Home Blog Page 13283

Andjar: Yang Dikatakan Apriyanto Bullshit

Kasus Narkoba Mantan Wadir Narkoba Poldasu

MEDAN-Direktur Reserse Narkoba (Dir Narkoba) Poldasu Kombes Pol Drs Anjdar Dewanto membantah apa yang disampaikan mantan Wadir Narkoba Poldasu, AKBP Apriyanto Basuki Rahmat, saat sidang di Pengadilan Negeri Medan yang digelar, Senin (2/7) lalu.

Andjar menyebut segala tuduhan yang disampaikan mantan bawahannya itu adalah untuk pembelaan dirinya saja.

“Bullshit (omong kosong) itu semua. Dia (Apriyanto, Red) sedang membentuk opini untuk pembelaan saja,” ujar Andjar saat dikonfirmasi, Rabu (4/7) petang.
“Tangkapan kami tidak minim, mana ada uang untuk operasional saya makan. Ada 12 laporan perkara kami setiap bulan. Tangkapan mencapai 30,” sebut Andjar.

Dikatakan Anjdar, segala tuduhan yang ditujukan Apriyanto kepadanya sempat membuat Mabes Polri gerah.

“Sejak dua bulan yang lalu satuan Pengamanan Internal, Subdit IV Dit Narkoba dan Bidang Hukum sudah mengecek. Jelas-jelas dari pemeriksaan itu, apa yang dikatakan Apriyanto tidak benar adanya,” sebut Andjar.
Anjdar menyebutkan, Apriyanto hanya membangun image agar dinyatakan tidak bersalah.

“Saya yakin jaksa tidak akan memojokkan saya tentang saya merekayasa atau tidak. Apa yang kami lakukan, mulai dari proses penangkapan, penahanan sampai pemanggilan untuk dimintai keterangan sudah memenuhi prosedur,” ungkap Andjar.

Disebutkan perwira berpangkat melati tiga itu, apa yang dilakukan pihaknya saat razia di D’Core juga tidak ada direkayasa.

“Sebelum razia di D’core Jalan Merak Jingga, dia (Apriyanto, Red) juga sudah diberitahu. Jelas tidak ada rekayasa. Apriyanto juga ikut dalam rapat sebelum penggerebekan,” sebut Andjar.
Disebutkan Andjar, Apriyanto sempat diperintahkan untuk menemani mantan Dir Narkoba Poldasu, Kombes Pol Drs Anjan Pramuka ke Berastagi.

“Hari Kamis (sehari sebelum penggerebekan di D’Core) saya suruh Apriyanto menemani Pak Anjan ke Berastagi. Tapi Apriyanto tidak mau dengan alasan mau pergi ke Bangkok,” tegas Andjar.
Nah, setelah Dit Narkoba Poldasu melakukan razia di tempat hiburan malam D’Core Paramount itu, diamankanlah tiga orang. Mereka adalah Jonson Jingga alias JJ pemilik D’Core, Ade Irawan (Pelayan) dan Sri Agustina (pengunjung).
Setelah dilakukan pengembangan, JJ dan Ade Irawan mengaku 8 butir pil happy five (H5), adalah milik Apriyanto.

“Apriyanto sempat membantah apa yang dikatakan JJ dan Ade Irawan tidak benar. Kemudian kami tahan Ade Irawan. Dalam pemeriksaan Ade mangaku kalau dia akan menyerahkan pil tersebut kepada Apriyanto,” ungkap Andjar.
Dari hasil pemeriksaan, Andjar mengatakan baik JJ, Ade Irawan dan Sri Agustina mengaku kalau barang haram itu adalah milik Apriyanto.
“Ketiganya mengaku 8 buti pil happy five itu milik Apriyanto. Tidak mungkin kami tidak memeriksa Apriyanto. Kalau ada unsur rekayasa, JJ sebagai pemilik D’Core pasti tidak mau ditahan dan sekarang JJ masih di sel,” tukas Andjar.
Andjar mengatakan siap menunggu hasil sidang Apriyanto.

“Saya siap menunggu apa hasil putusan sidang nanti. Nggak ada masalah sama saya. Terserah mau apalagi yang dibunyikan Apriyanto,” pungkas Andjar.
Selain menyebut adanya intervensi Dir Narkoba Poldasu kepadanya, Apriyanto juga sempat menyebut kalau hasil tes urine dirinya juga direkayasa. Mantan Kepala Laboratorium Forensik (Labfor) Poldasu, Kombes Pol Kombes Pol Ir Chomsi Syafrian Simin yang saat ini menjabat sebagai pemeriksa utama Puslabfor Bareskrim Mabes Polri tidak mau ambil pusing.

“Pemeriksaan tes urine Apriyanto sudah sesuai prosedur. Saya tidak main-main dengan tugas saya. Ini menyangkut hidup orang banyak, jadi saya tidak ada merekayasa. Kalau hasilnya positif ya memang positif,” ujar Chomsi.
Sebelumnya, AKBP Apriyanto Basuki Rahmat membacakan nota pembelaannya sendiri atas perkara kepemilikan narkotika jenis happy five, di Pengadilan Negeri Selasa (3/7) lalu.
Pada perkara bernomor Reg Perkara PDM-565/Euh.2/MDN/06/2012, Apriyanto lagi-lagi megaku kasus yang dihadapinya tersebut merupakan rekayasa dari mantan atasannya Direktur Narkoba Polda Sumut, yang ia sebut bertujuan untuk menghancurkan karirnya dengan cara memaksakan keterlibatannya.

Dalam sidang itu, Apriyanto menyebut persoalan utama dalam perkara yang menjeratnya bukanlah keterlibatannya dalam penggunaan psikotropika jenis happy five yang dilakukan oleh Jhonson Jingga, Sri Agustina, Ade Hendrawa dan Wina Harahap (Berkas Terpisah), sebagaimana yang dituangkan JPU dalam materi tuntutan.

Apriyanto menyebut, Direktur Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Anjar Dewanto berniat untuk menyingkirkan dirinya dari jabatan Wadir dengan memanfaatkan persoalan Jhonson Jingga dan Sri Agustina, yang kebetulan kenal baik dengannya.

Majelis hakim akhirnya memutuskan sidang putusan akan digelar pada 10 Juli mendatang. (mag-12)

Jaksa Tuding Sudah Gila

Tuduhan mantan Wadir Narkoba Poldasu, AKBP Apriyanto Basuki Rahmat yang mengaku diperas oleh beberapa petinggi di Kejari Medan dan Kejati Sumut, dibantah jaksa.
Kasipidum Kejari Medan, Riki Septa Tarigan yang masuk dalam salah seorang pihak yang diduga terlibat terkait pemerasan tersebut mengatakan, tuduhan Apriyanto tidak beralasan.
“Sebenarnya malas saya membahas masalah ini lagi. Kasus ini sudah sangat familiar sampai di Kejagung. Pemantauan pun terus dilakukan. Apalagi banyak pihak yang terus mengikuti kasus ini termasuk pihak kepolisian dan Kajati. Tidak masuk akal saya meminta uang sama dia hanya puluhan juta rupiah. Udah gila dia itu, suka-sukanyalah mau komentar apa. Malas saya menanggapinya,” ujar Riki, Rabu (4/7).

Meski demikian, Riki mengakui Apriyanto ada menemui dirinya dan Kajari Medan, pada saat pemberkasan tahap kedua sekitar tanggal 12 April lalu. Saat itu Riki menjelaskan Apriyanto yang ditemani sang istri hadir untuk meminta bantuan agar dirinya tidak ditahan.

“Memang mereka ada menemui saya. Waktu itu dia minta supaya tidak ditahan. Setelah dari ruangan saya mereka datang ke ruang pimpinan Kajari dan meminta supaya tidak ditahan. Dia memohon-mohon, tapi di hadapan Apriyanto kami berusaha diplomatis,” ungkapnya.

Bahkan, katanya, Apriyanto yang datang dengan seragam lengkap kepolisian terus mendesak agar dirinya tidak ditahan.
“Dia pikir dengan berpakaian seperti itu pemikiran kami berubah. Permintaannya agar tidak ditahan sudah sangat lucu. Yang namanya perkara narkoba, di dunia ini pasti ditahan. Aneh saja permintaannya. Kalau tidak ditahan mati lah aku,” tegas Riki lagi.

Terkait pernyataan Apriyanto yang mengatakan jaksa meminta sejumlah uang dengan nominal Rp20 juta sampai Rp25 juta, Riki kembali berujar itu tidak masuk akal. Sekelas Apriyanto yang sudah banyak menjabat di posisi strategis pada kesatuan polri, harusnya pun bisa menyediakan Rp500 juta.

“Udah malas aku mengomentari masalah ini. Kalau dia yang melempar statement, dia juga harus buktikan. Memang udah gila itu,” kata Riki berkali-kali.
Bahkan Riki mengaku kasihan dengan Apriyanto.”Kasihan aku lihat dia. Biar lah dia mau ngomong apa. Coba tanyakan ke dia, berani dia (Apriyanto) sumpah pocong jika benar saya ada meminta uang. Jangan asal omong aja. Sudahlah jangan dibahas lagi,” ucap Riki.

Terpisah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nilma yang juga diseret-seret dalam pemerasan tersebut saat dikonfirmasi mengatakan sama sekali tidak pernah melakukan pemerasan.
“Tidak pernah itu. Nggak usah dibahas lagi lah. Ngapain dibahas lagi. Tanya saja langsung ke Humas ya,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Kasi Penkum Kejatisu, Marcos Simaremare mengatakan, masalah terkait dugaan pemerasan tersebut sebenarnya pernah dibahas dan dilakukan klarifikasi oleh pengawas Kejati Sumut tidak ada ditemukannya fakta dan tidak cukup bukti.

“Sudah pernah dibahas ini sebelumnya. Saat itu ditanyakan secara langsung kepada Apriyanto terkait pemerasan itu. Setelah kita tanyakan kepada pihak Penasehat Hukum (PH) Apriyanto, ternyata memang tidak ditemukan bukti yang mengarah ke sana. Kalau hanya cakap-cakap saja untuk apa. Itu kan masih katanya, kalau memang perlu berikan kami buktinya agar kami tindak lanjuti pada bidang pengawasan,” ungkap Marcos.
Namun, katanya, bila nantinya ditemukan bukti terkait dugaan pemerasan tersebut, tentunya ada aturan mainnya.
“Saksi tidak mendukung, bukti juga tidak ada. Bagaimana kita mau memprosesnya? Tentunya kalau memang pihak Apriyanto memiliki bukti kuat, sebagai intitusi kejaksaan akan melakukan pengawasan terhadap jaksa dan menindaklanjuti kasus ini,” bebernya. (far)

151 Titik Pasar Murah Menjelang Ramadan dan Idul Fitri

MEDAN-Menyambut bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, Pemko Medan menggelar Pasar murah di 151 titik di 21 kecamatan di Kota Medan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Ir Qamarul Fattah mengatakan, pelaksanaan pasar murah tahun ini jumlah titik lokasi bertambah dibandingkan tahun yang lalu hanya 136 titik. Rencananya akan dilaunching 16 Juni di lapangan bola Mabar, Kecamatan Medan Deli oleh Walikota Medan Rahudman Harahap.

Menurutnya, titik lokasi pasar murah akan ditempatkan di kelurahan-Kelurahan yang masyarakatnya sangat membutuhkan atau tingkat penghasilan masyarakat yang masih rendah.
“Tidak seluruh kelurahan ada pasar murah, kita akan melihat masyarakat yang sangat membutuhkan,” ungkapnya.

Menurutnya, tujuan membuat pasar murah untuk mestabilkan harga dan membantu masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Pendagangan Kota Medan, Syahrizal Arif mengatakan, menjelang puasa pihak akan melakukan monitoring harga agar tidak melonjak naik.
“Yang pasti dengan adanya pasar murah akan menekan lonjakan harga,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, Busral Manan mengatakan, Ramadan Fair tahun ini digelar di dua lokasi yakni Taman Sri Deli Medan dan Lapangan Bola Rengas Pulaum Kecamatan Medan Marelan.
Menurutnya, untuk di Taman Sri Deli akan diisi sebanyak 175 stan kuliner, 75 stan UMKM. Sedangan di di Lapangan Bola Renggas Pulau, Kecamatan Medan Marelan sebanyak 44 stand.
Selain itu, juga ada hiburan-hiburan religi dan perlombaan azan, busana muslim, beduk dan lainnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Medan, Jumadi mengatakan Ramadan Fair merupakan program tahunan Pemko Medan yang dananya diambil dari APBD Kota Medan. Seharusnya Pemko Medan harus menata harga yang dijual diikuti kualitas makanan dan minuman. Bukan itu saja, pramusaji pun harus dilakukan penataan dengan berpakaian muslim dan tutur kata yang sopan, karena masyarakat mau menikmati fasilitas yang diberikan.
“Berikan fasilitas dan kenyamanan untuk masyarakat,”pungkasnya.(gus)

Gotong-royong Bersihkan Sisa Kebakaran

MEDAN-Aparatur Kecamatan Medan Denai menggelar gotong-royong massal bersama warga di lokasi bekas kebakaran, di Gang Aman, Kelurahan Tegal Mandala Sari I.
“Gotong-royong massal yang dilakukan bersama warga untuk membersihkan puing-puing kebakaran yang masih berada di lokasi,” kata Camat Medan Denai, Drs Edi Mulia Matondangn
Menurutnya, di lokasi kebakaran masih banyak  berserakan puing-puing sisa kebakaran.

“Bila tidak kita bersihkan nanti akan membahayakan warga lainnya,”terangya.

Edi berharap kepada warga untuk terus menjaga lingkungan dan menjaga kebersihan.
“Kondisi kebersihan lingkungan bisa meningkatkan etos kerja dan kenyaman,” bilang Edi.
Edi berharap kepada warga yang tertimpa musibah agar  tabah dan sabar.

Sementara itu, Cici, warga setempat meyebutkan kegiatan yang dilakukan pihak kecamatan menyentuh para korban kebakaran.
“Warga yang tertimpa musibah kebakaran akan senang. Sebab mereka tidak sendiri membersihkan puing-puing kebakaran,” ujarnya. (omi)

Ditabrak Lari

MEDAN-Niat hati hendak berobat ke Poliklinik THT, namun Marlince Sitinjak (53), warga Jalan Rakyat, Medan Perjuangan harus dirawat intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Pirngadi Medan. Pasalnya, kaki kanan korban mengalami luka robek menganga dan patah tulang engkel setelah sepeda motor Supra X dengan nopol  2226 GV yang ditungganginya ditabrak mobil Avanza hitam nopol 1908 IG di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di belakang RS Pirngadi Medan, Rabu (4/7) sekira jam 10.30 WIB.

Ironisnya, usai menabrak, mobil Avanza yang telah menabrak korban melarikan diri. Saksi mata, Mawi (46), yang melihat kejadian mengatakan, korban yang datang dari arah Jalan Ngalengko hendak masuk ke RS Pirngadi Medan.
Namun, saat menyeberang di Jalan Perintis Kemerdekaan, mobil Avanza hitam yang datang dari arah berlawanan yang melaju kencang tak bisa menghindar dan menabrak korban. Kontan, Marlince terjungkal bersama sepeda motor yang ditungganginya.

Warga yang melihat kondisi korban bersimbah darah langsung mengangkat ibu anak 5 itu ke IGD RS Pirngadi Medan guna mendapatkan pertolongan.

“Waktu itu saya kebetulan mau menjenguk keluarga yang tewas, dan sekarang ada di kamar  mayat. Pas saya mau masuk ke Pirngadi saya lihat ibu itu dengan sepeda motor Supranya mau masuk ke arah RS Pirngadi, lalu mobil Avanza hitam yang datang dari arah kanan Jalan Perintis langsung menabrak ibu itu, wargapun ramai mengerumuni dan melarikan ke IGD RS Pirngadi Medan,” ujar warga Pangkalan Susu itu.

Sementara saat di IGD, Kapler Sihite (60) suami  korban menjelaskan, sebelum kejadian istrinya Marlince (korban) bermaksud hendak berobat ke Poliklinik THT RS Pirngadi Medan, namun disayangkan sedikit lagi sampai digerbang masuk ke RS Pirngadi Medan, Marlince ditabrak Mobil Avanza hitam lalu melarikan diri.

“Istriku itu maksudnya mau berobat ke THT RS Pirngadi Medan, tapi sedikit lagi sampai di rumah sakit ia ditabrak mobil Avanza, yang saya kesalkan mobil Avanza yang nabrak itu melarikan diri,” kata Kapler. (uma)

Lebih Pentingkan Materi Ketimbang Pelayanan

Ruang IGD Pirngadi Belum Penuhi SOP

MEDAN-Sejumlah rumah sakit di Provinsi Sumatera Utara dianggap belum berjalan baik dalam pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD), pada program perencanaan bencana rumah sakit atau hospital disaster plan.
“RS di Sumut banyak yang tidak melakukan Standart Operasional Prosedur (SOP). Anehnya, begitu pasien masuk IGD, medis langsung menanyakan ke pasien sebagai pasien apa, Jamkesmas, Jamkesda atau apa?” kata Pengamat Kesehatan Sumatera Utara, Destanul Aulia. Destanul, Selasa (3/7).

Harusnya, kata Destanul, IGD sebagai pemegang peranan utama harus mengenyampingkan persoalan identitas pasien termasuk pembiayaannya. Rumah sakit kebanyakan lebih cenderung kepada materi dan bisnis semata, bukan sebagai tempat pelayanan.

Seharusnya, kata dia, yang perlu dilakukan oleh rumah sakit yakni melihat bagaimana stok obat, alat-alat yang dipakai yang bersifat darurat harus tersedia, dokter jaga harus ada.
“Tapi jangan dokter yang baru, melainkan dokter yang benar-benar sudah profesional. Artinya, dokter itu tahu bagaimana menangani kasus kegawatdaruratan,” jelasnya.

Selama ini, lanjutnya, pasien atau masyarakat belum mendapatkan jaminan ketika pasien dirawat di IGD. “Apalagi rumah sakit pemerintah. IGD harus jalankan SOP yang ada. Karena IGD adalah salah satu akses untuk masuk dan mendapatkan pelayanan ketika dalam keadaan emergency,” tegasnya.

Menurutnya, IGD rumah sakit seharusnya memainkan peran utama untuk penanggulangan gawat darurat dalam pemeriksaan awal kasus gawat darurat, resusitasi dan stabilisasi. Tapi, sayangnya peranan itu belum begitu terlihat.
“Pemerintah maupun pihak rumah sakit swasta, harus benar-benar memperhatikan fungsi pelayanan IGD yang sebenarnya, bukan lebih kepada persoalan finansial. Karena fungsi utama IGD itu untuk memberikan pertolongan kepada pasien yang emergency, bukan persoalan status pasien,” ujarnya.

Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian (Bimdal) Sarana dan Peralatan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Bambang Suprayetno menyebutkan, sesuai dengan SOP yang ada, begitu pasien masuk ke IGD harus segera ditangani dan tidak boleh mendahulukan mengenai status dan identitas pasien.

“Tidak boleh ditanyakan statusnya dahulu, tugas utama dari IGD yakni memberikan pertolongan terhadap pasien dengan sesegera mungkin karena IGD berfungsi untuk menyelamatkan pasien dengan kondisi yang tidak stabil,” ujar Bambang.
Setelah kondisi pasien stabil, sambungnya, pihak rumah sakit selanjutnya bisa mengkomunikasikan ini kepada keluarga pasien.

“Tunggu kondisi pasien stabil. Setelah stabil, barulah bisa ditanyakan kepada keluarganya. Apakah mau dirawat atau dirujuk ke rumah sakit lainnya. Salah, jika pihak rumah sakit menanyakan status pasien ketika masuk ke IGD,” tuturnya.
Sebelumnya, ketidaknyamanan di instalasi gawat darurat telah dialami oleh Anatasya Yolenta Situmeang. Bayi berusia 7 bulan warga Jalan Pelajar Ujung, Medan Denai meninggal dunia karena dua jam lebih tak mendapat penanganan dari petugas medis di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU dr Pirngadi Medan, Jumat (6/4) lalu. (uma)

LPTK Unimed Buka Pendaftaran 200 Pendidik

MEDAN-Universitas Negeri Medan (Unimed), kembali merekrut calon peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) untuk tahun 2012.
Dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bersama 16 lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) lainnya kembali dipercaya untuk merekrut, membekali, menerjunkan peserta SM-3T, dan menyelenggarakan PPG setelah peserta mengabdi selama satu tahun di daerah pengabdian.

“SM-3T ini bagian dari program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang diprakarsai oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal PendidikanTinggi Kemdikbud,” ujar Pembantu Rektor I Unimed, sekaligus penanggung jawab program SM3T Prof Khairil Ansari.

Program ini, kata Khairil, para sarjana pendidikan direkrut, dipersiapkan, dan diterjunkan di wilayah pengabdian.
Untuk kuota yang disediakan Kemdikbud terhadap LPTK Unimed tahun 2012 berkisar 200 peserta. Wilayah pengabdiannya meliputi sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua.

“Kalau tahun lalu kita mengirmkan 244 tenaga pendidik, namun untuk tahun ini kita hanya diberikan kuota sekitar 200 tenaga pendidik,” ujarnya.
Masih menurut Khairil, selain mengajar, sarjana pendidik, juga melakukan kegiatan kemasyarakatan di daerah pengabdiannya. Untuk pendaftarannya akan dibuka secara online mulai 8 Juli hingga 21 Juli 2012 melalui http://sm-3t.dikti.go.id. Pada saat pendaftaran nanti, peserta cukup mengisi formulir yang disediakan serta mengunggah file ijazah dan pasfoto ukuran 4×6 cm.(uma)

Wartawan Dianiaya Perwira Polda Sumut

MEDAN- Kekerasan Polisi terhadap wartawan terulang kembali. Kali ini D Doloksaribu (69), wartawan dari Forum Indonesia Baru (FIB) yang menjadi korbannya. Adalah Perwira Menengah (Pamen) di Bidang Hukum (Bidkum) Poldasu, yakni AKBP AE Hutabarat yang melakukan kekerasan itu.

Dia akhirnya dilaporkan Doloksaribu ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu), Rabu (4/7) petang tadi.
Doloksaribu, warga Manyar Raya No 329 Perumnas Mandala mengatakan, saat itu dia bersama rekannya B Silalahi, warga Jalan penguin Raya III, Perumnas Mandala, sedang melakukan investigasi ke sebuah pabrik roti yang berada di Jalan Tangguk Bongkar X, Medan Denai. Keduanya adalah wartawan Forum Indonesia Baru (FIB).

“Kami ke sana untuk konfirmasi, apakah karyawan pabrik sudah masuk jamsostek, dan bagaimana pengelolaan limbah di pabrik itu,” ujar D Doloksaribu, kepada sejumlah wartawan, petang tadi. Dia menyebutkan, setelah menunggu beberapa saat untuk menemui siapa pemilik pabrik, tak berapa lama datanglah AKBP AE Hutabarat.

Usai memperkenalkan diri, tiba-tiba AE Hutabarat dengan mengenakan pakaian dinas lengkap, menuding D Doloksaribu melakukan pemerasan.
Menurut pengakuan Doloksaribu, dirinya juga sempat dicekik oleh oknum polisi berpangkat dua melati itu.

Terpisah, AKBP AE Hutabarat saat dikonfirmasi membantah telah melakukan pencekikan leher kepada D Doloksaribu.(mag-12)

Pasutri Curi Kaca Spion

MEDAN-Muhammad Ridwan (31) dan istrinya Ayu Siregar (25), warga Tanjung Anom, nekat mencuri kaca spion mobil Avanza BK 1186 JV, milik Dona Lisbet Silalahi (35), warga Jalan Babura, Medan Baru, Rabu (4/7) siang.
Saat itu korban memarkirkan mobilnya di Jalan Iskandar Muda Medan. Ketika hendak balik ke mobilnya, korban melihat Ridwan mencongkel kaca spion mobil Avanza miliknya. Spontan, Dona berteriak maling.
Melihat korbannya mengetahui aksi yang mereka lakukan, keduanya melarikan diri dengan sepeda motor Yamaha Vega BK 3336 SV. Tapi, warga mengejarnya dan berhasil menangkap pasangan suami istri itu dan langsung menghajarnya hingga babak belur.  Ridwan mengaku, nekat mencuri karena dipengaruhi narkoba.  “Kami sedang sakaw dan baru mengkonsumsi sabu,” ujarnya.

Sementara itu, polisi juga mengamankan Boy Rahmat Pohan (22), warga Jalan Bilal, Medan Timur,, tersangka pelaku jambret yang sempat babak belur dihajar warga, di Jalan Madio Santoso, Selasa (3/7).
Tersangka diamankan warga setelah menjambret dompet milik Sri Wahyuni Dwi Putri (37), warga Jalan Sidorukun, Medan Timur, saat sedang melintas di Jalan Sidorukun.
Tersangka Boy Rahmat mengaku baru satu kali melakukan aksi penjambretan. Boy mengatakan, dirinya nekat menjambret karena butuh biaya persalinan istrinya yang saat ini sedang hamil 7 bulan. (jon)

Tewas Tergantung di Hotel Kesawan

MEDAN- Wilie Wirya Bakti (45), warga Jalan AR Hakim, Medan Area ditemukan tewas gantung diri di kamar 201 lantai 2 Hotel Kesawan, Jalan A Yani, Medan Barat, Rabu (4/6) siang.

Mayat tersebut ditemukan pertama kali oleh room boy hotel dengan posisi leher tergantung. Sebelum ditamukan tewas Wilie ceck in di Hotel Kesawan, Senin (2/7) dan dari perjanjian Wilie akan ceck out Rabu (4/7) pukul 12.00 WIB. Namun, hingga pukul 14.00 WIB, Wilie tak kunjung keluar kamar. Untuk memastikan keberadaan Wilie, room boy bernama Riki Kurniawan, mencoba mengetuk pintu kamar tempat Wilie nginap. Namun, tidak ada sautan dan akhirnya Riki mencoba mengintip lewat sela- sela lubang pintu.

Rikie terkejut melihat Wilie sudah tewas tergantung dengan menggunakan tali nilon yang diikatkan di besi meja penyanggah televisi.
Atas penemuan itu, dia melaporkan ke manejer hotel lalu pihak hotel meneruskan laporan itu ke Mapolsekta Medan Barat. Mendapat laporan petugas Mapolsekta Medan Barat, langsung datang ke lokasi guna olah tempat kejadian perkara (TKP) dan selanjutnya mayat dievakuasi ke instalasi kamar jenazah RS dr Pirngadi Medan guna dilakukan pemeriksaan.(uma/jon)