Home Blog Page 13473

Tokoh Medan Beda Suara

Soal Konser Lady Gaga di Indonesia

Arah gagalnya konser Lady Gaga makin jelas. Ini menyusul sikap Menteri Agama (Kemenag) Suryadharma Ali yang tegas menolak kehadiran artis kontroversial itu. Meski begitu, pro-kontra belum selesai. Termasuk, tanggapan tokoh-tokoh yang ada di Medan.

Sikap resmi Menag sudah dituangkan dalam surat rekomendasi dan sudah diserahkan kepada Kapolri Jendral (Pol) Timur Pradopo. Surat Rekomendasi ditandatangani langsung oleh Suryadharma Ali. “Ya, saya memang sudah memberikan surat rekomendasi kepada Kapolri yang isinya agar Polri tidak memberikan izin penyelenggaraan konser Lady Gaga di Jakarta,” ungkap Suryadharma di Jakarta, Rabu (23/5).

Suryadharma mengatakan, pihaknya tidak peduli dengan adanya kabar bahwa Polri diduga melunak, yang mengarah diberikannya  izin penyelenggaraan konser Lady Gaga di Jakarta. “Saya tetap menolak dan berharap penolakan ini diperhatikan oleh pihak Polri,” tegasnya.

Kontroversi kehadiran Lady Gaga pun disikapi oleh tokoh-tokoh di Medan. Senada dengan Suryadharma, Ketua DPW PPP Sumut Fadly Nurzal Sag pun menyatakan hal yang sama. Bahkan, Fadli lebih keras lagi. “Bila Lady Gaga juga tetap konser di Indonesia maka hancurlah norma agama dan adat budaya Indonesi ini. Soalnya, dia (Lady Gaga-red) merupakan tokoh monster yang tidak patut dicontoh. Kalau di negera luar mungkin bisa diperagaakan, apalagi aada penggemarnya yang bernama little monster,” terang Fadli.

Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Pusat, Prof DR Hj Tutty Alawiyah SA MA saat di Medan pun menyatakan yang sama dengan Fadli. “Lady Gaga itu istilahnya pemuja setan, dan lebih menampilkan kegiatan erotik. Ini sangat kurang bisa menjamin di negara kita, kalau Korea Selatan saja menolak. Saya kira Indonesia jangan ragu-ragu, lebih baik kita menolak konser Lady Gaga,”sebutnya.

Tak berbeda, tanggapan sama disampaikan Ketua DPD Hizbut Tahrir Sumut, Irwan Said Batubara. “Jika konser Lady Gaga tetap dibiarkan, maka secara tidak langsung pemerintah membiarkan tumbuh suburnya dunia kelam hiburan yang penuh dengan aktivitas maksiat seperti mengumbar aurat, berkhalwat dan beragam kemunkaran lainnya. Jadi Hizbut Tahrir mengecam keras pertunjukan Lady Gaga ini,” bebernya.

Penolakan tadi ditentang beberapa kelangan. Misalnya, Muhammad Iqbal, selaku dosen Sosiologi di Unimed. Menurutnya, performance Lady Gaga yang ditakutkan menimbulkan kesan negatif dan pornografi juga bisa diminimalisasi dengan mencoba mengasimilasi atau mengawinkan kedua budaya yakni Barat dan Timur namun tetap berada di bawah standar etika budaya Indonesia. “Seandainya pemerintah memang menganggap ini dapat merusak ideologi Pancasila, kenapa tidak dilarang dari awal. Akan tetapi yang terjadi justru pemerintah tetap dibiarkan kontroversi ini berkembang di masyarakat,”tegasnya.

“Saya rasa gak masalah dengan hadirnya Lady Gaga sebagai pemusik luar negeri di Indonesia. Selama kita melihatnya masih sebatas hiburan dan bukan sebagai idealisme kenapa kehadirannya ini harus ditolak dan diperdebatkan,” timpal Direktur LP3I Medan, Akhwanul Akmal.

Budayawan dari Universitas Sumatera Utara, Irwansyah Umar Harahap berpendapat, penolakan terhadap konser Lady Gaga dikarenakan pemerintah maupun masyarakat tidak paham dengan apa yang disebut sebagai ruang publik.

“Persoalan intinya bukan karena masalah agama. Justru masyarakat dan pemerintah lah yang tidak mengerti yang namanya ruang publik. Ini sebuah kebodohan, yang namanya ruang publik, siapa saja boleh datang untuk melihat konsernya dan bagi yang tidak suka, jangan datang. Kenapa ini sampai dipermasalahkan?” tegasnya.

Untuk itulah, selain ada yang menolak, ada juga yang mendukung konser Lady Gaga di Indonesia. Contohnya, Dekan Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen Medan, Dr Haposan Siallagan SH Mhum. Menurutnya, Indonesia tak harus lagi berpolemik dengan hal-hal yang masih seperti itu. “Kalau saya setuju Lady Gaga itu menggelar konser di Indonesia dimana masyarakat Indonesia sudah cerdas semuanya. Tak hanya itu, hargailah dan hormatilah seniman-seniman itu akan karya mereka karena suatu karya dan seni itu tak mudah untuk mencapainya,” katanya.

Dia pun sangat tak setuju jika Lady Gaga dilarang konser hanya karena pakaian dan salah satu lagunya dinilai tak etis. “Semua kan bisa diatur oleh promotornya mengenai pakaian dan lagunya. Apakah karena lagu dan pakaiannya terus Lady Gaga langsung dicekal? Apakah hanya karena pakaian dan lagu kita terus melarang orang untuk konser?” pungkasnya.

Rafriandi Nasution, sebagai tokoh pemuda berpendapat, kedatangan Lady Gaga seharusnya bukan menjadi permasalahan bagi Indonesia yang merupakan negara Pancasila. “Saya sih fair-fair saja. Lady Gaga atau artis-artis siapapun harusnya tidak menjadi masalah bagi negara kita yang Pancasilais dan punya UU 1945 sebagai filter. Artinya selama dia datang dengan tidak melanggar peraturan yang ada saya pikir tidak seharusnya dipermasalahkan. Kita dalam diri masing-masing kan bisa memilih mana yang bisa diserap ataupun tidak dan hanya menikmati sebatas hiburan,” katanya.

Menurut Rafriandi, Lady Gaga yang hanya sejenak hadir ke Indonesia tidak seharusnya menimbulkan kekhawatiran banyak orang bahwa Lady adalah tokoh yang akan merusak moral bangsa. “Dia kan hanya satu atau dua hari berada di Indonesia. Apa lantas bisa membuat moral orang rusak. Kan tergantung pribadi masing-masing,” tegasnya.(cha/jpnn/omi/ril/mag-11/uma/jon/mag-18)

Lahan

Oleh: Valdesz J. Nainggolan
Kepala Koordinator Liputan Sumut Pos  

AMOK warga yang kecewa berat lantaran gagal bertemu pihak PTPN2 dan BPN untuk menyelesaikan konflik lahan 80 hektare di Lahan Namo Rubejulu, Sei Mencirim, Binjai, ‘memaksa’ saya mengontak seorang kawan aktivis yang concern mengurusi konflik lahan di Sumut Akar masalah di Sei Mencirim masih berputar dari klaim PTPN2 soal konsensi penguasaan lahan hingga 2028. Warga menganggap hak guna usaha (HGU) atas lahan itu oleh PTPN2 sudah habis.

Di mata mereka PTPN2 sudah tak punya hak lagi. Jika mau dihimpun belasan lembar kertas mungkin habis untuk memuat data konflik di Sumut. Dari data yang dihimpun dari berbagai NGO terpaparkan ada 97 kasus lahan di Deliserdang, Langkat, Labuhan Baru, Simalungun, Asahan, Tapsel, Tobasa, dan Dairi. Sekitar 60 persen atau 58 kasus lahan yang berkonflik dengan perkebunan. Sisanya berkonflik dengan perusahaan, TNI/Veteran, dan atas nama kelompok. Tingginya prosentase konflik lahan perkebunan ini membuat siapapun harus menyadari masalah ini bukan soal main-main.

Di lahan PTPN2, dari tahun 2010 hingga Mei 2012, tercatat sudah delapan kali bentrok berdarah. Jika konflik ini terbiarkan terus, saya kok yakin, eskalasinya main hari makin memuncak. Konflik lahan ini sudah terjadi bertahun-tahun tapi tak ada pihak yang memediasi. Pemprovsu juga seperti tak mau tahu! Soal beginian jelas tak ada yang mau mundur. Apa lacur kekerasan terpaksa jadi jalan keluar. Sejarah hak atas lahan-lahan itu memang punya kisah panjang. Lahan PTPN2 yang disoal ini pun punya cerita sendiri.

Lahan yang terbentang sekitar 250.000 hektare di antara Sungai Ular dan Sungai Wampu ini tadinya milik rakyat yang dikuasakan kepada Sultan Deli untuk dikontrak perkebunan Belanda. Deli Maschappiy, namanya. Usia konsensinya 75 tahun. Untuk membuktikan lahan-lahan itu milik rakyat, Deli Maschappiy justru mengizinkan  lahan itu ditanami palawija. ‘’Kalau tak salah tanaman jalur namanya. Itu karena palawija ditanam di jalur-jalur kosong diantara pohon Tembakau,’’ kata sang kawan.

Toh, konsesi ini harus berujung sebelum umurnya habis lantaran Indonesia merdeka pada 1945. Saat itulah rakyat yang tanahnya dikontrak Deli Maschappiy ‘menyerah’ pada kekuasaan negara. Nasionalisasi seluruh perusahaan milik Belanda membuat ratusan ribu hektare lahan perkebunan ini kehilangan ‘tuan asli’-nya. Terbit pula UU Pokok Agraria 1960 yang mengganti seluruh istilah kepemilikan lahan yang dilazimkan Belanda. Maka, lahirlah istilah Hak Milik, Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Guna Usaha (HGU), dan lainnya. Istilah HGU inipun dilekatkan kepada seluruh areal perkebunan di Sumut. ‘’Lahan PTPN2 juga salah satunya,’’ ujar kawan tadi.

Saya jadi teringat tulisan berseri wartawan senior Bersihar Lubis soal PTPN2 ini. Carut-marut soal perburuan lahan PTPN2. Drama kolosal perburuan tanah, dia mengistilahkan. Rakyat biasa, pensiunan PTPN2 atau keturunannya, developer, spekulan dan para ‘calo’ campur-aduk bak laron mengerubuti lahan-lahan itu. Satu lagi, konflik lahan ini juga menjadi ‘ruwet’ manakala BPN yang mengurusi pertanahan tak jeli dan kurang jujur atas status lahan. BPN seringkali sumbernya.

Konflik lahan bukanlah soal main-main. Baiklah kita menjadikan tragedi Mesuji yang ‘berdarah-darah’ sebagai pelajaran berharga. Bagaimanapun konflik ini patut ditinjau dari sisi historis dan sosiologis dengan mempertimbangkan sisi kemanusiaan, seperti haknya kasus tanah adat. Bukan sebatas legal-formal semata. Pemprovsu harus betul-betul peduli. Saya justru berpikir ya, inilah pekerjaan urjen Cagubsu yang sesungguhnya! (*)

Fadel Muhammad jadi Tersangka

Kasus Dana Silpa Rp5,4 Miliar

GORONTALO-Kejaksaan Tinggi Gorontalo menetapkan mantan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad sebagai tersangka korupsin
Fadel tersangkut kasus dana sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) APBD Provinsi Gorontalo 2001 sebesar Rp5,4 miliar. Sampai saat ini, kejaksaan belum memutuskan waktu pemeriksaan atas Fadel.

“Penetapan ini menyusul keputusan Pengadilan Tinggi Gorontalo yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Kota Gorontalo yang memerintah melanjutkan penyidikan atas kasus penggunaan dana silpa Provinsi Gorontalo 2001,” ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo Siswoyo, Rabu (23/5), di Gorontalo.

Siswoyo menambahkan bahwa saat ini pihaknya belum dapat menentukan kapan pemanggilan terhadap Fadel untuk diperiksa sebagai tersangka. Sejauh ini, pihaknya sudah memeriksa empat saksi yang kesemuanya mantan anggota DPRD Provinsi Gorontalo 2001-2006.

Menurut Siswoyo, dana silpa sebanyak Rp5,4 miliar itu  dibagi-bagikan kepada 45 anggota DPRD Provinsi Gorontalo, bukan dikembalikan ke kas daerah. Dasar pembagian uang tersebut adalah keputusan bersama antara Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad dan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Amir Piola Isa.
“Setidaknya, dasar pembagian dana silpa dituangkan dalam peraturan daerah. Tidak cukup hanya kesepakatan bersama antara gubernur dan ketua DPRD,” ujar Siswoyo.

Namun saat dikonfirmasi, Fadel membantah berita itu. Dia mengaku sudah menelepon Kajati Gorontalo Siswoyo. “Saya sudah telepon Kajati, beliau mengatakan tidak ada pernyataan itu, jadi maaf tidak benar itu. Saya sudah bicara langsung dengan Kajati dan beliau bilang tidak benar biar terbantah dengan sendirinya. Saya ingat itu 11 tahun lalu dan Pak Amir P Isa, sudah disidangkan dan tidak ada kerugian negara,” jelas Fadel, melalui pesan pendeknya, kemarin.

Fadel yang juga mantan Menteri Perikanan dan Kelautan mengatakan, kasus tersebut sudah berlangsung lama. Bahkan, di antara pelakunya juga sudah divonis penjara oleh pengadilan.

“Kasus lama Rp5,4 miliar sudah 10 tahun dan ketua DPRD Pak Amir sudah menjalani pengadilan dan sudah ditahan 1,5 tahun,” jelasnya.
Fadel mengaku terganggu dengan adanya pemberitaan tersebut. Namun setelah itu dia merasa tenang. “Ya saya sedikit terganggu tapi setelah bicara dengan Kajati jadi tenang,” katanya. (bbs)

Pasokan Air ke Kualanamu jadi Rebutan

PDAM Tirtanadi Tidak Diberi Izin Pemkab Deliserdang

MEDAN-Pasokkan air untuk Bandara Kualanamu dipastikan masih akan terus terkendala. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdangn
tetap bersikeras dengan tidak memberi izin Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi untuk memasok air ke bandar udara tersebut.

Pemkab Deliserdang berdalih, kawasan bandar udara yang diproyeksikan sebagai bandara internasional pengganti Bandara Polonia tersebut, tidak termasuk dalam kerjasama operasi (KSO) antara PDAM Tirtanadi dengan PDAM Tirtadeli (BUMD milik Pemkab Deliserdang). Penegasan itu dikatakan Kepala Bagian (Kabag) Hukum Pemkab Deliserdang Redwin, di Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi C DPRD Sumut dengan pihak-pihak terkait, di Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol No 5 Medan, Rabu (23/5).

“Dalam KSO PDAM Tirtanadi dan PDAM Tirtadeli, hanya mencakup tiga kawasan yakni Lubukpakam, Batangkuis, dan Tanjungmorawa. Sementara Bandara Kualanamu, merupakan kawasan Beringin, Sekip, dan Pantai Labu. Jadi tidak masuk dalam KSO,” tegasnya.

Redwin kembali menegaskan, pihaknya berseras tidak akan memberikan izin, jika pipa tersebut berada di luar wilayah KSO. “Pemkab Deliserdang memiliki BUMD yang mampu memenuhi sebagian dari kebutuhan air Bandara Kualanamu sehingga seharusnya tidak semua pasokan air berasal dari BUMD milik provinsi,” tegasnya.

Direktur PDAM Tirtanadi Azzam Rizal yang hadir pada RDP itu mengatakan, langkah mereka melakukan nota kesepahaman dengan PT AP II pada 2009 lalu berdasarkan perintah Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) yang ketika itu dijabat Rudolf M Pardede.

Terkait izin, pihaknya mengakui tidak ada mengajukan izin ke Pemkab Deliserdang karena menganggap tidak ada kaitannya dengan Pemkab Deliserdang. Jadi, tambah Azzam, kalau soal izin tak bermasalah, air sudah dapat didistribusikan ke reservoir bandara. Hingga saat ini, dana yang telah dikeluarkan sekitar Rp7 miliar. “Tirtanadi siap menyediakan air bersih untuk kebutuhan Bandara Kualanamu selama 5 tahun, yang dibagi dua tahap,” katanya.

Di tempat yang sama, General Manager (GM) AP II Bandara Polonia Medan Bram Baroto Tjiptadi mengatakan, pihaknya tidak dilibatkan dalam memorandum of understanding (MoU) PT AP II pusat dengan PDAM Tirtanadi maupun PDAM Tirtadeli. Karena itu, katanya, pihaknya tidak bisa memberi tanggapan maupun keputusan terkait hal tersebut.

Sementara, Pemimpin Proyek Bandara Kualanamu Joko Waskito, dalam rapat tersebut mengatakan, pihaknya kembali menjalin MoU dengan PDAM Tirtadeli, mengingat kebutuhan pasokan air yang besar dan perkiraan jumlah penumpang yang lebih banyak.

“Dengan perkiraan, akan ada 120.000 orang setiap hari di Bandara Kualanamu nantinya dan kebutuhan air sekitar 30 liter per detik untuk lima tahun pertama,” terangnya.
Pada kesempatan itu, Joko Waskito menyebutkan, 30 liter yang dimaksud itu akan dipasok masing-masing 15 liter per detik oleh dua PDAM tersebut.

Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut sempat panas. Dan tak satupun membuahkan hasil keputusan. Sehingga, Ketua Komisi C DPRD Sumut Marasal Hutasoit yang memimpin rapat tersebut akhirnya memberikan waktu kepada pihak terkait untuk mencari solusi terbaik.”Mengingat ini juga hanya bisa diputuskan PT AP II Pusat, maka nanti kami akan mempertanyakan hal ini langsung kepada PT AP II Pusat,” ujar politisi PDS itu. (ari)

Pemekaran Daerah Lebih Dominan Kepentingan Politik

Diskusi Otonomi Daerah dan Pemekaran Bersama Afiffudin Lubis

Pascareformasi, geliat pemekaran daerah terus terjadi di Indonesia. Di Sumatera Utara pun demikian. Tak jarang, tuntutan pemekaran mengambil korban jiwa. Hal inilah yang menunjukkan pemerakan dominan karena kepentingan politik.

CHAIRIL HUDA, Medan

Kemarin (23/5), Redaksi Sumut Pos menggelar diskusi bersama mantan Kepala Biro Otonomi Daerah (Otda) Pemprovsu yang juga mantan Pj Wali Kota Medan, Drs H Afiffudin Lubis MSi di Gedung Graha Pena.

Sosok Afiffudin Lubis bagi pegawai negeri sipil (PNS) di Sumut tak awam, namanya terus berkibar. Tak ayal, selama 33 tahun berkarir sebagai PNS, hampir seluruh jabatan sudah dilaluinya. Mulai staf hingga jabatan tertinggi sebagai Pj Wali Kota Medan sebanyak dua kali.

Pria kelahiran Kotanopan 63 tahun silam itu, terkenal piawai dalam konsep tatanan pemerintahan dan otda. Seperti paparannya saat diskusi bersama awak Sumut Pos.

Dia menyebutkan, di Indonesia ada sebanyak 7 Undang-undang tentang pemerintah daerah, diantaranya UU No. 1/1945, Penpres No. 6/1959 dan Penpres No. 5/1960, UU No. 18/1965, UU N0.5/1974, UU No.22/1999 dan UU No. 32/2004. Masing-masing aturan itu beragam pola tata pemerintahan.

Afif menyebutkan, dari semua aturan itu, ada penyempurnaan aturan pada UU No. 32/2004 tentang Pemda. Dalam aturan tersebut, sifatnya sangat kompromistis. Berbeda dengan aturan-aturan sebelumnya ada yang sifatnya sentralistik.

Munculnya aturan Pemda sejak 22/1999, pemekaran daerah mulai banyak disahkan. Bahkan, di Sumut daerah yang paling banyak dimekarkan adalah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Utara (Taput). Bisa dilihat bersama, beberapa daerah produk pemekaran.

Dia menyebutkan, pemekaran daerah bisa dilakukan dengan beragam landasan. Paling utama dilakukan adalah kajian secara objektif, mulai dari pendapatan asli daerah (PAD), dan rasio antara PAD dan dana rutin. Ketiga hal itu penting dipandang, untuk merumuskan dimekarkannya suatu daerah.

“Jadi pemekaran daerah jangan latah, pemekaran daerah jangan dilakukan karena landasan SARA atau lebih menguatkan partisipasi politik lokal,” sebutnya.

Diskusi kian meruncing terkait dengan partisipasi politik lokal penting sebagai penggagas pemekaran. Afif berpendapat, partisipasi politik lokal sifanya penggagas, bukan dalam artian untuk menekan pemekaran. Karena pemekaran daerah dilakukan ketika ada kajian yang jelas dna objektif dari lembaga yang benar-benar melakukan penelitian.

Tanpa adanya kajian, paparnya seperti kondisi yang sering ada, pemekaran daerah dominan terjadi akibat tekanan politik. Bahkan, kajian objektif sering terlupakan. “Sebaiknya pemekaran itu dibuat parameternya, dan dikoordinasikan dengan semua pihak. Bukan lebih dominan kepentingan politik,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, dengan adanya daerah pemekaran maka muncul lagi yang namanya organisasi. Bisa dibayangkan, berapa banyak pejabat eselon II dan III dibutuhkan. “Inilah faktanya,” tegas ayah dua anak dan tiga cucu itu.

Saat disinggung mengenai pemekaran provinsi Sumatera Utara, Afif terang-terangan menegaskan, Provinsi Sumut tak harus dimekarkan. Karena bisa dilihat, ketika ada dua keresidenan pada zaman penjajahan, residen Sumatera Timur dan Tapanuli. Kedua wilayah itu sudah ada ketimpangan dari sisi pembangunan. Hal inilah yang dikhawatirkan terjadi.

Bukan itu saja, dia menyebutkan, ada aturan provinsi dalam memperoleh PAD. Satu diantaranya yakni untuk memungut perolehan pajak kendaraan, bisa dilihat sekarang ini kendaraan terpusat di Kota Medan. Kemudian, dari sisi perolehan pajak air bawah tanah, kebanyakan masih di kota-kota di Sumut.

“Jadi semasih fungsi gubernur itu perwakilan pemerintah pusat dan kepala dearah di Sumut, lebih baik ditiadakan pemekaran Sumut. Dan untuk pemekaran kabupaten/kota harus jelas kajiannya,” sebutnya dalam diskusi yang dihadiri Wakil Pimpinan Umum Sumut Pos Goldian Purba dan Pemred Sumut Pos, Dame Ambarita.

Pada kesempatan itu, Goldian  Purba menyatakan, pemekaran idealnya dilakukan untuk mempercepat pembangunan daerah, tapi di sisi lain penting dilihat geografis wilayahnya. “Masing-masing pemekaran itu punya ide, sehingga pola pelayanan bisa lebih baik,” ujarnya. (*)

Awas Bola Mati

PSMS kedatangan lawan yang tidak ringan pada laga lanjutan Indonesian Super League (ISL) 2011/2012, Sabtu (26/5) mendatang di Stadion Teladan. Arema Indonesia datang sebagai batu sandungan bagi PSMS untuk mengamankan diri dari zona degradasi. Apalagi tim berjuluk Singo Edan itu termasuk pesaing langsung PSMS yang tengah menguntit dengan selisih satu strip di klasemen.

Caretaker Pelatih PSMS, Suharto AD  kini pun mulai memutar otak untuk meracik strategi terbaik meraih poin penuh. Apalagi Suharto melihat lawannya kali ini datang dengan kekuatan yang berbeda. Perombakan skuad besar-besaran dan eksodus beberapa pemain Arema IPL membuat Singo Edan kali ini berbeda dari putaran pertama.

“Arema akan menjadi lawan yang kita waspadai. Mereka kali ini hadir dengan kekuatan yang berbeda. Termasuk kepindahan beberapa pemain Arema IPL. Tapi kita punya keyakinan untuk bisa revans atas kekalahan di putaran I lalu. Apalagi kita butuh poin penuh,” kata Suharto kemarin di sela-sela sesi latihan di Stadion Teladan.

Diakui Suharto ia terus memantau permainan Arema lewat televisi.Satu hal yang dilihatnya menjadi salah satu kekuatan Arema adalah kemampuan set pieces dari bola mati yang kerap menjadi sumber gol Arema. “Memang Arema cukup baik dalam hal set pieces. Tapi kita juga punya trik-trik khusus untuk mengantisipasi hal itu. Setidaknya anak-anak akan cukup waspada jika melakukan pelanggaran ataupun tendangan sudut,” tambahnya.

Selain itu satu pembeda Arema di putaran kedua ini adalah kehadiran Herman Dzumafo yang hijrah dari PSPS Pekanbaru. “Sebenarnya semuanya patut diwaspadai. Tapi Dzumafo salah satunya. Ia punya naluri gol yang tinggi. Kualitas dan skillnya juga bagus,” tandas Suharto.

Sebelumnya para pemain yang sempat enggan latihan akhirnya mau kembali berlatih. Manajemen akhirnya memberikan pinjaman yang dijanjikan kemarin. Suharto pun sedikit lega dengan kondisi ini. Namun ia punya tugas berat untuk mengembalikan motivasi pemain.
Sementara itu skuad Arema Indonesia telah tiba di Medan sejak Selasa (22/5) lalu. Sebelumnya mereka melawat ke markas PSAP Sigli dan sukses membawa pulang satu angka dengan menahan imbang 1-1. (mag-18)

Cusell Menghilang Manajer tak Tahu

MEDAN- Calon pemain baru PSMS, Tonie Cusell dikabarkan menghilang dari PSMS. Ia tidak terlihat pada sesi latihan PSMS yang kembali digelar Rabu (23/5) sore kemarin. Tidak ada pemberitahuan kepada tim pelatih. Karena itu pemain berusia 29 tahun itu dispekulasikan kabur dari PSMS.

Keberadaan Tonie Cusell yang sudah resmi berkostum PSMS ternyata tidak diketahui klub lamanya di Belanda, Gelders Veenendaalse Voetbal Vereniging (GVVV). GVVV menganggap Tonie hanya tengah liburan dan tidak mengetahui jika ia mengikat kontrak dengan PSMS, salah satu peserta Indonesian Super League (ISL).

Tidak diketahui alasan Tonie meninggalkan Hotel Danau Toba, tempat dia menginap selama di Medan. Sebelumnya ia sempat mengirimkan pesan singkat kepada salah seorang pemain PSMS yang enggan disebutkan namanya. Isi pesan itu seolah berpamitan.
“Dapatkah kamu beritahu kepada pelatih kalau saya tidak ikut latihan hari ini. Dan saya terbang. Terima kasih. Tapi satu hal, saya mendukung tim ini 100 persen dan tidak ingin mencampuri masalah yang ada,” tulisnya dalam pesan tersebut.

Tonie sendiri saat coba dihubungi lewat telepon selularnya tidak memberikan balasan.
Namun Manajemen PSMS saat dikonfirmasi tidak tahu menahu soal urusan pemain naturalisasi asal Belanda itu dengan klub lamanya.

Manajer PSMS, Benny Tomasoa memberi pernyataan berbeda. Dia bilang agen sang pemain izin kepadanya bahwa kliennya sedang mengurus administrasi.  Padahal sebelumnya Benny mengatakan urusan administrasi Tonie sudah tidak ada lagi masalah dan pemain yang pernah merumput bersama Vittese Arnhem itu sudah siap diturunkan. Lantas urusan administrasi apa lagi? Anehnya lagi Benny tak bisa memastikan apakah Tonie akan kembali ke Medan atau tidak.

Sebelumnya Benny mengatakan manajemen tidak tahu menahu soal urusan Tonie dengan klub lamanya. Manajer berdarah Ambon ini mengatakan Tonie merupakan pemain yang diberikan Badan Liga Indonesia melalui Iman Arif.

“Urusan Tonie dengan klub lamanya yang ngurus Pak Iman Arif dan pihak Pelita Jaya. Kami manajemen tidak tahu menahu soal klub lamanya. Kami hanya diberitahu pemain ini sudah siap untuk main di PSMS,” ujar Benny.

Bahkan disebutkan Benny, Tonie sudah meneken kontrakselama tiga tahun dengan PSMS. “Dia sudah teken kontrak yang tidak sebentar. Tiga tahun dia kontrak disini,” tandasnya.

Tonie sebelumnya tiba di Medan tanggal 18 Mei lalu. Ia sempat menjalani dua sesi latihan namun PSMS belum sempat menurunkannya pada laga kompetisi ISL.

Direktur Marketing Pelita Jaya, Iman Arif yang dihubungi terpisah menjelaskan bahwa Tonie Cusell akan tetap bermain di PSMS. Arif bilang dokumen Tonie di Liga Indonesia mesti selesai dalam waktu dekat. “Dia juga mesti pamit dari klub lamanya untuk meminta surat pindah,” kata Iman.  (mag-18)

Mental Juara Berbicara

Kartur v Regpac di Final Jateng

SEMARANG- Tim basket Kartur, sebutan SMA Karanturi Semarang sukses melakukan back to back champion di Honda Development Basketball League  (DBL) 2012 Central Java Series-North Region. Kemarin (23/5) tim putra dan putri Kartur kembali mengawinkan gelar juara setelah mengalahkan Tri Tunggal, sebutan SMA Kristen Tri Tunggal Semarang di babak final.

Di laga final putri, Kartur memastikan diri menjadi juara setelah mengalahkan Tri Tunggal dengan skor 54-43. Sementara di partai final putra, tim basket kartur sempat dipaksa bekerja ekstra keras sebelum akhirnya mengakhiri perlawanan Tri Tunggal dengan skor 62-48.

Hasil tersebut mengantarkan Kartur mempertahankan gelar juara putra dan putri Honda DBL 2012 Central Java Series-North. Jika mampu menang melawan tim putra dan putri Regpac, sebutan SMA Regina Pacis Solo di final party Honda DBL 2012 Central Java Series pada sabtu (26/5) mendatang di Knight Stadium Semarang.

Kartur akan menjadi tim pertama di Semarang yang mampu mengawinkan gelar juara putra dan putri Honda DBL seri Jawa Tengah (Jateng) selama tiga kali. Kartur kali pertama mengawinkan gelar juara Honda DBL seri Jateng pada tahun 2008, lalu kembali menjadi champion pada tahun 2011.
Keberhasilan mempertahankan gelar juara putra dan putri membuat Johanes Didik Armanto, pelatih Kartur merasa lega. Namun Johanes tak sepenuhnya puas dengan penampilan para pemainnya di laga final.

Menurutnya, beberapa kali para pemainnya kehilangan konsentrasi ketika pertandingan. Terutama pada kuarter-kuarter awal. Beruntung mental juara yang dimiliki anak-anak Kartur mampu membuat mereka berbalik unggul dan keluar sebagai pemenang.

“Yang jelas saya sangat bersyukur atas hasil ini. Di sisa waktu yang ada, saya akan melakukan beberapa evaluasi untuk anak-anak, khususnya fokus mereka ketika bertanding. Beberapa kali mereka sempat blank ketika mendapat pressure lawan,” ucap Johanes.
Sementara itu pelatih Tri Tunggal, Xaverius Wiwid menyesalkan hasil buruk yang diterima anak asuhnya di partai pamungkas. Padahal musim kompetisi tahun ini menjadi peluang terbaik mereka untuk mengawinkan gelar juara north region..

“Sebenarnya di kuarter-kuarter awal permainan anak-anak sudah bagus. Bahkan kami sempat leading atas lawan. Namun rotasi pemain yang saya lakukan tidak berjalan mulus. Efeknya, para pemain starter jadi kehabisan tenaga di kuarter ketiga dan keempat,” terang Xaverius.

Sementara itu laga puncak Honda DBL 2012 Central Java Series-North Region di Knight Stadium kemarin benar-benar menjadi pusat perhatian para pecinta basket di Kota Semarang. Lebih dari 3.000 penonton bergantian menyaksikkan laga panas antara Kartur dan Tri Tunggal, termasuk ketua umum Pengprov Perbasi Jateng, Bambang Wuragil.

“Kompetisi sekelas Honda DBL harus terus berlangsung dan berkembang di Jateng. Sebab ajang tersebut mampu menumbuhkan pembinaan bola basket di Jateng,” kata Bambang.

Setelah menyelesaikan laga final north region, Honda DBL 2012 Central Java Series akan melangsung laga final party pada Sabtu (26/5) mendatang. Laga final akan mempertemukan juara putra dan putri south region, Regpac melawan Kartur, champion putra dan putri north. Final akan berlangsung di Knight Stadium Semarang.(bas/jpnn)

Prestasi Terburuk

Tim Thomas Indonesia Gagal ke Semifinal

WUHAN- Lolos ke semifinal dan final sudah tradisi bagi tim Thomas Indonesia. Tapi, tradisi itu patah pada 2012.
Itu setelah Merah Putih menyerah 2-3 dari Jepang pada babak perempat final Piala Thomas yang dilaksanakan di Wuhan Sports Gymnasium Center, Wuhan, Tiongkok, kemarin (23/5). Kekalahan Dionysius Hayom Rumbaka 14-21, 19-21 dari tunggal ketiga Jepang Takuma Ueda membuat Indonesia gagal menantang Tiongkok pada babak semifinal.

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin di lapangan. Tapi, lawan berhasil mendikte permainan saya dan terus menekan dengan memainkan bola-bola bawah,” kata Hayom setelah pertandingan.

Dia mengatakan sudah mengerahkan semua kemampuan untuk bisa membawa Indonesia lolos ke semifinal. Sayang, usahanya belum membuahkan hasil.
“Istilahnya, kalau memang harus mendapat kartu kuning pun, saya sudah menempuh cara itu,” sambung Hayom.
Kekalahan Hayom membuat kepala semua pebulu tangkis dan ofisial Indonesia tertunduk lesu. Sebelum partai Hayom versus Takuma Ueda, Indonesia dan Jepang berbagi angka 2-2.

Poin Indonesia disumbangkan tunggal pertama Simon Santoso yang menang atas Sho Sasaki dua game langsung 22-20, 21-14. Satu poin lainnya lahir dari ganda kedua Indonesia M Ahsan/Alvent Yulianto yang sukses menumbangkan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-17, 21-13.

Sementara, dua poin Jepang disumbangkan tunggal kedua Kenichi Tago yang menang mudah atas Taufik Hidayat 21-12, 21-17. Ganda pertama Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan juga gagal menyumbangkan poin setelah dibuat babak belur oleh Noriyasu Hirata/Hirokatsu Hashimoto 16-21, 18-21.

Manajer tim Thomas-Uber Indonesia M. Feriansyah mengatakan, faktor utama kekalahan timnya adalah kelelahan para pebulu tangkis. Kondisi tersebut diperparah dengan kinerja panitia kejuaraan yang jauh dari kata profesional.
“Hasil drawing saja baru selesai jam satu malam, sementara kami diharuskan memberikan line up ke panitia jam tujuh pagi. Ini yang membuat semuanya berlangsung tergesa-gesa,” keluhnya.

Feriansyah mengakui, Taufik Hidayat dkk telah menunjukkan perjuangan maksimal untuk tanah air. “Ini adalah sebuah kompetisi. Menang dan kalah itu adalah sesuatu yang lumrah,” ucapnya.
Indonesia kali terakhir menjadi juara Piala Thomas pada 2002. Setelah itu, pencapaian paling tinggi adalah runner-up pada 2010. (dik/c2/diq/jpnn)

Disporasu Jaring Atlet PPLP Sumut

MEDAN-Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) cq Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara (Dispora Sumut) kembali melakukan tes bagi calon atlet baru Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumatera Utara.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga(Kadispora) Sumut Ristanto SpN selaku Pembina PPLP Sumut, Rabu (23/5), menjelaskan pelaksanaan tes akan digelar 24-27 Mei di Asrama PPLP Sumut, Jl Sekolah Pembangunan Medan Sunggal.
Ristanto didampingi Ketua Penjaringan Atlet PPLP Sumut 2012, Drs Darwis Siregar mengatakan, pelaksanaan tes merupakan salah satu tahapan yang harus dilewati calon siswa atau atlet PPLP Sumut.

Dijelaskan, PPLP Sumut yang sudah melahirkan atlet berprestasi baik tingkat nasional maupun internasional membina tujuh cabang, yakni atletik, gulat, panahan, pencak silat, sepakbola, karate, dan sepak takraw. “Kita akan terus berupaya pendidikan di PPLP Sumut agar lebih bermutu.Karena mereka inilah yang akan membawa nama baik Sumut kedepannya,” ujar Ristanto.

PPLP Sumut akan menjaring 24 orang atlet untuk dibina, di antaranya cabor gulat 2,Karate 1,panahan 4, bolakaki 8, pencaksilat 4, Takraw 2 , Atketik 3.
“Siswa yang sudah mendaftar itulah nantinya yang akan diikutkan dalam tes,” jelasnya. Mengenai materi tes, Ketua Penjaringan Atlet PPLP Sumut 2012, Drs Darwis Siregar memaparkan peserta akan mengikuti test , antara lain, test kecabangan (cabor) yang dilaksanakan di Asrama PPLP Sumut (25/5), test fisik (kemampuan) di Universitas negeri Medan (Unimed) (26/5) serta tes kesehatan dan pshicotest di SMA Negeri 15 Medan (27 Mei).  (jun)