Home Blog Page 13478

Hanya Satu Lampu Jalan yang Hidup di Gang Suka Murni

085760893xxx
Yth Pemko Medan. Tolong disampaikan kepada dinas terkait bahwasanya lampu jalan di Gang Suka Murni Kelurahan Suka Maju banyak yang padam. Dari belasan lampu yang ada hanya satu yang hidup. Gang ini posisinya di seberang Jalan Garu 1. Mohon segera diperbaiki karena rawan kejahatan. Terima kasih.

Akan Segera Dibenahi
Terima kasih atas informasinya. Kami akan menindaklanjuti laporan ini, dan sesegera mungkin mengirimkan anggota untuk melakukan perbaikan terhadap lampu yang padam tersebut. Kami juga akan segera membenahi dan memastikan apa yang menyebabkan hal itu terjadi.

Erwin Lubis
Kadis Pertamanan Kota Medan

Jalan Rusak Susahkan Warga

081361605xxx
Kepada Yth Pemkab Deliserdang. Tolonglah Bapak Bupati Deliserdang manfaatkan dana pajak yang dikutip tiap tahun untuk memperbaiki Jalan Setia Indah dan Jalan Setia Bhakti Komplek Sri Gunting Deliserdang Sunggal Kanan, Kecamatan Sunggal. Jalan yang rusak ini sangat menyusahkan warga yang melintas setiap hari sebagai jalan alternatif dari kemacetan di Kampung Lalang. Terima kasih.

Akan Dilihat Skala Prioritasnya
Terima kasih. Untuk perbaikan jalan, usulan dapat disampaikan melalui lurah yang akan melanjutkan ke kecamatan. Selanjutnya pihak kecamatan mengusulkan ke Pemkab Deliserdang untuk kemudian dilihat skala prioritasnya.

Umar Sitorus
Kabid Humas Dinas Infokom Deliserdang

Menyoal Negara Importir

Oleh:Stevan Ivana Manihuruk

Berbicara masalah impor di negeri ini memang sangat ironis. Bagaimana tidak? Negara yang memiliki kekayaan alam melimpah dan tanah yang subur ternyata masih harus mengimpor berbagai komoditas pangan untuk sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu contoh misalnya garam.

Sebagai sebuah negara kepulauan, Indonesia ternyata tidak mandiri dalam memproduksi garam. Untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri yang mencapai 3 juta ton, lebih dari separuhnya yakni 1,8 juta ton ternyata masih harus diimpor dari negara lain. Saat ini garam selain untuk konsumsi rumah tangga (24 persen), juga digunakan untuk bahan baku industri plastik (50 persen), bahan baku industri kosmetik dan cairan infus (16 persen), pengeboran minyak (4 persen), dan industri aneka pangan.

Bukankah ini sangat ironis? Indonesia jelas-jelas memiliki hampir semua potensi untuk bisa menjadi pengekspor atau minimal bisa memenuhi kebutuhan garam di negeri ini. Faktanya, Indonesia memiliki sekitar 17.480 pulau dengan garis pantai yang sampai mencapai 95.181 km. Ditambah lagi sebagai negara maritim, Indonesia jelas kaya akan sumber daya kelautan. Sehingga urusan bahan baku atau bahan tambahan untuk komoditi strategisnya yakni garam konsumsi dan industri, seharusnya bukan masalah.

Namun (lagi-lagi) sayangnya, fakta yang ada membuat kita harus mengelus dada. Menurut data yang dikutip majalah Agro Indonesia, selama tahun 2010, Indonesia hanya mampu memproduksi garam sebesar 30.600 ton. Jumlah yang sangat jauh merosot atau hanya 2 persen dari total produksi garam Indonesia tahun 2009 yang mencapai 1,2 juta ton.

Maka, demi memenuhi kebutuhan garam nasional yang menurut data Kementerian Perindustrian sebanyak 3 juta ton pada 2010 dimana 660 ribu ton diantaranya untuk konsumsi rumah tangga dan sisanya untuk keperluan aneka industri, maka mau tidak mau pemerintah harus membuka keran impor. Pemerintah berdalih, faktor perubahan cuaca merupakan penyebab hancurnya produksi garam nasional tahun 2010 lalu.

Jika bicara mengenai impor, sebenarnya masih banyak lagi jenis komoditas (khususnya pangan) yang secara rutin selalu kita impor dari negara lain. Sebut saja beras, yang meski dalam beberapa waktu belakangan ini selalu diklaim telah meningkat jumlah produksinya, namun fakta yang ada justru menunjukkan kita masih harus melakukan impor beras dari negara lain.

Beberapa saat setelah laporan Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyebutkan terjadi kenaikan produksi beras di tahun 2010 lalu dipublikasikan, pemerintah ternyata masih harus mengeluarkan izin impor sebesar 1,5 juta ton demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Demikian halnya dengan daging. Meski sudah gembar-gembor akan mengupayakan negara kita bisa swasembada daging, namun faktanya hingga kini pun kita masih harus impor. Yang lebih parah lagi, proses impor itu pun menjadi kisruh serta menimbulkan masalah karena kesimpangsiuran data jumlah daging yang diimpor.

Untuk tahun 2009 lalu misalnya, BPS mencatat impor daging sapi adalah sekitar 110.00 ton dan impor sapi bakalan mencapai 765.000 ekor. Anehnya, pihak Kementan hanya mencatat 63.000 ton. Sayang sekali, kejadian serupa pun berulang lagi pada tahun 2010. Ditengarai, proses impor tersebut telah dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan.

Kalau harus didaftarkan lebih lanjut, masih ada beberapa jenis komoditas pangan di negeri ini yang untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, secara rutin (masih) harus kita impor dari negara lain sebut saja gula, kentang, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain-lain.

Terkait kedaulata Secepatnya, pemerintah harus segera memikirkan upaya-upaya agar bangsa ini bisa segera melepaskan diri dari beban ketergantungan impor. Pasalnya, bangsa yang memiliki ketergantungan sangat besar terhadap komoditas impor menunjukkan bahwa bangsa tersebut kurang memiliki kedaulatan sendiri sebagai suatu bangsa.

Apalagi, negara kita ini (sesungguhnya)  dianugerahkan Tuhan banyak potensi yang jika bisa dijaga dan dikelola dengan baik, (setidaknya) masih sangat cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri. Persoalannya saat ini, SDA yang ada tidak dikelola dengan baik.

Ambil contoh terkait polemik harga BBM saat ini. Logika sederhananya, kalau saja Indonesia mampu mengoptimalkan potensi-potensi minyak yang ada di negeri ini (tidak diserahkan ke tangan asing), tentunya bangsa ini tidak perlu kuatir dengan gejolak melonjaknya harga minyak mentah dunia.

Sejarah sudah membuktikan. Indonesia merupakan negara yang kandungan minyaknya paling awal dieksploitasi secara komersial (sejak tahun 1885), bahkan lebih dahulu dari kebanyakan negara di Timur Tengah. Indonesia juga menjadi saksi sejarah perkembangan awal Royal Dutch (Shell), perusahaan yang kemudian tumbuh menjadi raksasa minyak di dunia.

Wilayah Indonesia adalah sumber awal surplus ekonomi yang membuat perusahaan tersebut berkembang secara pesat di penghujung abad ke 19. Bahkan pada tahun 1974-1982, Indonesia sendiri pernah mengenal istilah periode “oil boom” yaitu periode melimpahnya uang negara sebagai akibat naiknya harga minyak dan gas di pasar internasional.

Maka, yang terjadi hari ini benar-benar menjadi sebuah ironi. Ketika perusahaan-perusahaan besar asing masih bisa terus meraup keuntungan besar dari usaha mengeruk sumber-sumber minyak di perut bumi pertiwi, bangsa kita sendiri justru harus kesulitan mencari minyak impor untuk kebutuhan dalam negeri.

Dan konsekuensinya, Indonesia pun harus rela “didikte” pasar internasional yang menetapkan besaran harga minyak dunia. Ketika harga minyak dunia naik, pemerintah panik dan mulai menggulirkan rencana penghematan subsidi dengan jalan menaikkan harga eceran BBM bersubsidi. Ini yang kemudian ditentang dengan hebat oleh banyak kalangan dengan cara melakukan aksi turun ke jalan.

Semoga saja kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Perlu upaya-upaya nyata agar bangsa ini bisa segera bebas dari belenggu impor. Pemerintah harus memikirkan sekaligus melakukan langkah-langkah nyata untuk menyelamatkan sekaligus meningkatkan produksi dalam negeri.
Bangsa ini masih memiliki banyak potensi. Tinggal bagaimana pemerintah bisa memimpin dan menggerakkan seluruh komponen bangsa untuk turut serta dalam porsi masing-masing mendukung upaya mewujudkan kemandirian bangsa Indonesia. Salah satu caranya dengan melepaskan label “negara importir”.

Kita tidak rela bangsa ini terus-menerus “didikte” oleh negara lain. Bangsa ini harus mampu berdiri dengan kepala tegak sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat. Semoga. (*)

Penulis adalah
Alumnus FISIPOL USU Bekerja di BPDAS Batanghari Jambi

Jalan Sei Mencirim Rusak Parah

08192188xxx
Yth Bapak Bupati Deliserdang, Bapak Kadis PU. Tolong perbaiki Jalan Sei Mencirim Kecamatan Medan Krio Kabupaten Deliserdang. Jalannya sudah sangat rusak parah, lubang besar, pasir dan batu-batu berserakan di jalan. Sangat membahayakan pengendara. Sementara di sana lagi banyak dibangun perumahan. Kalau akses jalannya bagus, masyarakat bertambah banyak. Mungkin Sei Mencirim Medan Krio akan semakin berkembang. Terima kasih. Sumut Pos sukses selalu.

Koordinasikan dengan Kecamatan
Terima kasih informasinya. Mengenai hal ini, bisa dilaporkan langsung ke pihak kecamatan. Untuk itu warga bisa langsung berkoordinasi dengan pihak kecamatan agar diusulkan ke Pemerintah Kabupaten Deliserdang. Terima kasih.

Umar Sitorus
Kabid Humas Dinas Infokom Deliserdang

IAIN Ganti Nama jadi UIN

MEDAN- Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara  (IAIN-SU) segera berganti nama menjadi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU). Proses pergantiannya sedang persiapan.

Demikian dikatakan Rektor IAIN Sumut Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam acara wisuda ke 56 IAIN Sumut, di Kampus II IAIN di Jalan Wilem Iskandar, Medan, Selasa (22/5).

Fadhil meminta, agar agenda perubahan menjadi universitas ini mendapat dukungan penuh dari berbagai kalangan baik pemerintah maupun swasta serta dewan penyantun, alumni dan masyarakat luas. Kemudian, IAIN SU sekarang ini tengah menyiapkan berbagai fasilitas dengan melakukan pembenahan terhadap Kampus Sutomo, sementara kampus Helvetia dan Tuntungan yang saat ini dalam proses pengembangan.

Ahmad mengakui bahwa IAIN selama ini banyak menerima berbagai bantuan baik dari Pemerintah Provinsi Sumut, Pemko Medan maupun dari Pemkab Deli Serdang. Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang hadir pada kesempatan itu, perubahan IAIN menjadi UIN akan mendapat dukungan sepenuhnya dari Pemprovsu karena akan memberi dampak positif terhadap kualitas layanan pendidikan yang diberikan. (ari)

IAIN Lepas 745 Lulusan ke Masyarakat

MEDAN-Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara, Prof Dr Nur A Fadhil Lubis MA, mengaku, jika IAIN akan terus berupaya menjadikan dirinya sebagai pusat keunggulan atau center of excellence bagi pengkajian, pengembangan dan penerapan ilmu-ilmu keislaman pada tingkat nasional dan regional.

“Sebagai lembaga pendidikan yang berangkat dari nilai-nilai keislaman, kampus ini berjuang semaksimal mungkin untuk memberikan pencerahan kepada mesyarakat ke arah yang lebih baik dan bermartabat. Sehingga menjadikan posisi IAIN Sumut memiliki peran signifikan secara bersama-sama dengan berbagai pihak mengatasi masalah yang tengah dihadapi,”ujar Nur A Fadhil, pasca melantik 745 mahasiswa menjadi sarjana, magister dan doktor dalam wisuda sarjana ke 56,  di Gedung Aula IAIN Jalan Willem Iskandar Medan, Selasa (22/5).

Menurutnya, sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam yang mendapatkan bantuan pembiayaan dari Islamic Developmen Bank (IDB), terus berupaya  merealisasikan komitmen perubahan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut.(uma)

TRTB Suruh Bongkar Bangunan City Check In

MEDAN-Terminal City Check In yang terletak di lokasi Stasiun Besar Kereta Api Medan ternyata termasuk dalam jalur hijau. Karenanya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara (Sumut) harus mengajukan surat permohonan perubahan peruntukan terlebih dahulu.
Sedangkan terhadap bangunan yang telah berdiri saat ini, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) Medan sudah melayangkan surat pemberhentian dan pembongkaran sendiri terhadap bangunan tersebut.

Kepala Dinas TRTB, Syampurno Pohan mengatakan, pembangunan City Chek In harus memiliki surat izin mendirikan bangunan (SIMB). Namun, berhubung lokasi bangunan tersebut termasuk dalam jalur hijau, maka PT KAI harus mengurus perubahan peruntukan terlebih dahulu.
“Kawasan itu termasuk jalur hijau, bukan warung kopi seperti yang disebutkan anggota sebelumnya. Jadi, agar bangunan itu berdiri tanpa menyalahi aturan, KAI harus mengurus izin perubahan peruntukan terlebih dahulu,” kata Syampurno di kantor DPRD Medan, Selasa (22/5).

Dikatakannya, pihaknya tidak akan mengeluarkan izin apapun terhadap bangunan yang menyalahi aturan walaupun dibutuhkan untuk fasilitas publik.  “Bangunan ibadah bahkan kantor pemerintah tetap harus mengurus izin terlebih dahulu. Seharusnya PT KAI taat hukum dengan mengikuti aturan berlaku, bukan asal bangun saja,” tegasnya.

Sedangkan terhadap bangunan yang sudah berdiri lebih kurang 30 persen, Syampurno mengatakan pihaknya sudah melayangkan surat instruksi penghentian pembangunan termasuk surat merah sebagai tindaklanjut yaitu perintah pembongkaran sendiri.(adl)

Kapolresta: Tetap Diproses Secara Hukum

Polisi Koboy Segera Diserahkan ke Propam Poldasu

MEDAN-Kalau tak ada aral melintang, berkas Briptu Iiq Permana akan dilimpahkan ke Poldasu dalam pekan ini.
“Minggu-minggu ini akan kita limpahkan Bidkum Polda Sumut,” ujar Kasi Propam Polresta Medan, AKP Benno Sidabutar.
Benno juga menuturkan, saat ini Propam tengah melakukan perampungan berkas pemeriksaan yang dilakukan terhadap Iiq. “Ini lagi mau kita rampungkan,” kata Benno.

Meski tak merinci pasti kapan akan dilimpahkan, namun Benno mengisyaratkan dalam pekan ini berkas pemeriksaan terhadap oknum polisi koboy tersebut akan dilimpahkan dalam sepekan ini ke Bidkum Poldasu.
Dari Bidkum Poldasu, Propam akan menerima pendapat hukum (PH) sebagai langkah selanjutnya proses terhadap Iiq.
Apa sanksinya? “

Pelanggaran disiplin, bukan pelanggaran kode etik. Kalau sanksinya itu tergantung pimpinan sidang,” terangnya.
Sementara Kapolresta Medan, Kombes Pol Monang Situmorang mengaku, meskipun keduanya sudah berdamai, anak buahnya itu tetap diproses sesuai dengan hukum.”Ungkap Monang.

Iiq Permana dipastikan menjadi tersangka terbukti telah melakukan penganiayaan terhadap Sugito (55), dijerat Pasal 351 KUHP dengan ancaman lima tahun penjara.(gus)

Kecelakaan Sukhoi Akibat Human Error

JAKARTA – Dua minggu setelah kejadian naas di Gunung Salak terjadi, keluarga baru bisa memakamkan korban Sukhoi Super Jet (SSJ) 100. Kemarin, seluruh jenazah secara resmi diserahkan dari pemerintah kepada keluarga korban di landasan pacu terminal kedatangan Bandara Halim Perdanakusuma.

Sebanyak 45 peti jenazah berwarna cokelat tua itu disusun rapi berjajar dengan bunga dan foto semasa hidup para korban. Termasuk kru pesawat asal Rusia yakni pilot Alexander Nikolaevich Yablontsev, dan tujuh rekannya. Persis didapan jajaran peti tersebut ada sebuah tenda yang berisi keluarga korban.

Saat melihat peti-peti tersebut, tidak sedikit anggota keluarga yang kembali bersedih. Memorinya kembali terusik. Ya, di Bandara Halim Perdanakusuma itulah awal tragedi joy flight bermula. Dua minggu yang lalu, di hari yang sama Rabu (9/5) pabrikan SSJ 100 mengajak demo terbang pesawat baru.

Memori itu pula yang membuat seorang bocah menangis sejadi-jadinya di depan peti jenazah Faizal Ahmad, dari Indo Asia. Berulang kali dia merengek ingin melihat sang ayah. Namun, Nia Ahmad, ibunya berusaha untuk menenangkan. “Kesel sama pilotnya!,” teriaknya. “Sudah, nak. Sudah,” balas ibunya sambil memeluk.

Pemandangan memilukan itu lantas membuat kerabat Nia untuk ikut menenangkan. Setelah itu, Nia terlihat berbincang dengan anaknya untuk memberikan pengertian. Berdasar pantauan Jawa Pos, air mata juga masih keluar dari beberapa keluarga lainnya. Bahkan, ada seorang ibu-ibu yang menangis dari sebuah kursi roda.

Setelah itu, tepat pukul 10.00 WIB upacara penyerahan jenazah mulai dilakukang. Dipimpin langsung oleh Menko Kesra Agung Laksono, terlihat juga Menteri Perhubungan (Menhub) EE Mangindaan yang sebelumnya menerima jenazah dari Tim Disaster Victim Identivication (DVI) Mabes Polri. “Saya mengucapkan duka cita, takdir memaksa kita kehilangan putra-putri terbaik bangsa,” ujarnya.

Menhub juga menjelaskan kepada keluarga bahwa tim pencari sudah bekerja semaksimal mungkin. Dia berharap keluarga bisa mengerti betapa sulitnya medan yang harus ditempuh tim pencari. Maklum, seluruh jenazah yang berhasil di evakuasi tidak utuh. Bahkan, menurut tim DVI tidak ada yang mencapai 50 persen.

Pidato Mangindaan diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada seluruh tim yang terlibat dalam pencarian, evakuasi, dan identifikasi.
Terpisah, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov memastikan setelah ini hak keluarga korban tentang asuransi bakal dibayar.

Tidak hanya masalah asuransi, Ivanov juga menegaskan kalau pesawat yang diproduksi negaranya tetap terbaik. Bahkan, dia mengklaim kalau kejadian di Gunung Salak bukan disebabkan oleh masalah teknikal pessawat. (dim/ken)

Anak Tanya Lady Gaga

Puti Guntur Soekarnoputri

RENCANA konser Lady Gaga yang masih kontroversial juga memusingkan politikus PDIP Puti Guntur Soekarnoputri. Sebagai anggota Komisi X DPR, dia sudah terbiasa mencecar sejumlah menteri yang menjadi mitra kerjanya dengan pertanyaan serta kritik.

Tapi, dalam urusan Lady Gaga, ganti Puti yang harus repot menjawab pertanyaan dari dua buah hatinya. “Anak saya juga heboh. Tiap hari nanya jadi atau nggak konsernya. Kebanyakan penggemar Lady Gaga memang ABG (anak baru gede, Red),” katanya.

Dia menyampaikan, di tengah era globalisasi seperti sekarang, memang tak mudah menahan arus informasi. Meski dilarang, publik masih bisa mengakses melalui teknologi internet. Karena itu, dia menyatakan tidak terlalu mempersoalkan naik panggungnya Lady Gaga di Indonesia.

Toh, keponakan Megawati itu, mengatakan, konser Lady Gaga juga memiliki sisi positif. Misalnya, menggerakkan semangat industri kreatif. Secara tidak langsung, Lady Gaga juga menjadi promosi Indonesia ke luar negeri. (nw/jpnn)