong royong yang sengaja digelarnya belum tentu bisa efektif dan mengatasi banjir. Sehingga, kini masyarakat sangat berharap Dinas Bina Marga untuk menyedot lumpur yang sudah tebal di dalam drainase, khususnya di bawah-bawah titi.

Dia menyebutkan, masalah banjir yang di sepanjang Jalan Rawa telah dibawa ke dalam musyawarah rencana pembungunan (Musrenbang) kecamatan. Dilanjutkan, kelurahan telah memberikan surat permohonan ke Dinas Bina Marga untuk membantu pengorekan. Tapi belum dilakukan hingga kini .
Camat Medan Denai, Edi Mulia Matondang mengatakan sangat mengapresiasi langkah gotong royong yang dilakukan pihak kelurahan warga dan kepala lingkungan. Untuk mewujudkan kota yang bersih dan bebas sampah perlu dilakukan gotong royong dan penjagaan.
“Penjagaaan yakni menjaga kebersihan bersama dengan cara membuang sampah pada tempatnya,” sebutnya. (omi)

Wujud Ciptakan Kota Bersih dan Sehat

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan Ir Hj Emelia Lubis memaparkan, kebersihan lingkungan pesisir di Kota Medan dilakukan sebagai wujud menciptakan kota bersih dan sehat, sehingga lingkungan di pesisir yang diklaim kumuh dan kotor bisa menjadi daerah bersih, asri dan sehat.

Menurut dia, kegiatan lomba bersih pantai tersebut dilakukan sebagai bagian untuk meningingkatkan kampanye mencintai lingkungan bersih dan menginginkan hidup sehat. Kemudian kegiatan ini juga sebagai bagian untuk mendorong warga pesisir untuk tetap melestarikan kebersihan demi kesehatan keluarga dan anak cucu ke depan.

Dia menyebutkannya, pada tahun-tahun akan datang kegiatan bersih pantai tersebut dilakukan secara rutin setiap tahunnya, sehingga masyarakat benar-benar memahami pola hidup bersih dan menjaga kelestarian lingkungan pesisir pantai.

“Kami gelar kegiatan bukan untuk seremonial semata, malainkan mengajak masyarakat berpartisipasi melestarikan sungai dan pesisir laut,” katanya.
Emelia menyebutkan, tingkat partisipasi masyarakat untuk membersihkan pantai mulai ada peningkatkan, pada tahun 2012 ini, jumlah peserta yang mengikuti lomba bersih pantai sebanyak 250 peserta, sehingga panitia harus menyiapkan 50 unit kapal motor. Padahal tahun sebelumnya hanya berjumlah 20-an perahu.

“Peminat untuk aksi bersih sangat tinggi, sehingga atusias warga seperti yang harus ditamankan agar cinta lingkungan yang bersih,” ujarnya.
Dia mengimbau kepada para warga dan nelayan di Belawan untuk tetap meningkatkan kepeduliannya terhadap ekosistem di penggiran perairan Belawan, Sungai Deli dan tetap menjaga kebersihan sekitarnya.

“Karena ketika kita tak peduli menjaga kebersihan sekitar laut dna sungai, saat itu juga ancaman kesehatan ancam warga. Jadi marilah bersama-sama menjaga kebersihan, demi kesehatan kita dan anak cucu kita di masa depan,” imbaunya. (gus)