Home Blog Page 13461

Paska Pembacokan, Dua Kelompok Warga di Belawan Bentrok

BELAWAN- Pasca pembacokan terhadap, Samson (17) oleh tiga pria berkelewang, bentrokan antar dua kelompok warga di Jalan TM Pahlawan Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan kota Belawan, Jumat (25/5) malam, kembali pecah. Meski dalam aksi saling lempar benda keras antar warga Lorong di Belawan Lama dan Gudang Arang, Belawan itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun beberapa rumah warga mengalami kerusakan akibat terkenal sasaran lemparan batu.
Informasi dihimpun sumut pos menyebutkan, peristiwa bentrokan yang sebelumnya sempat mereda itu terjadi setelah salah satu kelompok warga melakukan aksi pelemparan batu ke arah lawannya. Tak berselang lama pertikaian antar warga pun terjadi disekitar areal TPU di Jalan TM Pahlawan, Belawan.

“Kami tak tahu persis siapa yang memulai, hanya saja bentrokan ini kembali terjadi setelah sebelumnya salah seorang pemuda warga Lorong Kenanga Belawan Lama dibacok duluan oleh tiga pemuda disebut-sebut warga Gudang Arang, Belawan,” ujar, Nur (30) salah seorang warga Belawan Lama.

Mengetahui bentrokan antar warga kembali pecah, beberapa personil kepolisian yang telah tiga bulan ditempatkan dikawasan tersebut untuk melakukan penjagaan paska bentrokan yang terjadi sebelumnya, selanjutnya berkoordinasi dengan Polsekta Belawan Polres Pelabuhan Belawan untuk penambahan personil.

“Bentrokan baru berhenti begitu penambahan personil polisi tiba, kedua kelompok warga yang terlibat perang langsung melarikan diri,” tutur dia.
Meski bentrokan antar dua kelompok warga tak menimbulkan korban jiwa, namun beberapa rumah warga di Lorong Papan Belawan Lama mengalami kerusakan akibat aksi pelemparan batu. Umumnya, kerusakan terjadi pada bagian dinding dan atap rumah warga yang berada disekitar pinggiran jalan tak jauh dari lokasi bentrokan.

Diketahui, pecahnya kembali pertikaian antar warga di Belawan ini diduga dipicu oleh tindakan penganiayaan menggunakan senjata tajam (sajam) dialami korban, Samson warga Lingkungan 27 Lorong Kenanga, Belawan dilakukan oleh tiga orang pemuda di TPU Jalan TM Pahlawan, Belawan. Saat itu korban yang sedang berada disekitar perkuburan bersama temannya dibacok para pelaku menggunakan kelewang hingga kritis.

Kapolsekta Belawan, Kompol Bambang Hariono ketika dihubungi mengatakan, untuk mengantisipasi kembali terjadinya peristiwa bentrokan antar warga itu sejumlah personilnya dibantu petugas dari Polres Pelabuhan Belawan saat ini telah disiagakan guna melakukan pengamanan.”Personil baik dari Polsek maupun Polres saat ini berada disekitar TKP untuk melakukan pengamanan, kita menghimbau agar warga untuk tidak kembali terlibat keributan,” kata, Bambang.
Sementara, terkait tindakan penganiayaan menggunakan senjata tajam dialami slah seorang warga, Bamabang menjelaskan kalau kasus dimaksud kini ditangani petugas Polres Pelabuhan Belawan.”Kasus penganiayaan itu ditangani polres untuk diproses lebih lanjut, sedangkan pelaku masih dalam pengejaran,” tandasnya.(mag-17)

Bengkel AC Ludes Terbakar.

MEDAN-Sebuah bengkel Service AC Mobil Di jalan Cokro Miroto persisnya di Jalan Madong Lubis Lingkungan VII kelurahan Pandau Hiliri kecamatan Medan Perjuangan ludes terbakar, Sabtu (26/5) malam sekitar pukul 22.30 WIB. Diduga api berasal dari arus pendek.

Menurut informasi yang dihimpun Sumut Pos dilokasi kejadian menyebutkan, Api yang diduga dari arus pendek ini, terlihat pertama kali di dalam bengkel Service Internasional oleh Tokbongseng (40) yang tak lain adalah pemilik bengkel service ini.

Gempulan asap pun keluar dari tempat usahannya ini, spontan dirinya meminta tolong kepada warga sekitar, dri luar bengkel sudah terlihat api membesar menghanguskan bengkel milik warga keturunan tianghoa ini, pemilik bengkel dibantu warga sekitar sempat melakukan evakuasi barang seperti mobil korban dan barang-barag berada didepan bengkel.

Dinas Pencegahan dan pemadam kebakaran (DP2K) Kota mendapatkan informasi kebakaran ini langsung terjun kelokasi, sedikitnya 10 unit armada pemadam kebakaran ini turun kelokasi, namun petugas mengalami kesulitan untuk menijinakkan api, pasalnya bengkel tersebut terkeunci dari dalam sehingga menyulitkan petugas untuk melakukan pemadam api.

Alhasil petugas pun harus membuka paksa pintu rolling door bengkel tersebut dengan cara menjebol dengan menggunakan martil 5 kilogram, hal itu membuat petugas tidak bisa membuka pintu bengkel tersebut, begitu juga saat dibukan paksa kembali menggunakan kapak, pintu tidak bisa dibuka. Akhirnya petugas membuka pintu bengkel ini dengan cara menarik pintu menggunakan taling disambungkan ke mobil kebakaran, sehingga pintu terbukan usai ditarik dengan mobil pemadam kebakaran.

Setelah pintu terbuka, petugas masuk kedalam toko service AC ini untuk memadamkan api, menelan waktu sekitar 60 menit akhir petugas DP2K Kota Berhasil menjinakkan api.

Sementara itu kepala Lingkungan VII kelurahan Pandau Hiliri kecamatan Medan Perjuangan, Fahrudin, yang ditemui dilokasi. Mengatakan kalau peristiwa kebakaran itu berlangsung begitu cepat.” Sekira pukul 22.30 WIB tadi, terjadi. Saat itu warga sedang melintas dan melihat asap tebal dari dalam. Gak lama, terlihat api mulai membakar. Setelah warga melapor, saya teruskan ke lurah, dan ditelefon pemadam Kebakaran,” ujar Fahrudin.

Akibat kebakaran ini, pemilik bengkel tersebut mengalami kerugian mencapai puluhan juta rupiah, peristiwa kebakaran ini membuat pusat perhatian warga sekitar dan pengguna jalan disekitar lokasi, mengakibat ruas jalan dilokasi kebakaran ini membuat macet total.

Kini kasus kebakaran tersebut ditangani oleh Polsekta Medan Timur, Terlihat juga sejumlah personil kepolisian dari Mapolsekta Medan Timur terjun dilokasi untuk melakukan identifikasi untuk mencari penyebab kebakaran tersebut, pemilik bengkel terlihat juga dimintai keterangan oleh polisi dilokasi.(gus)

Mayat Mr X Ditemukan Terapung di Sungai Deli

MEDAN-Sesosok mayat tanpa identitas ditemukan tewas dengan kondisi bersimbah darah terapung di sungai Deli dibawah jembatan yang berada dijalan Karya Ujung, Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia pada Sabtu (26/5) Pagi sekitar pukul 08.30 WIB.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dikepolisian menyebutkan, mayat lelaki tanpa identitas tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang warga yang sedang mencari barang bekas disungai tersebut. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat yang terapung disungai itu.

Selanjutnya warga tersebut langsung melaporkan penemuan itu kepada kepala lingkungan setempat yang langsung diteruskan kekepolisian.Dilapangan, pihak kepolisian dan tim identifikasi mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses evakuasi tersebut, pasalnya lokasi medan yang cukup curam serta padatnya warga yang ingin menyaksikan penemuan mayat tersebut membuat petugas kesulitan dalam melaksanakan evakuasi.

“Aku gak tahu kali penemuan mayat itu, namun ada mayat disitu dari tukang botot yang melihat, aku pun coba melihatnya, ternyat mayat.”Ungkap warga yang menyaksikan keberadaan mayat tersebut.

Dari puluhan warga yang menyaksikan mayat itu dilokasi tersebut, tidak ada satu pun warga mengenali jasad korban pembunuhan ini.”Tidak kenal bang, aku baru lihat wajahnya ini.”Ucap Desi warga sekitar saat menyaksikan evakuasi mayat tanpa identitas yang dilakukan polisi di TKP.

Setelah berhasil dievakuasi kedaratan, usai dilakukan identifikasi sekitar pukul 10.00 WIB jenazah lelaki tambun itu langsung dirujuk ke ruang jenazah RSUP.dr.Pirngadi Medan untuk dilakukan autopsi.

Dari pantauan Sumut Pos, terlihat jasad korban hendak dibawa ke rumah sakit tubuh korban ditemukan luka-luka yang mencolok disekitar tubuh. Pada kedua tangannya ditemukan luka lecet, pada bagian punggung memar, kepala bagian belakang luka robek, sedangkan pada bagian wajah dipelipis kiri terdapat luka robek dan memar dibagian mata kiri.

Selain itu, korban yang diduga tewas dibunuh tersebut berukuran tubuh yang gempal yang ditaksir berat tubuhnya mencapai 100 kg dengan tinggi sekitar 165 cm. Pada jempol kaki kirinya tepatnya pada dibagian kuku ditemukan cacat. Selain itu usia korban diperkirakan lebih kurang 45 tahun.

Sementara itu, Kanit Reskrim Medan Helvetia Iptu Ade Chandra saat dikonfirmasi terkait tewasnya pria tanpa identitas tersebut menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penyeledikkan atas penemuan mayat tanpa identitas ini.”Untuk saat ini kita hanya melakukan evakuasi saja, mengenai apa penyebab dari tewasnya korban apakah karena pembunuhan atau bukan, kita masih belum dapat memastikannya karena masih menunggu hasil autopsi dari rumah sakit,” terangnya.

Selanjutnya Kanit Reskrim Medan Helvetia ini menyatakan saat dilakukan identifikasi terhadap mayat tidak di temukan identitas apapun disaku celana milik korban.”saat ini kita masih melakukan penyelidikan dan akan melakukan pemeriksaan kepada saksi yang menemukan korban,”pungkasnya.(gus

Badai di Medan Makan Korban

Pengendara MotorTewas Ditimpa Pohon

MEDAN- Hujan deras diiringi tiupan angin kencang yang melanda kota Medan tadi malam menimbulkan kekacauan. Meski hanya beberapa jam, badai ini mengakibatkan sejumlah pohon dan papan reklame tumbang.

Fatalnya, pohon yang tumbang menimpa sejumlah pengendara. Diantaranya, dialami Sumardi (42) yang tengah mengendarai sepeda motor Honda Supra X 125 warna hitam BK 5893 AAM. Warga Jalang Cengkeh XII No.9, Perumnas Simalingkar, Medan Tuntungan ini ditimpa pohon pelindung di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Harjosari I, Medan Amplas, tepatnya di depan Bank BRI Meriendal.

Dalam keadaan sekarat, Sumardi dibawa ke Rumah Sakit Estomohi. Malang, nyawanya tidak tertolong. Diduga, ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos, korban yang bekerja sebagai sopir mobil pribadi di Taman Polonia itu hendak pergi ke gudang milik majikannya di Medan Amplas. Di tengah perjalanannya, bapak lima anak itu melintasi hujan deras dan angin kencang.

Naas baginya, saat itu dua pohon di median tiba-tiba tumbang. Langsung menimpah Korban. Seketika itu juga, korban terjatuh dari sepeda motornya. Akibatnya, bapak lima anak itu mengalami luka serius di bagian punggung dan dadanya, serta ada luka robek di bagian bawah bibirnya.

Melihat ada pengendara yang tertimpa pohon tumbang, Suriadi (55) pengendara lain yang ketika itu sedang berteduh bersama warga lainnya berupaya menyelamatkan korban. Bahkan, Suriadi langsung membawa korban ke RS Estomihi. Sayangnya, ajal telah menjemput bapak lima anak itu.

Suriadi membeberkan, dirinya tak menyangka, ternyata korban merupakan teman satu profesi sebagai sopir mobil pribadi. “Waktu saya pulang kerja di tengah jalan hujan, maka saya berteduh di depan BRI. Saat itulah saya melihat ada orang yang mengenderai sepeda motor terjatuh. Lalu, saya hampiri, ternyata orang tertimpa pohon itu adalah teman saya sesama supir pribadi di perumahan Taman Polonia,” ujarnya ditemui RS Estomihi.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, saat kejadian tak diketahui apa saja yang terluka. Kemudian, korban juga tidak mengeluarkan keluhan apapun. “Saya sangat terkejut ketika sama di rumah sakit dibilang sudah tak ada nyawanya,” sebut sopir mobil pribadi di perumahan Citra Garden.

Sementara itu, Rian (21) anak ketika korban mengatakan ayahnya merupakan sopir pribadi di Taman Polonia. “Aku gak tau bang, bapak baru pulang kerja katanya. Aku tahu kejadian ini karena ditelepon kawannya. Katanya bapak tadi mau jaga gudang di Amplas. Kalau ibu saya tinggal di Desa Firdaus, Sei Rampah, Sergai,” ujarnya tak mau berbicara lain.

Sedangkan kakak kandung korban, Ratna (50) mengatakan korban selama bekerja sebagai sopir tinggal dengannya di Perumnas Simalingkar, sedangkan istrinya, Erlina berada di Sei Rampah.

“Korban dengan anaknya Rian, tinggal sama saya di Perumnas Simalingkar, dan istri korban itu di Sei Rampah. Maaf ya, gak sanggup saya,” ujarnya menangis.

Sekitar 3 jam setelah kejadian, istri korban, Erlina tiba di RS Estomihi. Kedatangannya membuat perhatian pengunjung RS Estomihi, pasalnya baru memasuki ruangan tunggu RS Estomihi langsung terjatuh dan pingsan karena tak menyangka kalau suaminya meninggal. Hingga tak ada ucapan muncul keluar dari mulutnya.

Setelah empat jam berada di RS Estomihi, jasad korban di bawa ke rumahnya di Desa Firdaus, Sei Rampah, Sergai. Rencananya, korban akan dibumikan di kampungnya.

Sementara itu, amatan Sumut Pos, usai angin kencang dan hujan deras mengguyur Kota Medan, ada sebanyak 10 batang pohon tumbang di Jalan Ngumban Surbakti, dua di Jalan Sisingamangraja Medan, dua pohon di Jalan Tritura depan Swalayan Maju Bersama.

Selanjutnya, di Simpang Titi Kuning satu warung di Jalan AH Nasution dekat simpang Titi Kuning terangkat akibatnya rusak, kemudian baliho besar milik calon Gubernur Sumatera Utara H Fadly Nurzal Pohan SAg tumbang beruntung tak menimpa pengendara.

Kejadian yang sama juga terjadi di Jalan Brigjend Katamso, ada dua papan reklame tumbang ke badan jalan. Akibatnya sejumlah ruas jalan macat total dalam tiga jam. Sedangkan petugas dari Dinas Pertamanan, aparatur kelurahan, kepala lingkungan serta kecamatan tampak sibuk membersihkan jalan dari sejumlah pohon dan papan reklame yang tumbang.

Waspadai Kejadian Serupa

Warga Medan diimbau untuk mengantisipasi hujan yang disertai angin kencang. Menurut Kepala Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Stasiun Bandara Polonia Medan, Hartanto, cuaca buruk seperti ini masih akan berlangsung hingga awal Juni 2012 mendatang dan berpotensi banjir. Wilayah rawan badai meliputi wilayah Medan, Deliserdang, Tebingtinggi, Binjai, dan Langkat.

“Hujan seperti ini sejak Februari 2012 hingga awal Juni 2012 ke depan. Ini terjadi karena saat musim kemarau sebelumnya penguapan terlalu tinggi dan hujan pun turun,” kata Hartanto belum lama ini.

Durasi hujan yang turun kategorinya sedang sampai besar. “Pola hujan atau durasinya 10-20 milimeter per jam,” bebernya.

Menurutnya, sifat hujan seperti ini kategorinya hanya sementara saja. “Dikategorikan sementara karena hujannya turun sekali dalam sehari dan begitu turun langsung ditumpahkan semuanya,” ungkapnya.

Meski hanya sementara, bila tak hati-hati, tetap berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Hartanto mengimbau kepada warga Medan sekitarnya agar tetap waspada akan banjir termasuk banjir kiriman dan tentu saja kemungkinan tertimpa pohon maupun papan reklame.

Hartanto menyebutkan, untuk jarak pandang para pilot pesawat terbang, berdasarkan data yang ada masih aman. “Jarak pandang masih aman karena jarak pandang itu 1 km ke atas. Kalau 1 km ke bawah seperti 500 meter, itu baru tak aman. Kalau sekarang ini jarak pandang masih aman-aman saja,” ujarnya. (omi/mag-10/jon)

Kenapa Pohon di Jalan bertumbangan?

Penyebab:

  1. Angin kencang di luar normal (puting beliung)
  2. Usia pohon sudah tua
  3. Perilaku buruk manusia
  4. Polusi yang tinggi

Antisipasi:

  1. Didekteksi terlebih dulu
  2. Pohon yang sudah tua diperiksa dengan alat silvatest duo, yakni alat pendeteksi kayu non- dekstruktif menggunakan gelombang ultrasonik.
  3. Butuh waktu 10 menit untuk mendeteksi satu pohon.
  4. Gelombang yang terdeteksi berada di bawah 1500-1700 meter per detik menunjukkan adanya lubang pada batang pohon.
  5. Agar pohon-pohon di jalan sehat maka perlu perawatan optimal seperti pemangkasan dan penambalan menggunakan semen di batang pohon yang bolong sehingga tidak rentan tumbang dan tetap rindang.

* Diolah dari pendapat pengamat lingkungan

Korban Pohon Tumbang di Medan

21 Maret 2011

1 unit mobil dan becak bermotor tertimpa phon akibat angin kencang disertai hujan deras.

13-14 Agustus 2011

Dua unit mobil Toyota pick-up dan Toyota Innova yang parkir di Jalan Nibung Raya Medan Innova  penyok akibat ditimpa pohon. Satu unit sepeda motor juga ikut rusak. Tak ada korban jiwa tapi seorang pengendara mengalami luka serius tertimpa pohon tumbang.

7 September 2011

Puluhan unit rumah di sepanjang Jalan Brigjen Katamso rusak parah akibat tertimpa pohon yang tumbang akibat diterpa angin puting beliung.

8 Mei 2012

  • Minibus angkot dengan nomor polisi BK 1279 GC itu tertimpa pohon saat melintas persis di sekitar gerbang Pasar Pajus Jalan Letjen Djamin Ginting.
  • 5 unit mobil tertimpa pohon di Jalan Diponegoro.
  • 6 unit mobil tertimpa pohon di Jalan Adam Malik.
  • 1 unit mobil jenis Nissan Livina di Jalan Thamrin Medan.
  • 1 unit mobil tertimpa pohon di Jalan T Amir Hamzah.
  • Baliho tumbang di depan Global Super Store, Jalan Monginsidi.

10 Mei 2012

Satu tewas dan dua luka-luka akibat tertimpa pohon tumbang saat hujan deras melanda Kota Medan. Korban tewas seketika saat melintas di Jalan Kapten Sumarsono, Medan Helvetia.

Tak Pernah Juara Kelas, Prestasi Tertinggi Peringkat Ke-15

Triawati Octavia, Peraih Nilai UN SMA Tertinggi Se-Indonesia

Prestasi akademiknya di SMAN 2 Kuningan, Jabar tergolong biasa saja. Bahkan, Triawati Octavia belum pernah juara kelas. Prestasi tertingginya adalah menembus 15 besar di kelas. Namun, saat hasil ujian nasional (UN) SMA diumumkan kemarin, dia menempati peringkat pertama nasional. Bagaimana keseharian Triawati?

Deden Rijalul Umam, Kuningan

TAK ada yang menyangka bahwa Triawati Octavia, siswa kelas XII IPA 5 SMAN 2 Kuningan akan menjadi peraih nilai tertinggi UN se-Indonesia. Begitu juga halnya dengan Tria –sapaan akrab Triawati. Remaja yang tak suka menonton TV itu mengatakan sama sekali tidak pernah berpikir bisa meraih hasil unas sedemikian fenomenal. Hasil UN yang di luar dugaannya itu membuat namanya mendadak terkenal di tingkat nasional.

Sepintas tidak ada yang istimewa dari diri Triawati. Jika dibandingkan dengan rekan-rekannya yang selalu juara kelas, prestasi Tria tak ada apa-apanya. Pihak sekolah sendiri menganggap prestasi akademik Tria biasa-biasa saja seperti kebanyakan siswa yang lain. Malah, tak pernah sekali pun Tria menembus posisi tiga besar di kelasnya. Tak mengherankan jika pihak sekolah juga nyaris tidak percaya bahwa Tria bisa meraih hasil UN tertinggi se-Indonesia.

Mencari rumah Tria tak terlalu sulit. Letaknya di pinggir jalan raya Kuningan–Cikijing. Tria tinggal di RT 05, RW 02, Dusun Cinangsi, Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kuningan. Dari pusat kota hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Rumah remaja berlesung pipit itu cukup sederhana.

Di rumah dua lantai bercat kuning itu, Tria tinggal bersama dua orangtuanya, Drs Syahrul Arifin dan Hj Uhintawati AmKeb. Dua kakaknya sudah bekerja sebagai PNS di DKI Jakarta. Di kamar depan rumahnya dijadikan tempat praktik sang ibu sebagai bidan. Sedangkan sang ayah, Syahrul, adalah pegawai Kecamatan Darma.

Tria yang kemarin diantar pulang oleh beberapa guru dan wali kelasnya langsung dipeluk sang ibunda, Uhintawati. Perempuan berjilbab itu terlihat bangga atas hasil spektakuler yang dicatatkan anak ketiganya itu.

Sepuluh menit kemudian Syahrul datang dan langsung memeluk putri kesayangannya tersebut. Suasana haru terjadi dalam sekejap. ’’Saya sama sekali tak menyangka putri saya bisa meraih hasil yang sangat membanggakan. Saya awalnya hanya mengharapkan Tria lulus sekolah dengan hasil memuaskan. Saya dan juga ibunya Tria benar-benar kaget begitu membaca koran Radar Cirebon (Grup Sumut Pos) yang memuat nama anak saya sebagai peraih nilai UN tertinggi se-Indonesia,’’ papar Syahrul dengan suara terbata-bata.

’’Pagi-pagi saat berada di kantor, teman-teman bilang bahwa anak saya meraih nilai tertinggi UN. Saya lalu nyari beritanya. Ternyata benar, nama anak saya tercantum. Saya masih tak percaya. Kemudian, dari SMAN 2 Kuningan ngasih kabar bahwa anak saya memang meraih nilai unas tertinggi. Itu baru saya percaya. Ini semua karunia dari Allah SWT,’’ sambung Syahrul.

Dia menceritakan bagaimana keseharian keluarganya. Kepada anaknya, Syahrul dan Uhintawati bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton TV atau keluar malam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya itu main Facebook. Apalagi, saat pelaksanaan UN, dia dan istrinya benar-benar mengawasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat, rupanya, membuahkan hasil. ’’Mungkin saya dan istri saya terlalu tegas terhadap anak karena sangat ingin melihat dia (Tria, Red) lulus dari sekolahnya. Itu saja,’’ kata Syahrul.

Selain soal belajar, Syahrul selalu meminta anaknya salat Duha dan salat malam. Sikap tegas dua orangtuanya itu diakui Tria. ’’Papah dan Mamah sangat tegas. Tapi, saya mematuhi karena ingin meraih masa depan yang baik. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak pernah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,’’ tutur Tria yang memiliki obsesi menjadi dokter itu.

Dari sisi ekonomi, Tria termasuk beruntung. Keluarganya tergolong mapan. Dua orangtuanya adalah PNS. Syahrul menjabat Kasikesra di Kantor Kecamatan Darma dan ibunya bekerja di Puskesmas Darma. Satu unit mobil Kijang terparkir di garasi rumahnya. Meski ekonominya mapan, Syahrul dan Uhintawati memilih hidup sederhana. Tak ada barang mewah di dalam rumahnya. Kursi di ruang tamu pun seperti kebanyakan milik warga di desanya. Bahkan, satu set kursi model lama tertata di ruang tengah keluarga harmonis tersebut.

Wali kelas XII IPA 5 SMAN 2 Kuningan Drs Raindra menyebutkan, prestasi Tria di kelas biasa-biasa saja. Di kelasnya tidak begitu menonjol dan bukan juara kelas. Dia hanya pernah masuk 15 besar di kelas.

Namun, Raindra mengungkapkan bahwa Tria memiliki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan sikap yang sopan dan santun. ’’Mungkin karena dia merasa enjoy ketika mengerjakan soal unas. Didorong pula dengan rajin beribadah seperti puasa Senin-Kamis dan salat Duha,’’ tuturnya diamini Kepala SMAN 2 Kuningan Drs Bambang Sri Sadono MPd.

Sebagai wali kelas sekaligus guru kimia, Raindra tahu betul keseharian Tria. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut mengerjakan dengan baik. Raindra pun menyatakan salut atas besarnya motivasi dua orang tua Tria. ’’Sewaktu UN, saya sempat menanyakan kepada Tria bagaimana dorongan orang tuanya. Dia menjawab, mamahnya rajin puasa selama UN dilangsungkan,” ujarnya.

Indra, sapaan akrab Raindra, menilai suasana keluarga Tria cukup kondusif dalam mendidik putrinya. Suasana tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar Triawati. Beban psikologis yang ditanggung seluruh peserta unas mampu diempaskan berkat dukungan orang tuanya.

Data yang diperoleh Radar Cirebon menyebutkan, nilai enam mata pelajaran unas yang didapat Tria di atas 9. Bahkan, khusus mata pelajaran kimia, gadis yang berjilbab itu mendapat nilai 10. Rata-rata nilai UN murni untuk enam mata pelajaran adalah 9,77.

Untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, Tria memperoleh nilai 9,8. Nilai itu sama dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Sedangkan untuk matematika, dia berhasil mendapat nilai 9,75, sama dengan pelajaran fisika. Paling kecil nilai Tria adalah mata pelajaran biologi, yakni 9,5. Jika ditotal, nilainya 58,60.

Kemarin Tria terlihat gembira, namun tetap tenang. Kepada Radar Cirebon, siswi yang aktif di OSIS dan palang merah remaja (PMR) itu tak lupa bersyukur kepada Allah SWT. Dia sangat berterima kasih kepada dua orangtuanya, para guru, serta teman-teman yang berjuang bareng ketika menghadapi UN.

Ditanya rencana selepas lulus SMA, Tria ingin meneruskan kuliah di UI (Universitas Indonesia). Fakultas yang diincarnya adalah ilmu kesehatan masyarakat dengan jurusan manajemen rumah sakit. Gadis kalem itu bercita-cita ingin menjadi manajer rumah sakit. Sebetulnya saat ini dia sudah diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Namun, hal itu belum diputuskan karena masih ada waktu registrasi hingga Juni mendatang. Berbicara tentang kiat belajar, Tria mengatakan sama dengan teman-teman yang lain. Intinya adalah berdoa dan berusaha. Kala menghadapi unas, dia mempunyai tips khusus, yakni memacu semangat belajar dan tidak berleha-leha. ’’Sebenarnya waktu mau unas aku deg-degan, kayak temen-temen lainnya. Tapi, alhamdulillah, waktu itu Papah dan Mamah serta para guru yakinin aku sehingga mampu mengurangi rasa gusar,’’ tutur siswi yang menilai fisika sebagai mata pelajaran sulit tersebut. (*/jpnn/c4/nw)

BPN Deliserdang dan Langkat Bantah Terbitkan Sertifikat

Konflik Lahan Eks HGU

LUBUK PAKAM- Badan Pertanahan Nasional (BPN) Deliserdang dan Langkat menolak keras sinyalemen yang menyebutkan institusi yang mengurusi pertanahan itu menjadi pemicu berkembangnya sengketa dan konflik di atas lahan eks HGU PTPN2 di Deliserdang dan Binjai. Kedua kantor BPN itu tak mau dipersalahkan atas eskalasi konflik antar PTPN2 dan warga yang meluas belakangan ini.

Menurut Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendataan Tanah BPN Deliserdang, Muklis, dan Kepala Sub Bidang Pendaftaran Tanah, Supli, hingga saat ini dari sekitar 5.873 lahan eks HGU milik PTPN2 yang hendak dilepaskan itu tak pernah melibatkan pihaknya. BPN Deliserdang sebatas tempat pendaftaran sertifikat yang diterbitkan BPN pusat dan Kanwil BPN Sumut.

Muklis mengungkapkan, Kanwil BPN Sumut yang dilibatkan sebagai Kelompok Kerja (Pokja) yang diketuai Gubsum adalah pihak yang melaksanakan pemetaan, pengukuran, dan pematokan atas lahan-lahan eks HGU. Pasalnya salah satu tugas pokok Pokja itu  adalah memetakan dan membuat patok di lahan eks HGU PTPN2. ”Ini lanjutan dari kerja tim B plus yang pernah dibentuk tapi sudah dibubarkan. Hampir 12 tahun hasil kerja tim B plus itu tapi sekarang ditindaklanjuti,” ujarnya.

Lahan eks HGU PTPN2 yang masuk dalam 5.873 hektare itu sampai saat ini sertifikat tanahnya belum pernah diterbitkan. Data rincinya juga tak pernah dimiliki  BPN Deliserdang. “Data ada di Kanwil BPN Sumut, silakan tanya ke sana, kami tak diajak dalam Pokjaitu,” kata Muklis.

Terkait instruksi agar BPN Deliserdang membuat kajian wilayah di atas lahan eks HGU PTPN2 pada tahun 2006 silam disangkal Muklis karena itu bukan kewenangan BPN  tingkat kabupaten/kota.

Muklis mengakui lahan eks HGU PTPN2 yang bersertifikat pernah diterbitkan bersamaan dikeluarkannya sertifikat lahan kantor Gubsu. Tetapi pelepasan lahan eks HGU disesuaikan kebutuhan tata ruang yang dibuat pemerintah, serta permintaan kelompok petani pengarap. ”Kewenangan BPN Deliserdang sebatas menerbitkan sertifikat seluas 2 hektare untuk lahan pertanian, dan 2.000 meter untuk lahan perumahan,” katanya.

BPN Langkat juga mengakui tak punya kewenangan menerbitkan sertifikat lahan hingga ribuan hektar. Menurut seorang staf di BPN Langkat, konflik penguasaan lahan antara PTPN maupun pihak swasta dan petani memang seringkali terjadi. Namun staf itu tak bersedia berkomentar lebih jauh karena merasa bukan kapasitasnya memberikan pernyataan soal itu.

“Untuk lebih jelasnya silakan bertemu langsung pimpinan BPN atau staf yang membidangi (seksi) sengketa,” tukas staf tersebut. Sayangnya, Ketua BPN Langkat, Nurhayati, dan Kepala Seksi Bidang Sengketa yang hendak dikonfirmasi Sumut Pos, tidak berada di tempat. Konfirmasi lewat telepon juga tidak membuahkan hasil.

Humas PTPN2 Rachmuddin yang ditanyai justru tak bisa memaparkan jumlah lahan milik PTPN2 yang dikuasai pihak ketiga. Kerugian PTPN2 atas sengketa itu juga belum diketahui jumlahnya. “Kami belum hitung berapa nilai kerugian, luas lahannya juga belum kami tahu pasti,” katanya.

Terkait aksi penyerangan di Gohor Lama Langkat, Jumat (25/5). Rachmuddin menyatakan, ada sekelompok warga yang mengatas namakan petani penggarap hendak memasuki lahan perkebunan sawit PTPN2 seluas 400 hektare. Lahan itu ditumbuhi tanaman sawit.

Sementara itu, pihak Poldasu mulai menyelidiki kasus-kasus tanah yang terjadi di Sumut. Tim penyelidikan masalah-masalah sengketa lahan yang diduga melibatkan oknum pemerintaham dan pengusaha juga segera dibentuk. ”Kasus sengketa lahan ini menjadi prioritas kami,” ujar Kapoldasu Irjen Wisjnu Amat Sastro.

Dia menegaskan pihaknya siap menurunkan personel untuk mengantisipasi terjadinya konflik berulang di lahan-lahan yang disengketakan tersebut. ”Kami sadar masalah lahan ini krusial dan sensitif,” ujar Wijsnu kepada wartawan, Sabtu (26/5).

Terkait penanganan pasca bentrokan antara petani dan karyawan PTPN II di Kecamatan Kutalimbaru, Rabu (23/5) lalu, pihak Poldasu sudah memeriksa 20 saksi dari warga,  kelompok tani setempat, serta karyawan PTPN2. Wisjnu menekankan pihaknya tidak akan berhenti pada kasus tanah di Dusun Salang Desa Namo Rube Julu, namun juga akan mengusut sejumlah kasus lahan rentan konflik lainnya di Sumut. (btr/mag-4/rud)

Indonesia Segera Punya Mobil Listrik Nasional

MALANG Tak lama lagi Indonesia segera memiliki mobil listrik nasional. Itu karena saat ini tim dari kementerian BUMN tengah mengebut pembuatan prototype mobil tersebut. Demikian disampaikan Menteri BUMN, Dahlan Iskan saat berkunjung di PT PG Rajawali I, Unit Pabrik Gula Krebet Baru, Bululawang, Kabupaten Malang, kemarin pagi.

Pembuatan prototype tersebut tak lepas dari bergabungnya salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang sudah 14 tahun ini berada di Jepang. Dia akan bergabung dengan tim Pendowo Putra Petir. ”Dia pernah bergerak di industri mobil, industri kelistrikan, industri permesinan, dan industri mobil listrik,” ucap Dahlan kepada Radar Malang kemarin pagi.

Dahlan membeberkan, saat ingin melahirkan mobil listrik nasional, pihaknya mengumumkan siapa saja yang memiliki pengalaman dan kemampuan. Dahlan mengatakan banyak orang yang memiliki kemampuan teoritis dari literatur dan textbook namun tak memiliki pengalaman. ”Syaratnya tidak hanya punya kemampuan dan pengalaman namun juga punya passion. Keinginan ini bukan kemauan di hari, namun kemauan untuk mewujudkan,” kata dia.

Dia membeberkan saat dilakukan pengumuman itu, ada setidaknya seribu email yang masuk padanya. Namun setelah seleksi, hanya terpilih empat orang yang kini menjadi tim Pendowo Putra Petir tersebut. ”Namun kami berpikir kalau hanya empat orang ini nanti kurang. Karena nanti bisa jadi banyak komponen yang harus kami impor,” katanya.

Indonesia, menurutnya belum banyak bisa menghasilkan komponen-komponen mobil. Belum ada produsen penghasil motor. Dia menciotohkan, untuk setiap pabrik gula ada setidaknya 10 ribu motor dan semuanya impor. Termasuk pabrik kertas. ”Kalau kita tidak punya industri motor, mobil kita belum bisa disebut mobil nasional,” ungkapnya.

Oleh karenanya, dia memandang tim Pendowo Putra Petir tersebut membutuhkan satu orang yang ahli di bidang motor. Dia mengatakan orang yang dipilihnya ini memiliki kemampuan, pengalaman, dan passion untuk melahirkan industri motor di Indonesia. ”Saya ketemu satu anak muda. Dia 14 tahun di Jepang. Dia punya banyak sekali hak paten di Jepang di bidang motor dan dia mau dipanggil pulang ke Indonesia,” ucap dia.

Dahlan membeberkan dalam tiga bulan ini, anggota baru Pendowo Putra Petir tersebut sudah akan melahirkan prototype produk motor untuk mobil lisrtrik Indonesia. Prototype tersebut akan dilihat dan diuji terlebih dahulu. Baru kemudian diproduksi secara masaal untuk mobil listrik nasional, untuk motor, dan kepentingan lainnya. ”Kalau ada swasta yang tertarik (membiayainya) silakan, kalau tidak ada ya cukup BUMN saja,” kata dia.

Pria yang kemarin menggunakan kaus olahraga putih tersebut menuturkan seluruh perwakilan rektor perguruan tinggi di Indonesia sudah berkumpul bersama menteri dan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka sepakat agar mobil listrik nasional ini harus dilahirkan. ”Sudah tidak ada halan lain. Karena pemakaian BBM makin tinggi, jumlah mobil makin banyak. Kemudian kita sebagai bangsa tidak berdaya menghadapi itu. Kesepakatan seluruh rektor, seberat apapun industri motor dan mobil listrik nasional harus dilahirkan,” ungkapnya.

Kapan akan dilahirkan? Mereka sudah bersepakat kapan akan dilahirkan setelah melakukan kajian sangat mendalam. Prototype itu berawal dari penelitian dan sudah melalui presentasi yang detail. ”Satu, dengan pertimbangan tadi, harus (segera dilahirkan). Kedua, (harus) sekarang,” tegas dia.

Dahlan membeberkan prototype mobil listrik nasional tersebut sudah disiapkan sejak tiga bulan yang lalu. Dalam satu bulan ini prototype tersebut sudah akan jadi. ”Jadi nanti satu bulan lagi saya sudah mengendarai mobil listrik. Saya akan mengendarai tiga jenis mobil listrik nantinya,” ungkap dia.

Apa saja? Dahlan menuturkan mobil pertama untuk masyarakat kelas menengah dengan konsep city car. Kemudian satu lagi mobil listrik yang bodinya menyerupai Mobnas Timor namun sudah diubah jadi mobil listrik. Satu lagi, dia akan membeli mobil listrik buatan Jogja dengan konsep high class and luxurious.

”Jadi begini, yang kemampuannya bisa membeli city car, silakan beli city car. Yang kaya dan ingin gagah serta prestisius, belilah yang high class. Yang sudah punya mobil tapi ingin diubah jadi mobil listrik juga nanti bisa dibuatkan seperti Timor yang sudah jadi mobil listrik,” beber dia.

BUMN, menurut Dahlan juga akan membuat sejumlah pendukung lainnya. Seperti misalnya soal peraturan. ”Ini yang paling berat. Seperti misalnya STNK siapa yang mengeluarkan dan mobil ini juga tidak perlu uji emisi. Padahal sesuai amanta undang-undang harus ada uji emisi. Tapi kan mobil ini tidak ada emisi dan juga tidak perlu uji kebisingan karena memang tidak ada suaranya. Peraturan-peratuan ini yang mungkin memakan waktu lebih lama dibanding pembuatan prototype dan mobilnya sendiri,” tutur dia.

Dahlan menyebutkan dalam tiga bulan ini peraturan-peraturan pendukung harus sudah dirumuskan tetapi perlu proses waktu sekitar satu tahun untuk benar-benar memiliki mobil listrik nasional tersebut. ”Jadi pas. Sinkron. Peraturan tiga bulan lagi dirumuskan sembari kita mempersiapkan industri motor. Setahun lagi saya kira akan lahir. Dan sepeda motor listrik jangan diasosialisasikan seperti dari Tiongkok yang saat ini ada. Ini beda sekali dalam pengertian kemampuan maupun kecepatannya,” tandas suami Nafsiah Dahlan Iskan tersebut. (did/jpnn)

Seperti Naik Angkot

Oleh: Toga MH Siahaan

Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Angkot masih tetap menjadi andalan moda transportasi banyak warga kota Medan. Emak saya belanja ke pusat pasar dan kembali ke rumah, pasti naik angkot. Istri saya bekerja, juga naik angkot. Tetangga saya yang di garasinya ada tiga mobil, atas nama penghematan, pun tak sungkan untuk naik angkot.

Praktis dan murah. Itulah alasan mengapa angkot jadi pilihan penting untuk berpindah tempat. Meski istri saya agak khawatir kalau pulang kerja di malam hari. Katanya, kaca hitam di angkot itu seperti menyembunyikan sesuatu. Takut kalau-kalau kejadian seperti di Pulau Jawa terulanh di sini. Hush… Jauh-jauh lah yang seperti itu. Jawabku.

Okay. Angkot yang murah-meriah itu ternyata masih menyimpan potensi tak baik. Mudah-mudahan hilang semua kemungkinan buruk itu. Pak polisi pun tentu sudah mengantisipasinya.

Yang jadi perhatian saya sebenarnya bukan angkotnya secara fisik. Tetapi, ucapan seorang bakal calon gubernur dalam sebuah talk show di TVRI Sumut beberapa malam lalu. Dia menggambarkan, sistem yang sudah terbangun dan disepakati bersama antara sopir angkot dan penumpangnya patut ditiru. Penumpang cukup melambaikan tangan ke arah angkot yang akan lewat, naik, duduk manis dan turun setelah sampai tujuan. Jangan lupa, bayar ongkos supaya pak sopir punya setroan untuk dibagikan kepada pemilik angkutan dan anak istri di rumah. Praktis bukan?

Sistem seperti ini dijadikan contoh tokoh tersebut dalam menggambarkan mudahnya mengelola potensi ekonomi. Katanya, menarik investor itu gampang. Seperti narik angkot saja. Naik gratis, turun bayar. Setelah semua urusan administrasi calon investor selesai, baru bayar tarif yang wajar, murah sesuai kaidah bisnis yang benar. Jangan pula dipungli sejak di pintu gerbang.

Yang penting, dijaga kondusivitas usaha, investor pasti datang sendiri. Tak perlu ditarik-tarik. Jangan lupa, hilangkan pula potensi-potensi tak baik yang bisa ditimbulkan akibat ketidaktransparanan, layaknya kaca angkot yang hitam dan menimbulkan rasa galau itu.

Hmmm…. Masuk akal. Jadi, masih menurut tokoh itu, tim ekonomi di birokrasi gak usah kerja pun, pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen, gampang saja diraih. Apalagi kalau birokrat bisa menciptakan iklim usaha sedemikian rupa, sehingga investor serasa jatuh cinta. Seperti gadis rupawan, dipoles tipis saja catiknya membuat banyak pemuda terpikat.

Kalau sudah begini, tinggal pilih busana dan aksesoris yang sesuai. Tak perlu mahal, asal pantas. Jangan pula berlebih, nanti malah norak. Dandan-mendandani inilah tugas birokrat yang sebenarnya. Bagaimana caranya menyediakan insentif dan kemudahan agar pemilik modal itu mau menitipkan uangnya untuk dikelola di provinsi yang kaya sumberdaya
ini.

Bila semua sudah tertata dengan baik, saya yakin, sistem seperti naik taksi pun akan berjalan. Bisa ditelepon, langsung datang menjemput. Buka pintu, langsung pasang tarif. Penumpang dapat layanan eksklusif, antar sampai depan kantor, depan hotel, bahkan sampai ke pintu rumah sekali pun. Orang tentu mau bayar tarif argo lebih mahal dari ongkos angkot. Bayarnya tetap, setelah sampai tujuan.

Investor yang bakal tertarik, harapannya, bukan pemodal pas-pasan, yang punya kemampuan ekonomi sekadar. Sama seperti penumpang yang rela bayar lebih mahal demi sebuah kenyamanan.

Di atas semuanya itu, tentu saja perlu dipikirkan pemerataan. Buat apa pertumbuhan ekonomi tinggi kalau cuma dinikmati segelintir orang. Supaya tidak menimbulkan kesenjangan yang mencolok, kue ekonomi yang besar itu perlu dinikmati masyarakat luas. Tidak mesti dibagi rata, sesuaikan saja dengan porsi masing-masing. Istilahnya bersikap adil: menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kalau ada kutipan dari pajak, misalnya, manfaatkan untuk sebaik-baiibiaya pembangunan. Bukan melulu masuk dompet pribadi dan atau golongan. Kondisi lapangan tetap harus dijaga, agar aksi masyarakat yang merasa diabaikan, bisa ditiadakan. Semoga saja.(*)

Mabua Harley Davidson Ultah, Pengurus HDCI Dikukuhkan

MEDAN-Perayaan satu tahun Mabua Harley Davidson yang berlangsung Sabtu (26/5) kemairn, menyajikan beragam kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat banyak.

Dari mulai bakti sosial hingga donor darah serta Thunder Ride turut meramaikan perayaan setahun Mabua Harley Davidson (MHD). Tak hanya itu, pada kesempatan kemarin juga dilaksanakan pelantikan pengurus Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) dan dengan pelantikan kepengurusan Harley Owner Grup (HOG) Chapter Sumut.

Menurut Presdir MHD Djohnie Rahmat, kehadiran MHD terasa sangat penting meningat semakin dekatnya gelaran Sumatera Bike Week yang berlangsung pada 26-30 September mendatang.

“Selama ini banyak peserta yang ingin mengikuti sebuah even tersebut terkendala dengan pengurusan surat izin masuk membawa motornya untuk dapat melakukan touring,” bilang Djohnie Rahmad.

“Nah, jika nantinya banyak peserta, utamanya yang berasal dari luar negeri kesulitan membawa motornya masuk ke Kota Medan, maka mereka dapat menyewa motor tersebut di sini (Mabua Harley Davidson),” tambah Djohnie Rahmad.

Pada kesempatan itu Pengurus Daerah (Pengda) motor besar Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumut dan Harley Owner Group (HOG) Chapter Sumut periode 2012-2015 yang dipimpin Ketuanya H Musa Rajeckshah (Ijeck) dikukuhkan Ketua Umum Pengurus Pusat HDCI Komjen Pol Nanan Soekarna yang diwakili Sekjend Marsda (Purn) Pieter Wattimena.

Acara yang dirangkaikan dengan pelantikan kepengurusan Harley Owner Grup (HOG) Chapter Sumut turut dihadiri Kalemdikpol Mabes Polri Komjen Pol. Oegroseno dalam kapasitasnya sebagai Penasehat HDCI Sumut, Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu A Sastro, Kasdam I/BB Brigjen TNI I Gede Sumertha, WakaPoldasu Brigjen Pol Drs Sahala Siallagan dan Walikota Medan Drs Rahudman Harahap, MM, serta para undangan lainnya.

Marsda (Purn) Pieter Wattimena dalam sambutannya mengakui HDCI Sumut adalah merupakan Pengda yang paling aktif di luar Jawa dan menjadi kebanggaan HDCI Pusat. Diharapkan, HDCI Sumut semakin maju, sekaligus mengharapkan HDCI Sumut sebagai komunitas yang menjadi barometer di jalan raya. “Saya berharap HDCI Sumut makin memupuk rasa persaudaraan sesama anggota dan komunitas lain,” sebut Marsda (Purn) Pieter Wattimena.

Selain itu, HDCI Sumut sebagai yang tua dapat berkerjasama dengan HOG Chapter Sumut yang baru terbentuk untuk melaksanakan hobi bermotor.

Pada kesempatan itu Ketua HDCI Sumut terpilih priode 2012-2015, Musa Rajeckshah mengatakan sebelum acara pelantikan HDCI dan HOG, sudah digelar rangkaian kegiatan bakti sosial donor darah dan penyerahan alat tulis kepada anak-anak sekitar MHDM, serta touring Thunder Ride.

Ia menyatakan kegembiraannya karena pelantikan ini dihadiri pengurus HDCI dari berbagai provinsi seperti DKI Jakarta, Jateng, Bali, Riau, Sumbar dan Lampung. Mengenai HOG di Sumut, dikatakan mempunyai ciri khas tersendiri karena Ketua HDCI Sumut otomatis merupakan Ketua HOG, hal ini dimaksudkan agar terjalinnya keterpaduan dan keselarasan dalam pelaksanaan kegiatan motor besar di provinsi ini. Kepengurusan HDCI Sumut terbentuk melalui hasil Musda yang telah berlangsung di Hotel Danau Toba Internasional pada bulan Pebruari 2012, lalu. (jun)

Praja Yudi Dikebumikan, Keluarga Bungkam

MEDAN- Praja Yudhi Wardana Siregar yang meninggal di Bandung, Jumat (25/5) subuh di RS Al Islam, Bandung, langsung dimakamkan di dekat kediamannya di Kelurahan Sei Kera Hilir 1, Medan Perjuangan, Sabtu kemarin. Kedatangan jenazah Yudhi disambut duka mendalam oleh keluarga dan sahabat. Ibunda Yudhi, Arbert Tanjung, paling merasakan kehilangan anak ketiganya itu. Menurutnya, anaknya tersebut sudah menyelesaikan studinya pada Agustus mendatang.
Jenazah Yudhi tiba di Medan setelah melalui perjalanan jauh dari Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/5) sekitar pukul 20.30 WIB. Tentang sebab kematian Yudhi, pihak keluarga sudah mendapat informasi dari pihak IPDN bahwa paraja tingkat empat itu meninggal akibat gagal ginjal.

Pasca dikebumikannya praja IPDN Yudhi Wardhana Siregar itu, pihak keluarga memilih bungkam. Bahkan, tak ada yang mau memberikan suaranya prihal meninggalnya Yudhi Wardhana.
Kasubag Humas IPDN Sudaryana kembali menegaskan bahwasanya Praja Yudhi tewas lantaran sakit.“ Kami masih menunggu hasil rekam medis RS Al Islam,“ ujarnya. Terakhir, Yudhi duduk di bangku kuliah IPDN tingkat empat (wasana praja). Dia tercatat sebagai wasana praja di Fakultas Politik Pemerintahan jurusan kebijakan pemerintah. Berdasar keterangan almarhum terserang sakit per 13 Mei kemudian dirujuk ke rumah sakit AMC Cileunyi. Kemudian Kamis malam dibawa ke RS Al Islam dan meninggal dunia, Jumat subuh sekitar pukul 05.00 WIB.

Kontingen Jakarta

Pemko Medan mengaku tak bisa mengambil tindakan apapun mengenai meninggalnya Praja warga Jalan Pimpinan Gang Tegas No. 10 A, Kelurahan Sei Kera Hilir, Medan Perjuangan.
Seperti diungkapkan Sekda Kota Medan, Ir H Syaiful Bahri, Sabtu (26/5), praja IPDN yang meninggal di kampusnya itu bukan kontingen asal Kota Medan, melainkan kontingen asal Jakarta.

“Kami tidak bisa mengambil tindakan apapun, karena Praja IPDN itu kontingen Jakarta. Berbeda kalau tadi warga Medan dan kontingennya asal Kota Medan, tentunya kami buat langkah-langkah, seminimalnya bertanya langsung ke IPDN,” bebernya.

Syaiful mengaku, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk bertanya ataupun meminta klarifikasi soal penyebab kematian Yudi.

Saat disinggung bagaimana procedural mempertanyakan penyebab kematiannya, mantan Kepala Bappeda Kota Medan itu membeberkan, pertama sekali yakni pemerintah daerah asal Praja IPDN tersebut, yang bertanya ke IPDN. Selanjutnya, bila masih ada kejanggalan atau lainnya bisa melengkapi hasil visum dan outopsi.

“Tapi semuanya tetap dilalui dengan prosedural dan administrasi surat menyurat, dan tak menutup kemungkinan pencarian data hingga dibentuknya tim investigasi,” sebutnya.
Sebelumnya, meninggalnya Wasana Praja (Praja tingkat akhir di IPDN) ini cukup mengejutkan keluarga. Meski pihak RS Al Islam Jalan Soekarno Hatta, Bandung menyebutkan Yudhi meninggal karena ada gangguan di selaput otaknya, pihak keluarga mengaku Yudhi tidak memiliki sejarah penyakit berat.

“Sepengetahuan keluarga, almarhum tidak pernah menderita sakit keras, karena itu keluarga terkejut mendapat kabar almarhum meninggal karena sakit,” sebut Paman Yudhi, Ardon Suhartono, kemarin di rumah duka di kawasan Jalan Pimpinan, Gang Tegas, No 10A, Kelurahan Sei Kera Hilir, Medan.

Menurut Ardon, almarhum Yudhi rencananya akan diwisuda pada Agustus mendatang. Dia terdaftar sebagai Praja IPDN tahun 2008 lalu. Praja Yudhi Wardhana Siregar kelahiran 22 April 1990, merupakan putra ketiga dari empat bersaudara.
“Dia itu sudah semester akhir, dan anaknya pintar. Rencananya dia wisuda Agustus nanti, tapi kok bisa gini dia meninggal,” ucap Iyet, tante Yudhi, dengan nada curiga atas kematian keponakannya yang terlalu cepat. (ril/bbs)

Berita sebelumnya: Praja IPDN Asal Medan Tewas