Home Blog Page 13459

Melihat Potensi Gaharu, Produk Ekspor Unik dan Mahal

Budidaya Pohon Gaharu

Pohon Alim merupakan tumbuhan yang menghasilkan gubalan Gaharu atau yang biasa disebut sebagai Damar Wangi, atau yang pada umunya kita menyebutnya sebagai Pohon Gaharu. Jenis tumbuhan ini cukup langka, karena hanya dapat tumbuh di hutan hujan tropis, yang akhirnya membuat harganya cukup mahal. Untuk mendapakan Gaharu ini juga cukup unik, dimana pohon alim terlebih dahulu diinfeksikan pada berbagai microba atau jamur.

Gaharu ini pada umumnya dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan berbagai produk wewanggian, sebut saja parfum, pewangi ruangan (aroma terapi), dan hio. Untuk parfum, Gaharu digunakan sebagai pengganti alkohol, dan dipercaya parfum akan tahan lebih lama bila menggunakan Gaharu. Karena itu, tidak heran bila harga kayu Gaharu ini dipasarkan Rp8 juta per kilo, dimana 1 pohon dapat menghasilkan 20 kg kayu Gaharu.

Produksi Gaharu ini di dalam negeri ini, lebih sering untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, seperti China, Eropa dan Arab Saudi. Cina, menggunakan kayu Gaharu ini untuk perlengkapan sembahyang (Hio) dan karya seni, sedangkan Arab menggunakan Gaharu untuk pewangi ruangan dan aroma terapi. Sedangkan Eropa lebih menggunakannya untuk bahan baku parfum.

Untuk produksi, tanaman hutan bukan kayu ini bisa dikatakan cukup murah dan mudah, walau memakan waktu sekitar 7 hingga 8 tahun. Modal awal, cukup mengeluarkan dana sekitar Rp1700 perbatang untuk bibit tanaman, yang biasanya didapat disekitar hutan seperti Gunung Leuser dan lainnya. Saat usia bibit sudah mencapai 5 hingga 6 bulan, maka tanaman akan berkembang sendiri secara alami. “Tetapi, saat masih usai muda, usahakan agar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung, karena ini dapat membuat tumbuhan mati,” ujar Petani Penghasil Gaharu dari Desa Timbang Jaya, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumut.

Saat usia tanaman sudah memasuki usia 6 tahun, maka pohon alim atau penghasil gaharu ini, akan mulai di suntikkan dengan berbagai  microba atau fusarium. Selama 2 minggu berturut-turut. Dimana minggu pertama, pohon akan diberi makan berupa mikroba, dan minggu kedua dapat memasukkan mikroba dengan suntikan fusirium. “Dan bila berhasil, maka pohon akan mengeluarkan wewangian, dan ini yang menandakan bahwa tanaman tersebut berhasil,” ungkap Sofyan. Saat melakukan suntikan, maka pohon akan dibolongi dengan diameter tergantung dari besar pohon. Lubangan yang diberikan juga sebanyak 32 atau sesuai dengan besar pohon. Dan bila mikroba yang disuntikkan tidak sesuai, maka secara alami, pohon akan menutup lubang tersebut. “Dan ini berarti pohon tidak menghasilkan gaharu,” tambah Sofyan. Setelah penyuntikkan, selang waktu 1 hingga 2 tahun, maka Gaharu dapat dipanen. Dan untuk memisahkan antara kayu dan gubalan gaharu dibutuhkan 12 jenis pisau dengan keterampilan yang ahli pula. Setelah itu, kayu dijemu dengan cara dianginkan agar kayu bagus dan wanginya tidak menguap. ‘jangan kena matahari, karena itu akan menghilangkan kadar wangi dari gaharu,” tambahnya.

Seperti diungkapkan dari awal, produksi gubalan gaharu ini sangat unik, karena terinfeksi penyakit yang ditimbulkan oleh jamur Phaeoacremonium parasitica. Dan infeksi ini yang membuat gubalan gaharu atau damar wangi sebagai respon masuknya mikroba pada jaringan pohon yang terluka akibat pelubangan (pengergajian), atau secara alami karena batang pohon yang patah dan kulit kayu yang terkelupas. Masuknya mikroba kedalam jaringan dapat berupa resin berwarna coklat serat berbau harum, serta menumpuk pada pembuluh untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain.

Menandakan bahwa tumbuhan itu behasil, cukup mudah. dimana tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang pohon yang menjadi lunak, menguning, dan rontok. Selain itu, juga akan terjadi pembengkakan, pelekukan atau penebalan pada batang, dan cabang tanaman. Semakin hitam warna kayu, maka semakin bagus kualitas yang akan membuat harga jual juga semakin tinggi.

Sebelumnya, para petani penghasil gaharu menyatakan untuk mendapatkan gaharu dengan kualitas baik termasuk sulit, bahkan tidak jarang ada sebagian petani yang gagal panen, karena pohon alim tidak menghasilkan gaharu.

Masalah yang dihadapi oleh petani sama, suntik fusarium yang terdiri dari 50 mikroba didalamnya, tidak cocok, dan terkadang pelubangan pada pohon alim yang mengenai inti pohon, sehingga membuat pohon menjadi mati. “Pada intinya gagal gaharu ini dikarenakan suntik fusarium yang tidak sesuai, bahkan saat pelubangan mengenai inti pohon,” Ujar Direktur PT Gaharu Sejati, Dodi Arianto.

Dirinya menjelaskan, dulunya Gaharu ini didapat dengan cara yang sedikit rumit, karena harus mengambil dari hutan. Kalau dihutan, pembentukan gubalan gaharu dilakukan secara alami, melali serangga yang makan kulit kayu. Tetapi, karena permintaan terus meningkat dan penenbangan hutan yang terjadi, akhirnya, Gaharu di budidayakan. Tetapi karena belum faham dengan tekhnologi, petani Indonesia dan Sumut terutama mengambil suntikan ini dari Malaysia dan Singapura. “Padahal penghasil gaharu itu hanya Indonesia, Thailand, dan vietnam,” tambah Dodi.

Budidaya Gaharu

Untuk menjadi petani gaharu ini cukup mudah dengan modal yang cukup relatif murah juga, asalnya memiliki lahan untuk penanaman pohon alim. Untuk lahan seukuran 1 Ha, dapat menaman pohon sebanyak 2500 pohon, dengan jarak penanaman sekitar 2×2 m. Selain itu, disela jarak tersebut juga dapat ditanami jenis tumbuhan lain, Kakao misalnya.

Untuk biaya dalam budidaya ini, membutuhkan dana yang tidak terlalu besar, tetapi harus sabar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Modal awal yang dikeluarkan adalah pembelian bibit pohon alim, yang biasanya dijual dengan harga rp4 ribu perbatang untuk ukuran 20 hingga 30 cm, sedangkan untuk ukuran 40-60 cm, dijual dengan harga Rp6 ribu perbatang. Selanjutnya, pohon tumbuh secara alami, dan bila diperlukan dapat dapat mengunakan bubuk pestisida curater untuk pengendalian hama ulat, atau hanya menggunakan NPK Mutiara. Dan bila diperkirakan dana yang dibutuhkan perbulan, sekitar Rp1700 perbatang/bulan, selama 6 bulan. Sedangkan untuk penyuntikan fusarium pada usia pohon sekitar 5 tahun, dibutuhkan dana yang cukup besar, untuk 1 liter fusarium dijual dengan harga Rp3 juta. Dan ini dapat digunakan untuk 6 pohon yang berdiameter 30 cm.

Ada 2 jenis dalam pembudidayaan pohon penghasil Gaharu ini, yang pertama adalah penyulingan untuk mengambil minyaknya. Dan kedua, berupa kayu untuk dibakar.

Untuk penyulingan, saat usia pohon sudah mencapai 5 tahun atau berdiameter minimal 20 cm, maka pohon disuntik, setelah 8 bulan hingga 1 tahun sesudah penyuntikan dapat dilakukan penyulingan. Dengan harga minyak gaharu berkisar Rp100 hingga Rp300 juta per 1 Liter. Sedangkan untuk pembakaran, dengan proses yang sama, hanya saja panennya sekitar 2 tahun setelah penyuntikkan. (Juli Ramadhani Rambe)

Lestarikan Jadi Pohon Eksklusif

INDONESIA merupakan negara produsen gaharu terbesar di dunia dengan kualitas terbaik. Pohon-pohon gaharu penghasil gubal (bagian terdalam dari batang pohon gaharu yang warnanya hitam, coklat hitam, coklat kemerahan dengan keharuman yang kuat) terbaik yang sangat sesuai dengan kondisi produksi alami di Indonesia mungkin sudah punah. Yang tertinggal adalah pohon-pohon yang memiliki sifat kerentanan yang lebih tinggi.

Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Gaharu atau agarwood, aleawood, eaglewood dan jinkoh memiliki nilai jual tinggi. Kelangkaan pohon gaharu di hutan alam menyebabkan perdagangan gaharu asal semua spesies Aqularia dan Grynops di atur dalam CITES (Convention on International trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan ekspornya dibatasi dalam kuota.

Saat ini, Indonesia diposisikan untuk mengambil peran aktif dalam menyelamatkan produksi gaharu dengan mengalihkan produksi gaharu alam ke gaharu buatan. Dengan demikian di masa yang akan datang, Indonesia akan memasuki era gaharu budidaya atau mengambil kata yang lebih popular gaharu “non-CITES quota”.

Dengan mengambil tema “Menuju Produksi Gaharu secara Lestari di Indonesia”, Fakultas Kehutanan dan Fakultas MIPA IPB bekerjasama dengan Departemen Kehutanan RI dan didukung oleh Sinarmas Forestry, Perhutani, International Timber Trade Organization, Asgarin dan Yayasan Kehati menggelar Seminar Nasional I Gaharu di IPB International Convention Center (12/11). Tema ini diambil sebagai ekspresi dari keprihatinan masyarakat pemerhati gaharu terhadap tuntutan dunia akan pentingnya produksi gaharu yang lestari di Indonesia.

Hadir dalam acara ini, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, SE, MM, untuk membuka acara, didampingi Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Hendrayanto, Dekan Fakultas MIPA IPB, Dr. Hasim, pejabat dari Dephut RI, peneliti, dan pemerhati gaharu Indonesia.

Menhut mengatakan kekayaan alam Indonesia harus kita lestarikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Selama ini bagi hasil dari produksi gaharu selalu merugikan petani gaharu. Misal dari hasil penjualan gaharu 40% untuk pemilik modal, 20% untuk pemberi ijin,  sisanya untuk proses produksi dan petani. Ini tidak akan mensejahterakan rakyat,” tambahnya.

Mengingat pengumpul gaharu alami adalah penduduk penghuni sekitar hutan, maka sistem produksi yang akan dikembangkan sebaiknya berbasis masyarakat tepian hutan. Oleh sebab itu tata kelola wilayah yang memberikan insentif pada masyarakat tepian hutan perlu dipertimbangkan.

“Pohon gaharu pasarnya sangat besar. Gaharu yang mengandung “damar wangi” dan bila dibakar mengeluarkan aroma yang khas dapat diolah menjadi minyak gaharu, cindera mata, dupa makmul dan hio, parfum, obat-obatan dan untuk bahan kosmetik. Negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand adalah pasar gaharu. Sehingga gaharu perlu dilestarikan dan yang mengembangkannya harus pakar-pakar dari IPB,” ujarnya saat diwawancara.

Sejak tahun 2003, kuota ekspor gaharu menurun terus menjadi sekitar 125 ton/tahun untuk tiap species. Dalam batasan kuota ini, produksi hanya dapat memenuhi sekitar 10-20% permintaan pasar, sehingga peluang pasar masih terbuka.

Menhut menambahkan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus keberlanjutan ekspor, selain harus dikonservasi, gaharu juga harus diproduksi secara buatan pada pohon gaharu hasil budidaya. Pohon gaharu telah ditanam lebih dari 1750 ha di seluruh Indonesia dan ini menjadi modal dasar menuju produksi gaharu secara lestari di Indonesia.

Sementara itu, produksi gubal gaharu melibatkan mikroorganisme (sejenis cendawan yakni fusarium dan acremonium). Mekanisme pembentukan oleo resin (damar wangi) gaharu merupakan hasil interaksi antara pohon dan mikroorganisme tadi.

Dengan proses budidaya, petani menyuntikkan cendawan ke batang pohon gaharu saat umurnya menginjak lima tahun. Dari infeksi cendawan tersebut, pohon gaharu melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senyawa oleo resin.

Satu kilogram gubal gaharu dengan kualitas terbaik dijual dengan harga 30 juta rupiah. Gaharu jenis Aquilaria malaccensis daerah penyebarannya di Sumatera (10 pohon/hektare) dan Kalimantan (9 pohon/hektare). Untuk jenis Aquilaria filarial daerah penyebarannya di Papua (60 pohon/hektare), Maluku (30 pohon/ha) dan Sulawesi (7 pohon/hektare). Dan untuk jenis Gyrinops sp daerah penyebarannya di NTB (8 pohon/hektare) dan NTT atau 7 pohon per hektare. (net/jpnn)

Sejarah Gaharu

Dupa Sejak Zaman Sriwijaya

Di Indonesia, Gaharu dikenal sejak zaman Sriwijaya atau tepatnya pada tahun 671 M (kira-kira tahun 10 H. Pada masa itu juga, Gaharu sudah menjadi salah satu produk dagangan, antara Sriwijaya, Tiongkok, dan India Muka. Dimana yang menjadi penggerak dalam  perdagangan ini adalah musafir ziarah Budhis, yang datang langsung ke Sriwijaya.

Hal ini memungkinkan, mengingat kayu gaharu juga dijadikan perlengkapan untuk sembahyang umat Budha, sebut saja Dupa.  Bau gaharu cukup komplek dan menyenangkan, secara alamiah tidak ada padanan yang tepat . Gaharu dan minyaknya mendapat perhatian besar dalam budaya dan agama sejak peradaban kuno di seluruh dunia, seperti tertuang dalam catatan tertua – dalam Weda bahasa Sanskerta dari India.

Sementara itu, pada awal abad ke-3, dalam Nan Wu Yi Zhou Zhi (Hal-Hal aneh dri selatan) yang ditulis pada saat kepemimpinan Dinasti Wu, menyebutkan Gaharu diproduksi di wilayah Rinan, atau yang saat ini dikenal dengan sebutan Vietnam bagian tengah, dan untuk mendapatkan Gaharu dikumpulkan dari pengunungan.

Dimulai pada tahun 1580, setelah Nguyen Hoang mengambil kendali atas provinsi-provinsi tengah Vietnam modern, ia mendorong perdagangan dengan negara lain, khususnya Cina dan Jepang. Gaharu yang diekspor dalam 3 varitas yaitu Calambac (ky nam dalam bahasa Vietnam) trem hurong (sangat serupa tetapi sedikit lebih keras dan lebih banyak), dan gaharu itu sendiri. Satu pon Calambac dibeli di Hoi An selama 15 tael dapat dijual di Nagasaki untuk 600 tail. Penguasa Nguyen segera mendirikan kerajaan Monopoli atas penjualan Calambac. Monopoli ini membantu mendanai keuangan negara Nguyen selama tahun-tahun awal aturan Nguyen.

Xuanzang’s travelouges dan Harshacharita, yang ditulis pada abad ke-7 Masehi di India Utara menyebutkan penggunaan produk-produk gaharu seperti ‘Xasipat’ (bahan tulisan) dan ‘minyak aloe‘ di Assam kuno (Kamarupa). Dan hingga saat ini, tradisi membuat bahan-tulisan dari kulit gaharu masih ada di Assam.

Gaharu dikenal dengan banyak nama dalam kebudayaan yang berbeda, “Agar” di India (bahasa sansekerta), Chen-Xiang dalam bahasa Cina, “trem Huong” dalam bahasa Vietnam, dan Jin-koh dalam bahasa Jepang; semua bermakna “insence/dupa tenggelam”  yang mengacu kepada padatan/densitas tinggi. Di wilayah Arab gaharu dan distilasinya dikenal dengan nama Oud demikian juga di wilayah Negara-negara Islam. Di Negara barat penggunaan minyak gaharu esensial dalam minyak wangi dengan nama “oud” atau “oude”. Gaharu dalam Perjanjian Lama dan Kitab Suci Ibrani  diyakini bahwa gaharu dari Aquilaria malaccensis. Di Tibet dikenal sebagai a-ga-ru. Ada beberapa varietas digunakan dalam bahasa Tibet Kedokteran yaitu gaharu unik ar-ba-zhig; gaharu kuning a-ga-ru ser-po, gaharu putih ar-skya, dan gaharu hitam ar-omelan. Di dareah Asam (India) disebut sebagai ogoru, di Indonesia dan Malaysia dikenal dengan gaharu, di Papua Nugini disebut ghara, dalam bahasa Thailand dikenal sebagai Mai Kritsana,  di Laos dikenal sebagai Mai Ketsana. (net)

[table caption=”Ranking Gaharu Dunia”]

1. ,AQUILARIA SUBINTEGRA ,Found at Thailand

2. ,AQUILARIA CRASSNA ,”Found at Thailand, Cambodia, Loas, Vietnam”

3. ,AQUILARIA MALACCENSIS ,”Found at Thailand, India, Indonesia”

4. ,AQUILARIA APICULATA ,Found at Philippines

5. ,AQUILARIA BAILLONIL ,”Found at Thailand, Combodia, Loas, Vietnam”

6. ,AQUILARIA BANEONSIS ,Found at Vietnam

7. ,AQUILARIA BECCARIAN ,Found at Indonesia

8. ,AQUILARIA BRACHYANTHA ,Found at Malaysia

9. ,AQUILARIA CUMINGIANA ,”Found at Indonesia, Philippines”

10.,AQUILARIA FILARIA ,”Found at Nuegini, China”

11.,AQUILARIA GRANDIFLORA ,Found at China

12.,AQUILARIA HILATA ,”Found at Indonesia, Malaysia”

13.,AQUILARIA KHASIANA ,Found at India

14.,AQUILARIA MICROCAPA ,”Found at Indonesia, Malaysia”

15.,AQUILARIA ROSTRATA ,Found at Malaysia

16.,AQUILARIA SINENSIS ,Found at China

[/table]

[table caption=”Istilah Produk Gaharu”]

Abu gaharu ,adalah serbuk kayu gaharu yang dihasilkan dari proses penggilingan atau penghancuran kayu gaharu sisa pembersihan atau pengerokan.

Damar gaharu,”adalah sejenis getah padat dan lunak, yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, dengan aroma yang kuat, dan ditandai oleh warnanya yang hitam kecoklatan.

Gubal gaharu ,”adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang agak kuat, ditandai oleh warnanya yang hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat.

Kemedangan ,”adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang lemah, ditandai oleh warnanya yang putih keabu-abuan sampai kecoklat-coklatan, berserat kasar, dan kayunya yang lunak.”

[/table]

Seorang Lelaki yang Menunggu Kekasihnya, Suatu Malam di Kafe

Cerpen T Agus Khaidir

[1]

SENJA menua. Dari balik jendela kafe di lantai 29 gedung yang nyaris seluruh dindingnya terbuat dari beling, Zainuddin memandang segenap pernik kota yang kelihatan kian muram. Cahaya yang terakhir telah lama menerobos jendela.

Hmm…, sebentar lagi kemeriahan di kafe tiba. Terompet.

Topi-topi kertas lucu. Topeng-topeng konyol. Tadi di pintu masuk seorang waitress menginformasikan malam ini akan ada pesta topeng? Waitress tersebut (manis, meski ada kawat di giginya) bertanyaapakahdiaberminatikutserta. Zainuddin ingat persis ia menolak dengan sinis. Pesta topeng? Bahkan ia tak datang ke sini untuk bersenang- senang! Senja yang remang diganti hitam berbalut genit terang listrik. Di bawah sana, para pekerja dan penganggur sama-sama merayap bagai migrasi semut.

Antrian kendaraan. Polisi lalu lintas. Papan-papan reklame yang menyemak.

Zainuddinmenataprutinitasitudenganperasaan gamang. Dadanya berdebar tak karuan. Ia memaksamelawanlupatapitakbisa.

Ah, waktuituDiakena ciprat air tebasan ban mobil yang melaju kencang.

Dia menghardik, lantas dengan emosi berlebih mengacungkan jari tengah ke udara. Dadanya yang sentosa masih naik turun saat mata mereka (tanpa sengaja) bersitatap. Lalu, bara kemarahan di wajahnya pelan-pelan menyusut, berganti senyum kecut. Iya, memang sesederhana itu awal riwayat. Hanya tatap, hanya senyum, dan sekarang Zainuddin duduk gelisah menunggunya di sini, di kafe yang terletak seratusan meter di atas tanah, yang kadang-kadang bergetar saat pesawat melintas di sisinya.

Zainuddin melirik arloji. Kenapa Dia belum datang juga? Dari panggung kecil di bagian lain kafe, sepotong kemeriahan bersiap-siap lahir. Lelaki berjas abu-abu duduk menghadap piano. Kulit legam, badan tambun yang di bagian perut sedikit membuncit, rambutnya gondrong keriting.

Lelaki itu memakai kacamata berbingkai tebal warna hitam tanpa kaca dengan rantai menjuntai diikat pada kedua gagangnya. Zainuddin seperti pernah mengenalnya. Tapi dimana? Setelah mengucap salam sekadar berbasa-basi, penyanyi itu melantunkan kalimat pertama yang langsung menyegarkan ingatan Zainuddin.

Aku bukan pengemis cinta….

Aih, ya-ya. Itulah dia. Tapi bagaimana mungkin? Dangdut? Di tempat seperti ini? Keheranannya tak lama. Zainuddin kembali pada kekesalan semula. Ke mana jahanam itu? Direguknya red wine yang sejak tadi tersia-sia di meja. Reguk berganti reguk dan Zainuddin mengutuk diri, kenapa ia kembali gagal untuk tak terlentingkedalamruang- ruangkenanganyangsungguh- sungguh ingin ia jadikan tak pernah ada.

[2]

SEKADAR tatap mata ternyata bisa amat menggoda.

Ketika itu menjelma malam yang lain, pada pertemuan entah keberapa. Satu warung kaki lima saja. Dua piring nasi goreng. Dua jus alpukat. Beberapa bungkus kerupuk.

“Kenapa kamu terus memandangi aku seperti itu?” “Entahlah.” “Jangan-jangan kamu mulai tertarik padaku?” “Mungkin. Tapi pastinya aku ingin kamu tahu, aku terangsang tiap kali dekat kamu.” “Hah?” “Kupikir aku memang harus berterus-terang.

Aku tak berhenti mengkhayal memelukmu sejak kita pertama kali bertemu senja itu. Ingin kutelusuri tiap jengkal tubuhmu. Kubayangkan setelah itu kujilat telingamu, kutiti tiap lekuk sisik naga yang kau rajah di punggungmu, dan setelah itu kamu memejamkan mata sambil bergumam kamu juga ingin melakukan apa yang ingin kulakukan dalam pikiranku.” Entah siapa tipu siapa, waktu kemudian seperti berjalan penuh selera dan mereka acap bercinta membabi buta dalam kealpaan semesta. Seorang laki-laki yang sungguh-sungguh jantan selalu dapat menangkap sinyal sekecil apa pun dari seorang perempuan yang betul-betul betina.

Sampai di satu malam jahanam lain, tiba-tiba dilontarnya pertanyaan menohok.

“Jadi kita akan terus-menerus seperti ini, ya?” “Maksud kamu?” “Masak nggak ngerti, sih! Aku ingin hubungan yang konkret. Nikahi aku!” “Nikah? Suami kamu bagaimana?”

[3]

Zainuddin merutuki dirinya ketika sadar telah jatuh lagi dalam pelukan perempuan. Pada anggapannya, memang ia yang jatuh, bukan mereka.

Bukan juga Dia, tentu saja. Zainuddin tak habis mengertimengapaiatakdapatmenahandiri untuk tidak membuat perempuan-perempuan itu menyerahkan diri sepenuhnya? Mengapa ia selalu lupa untuk tak menyambut hasrat mereka? Tapi lelaki mana pula yang dapat bertahan di hadapan perempuan-perempuan yang tanpa mereka perlu menggoda sekali pun sudah tampak menggoda? Khususnya Dia. Iya, khususnya Dia.

Beberapa teman sebenarnya sudah mengingatkan.

Mereka mempersamakan Dia dengan Nesia, perempuan racun yang hanya lewat kata-kata mampu memaksa Panji Tengkorak bertahuntahun menyeret peti berisi mayatnya.

Zainuddin terbahak ketika itu. Disebutnya mereka sebagai pengkhayal payah yang begitu mudah diperdaya Hans Jaladara. Tak ada Panji Tengkorak! Tak ada Nesia! Mereka cuma hidup di lembaran komik usang. Kini ia tak lagi tertawa. Ia terjebak.

Dalam kepasrahannya yang mencengangkan, Dia kian sering mendesaknya melakukan hal yang selama ini paling ia takuti.

[4]

IA tak akan pernah lupa! Sosok itu bersandar di pintu. Tangannya bersidekap. Rambut, kumis, cambang, janggut, bahkan alisnya putih dan serba panjang. Celananya dari kain gelap ukuran panjang 3/4, pakai iket lepas, tapi bajunya mirip koko Ustad Jefry Al Buchhori.

“Namaku Awang. Lantaran kau sepantaran cucuku, bolehlah kau panggil aku Tok Awang. Sini, kusampaikan padamu satu rahasia,” katanya.

Ujung-ujung tangannya serasa beku. Tahulah ia sekarang, kemampuan menaklukkan perempuan yang selama ini membikin iri lelaki sepenjuru kampung memang bukan kemampuan biasa. Kemampuan itu bakat. Lebih tepat lagi, bakat turunan yang muncul lewat satu kutukan ilmu pengasih. Dan menurut Tok Awang, hanya garis keturunan keempatdariistripertamayangketibanpetakabertopeng bakat ini. “Tapi kau bisa menghentikannya.” Secercah semangat Zainuddin menyeruak.

“Bagaimana caranya, Tok?” “Jangan pernah kau menikah! Sekadar bercinta tak apa. Kalau perempuan yang kau menikahi hamil, harus secepat kau menikah lagi. Itulah caranya! Jika tidak kutukan balik menyerangmu. Kelaki- lakianmu habis sedikit demi sedikit. Persis kayu dimakan rayap!”

[5]

SEJAUH ini Zainuddin sudah dua kali melakukan kesalahan. Anamira, penyanyi kelab malam, dia nikahi 18 Oktober 1991. Lima bulan berselang Jessica lahir. Mereka bercerai saat Jessica dua tahun.

Anamira menuntut hak asuh. Zainuddin tak keberatan.

Ia menandatangani surat perjanjian bersedia mengongkosi seluruh keperluan Jessica hingga tamat perguruan tinggi.

Lalu datang Anabella. Rekan sekerja Zainuddin ini suatu malam mengundangnya makan nasi goreng bumbu Eropa yang baru ia pelajari dari internet.

Entah bagaimana makan malam itu berlanjut ke kamar tidur. Zainuddin semula menolak tapi Anabellamemberinyajaminan.“Setelahmalamini kita lupakan semuanya. Anggap tak pernah terjadi.

Kamu tidak perlu khawatir. Aku mandul. Karena itu suamiku menggugat cerai,” katanya.

Nyatanya Anabella hamil juga. Ajaib, seru perempuanitusaat menyampaikan kabar pada Zainuddin.

Juni, penanggalan ke 7 tahun 1996, Zainuddin jadi suami lagi. Sumpah, jauh dalam hatinya, Zainuddin ingin menganggap ucapan Tok Awang lelucon belaka. Sungguh ia sangat ingin tak percaya.

Manalah mungkin sekarang masih ada kutukan macamdizamanMalinKundang? Tapimengambil resiko sumpah mati ia tak berani.

[6]

MEREKA bertemu lagi minggu berikut. Taman kota tempat remaja memadu cinta, yang di balik pagarnya sesak berjajar pedagang kaki lima, Dua piringSiomay. Duabotol soft drink. Sampaimatahari meredup, sampai lampu-lampu jalan, lampu etalase, dan lampu taman menyala, dan seluruh pesanan lumat dalam perut, mereka masih membisu.

“Kenapa diam? Kamu bilang tadi mau bicara?” Akhirnya ia memecah hening.

“Aku cuma mau tanya?” “Tanya apa?” “Arti aku untuk kamu?” “Seperti anak ingusan saja. Apa aku perlu menjawab?” Percakapan terputus. Ponsel memekik-pekik.

Dia menyahut panggilan dengan santai, lalu bicara dengan kalimat separuh bahasa Inggris separuh Indonesia. Kebanyakan makian yang sering dicelotehkan dalam hip hop. Tiap kali memaki, dia tertawa-tawa sendiri. Setelah hubungan terputus, Dia kembali serius.

“Iya, kamu harus jawab,” katanya menyambung cakap.

“Untuk apa? Macam-macam saja.” “ Ini penting!” “Kamu tahu kamu berarti betul bagiku.” “Persoalannya bukan berarti atau tidak.” “Lantas?” “Soal perasaan. Aku mau kamu jujur, seperti apa perasaan kamu padaku?” Malam kian pekat. Dari kejauhan cahaya lampu gedung bertingkat bekemerlipan bagai gerak terbang kunang-kunang. Cahaya aneka warna menyiram jalanan. Di bangku taman, tubuh mereka tinggal siluet.

“Katakan kau cinta aku.” “Aku cinta kamu.” “Kapan kita nikah?” “Kamu hamil, ya?” Dia mendelik. Lalu terbahak. “Hahaha. Tidak, Sayang. Tak mungkin. Aku terlindungi dan kamu juga begitu, kan? Kita tuntut negara ini kalau aku sampai hamil.” “Lantas kenapa kamu ngotot begitu? “Kita tak bisa begini-begini terus.” “Begini-begini bagaimana? “Kita harus kawin.” “Kamu kan masih punya suami. Kamu sendiri bilang kalau kamu juga masih cinta dia.” “Ngawur kamu. Aku nggak pernah cinta sama dia.” “Bah, Tak cinta kenapa nikah?” “Terpaksa.” “Terpaksa bagaimana?” “Ya, terpaksa.” “Terpaksa, kok, sampai sekarang masih bersama?” “Aku akan meninggalkannya. Segera! Sumpah!” “Bukan itu pertanyaanku.” “ Aku masih butuh dia.” “ Dalam pengertian seperti apa?” “Akan kujelaskan semuanya, Sayangku. Semua.

Tapi tidak sekarang, belum sekarang.”

[7]

HARI sepenuhnya malam. Jhonny Iskandar gadungan masih di atas panggung, berjoget dengan penonton-penonton bertopi kertas dan topeng konyol. Suara terompet menyela pula di antara Dangdut. Zainuddin menghempas nafas.

Kesalnya memuncak. Kemana Dia? Tidak, Dia tidak boleh tak datang. Malam ini segenap kekacauan harus diakhiri. Ia sudah menyiapkan rencana matang. Rencana yang hampir pasti tak akan gagal.

Medan, Desember 2011-April 2012

Dasar Sebuah Gol Tidak Sekadar dari Operan Matang

Ramadhan Batubara

Kerja tim. Kata kunci dari pertandingan sepak bola adalah mutlak. Saya sepakat dengan itu. Saya juga sepakat, untuk menghasilkan kemenangan dibutuhkan sebuah perjuangan. Sayangnya, Sabtu siang kemarin, semua itu terbantahkan.

YA, kemarin siang saya dengan rekan sekantor bermain sepak bola.

Tapi, jangan bayangkan sepak bola seperti Piala Eropa yang beberapa waktu ke depan akan digelar; durasi dua kali empat puluh menit; sebelas lawan sebelas; lapangan rumput; penuh dengan tekling keras; dan sebagainya.

Ini futsal. Lima lawan lima. Bermain di lantai semen dan beratap. Tanpa tekling. Pemainnya pun bisa masuk dan keluar – bergantian – sesuka hati. Soal durasi waktu pertandingan, hm, tidak ada. Ini bukan pertandingan resmi. Ini hanya laga suka-suka, jadi waktu disesuaikan dengan durasi menyewa lapangan.

Dan, kami memilih satu jam.

Sialnya, siang kemarin komposisi pemain tidak lengkap. Jumlah yang hadir di lapangan futsal di belakang SPBU plat hitam di kawasan Jalan Patimura hanya delapan orang. Maka, empat lawan empat adalah formasi yang terpaksa kami ambil. Bayangkan nikmatnya menguasai bola. Ya, benar-benar melelahkan.

Terlepas dari itu, lapangan yang kami pilih kali ini memang cenderung menarik. Beda dengan lapangan futsal yang biasanya kami sewa. Sebelumnya kami sering main di kawasan Menteng.

Di tempat itu memang ada dua lapangan; berlantai semen dan rumput sintetis (sebenarnya lebih mirip dengan karpet). Bedanya, tempat kami di Menteng cenderung tertutup.

Dengan kata lain, pemandangan yang didapat hanya lapangan. Lebihnya, pemandangan tempat parkir dan jalan raya.

Di belakang SPBU plat kuning di kawasan Jalan Patimura Medan, meski hanya memiliki satu lapangan, dia memiliki banyak pemandangan. Contohnya, ketika memasuki lokasi – menerobos SPBU – ada sebuah kafetaria lengkap dengan bangku-bangku yang ditata menarik. Tidak itu saja, pemandangan kafetaria itu juga cukup menawan, dia berdampingan dengan aliran sungai kecil. Jarak antara kafetaria dengan sungai dibatasi barisan bambu kuning dan beberapa pohon cerry. Suasana alam begitu terasa. Belum lagi jarak antara kafetaria dengan lapangan sekitar lima puluh meter yang dihiasi dengan rerumputan.

Jadi, sebelum pertandingan, ada perasaan segar yang menyelimuti kepala.

Tapi, namanya pertandingan tetap saja pertandingan. Apalagi, kami bermain dengan formasi empat lawan empat. Tak pelak, kesegaran suasana alam di sekitar lapangan futsal itu seakan lenyap. Peluh membanjir.

Muka terasa panas. Rambut pun basah.

Dalam pertandingan kemarin, sejujurnya tak ada yang menghitung jumlah gol. Mungkin berpuluh-puluh gol kami ciptakan. Bukan karena kami pintar mengolah bola, tapi lapangan itu terasa begitu luas. Menit-menit awal memang pertandingan berlangsung sengit. Tapi, setelah lewat tujuh menit, konsentrasi dan fokus mulai berubah. Kontrol bola makin liar.

Operan makin tak terarah. Saya pun bolak-balik menyentuh dengkul dengan tangan; posisi menunduk untuk membuang lelah.

Itulah mengapa di awal lantun ini saya katakan kerja tim dan usaha yang keras untuk memenangkan pertandingan menjadi nihil. Kami sekadar menendang.

Kami sekadar menghadang.

Dan, kami sekadar bertanding. Ujung-ujungnya, kami tak peduli siapa yang menang atau kalah. Yeah.

Sekali lagi jangan tanya soal kerja tim.

Operan tiki-taka ala FC Barcelona nyaris tak ada. Kick and Rush ala Liga Inggris pun hanya ada dalam kepala. Dan, jangan pula berharap ada disiplin pemain bergaya defensif ala Italia. Fiuh.

Parahnya, beberapa kali bola lewat tanpa ditendang. Bola yang dalam posisi pas untuk ditendang untuk menghasilkan gol pun terlewat begitu saja, padahal kaki sudah mengayun indah ala Ronaldinho. Gocekan Lionel Messi atau atraksi Christiano Ronaldo, wah, jauh panggang dari api kata orang bijak.

Lalu, bagaimana gol tercipta? Ini dia mengapa saya katakan: dasar sebuah gol tidak sekadar dari operan matang.

Ya, sebagian besar dari gol yang kami ciptakan adalah berkat unsur tak sengaja.

Contohnya, ketika seorang kawan menendang dan mengenai tubuh kawan lainnya, bola liar itu berada di depan saya. Ya, sudah saya tendang. Bukan tendangan keras, hanya sebuah sepakan ala kadarnya. Tapi, tendangan itu tidak ditangkap kiper lawan karena dia keletihan. Hahahahaha.

Tapi sudahlah, pertandingan itu memang tak layak untuk diulas. Saking tak layaknya, saya malah berpikir soal lain. Tentu ini soal kesejahteraan warga Indonesia, khususnya Medan. Terus terang saya berpikir kesejahteraan itu layaknya sepak bola. Jadi, ada posisi yang diduduki orang-orang yang pas. Kenapa pas? Jawabnya, agar dia bisa menciptakan suasana nyaman untuk kemenangan. Mereka yang di posisi belakang harus fokus di lini pertahanan, mereka yang di posisi tengah harus fokus mendistribusikan bola, dan mereka yang di posisi depan harus jeli dan aktif dalam mencetak gol.

Ini bukan berarti tidak bisa berganti posisi. Adalah wajar dalam pertandingan tiba-tiba ada penyerang yang bertahan.

Tapi, kenapa dia bertahan? Ya, karena saat itu lini pertahanan sedang lowong karena sang bek belum kembali ke posisinya karena sebelumnya dia membantu serangan. Begitu juga sebaliknya, rotasi posisi bisa dilakukan dengan berkaca pada kebutuhan.

Sayangnya, fisik juga menentukan.

Kadang, di Medan, operan matang yang dikirimkan oleh rekan tidak bisa dimanfaatkan. Ya, mereka yang mendapat operan itu sudah hilang fokus. Terlalu letih dia berlari tanpa bola. Jadi, ketika bola datang, dia tak sanggup lagi menendang, dia biarkan saja hingga bola keluar lapangan. Ya, pelatih pun langsung menariknya ke bangku cadangan. Ujung-ujungnya, kalah. Kesejahteraan warga yang diharapkan pun tak tersalurkan.

Begitulah, beruntung lapangan futsal belakang SPBU plat hitam itu masih memiliki kafeteria. Usai pertandingan kami pun mengumpul di sana. Sama-sama menikmati minum sehat. Dan, sama-sama menertawakan operan matang yang beberapa kali tak berbuah gol. (*)

Meniti Sukses dengan Kesungguhan

Deni Surya, Pengembang di Pemilik Kruing Gorup One

Deni Surya adalah pengusaha properti yang bangkit dari kegagalan. Di usianya yang masih muda, 32 tahun, Deni sukses membangun tiga komplek perumahan di tiga lokasi berbeda. Bagaimana perjalanan jatuh bangun pebisnis pengusaha muda ini, berikut petikan wawancaranya:

Sebagai orang muda, banyak yang bilang Anda di jalur sukses. Faktanya, dalam tiga tahun, sejak 2009, berhasil membangun dan memasarkan komplek perumahan di tiga tempat berbeda.Tangapan Anda?

Apakah saya sudah pantas dikatakan sukses? Belum lah (tersenyum).

Soal pencapaian hingga saat ini?

Banyak orang bilang itu faktor keberuntungan, saya bilang… (sambil tersenyum lagi). Orang-orang bilang kekuatan imajinasi itu luar biasa. Itu juga yang saya alami sejak kuliah dulu. Saya orangnya optimis dan ceria. Kalau punya keinginan, selalu terwujud. Pertama, keinginan itu saya renungkan. Kalau sudah mengksirtal, saya kerjakan dan pasti terwujud.

Pengalaman dari kuliah, orang bilang saya biasa-biasa saja. Pada 1999 krismon, selepas SMA, orangtua bilang, kalau enggak (kuliah) di (universitas) negeri, enggak usah kuliah. Jadi saya harus kuliah di PTN. Itu tekad saya, harus masuk PTN. Syukur, saya diterima di Fakultas Teknik Sipil USU.

Saya tidak membiarkan orang lain menggagalkan keinginan besar saya. Kalau ada yang bilang ‘gimana kalau gagal’, saya enggak suka itu. Karena pertanyaan itu bukan untuk saya.

Kapan memulai usaha?

Saya sudah mengenal dunia itu sejak di bangku kuliah. Rental komputer dimodali orangtua. Waktu itu usaha merugi, orangtua marah, modal tak kembali. Tapi saya tidak menyesal. Selepas kuliah, sekitar 2004, saya mencoba menjadi kontraktor.

Bagaimana perjalanan usaha Anda?

2006/2007, usaha kolaps, bangkrut, bahkan minus. Mengutip ucapan Dahlan Iskan dalam pengantar buku Kaya tanpa Bekerja (jadi pengusaha), saya mewarisi penyakit usahawan baru: sirik dan sungkan. Sirik itu tidak fokus ke satu usaha saja. Punya usaha lebih dari satu membuat konsentrasi terganggu. Kalau sungkan, enggak berani nagih piutang. Akhirnya banyak yang pindah atau lari. Ha… ha… ha….

Setelah usaha rental, akhirnya Anda gagal kembali. Seperti apa rasanya?

Waktu itu, sangat tidak enak. Apalagi saya sudah menikah dan punya anak. Kepercayaan diri ngedrop. Saya dicari-cari orang, penagih utang. Kalau ada sepeda motor atau mobil berhenti di depan rumah, saya waswas. Jangan-jangan mau menagih utang. Saya jadi paranoid. Akhirnya saya bangkit, berkat dukungan istri dan keluarga. Kegagalan itu pelajaran sangat berharga bagi saya. Bukankah kita mengetahui melakukan kesalahan setelah melakukannya?

Apa yang dilakukan setelah bangkit dari kegagalan itu?

Setelah kepercayaan diri mulai pulih, saya baru ingat, saya punya izajah sarjana. Tahun 2007, saya melamar dan diterima kerja di perusahaan yang punya proyek di Aceh. Waktu itu, Aceh sedang jadi pusat perhatian internasional, pasca terjadinya tsunami. Sambil bekerja, saya menangkap peluang bisnis. Kebetulan di sana jasa konsultan anggaran masih minim. Perlahan saya mulai mengumpulkan modal lagi. Pada 2009, proyek selesai dan saya pulang ke Medan. Buka bisnis baru, usaha kecil-kecilan.

Apa jenis usaha Anda?

Tetap di bidang sipil. Bangun rumah, bangun ini-itu. Saya mulai dari nol lagi. Dari awal, cita-cita jadi developer. Sambil jalan (berusaha), saya belajar, termask dari buku-buku yang saya beli. Selain itu, bergabung dengan REI dan tukar pikiran dengan developer lain.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk eksis kembali?

Tahun 2010, bisa dibilang awal titik kebangkitan. Saya dapat proyek membangun sekolah di Padang dengan nilai miliaran rupiah. Bangun sekolah bantuan dari Korea, Korean International Cooperation Agency (KICA)

Tak lama kemudian, saya ditawari kerja sama membangun perumahan di lahan seluas setengah hektare di Sergai. Lalu kami membangun perumahan dengan jumlah 25 unit rumah tipe 45. Namanya Graha Firdaus. Alhamdullilah, dalam 2,5 bulan, semua unit ludes terjual.

Dalam waktu singkat bisa menjual semua unit, apa rahasianya?

Lokasinya memang strategis, di depan kantor bupati. Selain itu, kami memakai kiatnya pemasarannya: harga bersaing, DP terjangkau di bawah 10 persen, sekitar 11 juta rupiah.

Sukses di kerja sama awal, ada proyek lanjutan?

September 2011, kami mulai lagi pembangunan Graha Firdaus 2 di depan Rumah sakit Sultan Sulaiman. Tahap I, kita bangun 25 unit rumah, memanfaatkan 34 persen lahan. Sekarang sudah terjual separuhnya.

Selain itu, kabarnya ada proyek perumahan lain. Dimana itu?

Oh iya. Saat ini kami sedang memasarkan perumahan Graha Sempurna di Pasar 7 Tembung. Ada 28 unit tahap I, tapi sudah hampir habis.

Punya cita-cita yang belum kesampaian?

Yah…. Saya berkeinginan membangun rumah murah untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah yang benar-benar membutuhkan.

Mengapa tidak membangun rumah bersubsidi?

Rumah subsidi? Pemerintah mengisyarakan untuk mejual rumah seharga Rp70 juta. Sekarang ini, cari tanah susah, harganya aja sudah berapa. Belum lagi harga bahan bangunan yang terus melambung.

Bagaimana dengan program kredit Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah murah itu?

Sulit juga. Pengembang pasti kejar profit. Dengan kondisi saat ini, bila tidak pintar-pintar, bisa-bisa developer balik modal atau malah merugi.

Rumah murah bersubsidi, untuk saat ini idealnya berharga Rp90 juta. Apalagi, saat bangun rumah banyak tanah yang hilang untuk fasilitas seperti jalan dan fasilitas sosial lain. Row jalan setidaknya 6 meter. Dalam kawasan perumahan, fixed yang bisa dibangun rumah hanya 60-70 persen untuk unit. Sisanya untuk jalan dan fasos (fasilitas sosial) lain. Tapi sebaiknay pengembang jangan hanya mengejar profit melulu.

Tiga proyek perumahan yang dibangun, seluruhnya tipe 45. Tidak ada niat untuk membangun rumah tipe lebih besar?

Pasti ada, mungkin nanti. Untuk sekarang belum. Apalagi per Juni nanti, pemerintah menetapkan kebijakan DP 30 persen. Harga semen dan besi tak terkendali. BBM enggak jadi naik, tapi dampak penundaan, harga-harga sudah terlanjur melambung.

Bagaimana pengaruh kebijakan uang muka 30 persen tersebut terhadap pasar perumahan?

Kita lihat sajalah…. (tms)

Bahagia dulu Baru Sukses

Sebagai orangyang memegang teguh prinsip optimis dan ceria, Deni Surya filosophi terbalik dibanding orang kebanyakan. Bila ada yang berpandangan kebahagiaan diraih saat seseorang mencapai sukses, bapak tiga anak ini berprinsip, bahagia dulu baru sukses.

“Bahagia itu datang dari diri sendiri. Kalau sudah bahagia, perasaan pasti tenang. Kalau sudah begitu, jalan meraih sukses tinggal menitihnya saja,” ujar pengurus PKS Kecamatan Percut Seituan ini.

Deni tak keberatan membagi 7 kunci bahagian yang dipedomaninya. Menurutnya, tiga unsur berasal dari diri sendiri, tiga hasil interaksi dengan orang lain, dan satu lagi hasil interaksi dengan Tuhan pencipta. Tiga unsur pertama adalah sabar menghadapi hidup, mensyukuri apa yang ada serta kemampuan menyederhanakan masalah. Tiga unsur kedua adalah kerelaan memberi maaf, keikhlasan memberi termasuk bersedekah, serta memiliki rasa cinta dan kasih kepada sesama. Yang terakhir, pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. “Sebagaimuslim, saya menyebutnya tawakal. Serahkan semua urusan pada Tuhan,” tukasnya.(tms)

Kiat Bisnis Deni Surya

Demi menjaga kepuasan konsumen, Deni Surya selalu menjaga kualitas bangunan perumahan. Tak masalah walau biaya produksi membengkak Rp5 juta atau lebih dibanding bangunan sejenis yang dikembangkan developer lain. Berikut kiat bisnis Deni Surya:

  1. Membangun rumah tanpa menunggu booking fee dari calon pembeli.
  2. Garansi bangunan selesai tepat waktu kepada konsumen.
  3. Menjaga kualitas bangunan.
  4. Menggunakan cat kualitas propan dan sejenis, bukan cat kapur.

Tentang Deni Surya

[table]

TTL ,”: Sambirejo Timur, 14 Juli 1981″

Agama ,: Islam

Pendidikan ,: S-1 Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (USU)

Pekerjaan ,”: Pengembang Perumahan Graha Firdaus, Sei Rampah
Pengembang Graha Firdaus 2, Sei Rampah
Pengembang Graha Sempurna, Tembung”

Istri ,: Endang Yunita

Anak-anak ,”:1. Habib Ahmad
2. Muhammad Hudzaifah
3. Muhammad Hanafi”

Hoby ,: Membaca dan Traveling

[/table]

Urban Jazz Crossover Pecahkan Rekor di Medan

MEDAN- Dalam Urban Jazz Cross, berbagai hal menarik dapat dilihat dan didengar. Selain tata panggung, dengan lighting menarik, aransemen musik Jazz yang dimodernkan juga sangat menarik untuk dinikmati.

Sebagai kota pembuka pagelaran musik ini, antusias masyarakat akan pagelaran ini sangat tinggi. Dengan harga tiket yang cukup terjangkau, tidak heran, bila Jumat malam (25/5) kemarin, JW Marriot ramai dikunjungi oleh anak muda Medan.

Andien, hadir dengan “Cinta Ini Membunuhku”. Tampil dengan dress pendek warna gold, penyanyi yang bertubuh mungil tampil memukau.  Bukan hanya seksi, penyanyi yang memiliki suara khas Jazz ini juga sangat menggoda. Tubuh yang bergoyang sesuai dengan irama musik, dan membelakangi penonton, jelas membuat penonton pria menjadi histeris. Aksi menggoda Andien belum berakir, saat menyanyikan lagi “DAN” yang dipopulerkan oleh Sheila on 7 ini, si mungil yang berhias bibir berwarna merah darah ini membungkukkan badan saat mengajak penonton untuk bernyanyi, padahal Andien saat itu menggunakan dress yang cukup pendek.

Dan selanjutnya, “Begitu Indah” Padi pun mengalun dengan indah dari suara penyanyi senior Indonesia, Harvey Malaiholo. Bukan hanya itu, penyanyi yang sudah terkenal kualitas suaranya baik nasional maupun internasional ini juga membawakan “Rolling in the Deep” Adele untuk menghibur para penonton. Ditengah lagu, salah satu penyanyi wanita Jazz Indonesia, Rika Roeslan juga ikut nimbrung, yang memberikan dampak ruangan JW Marriot dilantai 2 menggelegar.

Rieka Roeslan masih tetap dipanggung, dan lagu “Pertama” yang dipopulerkan Reza pun menggalun, tetap menggelegar dan disambut dengan tepuk tangan penonton. “Soldier of Fortune” pun menggalun, diiringi oleh Piano yang dimainkan oleh Indra Lesmana. Lagu ini, kualitas vokal Rieka benar-benar teruji, bahkan selama lagu, tata panggung dan lighting pun mendukung. Apalagi alunan piano Indra yang memang sudah dikenal luas, memberikan dampak hebat pada penampilan ini. Tak salah rasanya bila Rieka menjadi bintang tamu dalam pagelaran Urban Jazz Crosover tahun ini, “Its My Life” pun bisa jazz saat keluar dari mulut wanita ini.

Penampilan yang paling ditunggu oleh penonton akhirnya muncul, Tompi. Dan tidak tanggung-tanggung, pria yang juga berprofesi sebagai dokter ini tampil dengan lagu yang saat ini sedang di trend dikalangan masyarakat. “Moves Like Jaggeer” oleh Maroon 5 feat Christina Aguilera ini pun membuat ruangan di JW Marriot pin berteriak. Dipenghujung lagu, Tompi menunjukkan kelas nya sebagai penyanyi profersional. Dirinya mengeluarkan kebolehannya dengan tekhnik Jazz, bahkan melawan Biola dan Bass.

Penampilan sang dokter ini dengan pakaian resmi, jas, dasi, kemeja, dan celana keeper. Tetapi, tetap saja dilengkapi dengan topi santai, yang membuat penampilan Tompi lebih berkesan menarik. Selanjutnya, “Bring Me to Life” dan “Gerangan Cinta” pun menggalun dari bibir Tompi. Dalam lagu yang dipopulerkan oleh Java Jive, Tompi berkolaborasi dengan Bayu Risa, sang Tompi kembali menunjukkan kebolehannya dalam mengolah suara. Saat memasuki bagian refrain, Tompi bernyanyi dengan suara perut, yang hasilnya suara berat dan sangat berat mengisi ruangan.

Lagu penutup pun didendangkan, “Firewwork” oleh Katy Perry pun menggelegar. Diiringi dengan musik Perkusi, lagu ini mampu mengguncang anak Medan. 4 penari seksi wanita yang mengisi acara pun ikut bergabung. Bahkan semua pengisi acara, seperti Andien, Intan Soekotjo, Harvey Malaiholo, Barry Likumahuwa, Millanie, Bayu Risa, Rieka Roeslan, Indra lesmana, dan Vicky Sianipar ikut bergabung dalam lagu terakhir dan memberikan aplause pada masyarakat Medan.

Gagal Menang

PSMS vs Arema

MEDAN- PSMS gagal memenuhi ambisi untuk meraih poin penuh pada laga kandangnya kontra Arema Indonesia di Stadion Teladan, Sabtu (26/5) kemarin dalam lanjutan ISL 2011/2012.

Singo Edan, julukan Arema memaksakan hasil imbang 1-1. Bahkan PSMS sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Sunarto di menit 10. PSMS berhasil comeback lewat gol Saha di menit 60.

Syukurnya hasil ini cukup mengangkat posisi PSMS di klasemen sementara. Kini PSMS nangkring di posisi 12 dari sebelumnya 14. PSMS mengoleksi 30 poin sama dengan koleksi Persegres dan Persidafon. Namun selisih gol menempatkan tim besutan Suharto melampaui posisi Persegres namun tetap di bawah Persidafon. Sementara Arema tetap berada di posisi 15 klasemen.

Tekad untuk meraih kemenangan membuat laga diprediksi panas. Hujan lebat yang mengguyur dan sempat menunda laga memang membuat kedua tim sulit mengembangkan permainan namun tidak dengan panasnya hawa laga.

Di menit 10, PSMS dikejutkan gol Sunarto yang sukses memanfaatkan kesalahan Edi Kurnia.  Gol ini membuat Sasa Zecevic cs panik dan terus mengurung pertahanan tuan rumah. Ancaman dimulai lewat aksi Zulkarnaen di menit ke 22 namun sepakannya melenceng.

Arema yang lebih banyak mengandalkan serangan balik malah menghadirkan ancaman yang lebih serius lewat Ferry Aman Saragih di menit 26. Pemain yang sempat mengikuti seleksi di PSMS ini melancarkan tendangan bebas indah, namun cukup melegakan PSMS karena hanya membentur mistar. Laga yang sempat dingin di bawah guyuran hujan mulai memanas. Zulkarnaen sempat bersitegang dengan Catur akibat beberapa benturan.

Begitu juga saat Arema protes berlebihan di menit 28 karena wasit Ole Hadi memberikan tendangan bebas di mulut kotak penalti. Alfarizie sempat mengajak rekan-rekannya untuk walk out dari lapangan karena tak puas dengan keputusan wasit. Kali ini eksekusi Ceh diselamatkan Kurnia Meiga. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Pasca jeda, performa PSMS berangsur membaik. Namun serangan balik Singo Edan kembali menjadi momok bagi lini pertahanan PSMS. Ridhuan lolos dari kawalan pemain belakang dan melesat sendirian mampu mengecoh Edi. Sial bagi Ridhuan, sontekannya tak mengalir mulus ke gawang karena tergenangnya bagian gawang PSMS sehingga melenceng.

Gol yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di menit 60. Osas Saha yang mendapat bola di kotak penalti sukses mengecoh Seme dan melepaskan tendangan keras yang gagal dihalau Meiga. Skor 1-1 membuat PSMS semakin percaya diri untuk menggempur. Namun gempuran berikutnya tak berbuah hasil dan tim besutan Suharto harus puas dengan satu poin.

Suharto mengaku timnya kurang beruntung dengan kondisi lapangan yang memburuk pasca hujan lebat. “Kita hanya kurang beruntung. Anak-anak sulit bermain dengan kondisi seperti ini. Apalagi tadi sempat tertinggal satu gol saat anak-anak lengah,” kata Suharto.

Pelatih Arema, Suharno mengaku puas dengan hasil yang diraih skuadnya. “Skor 1-1 ini membuat kita bersyukur. Satu poin ini cukup penting dan ini hasil terbaik untuk kedua tim. Kita tadi bukan menolak bertanding tapi saya harus membuat anak-anak punya pemasanan yang cukup karena laga sempat tertunda cukup lama,” katanya.

Pada laga tadi ia memang mewanti-wanti agar para pemainnya tidak terpancing kerasnya permainan lawan. “Kita sudah mengantisipasi agar tidak main keras. Kita punya tempo sendiri. Tapi memang kesalahan ini barisan belakang saat mengantisipasi Saha yang memang sangat kuat kuda-kudanya meski dikawal ketat Seme,” tandasnya. (mag-18)

[table caption=”Hasil Pertandingan”]

Sabtu 26 Mei ’12,
PSPS v Pelita Jaya    ,1 – 1
Deltras v Persiwa    ,1 – 2
PSMS v Arema    ,1 – 1

[/table]

[table caption=”Jadwal Pertandingan”]
,”Minggu, 27 Mei 2012 ”
Sriwijaya FC v Persipura, “(Siaran langsung AnTV, 19.00 WIB)”
Persija v Persib,”(Siaran langsung AnTV, 16.00 WIB)”
,”Senin, 28 Mei 2012″
Mitra Kukar v Persiba,”(Siaran langsung AnTV, 15.30 WIB)”
,”Selasa, 29 Mei 2012″
Persisam v Persegres,”(Siaran langsung AnTV, 15.30 WIB)”

[/table]

[table caption=”Klasemen Sementara”]

1. ,Sriwijaya      ,25     ,18    , 4     ,3     ,54-22     ,58
2. ,Persipura     ,26     ,15     ,7     ,4     ,43-27   ,  52
3. ,Persiwa     ,26     ,14     ,4     ,8     ,44-33    , 46
4. ,Persija         ,26     ,12     ,8     ,6     ,41-24     ,44
5. ,Persela    , 28     ,11     ,10     ,7     ,44-34     ,43
6. ,Persiba      ,25     ,11     ,8     ,6     ,45-41    , 41
7. ,Pelita Jaya     ,26    , 10     ,5     ,11    , 51-45     ,35
8. ,Persib           ,25     ,10     ,5     ,10     ,32-36    , 35
9. ,Mitra Kukar    ,24     ,10     ,4     ,10     ,41-35     ,34
10. ,PSPS         ,27     ,9     ,5    , 13     ,34-41     ,32
11. ,Persidafon     ,24     ,8     ,6    , 10    , 43-48    , 30
12. ,PSMS     ,26    , 7     ,9    , 10     ,33-39    , 30
13. ,Persegres   , 26     ,9    , 3    , 14    , 29-50    , 30
14. ,Persisam     ,24     ,8    , 5    , 11     ,28-28     ,29
15. ,Arema     ,28     ,7     ,7    , 14   ,  33-44    , 28
16. ,PSAP         ,26    , 5    , 9    , 12    , 24-41    , 24
17. ,Deltras    ,24     ,6     ,5     ,13   ,  24-34    , 23
18. ,Persiram     ,24     ,5     ,6     ,13     ,27-48     ,21

[/table]

Pencetak Gol: 17 Gol: Keith Kayamba (Sriwijaya), Mario Costas (Persela)

Tahan Rekor !

Persija vs Persib

JAKARTA-Tim Persija Jakarta selama kiprahnya di Liga indonesia hingga Indonesia Super League (ISL) 2011 yang lalu begitu digdaya di kandangnya. Tim berjuluk Macan Kemayoran itu belum pernah kalah semenjak berlaga melawan musuh bubuyutan. Kandang Persija di Jakarta sampai detik ini.

Nah, bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, tim berjuluk Macan Kemayoran itu akan mempertahankan “keperawanannya” dan juga gengsi nama besar melawan musuh bebuyutan, Persib Bandung, sore ini.  ” Tentu kami harus lakukan itu apalagi di depan ribuan pendukung kami. Kami pasti terbakar semangat,” jelas Iwan Setiawan pelatih Persija kepada Indopos (Grup Sumut Pos) kemarin.

Persija di pertandingan yang akan disiarkan langsung ANTV pukul 15.00 itu akan tampil dengan kekuatan penuhnya. Absennya kiper Galih Sudaryono tidak akan mempengaruhi penampilan anak asuhnya.

Kata Iwan, kualitas dua kipernya Galih dan Andritany sangat merata dan memiliki kualitas sama dan bagus. “Malahan peningkatan Andritany sangat signifikan. Tapi yang terpenting itu adalah pemain bisa melawan faktor psikologis,” jelas mantan pelatih Persikabo Bogor itu.

Untuk urusan teknis, Iwan mengaku timnya sudah bisa melakukan dan mentransfernya dengan baik saat berjibaku di lapangan. Para pemain mampu bermain sesuai dengan instruksi dan ciri khas.

Persib Bandung juga datang dengan kepercayaan diri tinggi. Pihaknya berjanji mematahkan rekor buruk atas Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kali ini, Persib optimis bakal meraih poin penuh atas musuh bebuyutannya.

Seperti diketahui, sejak bergulirnya Liga Indonesia I hingga Liga Super Indonesia musim lalu, Persib hanya mampu meraih empat kali seri. Sisanya, Persib harus mengakui keunggulan Persija. Persib hanya mampu meraih satu kali kemenangan di kandang Persija yaitu pada LSI 2008-2009. Saat itu Persib merih kemenangan 2-1 atas Persija. tetapi kala itu laga dijalankan di Malang.

Pelatih Persib Bandung, Robby Darwis mengatakan, seluruh anak asuhnya sudah siap untuk menjalani laga kali ini. Kesiapan Persib bahkan telah melebihi menghadapai laga-laga sebelumnya. “Anak-anak sudah siap. Kita juga sudah siapakan para pemain yang bakal turun di laga nanti,” ujar Robby usai memimpin latihan di Stadion Atang Sutresna Kopassus Cijantung Jakarta, Sabtu (26/5).

Menurut Robby, Persib memiliki modal yang kuat untuk bisa meraih poin pada laga El Classico kali ini. Dua kemenangan dan satu kali hasil imbang sudah cukup menaikan motivasi para pemain. “Motivasi para pemain dalam kondisi terbaik. Mereka sudah siap untuk bermain total di laga nanti,” aku Robby. (lis/jpnn)

Gus Irawan Beri Bonus Lagi

BENTUK kepedulian Ketua Umum KONI Sumut, Gus Irawan terhadap PSMS ternyata tidak berhenti sampai duel kontra Persela. Gus kembali hadir untuk memberikan motivasi kepada Sasa Zecevic cs pada laga kontra Arema Indonesia, Sabtu (26/5) lalu.. Kucuran bonus sebesar 15 juta rupiah kembali hadir untuk para pemain.

Seperti laga sebelumnya, Gus langsung menyambangi pemain untuk memberi motivasi sebelum laga. Dia sadar betul laga kandang ini sangat krusial untuk PSMS. Jika kalah, maka Ayam Kinantan akan dikudeta tamunya itu.

“Dengan semangat pantang menyerah seperti saat menang dari Persela saya yakin kali ini PSMS bisa kembali memetik tiga angka,” ujarnya sambil menyalami satu persatu pemain PSMS, sebelum pertandingan dimulai.

Tidak hanya para pemain yang mendapat kucuran bonus, Direktur Utama PT Bank Sumut ini juga mengapresiasi aksi para suporter menguras lapangan dengan menggunakan papan reklame di Stadion Teladan agar laga bisa dilanjutkan.

Gus Irawan pun turun langsung dari bangku VVIP tempatnya menonton laga untuk menjumpai para suporter. Ia juga memberikan sejumlah uang yang diterima perwakilan suporter. (mag-18)

Menuju Penentuan Juara

Sriwijaya vs Persipura

PALEMBANG-  Pelatih Sriwijaya, Kas Hartadi menyebut laga melawan Persipura di Palembang, malam ini sebagai pertandingan pra final Indonesia Super League (ISL) musim ini. Laga ini bisa menjadi penentuan siapa yang layak merengkuh gelar.

“Bisa dikatakan saat ini SFC dan Persipura sebagai tim terbaik di kompetisi Liga Super Indonesia (SLI) musim ini, itulah saya menyebut laga nanti merupakan pra final,” kata Kas Hartadi.

Pelatih asal Solo itu tidak menyangkal laga nanti menjadi perhatian pecinta sepak bola Tanah Air, mengingat suatu indikator untuk menentukan juara musim ini meski masing-masing tim masih menyisakan delapan laga.

“Siapa yang menang pada laga itu maka akan berpeluang juara, para pemain SFC dan Persipura mengetahui hal itu. Saya pun sejujurnya belum merasa tenang sebelum melewati pertandingan melawan Persipura,” kata pemain Tim Nasional era tahun 90-an ini.

Ia tidak membantah, laga itu terbilang berat mengingat Persipura merupakan juara musim lalu, selain itu memiliki prestasi cukup konsisten dalam satu dekade terakhir.

“Menghadapi Persipura harus benar-benar ektra fokus dalam persiapan. Sriwijaya FC memikirkan Persipura begitu pula sebaliknya,” ujarnya.

Mantan pelatih SYSA Muba ini pun enggan mengungkap strategi yang bakal diusung menghadapi “Mutiara Hitam” pada laga ke-9 LSI itu.

“Saat ini fokus untuk mengembalikan kondisi pemain karena kebugaran merupakan hal yang mutlak untuk mengalahkan Persipura,” katanya.

SFC kokoh di puncak klasemen sementara dengan 58 poin, sementara Persipura menempel dengan 51 poin dari masing-masing 25 pertandingan. (net/jpnn)

Bangun Gereja dengan Seribu Rupiah

Sulitnya mencari pendonor bagi pembangunan gereja membuat Panitia pembangunan dan pimpinan umat memutar otak.  Alhasil mereka mendapatkan jalan terbaik, yaitu melibatkan umat (warga jemaat) setempat melalui program gerakan seribu rupiah (geser) per keluarga per hari.

Ini dilakukan warga gereja di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam membangun sejumlah gereja.  Hasilnya pun amat sangat luarbiasa, dalam lima tahun terakhir ini pembangunan rumah ibadah di kota Kupang mencapai puluhan unit. Bangunan yang menampung umat beragama antara 2.000-5.000 orang ini butuh dana sampai puluhan miliar rupiah per unit.

Pastor Paroki Gereja Santo Yoseph Penfui Kupang, Rm. Maksi Un Bria Pr, misalnya mengatakan, “geser” yang dijalankan untuk membangun gedung Gereja Penfui selama 20 bulan terakhir telah terkumpul Rp1,3 miliar. Maksi menilai hasil ini sangat luar biasa.  Bagaimana tidak, ditengah kemiskinan dan ketakberdayaan, tetapi dengan daya yang ada, ternyata bisa, kata Maksi dalam khotbah misa harian di Kupang.

“Gereja yang sedang dibangun ini milik umat sampai anak cucu, sementara kami pastor hanya menikmati beberapa tahun saja. Kalau uskup minta saya pindah hari ini, saya siap jalan, sementara umat tetap memiliki dan menikmati gereja ini,” kata Maksi.(kcm)