Home Blog Page 13468

Beragam Desain Nail Art

Kuku Jari Terlihat Gaya

MEDAN  –  Tren 3 Dimensi ternyata tidak merambah dunia perfilman, buktinya teknik nail art pun kini menggunakan inspirasi 3 dimensi. Kuku yang cantik dan terawat menjadi keinginan setiap wanita. Perawatan pada kuku sama pentingnya dengan anggota tubuh lainnya dan merupakan bagian dari style. Berbagai warna serta desain pada kuku mulai digemari wanita yang selalu ingin tampil gaya.

“Bagi sebagian wanita, perawatan kuku ini adalah sesuatu yang wajib untuk mendukung penampilan. Untuk yang berjiwa muda tak jarang mereka memilih warna-warna berani dengan gambar tokoh kartun. Bisa juga dengan aksesoris diamante yang bikin kuku jari terlihat gaya,” ujar Wanna selaku karyawan di JJ Professional Nail Salon yang terletak di Lantai 3 Blok B36 Sun Plaza Medan.

Di JJ Professional Nail Salon, katanya, berbagai desain cantik dan unik untuk kuku menjadi pilihan diantaranya 3D Acrylic Design, Nail Art Design dan Aquarium Design. “Sebelum kuku di desain,  customer bisa memilih mau dipasangi kuku palsu atau langsung desain dilukis di kukunya.  Nantinya, mereka tinggal pilih mau desain seperti apa,” jelasnya.

Untuk 3D arcrylic design, yaitu dengan desain timbul yang terbuat dari bahan acrylic, serta ditambahi hiasan manik-manik dan aksesoris kecil. Biasanya desain ini lebih banyak dipesan untuk wedding party. “Kesannya lebih mewah dan lebih banyak dipesan untuk acara pernikahan. Tarifnya antara Rp190 ribu hingga Rp230 ribu tergantung desain serta kerumitan pembuatannya,” terang Wanna.

Nail art design, lanjutnya, dengan desain yang tidak timbul namun perpaduan warna yang indah membuatnya lebih banyak digandrungi remaja. “Desainnya tidak timbul, begitupun desain seperti ini memang lebih banyak digemari para remaja. Desainnya yang unik seperti gambar kartun,  bunga, warna-warni lainnya tak kalah menarik bila dikenakan. Tarifnya antara Rp90 ribu hingga Rp110 ribu tergantung warna dan lama pengerjaannya,” urainya.

Sedangkan Aquarium Design, jelasnya terbagi menjadi dua yaitu acrylic aquarium dan gel aquarium. “Warnanya lebih bening dan tidak kalah menarik dengan desain lainnya. Pengerjaannya juga agak rumit. Tarifnya  Rp195 ribu hingga Rp265 ribu,” sebutnya.

Sebelum kuku dihias atau dipasang kuku palsu, tambah Wanna, terlebih dahulu dibersihkan. “Kukunya dibersihkan untuk menghilangkan minyak-minyak pada kuku serta kutikula nya,’’ urainya.

JJ Professional Nail Salon,  juga memberikan harga khusus bagi customer. “Untuk member, saat treatment pertama minimal Rp200 ribu, maka next time  mendapat diskon 10 persen.  Dari hari Senin-Kamis  mulai jam 11.00 WIB-13.00 WIB siang, diskon 20 persen dengan minimal treatment Rp100 ribu,” ucapnya. (mag-11)

Tindak Pengoplos Gas Elpiji

087867293xxx

Kepada Yth Kapoldasu. Tolong tindak tegas terhadap pengoplos gas elpiji. Kami warga Jalan Cinta Karya Gang Landasan Kelurahan Sari Rejo Kecamantan Medan Polonia, sangat resah dengan tindakan oknum tak bertanggung jawab itu.

Kami Teruskan

Terima kasih atas informasinya. Laporan ini akan kami teruskan ke Polresta Medan dan Polsek untuk ditindaklanjuti.

Kombes Pol Raden Heru Prakoso
Kabid Humas Polda Sumut

Tolong Jalan di Gang Perkutut Dibeton

085360978xxx

Yth Bapak Wali Kota Medan. Kami warga Jalan Setia Budi Pasar 1 Gang Perkutut Kelurahan Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang. Kami berharap jalan di depan rumah kami segera dibeton. Sudah lama jalan kami ini rusak.

Usulkan Melalui Kelurahan atau Kecamatan

Terima kasih atas laporannya. Pembetonan jalan dapat diusulkan melalui kelurahan atau kecamatan. Bisa juga melalui program P2KP kelurahan/lingkungan. Silahkan ke kantor lurah atau pengurus P2KP kelurahan.

Budi Haryono, Kabag Humas Pemko Medan

PTPN 2 Ngotot Pertahankan Lahan

Solusi Sengketa Tanah Masih Janji-janji

MEDAN-PTPN 2 akan terus mempertahankan lahan di Kapveld E Rayon B Kebun Sei Semayang Desa Sei Mencirim Kecamatan Kutalimbaru, yang kini dikuasai oleh penggarap. Soalnya kawasan yang masuk dalam lahan seluas 413,48 hektar itu, masih berada di lahan Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 dengan nomor sertifikat 92.

“Meskipun terjadi bentrok antara karyawan PTPN 2 dengan penggarap, bukan berarti kita patah semangat. Kami akan terus mempertahankan hak kami,” kata Djon Ismed, Kabag Hukum dan Pertanahan PTPN 2 kepada Sumut Pos, Kamis (24/5) sore.

Dia menjelaskan, sertifikat HGU yang dikeluarkan oleh BPN itu berlaku hingga 2028.

Hal ini seiring dengan perpanjangan HGU yang dilakukan PTPN 2 sesuai dengan batas HGU yang telah ditentukan. “Secara umum lahan kita ini sudah punya SK sejak 1965 dan keluar sertifikat HGU pada 1985. Sertifikat HGU terakhir keluar dari 2003 hingga 2028. Jadi kami pun dari PTPN 2 memiliki hak legal atas penguasaan tahan ini,” ucap Djon Ismed.

Dia menceritakan, upaya untuk perebutan lahan yang dikuasai oleh penggarap ini sudah lama dibicarakan. Bahkan perusahaan plat merah itu juga sudah mengundang pihak kepolisian terkait pengamanan ketika terjadi bentrok antara karyawan dan penggarap. Upaya ini dilakukan selain dari desakan karyawan, juga dilakukan atas desakan serikat pekerja. Hal ini selain untuk mempertahankan aset PTPN 2, juga untuk meningkatkan produksi tebu yang ditanam di areal tersebut.

“Selama ini areal yang digarap warga itu kita tanami tebu. Tapi belakangan karena arealnya dikuasi penggarap maka produksi tebu menjadi berkurang hingga akhirnya berdampak pada jam operasi pabrik yang tidak menentu akibat pasokan tebu yang minim,” beber Djon Ismed.

Lantas apa yang dilakukan saat ini? Ditanya begitu Djon Ismed menjawab pascabentrok dengan penggarap itu pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Poldasu. Serta membuat laporan tertulis kepada Kementerian BUMN di Jakarta, Komnas HAM, dan pihak-pihak terkait. “Intinya, kita akan tetap mempartahankan hak kami,” tegasnya.

Di sisi lain, reaksi keras disampaikan beberapa tokoh Sumut terkait bentrokan karyawan PTPN 2 dengan warga di Kecamatan Kutalimbaru. Bahkan, ada yang memprediksi bentrok lain akan terjadi di tanah Sumut dan melebihi kasus di Mesuji, Lampung. Pasalnya, penyelesaian persoalan tanah di Sumut hanya janji-janji.

“Setiap pekan hampir selalu ada bentrok, tapi yang ini (bentrok di Kutalimbaru, Red), memang keras. Dan, bisa muncul yang lebih keras lagi,” ujar Anggota DPD RI, Rahmat Shah kepada Sumut Pos, Kamis (24/5).

Sebagai anggota DPD RI dan Komite I yang membidangi  Pertanahan, Rahmat Shah menyesalkan kejadian tersebut. “Kami sudah berkali-kali melakukan pertemuan dengan berbagai pihak. Baik dengan Pemprovsu, Kanwil BPN serta Kakan. Lalu, BPN se-Sumut, dengan Ka BPN Pusat, Menteri Negara BUMN, Menteri Keuangan, instansi terkait, beserta kepala daerah yang berhubungan dengan lahan eks HGU di Kantor DPD RI. Dan, terakhir dengan sembilan puluh lima aliansi berbagai elemen yang datang ke Senayan, namun semuanya hanya menyampaikan janji-janji dan mengulur-ulur waktu,” tambahnya.
Dia mengingatkan aparat keamanan, BPN, PTPN II, dan gubernur, untuk segera mengambil solusi yang komprehensif. Selama ini, menurutnya, penyelesaian-penyelesaian hanya bersifat sporadis, setiap kali muncul bentrok. Solusi yang permanen belum pernah muncul.Jika begini terus, kata Rahmat, maka potensi bentrok yang lebih besar lagi dibanding bentrok di Kutalimbaru, bisa muncul. Bahkan, bisa lebih besar dibanding kasus Mesuji, Lampung, beberapa waktu lalu. “Bisa lebih ngeri dibanding Mesuji,” cetus Rahmat, dengan nada tinggi.

Menurut dia, para petinggi, baik di Sumut maupun di Jakarta, tampak menyepelekan masalah kasus tanah ini. “Kepala BPN, kepala daerah, menteri, semua sombong di hadapan rakyat. Mentang-mentang tidak ada aparat yang membekingi rakyat. Masyarakat sungguh tak mendapatkan keadilan,” ujarnya lagi.

Dikatakan, sebenarnya sikap Presiden SBY sudah tegas, yakni putusan pengadilan yang sudah incrach, yang menyatakan lahan milik rakyat, harus segera dieksekusi, lahan dikembalikan ke rakyat. “Tapi BPN tidak menindaklanjutinya, tidak menerbitkan sertifikat hak milik untuk rakyat,” kata Rahmat.
Sejatinya, Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho telah membentuk tim khusus penanganan areal lahan eks HGU PTPN II, yang dipayungi SK Gubsu tertanggal 23 September 2011. Tugas tim ini, kata Rahmat, melakukan pengukuran dan pemetaan lahan.

Namun tim khusus ini tidak dapat menyelesaikan tugasnya sehingga diperpanjang hingga Mei 2012. “Ini sudah akhir Mei, tapi belum juga selesai,” ujar Rahmat.

Sayangnya, saat dikonfirmasi soal tim ini kepada Gatot secara langsung, dia tidak merespon. Pun saat Sumut Pos menghubunginya melalui Blackberry Messenger (BBM), Gatot enggan menjawab pertanyaan. Namun ketika Sumut Pos menyebutkan, adanya indikasi dugaan korupsi salah seorang Kepala Dinas (Kadis) di lingkungan Pemprovsu, Gatot bersedia membalasnya.

Sebelumnya, Deputi Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Iwan Nurdin mengatakan, BPN sebenarnya sudah menindaklanjuti putusan-putusan pengadilan yang sudah incrach. Yakni, BPN menerbitkan surat perintah agar ditunda dulu perpanjangan HGU untuk PTPN II. “Sehingga banyak tanah PTPN II tak dapat diperpanjang HGU-nya karena ada tanah rakyat di situ,” imbuhnya.

Hanya saja, langkah BPN hanya sebatas itu, tidak langsung menyerahkan tanah dimaksud kepada warga. Ini yang menurut Iwan mengundang nafsu para mafia tanah untuk menguasai lahan yang status kepemilikannya terus digantung itu.

Sementara, pihak BPN di Jakarta sulit untuk dimintai konfirmasi. Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Yuswanda A. Tumenggung, saat dihubungi pun, tak sudi mengangkat telepon.

Di sisi lain, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Jafar Nainggolan berjanji akan menelusuri kasus di Kutalimbaru hingga tuntas. Menurutnya, apapun akar persoalan yang ada, satu hal yang paling utama, bahwa sedini mungkin pemerintah daerah harus dapat mengendalikan situasi. “Jadi saya mau meminta keterangan secara rinci dari Pemda Deliserdang. Saya akan coba menghubungi bupatinya,” ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Langkah ini dinilainya cukup penting sebagai langkah awal. Sehingga sebagai anggota dewan, dirinya dapat lebih fokus lagi menjembatani persoalan yang ada. “Saat ini saya belum punya data lengkapnya. Makanya untuk itu, kita akan pelajari dan cari data lebih lengkap lagi. Sehingga permasalahan yang ada dapat segera diatasi,”ujarnya. (dra/ila/sam/ari/gir)

Anatomi Konflik PTPN2 vs Warga Kutalimbaru

  1. SK BPN tentang perpanjangan jangka waktu HGU ditengarai sebagai pemicu konflik antara kelompok petani penggarap dan PTPN2.
  2. Sembilan SK Kepala BPN terkait perpanjangan HGU sejumlah lahan harus direvisi karena memicu konflik.
  3. Dari 9 SK itu, 5 di antaranya tentang perpanjangan HGU PTPN II terhadap 42 bidang tanah seluas 38 ribu hektare di Deliserdang, Langkat, dan Binjai.
  4. Lima SK diterbitkan tahun 2000
  5. Empat SK terhadap 55 bidang tanah seluas 17 ribu hektare di wilayah yang sama diterbitkan pada tahun 2002 dan 2004.

NB: Kanwil BPN BPN Sumut membantah sudah menerbitkan HGU perpanjangan

* Data Olahan Sumut Pos

Tata Cara Perolehan Hak Guna Usaha dari Tanah Negara

Syarat Pemohon

  1. Akta Notaris atau Peraturan/Keputusan tentang pendirian Badan Hukum. Jika Badan     Hukum tersebut berbentuk Perseroan Terbatas, permohonan tersebut dilengkapi :
    – SK Menkeh tentang Pengesahan Badan Hukum;
    – Tambahan Berita Negara yang mengumumkan Akta Pendirian Badan Hukum.
  2. Surat Referensi Bank Pemerintah, yang menunjukkan bonafiditas Pemohon
  3. Studi kelayakan atau Proyek Proposal atau Rencana mengusahakan tanah perkebunan     yang dilegalisir oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Propinsi.
  4. Surat Pernyataan tersedianya tenaga ahli yang berpendidikan dan berpengalaman dalam pengusahaan perkebunan disertai riwayat hidupnya.

Ketentuan Tanah yang Dimohon

  1. urat Keterangan Pendaftaran tanah (SKPT) dari Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya setempat, jika mengenai tanah Hak
  2. Girik/Ketitir, bila mengenai tanah adat ;
  3. Bukti Perolehan hak (Pembebasan atau Jual Beli) ;
  4. Gambar Situasi atau Surat Ukur yang dibuat oleh Kantor Pertanahan Kab/Kota atau Kanwil  BPN Propinsi setempat.
  5. Rekomendasi dari Pejabat/Instansi yang terkait, misalnya :
    – Dinas Kehutanan
    – Dinas Pertanian bila tanah yang dimohon merupakan kawasan hutan/tanah Pertanian.
  6. Fatwa Tata Guna Tanah yang dibuat oleh Kanwil BPN Propinsi
  7. Pertimbangan Kepala Kanwil BPN Propinsi, apabila tanah yang dimohon merupakan tanah negara yang belum diusahakan sebagai perkebunan.

* Sumber: Permen Negara Agraria/Kepala BPN No. 9/1999 juncto Permen Negara Agraria/Kepala BPN No. 3/1999

Pejabat Berwenang Menerbitkan HGU

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 tanggal 9 Februari 1999
disebutkan kewenangan:

  1. Kepala Kanwil BPN Propinsi menerbitkan SK Pemberian HGU yang luasnya tidak lebih dari 200 Hektare (Pasal 8)
  2. (b) Lahan di atas 200 Ha, tetap pada kewenangan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN (Pasal 13)

Penyebab Hilangnya HGU

  1. Jangka waktunya berakhir sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Pemberian atau Perpanjangannya.
  2. Dihentikan/dibatalkan haknya oleh pejabat yang berwenang sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidak terpenuhi, misalnya : Tidak terpenuhinya dan/atau dilanggarnya kewajiban- kewajiban pemegang hak; Adanya Putusan Pengadilan  yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
  3. Dilepaskan oleh pemegang haknya secara sukarela sebelum jangka waktunya berakhir
  4. Dicabut untuk kepentingan umum.
  5. Tanah diterlantarkan.
  6. Tanahnya musnah.
  7. Orang atau Badan Hukum yang mempunyai hak itu, tidak lagi memenuhi syarat untuk memiliki hak tersebut.

* Sumber: Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria juncto Pasal 17 PP 40/ 1996

Tiga Area Panas Sengketa Lahan di Sumut

  1. Area bekas perkebunan Deli yang dibangun Belanda tahun 1917 ke bawah. Areanya mencakup kawasan Pantai Timur Sumut. Mulai Asahan, Binjai, Deliserdang, hingga Pematangsiantar. Model sengketa di kawasan ini menyangkut lahan eks perkebunan zaman Belanda, yang di era awal kemerdekaaan dinasionalisasi menjadi lahan PTPN. Belanda mengambil lahan dari tanah milik masyarakat dan atau masyarakat adat.
  2. Pada 1979 pernah ada upaya redistribusi tanah, yang menurut UU Pokok Agraria, lahan yang diduduki warga harus dikeluarkan dari area perkebunan. Sebelumnya, tahun 1960-an, ada sejumlah surat land reform yang dikeluarkan. Sebagian tanah di Sumut sudah mendapatkan surat land reform ini. Tapi karena ada masalah politik, tanah tak jadi didistribusikan, tapi balik lagi ke PTPN.
  3. Konflik lahan di area perkebunan yang izinnya dikeluarkan di era Orde Baru. Ini biasanya lahan kebun sawit dan HTI. Areanya sebagian besar di kawasan Tapanuli bagian Selatan. Sumber konflik menyangkut kawasan hutan yang dilepas menjadi area perkebunan. Padahal di sana ada tanah garapan masyarakat atau masyarakat adat. Juga dipicu masalah dengan perusahaan perkebunan inti plasma.

* Sumber: Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA)

Okupasi Tanah Tetap Dilakukan

Tiga hari setelah bentrok fisik antara warga dengan karyawan PTPN2 di Desa Salang Paku, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, kondisi perlahan-lahan mulai kondusif. Namun, pihak PTPN 2 tetap bersikeras untuk melakukan okupasi lagi pada lahan yang sama.

Hal ini ditegaskan Humas PTPN 2 Sei Semayang Eka Damayanti ketika dihubungi Sumut Pos. “Kalau yang di lokasi bentrok kemarin, itu lahannya masih dalam peta HGU kita, jadi kita akan tetap melakukan okupasi,” tegasnya.

Ketika ditanya luas lahan yang sudah digarap warga,  Eka mengaku, sudah ratusan hektar yang dirampas warga untuk menanam jagung dan pohon pisang. “Kalau yang sudah dikuasai warga sekitar 300 hektar,” sebutnya.

Kapan dilakukan okupasi lanjutan? Eka mengatakan, pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan pihak Poldasu untuk membantu melakukan okupasi lanjutan.

Mengenai waktu pastinya, sejauh ini dirinya belum menerima laporan. “Kapan pastinya, saya belum ada konfirmasi lanjutan dari pimpinan, tapi tetap akan dilakukan okupasi,” terangnya.

Terkait bentrok dengan warga, Eka mengaku, sudah membuat laporan pengaduan ke Poldasu terkait pembakaran lima unit mobil truk PTPN 2 dan penganiayaan terhadap karyawan. “Kita berharap pihak kepolisian dapat menyelesaikan laporan kita,” pintanya.

Ketika ditanya soal adanya preman bayaran yang ikut dalam rombongan karyawan PTPN 2 saat melakukan penyerangan, Eka membantah kabar tersebut. Dia meyakini, kalau seluruh orang yang ikut saat melakukan okupasi merupakan karyawan PTPN 2. “Saya jamin itu karyawan PTPN2 semua, tidak ada preman bayaran, itu karyawan,” jelasnya.

Sementara di areal konflik tepatnya di lahan PTPN2, pihak kepolisian masih terlihat berjaga-jaga. Ada beberapa mobil polisi yang terlihat berpatroli. Dan sebagian berjalan dengan memegang senjata laras panjang.  Petugas keamanan juga sudah membuat tiga buah tenda perkemahan untuk menjaga suasana sampai jangka waktu yang tak ditentukan.

Selain membuat perkemahan, polisi juga melakukan penyisiran ke perkampungan warga guna mencari pelaku pembakaran mobil. Dalam penyisiran yang dilakukan selama dua hari, pihak kepolisian dari Polres Medan, dikabarkan menemukan senjata tajam berupa klewang, panah beracun dan senjata lainnya seperti bambu dan rotan yang diduga digunakan warga maupun pihak PTPN2, saat terjadi bentrok. Senjata itu ditemukan tergeletak di seputaran lokasi bentrok yang kemungkinan tertinggal.

Di sisi lain, warga sekitar sudah beraktivitas seperti biasanya. Pantauan Sumut Pos di lokasi kejadian, Kamis (24/5) siang, puluhan warga terlihat melakukan aktivitas bercocok tanam dan kegiatan lainnya. Sedangkan anak-anak yang awalnya tidak berani keluar rumah, mulai terlihat berkeliaran di halam rumah warga. Pun begitu, sejumlah kaum pria di lokasi tersebut, tetap melakukan pemantauan terhadap orang yang datang ke kampung tersebut. Soalnya, mereka takut adanya mata-mata dari pihak PTPN 2 yang masuk ke perkampungan untuk mengacaukan suasana.

“Ya, lumayan aman lah, warga pun sudah mulai beraktivitas, Cuma kita tetap waspada, siapa tahu ada penyusup,” kata Zakaria, warga Salang Paku, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang.

Zakaria juga mengatakan, pihaknya akan tetap mempertahankan lokasi PTPN 2 yang sudah mereka “Kita nggak akan mundur kalau pihak PTPN2 melakukan okupasi. Kita akan tampung mereka hingga titik darah penghabisan,” semangatnya.

Genderang Perang untuk PTPN 4

Di tempat terpisah, ratusan warga terdiri dari Kelompok Tani Bandar Rejo Desa Naga Kesiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdangbedagai memblokir jalan masuk ke perkebunan PTPN IV Kebun Pabatu. Merka pun mendirikan posko pemenangan tanah yang dirampas perkebunan seluas 254,33 hektar, Kamis sore (24/5).

Ketua Kelompok Tani Desa Bandar Rejo, Wendi Hutabarat mengatakan bahwa ini adalah awal pertama genderang perang kelompok tani atas ketidakpedulian pihak PTPN IV Kebun Pabatu menanggapi aksi demonstrasi beberapa minggu lalu. “ Kami minta hak rakyat, tanah seluas 254,33 hektar milik warga, maka itu harus dikembalikan kalau tidak ini adalah awal mula genderang perang itu,” ungkap Wendi.

Mendirikan posko pemenangan warga adalah eujud perasaan kecewa dengan pihak PTPN 4 Kebun Pabatu yang hingga kini belum menuntaskan serta memutuskan permasalahan tanah tersebut.  “Apabila waktu yang diberikan hingga batas pekan depan tidak ditanggapi pihak perkebunan dan Pemkab Sergai, kami akan langsung mengeksekusi lahan perkebunan itu dengan paksa. Kita berharap awal pembangunan posko ini jangan ada terjadi benturan fisik,” beber Wendi.

Melihat akitivitas Kelompok Tani Bandar Rejo mendirikan posko dan memblokir akses jalan masuk, pihak Polres Tebingtinggi langsung melakukan pengawasan dengan ketat agar tidak terjadi benturan fisik warga dengan pihak pengamanan perkebunan. “Kita siagakan petugas di lapangan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sejauh ini warga masih bisa diberi pengertian oleh pihak petugas,” ungkap Kasubag Humas Polres Tebingtinggi AKP Ngemat Surbakti.

Sementara itu, Humas PTPN 4 Kebun Pabatu Suheri mengungkapkan bahwa warga membangun posko di luar tanah HGU perkebunan dan tidak memblokir jalan masuk ke dalam perkebunan. Menurutnya, soal lahan tersebut sudah terdaftar dalam nomor surat  20 tahun 2007 yang HGU perkebunan resmi ditandatangani pada April 2007 lalu.

Untuk itu, agar masalah tidak tambah runyam, Suheri meminta Ketua Kelompok Tani Bandar Rejo untuk membuat surat tembusan kepada pihak mediasi terutama Pemkab Sergai. “Wendi (ketua kelompok tani) harus membuat surat ke Pemkab Sergai, tetapi apa? Hingga kini Pemkab Sergai belum menerima surat itu,” ungkap Suheri. (ndi/mag-3)

Menerobos Kebun Tebu dan Napak Tilas Enam Kilometer

Totalitas Khrisna Pabichara saat Menggarap Novel Sepatu Dahlan

Sudah menghasilkan 13 buku, tapi menggarap novel merupakan hal baru bagi Khrisna Pabichara. Tidak mau asal-asalan, dia melakoni riset mendalam. Termasuk, mendatangi kota-kota yang pernah ditinggali Dahlan Iskan, tokoh utama dalam buku fiksi karyanya tersebut.

PANJI DWI ANGGARA, Surabaya

Senyum tidak bisa lepas dari wajah tirus Khrisna Pabichara, Minggu lalu (20/5). Itu wajar. Sebab, perasaannya memang sedang bungah. Kerja kerasnya menulis novel Sepatu Dahlan yang terinspirasi dari kisah hidup Menteri BUMN Dahlan Iskan akhirnya selesai. Pagi itu, buku setebal 369 halaman tersebut di-launching di tengah ramainya acara car free day di Jalan Raya Darmo, Surabaya.

Bagi Khrisna, buku yang cover-nya berwarna dominan biru muda tersebut bukan sekadar karya sastra biasa. Novel itu menjadi taruhan profesinya sebagai penulis. Bila karyanya jelek, namanya pasti akan menjadi bulan-bulanan kritikus. Sebaliknya, bila dinilai baik, tentu nama Khrisna juga harum. Apalagi, novel itu mengadopsi sejarah perjalanan hidup seorang tokoh populer sekelas Dahlan Iskan. Karena itu, Khrisna tak mau main-main dalam menggarapnya. Sembari ditemani segelas es susu kedelai, Khrisna berbagi cerita awal mula keterlibatan dirinya dalam penulisan novel Sepatu Dahlan.

Pembuatan novel ini sangat cepat. Saya ditawari penerbit pada pertengahan Januari lalu,” ungkap pria kelahiran Makassar, 10 November 1975, itu.
Semula, Khrisna diminta memilih di antara dua tokoh yang kini ramai-ramainya menjadi pembicaraan masyarakat. Selain Dahlan Iskan, Khrisna diberi opsi menulis novel dengan latar belakang sejarah kehidupan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi). Tapi, dia akhirnya memilih sosok Dahlan karena termasuk pengagum berat mantan Dirut PLN tersebut. “Saya mengagumi beliau karena tangguh, disiplin, serta pekerja keras,” ujar Khrisna.

Hanya, dia sempat kaget karena deadline yang diberikan penerbit sangat mepet. Dia diberi jatah waktu hingga April untuk menyelesaikan novel tebal itu. Padahal, dirinya harus melakukan riset dan wawancara langsung dengan tokoh yang akan ditulis. Meski begitu, Khrisna optimistis mampu menyelesaikan buku tersebut sesuai deadline karena faktor sang tokoh yang ‘amat bercerita’.

“Sejak awal saya optimistis bisa menyelesaikan novel ini dengan cepat. Sebab, Abah (begitu Khrisna memanggil Dahlan Iskan, Red) memberikan banyak kemudahan untuk menulis tentang dirinya,” cerita suami Mamas Aurora Masyitoh tersebut.

Sehari setelah menyanggupi tantangan penerbit, Khrisna langsung membuat peta naskah. Yakni, apa saja yang akan ditulis, bagaimana plotnya, dan bagaimana cara mendapatkan data-data primer untuk karyanya tersebut.

Begitu konsepnya disetujui penerbit, Khrisna diajak menemui langsung Dahlan Iskan. Bukan di kantor atau restoran, melainkan di lapangan Monas, Jakarta, saat Dahlan melakukan senam pagi.

“Kesan pertama saya, ternyata yang dilakukan Abah bukan sekadar pencitraan. Beliau mau dan tanpa risi bersenam bersama ribuan warga. Bahkan, dengan sabar mau meladeni permintaan masyarakat yang ingin berfoto bersama atau minta tanda tangan,” ungkapnya.

Pembicaraan mereka pagi itu cukup lama sampai akhirnya Dahlan setuju kisah hidupnya dijadikan inspirasi untuk membuat novel. Sejak itu, Khrisna mulai mengakrabi segala aktivitas maupun tulisan-tulisan mantan CEO Jawa Pos tersebut.

Bahkan, agar lebih mengenal karakter tokoh utamanya, awal Februari lalu, Khrisna memutuskan untuk terbang ke Surabaya dan menginap di kediaman Dahlan. Selama tiga hari dua malam dia bertransformasi menjadi keluarga inti Dahlan. Beragam hal yang dilakukan Dahlan dilihat dan dicatat. Mulai saat berbincang santai, nonton televisi, berdiskusi, menerima tamu, hingga makan bersama dalam satu meja.

“Sangat banyak yang saya rasakan saat mendapat kesempatan langka itu. Saya jadi tahu siapa sebenarnya tokoh yang saya hadapi dan akan saya tulis dalam novel itu,” tuturnya.

Berbincang dengan Dahlan, bagi Khrisna, merupakan pintu masuk untuk mendapatkan segala hal yang berkaitan dengan penulisan novelnya. “Semua perbincangan saya rekam. Umumnya ngobrol santai tentang banyak hal. Karena itu, mesti saya seleksi yang cocok menjadi bahan penulisan,” jelas ayah Shahrena Adenia dan Shahrayya Adelia itu.

Bukan hanya Surabaya yang dia sambangi. Khrisna juga mendatangi kota-kota lain yang pernah ditinggali Dahlan dalam perjalanan hidupnya. Di antaranya, kota kelahiran Dahlan Magetan, lalu Madiun, Ponorogo, Kertosono, Ngawi, dan Samarinda. Di kota-kota tersebut, dia berburu informasi tentang sosok yang akan ditulis. Baik dari saudara kandung, sahabat, hingga teman-teman angkatan Dahlan saat bersekolah.

Banyak hal menarik yang dia alami saat menelusuri dan menggali data di desa-desa yang pernah ditinggali Dahlan. Apalagi, Khrisna sejak awal ingin menggambarkan Dahlan sebagai sosok apa adanya. Bukan sosok malaikat yang turun dari langit dan tidak memiliki cela.

Karena itu, ketika mendapat informasi bahwa Dahlan kecil pernah mencuri tebu di ladang, Khrisna berupaya mendapatkan gambaran riil di mana ladang yang dimaksud. Untuk itu, Khrisna pun mencoba menjadi Dahlan kecil sedang mencuri tebu di ladang yang ada di desanya. Tak lupa dia mengenakan kaus tipis dan celana pendek seperti yang dipakai Dahlan kecil dulu.

“Karena menurut beliau, waktu ngambil tebu itu yang dipakai ya baju seperti itu,” katanya.

Namun, bukan manisnya tebu yang diperoleh Khrisna, melainkan tangan dan kakinya jadi memerah dan perih terkena daun-daun tebu yang sedang tumbuh.
“Rasanya sakit sekali. Apalagi, ketika saya mandi,” ujarnya sembari memperlihatkan bekas-bekas goresan berwarna merah di lengannya.
Pengalaman menarik tersebut tidak berhenti sampai di situ. Karena novel pertama dari trilogi itu mengangkat tema sepatu Dahlan, Khrisna pun rela menapaktilasi jalan yang biasa ditempuh Dahlan saat pergi ke sekolah tanpa sepatu. Jaraknya lumayan jauh, sekitar enam kilometer, melewati pematang sawah dan keluar masuk desa.

Di tengah terik matahari, Khrisna melangkahkan kaki setapak demi setapak melewati jalanan yang puluhan tahun lalu ditempuh pria ndeso yang kini menjadi menteri Kabinet Bersatu II itu. Untuk menempuh jarak sejauh itu, Khrisna membutuhkan waktu sekitar satu jam 20 menit.
“Padahal, menurut Abah, dulu beliau sanggup menempuhnya hanya dalam waktu satu jam. Benar-benar luar biasa,” kisah Khrisna.
“Kaki rasanya sangat pegal. Padahal, saat itu saya mengenakan sepatu. Bagaimana Abah dulu yang ke mana-mana selalu nyeker. Makanya, niat untuk pulang dengan jalan enam km lagi saya urungkan karena sudah tidak kuat,” sambung penulis yang produktif menulis cerpen dan esai di berbagai koran itu.

Total Khrisna membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk melakukan riset mendalam tentang naskah novelnya. Hebatnya, dia hanya memerlukan waktu delapan hari untuk menyelesaikan novel itu dalam bentuk tulisan. Tapi, dalam kurun waktu tersebut dia terpaksa menjauhkan diri dari kehidupan sosial. Telepon dan SMS, kalau bukan dari istri atau pihak penerbit, tidak diresponsnya. Begitu juga jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter-nya tidak pernah disentuh.

“Alhamdulillah, saya benar-benar bisa menuliskannya dengan cepat dan mengalir deras hingga rampung,” tuturnya
Kini, setelah novel pertama kelar dan laris di pasaran, pekerjaan Khrisna belum selesai. Dia mesti segera menggarap buku kedua, Surat Dahlan, dan buku ketiga, Kursi Dahlan.

“Saya akan secepatnya menuliskan kedua novel itu. Mumpung masih semangat-semangatnya. Kalau ditunda-tunda, khawatir tidak segera selesai,” tandas Khrisna. (*)

Nasib

Oleh: Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

LUAR BIASA sambutan masyarakat Indonesia ketika klub sepak bola asal Italia Inter Milan menjejakkan kaki di bumi pertiwi ini. Dari mulai orang tua hingga para bocah tak henti-hentinya mengelukan klub yang beridiri pada 9 Maret 1908 itu.

Ya, pada usianya yang sudah 104 tahun itu para Internisti (sebutan untuk fans Inter Milan) bukan hanya ada di Italia. Di Indonesia pun cukup banyak Internisti yang tak pernah henti mengagumi bahkan memuja klub yang telah mengoleksi 18 tropi Serie A itu.

Dan kekaguman itu pastinya akan semakin besar dirasakan Internisti yang ada di Indonesia, karena pada tiga hari ke depan, Nerrazuri (julukan Inter Milan) bukan hanya bertanding dengan sekumpulan pemain hebat di negeri ini, tapi lebih dari itu, para pemain yang tergabung di dalam tim pemegang tiga tropi Liga Champions ini (1964, 1965 dan 2010) juga menggelar pelatihan kepada sejumlah bocah.

Artinya, kubu Inter Milan tak sekadar meraup keuntungan di negeri ini, karena di satu sisi, mereka juga memberi keuntungan saat para pemainnya berbagi ilmu kepada sejumlah bocah di negeri ini.

Kondisi yang dialami Inter Milan ini bertolak belakang dengan apa yang dialami Stefani Joanne Angelina Germanotta. Ya, wanita kelahiran 28 Maret 1986 yang beken dengan panggilan Ladi Gaga ini mendapat tentangan yang luara biasa dari banyak pihak, terkait konser musik bertajuk Born This Way Ball Tour yang akan berlangsung pada 6 Juni mendatang di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Penampilan serta pola hidup dan lirik musik yang eksentrik menjadi alasan paling sakti untuk menolak kehadiran penyanyi asal New York itu. Bahkan jikapun pada konsernya nanti Ladi Gaga yang biasanya tampil dengan busana minim itu mempergunakan kebaya dan tak menyanyikan lagu dengan lirik seolah memuja setan, tetap saja sejumlah elemen menentang kehadirannya.

‘Tak ada keuntungan yang bisa didapat dari kehadirannya’. ‘Lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya’. Itu hanya sebagian kecil alasan yang ditujukan untuk menolak kehadiran Lady Gaga.

Sungguh ini fakta yang kontradiktif dengan apa yang dialami para pemain Inter Milan yang bermandi sanjung dan puja. Mungkin Lady Gaga takkan mengalami nasib seapes itu jika dirinya hanya menyandang status sebagai seorang penyanyi kibor dari kampung ke kampung.
Tak percaya, lihatlah di sejumlah daerah pinggiran yang ada di Indonesaia. Teramat banyak wanita yang dengan hanya menggunakan bra dan celana dalam mendendangkan lagu berlirik cabul sambil menggoyangkan badannya secara erotis.

Tak hanya orang tua, angan anak-anak pun dibuat terbang dan ngiler melihat aksi penyanyi yang sungguh kampungan itu. Itu jika membandingkan aksi Lady Gaga dan penyanyi kibor di daerah pinggiran.

Lantas, bagaimana jika membandingkan Lady Gaga dengan klub sepak bola penyandang 19 gelar Lige Primer Inggris, Manchester United?
Klub yang berdiri pada tahun 1878 itu secara nyata menjadikan gambar setan yang memegang garputala sebagai lambang kebesaran mereka pada logo klub. Namun, sejauh ini klub yang kemudian sohor dengan julukan The Red Devils itu tak sekalipun dianggap sebagai pemuja setan dan didemo masyarakat dunia.

Sebaliknya, saat ini hampir tak ada orang yang tak mengenal nama Manchester United. Bahkan anak-anak di Indonesia kerap memilih jersey Manchester United daripada membeli jersey timnas Indonesia jika diajak sang ibu shoopping ke mal atau pusat perbelanjaan lainnya. (*)

Andi Bantah Terima Uang Hambalang

Diperiksa KPK Selama 10 Jam

JAKARTA – Menpora Andi Malaranggeng membantah kecipratan uang dari proyek pembangunan kompleks olah raga Hambalang, Sentul, Jawa Barat. Itu dipastikan Andi setelah diperiksa selama 10 jam oleh KPK. Kemarin, dia dimintai keterangan karena dianggap mengetahui proses perencanaan dan penganggaran proyek tersebut.

Andi keluar dari gedung KPK sekitar pukul 19.20 WIB. Tidak banyak yang dia sampaikan kepada wartawan yang telah menanti sejak pagi. Dia hanya mengatakan kalau dipanggil KPK untuk menjelaskan perencanaan dan pembangunan proyek hambalang. “Termasuk penganggarannya. Semua sudah saya sampaikan,” ujarnya.

Saat disinggung mengenai tudingan Nazaruddin dan uang Rp20 miliar yang masuk ke kantongnya, Andi mengelak. Menurutnya, ucapan Nazaruddin hanya pepesan kosong belaka karena dirinya bersih dari uang proyek tersebut. “Enggak benar (tudingan) itu,” tegasnya.
Seperti diberitakan, Menpora disebut menerima uang Rp20 miliar dari PT Adhi Karya yang menjadi rekanan di proyek itu. Tudingan sendiri meluncur dari mulut koleganya di Partai Demokrat yakni M. Nazaruddin. Uang itu disebut-sebut sebagai pelicin dan diterima melalui adik Andi, yaitu Choel Malaranggeng.

Nazaruddin juga menuding kalau uang yang diterima Andi merupakan bagian dari Rp100 miliar yang keluarkan dari kas PT Adhi Karya. Selain Andi, disebut juga Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum ikut mendapat jatah uang panas tersebut.

Meski tudingan Nazaruddin diklaim tanpa dasar, Andi Malaranggeng mengatakan tidak akan berbuat apa-apa kepada mantan koleganya di PD tersebut. Termasuk opsi apakah bakal melakukan gugatan akibat disebut telah menerima uang hingga Rp20 miliar. “Kami serahkan semuanya kepada KPK,” imbuhnya.

Setelah ini, Andi memastikan bakal kooperatif dengan KPK untuk mengungkap kasus Hambalang. Dia mengatakan tahu tentang proyek itu dan siap buka-bukaan. Dia mengaku tidak khawatir karena memang tidak memiliki kaitan apapun dengan proyek senilai Rp 1,5 triliun tersebut.
“Seluruh jajaran Kemenpora siap untuk membantu dan bekerja sama dengan KPK untuk mengusut tuntas kasus ini,” urainya.
Selain Andi, kemarin KPK juga memangil dua orang lain yang dianggap tahu tentang proyek tersebut. Dengan dipanggilnya tiga orang tersebut, berarti KPK menambah panjang daftar terperiksa.

Menurut catatan, sedikitnya sudah 60 orang yang dipanggil untuk dimintai keterangan. Namun, penyelidikan masih belum menunjukkan tanda bakal beranjak menuju penyidikan dan penetapan tersangka. Nah, panjangnya proses penyelidikan itulah yang membuat KPK terkesan kesulitan mencari barang bukti untuk menjerat seseorang.

Menurut Jubir KPK Johan Budi, salah satu alasan kenapa penyelidikan itu sulit meningkat menjadi penyidikan adalah belum ditemukannya dua bukti kuat. Sebab, kasus dugaan korupsi tersebut terungkap bukan melalui peristiwa tertangkap tangan seperti kasus lain. “Tentu (hambatan) mencari dua alat bukti yang cukup,” terangnya.

Oleh sebab itu, dia mengatakan kalau KPK memilih untuk mendalami kasus tersebut. Tidak ada masalah meski yang diperiksa mencapai puluhan orang. Karena memang, hingga saat ini belum ditemukan bukti cukup untuk menaikkan status dari lidik ke sidik. Apalagi, proses pengadaannya sudah berlangsung dua tahun yang lalu.

Saat disinggung kapan Anas Urbaningrum bakal diperiksa, Johan mengatakan belum tahu. Meski sebelumnya KPK telah memanggil istri Anas, Athiyyah Laila, bukan berarti sang suami bakal langsung menyusul diperiksa. “Sesuai ucapan pimpinan KPK, yang bersangkutan memang akan diperiksa. Tapi, tidak tahu kapan,” terangnya.

Pemeriksaan Andi oleh KPK ikut mendapat perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kehadiran salah satu anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid dua itu menjalani pemeriksaan mendapat apresiasi positif. “Suatu  hal  yang patut diapresiasi. Tentu sebagai penjabat negara, pejabat publik, Pak Andi memberikan contoh yang semestinya dilakukan,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha.

Menurutnya, sikap kooperatif tersebut diharapkan bisa membantu penuntasan kasus yang tengah ditangani KPK. “Mudah-mudahan apa yang disampaikan bisa membantu mengungkap atau membawa kelancaran bagi proses hukum yang berjalan,” katanya. “Presiden tentu ingin semua proses hukum berjalan lancar.” (dim/fal)

Putri Imam S Arifin Ditangkap

Ayah Dipenjara, Anak Jualan Sabu

JAKARTA -Resti Destami Arifin (RD) rupanya mengikuti jejak sang ayah, pedangdut Imam S. Arifin. Bukannya di jalur dangdut, tapi justru di jalan narkoba. Direktorat Narkoba Mabes Polri menangkap Resti saat sedang bertransaksi sabu-sabu di Rumah Makan Duta Minang, Jalan Kapuk Raya, Cengkareng, Jakarta Barat Selasa (22/5) lalu.

“RD sedang diperiksa dan langsung ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar kemarin (24/5). Dari tangan Resti, kata Boy, didapatkan barang bukti berupa sabu-sabu 0,24 gram.

Resti yang bernama alias Yeyek atau Lia itu ditangkap setelah polisi melakukan undercover buy alias berpura-pura membeli sabu-sabu dari perempuan 24 tahun tersebut. Polisi dan Resti menyepakati harga Rp500 ribu. Mereka lantas janjian untuk bertemu di Rumah Makan Duta Minang, Ceng kareng, Jakarta Barat. Saat itu, Resti datang dengan membawa barang haram tersebut bersama pacarnya, Priyo Handoko.

Sabu-sabu tersebut dibungkus dalam satu paket plastik kecil dan diselipkan di kotak rokok. Begitu tahu bahwa barang yang dibawa Resti adalah sabu-sabu, polisi langsung meringkus mereka berdua dan dibawa ke kantor Direktorat Narkoba di Cawang. Saat diperiksa itulah penyidik baru mengetahui bahwa Resti adalah putri Imam S Arifin. “Kami sudah beritahukan kepada orangtuanya,” kata Boy.
Resti juga mengaku bahwa barang tersebut didapat dari Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat.

Dia mengaku bahwa selama ini dia bekerja dengan menjual sabu-sabu. Namun, dia membantah memakai barang haram tersebut. “Kemungkinan dia juga memakai,” kata Boy.

Resti mengikuti jejak Arifin yang menjadi pesakitan sabu-sabu. Pelantun Memori Daun Pisang itu bolak balik masuk penjara. Pada 2008 Pengadilan Negeri Medan memvonis dia dua tahun penjara. Arifin hanya menjalani penjara selama 14 bulan kemudian bebas. (aga/jpnn)
Selang dua tahun kemudian, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Imam 4,5 tahun penjara karena kedapatan memiliki sabu-sabu 0,5 gram. Kini di sela-sela masa penahanannya, putrinya ikut tersangkut kasus yang sama dengan dirinya. (aga/jpnn)

Benny K Harman Happy Dirotasi

Benny K Harman mengaku ikhlas dipindahtugaskan ke Komisi VI dari posisi semula Ketua Komisi III DPR. Bagi Benny perpindahan komisi ini adalah penyegaran untuk dirinya.

“Ini soal fraksi Demokrat untuk bisa menciptakan suasana dan kesegaran di Komisi III. Tujuh tahun di situ (Komisi III), capek, saya sendiri sudah bosan. Ini penyegaran politik, i’m really happy,” kata Benny di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (24/5).

Menurutnya duduk menjadi anggota Komisi VI yang membidangi BUMN membuat dirinya kembali bersemangat. Benny akan memfokuskan diri menyorototi korupsi di lingkaran BUMN.

“Saya mengganggap lebih produktif di komisi VI, tentu juga saya harus belajar, industri perdagangan. Selama saya di Komisi III banyak sekali kasus korupsi yang bersumber dari BUMN, korupsi harus dikejar dari hulunya,” imbuh dia. (net)