Home Blog Page 13462

Syamsul tak Mau Gatot jadi Gubernur Penuh

Siap Menggugat jika Kepres Pengangkatan Diterbitkan

JAKARTA-Syamsul Arifin meniru langkah Gubernur Bengkulu nonaktif Agusrin Najamuddin. Gubernur Sumut nonaktif itu sudah siap-siap menggugat presiden ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) jika Kepres pemberhentian dirinya dan Kepres pengangkatan Gatot Pujo Nugroho sebagai gubernur definitif diterbitkan.

Kuasa hukum Syamsul, Rudy Alfonso, memastikan kliennya akan mengajukan gugatan ke PTUN.

Bahkan, Rudy menampik langkah ini hanya meniru-niru langkah kuasa hukum Agusrin, Yusril Ihza Mahendra.

“Sebelum Yusril menggugat, jauh hari saya sudah punya rencana itu (mengajukan gugatan ke PTUN, Red),” ujar Rudy Alfonso kepada koran ini di Jakarta, kemarin (25/5).
Langkah menggugat Kepres pemberhentian Syamsul dilakukan, kata Rudy, karena masih ada peluang kliennya bebas dalam putusan tingkat Peninjauan Kembali (PK). Jika di tingkat PK Syamsul bebas tapi statusnya sudah diberhentikan sebagai gubernur Sumut, kata Rudy, otomatis hak kliennya atas jabatan itu bisa lenyap.

“Jadi urusan kami, kalau ada PK yang membebaskan klien kami, jangan sampai klien kami dirugikan,” cetusnya. Dia juga menegaskan bahwa langkah pengajuan PK telah dilakukan.
Terpisah, Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kemendagri Djohermansyah Djohan menjelaskan, kemendagri tetap akan memproses pemberhentian tetap Syamsul Arifin sebagai gubernur Sumut. Selanjutnya, Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho akan dilantik sebagai gubernur definitif.

Dengan catatan, Syamsul nantinya tidak mengajukan gugatan ke PTUN terkait keluarnya Kepres pemberhentian dirinya dan Kepres pengangkatan Gatot sebagai gubernur definitif.
Jika Syamsul melakukan langkah seperti dilakukan Agusrin yakni menggugat ke PTUN dan dikabulkan, maka pelantikan Gatot harus menunggu hingga keluarnya putusan tingkat PK. Jika putusan MA di tingkat PK sama dengan tingkat kasasi, barulah Gatot dilantik.

Hanya saja, hingga kemarin proses pengusulan draf Kepres pemberhentian Syamsul belum dilakukan kemendagri. Alasannya, menurut Djohermansyah Djohan, pihaknya belum menerima salinan putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan Syamsul terbukti korupsi.

“Kalau sudah kita terima salinan putusannya, baru kita proses pengusulan Kepres pemberhentian Pak Syamsul,” ujar Djohermansyah kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin.
Begitu nantinya Kepres itu keluar, maka DPRD Sumut menindaklanjuti dengan mengusulkan pengangkatan Gatot sebagai gubernur definitif. Oleh Mendagri Gamawan Fauzi, usulan DPRD ini diteruskan ke Presiden untuk dimintakan Kepres pengangkatan Gatot sebagai gubernur definitif. Begitu Kepres Gatot terbit, dilanjutkan penyusunan agenda pelantikan.

Djohermansyah mengatakan, jika ternyata sebelum dilantik keluar putusan sela PTUN seperti kasus Agusrin, maka pelantikan Gatot ditunda. “Kalau ada putusan sela, ya tak jadi,” cetus mantan Deputi Setwapres Bidang Politik itu.
Sebelumnya ramai diberitakan, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Junaedi Hamsyah batal dilantik menjadi gubernur Bengkulu definitif karena malam sebelum jadwal pelantikan keluar putusan sela Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta yang mengabulkan permohonan Agusrin. Dalam gugatannya, Agusrin minta pelantikan Junaedi ditunda dulu, hingga ada putusan PK atas kasus yang menimpa dirinya. Di tingkat kasasi, Agusrin sudah dinyatakan bersalah dan kini sudah mendekam di LP Cipinang. (sam)

Praja IPDN Asal Medan Tewas

Tiga Bulan Jelang Wisuda

MEDAN-Agustus, tiga bulan ke depan, sejatinya menjadi hari bahagia bagi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Yudhi Wardhana Siregar (22). Bagaimana tidak, Agustus mendatang dia dijadwalkan akan wisuda. Sayang, Jumat dini hari (25/5) dia tewas.

Kematian Wasana Praja (Praja tingkat akhir di IPDN) ini cukup mengejutkan. Pasalnya, meski pihak RS Al Islam Jalan Soekarno Hatta, Bandung Yudhi meninggal karena ada gangguan di selaput otaknya, pihak keluarga mengakun
Yudhi tidak memiliki sejarah penyakit berat. “Sepengetahuan keluarga, almarhum tidak pernah menderita sakit keras, karena itu keluarga terkejut mendapat kabar almarhum meninggal karena sakit,” sebut Paman Yudhi, Ardon Suhartono, kemarin di rumah duka di kawasan Jl Pimpinan, Gang Tegas, No 10A, Kelurahan Sei Kera Hilir, Medan.

Menurut Ardon, almarhum Yudhi rencananya akan diwisuda pada Agustus mendatang. Dia terdaftar sebagai Praja IPDN tahun 2008 lalu. Praja Yudhi Wardhana Siregar kelahiran 22 April 1990, merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. “Dia itu sudah semester akhir, dan anaknya pintar. Rencananya dia wisuda Agustus nanti, tapi kok bisa gini dia meninggal,” ucap Iyet, tante Yudhi, dengan nada curiga atas kematian keponakannya yang terlalu cepat.

Tekad wisuda pada Agustus mendatang sempat dituliskan Yudhi dalam status Facebooknya dengan akun Yudhi Wardhana Siregar. Status yang dikirimkannya melalui layanan BlackBerry per 12 Februari berbunyi: toga buat orangtua 2012.
Tapi ajal memang berkata lain. Lelaki berparas cukup tampan ini menghembuskan napas terakhir pada pukul 1.40 WIB kemarin. Kepergian Yudhi yang begitu cepat tak pelak menuai banyak kecurigaan. Apalagi, tempat dia sekolah memiliki jejak rekam yang tak bagus.

Kematian Yudhi juga menjadi tanda tanya besar bagi rekan-rekannya di Medan. Pasalnya selama ini mereka tak pernah mendengar Yudhi sakit. “Aku tahu, tidak dia mempunyai (penyakit) seperti ini, yang dikatakan keluarganya sakit kepala yang membuat dia meninggal,” kata Agus Riadi sahabat Yudhi.

Agus mengatakan bahwa dirinya sudah berteman sewaktu kecil hingga dewasa, terakhir jumpa saat malam tahun baru. “Tidak pernah dia menceritakan tentang kampusnya, aku sangat terkejut saat kabar dia meninggal dengan secepat itu, akau tidak menyangka Yudhi yang sehat dan masih muda sangat cepat dipanggil Tuhan,” jelasnya.

Bahkan, dari Jakarta, Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Nurul Arifin pun meminta pihak yang berwenang untuk menyelidiki kasus meninggalnya Yudhi. “Ada baiknya kematian yang mendadak itu, diselidiki dengan teliti,” kata Nurul.
Menurut Nurul belum tentu berkaitan dengan faktor kekerasan. Namun merujuk jejak rekam kasus kekerasan di IPDN, maka kematian tersebut menurutnya layak diselidiki. “Saya sebagai masyarakat sipil juga sebagai anggota DPR Komisi II menghendaki segala bentuk kekerasan dan militeristik di IPDN dihentikan, terbukti kekerasan juga tidak diperlukan dalam karirnya ke depan,” kata Nurul.

Sayang, hingga tadi malam pihak IPDN tidak bisa dihubungi. Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi tidak bisa dihubungi. Sejak pagi hingga sore, nomor telepon selulernya tidak aktif. Wakil Rektor Sadu Wasistiono mengaku tidak mengetahui secara jelas kasus tersebut. “Dua hari ini saya di Jakarta sedang menyusun standar kompetensi camat. Jadi belum mengetahui secara jelas kasus yang Anda tanyakan,” tulisnya dalam pesan pendek.
Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan IPDN Bernard Rondonuwu menolak memberikan keterangan. “Pernyataan resmi dari IPDN terkait kematian praja tersebut merupakan otoritas Rektor. Begitu prosedurnya. Maaf, saya tidak bisa memberikan keterangan,” ucapnya.

Terlepas dari itu, tadi malam kedatangan jenazah Yudhi disambut air mata keluarga. Yudhi tiba di rumah duka sekitar pukul 20.15 WIB. Peti berwarna krem yang berisi jasad Yudhi lalu dikeluarkan dari mobil ambulans, langsung disambut dengan tangisan sanak keluarga, family dan tetangga, tak habis-habis keluarga meneriakkan nama almarhum sambil meneteskan air mata.

Kedatangan jasad diiringi dengan tangisan sang ibu, Arbet. “Anakku…anakku…anakku,” jeritan sang ibu sambil dituntun oleh sejumlah kerabat keluarga masuk ke rumah duka.
Selanjutnya, jasad Wasana Praja ini dikebumikan di Tempat Pemakaman Muslim di Jalan Sado Medan, tadi malam.

Sebelumnya, pihak rumah sakit menjelaskan Yudi masuk ke rumah sakit sejak Rabu (23/5) sekitar pukul 21.40 WIB dalam kondisi kritis. Dan, langsung ditangani High Care Unit (HCU). “Dia mengalami demam selama tiga hari, disertai penurunan kesadaran. Dan, meninggal pada Jumat tadi (kemarin) sekitar pukul 1.40 WIB di HCU,” jelas dr Wendi Adam, selaku Divisi Pemasaran RS Al Islam, kemarin di Bandung.
Masih dikatakan Wendi, dengan sakit infeksi berat di daerah selaput otak. Kemungkinan infeksi di daerah selaput otak tersebut dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Lebih jauh dirinya menjelaskan, dari keterangan keluarga, Yudi sudah menderita sakit kepala sejak dua pekan lalu. “Sebelumnya sempat berobat ke beberapa tempat termasuk ditangani di klinik IPDN,” ucapnya.

Ketika ditanya apakah ada luka memar atau tanda kekerasan pada tubuh Yudi, dia menjawab, “Tidak (ada, Red). Yang jelas dia masuk ke sini dalam kondisi berat,” tegasnya.
Bantahan juga di sampaikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai pengelola kampus IPDN. “Sesuai keterangan dokter yang menangani, yang bersangkutan meninggal karena mengalami gangguan virus pada otaknya. Tidak ada unsur kekerasan,” tegas Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek saat dihubungi koran ini tadi malam.
Ditanya berkali-kali soal dugaan ada penganiayaan, berkali-kali pula birokrat yang akrab dipanggil Donny itu membantahnya. Disebutkan, setiap acara wisuda di Kampus Jatinangor, Mendagri Gamawan Fauzi selalu menekankan agar model-model kekerasan di kampus calon pamong praja itu ditinggalkan.
“Mendagri menegaskan, jika masih ada kekerasan, tiada ampun, pasti dipecat. Sekali lagi, meninggalnya Yudhi Siregar murni karena sakit, bukan karena ada penganiayaan,” tegasnya lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Donny atas nama pribadi, kemendagri dan IPDN, menyampaikan ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Yudhi Siregar. (bbs/gus/ram/jon/sam)

Muncul Firasat dari BlackBerry

Penuturan Ardon Suaharsono, paman Yudhi, keluarga mengetahui Yudhi meninggal sekira pukul 03.00 dari pihak IPDN yang melalui sambungan telpon.

“Kami tahu kabarnya, dini hari tadi (kemarin), dari telepon pihak IPDN. Yudhi sebelum meninggal dua hari yang lalu sempat buat status di BBM (BlackBerry Massengger) mengeluhkan penyakitnya dan memasang foto profil BBM bersama pacarnya,” ucapnya.

Mendapatkan kabar kematian itu, orangtua Yudhi, Arbet dan Usman Siregar, beserta abangnya Aci dan kakaknya Ina langsung berangkat ke Bandung dengan menumpang pesawat. “Pukul  04.00 WIB, mereka berangkat,” ucapnya.
Ia mengatakan, keponakkannya tersebut masuk IPDN pada 2008, namun almarhum masuk tidak melalui kontingen Medan. “Dia masuk dari Jakarta, bukan dari Medan, di Jakarta sana tempat keluarga juga,” ucapnya.

Bagi warga sekitar rumah duka di Medan, almarhum terkenal sangat baik dan ramah terhadap masyarakat sekitar. Keluarga dan sahabat Yudhi tidak menyangka praja IPDN tersebut meninggal begitu Cepat. “Tidak sangka aku Bang, cepat kali dia meninggal,” ucap Topan, warga Jalan Pimpinan yang merupakan rekan almarhum.

Ia menceritakan, dirinya terakhir kali jumpa Yudhi, pada malam Tahun Baru 2012 lalu. Saat itu, dia dan teman-teman lainnya berkumpul dan bakar-bakar ikan. “Terakhir kali dia pulang pada malam tahun baru lalu, kami bakar-bakar ikan dan saat itu dia sangat ceria,” ucapnya.

Saat malam Tahun Baru itu, dirinya sudah mempunyai firasat. Saat itu Yudhi meminta dia untuk mencarikan ponsel BlackBerry Bold dan memberi panjar uang kepadanya. Namun, ketika ponsel pesanannya sudah di dapat, tiba-tiba Yudhi tidak mau dengan ponsel tersebut. “Yudhi ngasih Rp200 ribu sama aku sebagai panjar, sudah ada ponselnya itu, eh dia tidak mau, lalu kubilang sama dia, uang DP nya sudah terpakai, dan hanya kupulangkan Rp100 ribu dan dia mau. Namun kuminta dia mengirim nomor rekeningnya untuk mengganti mengirim uang kekurangan DP  HP itu,” sebutnya.

Tapi, sambung Topan, uang Rp100 ribu untuk DP ponsel tersebut tidak kunjung dibayarnya. “Saat ini belum kubayar bang, beberapa bulan yang lalu lah, aku telpon dia, dan aku mengatakan aku bayar saat dia pulang, namun Yudhi tiba-tiba mengatakan kalau dia tak akan pulang lagi ke Medan. Eh rupanya kayak gini ceritanya,” ucap Topan mengingat perbincangan terakhirnya dengan Yudhi pada Maret lalu.

Sementara itu Evi (33)  warga Jalan Pimpinan lainnya, mengatakan, Yudhi merupakan anak yang sangat baik dan sopan terhadap orang yang lebih tua. “Setiap lewat dia, pasti selalu menyapa dan tersenyum dengan orang yang lebih tua darinya,” ucapnya mengenang Yudhi. (gus/ram/jon)

18 Praja IPDN 1993-2008 Tewas Misterius

  1. Aliyan Jerani (1993)
    Praja Madya asal Kalimantan Barat ini tewas pada 8 Mei 1993 karena dipukul pengasuhnya setelah terjatuh di Barak Bengkulu.
  2. Gatot (1994)
    Praja Madya Gatot, kontingen Jawa Timur, meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran. Di dadanya ditemukan bekas kebiru-biruan, dan tulang dada retak.
  3. Alfian (1995)
    Pada 1995, Praja Madya yang mewakili kontingen Lampung ini meninggal karena kepalanya pecah.
  4. Fahruddin (1997)
    Praja Madya Fahruddin, kontingen Jawa Tengah, meninggal pada 1997 tanpa sebab yang jelas. Pihak STPDN (saat ini berganti nama menjadi IPDN) mencegah jenazahnya divisum.
  5. Edy (1999)
    Dua tahun berikutnya, giliran Praja Madya Edy, meninggal dengan alasan belajar sepeda motor saat praktik kerja lapangan (PKL). Pihak STPDN menolak jenazahnya divisum.
  6. Arizal (2000)
    Kemudian pada 25 Juli 2000, Arizal, Praja Madya asal Sulawesi Selatan, meninggal di Danau Toba. Jenazahnya tidak boleh dilihat.
  7. Purwanto (2000)
    Pada 2000, Praja Madya Purwanto, kontingen Jawa Tengah, meninggal dunia setelah lulus dengan dada retak.
  8. Obeth Nege Indow (2000)
    Di tahun yang sama, Praja Madya Obeth Nege Indow, kontingen Papua meninggal dunia di tempat kos. Dia muntah darah dan dada retak.
  9. Eri Rahman (2000)
    Pada 3 Maret 2000, praja asal Jawa Barat Eri Rahman meninggal karena dipukuli tujuh orang seniornya.
  10. Wirawan Nurman (2002)
    Pada tahun yang sama, Praja Madya Wirawan Nurman, kontingen Sulawesi Utara, pihak STPDN menyatakan sebagai korban kecelakaan.
  11. Wahyu Hidayat (2003)
    Pada 2 September 2003, Praja Madya Wahyu Hidayat, kontingen Jawa Barat meninggal dan STPDN menolak keras jenazah yang telah dikubur untuk diotopsi.
  12. Arizal Sadad (2004)
    Praja Madya Arizal Sadad, kontingen Jawa Tengah, meninggal pada 8 Januari 2004. Namun, STPDN menyatakan korban tewas karena kecelakaan.
  13. Irfan Alberth Hibo (2005)
    Setahun berikutnya, Madya Praja Irfan Alberth Hibo, kontingen Papua. Pihak STPDN menyatakan bunuh diri karena minum Baygon.
  14. Manfred Habi (2006)
    Wasana Praja Manfred Habi, kontingen Papua, meninggal dunia karena penyakit liver, tapi tidak dilakukan otopsi.
  15. Fitria Wahyudin (2006)
    Pada tahun yang sama pula praja Fitria Wahyudin juga meninggal. Tidak diketahui penyebab kematiannya.
  16. Cliff Muntu (2007)
    Cliff Muntu, praja tingkat II asal Manado, Sulawesi Utara meninggal dengan nahas. Untuk kasus ini seluruh pejabat IPDN mengekspos penyebab kematian Cliff karena liver. Padahal, diketahui terdapat bekas lebam di beberapa bagian tubuhnya. Namun, berhasil disamarkan karena ditaburi formalin.
  17. Chris Bernard (2008)
    Praja IPDN asal Kalimantan Tengah Chris Bernard meninggal secara misterius pada 2008. Tidak diketahui penyebab pastinya.
  18. Yudhi Wardhana Siregar (2012)
    Praja IPDN asal Sumut ini rencananya diwisuda  Agustus mendatang. Yudhi meninggal di RS Al Islam, Jumat (25/5), pukul 01.40 WIB. Informasi dari pihak RS, Yudhi mengeluhkan sakit kepala sejak dua minggu lalu.

Tingkat Kepangkatan Praja di IPDN

 

  • Muda Praja
    Muda Praja, adalah praja tingkat awal atau yang baru memasuki jenjang pendidikan di IPDN, Muda=Muda artinya awal, pada tahap Muda Praja ini, sistem pendidikan yang diterapkan adalah penanaman, artinya pada tahap ini adalah tahap penanaman mindset. Muda Praja sendiri memiliki evolet pangkat dengan Lambang Balok Polos seperti gambar diatas, polos menandakan tidak ada angkatan dibawahnya.
  • Madya Praja
    Madya Praja, adalah praja tingkat dua di IPDN, Madya = Menengah, artinya pada tahap Madya ini sudah bukan lagi sistem penanaman seperti Muda Praja namun sudah mendapat peningkatan yakni lebih kepada pembelajaran. Madya Praja memiliki Evolet Pangkat dengan Lambang Balok polos dengan satu buah bintang di atasnya, yang mengartikan Madya Praja memiliki tanggung jawab untuk mengayomi 1 angkatan di bawahnya, yakni Muda Praja.
  • Nindya Praja
    Nindya Praja, adalah praja tingkat tiga di IPDN, Nindya = Tanpa Cela, artinya pada tahap nindya ini praja diharapkan sudah saatnya bisa menerapkan apa yang sudah didapat ketika menjadi Muda dan Madya dalam kehidupan sehari-hari didalam kampus IPDN. Madya Praja memiliki Evolet Pangkat dengan lambang balok dengan 2 buah bintang diatasnya, yang mengartikan Nindya Praja memiliki tanggung jawab untuk mengayomi 2 angkatan dibawahnya yakni Muda dan Madya Praja.
  • Wasana Praja
    Wasana Praja, adalah Praja tingkat akhir di IPDN, Wasana = Dewasa, artinya pada tahap wasana ini praja diharapkan menjadi manusia seutuhnya, manusia yang dewasa yang bisa menerapkan apa yang didapat saat Muda Praja, Madya Praja dan Nindya Praja. Bukan hanya menerapkan di kehidupan kampus tapi di kehidupan nyata. Sebab itu hingga angkatan XII wasana praja tak diasramakan melainkan disebar di wilayah Jatinangor agar berbaur dengan masyarakat sebelum lulus dari IPDN. Wasana Praja memiliki Evolet Pangkat dengan lambang balok dengan 3 buah bintang di atasnya. Ini mengartikan Wasana Praja punya tanggungjawab mengayomi 3 angkatan di bawahnya, yakni Muda Praja, Madya Praja, dan Nindya Praja.

Penyebab Kematian Praja IPDN 1993-2012

[table hl=””]

Meninggal Misterius (Diduga Korban Kekerasan)     ,18
Tenggelam di Pantai Cilacap                ,1
Korban kecelakaan                    ,2
Bunuh Diri Minum Baygon               , 1
Penyakit Tifus                        ,1
Sakit Lambung                    ,1
Aborsi                             ,1

[/table]

Pangkat Praja IPDN Meninggal 1993-2012

[table hl=””]

Praja Muda        ,3
Praja Madya         ,17
Wasana Praja       , 3
Nindya Praja       , 2

[/table]

* Data Olahan Sumut Pos   

Menkopolkam Cuek Dikepung FPI, Izin Gaga Dikeluarkan H-3

JAKARTA—Gemas karena sikap Polri yang mengambang soal izin Lady Gaga, ratusan massa dari Forum Umat Islam (FUI) dan Front Pembela Islam (FPI) berdemo. Mereka show of force dari Bunderan HI Jakarta. Sasaran pertama adalah kantor Kementerian Politik Hukum dan Keamanan di jalan Merdeka Barat.

Rupanya, mereka jengkel karena Menkopolhukam Djoko Suyanto memberi restu bagi Lady Gaga untuk tampil di Indonesia. “Menko tidak usah mengintervensi Polri untuk izin, ini Menko perlu dievaluasi SBY,” ujar salah satu orator aksi Muhammad Al Khathath dari Forum Umat Islam.

Massa yang rata-rata berpakaian putih-putih ini membawa puluhan poster penolakan terhadap konser Lady Gaga. Mereka berbaris rapi di depan pagar kementerian Polhukam. “Kita ingin dialog dengan pak menteri,” kata demonstran pada belasan satpam dan polisi yang mengamankan kantor Menko.

Rupanya, Djoko Suyanto tak berkenan menemui. Massa lalu putar haluan ke ujung selatan Jakarta untuk menggerudug Mabes Polri. Pada wartawan yang berusaha mengkonfirmasi Djoko, mantan Panglima TNI itu hanya mengirimkan sms (pesan singkat). “ EGP (emang gue pikirin, red) . Demo kok dikomentari, kurang kerjaan saja.”

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Saud Usman Nasution menjelaskan, tiga surat yang wajib dipenuhi agar konser Gaga berlangsung. Yakni, izin dari Kemenakertrans, visa imigrasi dan izin dari lokasi acara. Selain itu ada surat rekomendasi dari Polda Metro Jaya yang juga penting. “Namun, nanti surat izin dari kami. Jadi izin lainnya itu sifatnya pendukung atau prasyarat,” kata Saud.
Dia menyebut, jika seluruh tertib administrasi beres, izin bisa turun maksimal H-3. (rdl/jan/jpnn)

Sambil Nyetir, Hafalkan Pasal-Pasal KUHP

Nugraha, Mantan Sopir Truk Antarkota yang Menjadi Jaksa

Banyak jalan menuju Roma. Meski harus menjadi sopir truk lebih dulu, Nugraha akhirnya mampu mengamalkan ilmunya sebagai jaksa.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Kediri

Rabu (23/5) sekitar pukul 10.00 WIB, suasana di gedung Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri cukup ramai. Maklum, hari itu ada 24 kasus perdata dan tujuh kasus pidana yang harus disidangkan. Pengunjung datang hilir mudik. Demikian pula dengan terdakwa, penasihat hukum, saksi, jaksa, dan hakim.

Di antara para penegak hukum yang terlibat, tampak jaksa Nugraha SH. Jaksa berperawakan besar itu berjalan sambil menggamit seberkas map di tangannya. Dia menuju ruang panitera pengganti (PP) untuk melapor atas kehadirannya.

Setelah itu, Nugraha duduk di kursi tunggu untuk menunggu giliran sidang. “Kelihatannya dapat giliran siang nih,” ujar jaksa kelahiran Semarang tersebut kepada Radar Kediri (grup Sumut Pos). Karena itu, dia mempunyai waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi sidang kasus yang ditanganinya.

Di sela-sela waktu menunggu itu, Nugraha sempat bercerita awal mula dirinya menjadi jaksa. Dia mengaku, meski mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang (UMM), dirinya sebenarnya tidak pernah berpikir untuk menjadi jaksa. Bahkan, dia merasa salah masuk fakultas ketika memilih perguruan tinggi.

Karena itu, setelah lulus kuliah pada 1992, Nugraha tidak tertarik untuk berkarir di jalur bidangnya. Baik menjadi pengacara, hakim, maupun jaksa. Dia malah memilih menjadi sopir truk ekspedisi di Jakarta. Menurut Nugraha, itu dilakukan karena tuntutan ekonomi keluarga. Maklum, orang tuanya bukan kalangan berada. Karena itu, begitu lulus, dia tak ingin lagi membebani orang tuanya.
“Saat itu, saya tidak berpikir apa-apa. Yang penting cepat dapat pekerjaan dan bisa mandiri,” ujarnya.

Nugraha menggeluti profesi di jalanan itu selama lima tahun. Meski berat, dia harus menjalani pekerjaan tersebut. “Antara bekerja dan beristirahat tidak ada bedanya,” kenangnya.

Kapan saja ditugaskan, dia harus siap berangkat mengantar barang atau mengambil pesanan klien. Tak peduli malam atau siang. Dia sampai hafal rute jalan-jalan di berbagai kota di Jawa. Sebab, wilayah kerja ekspedisinya mencakup antarkota.
Demikian pula dengan kerasnya kehidupan di jalan, hampir semua pernah dia rasakan. Nugraha sampai lupa bahwa dirinya adalah seorang sarjana hukum.

“Banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan dari profesi sebagai sopir truk. Saya jadi terbiasa menghadapi tekanan,” terangnya.

Lima tahun bergelut dengan curahan keringat dan kerasnya kehidupan jalanan membuat Nugraha mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Dia pun akhirnya tersadar akan latar belakang pendidikannya yang cukup bergengsi.

“Kalau ingat itu, saya sering tercenung. Meski begitu, saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjalani profesi yang keras sebagai sopir,” tuturnya.

Pekerjaan lain yang terbayang dalam benak Nugraha kala itu terkait dengan ilmu yang pernah dipelajarinya di kampus. Apalagi, prestasi akademisnya lumayan bagus. Dia juga mampu menyelesaikan gelar sarjananya tepat waktu.
“Saya merampungkan kuliah dalam empat tahun persis,” kata jaksa yang pernah berdinas di Kalimantan Tengah itu.

Saat kuliah, Nugraha juga sudah hafal pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) beserta ancaman hukuman bagi pelanggarnya. Dia pun masih sering menghafal pasal-pasal untuk menjerat terpidana tersebut ketika menjadi sopir.

“Sambil nyetir, saya hafalkan pasal-pasal itu. Sampai saya bisa hafal pasal satu hingga pasal terakhir,” ungkapnya bangga.

Kelebihan itulah yang membuat dirinya terlecut untuk mencoba terjun menekuni pekerjaan di bidang hukum. Gayung pun bersambut, ketika mendaftar menjadi calon jaksa pada 1997, dirinya dinyatakan lolos. Nugraha mengaku sangat beruntung karena soal-soal yang diujikan berisi pasal-pasal KUHP.

“Mungkin sekarang saya tidak di sini jika soalnya bukan pasal-pasal KUHP,” ujar Nugraha yang kini menjabat Kasi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri Kota Kediri.

Bagai sulapan, sejak itu kehidupan Nugraha berubah total. Dari jalanan yang panas dan keras ke kantor penegak hukum yang disegani. Karena itu, dia pun berikrar untuk total menjalani profesi barunya tersebut.
“Saya baru sadar bahwa ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah banyak manfaatnya. Saya ingin mengamalkan semaksimal mungkin.”

Profesi jaksa jualah yang mempertemukan Nugraha dengan sang istri. Saat itu, dia menjalani dinas pertamanya di Rembang, Jawa Tengah. “Istri saya kebetulan dokter yang bertugas di Rembang,” ungkap Nugraha yang enggan menyebutkan nama istrinya itu.

Nugraha baru setahun ini bertugas di Kejari Kediri. Selama berdinas di Kota Keretek tersebut, dia sudah menangani kasus-kasus tak biasa. Di antaranya, kasus perempuan yang melempari kios milik orang yang menyewa lahannya dengan bungkusan air kencing. Perempuan itu pun ditahan dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.

Dengan kehidupannya sekarang, Nugraha mengaku tak henti berucap syukur kepada Tuhan. Dia juga bersungguh-sungguh mengabdikan tenaga serta pikirannya sebagai penegak hukum yang jujur dan adil. Kesungguhan itu dia buktikan dengan berangkat sepagi mungkin ke kantor. Dengan berangkat lebih pagi, sambil berolahraga, dirinya mengaku jadi lebih rileks. Selain itu, menumbuhkan sikap disiplin. Dengan begitu, dirinya jadi sangat siap dengan agenda sidang sepadat apa pun.
“Saya biasa ke kantor pukul 05.00 dan pulang malam. Itu kebiasaan saya saat menjadi sopir yang masih terbawa,” ujar jaksa yang memilih tinggal di kos-kosan dan pulang setiap Sabtu-Minggu ke rumahnya di Rembang tersebut. (*)

Dua SMA di Sumut 100 Persen tak Lulus

Masih Tempati Peringkat Lima Besar Kelulusan Terbaik

JAKARTA-Sumatera Utara (Sumut) boleh berbangga. Meski tidak menduduki peringkat pertama, namun masih mampu menempati urutan lima besar kelulusan terbaik tingkat siswa SMA dari 33 provinsi di Indonesia. Namun sayangnya keberhasilan masih tercoreng dengan adanya dua sekolah dimana siswanya 100 persen tidak lulus.

Demikian data yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta, Jumat (25/5). Sumut berada di urutan kelima tingkat SMA, setelah tercatat hanya terdapat 147 siswa atau 0,12 persen yang tidak lulus ujian nasional (UN). Sementara tingkat kelulusan dari 120.090 siswa yang mengikuti ujian, mencapai 99,88 persen dengan nilai yang cukup baik. Memang ketika bicara persentase, angka kelulusan ini sebenarnya jauh meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 99,79 persen.

Namun sayangnya sebagaimana dikemukakan Mendiknas Muhammad Nuh, masih terdapat sekolah 100 persen siswanya tidak lulus UN. Diantaranya SMA Dorema yang terdapat di Medan. Empat siswa peserta UN di sekolah ini tidak lulus semua. Maka kami sarankan bergabung dengan sekolah lain, mengingat jumlah siswanya juga hanya empat orang. Selain SMA Dorema, terdapat tiga sekolah lain, salah satunya SMA Serawai di Kota Langkat. Hampir semua siswa kompetensi nilainya rendah.

Menurut Nuh, ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebab ketidaklulusan para siswa dari kedua sekolah tersebut. Diantaranya, kemungkinan disebabkan karena nilai rata-rat yang diperoleh dibawah 5,5. Atau bisa juga dikarenakan salah satu atau lebih nilai mata pelajaran, bernilai kurang dari empat. “Tapi mungkin bisa juga karena nilai ujian sekolah siswa tidak lengkap.” Untuk SMA Dorema sendiri setelah dianalisis menurut Nuh, penyebab ketidaklulusan karena rata-rata disebabkan nilai matematika dan Bahasa Inggrisnya sangat kecil. Selain itu, Guru yang mengajar pun tidak sesuai latar belakang pendidikan dan mata pelajaran yang diajarkan. Guru-guru tersebut juga belum memperoleh sertifikasi.
Mengatasi hal ini, Kemendikbud kini tengah menyiapkan sejumlah langkah. Diantaranya program pelatihan guna meningkatkan kompetensi dan sertifikasi bagi seluruh guru mata pelajaran. Juga penugasan guru sesuai latar belakang, dan meningkatkan sarana dan prasana seperti laboratorium dan perpustakaan.

Langkah lainnya, Kemendikbud juga kemungkinan akan menggabungkan sekolah tersebut dengan sekolah lainnya. Karena dipastikan jumlah siswa di SMA Dorema sendiri sangat sedikit.
Selain SMA Dorema dan Serawai, dua sekolah lain yang juga 100 persen siswanya tidak lulus, terdapat Maluku Utara dan satu lagi di Sulawesi Tenggara. Pengumuman kelulusan UN bagi siswa SMA sederajat ini sendiri, sedianya baru akan diumumkan pada Sabtu (26/5). Namun meski demikian, dari catatan yang terlihat, dinyatakan Jawa Timur berada di ranking pertama, setelah berhasil mencatatkan hanya 0,07 persen siswa yang tidak lulus. Berturut-turut kemudian Sulawesi Utara (0.09 persen), Bali (0,10 persen) dan Jawa Barat (0,10 persen). Sementara itu daerah dengan persentase terendah masih berada di Povinsi Nusa Tenggara Timur (5.50 persen), kemudian naik Gorontalo (4,24 persen). (uma/gir/jpnn)
Papua Barat (2,42 persen) dan Kalimantan Barat (1,49 persen).

Sekretaris Dinas Pendidikan Sumut, Bahaudin Manik  didampingi ketua panitia UN Henri S. Siregar mengakui kelulusan UN 2012 di Sumut
SMA sebesar 99.88 persen dan SMK 99.87 persen.

“Adapun persentase tingkat kelulusan siswa SMA/MA di Sumut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang mana untuk tahun 2012, dari jumlah peserta 120.090 siswa, meraih tingkat kelulusan mencapai 99.88 persen atau meningkat dari tahun sebelumnya yakni 99.79 peresn  dengan perentase peningkatan sebesar 0.08 persen. Sedangkan untuk SMK, dengan jumlah peserta UN sebanyak 72.504 peserta, meraih persentase kelulusan sebesar 99.87 persen atau naik dari tahun sebelumnya yakni 99.67 persen dengan mengalami peningkatan sebesar 0.20 persen,” terangnya.

Selain itu Bahaudin menyebutkan ada 2 sekolah di Sumut yang mengalami kegagalan UN 100 persen atau tidak ada siswanya yang lulus.
Kedua sekolah tersebut yakni SMA Dorema di Medan serta salah satunya Madrasah Aliyah (MA) yang terdapat di Kabupaten Langkat.
Disinggung perihal 2 sekolah yang siswanya seluruhnya tidak lulus, Manik mengatakan khusus untuk kedua sekolah tersebut memang jumlah siswanya masing masing di SMA Dorema sebanyak 4 siswa sedangkan untuk MA yang di Langkat tersebut hanya berjumlah 11 siswa. “Ya, siswa yang jadi peserta UN di kedua sekolah tersebut hanya berjumlah 4 dan 11 siswa jadi sewaktu dinyatakan tidak lulus maka karena jumlahnya segitu yang tidak lulus ya, dibilanglah 1 sekolah tidak lulus, “ungkapnya di akhir pertemuan. (gir/uma)

Gawat, Jenazah Ditukar Surat Tanah

Terjadi di RS Grand Medistra Lubukpakam

LUBUKPAKAM-RS Grand Medistra Lubukpakam akhirnya mau melepas jasad bayi dari pasangan Indrayaman Ginting (29) dan Hotmarina Umi Sitompul (33). Manajemen rumah sakit tersebut bersedia melakukan itu setelah menerima surat keterangan tanah (SKT) seluas 5×15 meter yang diberikan pihak keluarga.

Adalah Hot Asih Sitompul (55), ayah Hotmarina, yang menyerahkan surat tanah milik orangtua Indrayaman, Jumat (25/5). Hal ini dilakukan untuk menebus jasad cucunya yang sempat tertahan satu malam. Upaya itu dilakukannya karena tidak memiliki uang Rp14.250.000 sebagai biaya berobat cucunya yang menjalani operasi.

Semula, Hot Asih Sitompul datang bersama putri dan menantunya ke RS Grand Medistra untuk bersalin. Di sana Hotmarina menjalani operasi caesar, Rabu (16/5) lalu, lahirlah bayi laki laki.
Biaya operasi dan pengobatan pun dibayar lunas. Sang bayi dibawa ke kediaman Hot Asih Sitompul di Dusun II Desa Tambak Cekur Kecamatan Galang. Tiba-tiba bayi tersebut mengalami demam dengan perut membesar. Tak pelak, bayi itu kembali dibawa ke RS Grand Medistra.

Diperiksa dr Pranoto ternyata bayi itu mengalami penyumbatan dalam usus. Persetujuan Hotmarina dan ayahnya, maka bayi itu dioperasi oleh dr Mahyono SpBA (spesialis bedah anak) pada hari Senin (21/5) sore. Ternyata nasib berkata lain, pada Kamis (24/5) sekitar pukul 19.00 WIB, bayi yang belum diberi nama itu meninggal dunia.

Setelah cucunya meninggal, Hot Asih Sitompul berencana membawa pulang jasad cucunya. Tetapi, pihak rumah sakit melarangnya. Pasalnya, harus melunasi biaya operasi dan selama di rumah sakit sebesar Rp17.250.000.
Bahkan Hotmarina di suruh keluar dari ruangan ICU dan jasad sang bayi tidak diperbolehkan dibawa pulang. “Terpaksa kami di ruang tunggu ICU ini,” kata Hot Asih Sitompul.

Ketika dikonfirmasi, Humas Rumah Sakit Grand Medistra Emra Sofian Sinaga SH mengatakan bayi itu meninggal akibat mengidap Hisprung (kelainan usus) yang bisa terjadi sebelum lahir, setelah lahir maupun beberapa bulan setelah lahir.
Emra menyatakan pihak rumah sakit sudah memberikan bantuan kepada keluarga Hotmarina dengan memotong biaya berobat Rp3 juta. Sehingga pihak Hotmarina harus membayar biaya sebesar Rp14.250.000, semula tunggakan biayanya Rp17.250.000.

Kemudian ketika ditanyakan perihal surat keterangan tanah yang menjadi jaminan pelunasaan biaya, Emra pun membenarkan hal itu. “Ya, sebuah surat keterangan dari kepala desa yang menyatakan keluarga korban selaku pemilik tanah. Surat itu sebagai bukti jaminan ke pihak manajemen,” bilangnya. (btr)

Interupsi tak Ditanggapi, Apoan Pilih WO

LUBUK PAKAM- Sifat kekanak-kanakan kembali dipertontonkan anggota legislatif di Kabupaten Deliserdang. Hal ini ditandai dengan aksi interupsi  anggota dewan yang disoraki dan dicemooh temannya sendiri, ketika rapat paripurna LKPj Bupati Deliserdang, Jumat  (25/5).

Awalnya Ketua Fraksi PDIP Deliserdang, Apoan Simanungkalit menginterupsi pimpinan sidang Wakil Ketua DPRD Wagirin Arman SSos. Interupsinya Apoan  mempertanyakan kenapa lahan pembibitan pertanian dialih fungsikan menjadi lokasi kolam renang.

Melalui pimpinan sidang, bupati yang hadir pada saat itu diminta untuk menjawabnya pada sidang itu juga. Hal itu langsung mendapatkan tanggapan dan interupsi dari anggota dewan lain yang menilai tidak tepat saatnya menjawab itu dalam persidangan LKPj.

Namun, permintaan Apoan itu, direspon berbeda oleh sejumlah anggota dewan lainnya seperti Hasaidin Daulay, Rakhmad Syah SH dan Mester Sembiring. Sontak sidang itu bagaikan “terminal” karena hampir semua anggota dewan menyampaikan pendapatnya melalui interupsi tanpa menunggu pengaturan dari pimpinan sidang.

Bahkan, sebagian dari mereka ada yang berteriak serta menyoraki Apoan. Kemudian sebagian  ada yang menyampaikan pendapatnya sebari ditimpa suara anggota DPRD lainnya.
Pimpinan sidang menyatakan kalau memerlukan jawaban itu, bukan di sini tempatnya dan ada tempat lain yang lebih tepat. Wagirin menyatakan sidang terus dilanjutkan. Melihat dirinya kurang mendapatkan perhatian, Apoan kemudian mengambil sikap dengan mendatangi meja pimpinan sidang dan menyatakan sikap Walk Out. Pimpinan sidang kemudian menyatakan menghargai hak politik Apoan.(btr)

Interupsi tak Ditanggapi, Apoan Pilih WO

LUBUK PAKAM- Sifat kekanak-kanakan kembali dipertontonkan anggota legislatif di Kabupaten Deliserdang. Hal ini ditandai dengan aksi interupsi  anggota dewan yang disoraki dan dicemooh temannya sendiri, ketika rapat paripurna LKPj Bupati Deliserdang, Jumat  (25/5).

Awalnya Ketua Fraksi PDIP Deliserdang, Apoan Simanungkalit menginterupsi pimpinan sidang Wakil Ketua DPRD Wagirin Arman SSos. Interupsinya Apoan  mempertanyakan kenapa lahan pembibitan pertanian dialih fungsikan menjadi lokasi kolam renang.

Melalui pimpinan sidang, bupati yang hadir pada saat itu diminta untuk menjawabnya pada sidang itu juga. Hal itu langsung mendapatkan tanggapan dan interupsi dari anggota dewan lain yang menilai tidak tepat saatnya menjawab itu dalam persidangan LKPj.

Namun, permintaan Apoan itu, direspon berbeda oleh sejumlah anggota dewan lainnya seperti Hasaidin Daulay, Rakhmad Syah SH dan Mester Sembiring. Sontak sidang itu bagaikan “terminal” karena hampir semua anggota dewan menyampaikan pendapatnya melalui interupsi tanpa menunggu pengaturan dari pimpinan sidang.

Bahkan, sebagian dari mereka ada yang berteriak serta menyoraki Apoan. Kemudian sebagian  ada yang menyampaikan pendapatnya sebari ditimpa suara anggota DPRD lainnya.

Pimpinan sidang menyatakan kalau memerlukan jawaban itu, bukan di sini tempatnya dan ada tempat lain yang lebih tepat. Wagirin menyatakan sidang terus dilanjutkan. Melihat dirinya kurang mendapatkan perhatian, Apoan kemudian mengambil sikap dengan mendatangi meja pimpinan sidang dan menyatakan sikap Walk Out. Pimpinan sidang kemudian menyatakan menghargai hak politik Apoan.(btr)

Pelajar SMP Tewas Digilas Angkutan Pedesaan

LUBUK PAKAM- Reza Dimas Ritonga (13) warga Perbaungan tewas setelah digilas angkutan pedesaan Nitra BK 7479 DN yang dikemudikan Siswandi (41) warga Desa Lengau Seprang, Jumat (25/5) pukul 12.30 WIB.
Reza selama ini tinggal di rumah neneknya dan tercatat sebagai pelajar kelas I SMP Nurul Amaliyah Tanjung Morawa.  Seperti biasa, dia selalu menumpang bersama teman sekolahnya hendak pulang ke rumah. Karena banyak penumpang Reza duduk  di bangku tempel dekat pintu masuk angkot.

Saat Nitra melintas di jalan tikungan, perbatasan Desa Sei Merah dengan Desa Lengau Seprang, diduga dengan kecepatan tinggi, Reza Dimas Ritonga terjatuh. Naas bagi anak kedua dari tiga bersaudara itu, saat terjatuh bagian kepalanya langsung dilindas ban belakang sebelak kiri Nitra sehingga tewas ditempat kejadian.

Warga yang mengetahui hal itu sempat memberikan pertolongan dengan cara memboyong jenazah Reza ke klinik terdekat. Namun, karena saran perawat disana jenazah Reza selanjutnya dibawa ke RSUD Deliserdang untuk kepentingan visium. (btr)

Dua Rumah Kos Digerebek

MEDAN- Penggerebekan sabu-sabu dan ekstasi kembali terjadi. Tepatnya di jalan Sendok Ayahanda Medan, dua rumah kos- kosan digerebek polisi berpakaian preman. Dalam pengerebekan ini, salah satu orang diduga polisi yang bertugas di Polda Sumut dan tujuh mahasiswa ditangkap bersama barang bukti sabu dan pil  ekstasi, Jumat (25/5) Medan.

Dikisahkan oleh salah satu saksi mata, sekitar Polisi berpakaian preman datang menggunakan mobil avanza warna hitam dan langsung masuk kerumah kos kosan yang dihuni oleh mahasiswa dan satu orang polisi tersebut. Selanjutnya, semua tersangka dibawa ke dalam dua buah mobil dan pergi begitu saja.

Jagar Harianja, sang saksi mata yang juga merupakan warga sekitar yang menyaksikan pengrebekan menceritakan, dalam aksi pengerebekan tersebut polisi yang menangkap sempat meletuskan lima kali tembakan namun tidak diketahui apa yang ditembak mereka. “Mungkin tembakan itu dilakukan karena tersangka melakukan perlawanan, tapi saat saya intip dari jendela tidak ada darah yang berceceran,” kata Harianja.

Tadi tersangka sempat ingin melarikan diri saat akan ditangkap serta menyerakkan barang bukti sabu dan butiran ekstasi dilantai teras depan, namun aksi tersebut digagalkan petugas. “Kalau dilihat adalah 50 butiran ekstasi yang diserakkan,” ucap Harianja.

Selanjutnya barang bukti sabu yang diserakkan dilantai disiram air oleh polisi berpakaian preman. Lanjut Harianja, sebenarnya ini pengrebekan kedua yang dilakukan polisi berpakaian preman tersebut, sebelumnya pada pukul 16.00 WIB polisi sudah datang dan mengrebek rumah kos yang ada dibelakang, disitulah pertama kali dua orang ditangkap dan mungkin setelah dilakukan pengembangan dalam waktu 30 menit pengrebekan kedua terhadap rumah kos yang ada didepannya di lokasi yang sama digerebek dan 6 orang yang diduga mahasiswa UMSU diamankan. Dir Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Andjar Dewanto mengaku belum tahu.(ram/gus)