LABUHAN DELI-Bentrok akibat sengketa lahan garapan di Pasar VIII Lorong Perjuangan Gang Jati Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang, pecah lagi, kemarin (3/7). Meski tak menimbulkankorban jiwa, tiga rumah semi permanen milik warga dirusak. Warga petani penggarap yang tidak terima, melakukan perlawanan dan berhasil memukul mundur belasan orang pria diduga preman suruhan pihak tertentu.
“Mereka datang menjelang maghrib, merusak rumah Pak Manurung yang kebetulan penghuninya lagi pergi,” kata, Yanti (48) seorang warga.
Usai mengobrak-abrik rumah Manurung, sekelompok pria tersebut mendatangi rumah Jamilah dan satu rumah lain. Melihat aksi brutal para pelaku, penghuni rumah langsung berteriak sehingga kelompok pria itu melarikan diri.(mag-17)
MEDAN- Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah, mendapat peralatan gotong-royong dari PT Bank Danamon Simpan Pinjam UPT Petisah, Senin (2/7). Peralat an gotong-royong itu berupa tong sampah 2 unit, sapu ijuk, sekop, cakar, sapu lidi, serokan sampah, dan alas tangan.
“Kiranya peralatan kegiatan gotong royong yang diterima ini dapat menjadi manfaat dalam kegiatan bersih-bersih di seputaran lingkungan Petisah,” bilang Lurah Petisah Tengah, Odi Anggia Batubara, S.STP, kemarin.
Menurut Odi, dengan sumbangan peralatan tersebut, kegiatan bersih-bersih diharapkan dapat berlangsung rutin. Sehingga kebersihan di setiap lingkungan akan tercipta.
”Kebersihan itu tidak bisa tercipta tersendiri. Harus dengan kerjasama dan dirasakan bersama,” ujarnya. Untuk itu, Odi mengimbau para kepala lingkungan serta warga lingkungan untuk bahu-membahu membersihkan sampah yang berserakan di pinggir jalan.
“Warga juga jangan lupa membuang sampah dalam wadah yang telah disediakan. Serta menghijaukan tanaman pekarangan depan rumah dan terus merawatnya. Insyaallah, kebersihan ini pasti memberikan kehidupan yang tenteram, nyaman, harmonis, dan sejuk,” ungkapnya .
Marlon Sinaga dari PT Danamon Simpan Pinjam (DSP) UPT Petisah mengatakan, siap membantu menciptakan kebersihan di Pasar Petisah dan lingkungan Petisah. “Mudahan-mudahan dengan pemberian peralatan gotong-royong ini, kebersihan dapat terwujud bersama-sama,” katanya. Sebagai pegawai Danamon, Marlon mengatakan, pihaknya siap ikut bergotong-royong bersama warga lingkungan, membersihkan sampah dan drainase di lingkungan. (omi)
BINJAI- Kehilangan lembu warga di Desa Tandam Hulu I, Kecamatan Hamparan Perak kian meresahkan. Dalam dua bulan, 34 ekor ternak peliharaan mereka raib. Laporan kehilangan ke polisi pun belum ada hasil. “Saya sudah membuat laporan ke Polsek tapi belum ada hasilnya,” kata Ariadi (40), Selasa (3/7) siang.
Ia kemudian memperlihatkan surat STPL bernomor 39/VI/2012/Binjai. Ayah tiga anak ini kehilangan ternak dari belakang rumahnya Rabu (27/6) dinihari.
“Padahal, malamnya aku bergabung dengan penjaga malam. Malam itu warga mencurigai orang yang berkeliaran di kampung kami. Karena ngatuk, aku pun pulang ke rumah. Eh, ketika bangun pagi lembuku hilang dua ekor,” katannya kesal.
Fauzi, staf kantor Kepala Desa membeberkan, pencurian ini membuat warga terus panik. Ia khawatir, warga, akan dapat berbuat apa saja kepada orang yang dicurigai terlibat pencurian. “Kalau seperti ini terus-menerus, warga bisa main hakim sendiri,” katanya. (ndi)
MEDAN-Mantan Wadir Narkoba Poldasu Apriyanto Basuki membeberkan sejumlah ’daftar dosa’ Direktur Narkoba Polda Sumut, Anjar Dewantoro. Ajang buka dosa itu dilakukannya dalam sidang lanjutan kasus penyalahgunaan psikotropika, yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (3/7).
Daftar dosa yang dibebernya antara lain menuduh mantan atasannya merekayasa kasusnya, penukaran barang bukti sabu-sabu dengan tawas, penjualan barang bukti melalui orang-orang tertentu, pemotongan anggaran, dan lainnya.
“Pokok dalam kasus ini adalah, Direktur Narkoba Polda Sumut Anjar Dewantoro berniat menyingkirkan saya dari jabatan Wadir. Caranya, dengan memanfaatkan persoalan Jhonson Jingga dan Sri Agustina, yang kebetulan kenal baik dengan saya,” tegasnya di depan hakim. Ia yakin, perkara yang menimpanya bukan pada keterlibatannya dalam penggunaan psikotropika jenis happy five yang dilakukan oleh Jhonson Jingga, Sri Agustina, Ade Hendrawa dan Wina Harahap (berkas terpisah), sebagaimana yang dituangkan JPU dalam materi tuntutan.
Dalam sidang, terdakwa membacakan nota pembelaannya sendiri atas perkara kepemilikan narkotika jenis happy five. Untuk kesekian kalinya, Apriyanto mengaku kasus yang dihadapinya adalah rekayasa mantan atasannya Direktur Narkoba Polda Sumut, yang ia tuduh bertujuan menghancurkan karirnya dengan cara memaksakan keterlibatannya.
Di hadapan majelis hakim yang diketuai Hasban Panjaitan, Apriyanto menuturkan, pada hari Kamis, 9 Februari 2012 (dua hari sebelum penggerebekan), dirinya mendapat surat tugas langsung dari BNN untuk mengikuti study banding tentang narkoba di Bangkok-Thailand.
Dalam surat tersebut, Apriyanto mengatakan langsung ditunjuk oleh BNN, sementara untuk Polda lainnya yang ditunjuk adalah Direktur Narkoba dan bukan Wadir.
Apriyanto juga mengaku, hubungan antara dirinya dengan Direktur Narkoba itu sudah tidak harmonis lagi. Hal itu dipicu penolakan Apriyanto atas beberapa penyimpangan yang dilaksanakan atasannya, seperti penukaran barang bukti sabu-sabu dengan tawas, penjualan kembali barang bukti melalui orang-orang tertentu yang sengaja dipelihara oleh Dir Narkoba.
“Terdapat beberapa kasus lain yang membuat hubungan saya dengan atasan tidak harmonis. Seperti penanganan kasus narkoba yang sengaja dikondisikan, sehingga yang tertangkap bukanlah orang yang benar-benar gembong narkoba, akan tetapi orang kecil yang sengaja dikorbankan,” ujarnya.
Lanjut Apriyanto, terjadi pula pemotongan dana-dana anggaran untuk berbagai kegiatan serta operasional pelaksanaan tugas, yang berakibat sulitnya para anggota melaksanakan tugas-tugas pemberantasan narkoba karena kekurangan biaya operasional.
Dalam sidang yang digelar sore hari itu, Apriyanto juga bercerita bahwa pada saat penangkapan di kafe D’core Jalan Merak Jingga, dirinya tidak berada di tempat. Yang berada di TKP, menurutnya, hanya Jhonson Jingga selaku pemilik dan Sri Agustina. “Terbentuknya skenario penangkapan saya ini didukung pula oleh bukti keberadaan saya yang pada saat itu berada di Bangkok, dalam rangka melaksanakan perintah tugas BNN,” ungkapnya.
Ia juga mengkritisi terhadap tuntutan JPU yang mempersalahkannya melanggar pasal 60 ayat 5 jo pasal 71 ayat 1 UU RI No 5 tahun 1997, yang menyebut bahwa dirinya telah menerima penyerahan psikotropika dan telah bersekongkol atau bersepakat untuk melakukan, melaksanakan, membantu, menyuruh turut melakukan, menganjurkan atau mengorganisasikan suatu tindak pidana. “Tuntutan ini sangat lemah karena tidak memiliki dua alat bukti. Sehingga tuntutan ini seharusnya ditolak oleh majelis hakim dan membebaskan saya dari semua tuntutan,” ungkapnya.
Usai membacakan pembelaannya, JPU pada persidangan yang dipimpin Nova mengatakan, membantah dan menolak data ataupun informasi dalam nota pembelaan Apriyanto kecuali hal-hal yang secara tegas dan tetap dalam tuntutan yang dibacakan. “Majelis hakim, kami selaku JPU sepenuhnya menolak dan membantah apa yang dibacakan terdakwa dalam nota pembelaan tadi kecuali beberapa hal. Kami juga tetap pada tuntutan awal kami,” ujar Nova.
Mendengar pernyataan tadi, Apriyanto dan pengacaranya pun tampak saling lihat. Majelis hakim memberikan durasi singkat untuk terdakwa bersama pengacaranya rembuk. Selang beberapa detik, tim penasehat hukum Apriyanto pun mengaku tetap pada pembelaan yang dibacakan kliennya. Selanjutnya, majelis hakim menunda sidang putusan sampai tanggal 10 Juli mendatang. (far)
Berburu Pernik Eks Uni Soviet di Pasar Andriyivsky Uzviz, Ukraina
Sudah tergerus zaman, namun sisa-sisa kejayaan Uni Soviet masih sangat terasa di Ukraina. Aneka pernik berbau komunis bahkan masih menjadi primadona di Pasar Andriyivsky, Kiev.
AGUNG PUTU ISKANDAR, Kiev
JUALAN: Eduardo, salah seorang penjual di Andriyivsky menunggu pembeli.//Agung Putu Iskandar/Jawa Pos/jpnnSebuah emblem kecil mengkilat terpasang di sisi depan topi ushanka. Emblem dari bahan metal itu berbentuk bintang dengan diapit dua helai pucuk gandum. Tepat di tengah-tengah bintang, terdapat lambang yang sangat terkenal di dunia. Yakni, gambar palu dan arit. Dua alat wajib buruh tani itu dipasang dengan background merah. “Ini khusus kolektor,” kata Olexander Volokha, penjual di Andriyivsky.
Ushanka adalah topi khas Soviet. Bentuknya mirip kopiah besar, tapi tebal di setiap sisinya. Topi tersebut memiliki lapisan tambahan yang bisa dikeluarkan dari lipatan di sisi kanan dan kiri untuk menutupi telinga. Topi itu dipakai prajurit dan pejabat militer Uni Soviet saat musim dingin.
Ada ushanka yang dibuat dari kulit, ada juga yang berbahan kulit sintetis. Olexander lantas membalik topi tersebut. Di situ, terdapat sebuah tulisan yang agak pudar. Tertera angka 57 dan 83 “Angka 57 itu ukuran topi. Sedangkan angka 83 itu tahun pembuatannya,” katanya.
Topi tebal berbahan kulit binatang tersebut memiliki banyak level kualitas. Tipe paling murah dibuat dari kulit domba. Tipe yang mahal dibuat dari kulit kelinci, rubah, dan berang-berang. Tapi, umumnya, pejabat militer cuma menggunakan yang berbahan kulit domba.
“Saya sebenarnya juga jual ushanka yang baru. Dibuat beberapa tahun belakangan. Tapi, banyak pembeli yang tidak suka. Katanya, nilai sejarahnya kurang,” kata Olexander.
Harga ushanka bervariasi. Yang berasal dari kulit domba dibanderol UAH 350 atau setara Rp400 ribu. Sedangkan yang berbahan kulit sintetis dihargai sekitar UAH 250 atau kurang dari Rp300 ribu. Ushanka paling mahal berbahan kulit rubah atau berang-berang. Harganya lebih dari Rp1 juta. Bentuknya juga berbeda. Lebih spesial. Di bagian belakang, terdapat kucir yang merupakan ekor binatang tersebut. Begitu juga yang berbahan kulit kelinci. Warnanya putih dengan kucir dari bulu kelinci yang hangat. Sayang, untuk ushanka dari kulit kelinci, bulu-bulunya sering rontok.
Pasar Andriyivsky tidak terlalu mencolok. Pasar kaki lima itu berada di belakang gedung Kementerian Luar Negeri Ukraina dan Hotel Intercontinental. Kawasan tersebut menjadi jujukan turis. Sebab, di sana terdapat lapangan luas yang mempertemukan tiga jalan utama Kiev. Yakni, Velyka Zhytomyrska, Mikhailovskaya, dan Volodymyrska. Karena pasar itu tepat berada di jantung Kiev, tidak banyak yang mengira bahwa ada pasar di belakang gedung kementerian yang megah dengan arsitektur bergaya Ukrainian baroque tersebut.
Olexander l mengajak Jawa Pos (grup Sumut Pos) ke bagian belakang tokonya. Tempatnya agak tersembunyi. Di situ, dia memamerkan sejumlah koleksi. Salah satunya adalah shinel, jas khas Uni Soviet. Bentuknya memanjang hingga bawah lutut. Bahannya wol. Karena sangat tebal, jas tersebut lebih mirip dengan pakaian berbahan karpet daripada jas yang biasa dikenal sekarang.
Olexander memamerkan emblem berbentuk senapan laras panjang di kerah jas. Di bagian bahu, tiga bintang kecil dipasang. “Yang mengenakan jas ini adalah pejabat militer. Pangkatnya kapten. Bintangnya kecil. Kalau bintangnya besar, mungkin kolonel,” jelas dia.
Dia kemudian menunjukkan masker. Warnanya hijau dengan pipa panjang plus penyemprot di ujungnya. Itu adalah masker yang digunakan di Chernobyl, kota tempat reaktor nuklir meledak hingga merenggut ribuan nyawa karena radiasi. “Saya tidak tahu apa masih ada radiasi atau tidak,” katanya sambil menyodorkan masker untuk dicoba.
Koleksi Olexander masih banyak lagi. Dia memiliki baju dinas militer Soviet dari berbagai pangkat. Ada baju hijau dengan tulisan CA di kedua bahu. CA merupakan singkatan dari Soviet Army dalam aksara cyrillic. Di semua kancing baju dinas, selalu terdapat lambing palu dan arit.
“Ini cuma buat prajurit. Saya masih punya yang buat pilot. Bahkan, untuk sekelas jenderal pun, saya punya satu setel, celana dan baju komplet dengan emblem dan pangkat. Itu khusus kolektor. Harganya sekitar UAH 1.200 (setara Rp1,5 juta),” katanya. Olexander juga punya sepatu bot, sabuk, topi musim dingin, topi musim panas, seragam dinas, seragam santai, bahkan kaus oblong Partai Komunis Uni Soviet.
Di Pasar Andriyivsky, paling tidak ada 20 pedagang. Namun, hanya beberapa yang menyediakan barang-barang bekas Uni Soviet. Sebagian besar pedagang lain berjualan oleh-oleh tradisional seperti boneka kayu Matryoshka. Boneka khas Rusia itu unik karena dari dalam boneka bisa dikeluarkan boneka yang sama dengan ukuran yang lebih kecil.
Di depan lapak Olexander, ada kios lagi milik Eduardo Karchenko. Dia menjual ushanka berlogo pemerintah Ukraina. Tapi, logo itu bisa dibongkar pasang. “Yang logo palu dan arit buat pembeli dari luar negeri. Mereka pasti menganggap ini keren,” katanya, lantas terkekeh.
Eduardo menyatakan, barang-barang tersebut didapat langsung dari bekas pasukan Uni Soviet. Ketika republik sosialis itu buyar pada 1991, banyak yang pindah ke satuan militer Ukraina. Karena tak mungkin dipakai lagi, seragam-seragam itu lantas dijual. “Kebetulan, saya dulu pernah ikut wajib militer. Jadi, mereka itu ya teman-teman saya sendiri,” terang dia.
Lelaki berbadan gempal itu menambahkan, Andriyivsky identik dengan tempat untuk “meloakkan” barang-barang Uni Soviet. Banyak pensiunan tentara yang menjual medali, emblem, dan semua aksesori militer di tempat tersebut. Bahkan, sejumlah atlet olahraga pada masa Soviet juga ikut melego barang-barang mereka.
“Para atlet di masa Uni Soviet itu seperti satuan dalam militer. Mereka diberi emblem khusus. Ini, misalnya, khusus untuk atlet atletik,” kata Eduardo. Dia lantas memamerkan emblem mungil berukuran 1 sentimeter berbentuk relief pelari. Di atasnya, terdapat lambang palu dan arit.
Andriyivsky Uzviz tidak hanya dikenal sebagai pasar khusus barang Uni Soviet. Uzviz yang dalam bahasa Ukraina berarti turunan (descent) merupakan jalan yang berada di antara dua bukit. Bukit-bukit itu lantas dibanguni beberapa bangunan yang menjadi landmark Kiev. Mulai Gereja Saint Andrew yang dibangun pada abad ke-18 hingga Mikhail Bulgakov Museum.
Jalanan menurun itu menghubungkan tengah Kota Kiev dengan kawasan Podil. Podil merupakan kawasan komersial Kiev. Di sana, banyak restoran dan pusat jajanan. Andriyivsky dianggap strategis karena juga menghubungkan Podil sekaligus Kontraktova Square, sebuah lapangan tempat masyarakat berkumpul.
Namun, karena tidak banyak turis yang menyewa mobil atau taksi, kawasan tersebut tidak terlalu ramai. Posisinya juga jauh dari stasiun metro atau kereta bawah tanah. Wisatawan harus berjalan dari Stasiun Zoloti Vorota yang berada di Jalan Yaroslava selama sekitar 20 menit. “Banyak yang ke sini karena diberi tahu orang-orang Ukraina. Soalnya, tempatnya memang tidak strategis buat turis asing,” ujar Olexander. (*)
MEDAN-“Anggota saya seperti ikan bandeng. Sudah melihat pelanggaran lalu-lintas di depan mata, tapi tidak ditindak.”
Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan Kapolda Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, dalam sambutannya, saat menjadi Inspektur Upacara (Irup) Gelar Pasukan Toba Patuh 2012, di Lapangan KS Tubun, Markas Polda Sumatera Utara (Mapoldasu) Jalan Sisinga mangaraja KM 10,5 Medan, Selasa (3/7) Perumpamaan itu disebutkan Wisjnu, karena personel polisi yang melihat adanya pelanggaran lalu-lintas di depan mata, tidak mau menindak. “Mata hanya melotot, tidak membuat apa-apa. Padahal di depan mata telah terjadi pelanggaran lalu-lintas yang dilakukan sejumlah pengguna jalan,” sindirnya.
Wisjnu mencontohkan, sering terjadi kendaraan roda empat maupun roda dua yang berhenti di lampu merah melewati garis zebra cross. “Itu jelas sebuah pelanggaran. Anggota yang melihat pelanggaran itu tidak menindaknya, padahal sudah ada di lapangan,” ujarnya.
Untuk itu, jenderal bintang dua itu memerintahkan seluruh Kapolres untuk bertindak betul-betul dalam Operasi Patuh Toba tahun 2012 ini. “Berbuatlah positif. Tindak tegas pengguna jalan yang melanggar lalu-lintas, sehingga situasi lalu-lintas di Sumatera Utara menjadi lebih baik,” tegas Wisjnu.
1.514 Personel Dikerahkan
Sebanyak 1.514 personel polisi, terdiri dari 74 personel Polda Sumut dan 1440 personel Satuan Wilayah atau Polres-Polres, mulai Rabu hari ini (4/7), mulai dikerahkan dalam operasi Patuh Toba 2012. Gelar Pasukan digelar kemarin di Lapangan KS Tubun Mapoldasu.
Operasi akan dilaksanakan hingga 17 Juli mendatang, bertujuan untuk melaksanakan cipta kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran (Kamseltibcar) dalam berlalu-lintas di wilayah Sumatera Utara, jelang Bulan Suci Ramadhan 1433 H.
“Gelar pasukan dilaksanakan untuk mengecek dan mengetahui tingkat kesiapan seluruh personel serta kelengkapannya dalam melaksanakan tugas operasi dengan sandi ‘Patuh Toba 2012’,” kata Kapoldasu, yang bertindak sebagai Irup.
Wisjnu menyebut, permasalahan di bidang lalu-lintas semakin hari terus meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, populasi jumlah penduduk, kurang disiplinnya masyarakat. “Berbagai upaya terus dilakukan, seperti razia rutin dan Operasi Simpatik Toba baru-baru ini. Namun itu juga belum maksimal,” sebutnya.
Tidak adanya perubahan itu, menurut Wisjnu, karena sampai saat ini masih banyaknya para pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm standar SNI, banyaknya pengendara sepeda motor yang masih tidak menyalakan lampu (light one) di siang hari, serta masih banyaknya pengendara roda dua maupun roda empat yang berhenti melewati garis zebra cross tapi tidak ditindak.
Selain itu, truk-truk masih banyak yang terlihat masuk kota. Juga kendaraan plat hitam yang digunakan mengangkut penumpang, pemberhentian kendaraan di tempat terlarang, hingga penggunaan badan jalan untuk berjualan dan sebagainya. “Ini tantangan kita bersama. Anggota yang di lapangan harus bertindak tegas. Kalau tidak ditindak, masyarakat akan semakin terbiasa dan akhirnya seluruh masyarakat di Sumut akan tidak mematuhi aturan yang berlaku,” tegas Wisjnu.
Selain apara kepolisian, Wisjnu juga berharap seluruh masyarakat Sumatera Utara dan aparat TNI juga ikut menyukseskan Operasi Patuh Toba ini.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso, usai apel pasukan mengatakan, selain menciptakan kondisi tertib berkendara jelang Ramadhan 1433 H, operasi Patuh Toba juga untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya. “Operasi ini lebih mengedepankan penegakan hukum (penindakan atau tilang, red) ketimbang tindakan preventif dan preemtif. Penegakan hukum 50 persen, preventif (pengaturan, pen jagaan dan pengawalan) 25 persen, dan 25 persen preemtif (penyuluhan dan pendidikan lalu lintas),” tutup Heru. (mag-12)
JAKARTA- Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang mengajukan diri untuk maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) sebaiknya berasal dari satu partai yang sama. Hal ini sebagai upaya meminimalisasi terjadinya pecah kongsi pascapilkada.
Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris, berdasarkan pengalaman yang terjadi dalam proses pilkada di Indonesia, hampir 90 persen pasangan kepala daerah terpilih mengalami pecah kongsi. Tentu saja, kondisi tersebut dapat mengganggu kinerja dari pemerintahan daerah yang dipimpinnya.
“Seharusnya ketika pasangan kepala daerah itu terpilih juga perlu melakukan kontrak politik sehingga jika di tengah jalan pasangan tersebut pecah kongsi maka ada konsekensi hukum yang diterimanya,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Syamsuddin berpendapat, kontrak politik yang dilakukan pasangan kepala daerah tersebut juga untuk menghindari munculnya oportunisme politik yang tidak ada bandingannya. Dia menilai, perpecahan yang terjadi terhadap pasangan kepala daerah terpilih diakibatkan mereka memiliki basis politik atau partai politik yang berbeda. Sehingga, seringkali keharmonisan yang terjalin hanya terjadi pada saat awal pencalonan.
Kepala daerah, ujar Syamsuddin, memiliki status sebagai eksekutif yang bersifat tunggal. Ini berbeda dengan posisi wakil kepala daerah yang diibaratkan sebagai ‘ban serep’. Dengan demikian, sulit untuk menciptakan kekuasaan yang sama di antara kepada daerah dengan wakilnya.
Untuk diketahui, saat ini Rancangan Undang-Undang (RUU) Pilkada masih dalam pembahasan Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan memasuki tahap menerima pandangan atau masukan dari berbagai pihak. Salah satunya, Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Dalam pandangan DPD yang diserahkan kepada Komisi II, menyebutkan perbaikan regulasi penyelenggaraan pilkada seharusnya diarahkan untuk memperkuat dan mewujudkan makna esensial dari pilkada tersebut, yaitu terwujudnya kedaulatan rakyat melalui penyelenggaraan pilkada yang demokratis.
Dengan demikian, mampu melahirkan pemimpin yang negarawan dari tingkat lokal hingga hingga nasional sehingga mewujudkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Indonesia yang berkualitas melalui proses pendidikan dan kaderisasi politik.
Fenomena pecahnya pasangan kepala daerah rupanya terjadi hampir merata di semua daerah. “Dari 244 Pemilu Kada pada 2010 dan 67 pada 2011, hampir 94 persen diantaranya pecah kongsi. Kemesraannya cepat berlalu,” ungkap Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek.
Berdasar data Kemendagri pula, diketahui hanya 6,15 persen pasangan kepala daerah hasil pemilihan pada 2010 dan 2011 yang tetap berpasangan pada Pilkada untuk periode selanjutnya. Sedemikian besar presentase pasangan kepala daerah yang pecah kongsi, sampai-sampai dianggap sebagai fenomena wajar dalam dinamika Pilkada.
Sementara itu, tim penjaringan balon Gubsu/Wagubsu Partai Demokrat membidik enam nama yang diproyeksikan sebagai Cawagubsu periode 2013-2018. Pemilihan nama Cawagubsu ini, selain dianggap potensial mendulang suara pemilih (vote getter) di Pilgubsu, juga dikategorikan sebagai sosok yang memiliki pengalaman politik dan pemerintahan. Informasi yang diperoleh Sumut Pos Grup dari pengurus inti Partai Demokrat Sumut, Selasa (3/7), enam nama Cawagubsu yang dibidik itu adalah Fadly Nurzal, HT Erry Nuradi, Saleh Bangun, Syah Affandin, Parlindungan Purba, dan DR RE Nainggolan. (sam/ari)
MEDAN- Tabrakan beruntun kembali terjadi di ruas Jalan Ngumban Surbakti, Medan Selayang, Selasa (3/7) sore. Diduga, penyebab kecelakaan dipicu oleh adanya batang pohon di badan jalan yang mengakibatkan salah satu pengemudi mobil mengerem mendadak.
Akibat tabrakan ini, tiga mobil yang terlibat tabrakan beruntun itu mengalami rusak pada bagian belakang dan depan mobil. Untungnya pengemudi hanya mengalami luka ringan dan shock. Informasi yang diperoleh wartawan koran ini di lokasi kejadian, kecelakaan terjadi sekira pukul 14.10 Wib. Saat itu, mobil Kijang Innova warna cokelat BK 1041 GP yang dikemudikan seorang wanita bernama Bindu (37), secara tiba-tiba mengerem saat melaju dari arah Jalan Simpang Pos menuju simpang Jalan Setia Budi.
Karena mengerem mendadak dengan kecapatan tinggi, mobil yang melaju dari belakang Innova berwarna cokelat ini pun ikut terkejut. Sontak saja, mobil Honda City BK 779 GA yang dikemudikan Rahmad Yani, yang berada dibelakangnya pun ikut mendadak ngerem. “Tapi masih bisa kurem mobil yang saya bawa,” tuturnya.
Tapi naas, sebuah mobil Suzuki Estim B 2738 VD yang dikemudikan Rendy Christ Giovanni (19) malah menghantam Honda City milik Rahmad yang berada di depan mobilnya. Tidak sampai disitu, dengan kecepatan yang cukup tinggi, sebuah mobil Kijang Innova BK 1389 LF, yang dikemudikan, Sofyan (56), itu juga menghantam Suzuki Estim dari arah belakang sehingga empat mobil saling tabrakan beruntun. “Mungkin pengemudi terkejut lihat batang-batang pohon yang lagi berserakan di jalan. Kami memang lagi menebang cabang pohon disini sejak dua minggu terakhir karena kami diperintahkan begitu,” ucap Boy, seorang saksi mata di lokasi kejadian.
Petugas Sat Lantas Polresta Medan yang turun ke lokasi akhirnya mengevakuasi mobil tersebut dari lokasi kejadian. Aiptu Syahnan, petugas Unit Laka menuturkan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap para pengemudi mobil yang terlibat tabrakan beruntun tersebut. “Bindu, pengemudi Kijang Innova warna cokelat yang menjadi awal tabrakan dibiarkan pergi dari lokasi oleh mereka. Bindu yang seharusnya menjadi saksi sudah pergi,” pungkasnya.(jon)
BERSAMA: Pengurus TP PKK Kota Medan berfose bersama setelah menerima piala penghargaan lomba memasak masakan dan minuman khas daerah.Perlombaan masak makanan dan minuman khas daerah yang digelar kementerian perdagangan itu diikuti 10 peserta yang berasal dari 5 provinsi. Pada kesempatan itu, TP PKK Kota Medan menjadi juara pertama, dan diikuti juara kedua dari Provinsi Jambi dan Kota Tanjungbalai serta Provinsi Sumatera Utara.
Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Bayu Krisnamurti menegaskan, hasil penilaian tidak perlu diragukan, pasalnya jurinya langsung langsung William Wongso, yang selama ini terkenal baik dalam negeri mau pun luar negeri. Artinya, penilaian dilakukan benar-benar objektif dan makanan maupun minuman khas daerah yang disajikan benar-benar enak.
“Jadi bukan karena Kota Medan sebagai tuan rumah. Itu saya jamin,” kata Bayu saat menyerahkan hadiah didampingi Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo.
Tim Penggerak PKK Kota Medan berhasil menjadi juara pertama dalam lomba masak makanan dan minuman khas daerah, yang digelar dalam rangka pembukaan Pameran Pangan dan Produk Dalam Negeri Regional ke-7 di Lapangan Merdeka Medan.
Sementara itu, Gunaryo memaparkan, lomba masak makanan dan minuman khas daerah diikuti 10 peserta berasal dari 5 provinsi yakni Naggroe Aceh Darussalam (NAD), Jambi, Riau, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara selaku tuan rumah.
“Lomba sengaja digelar untuk memperkenalkan hidangan menu unggulan khas dari masing-masing daerah sekaligus menciptakan produk pangan secara kreatif dan inovatif,” sebutnya.
Dia menyebutkan, setelah TP PKK Kota Medan menjadi juara pertama, maka memiliki hak mengikuti acara puncak atau final lomba masak makanan minuman khas daerah pada oktober 2012 mendatang di Jakarta. Karenanya, TP PKK Kota Medan akan kembali bersaing dengan para peserta lainnya untuk menjadi juara pertama.
“Kami serahkan piala, kepada Ketua TP PKK Kota Medan Ny Hj Yusra Siregar-istri Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM serta hadiah uang tunai sebesar Rp7 juta sebagai uang pembinaan,” sebutnya.
Mendapatkan juara pertama, Ketua TP PKK Kota Medan Hj Yusra Siregar mengaku sangat gembira sekali dengan terpilihnya TP PKK Kota Medan sebagai juara pertama lomba masak makanan minuman khas daerah. Keberhasilan tersebut dinilainya sangat membanggakan sekali, sebab kegiatan diikuti 10 peserta dari 5 provinsi.
“Saya sangat bangga. Ini merupakan hasil kerja keras seluruh anggota TP PKK. Saya mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang terjalin dengan baik,” katanya.
Lebih lanjut, dia berharap keberhasilan yang diraih tidak langsung membuat berpuas diri. Justru dijadikan motivasi meningkatkan hasil yang lebih baik. “Marilah bersama-sama meningkatkan kinerja yang lebih baik pada masa akan datang,” ajaknya.(gus)
MEDAN-Masyarakat Kota Medan dipastikan memiliki e-KTP yang dikeluarkan Kementrian Dalam Negeri melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan, Kamis (5/7) mendatang. Pasalnya, sebanyak 308.955 e-KTP sudah diserah kepada 21 kecamatan di Kota Medan, Kamis (27/6) yang lalu untuk dibagikan kepada masyarakat.
“Kamis ini akan kita bagi kepada warga, sebelumnya secara simbolis menteri dalam negeri sudah membagikan kepada warga. Ini hanya menyaksikan pendistribusian yang disaksikan Wali Kota Medan,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catat Sipil Kota Medan, Muslim, Senin (2/7). Menurutnya, untuk pendistribusian di Kecamatan Medan Marelan yang akan dihadiri langsung oleh Wali Kota Medan, Rahudman Harahap. Saat ini penyaluran dilakukan kementerian dalam negeri ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan melalui PT Pos Indonesia.
Untuk saat ini warga Kota Medan yang sudah melakukan perekaman di masing-masing kecamatan sebanyak 1.266.037 jiwa. Namun hingga saat yang masih tertahan di kementrian dalam negeri sebanyak 957.083 jiwa.
“Pendistribusian dari kita berkoordinasi dengan Pos saja selaku pendistribusi dari pusat yang belum menunggu pihak pusat mengirimkan sisanya,” ujarnya.
Dia mengatakan, keseluruhan warga Kota Medan melakukan perekaman e-KTP. Bagi warga yang belum melakukan perekaman e-KTP, pihaknya memperpanjang perekaman e-KTP hingga bulan Desember 2012 mendatang. “Kita perpanjang yang belum melakukan perekaman hingga Desember 2012 mendatang,” sebutnya.
Saat ini kebanyakkan orang yang belum melakukan perekaman e-KTP merupakan warga pendatang dan sudah pindah dari Kota Medan, namun untuk warga pendatang, pihak Disdukcapil tetap melakukan pendataan.
Menurutnya, pengambilan e-KTP bisa dilakukan pada masing-masing kecamatan yakni di kantor Camat dengan membawa KTP yang lama untuk ditukar dengan e-KTP. Kemudian petugas kecamatan akan kembali memeriksa sidik jari menggunakan alat perekam e-KTP untuk kembali memastikan pemilik e-KTP dan KTP yang lama tidak berfungsi kembali.
Dia menjelaskan tidak benar identitas di e-KTP tidak berlaku untuk pengurusan administrasi karena berubahnya Nomor Induk Kependudukan (NIK) di e-KTP. Pasalnya setiap pengurusan KTP lama untuk perpanjangan, NIK pasti berubah, sehingga isu yang berkembang di masyarakat tidak benar. Identitas yang berlaku akan datang yaitu e-KTP.
Sedangkan kendala yang dialami saat pendistribusian e-KTP ke masyarakat, Muslim menjelaskan, banyak data e-KTP nyasar yang bukan milik warga Kota Medan. (gus)