Home Blog Page 13528

PT Sorikmas Pinjam Pakai Lahan 2.500 Ha

MEDAN-Perusahaan tambang emas PT Sorikmas Mining (selanjutnya disebut Sorikmas), akan memohon izin pinjam pakai untuk eksploitasi setiap endapan mineral yang ditemukan di wilayah pertambangan di Penyabungan Mandailing Natal sekitar 2.500 hektare. Permohonan izin tersebut telah disampaikan kepada Departemen Kehutanan RI.

“Dalam hal daerah penambangan yang mungkin akan kami tempati di masa depan, ukuran areal rata-rata sebuah tambang emas secara langsung hanya akan berdampak pada kurang dari 800 hektar lahan. Dan jika termasuk ‘zona aman’ di sekitar lubang tambang —yang sebenarnya beserta jalan akses ke daerah-daerah penambangan— maka total area akan kami mohonkan izin pinjam pakai adalah sekitar 2.500 hektar’e,” kata Dirut PT Sorikmas Mining, Paul Wilis, melalui Government & Media Relations Superintendent, Nurul Fazrie, dalam siaran persnya yang diterima Sumut Pos, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, berdasarkan pengalaman industri pertambangan emas sedunia, luas maksimum wilayah Sorikmas yang berpotensi untuk berdampak langsung kurang dari 7.500 hektare. “Dibandingkan dengan ratusan ribu hektar hutan yang telah terkena dampak kegiatan pembalakan liar di seluruh Indonesia, angka 7.500 hektar ini sangatlah kecil dalam hal ukuran,” jelasnya.

Lebih lanjut Paul Wilis menjelaskan, Sorikmas telah menandatangani Kontrak Karya (KK) Generasi Ketujuh dengan pemerintah RI pada Februari 1998. Saat itu, Sorikmas ditunjuk sebagai kontraktor tunggal melakukan eksplorasi sesuatu mineral di wilayah kontrak karya, yakni di kawasan 201.600 hektar lahan, terdiri dari hutan lindung 80.670 hektar, hutan produksi terbatas 60.730 hektar, dan area peruntukan lainnya 60.200 hektar.

Dalam kontrak tersebut disebutkan, Sorikmas juga berhak menambang setiap endapan mineral yang ditemukan di wilayah pertambangan, mengolah, menyimpan, dan mengangkut dengan cara apapun sesuatu mineral yang dihasilkan, memasarkan, menjual atau melepaskan semua produksi dari tambang dan mengolah, di dalam dan  luar Indonesia.

“Setelah dilakukan dua kali pelepasan hak atas tanah dari wilayah KK, yang pertama bulan April 1999 dan yang kedua Desember 2000, total luas wilayah KK Sorikmas saat ini adalah 66.200 hektar. Sesuai ketentuan kontrak karya, wilayah KK harus dikurangi hingga menjadi 50.000 hektar maksimum pada saat dimulainya tahap konstruksi,” jelasnya.

Meskipun sudah ada keputusan Mahkamah Agung, PT Sorikmas Mining telah membuat usulan kepada Menhut, antara lain saat pelaksanaan keputusan Mahkamah Agung, Sorikmas segera akan melepaskan 5.000 hektar dari wilayah KK. Tujuannya agar TNBG (Taman Nasional Batang Gadis) tetap tidak terpecah-pecah dan ini akan memperluas ukuran wilayah TNBG dari 74.279 hektar menjadi 79.279 hektar.

Kemudian, satu tahun setelah pelaksanaan keputusan MA dan pengeluaran izin pinjam pakai untuk eksplorasi kepada Sorikmas, pihaknya akan melepaskan 5.000 hektare lagi dari wilayah KK yang berbatasan dengan wilayah yang sebelumnya bertumpang tindih. dan oleh karena itu daerah TNBG akan menjadi lebih luas, yaitu menjadi 84.279 hektar.

“Untuk kegiatan pertambangan, Sorikmas tidak akan pernah melakukan kegiatan penambangan di TNBG. Sorikmas memahami serta setuju sepenuhnya dengan posisi ini,” katanya.

Ia juga berjanji, sebelum dimulainya kegiatan eksploitasi pertambangan, Sorikmas pasti menunjukkan kepatuhan penuh dengan semua persyaratan AMDAL yang ditetapkan oleh Pemerintah RI.

Selain itu, PT Sorikmas Mining akan memenuhi persyaratan Dampak Lingkungan dan Sosial sebagaimana ditetapkan oleh Pemerintah Australia karena Sihayo Gold Limited, sebagai pemilik 75 persen saham PT Sorikmas Mining, adalah sebuah perusahaan Australia dan berkewajiban untuk mematuhi standar yang disaratkan, baik ia beroperasi di Australia atau di luar negeri.

Yang paling penting, setiap kegiatan pertambangan eksploitasi masa depan tidak boleh menyebabkan dampak terhadap pasokan air masyarakat setempat yang berada dekat wilayah pertambangan, dan tidak boleh menimbulkan tanah longsor atau erosi tanah skala besar. Upaya-upaya untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi akan dimasukkan dalam rencana pengembangan PTSM, dan dalam biaya proyek serta dalam pengelolaan dan pemantauan proyek yang berkesinambungan.

Mayoritas Karyawan Orang Madina

Tentang keberpihakan perusahaan kepada masyarakat lokal, dan apa manfaatnya bagi masyarakat lokal, menurut Paul Wilis, Sorikmas mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pemberdayaan masyarakat, baik dalam hal penerimaan karyawan, maupun  dalam program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

“Meski Sorikmas belum memasuki Tahap Operasi dan Produksi emas, namun perusahaan kami sudah melaksanakan program-program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Sorikmas pada tahun 2011, misalnya, telah menghabiskan sekitar Rp1,5 miliar. Jumlah inipun belum termasuk biaya operasional 1 tenaga ahli asing, dan beberapa karyawan yang melaksanakan program ini.

Demikian halnya dengan penerimaan karyawan, dari 276 orang karyawan Sorikmas, 207 (75%) di antaranya berasal dari Kabupaten Mandailing Natal dan 11 orang (4%) berasal dari kabupaten/kota tetangga. Kalau tenaga kerja berasal dari Sumatera Utara dapat dikatakan tenaga kerja , maka jumlah tenaga kerja  Sorikmas adalah 81 persen.  Namun, apabila yang dihitung hanya karyawan yang berasal dari kecamatan-kecamatan lingkar tambang di Madina, maka persentase tenaga  Sorikmas adalah 75 persen, dan ini sudah 5 persen lebih tinggi dari target mereka yaitu 70 persen.

“Keberpihakan kepada masyarakat lokal ini juga sekaligus merupakan penghematan, karena warga lokal tidak perlu disediakan rumah, makan dan biaya transportasi. Di samping itu, dengan lebih banyak karyawan lokal, semakin lebih besar pula daya imbas ekonominya kepada masyarakat lokal, karena para karyawan  ini membelanjakan pendapatannya di pasar-pasar,” katanya. (mea)

Medan Maimun Lakukan Bersih-bersih

MEDAN-Demi mendukung program Pemko Medan yang menginginkan Kota Medan bersih dan asri, di Kecamatan Medan Maimun pada Sabtu (12/5) pagi  pukul 7.30 Wib melakukan gotong royong bersama warga.

Dalam kegiatan gotong royong ini diikuti Camat Medan Maimun, Said Reza, S.STP dan Kepala Lingkungan serta pedagang warkop Elisabeth. Sedangkan kegiatan gotong-royong dengan membersihkan draianse dan sampah di Jalan Selamat Riyadi Lingkungan I Kelurahan Jati.

Camat Medan Maimun Said Reza, SSTP mengatakan, kegiatan gotong-royong dilakukan  sesuai dengan petunjuk Wali Kota Medan Drs Rahudman Harahap MM yang ingin mewujudkan Kota Medan menjadi kota yang bersih dan terbebas dari sampah dan masalah banjir.

“Tentunya untuk mewujudkan Medan menjadi bersih itu dimulai dari tingkat lingkungan  kelurahan dan kecamatan. Makanya, kami melakukan gotong royong ini,” bilang Said Reza.

Dikatakannya, kegiata gotong-royong tersebut dilakukan terus dan akan digalakkan rutin setiap Sabtu dan Minggu di setiap lingkungan dan kelurahan. “Bila gotong royong hanya dilakukan sebulan sekali, tentu tidak akan mencapai hasil yang baik. Makanya gotong-royong kita lakukan sepekan sekali,” tegas Said lagi.

Selain itu, sambung Said, kebersihan paling penting dijaga sebagain simbol kebanggan yang ada di Medan Maimun adalah Istana Maimun. “Bila Istana Maimun tak terawat kebersihannya, kami akan malu sama warga luar. Karena Istana Medan Maimun itu selalu dikunjungi dari warga luar daerah serta turis dari manca negara,” bilangnya.

Saat ditanya terkait tentang pengangkutan sampah yang ada di Kecamatan Medan Maimun, Said Reza menyebutkan kalau untuk pengangkutan sampah rutin dilakukan pada pagi dan siang hari oleh pihak kecamatan dan berkoordinasi dengan pihak kebersihan Kota Medan.
Akan tetapi, lanjutnya, pihak kecamatan dan kelurahan juga tetap menurunkan pasukan petugas kebersihan di setiap lingkungan untuk mengangkut sampah yang berserakan di dalam lorong/gang rumah warga dan di di selokan.

“Petugas kebersihan dari kecamatan kita kerahkan mulai pagi hari pukul07.00 Wib sampai pukul 18.00 WIB. Kemudian, malam harinya pukul 19.00 WIB, kita turunkan petugas penyisir kebersihan untuk menyisir sampah yang belum terangkut,” ungkapnya.
Untuk itu dia tetap berharap kepada warga agar tetap selalu mengeluarkan sampah mulai pukul 08.00 WIB. Sehingga, petugas kebersihan gampang mengangkutnya.

“Bila lewat dari jam yang telah ditentukan, maka sampah yang harus dimasukkan kembali oleh warga ke pekarangan rumah sambil menunggu pengangkutan sampah oleh petugas dari kecamatan dan kelurahan untuk mengangkut sampah berikutnya,” pungkasnya.(omi)

Penyimpangan Penyaluran Beasiswa USU akan Terkuak

Siap Publikasi Hasil Verifikasi, Sanksi Menanti

JAKARTA – Teka-teki penyimpangan penyaluran beasiswa pendidikan mahasiswa berprestasi (Bidik Misi) di Universitas Sumatera Utara (USU) sebentar lagi terkuak. Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud Djoko Santoso menuturkan, besok atau lusa hasil investigasi selesai dan siap dipublikasi.

Meskipun laporan resmi belum dikeluarkan, mantan rektor ITB itu sudah bisa memperkirakan hasil investigasi. “Kalau ada yang menyimpang, jumlahnya tidak banyak,” ujar Djoko setelah nggowes bersama keluarga besar Kemendikbud kemarin pagi (13/5). Menurut perhitungannya, paling banter nanti jumlah penyaluran bidik misi yang tidak tepat sasaran sekitar 20 kursi.

Mendikbud Muhammad Nuh mengatakan, hasil investigasi nanti bersifat terbuka atau bukan rahasia. Dia mempersilahkan masyarakat mengetahui perkembangan penyaluran bidik misi yang sesungguhnya.

Menurutnya dengan mempublikasi hasil verifikasi itu sudah menjadi sanksi sosial bagi kampus yang bersangkutan. Dia menegaskan lingkungan akademik seperti kampus tidak perlu sanksi yang aneh-aneh. “Cukup dipublikasi itu malunya bukan main. Kalau mencopot rektor itu saya rasa berlebihan,” ucapnya.

Menteri asal Surabaya itu menjelaskan, kasus penyimpangan pengucuran bidik misi yang tidak tepat sasaran dan jumlahnya cukup kecil itu wajar. Dia beralasan, program bidik misi ini masih berumur dua tahun. Sementara pagu atau kuota penerima mencapai puluhan ribu per tahun. “Jadi wajar jika ada yang kincrit-kincrit (tercecer tidak tepat sasaran, red) itu,” ucap dia.

Nuh mengingatkan, pengusutan dan pembinaan terhadap kampus tetap perlu dilakukan. Dia memastikan akan mengeluarkan surat teguran kepada kampus yang menyalahi aturan pengucuran bidik misi. Sementara bagi PTN lainnya, akan ditagih komitmennya supaya menyalurkan bidik misi sesuai dengan aturan.

Upaya lain untuk membentengi penyimpangan pengucuran bidik misi ini adalah, memperkuat standard operational procedure (SOP)  pengucuran dana BOS. Diantara yang akan ditekankan dalam perbaikan SOP ini adalah aspek laporan evaluasi.

Menurut mantan Menkominfo itu, kampus-kampus yang menjalankan program bidik misi wajib melayangkan laporan data penerima bidik misi secara komplit. Jika kampus kesulitan mencari data-data mahasiswa miskin, mereka bisa melibatkan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).
Upaya ini bisa melatih mahasiswa untuk terjun ke lapangan. Selain itu, mahasiswa dinilai lebih tahu kondisi lingkungannya ketimbang dosen ataupun rektor.

Sementara itu, muncul usulan jika audit atau evaluasi serta verifikasi diberikan ke pihak independen. Yaitu pihak tertentu di luar PTN. Mereka ini telah ditunjuk secara resmi oleh Kemendikbud.

Terkait usulan tim independen ini, Nuh menyatakan tidak menutup kemungkinan. Namun untuk saat ini dia masih percaya dengan keseriusan rektor menjalankan bidik misi. “Kalau saya tidak percaya, kenapa saya angkat mereka,” tutur Nuh. (wan/jpnn)

MPR Desak Ungkap Aktor Kerusuhan Mei 1998

Tuntaskan Kasus HAM Berat

JAKARTA- Upaya menuntaskan tragedi “Mei Berdarah” terus terlontar. Kali ini Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin mendesak negara serius mengungkap aktor di balik kerusuhan yang melanda Jakarta pada 13″15 Mei 1998 tersebut.

“Negara harus bersungguh-sungguh menuntaskan,” tegas Lukman kemarin (13/5). Kasus Mei Berdarah itu salah satunya dipicu penembakan dan tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti. Peristiwa yang sangat memilukan tersebut mencapai puncak dengan lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Kata Lukman, peristiwa itu tidak cukup sekadar diperingati setiap tahun. Pemerintah wajib menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. “Presiden SBY harus langsung memimpin agar hal itu tak menjadi warisan masalah bangsa,” tandasnya.

Untuk mempercepat penanganan, Lukman mengatakan bahwa presiden perlu membentuk satuan tugas (satgas) yang langsung di bawah koordinasinya. “Satgas inilah yang bertugas menginventaris semua hasil penyelidikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat oleh Komnas HAM dan tim pencari fakta,” katanya.

Satgas selanjutnya menyeleksi mana kasus-kasus yang memungkinkan dibawa ke jalur hukum. “Untuk itu, presiden segera membentuk pengadilan HAM ad hoc,” tutur Lukman.

Untuk kasus-kasus yang tak memungkinkan dibawa ke pengadilan HAM, satgas menindaklanjuti dengan mengajukan formulasi rehabilitasi dan desain ganti rugi. “Ini diberlakukan presiden,” kata wakil ketua umum DPP PPP itu.

Sebagai bagian dari upaya yang berkelanjutan atas penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, Lukman menyarankan agar presiden mengeluarkan perpres. Intinya, perpres itu meminta pemerintahan berikutnya terus melanjutkan kebijakan tersebut. (agm/jpnn)

Petugas RS Sengaja Tularkan Hepatitis ke Pasien

JACKSONVILLE – Seorang petugas rumah sakit di kota Jacksonville, Florida, Amerika Serikat mengaku telah dengan sengaja membuat alat suntik di tempatnya bekerja terkontaminasi virus Hepatitis C. Akibat ulahnya itu, dua orang pasien tertular penyakit tersebut dan salah satunya kemudian meninggal.

Kantor Kejaksaan Agung Amerika Serikat, Jumat (11/4) lalu mengumumkan bahwa tersangka bernama Steven Beumel ini melakukan kejahatannya sejak tahun 2006 sampai 2008, saat masih bekerja di cabang Mayo Clinic, Jacksonville. Sebagaimana dilaporkan Associated Press, Beumel yang bekerja sebagai teknisi radiologi mencuri suntikan berisi pereda rasa sakit yang akan dipakai perawat pada para pasien.

Selanjutnya, Baumel menggantinya dengan suntikan berisi cairan saline yang sudah terkontaminasi Hepatitis C. Namun tidak disebutkan alasan Beumel melakukan ulahnya yang keji tersebut.

Tidak mudah untuk mengungkap aksi Beumel. Ahli epidemiologi dari Mayo Clinic yang dibantu ahli dari dinas kesehatan setempat membutuhkan waktu lebih dari 3 tahun untuk menyelidiki penyebab pasien yang sudah dirawat justru terjangkiti hepatitis C.

Pihak rumah sakit telah mengetes ribuan pasien yang dianggap berisiko terjangkiti hepatitis C. Hasilnya, dua orang diketahui positif terkena penyakit berbahaya yang menyerang fungsi hati tersebut dan salah satunya akhirnya meninggal dunia. Hingga akhirnya, penyelidikan itu menemukan indikasi keterlibatan Beumel. Terang saja, Beumel yang kini berusia 48 tahun itu langsung dipecat dan dilaporkan ke polisi. (AP/ara/jpnn)

Iwak Peyek pun Tidak Menolong Tebu

Manufacturing Hope 26

Dahlan Iskan
Menteri Negara BUMN

Saya tertegun ketika berkunjung ke Pabrik Gula Madu Kismo, Jogjakarta, Minggu pagi kemarin. Terutama ketika melihat ada crane baru di situ. “Baru beli crane ya?” sapa saya kepada Ir Putu Aria Wangsa, Kabag Instalasi, yang mendampingi saya naik turun tangga di pabrik gula itu. Crane pengangkat tebu ke mesin penggilingan itu memang terlihat masih baru. Catnya yang kuning mengkilap terasa kontras dengan mesin-mesin lain di sekitarnya yang sudah tampak karatan. “Itu bukan baru, Pak. Itu crane Ayu Azhari,” jawab Putu sambil terlihat menahan tawa.

Semula saya kurang paham apa maksudnya. Tapi, tawa saya segera meledak ketika Putu menyebut isi Manufacturing Hope 25 yang saya tulis pekan lalu: peralatan pabrik yang tua-tua pun akan kelihatan ayu dan rapi kalau dirawat dengan baik. “Setelah membaca Manufacturing Hope itu kami langsung bersihkan dan mengecat crane itu,” tambahnya.

Memang pabrik-pabrik gula milik BUMN umumnya luar biasa kotor dan semrawut. Besi-besi tua berserakan di mana-mana, termasuk di dalam pabrik dan di sekitar mesin. Atap-atap bolong terlihat di seluruh pabrik. Dinding-dindingnya banyak yang compang-camping. Gundukan berbagai material terlihat di berbagai sudut halaman muka dan belakang. Besi-besi karatan mendominasi pemandangan.

Pabrik Gula Madu Kismo yang didirikan pada 1955 termasuk yang paling muda di jajaran pabrik gula BUMN. Juga termasuk yang masih relatif bersih dan teratur dibanding 52 pabrik lainnya. Tapi, tetap saja terasa seperti horor. Padahal, biarpun tua, kalau dirawat dengan baik, pasti berbeda penampilannya. Apalagi, ini pabrik yang mengolah makanan, yang seharusnya identik dengan kebersihan dan keindahan. “Crane Ayu Azhari” tadi menjadi contoh nyata. Betapa hanya dengan sedikit sentuhan penampilan Madu Kismo terlihat mulai berbeda. Apalagi, kelak kalau bagian-bagian lain juga dirawat dengan cara yang sama. Saya yakin teman-teman di semua pabrik gula mampu mewujudkannya.

Tentu pembenahan fisik itu tidak perlu dilakukan sekarang. Saat ini semua perhatian harus tercurah pada persiapan dimulainya musim giling. Semua energi fokus dulu ke situ. Apalagi, seperti Madu Kismo ini sudah memutuskan memulai giling dua hari lalu, maju seminggu dari kesepakatan awal. Keputusan ini diambil untuk menolong petani tebu di sekitar Jogja dan Purworejo yang lagi berlomba melawan hama uret. Kian mundur dimulainya giling, kian luas hama itu menghancurkan tebu milik petani.

Semula saya heran mengapa hama uret tidak bisa diatasi. Karena itu, setelah urusan di PG Madu Kismo selesai, saya minta diantar ke kebun-kebun yang terkena hama. Saya iba melihat kebun tebu yang meranggas, yang kekuningan, dan yang terlihat sakit-sakitan.

Para petani di Sleman itu mengajak saya masuk lebih dalam ke areal yang terkena uret. Salah seorang di antaranya membawa cangkul. Dia ingin menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan uret. Dia mencangkul tanah di bawah tebu yang sakit-sakitan itu. Dalam beberapa kali cangkulan, dia sudah bisa memunguti ulat-ulat gemuk sebesar jari bengkak orang dewasa.

“Dalam satu meter persegi bisa kami temukan 50 uret,” ujar Gito Sudarno, petani tebu yang juga ketua DPD (Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Jogjakarta.

Uret-uret itu memakan akar tebu. Di Sleman saja 300 hektare terkena uret. Di Purworejo dua kali lipat luasnya. Itulah sebabnya, tebu yang terkena uret harus segera ditebang. Berarti pabrik gula harus mempercepat musim giling. “Yang sudah terkena uret pun masih bisa menghasilkan 60 persen,” ujar Roby Hermawan, petani yang juga pengurus APTR.

Di masa lalu berbagai upaya melawan uret itu sudah dilakukan. Berbagai bahan kimia juga sudah dicoba. “Belum ada yang berhasil,” tambah Ristiyanto, petani tebu yang juga pengurus nasional APTR.  Bahkan, pernah dicoba gerakan membuat iwak peyek dari uret. Maksudnya agar pemangsa tebu itu balik dimangsa manusia. Gagal juga. Pertama, iwak peyek dari uret tidak segurih iwak peyek dari kacang atau teri. Kedua, uret itu bersembunyi di tanah yang dalam. Sedalam tiga meter pun masih ditemukan uret. Ini benar-benar tantangan bagi ahli dari universitas yang memiliki jurusan khusus bidang pemberantasan hama. Pernah petani mengubah tanaman tebu menjadi ketela rambat dan ubi kayu. Sama saja. Bahkan, lebih hancur. Lalu ditanami jagung: idem ditto. Menurut para petani, satu-satunya yang tahan uret adalah tanaman wijen. Tapi, hasilnya tidak nyucuk.

Akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali menanam tebu. Biarpun hanya 60 persen dari normal, itu masih lebih menghasilkan daripada tanaman lain. Karena itu, para petani di kawasan tersebut berharap pabrik gula bisa membuat jadwal giling yang cocok untuk mereka.

Cara terbaik untuk mengurangi dampak uret itu, menurut pengalaman para petani yang sudah puluhan tahun bergaul dengan uret, hanyalah: kejar-kejaran waktu. Saat uret belum jadi semacam kepompong, tebu sudah harus ditanam. Ini agar tebu bisa dipanen saat kepompong itu bermetamorfosis menjadi uret. Itu berarti bulan Juni (bulan depan) petani sudah harus kembali menanam tebu.

Dalam proses metamorfosis, kepompong itu akan jadi binatang terbang semacam kwangwung dan menetaskan telur pada bulan tertentu. Saat itu nanti tebu mulai tinggi. Sebaiknya tebu sudah matang untuk ditebang pada awal Mei, menjelang uret gencar-gencarnya menyerang. Itu menurut ilmu para petani berdasar pengalaman mereka yang puluhan tahun. Entahlah, cara ilmiahnya seperti apa.

Memang uret tersebut hanya menyerang tebu di kawasan tertentu. Yakni, di daerah yang tanahnya agak berpasir. Petani menyebut jenis tanah ini dengan istilah “tanah ngompol”. Tanah yang biarpun di musim kemarau yang kering masih menyimpan air di dalamnya. Tingkat kebasahan itulah yang membuat kelembaban di dalam tanah sangat ideal untuk berkembang biaknya uret. Dalam kasus seperti ini pabrik gula memang tidak boleh egois. Tebangan tahap pertama memang harus memprioritaskan tebu dari kawasan rawan seperti ini. Ini persoalan khas Madu Kismo. Saya belum mendengar pabrik gula yang lain mengalami problem yang sama.

Meski begitu, minggu-minggu mendatang saya akan lebih banyak mengunjungi pabrik gula. Saya ingin melihat seberapa semangat masing-masing pabrik gula berbenah diri. Seberapa kuat tekad mereka untuk keluar dari neraka kesulitan selama ini. Saya tahu bahwa seluruh pabrik gula sudah mempunyai tekad baru. Kerja, kerja, kerja.  Saya bangga ketika menerima informasi bahwa kini sudah ada pegawai yang berani menolak suku cadang pabrik yang tidak memenuhi spek. Itulah suku cadang yang kalau dipaksakan akan membuat pabrik lebih sering berhenti giling. Kalau saja pembenahan manajemen tahun ini berhasil, masih ada pekerjaan besar lain tahun depan. Yakni, perang melawan lahan dan tanaman fiktif. Tidak boleh lagi pabrik memiliki lahan dan tanaman yang hanya ada di atas kertas, tapi kenyataannya tidak ada di lapangan. Biayanya sudah banyak keluar, tapi tebunya tidak ada. Pekerjaan lain yang menanti adalah, itu tadi, pembersihan pabrik secara total. Ketika musim giling selesai, pembenahan pabrik harus dilakukan. Bagian-bagian pabrik yang kumuh, tidak rapi, gundukan-gundukan, dan besi-besi tua harus dirapikan. Memang ada kesalahan saya di sini: tidak segera mengubah peraturan Menteri BUMN yang menghambat terjadinya pembenahan ini.

Saya berjanji untuk dalam satu-dua hari ini mencabut peraturan itu. Dengan demikian, manajemen tidak ragu lagi dalam menyingkirkan benda-benda yang membuat kotor itu.

Kabar baik yang lain datang dari Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Beliau sudah memutuskan yang boleh mengimpor raw sugar nanti adalah pabrik gula milik BUMN. Tujuannya menambah efisiennya pabrik gula kita.

Dulu memang ada janji bahwa importer raw sugar haruslah yang punya pabrik gula, atau yang berjanji segera membangun pabrik gula. Sampai hari ini, setelah sekian tahun impor raw sugar diberikan, memang belum ada yang membangun pabrik gula.

Impor raw sugar itu nanti juga dijatuhkan tepat pada saat pabrik gula hampir selesai melakukan giling. Maksudnya, agar selesai menggiling tebu, pabrik gula bisa langsung menggiling raw sugar. Karena itu, pabrik gula yang baik akan mendapat kesempatan menambah efisien dengan cara menggiling raw sugar.

Hanya manajemen pabrik gula yang baik yang akan mendapat kepercayaan itu. Sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Hidup Ayu Azhari! (*)

Ganja Ditemukan di Saluran Limbah Lapas

LUBUKPAKAM- Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lubukpakam menemukan ganja kering berserakan di  saluran limbah Lapas Deliserdang, Minggu (13/5). Ganja kering siap pakai itu ditemukan Muhammad Irfan alias Koir, yang merupakan tamping (warga binaan yang dipercaya) dapur Lapas.
Pagi itu Muhammad Irfan berniat akan mandi. Tetapi dia curiga ada bungkusan plastik kresek warna hitam berada pembuangan saluran air.
Setelah bungkusan itu dibuka, ternyata berisi daun ganja kering dibungkus kertas koran bekas. Selanjutnya, atas penemuan itu dilaporkan kepada petugas Lapas Samuel Prawira Silalahi.

Kalapas Lubukpakam Salman Daidi melalaui Plh Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), Simon Sembiring, mengakui adanya penemuan ganja kering yang tidak tidak diketahui siapa pemiliknya. Untuk mencegah peredaran narkoba di Lapas Lubukpakam, pihaknya tetap melakukan penggeledahan serta merazia di lingkungan Lapas termasuk terhadap tamu yang berkunjung ke Lapas. (btr)

Bus Makmur Gilas Ibu dan Anak

LUBUKPAKAM- Kejadian tragis dialami Farida Boru Pardede (47), Khairunisya (10). Keduanya tewas mengenaskan gara-gara disenggol bus Makmur ketika akan mendahului, Minggu (13/5) sekitar pukuk 12.30 WIB.

Kondisi ini membuat isak tangis Haris Nasution (47) bersama ibu mertuanya Nurbah Boru Lubis (67) dan sanak saudara lainnya saat melihat kedua jenazah itu di ruang instalasi kamar jenazah (IGD) RSU Daerah Deliserdang.

Kejadian itu bermula, ketika Farida Boru Pardede dan Khairunisya saat itu berboncengan dengan suaminya Haris Nasution mengendarai sepeda motor Honda Beat BK 4249 SI. Mereka berangkat dari Jalan Muhammadiyah Kelurahan Galang Kota, Kecamatan Galang menuju arah Medan, untuk mengikuti arisan keluarga di bilangan Jalan Panglima Denai.

Namun, setibanya di tempat kejadian tepatnya Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Km 14 Desa Bangun Sari Baru, Tanjung Morawa, dari arah bersamaan tepatnya dari arah belakang bus Makmur BK 7600 DK yang dikemudikan bermarga Manik,  ingin mendahului.

Diduga karena disenggol, sepeda motor yang dikemudikan Haris terjatuh. Akibatnya Haris Nasution terpelanting ke sebelah kiri jalan, sementara Farida bersama Khairunisya terjatuh ke arah kanan jalan. Malang bagi Farida dan anaknya, ban belakang bus Makmur tersebut menggilas kepala kedua korban hingga pecah dan tewas di tempat kejadian.

Warga yang mengetahui hal itu berbondong-bondong mendatangi  tempat kejadian. Sebagian lagi menghubungi petugas Sat Lantas Polres Deliserdang. Kemudian kedua jenazah dievakuasi ke RSUD Deliserdang di Lubukpakam untuk diotopsi. Sementara sopir dan dua kernetnya diamankan ke Polres Deliserdang.

Menurut keterangan kernek Bus Makmur, Parlin Bakkara (21) warga Simalingkar B, Medan dan Nelson Hutapea (20) warga Jalan Bajak IV, mereka baru mengetahui  menabrak korban setelah mendengar suara bunyi dari roda belakang.

“Kami baru ketahui bus ini mengilas korban setelah mendengar suara remuk. Bus ini dikemudikan sopir serap bermarga Manik. Semenjak dari Kisaran jumlah penumpang tinggal 10  orang. Sopir utamanya bermarga Simanjuntak sedang tidur di belakang,” kata Parlin.(btr)

Galian C Membandel, Kapolres Surati Pemko

BINJAI- Aktivitas galian C di Lingkungan IX, Kelurahan Mencirim, Binjai Timur, Kota Binjai, masih berlanjut. Padahal, Kapolresta Binjai AKBP Musa Tampubolon sudah pernah menghentikan pengerukan tanah tersebut dengan mengamankan dua excavator (alat berat) milik pengusaha. Tapi saat ini, galian tersebut terus beroperasi tanpa ada tindakan dari penegak hukum maupun pemerintah setempat.

Menyikapi hal dimaksud, Kapolresta Binjai AKBP Musa Tampubolon, ketika dikonfirmasi, Minggu (13/5) mengatakan, pihaknya tidak bisa mencampuri urusan perizinan yang dikeluarkan Pemko Binjai. Pun begitu, pihaknya tengah menyelidiki kasus dugaan penyerobotan lahan yang dilakukan pengusaha galian C atas laporan pihak PTPN 2.

“Kalau izin kewenangan Pemko Binjai, kita tak bisa campuri. Tapi mengenai laporan pihak PTPN2 terkait penyerobotan lahan, kita terus melakukan pemeriksan terhadap saksi-saksi,” urainya.

Ketika ditanya saksi yang sudah diperiksa, Musa mengaku, sudah memeriksa pihak PTPN2 untuk dimintai keterangan. “Ini kan laporan PTPN2, jadi kita sudah memeriksa pihak PTPN2 mengenai penyerobotan lahan,” sebutnya.

Tapi, tambah Musa, pihaknya masih memerlukan keterangan dari saksi ahli mengenai status tanah yang diserobot pengusaha galian C tersebut.
“Memang pihak PTPN2 sudah melaporkan penyerobotan lahan, tapi lahan itukan belum jelas, PTPN2 sendiri sudah tak memiliki HGU, makanya kita perlukan saksi ahli dari pihak BPN,” urainya.

Musa juga mengaku, sudah menyurati Pemko Binjai terkait aktivasi galian C di Kota Binjai, mengingat persoalan izin dikuasai Pemko Binjai.  Pun begitu, dirinya berjanji akan mengamankan asset pemerintah (lahan eks PTPN2,Red) dari aktivitas galian C illegal.

“Ya, memang itu aset, makanya dalam waktu dekat akan kita tindak seluruh galian C illegal yang ada di Kota Binjai termasuk di lahan eks HGU PTPN2,” janjinya. (ndi)

Tanoto Foundation Dukung Bangkitnya Generasi Emas Indonesia

LABUSEL-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2012, Tanoto Foundation bekerjasama dengan Asian Agri dan Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) mengumumkan pemenang Tanoto Library Competition dan Tanoto Reading Competition yang diadakan sejak bulan Maret–April 2012. Pengumuman pemenang disampaikan pada upacara Hardiknas di lapangan Kota Pinang oleh Wakil Bupati Labusel,  Drs H. Maslin Pulungan, kemarin.

Pemenang Tanoto Library Competition adalah: SDN 116253 Sidodadi (juara pertama), SDN 118386 Sumberjo (juara kedua), SDN 118274 Sialang Pamoran I (juara ketiga), SDN 118391 Teluk Panji IV (juara harapan pertama), SDN 112243 Kota Pinang (juara harapan kedua) dan SDN 112247 Hutagadong (juara harapan ketiga). Aspek penilaian lomba ini diantaranya adalah manajemen perpustakaan, kegiatan perpustakaan, jumlah pengunjung per bulan, dan lainnya.

Sedangkan pemenang Tanoto Reading Competition (cerita rakyat/dongeng) adalah: Nur Ummi Shaleha SDN 116253 Kota Pinang (juara pertama), Murni Anggliani SDN 118386 SDS RGM Blok Songo Kota Pinang (juara kedua), Anggita Syahroini SDN 118274 SDN Teluk Panji IV (juara ketiga), Sonia Nur Ariffah SDN 118391 Subulussalam (juara harapan pertama), Dessy Azwina SDN 112243 Kota Pinang (juara harapan kedua) dan Azzuhro SDN 112247 Kota Pinang (juara harapan ketiga).

Kompetisi yang diadakan oleh Tanoto Foundation ini selaras dengan tema hari Pendidikan Nasional yaitu ’Bangkitnya Generasi Emas Indonesia’, dimana diharapkan mulai tahun 2010 hingga tahun 2035 dapat menyemai usia produktif yang jumlahnya luar biasa.
Dewan Pembina Tanoto Foundation Belinda Tanoto mengatakan, Tanoto Foundation sangat mendukung tema Hardiknas 2012, yaitu “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia.”

Karena menurut Tanoto, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kualitas dan perbaikan akses pada pendidikan yang berkualitas, adalah strategi efektif untuk memutus rantai kemiskinan di Indonesia.

Sementara Rafmen, Head CSR Asian Agri menjelaskan, penilaian lomba salah satu komponennya adalah jumlah pengunjung. Ini mengisyaratkan bahwa semakin banyak siswa yang datang ke perpustakaan.  Artinya, semakin tinggi pula minat baca siswa, yang secara tidak langsung bertambah pula pengetahuan siswa. ‘’Dengan memupuk terus rasa keingintahuan siswa, maka akan semakin membuka cakrawala berpikirnya, dan tentu saja semakin membuka wawasannya,’’ ujarnya. (sih)