Home Blog Page 13412

Bangun Ulang Titi Kuning Dianggap Pemborosan

MEDAN-Ambruknya Titi Kuning terus menjadi polemik. Terutama soal perbaikan atau pembangunan kembali jembatan bersejarah tersebut. Menariknya, pihak Pemko Medan mengaku tidak punya peran soal tragedi tersebut. Dan, Titi Kuning pun dianggap sebagai pemborosan.

Sekretaris Daerah Kota Medan (Sekdako), Ir Syaiful Bahri menjelaskan jembatan Titi Kuning yang ambruk pada hari, Sabtu (2/6) lalu  bukan milik Pemko Medan melainkan milik Pemprovsu. Tidak hanya itu, jalan yang dihubungkan jembatan itu juga milik Pemprovsu.

Karena itu, Pemko Medan tidak akan membangun ulang jembatan itu. “Jalan dan jembatan itukan dulu dibangun negara, lalu jadi milik provinsi. Sedangkan jalan dan jembatan itu enggak dirawat dan enggak diserahkan ke Pemko Medan,” ucap Syaiful usai pelaksanaan sidang paripurna singkat di gedung DPRD Medan.

Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak perlu menjadi polemik. Dirinya memilih untuk pengamanan area jembatan itu agar tidak menimbulkan peristiwa yang sama lagi.

Ketika ditanyakan kembali apakah jembatan itu akan dibangun lagi, ia justru mempertanyakan urgensinya. “Loh, buat apalagi dibangun, di sebelahnya kan sudah ada jembatan yang lebih besar. Masak, hanya dalam jarak 10 meter ada dua jembatan. Di mana ada efesiensinya? Bukankah itu pemborosan? Kalaupun dibangun ulang, apakah harus dibangun seperti jembatan besar yang ada saat ini,” ujarnya.

Apa yang diungkapkan Sekdako ini berbanding terbalik dengan anggota dewan. Setidaknya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan meminta agar Pemko Medan segera membangun kembali jembatan Titi Kuning yang ambruk di Jalan M Basir, Medan Johor itu.

“Pemko Medan harus segera melakukan pembangunan terhadap jembatan tersebut, karena ini suatu bukti kelalaian kinerja intansinya. Dalam hal ini Dinas Bina Marga Medan yang harus melakukan pengawasan terhadap kondisi fisik jembatan,” kata anggota Komisi D DPRD Medan, Irwan Sihombing kepada Sumut Pos. Senin (4/6).

Selain itu, lanjutnya, Pemko juga berkewajiban untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) melakukan pengawasan terhadap pondasi jembatan. “Jadi jangan sampai rubuh dahulu baru dilihat jembatan itu. Pemko Medan dan Pemprovsu harus saling berkoordinasi melakukan pengawasan terhadap jembatan di Kota Medan ini. Untuk itu, Dinas Bina Marga jangan buang badan,” ucap politisi Farksi Partai Keadilan Sejahtera (F PKS) ini.

Anggota lainnya, Juliandi Siregar sangat menyangkan kinerja dari Dinas Bina Marga yang tidak melakukan pengawasan terhadap jembatan di Kota Medan. Padahal diketahui Dinas tersebut sudah memiliki Unit Pelayanan Terpadu (UPT), sebagai antisipasi bencana.

“Titi (jembatan, Red) tersebut harus tetap diperbaiki, jangan sampai tidak dilakukan pembangunan kembali. Padahal Dinas Bina Marga Medan sudah menyiapkan lima titik posko bencana yang digunakan untuk mengantisipasi bencana,”jelasnya.

Menurutnya, pihaknya belum bisa menjabarkan anggaran yang digunakan Dinas Bina Marga sebelum Dinas tersebut membuat Laporan Pertangungjawaban kepada DPRD Medan. “Jadi, kalau memang di tahun 2011 ada anggaran perawatan terhadap jembatan. Pasti akan ketahuan dalam LPJ 2012 saat disampaikan ke DPRD Medan,” cetusnya.

Informasi dari warga sekitar Titikuning, jembatan yang berada di antara perbatasan Kelurahan Titi Kuning dan Kelurahan Pangkalan Mansyur Kecamatan Medan Johor itu ternyata pernah diperbaiki pada 2009 lalu. Namun, perbaikan pada bantalan jembatan saja dan perbaikan itu tidak sempurna

“Setahu saya bantalan jembatan yang dilakukan perbaiki sekira tahun 2009 lalu tidak semuanya diperbaiki,” bilang Kepala Lingkungan (Kepling) V Kelurahan Pangkalan Mansyur, Ramadhanil, kemarin.

Dijelaskan pria yang kerap disapa Danil itu bahwa pada perbaiki bantalan yang dilakukan oleh pihak Bina Marga itu langsung dilihatnya di lapangan. “Yang jelas ketika memperbaiki bantalan perbaiki jembatan itu saya melihat langsung diganti,” katanya.

Kemudian, sambung Danil, pada awal 2012, pihak Bina Marga melakukan pengukuran terhadap Jembatan Titi Kuning Lama Itu. “Saat pengukuran tersebut, pihak Bina Marga datang kepada saya untuk mengukur jembatan Titi Kuning bersama,” katanya. (adl/omi)

Untunglah Sumut Bukan Kerajaan

Oleh: Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Untunglah Sumut bukan negeri kerajaan. Kalau tidak, bursa bakal calon (balon) gubernur takkan seramai sekarang. Siapa saja boleh tampil untuk dipilih menjadi pemimpin. Soal nanti terpilih atau tidak, itu urusan kedua. Yang penting, tampil dulu.

Coba kita tinggal di negara kerajaan. Jelas untuk menjadi raja harus ada darah birunya. Alias ada pertalian darah dengan raja sebelumnya. Tak ada cerita raja itu boleh dipilihn
Enaknya tinggal di negeri demokrasi tercermin dalam bursa cagubsu hari-hari ini. Nama yang muncul datang dari berbagai profesi. Saking ramainya, kita sampai geleng-geleng kepala dan bertanya: si A ini siapa ya… kalau si B ini? Artinya, sosok yang selama ini tidak kedengaran kiprahnya pun ternyata berani mendaftar menjadi balon Gubsu.

Tapi itulah demokrasi. Meski menurut ukuran Anda, si A misalnya tidak layak mencalonkan diri menjadi balon Gubsu, Anda tak boleh marah-marah. Karena undang-undang melindungi hak si A untuk mencalonkan diri. Anda juga boleh kok mencalonkan diri. Kami pun tidak berhak marah-marah kalau Anda mencalonkan diri, meski kami menilai Anda tidak layak memimpin.

Toh, nantinya rakyat yang menentukan. Kalau rakyat ternyata lebih memilih si A yang menurut ukuran kita tidak layak, ya tak bisa diprotes. Karena inti demokrasi adalah: pemerintahan ada di tangan rakyat.

Hingga kemarin, nama-nama yang sudah menunjukkan keseriusan untuk maju —dilihat dari tindakannya mengambil formulir dan mendaftar ke partai politik—, sudah belasan nama. Sebut saja nama Sutan Bhatoegana, Letjend Purn Cornel Simbolon, Letjend Purn AY Nasution, Gus Irawan Pasaribu, Amri Tambunan, HT Milwan, HT Erry Nuradi, Bintatar Hutabarat, RE Nainggolan, Benny Pasaribu, Syahrul Effendi Siregar, Juliari Batubara, Kartawijaya Rajagukguk, Anna Sianipar, Parasian Simanungkalit, Sofyan Tan, dan Hasbullah Hadi (jalur independen). Masih ada beberapa nama yang disebut-sebut bakal maju tetapi belum kedengaran mendaftar ke partai manapun, yakni Syah Afandin alias Ondim dan Kamaluddin Harahap.

Dari belasan nama-nama itu, belum ada yang mengaku siap menjadi orang kedua alias balon Wagubsu. Semuanya mengaku mengincar kursi nomor satu Sumut. Artinya, semua merasa diri layak duduk di kursi itu.

Di antara pembaca, mungkin ada yang mengerutkan kening karena belum pernah mendengar satu atau dua nama yang disebut di atas. Bahkan mungkin ada yang belum pernah mendengar 5-6 nama. Tak apa. Mereka masih harus menjalani beberapa saringan kok.

Ada beberapa proses penyaringan sebelum berhak memimpin Sumut. Pertama tentu dari parpol sendiri Sejumlah parpol mengaku, proses penetapan calon itu berdasarkan hasil survey. Tokoh yang memiliki tingkat elektabilitas (keterpilihan) tertinggilah yang memiliki peluang paling besar untuk digolkan menjadi cagubsu pada Pilgubsu 2013. Artinya, selama survey pun, rakyat sudah berperan serta untuk menentukan siapa calon pemimpin mereka. Kalau . Karena dari jalur independen, wajib mengantongi ratusan dukungan suara.

Seleksi berikutnya ada di tangan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di komisi ini, para calon akan diseleksi lagi. Misalnya minimal berijazah SMA sederajat, berbadan sehat, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berumur minimal 30 tahun, tidak pernah kena pidana hukuman 5 tahun atau lebih, dan sebagainya. Dengan syarat yang begitu mudah tersebut, jutaan warga Sumut dipastikan lolos —meski ironisnya banyak calon yang justru terjerat kasus ijazah.

Lolos dari KPU, para calon masih harus bertarung lagi dalam seleksi penentuan: Pilgubsu langsung 2013. Artinya, penentuan gubernur masih di tangan rakyat.

Jadi, betapapun berkerutnya kening Anda melihat sejumlah nama yang ‘berani-beraninya’ maju jadi balon, pada akhirnya senyum-senyum sajalah. Karena keberanian mereka itu juga berarti: Anda dan saya sah-sah saja mencalonkan diri. Untunglah Sumut bukan kerajaan. (*)

Polisi Tewas Tertembak Senjata Sendiri

Kejar Tahanan Kabur

KISARAN- Briptu Wahidi Zahri (28) warga Dusun III Desa Air Teluk Hessa Kecamatan Air Batu tewas terkapar bersimbah darah. Dia tertembak senjata laras panjang miliknya sendiri di sekitar LP Labuhan Ruku Kabupaten Batubara, Senin petang (4/6) sekira pukul 18.00 WIB Informasi yang dihimpun, korban sebelum tewas tengah mengejar salah seorang tahanan Lembaga Permasyarakatan ( LP ) Labuhan Ruku Batubara yang berusaha melarikan diri saat tiba di LP usai mengikuti persidangan, Senin petang sekitar pukul 18.00 WIB.

Informasi ini dikuatkan Kapolres Asahan AKBP Yustan Alpiani saat dihubungi melalui telepon selulernya. Berdasarkan informasi sementara yang ia didapat, korban saat itu bertugas mengawal tahanan LP Labuhan Ruku yang mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri  (PN) Kisaran,
Saat tiba di LP, ada dua tahanan yang berusaha melarikan diri, satu di antaranya berhasil dibekuk di depan LP dan satu orang lagi melarikan diri ke arah perkebunan kelapa sawit dekat LP. “Secara bersamaan, korban mengejar sambil melepaskan beberapa kali tembakan peringatan ke udara,” kata Yustan.

Masih keterangan Yustan, beberapa petugas LP termasuk rekan korban yang juga ikut mengawal tahanan kemudian ikut membantu pengejaran. “Saat itu didapati korban sudah terkapar bersimbah darah di semak-semak, sedangkan tahanan yang dikejar korban berhasil ditangkap tidak jauh dari tempat korban ditemukan,” jelas Kapolres.

Dikatakan Yustan, korban langsung dibawa ke Puskesmas Labuhan Ruku, kemudian dibawa ke RSUD Kisaran untuk dilakukan visum, kemudian diserahkan ke pihak keluarga. “Belum diketahui apakah pihak keluarga meminta korban untuk diotopsi,” jelas Kapolres yang juga akan berangkat ke rumah duka.

Pantauan METRO (grup Sumut Pos) di RSUD Kisaran, sejumlah petinggi Polres Asahan Kabag Ops Kompol Faisal Napitupulu, Kasat Intel AKP A Saragih, Kasat Sabara AKP C Napitupulu serta beberapa personel Polres Asahan bersiap menerima kedatangan jenazah Briptu Wahidi Zahri, situasi semakin tegang begitu terdengar suara raunga sirene ambulan yang mengusung jenazah. Sejumlah awak media pun terpaksa minggir begitu petugas berpakaian dinas serta preman memperketat penjagaan.

Begitu pintu mobil ambulan dibuka, tandu langsung dipersiapkan dan jenazah langsung dinaikkan dan disorong ke kamar khusus penanganan jenazah, pintu langsung dijaga oleh petugas. “Maaf! Hanya petugas medis yang boleh masuk,” kata petugas berpakaian preman.

Menurut perwira Polres Asahan yang ada di ruang IGD RSUD Kisaran, korban tertembak senjatanya sendiri saat memukulkan popor senjatanya kepada tahanan yang berusaha kabur begitu tiba di LP Labuhan Ruku. “Itu yang kita dapat ceritanya,” kata petugas yang enggan namannya disebutkan dengan alasan Kapolres yang berwenang memberikan keterangan.

Sementara itu menurut dokter jaga yang bertugas di ruang IGD RSUD Kisaran, dr Faizal, korban tiba di RSUD Kisaran sudah dalam kedaan tidak bernyawa lagi, mengenakan pakaian sergam polisi berwarna coklat. “Pada tubuh korban (bagian perut atas) didapati luka sebesar kurang lebih 7,5 cm,” terang Faizal tanpa merinci apakah bekas tembakan atau sayatan.

Sunarto orangtua korban, begitu tiba di RSUD Kisaran tampak tak kuasa melihat jasad anaknya terbujur kaku di atas tandu. Dengan dibimbing rekan korban, Sunarto menandatangani buku pengambilan jenazah. (sus/mag-12/smg)

Pilih Main Game daripada Paksakan Belajar

Ni Putu Tamara Bidari Suweta, Siswi SMPN 1 Denpasar Peraih Nilai Sempurna UN

Ni Putu Tamara Bidari Suweta tak pernah mengira akan meraih nilai sempurna (semua 10) dalam ujian nasional (UN) tahun ini. Berkat prestasinya itu, siswi SMPN 1 Denpasar tersebut dinyatakan sebagai peraih nilai tertinggi se-Indonesia.

BAGI Tamara, raihan nilai 40 atau rata-rata 10 dalam UN bak sebuah mimpi di siang bolong. Hampir mustahil diraihnya. Pasalnya, soal-soal empat mata pelajaran yang diujikan (matematika, IPA, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris) juga tergolong tidak mudah. Terutama bahasa Inggris, dia mengaku kesulitan.

Maka, pengumuman UN Sabtu lalu (2/6) sangat mengejutkan dirinya. Juga guru dan kawan-kawannya. Sebab, di luar dugaan, Tamara berhasil meraih nilai sempurna. “Saya tidak pernah bermimpi akan mendapatkan nilai UN 10 semua,” ujarnya saat ditemui di sekolahnya kemarin (4/6).

Gadis dengan tinggi 151 sentimeter dan berat badan 47 kilogram itu mengaku tidak punya resep khusus dalam belajar. Dia juga bukan kutu buku atau langganan juara di sekolah. Prestasi tertinggi yang pernah dicatat adalah peringkat keempat saat duduk di kelas VIII. Sedangkan prestasi di luar akademik, dia pernah menjuarai Olimpiade Sains Nasional (OSN) se-Bali pada 2011 untuk pelajaran matematika.

“Tapi, saya tidak pernah keluar dari ranking sepuluh besar saat ujian akhir semester lho. Paling mentok ranking ketujuh,” urainya sembari tersipu malu Tamara menjelaskan bahwa dirinya tak pernah memaksakan diri untuk belajar. Apalagi bila sedang bad mood. Kalau sudah seperti itu, dia biasanya memilih mandek belajar dan menjalankan aktivitas lain yang disenangi.

“Kalau saatnya main, saya juga main seperti biasa. Jadi tidak melulu belajar,” ungkap gadis yang hobi membaca majalah dan main game online itu.

Meski demikian, prestasi juara pertama UN se-Indonesia yang ditorehkan Tamara tidak berarti suatu kebetulan belaka. Pasalnya, di kelas IX-A tempatnya belajar, hampir seluruh siswanya punya kemampuan di atas rata-rata.

“Sekolah kami ini kan RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional, Red). Jadi, persaingan di setiap kelas sangat ketat. Tidak terkecuali di kelas Tamara,” jelas Kepala SMPN 1 Denpasar AAG AG Rimbya Temaja.

Hal itu dibenarkan Wali Kelas IX-A Indrawati Abdullah. Menurut dia, Tamara memang bukan siswa yang cerdas sekali. Tapi, dia memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan siswa lainnya. Keunggulan yang dimiliki Tamara adalah selalu bertanya bila ada pembahasan yang tak dipahami. Setiap guru yang mengajar pasti mendapatkan berondongan pertanyaan dari gadis berkulit cokelat itu.

“Tamara kalau bertanya nggak nanggung-nanggung. Dia tidak akan berhenti kalau belum dapat jawaban yang memuaskan,” terang pendidik asal NTT tersebut.

“Kadang kami sebagai pendidik sempat bingung menjawab pertanyaan dia,” imbuh perempuan berjilbab itu, lantas tertawa. Tamara yang ada di sampingnya hanya tersenyum malu.

Selain banyak bertanya, Tamara tergolong siswa yang tekun dan sabar dalam mengerjakan setiap soal mata pelajaran. Sikap itulah yang diyakini sebagai kunci utama yang mengantarkan dia menjadi peraih nilai tertinggi se-Indonesia.

“Banyak anak yang cerdas dan pintar, tapi kurang teliti dalam menjawab soal. Padahal, dalam menjawab soal tidak boleh grusa-grusu (terburu-buru). Apalagi soal ujian nasional,” tutur Indrawati.

Pernyataan sang guru diamini Tamara. “Saya memang tidak suka buru-buru. Pelan-pelan, yang penting selesai dengan benar,” tegas putri pasangan Wayan Mudana Suweta dan Ni Wayan Rapiarini itu.

Tamara bercita-cita bisa melanjutkan sekolah di SMA favoritnya, yakni SMAN 4 Denpasar. Sekolah tersebut, jelas Tamara, selalu menyumbangkan siswanya di daftar sepuluh besar peraih nilai terbaik nasional UN SMA/SMK.

Hingga kini Tamara belum tahu ingin menjadi apa kelak. “Nggak tahu, belum kepikiran ke sana. Kalau orang tua saya nyuruh saya jadi dokter,” ungkap ABG itu.

Meski belum punya cita-cita, Tamara memiliki obsesi dalam hidupnya. “Saya ingin bertemu Pak SBY. Minimal ditelepon. Saya ingin ungkapkan bahwa di Bali banyak anak berprestasi, namun kurang perhatian pemerintah,” ujarnya.

Kepada adik-adik kelasnya, Tamara berpesan agar tekun dan bersemangat dalam belajar. “Tidak harus pintar. Yang penting belajar berkesinambungan. Harus yakin kalau bisa serta berdoa selalu,” tuturnya. (*)

Senam Massal dan Futsal Meriahkan Sensasi Matik Yamaha

MEDAN-Untuk kesekian kali Yamaha melaksanakan event Nasionalnya yaitu Sensasi Matik Yamaha di wilayah Medan, 2-3 Juni. Kali ini kegembiraan bersama masyarakat tersebut berlangsung di komplek MMTC, Jalan Pancing.

Berbagai aktivitas di Sensasi Matik Yamaha ini diadakan diantaranya senam massal yang diikuti ribuan orang, kompetisi futsal, dance competition, lomba model cilik, lomba model remaja, band competition, lomba mewarnai anak TK/SD yang diikuti hampir 100 anak. Test ride Mio J menjadi acara paling diminati masyarakat Medan. Acara itu menjadi semakin semarak dengan penampilan band papan atas dari ibukota, Helo.

Tepat pukul 07.00 WIB, lantunan musik pengiring senam dalam program tersebut dibunyikan. Masyarakat setempat yang datang satu per satu atau pun bergerombol, langsung membuat barisan untuk mengikuti gerakan-gerakan senam yang dipandu seorang instruktur senam.
Tahapan-tahapan senam dari pemanasan, senam utama hingga  pendinginan diikuti dengan antusias oleh para peserta senam tersebut. Ketiga instruktur senam yang memandu terlihat atraktif dan interaktif sehingga suasana semakin meriah.

Selain itu, puluhan remaja yang akan mengikuti kompetisi futsal, juga turut larut dalam irama senam tersebut, sebelum mereka bertanding di lapangan itu. Warga-warga yang tengah berseliweran melintasi kompklek pertokoan itu, juga banyak yang tiba-tiba berhenti dan menonton kegiatan tersebut.

Pihak panitia kali ini telah menyiapkan berbagai hadiah dan dorprize menarik bagi mereka yang menang dan mereka yang beruntung, mulai dari souvenir menarik, alat elektronik hingga uang tunai siap diperebutkan. Sesi tes ride Mio J, Soul GT, dan Fino yang memperebutkan hadiah uang tunai Rp1 juta dan satu unit Yamaha Mio J diikuti oleh ribuan orang. Undian satu unit Yamaha Mio J ini akhirnya dimenangkan Nurhasanah, warga Jalan Gatot Subroto, Gang Rahmat no. 11, Sei kambing, Medan.

Yamaha ingin masyarakat bisa sedikit mencicipi sensasi berkendara matik dengan Mio J yang lincah dan powerfull sejak putaran bawah, dengan tes ride tersebut setidaknya rider bisa merasakan perbedaan sensasi mengendarai Mio J dibanding motor matik lainnya. Mio J memang diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan motor yang mudah dikendarai, lincah, irit BBM serta cocok bagi segala umur serta tentunya yang sangat penting yaitu harganya yang sangat terjangkau.

”Sensasi Matik Yamaha adalah pesta rakyat Yamaha yang digelar untuk mendekatkan diri dengan konsumen, semakin memperkenalkan matik Yamaha dan memberikan pengalaman cepat dan irit, serta sensasi berkendara matik baru Yamaha yang lebih responsif dengan injection,” papar Fredy Lukman, Cief Marketing Officier PT Alfa Scorpii di sela-sela kegiatan itu.

Begitu luasnya cakupan event ini sehingga menjadikannya sebagai pesta besar Yamaha. Dan sesuai namanya, Sensasi Matik Yamaha merupakan ajang yang bersifat menghibur serta diisi dengan nilai-nilai pendidikan, teknologi dan program pengetahuan tentang Yamaha.

“Di sini, Yamaha mengajak masyarakat untuk ikut bergembira. Dengan suasana yang menghibur dan ditambah nilai edukasi. Jadi kami gak cuma menjual. Kami mau konsumen itu punya kebanggaan. Ternyata kami juga peduli dengan pendidikan serta layanan konsumen,” ujar Fredy Lukman.

Senada dengan Fredy Lukman, Ismansyah SE selaku Divisi Promosi PT Alfa Scorpii juga menambahkan kalau event seperti ini memang harus dilaksanakan, mengingat antara produsen dan konsumen itu harus mempunyai hubungan yang dekat. Membawa slogan “Its Magic”, Sensasi Matic Yamaha memang menembak semua kalangan dan usia.

“Lebih mendekatkan diri pada masyarakat saja intinya. Sebagai wujud rasa terimakasih kepada pelanggan. Juga memperkenalkan teknologi terbaru dari Yamaha. Beberapa program seperti servis gratis, sales program dengan harga penjualan yg menarik. Hiburan, senam massal pun ada. Kami juga masuk pada segmen anak muda/sekolah dengan membuat kompetisi kreatifitas antar anak sekolah. Ajak ke kompetisi positif dan kreatif,” imbuhnya. (jun)

XL Roadshow Kampung ke Kampung

Layani Kesehatan Masyarakat

Tidak hanya sekadar memikirkan bisnis semata, XL yang selalu fokus dengan layanan masyarakat melaksanakan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam program Kampung to Kampung. 

CSR dalam bentuk pengobatan gratis ini dilakukan sejak 3 bulan terakhir telah mendatangi sejumlah daerah di Sumatera, mulai dari Manggar Bangka Belitung, Kawasan Sungai Siak Pekan Baru, Nelayan Indah Medan Belawan, hingga di tengah pulau di Pangururan Kabupaten Samosir.

Program Kampung to Kampung  yang dilatarbelakangi CSR (Corporate Social Responsibility) ini berkerjasama dengan KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) Sumatera Utara dengan membawa 21 tim Medis 6 diantaranya Dokter.

GM Sales Operation Northern West Swandi Tjia mengatakan, program Kampung to Kampung ini akan rutindilakukan sebagai bentuk CSR yang di berikan XL kepada masyarakat sekitar.

Dalam program ini, XL selalu berbagi dengan masyarakat memberikan edukasi tentang layanan kesehatan dan memberikan obat-obatan secara gratis. Program ini termasuk bagian network Quality Campaign dengan menyampaikan kepada masyarakat tentang keberadaan BTS 3G yang sudah masuk di pinggiran kota bahkan di desa sekali pun.

“Pemeriksaannya bermacam-macam, mulai dokter umum hingga dokter gigi. Pasien yang datang tidak dipungut biaya dan diberikan obat secara cuma-cuma kepada pasien yang membutuhkannya. Ini sebagai bentuk apresiasi XL,” jelasnya. (*)

Tere dan Kemuskilan Demokrat

Oleh:Janpatar Simamora, SH., MH

Di tengah gejolak politik yang begitu kuat melanda eksistensi Partai Demokrat karena sejumlah kadernya terjerat dalam berbagai kasus hukum, salah satu kader terbaiknya Theresia Ebenna Ezeria Pardede yang lebih populer dengan nama Tere menempuh jalur pengunduran diri sebagai wakil rakyat dari parlemen.

Penyanyi yang kemudian berkiprah ke panggung politik lewat jalur Partai Demokrat itu memilih jalan lain dengan mengundurkan diri sebagai anggota DPR. Sementara dalam berbagai kesempatan, Tere menuturkan bahwa latar belakang pengunduran dirinya adalah terkait dengan masalah keluarga.

Tere hendak berusaha untuk konsen untuk mengurus sang ayah, Tombang Mulia Pardede yang dalam keadaan sakit serta dalam rangka merampungkan studinya. Namun kemudian, banyak pihak yang tidak mengalamatkan respon yang sejalan dengan alasan pengunduran diri yang dikemukakan Tere.Bahkan kemudian ada pihak yang justru mengaitkannya dengan sejumlah persoalan korupsi yang melanda para elit Demokrat.

Selain itu, ada juga kalangan yang mendukung penuh langkah Tere, apalagi kemudian dalam beberapa kesempatan belakangan ini, Tere justru kerap mengaitkan pengunduran dirinya dengan berbagai masalah yang sedang melanda bangsa ini, khususnya persoalan korupsi.

Terlepas dari apa sesungguhnya motif yang melatarbelakangi pengunduran diri Tere dari Senayan, namun patut dipahami bahwa langkah Tere kali ini merupakan persoalan serius yang mesti disikapi Demokrat. Apalagi belakangan diketahui bahwa Tere bukan hanya sekadar mundur dari Senayan, tetapi juga mundur dari keanggotaannya di Demokrat. Hal inilah yang kemudian membuat publik kian bertanya terkait dengan kondisi partai penguasa saat ini.

Bagaimanapun bahwa pengunduran diri Tere jelas merupakan pukulan telak bagi Demokrat. Persoalan ini kian menjadi-jadi dan berpotensi menimbulkan efek negatif seiring dengan ragam persoalan hukum yang melanda partai asuhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini. Sebut saja misalnya Nazaruddin dan Angelina Sondakh yang merupakan kader Demokrat dan saat ini sedang terbelit dalam perkara korupsi seiring dengan kegigihan KPK dalam menelusuri berbagai kasus yang menimpa sejumlah elit partai.

Apa yang telah dilakukan KPK yang telah berhasil membongkar berbagai kasus korupsi yang secara kebetulan melibatkan sejumlah kader Demokrat tentu menjadi ancaman serius bagi Partai Demokrat. Pasalnya, sangat diyakini bahwa kasus yang melilit Angelina Sondakh kali ini tidak akan berhenti sampai di situ. Sangat dimungkinkan akan terjeratnya nama lain dalam kasus yang sama dan nama lain itu kemungkinan besar berasal dari Partai Demokrat sendiri. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa nama lain dimaksud adalah orang nomor satu di Partai Demokrat saat ini.

Sebagaimana diketahui bahwa nama Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum berulang kali disebut oleh Nazaruddin, Mindo Rosalina Manullang dan juga oleh Yulianis terlibat dalam proyek dengan nilai 191 miliar rupiah itu. Fakta ini tentu menjadi peluang besar bagi KPK untuk menyeret lebih jauh pihak-pihak yang terlibat dalam perkara yang satu ini. Bagaimanapun, Anas Urbaningrum tidak akan gampang keluar dari pusaran persoalan ini.

Kian Meruncing
Masalah inipun kian meruncing manakala di antara elit Partai Demokrat saat ini justru menunjukkan sikap berbeda dalam menyikapi persoalan ini. Sebagian elit Demokrat justru meminta Anas untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum.

Namun demikian, sebagian lagi, khususnya kalangan dekat Anas Urbaningrum justru memberikan dorongan bagi Anas untuk tetap bercikol di kursi kekuasaannya. Pendapat politik semacam ini tentu menjadi ancaman serius bagi eksistensi Demokrat di masa yang akan datang.

Melihat kondisi yang ada, Demokrat saat ini benar-benar sedang dililit persoalan besar. Sejumlah elit partainya benar-benar telah menjadi bulan-bulanan KPK. Kendati belum dapat dipastikan apakah KPK berani atau tidak untuk memperhadapkan Anas Urbaningrum ke hadapan pengadilan, namun kondisi yang ada saat ini cukup menunjukkan bagaimana rumitnya persoalan politik yang dihadapi Demokrat. Situasi itu kian diperparah seiring dengan tidak adanya satu pemahaman bagi elit Demokrat dalam menyikapi persoalan ini.

Dalam kondisi yang demikian, maka sangat mungkin terjadi bagi partai ini akan segera dirasuki oleh lawan-lawan politiknya, khususnya yang merasa bahwa Demokrat sebagai salah satu saingan terberat dalam pemilu yang akan datang. Kalau hal ini tidak diwaspadai para petinggi Demokrat, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa partai asuhan Susilo Bambang Yudhoyono ini hanya akan tinggal menantikan detik-detik kehancuran.

Memang persoalan ini bisa jadi disadari sepenuhnya oleh para elit Demokrat. Namun karena ketidakmampuannya dalam membentuk benteng pertahanan partai yang begitu kokoh, maka persoalan inipun seolah menjadi tidak direspon dengan baik. Demokrat bisa jadi linglung dalam menghadapi serangan bertubi-tubi yang sedang digencarkan KPK. Apalagi kemudian KPK dengan sejumlah alat buktinya justru sulit diredam langkah garangnya.

ntuk mengakhiri polemik di tubuh Demokrat dan demi mempertahankan citra serta wibawa partai ini, maka tiada jalan lain bahwa SBY harus segera turun tangan dan mengambil langkah tegas. SBY harus berani untuk mendorong penuntasan kasus-kasus korupsi yang melilit kader partainya. langkah itu sekaligus menjadi bukti bahwa Partai Demokrat benar-benar merupakan partai yang anti terhadap korupsi. Janji dan kampanye antikorupsi yang diusung SBY dan Demokrat pada pemilu 2009 silam masih segar dalam ingatan publik. Oleh karenanya, maka komitmen untuk mewujudkan janji dimaksud akan tercermin dari langkah yang ditunjukkan SBY dan elit Demokrat saat ini.

Kalau kemudian persoalan ini dibiarkan mengambang dan berlarut-larut, maka hal itu sama saja dengan menggantung nasib Demokrat sendiri. Masa depan partai yang satu ini bisa jadi tinggal menghitung hari, sebab publik akan terus melakukan pengawasan terhadap kiprahnya, khususnya dalam merespon persoalan korupsi yang sedang melilit sejumlah kader terbaiknya. Kalau Demokrat tidak mampu keluar dari kondisi kemuskilan yang kian parah seperti saat ini, khususnya pasca penguduran diri Tere, maka pintu kemenangan pada pemilu 2014 mendatang bagi Demokrat bisa jadi tertutup sudah.

(Penulis Wakil Direktur Laboratorium Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen Medan).

Kunjungi Villa Sutiyoso

 Shinta Bachir

Disengaja atau tidak, sejak bikin heboh dengan pengakuan jadi selingkuhan eks Kapolda Metro Jaya, nama dan karier Shinta Bachir kian meroket. Terbukti, saat ini jenis job Shinta bertambah.

“Sekarang aku lagi sibuk presenter sama syuting FTV,” ungkap Shinta, belum lama ini.
Dijelaskan perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah ini, dia sudah merampungkan syuting FTV berjudul Kupinang Kau di Atas Busway. Ia bersyukur lantaran di situ mendapatkan peran utama.
“Di situ aku dapat peran utama. Sudah ada syuting seharian di Busway,” kisahnya antusias.

Dalam film tersebut, Shinta beradu akting dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Jenderal bintang tiga itu akan menjadi ayahnya dalam film tersebut.
“Di ceritanya Pak Sutiyoso jadi bapak aku. Syutingnya juga di Bogor, Jawa Barat, di villanya Pak Sutiyoso. Dia orangnya baik dan asyik,” tandas bintang film Pulau Hantu 3 ini.

Bicara soal perselingkuhannya dengan eks Kapolda, Shinta kembali tak menyesal. Ia rela berselingkuh meski sang jenderal telah mempunyai istri. Shinta memang diberikan banyak keuntungan terutama mengenai materi. Ia dibelikan sebuah rumah dan barang mewah lainnya. (rm/jpnn)

Menantu: Saya hanya Ambil Anak dari Baby Sitter

Dituduh Aniaya Mantan Mertua

MEDAN-Reza Andrian Fachri (29), warga Jalan Sakti Lubis Medan, membantah telah menganiaya mantan mertuanya, Dra Hj T Syarifah Salmi (63), mantan Kadisperindag Kota Medan yang tinggal di Komplek Griya Riatur Indah, Jalan T Amir Hamzah. “Tidak ada saya melakukan penganiyaan terhadap mantan mertua saya,” kata Fachri.

Menurutnya, kejadian yang sebenarnya saat itu dirinya melintas di Jalan Dr Mansyur Medan. Waktu melintas di jalan tersebut, dirinya melihat mobil yang kendarai oleh mantan mertua pakir di sebuah Klinik Psikolog Humanika. Fachri turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam klinik tersebut.

“Saya melihat mobil mantan mertua berada di psikiater, saya turun, saat itu saya bersama paman saya Irwansyah. Saya langsung naik ke lantai II untuk mengambil anak kedua saya Arya Satia fahri (3) yang sedang berobat. Saat itu anak saya dalam pangkuan baby sitter langsung saja aku ambil, namun dihalangi oleh mantan ibu mertua. Saya ditarik dari belakang, saya kasih anak saya ke paman saya, sebelum saya terjatuh akibat tarikan mantan ibu mertua saya,” sebutnya.

Setelah mendapatkan anak keduanya itu, Fachri langsung membawa anaknya. Fachri meminta kepada pihak kepolisian untuk meninjau kembali hasil visum yang dikeluarkan oleh pihak RS dr Pirngadi Medan.

Dirinya juga mengungkapkan, bahwa mantan ibu mertua dirawat di rumah sakit bukan karena penganiayaan. “Ibu itu dirawat bukan dianiaya, melainkan permintaan sendiri,” sebutnya.
Dia meminta meminta agar polisi melakukan konfrontir kepada pelapor dan saksi-saksi yang memberatkan dirinya dalam kasus ini.

Hal senada juga ungkapkan oleh Hilda (54), adik sepupu T Syarifah Salmi. Dia mengatakan, bahwa Syarifah membuat laporan yang direkayasa. Memang dia tidak melihat kejadian itu, namun setelah kejadian dirinya ditelepon oleh Syarifah untuk datang ke klinik itu, kemudian dirinya datang bersama keluarga yang lain.

Selanjutnya dirinya, membawa mobil Syarifah untuk membuat pengaduan ke Polresta Medan. Setelah itu dirinya disarankan oleh seorang petugas kepolisian untuk membuat visum ke rumah sakit. Dirinya mengantar kakak sepupunya itu ke RSU dr Pirngadi Medan.

“Aku lihat dengan mata kepala aku tidak ada kakak (Syarifah, Red) mengalami luka penganiayaan, kemudian dirinya dirawat ke rumah sakit bukan karena penganiayaan, melainkan tensinya naik hingga 210, sehingga dirinya minta dirawat,” jelasnya.

Hilda juga mendengar percakapan pelapor dengan kuasa hukumnya Syarifuddin SH. Dalam percakapan tersebut, kuasa hukum pelapor mengatakan, jangan dilaporkan masalah perebutan anak, melainkan masalah penganiayaan.

Sementara itu, Syarifah Nafriani yang juga kerabat keluarga mantan Kadisperindag Kota Medan itu menjelaskan usai perceraian antara Fachri dengan istrinya Salfidah Putri (29),masih berlangsung di Pengadilan Agama Medan dalam proses banding, yang dilakukan Fachri. Jadi anak pertamanya Asfira Adriani Fahri (5) diasuh mantan istrinya dan Arya Satia fahri (3) diasuh oleh Fachri.

Arya dalam asuhan Fachri disekolahkan di Play Group di Jakarta, kemudian mantan istrinya meminta kepada Fachri untuk meminjam anaknya sementara waktu, pasalnya keluarga mantan istrinya hendak melangsung pernikahan jadinya diberikan Fachri kepada ibunya, namun usai pernikahan tidak dikembali oleh mantan istirinya, hingga terjadi perebutan anaknya.

Dirinya meminta kepada kakak sepupunya itu berbicara lah dengan jujur sesuai dengan fakta apa adanya, jangan ada ditambahi maupun di rekayasa. Kanit Jahtanras Polresta Medan, AKP Yudi Friyanto saat dikonfirmasi mengatakan akan melakukan konfrontir antara Fachri dengan pelapor dan saksi-saksi memberatkan Fachri. Menurutnya, polisi akan mengacu hasil visum dari rumah sakit dan bukti-bukti yang ada untuk melakukan proses hukum. (gus)

Jupe Rambah Dunia FDJ

MEDAN – Karir aktris seksi Julia Perez (Jupe) selama ini melejit di bidang tarik suara dengan tembang Belah Duren dan layar lebar melalui beberapa filmya seperti ‘Hantu Jamu Gendong’, ‘Kuntilanak Kesurupan’, ‘Arwah Goyang Kerawang’, ‘Rumah Bekas Kuburan’.

Namun sesungguhnya wanita ini memiliki talenta lain, bahkan jauh sebelum dia menekuni dunia akting dan tarik suara. Kini, wanita bernama asli Yuli Rachmawati itu melebarkan sayapnya dan merambah dunia Female Disc Jockey (FDJ).

Jupe telah berulangkali melakoni dunia barunya itu dan selalu mendapat sambutan hangat. Di Medan, wanita yang baru saja membuka restoran dengan sajian khusus ayam ini tampil di Millenium Three (M3) Entertainment bekerjasama dengan Clas Mild, dalam gawean One Night Stand with Jupe, Sabtu (2/6) malam.

Kehadiran Jupe menghentak penggemar dunia gemerlap (dugem), sebab wanita ini bisa menjadi magnet tersendiri dengan keseksiannya terutama bagi kaum lelaki, dan terpenting dia juga mahir menjadi peramu musik dari kaum wanita, atau kerap disebut FDJ.

“Jupe dipilih tak sekadar status keartisannya, tetapi lebih melihat banyaknya permintaan. Apalagi Jupe terbilang jarang manggung di Medan, dan ini akan menjadi sesuatu yang baru,” ujar General Manager M3 Romel Simmon.

Ditambahkan Branch manager Clas Mild Medan, Sulianto didampingi Edi Agustin dari Sales and Promotion Supervisor, mereka terus eksis dengan even – even night live khususnya para clubber dan eksekutif muda yang ingin hangout.

“Selain Jupe, acara juga dimeriahkan resident DJ antara lain, DJ Hasan, Danny, Ongku, Jimmy Funk, Apin, Nicko, Robby dan Hanna serta DND Dancer dari Jakarta.  (adl)