Home Blog Page 13539

McLaren Pakai Hidung Baru di Spanyol

BARCELONA- Setelah menjalani empat lomba di Australia dan Asia, akhir pekan ini, untuk kali pertama, Formula 1 akan menjalani seri di Eropa. Sirkuit Barcelona di Spanyol akan menjadi tuan rumahnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tampil di Eropa untuk kali pertama, tim-tim biasanya mengusung spirit maupun komponen baru.

Jeda tiga pekan setelah seri keempat di Bahrain menuju Grand Prix Spanyol, tim-tim memang punya cukup waktu untuk melakukan pengembangan. Mereka juga memiliki cukup waktu untuk mengetesnya. Beberapa tim melakukannya di Sirkuit Mugello, Italia.

McLaren-Mercedes bisa jadi adalah satu tim yang mampu memaksimalkan jeda itu untuk melakukan pengembangan. Tidak tanggung-tanggung, mereka akan memasang hidung baru di MP4-27 untuk GP Spanyol akhir pekan ini. Hidung baru itu bentuknya agak mirip dengan model kepala buaya yang pada awal musim ini telah menjadi tren di F1. Sebelumnya, hidung MP4-27 lurus dari depan menuju kokpit.

Hidung baru McLaren itu memang tidak setinggi milik para rival. Namun, modifikasi itu tujuannya sama, yaitu untuk meningkatkan aerodinamis mobil.
“Kami akan menurunkan komponen baru Minggu nanti. Itu akan menjadi pengalaman baru untuk pembalap kami,” kata bos McLaren Martin Whitmarsh sebagaimana dilansir Autosport. “Kami mendapatkan banyak data dari uji coba di Mugello. Itu akan menjadi bahan bagi kami untuk menentukan setingan terbaik untuk lomba,” lanjutnya.

Selain perubahan bentuk hidung, perubahan lain pada MP4-27 ada di bagian sayap depan. Fungsinya sama yaitu untuk meningkatkan kemampuan aerodinamis mobil.

Performa McLaren sepanjang awal musim ini sebenarnya cukup bagus. Di klasemen konstruktor mereka menduduki klasemen kedua setelah Red Bull-Renault (101-92). Pembalap McLaren Lewis Hamilton juga ada di peringkat kedua di belakang driver Red Bull Sebastian Vettel.(nur/ang/jpnn)
Meski demikian, itu sebenarnya bukan hasil yang maksimal untuk McLaren. Beberapa kali mereka melakukan kesalahan saat pit stop sehingga membuyarkan peluang menang. Padahal, dengan ban Pirelli yang lebih cepat dibandingkan musim lalu, kecepatan melakukan pit stop memegang peranan yang lebih besar dalam menentukan sukses atau tidaknya satu tim. (nur/ang/jpnn)

Alumni SMAN 1 Medan Itu Ahli Retakan Pesawat

Rumah sederhana di Jalan Gempol Wetan 117 Bandung tampak sudah ramai. Rekan dan kerabat Kornel M Sihombing berharap-harap cemas. Mereka menonton televisi, mencari tahu nasib Alumni SMAN 1 Medan tersebut.

Ya, Kornel merupakan seorang penumpang yang ikut dalam demo flight Sukhoi, Rabu lalu. Pesawat tersebut hilang kontak dan hingga kini masih dalam proses pencarian.

Kornel Sihombing memang sosok prestius. Dua tahun pertama ditempuhnya di SMANSA Medan, tapi memilih lulus dari SMAN 7 Bandung. Dia masuk ITB Jurusan Teknik Mesin angkatan 1983.  Menimba magister penerbangan di Delft University of Technology, Belanda dengan spesialisasi langka: fiber metal laminate. Ilmu komposisi material soal prediksi retakan pesawat. Kendati PT Dirgantara Indonesia (DI) berantakan sepeninggal Habibie, dia menolak tawaran ke Jerman seperti kawan-kawannya yang lain.

Saat PT DI ‘tenggelam’ karena kekurangan dana, Kornel, yang saat itu menjadi Manajer Program di British Aerospac, terlibat merancang ketiak pesawat untuk Airbus A380. Ini proyek pembuatan pesawat penumpang paling ambisius yang pernah ada sebab superbesar dan supercanggih.

PT DI yang dulu dikenal sebagai PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)-memang punya peran dalam mencetak sejarah baru A380. Ketiak sayap ini adalah salah satu komponen yang paling rumit pada pe-sawat karena fungsinya menyambungkan sayap dengan badan pesawat.

Apalagi, sayap Airbus A380 ini adalah sayap terpanjang dibanding rival terdekatnya Boeing 747-400. Meski semua bahan baku serta desainnya didatangkan langsung dari British Aerospace, Inggris, membuat sambungan sayap itu bukan perkara enteng. Tingkat kesulitannya sangat tinggi,” kata Kornel seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 25 Juli 2005. ‘’Untuk mengukur ketepatan dimensi setiap bagian komponen dengan mesin, harus bolak-balik sampai tiga, bahkan lima kali, mengukur,” katanya.

Kisah Kornel tak berhenti di sini. Meskipun dia sempat mendapat tawaran ke Jerman akibat nasib perusahannya yang ‘’gunjang-ganjing’’, Kornel terus setia bersama PT DI. Terakhir dia menerima  jabatan Manajer Kualitas dan Pengembangan Produk PT Dirgantara. Padahal, ilmu yang ditimba Kornel tergolong langka. Ketika bergabung dengan Dirgantara pada tahun 1991, ia ditempatkan sebagai Kepala Bidang Metallic Material, di bawah naungan Grup Material Process Technology. Bagian ini mengurusi bahan-bahan material penyusun bodi pesawat.

Pada 1997, Kornel mendapat ikatan dinas dari Dirgantara untuk belajar materi pesawat terbang di Delft University of Technology, Belanda. ‘’Saya khusus mempelajari fiber metal laminate,’’ katanya seperti dikutip dari Majalah Gatra edisi 21 Juli 2003. Ilmu komposisi material pesawat yang dipilih Kornel itu cukup penting. ‘’Kita tidak pernah tahu kapan badan pesawat bisa retak,’’ ujarnya. Nah, subjek yang dipelajari Kornel adalah untuk mengantisipasi kapan keretakan itu terjadi.

Eh, begitu studinya selesai pada 1999, Kornel justru bersedih. Grup Material Process-nya ternyata sudah bubar. ‘’Ketika itu tidak ada dana, dan Dirgantara tidak mengembangkan jenis pesawat baru,’’ katanya. Apa boleh buat, Kornel pun menjadi manajer kualitas tadi. ‘’Ngapain capek-capek mengirim orang belajar begitu detail. Padahal prospek bisnisnya tidak ada,’’ dia menambahkan.

Kornel mencoba tetap bertahan. ‘’Komitmen saya, tidak mau kabur,’’ katanya. Kornel berterus terang, tiga teman seangkatannya yang alumnus Delft sudah memilih bekerja di luar negeri. Dua orang bekerja di Singapura sebagai ahli failure analysis, sedangkan seorang lagi di Malaysia.

Minta Diajari Main Golf

Sebelum ikut terbang bersama Sukhoi Rabu lalu, Kornel ternyata sempat minta diajari sang kakak, Chandra Sihombing untuk bermain golf akhir pekan lalu. Chandra menceritakan, adiknya menghubunginya via telepon, minta diajari golf karena Direktur Keuangan PT Dirgantara Indonesia kerap mengajaknya bermain.

“Tapi, dia (Kornel) bilang pegang stik golf saja tidak pernah. Lalu dia ngajak saya ketemu minta diajarin main golf,”  kata Chandra, kepada wartawan, Kamis (10/5), di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Selain itu, kata Chandra, Kornel juga bertanya kepadanya via blackberry massenger (BBM) soal waktu three in one di DKI Jakarta. Lantas Chandra pun memberitahukan kepada Kornel soal waktu ‘’three in one’’ itu.

Kornel menetap di Bandung Jawa Barat. Chandra di Jakarta. Keduanya sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kornel merupakan anak keempat dari enam bersaudara. “Orangnya kocak, lucu,” kata Chandra. Ia tak menduga akan terjadi kecelakan SSJ 100 itu. “Shock juga sih, karena adik saya menyenangi dunia penerbangan,” imbuh Chandra.

Kini Chandra dan keluarga berharap, penumpang SSJ 100 termasuk Kornel bisa segera dievakuasi. “Harapannya selamat, (karena) ada yang survive dari kecelakaan,” imbuh Chandra. (bbs/jpnn)

Sukhoi Sisakan Ekor

Tabrak Tebing, Pesawat Pecah

JAKARTA-Reruntuhan pesawat Sukhoi Super Jet 100 dengan nomor registrasi penerbangan RA 36801 ditemukan di ketinggian 5.800 feet atau sekitar 1.760 meter di atas permukaan laut. Sukhoi naas tersebut ditemukan menabrak tebing yang masuk wilayah Kampung Batu Lapak, Kecamatan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.

Reruntuhan pesawat ditemukan Tim Search and Rescue (SAR) Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja, Bogor, sekitar pukul 09.05 WIB. Dua pesawat helikopter Super Puma yang dikerahkan Lanud Atang Sendjaja dan satu helikopter Bolcow milik Basarnas menelusuri jalur penerbangan Sukhoi dari lokasi kontak terakhir di koordinat 06 derajat 43 menit 08 detik Lintang Selatan dan 106 derajat 43 menit 15 detik Bujur Timur ke arah Pelabuhan Ratu.

Tak jauh dari lokasi kontak terakhir Sukhoi, Mayor Penerbang Mayor Pnb Muhammad Riza Yudha Fahlefie dari Skadron Udara 6 yang menerbangkan Helikopter Super Puma nomor regristrasi H 3214 melihat reruntuhan pesawat dalam koordinat 06 derajat 42 menit 61,3 detik Lintang Selatan dan 106 derajat 44 menit 41,2 detik Bujur Timur.

“Koordinat lokasi sudah diketahui, namun situasi di darat belum terlihat dari udara karena lebatnya vegetasi,” ujar Mayor Ali Umri Lubis, Kepala Penerangan Lanud Atang Sendjaja, Bogor.

Komandan Korem Bogor Kolonel Infantri AM Putranto mengatakan,  kondisi pesawat hancur. Meski demikian, Putranto berharap ada korban yang selamat. “Pesawat pecah. Kita berdoa saja penumpangnya selamat,” katanya.

Berdasarkan foto udara yang diambil Kopilot Letnan Satu Pnb Budiono pada pukul 09.10, terlihat reruntuhan berada di bawah tebing curam dengan ketinggian sekitar 2.500 kaki. Badan pesawat bagian depan hancur dan menyisakan bagian ekor pesawat yang berwarna biru dengan gambar logo segitiga khas Sukhoi. Diduga, pesawat menabrak tebing dengan kecepatan tinggi, sekitar 800 kilometer per jam, sehingga bagian depan pesawat hancur.

Lokasi jatuhnya pesawat hanya sekitar 2,5 kilometer dari Kawah Ratu atau tak jauh dari lokasi penemuan bangkai pesawat Cassa 212 milik TNI AU yang jatuh pada 2008 dan menewaskan 18 orang penumpangnya. Berdasarkan perhitungan Tim SAR, posisi penyelamatan paling dekat adalah Desa Cijeruk yang berada dalam jangkauan sekitar 1,7 Nautical Mile atau sekitar tiga kilometer dari desa terdekat.

Meski demikian, terdapat laporan bahwa masyarakat kampung Loji, Desa Cipelang, Bogor, juga menemukan serpihan kecil badan pesawat yang diduga milik Sukhoi naas tersebut. Karena itu, Basarnas memindahkan Posko Utama dari Cidahu di Sukabumi ke Balai Embrio Ternak di Cipelang, Bogor. Dari Posko tersebut, posisi terakhir Sukhoi diperkirakan hanya tiga kilometer.

Kemarin, petugas SAR telah membuat helipad di lapangan desa Cipelang yang rencananya akan digunakan untuk mengevakuasi korban setelah dibawa dengan jalur darat dari lokasi penemuan pesawat. Untuk keperluan evakuasi tersebut, Basarnas telah menyiapkan empat helikopter milik PMI di Sentul dan dua heli Super Puma milik TNI AU di Lanud Atang Sendjaja, Semplak, Bogor.

“Korban selamat dirujuk ke Rumah Sakit Salak dan RS PMI di Bogor. Untuk yang meninggal dunia akan langsung diterbangkan ke Bandara Halim Perdana Kusumah untuk diotopsi di Rumah Sakit Kramatjati di Jakarta,” terang Putranto.

Manifes Terbawa Penumpang, Data Korban Kacau

Soal korban belum ada data pasti terkait manifest atau daftar penumpang yang ikut dalam penerbangan pesawat SSJ 100. Hingga kemarin siang, data penumpang sudah tiga kali mengalami perubahan. Awalnya, PT Trimarga Rekatama yang menjadi agen penjualan Sukhoi di Indonesia melansir data penumpang berjumlah 50 orang. Data penumpang tersebut terpampang di kaca sebuah gerai money changer di dekat pintu masuk terminal keberangkatan Bandara Halim Perdana Kusuma (HPK)

Namun, menjelang siang, Consultant and Business Development PT Trimarga Rekatama, Sunaryo, mengoreksi jumlah penumpang dari 50 menjadi 47 orang. Ralat jumlah penumpang tersebut dilakukan dengan mencoret nama-nama yang sudah dipasang di gerai money changer tersebut. Nama yang dicoret termasuk mantan Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa.

Tidak lama kemudian, siang harinya, Sunaryo kembali meralat jumlah penumpang. “Tadi pagi manifes 48 lalu jadi 47. Kira-kira pukul 12.25 dari daftar manifest, ternyata dua orang tidak jadi ikut. Jadi jumlah penumpang 45. Termasuk delapan orang dari Sukhoi,” jelas Sunaryo.

Dua penumpang yang batal naik adalah Budi Rizal dari perusahaan Putra Arta Dirgantara dan Syafruddin dari Carpedium Mandiri. Keduanya adalah anggota tim dari Mantan Menpera yang juga seorang pengusaha, Suharso Monoarfa. Mereka tidak ikut dalam penerbangan, setelah Suharso juga memutuskan tidak naik pesawat.

Atas ketidakakuratan jumlah daftar penumpang tersebut, Sunaryo minta maaf. Dia menuturkan, hal tersebut terjadi karena daftar penumpang yang akurat, dibawa oleh Arief Wahyudi, salah satu personil PT Trimarga Rekatama yang ikut dalam penerbangan naas tersebut. “Saya mohon maaf atas keterbatasan ini, karena daftar manifest dibawa teman saya,” jelasnya.

Ketidakakuratan data penumpang tersebut, membuat pihak keluarga kesal. Salah satu keluarga yang geram adalah Izmirta Rahman, adik dari penumpang Donardi Rahman. Dia heran, kenapa manifest bisa sampai kebawa ke dalam pesawat. “Ini aneh, menunjukkan mereka tidak profesional. Harusnya kan manifest ada yang ditinggal,” katanya di Bandara HPK.

Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DVI) Kombes Anton Castilani membenarkan kalau data manifest berantakan. Dia tidak tahu pasti berapa jumlah penumpang di pesawat, yang jelas hingga kemarin sore, sudah ada 51 keluarga yang melaporkan anggota keluarga mereka hilang. Data yang masuk di DVI, menyebutkan terdapat delapan penumpang asal Rusia, satu asal Perancis, satu asal Amerika dan 41 asal Indonesia.

Kemungkinan besar jumlah tersebut akan terus bertambah. Jika itu terjadi, maka terdapat perbedaan data antara DVI dan PT Trimarga Rekatama. “Kemarin ada empat orang yang melapor batal naik. Tapi mereka bilang, kemungkinan kursinya digantikan orang lain,” ujarnya.

Hingga kemarin, posko DVI Mabes Polri di Pintu Kedatangan Bandara HPK terus didatangi keluarga korban. Oleh petugas, diambil beberapa data antemortem (sebelum meninggal) untuk dicocokan dengan korban usai evakuasi.

“Semua korban akan dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dicocokkan DNAnya dengan keluarga,” jelas Direktur Eksekutif DVI Kombes Anton Castilani. Menurutnya, Polri sudah menurunkan tiga tim. Pertama di lokasi, kedua di Bandara dan ketiga di RS Polri Kramat Jati. (ken/dim/kuh/jpnn)

Korban Keganasan Gunung Salak

  1. Pesawat Trike bermesin PKS 098
    Jatuh di Lido, Bogor, 10 Oktober 2002
  2. Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU
    Jatuh di Kemang, Bogor, 29 Oktober 2003
  3. Pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport
    Jatuh di Desa Wates Jaya, Cijeruk, Bogor, 15 April 2004
  4. Pesawat Cessna 185 Skywagon
    Jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor, 20 Juni 2004
  5. Pesawat Casa 212 TNI AU
    Jatuh di Gunung Salak, Juni 2008 di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut
  6. Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug
    Jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Bogor, 30 April 2009

Sekilas Gunung Salak

  • Gunung Salak terletak pada 6°43′ LS dan 106°44′ BT terdiri dari tiga puncak:
  • Puncak Gunung Salak I 2.211 m (sekitar 7.253 kaki)
  • Puncak Gunung Salak II 2.180 m dpl (7.152 kaki)
  • Puncak Sumbul 1.926 m dpl (6.318 kaki).

Dapat didaki dari beberapa jalur

  1. Jalur teramai:    Dari Curug Nangka —-> Tamansari, Bogor yang letaknya di sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak II.
  2. Puncak Salak I:     Dari arah timur: Cimelati dekat Cicurug, Sukabumi.
  3. Puncak Salak II     Dari Sukamantri—-> Ciapus —-> Tamansari, Bogor.
  4. Jalur ‘belakang’:     Dari Cidahu ——> Sukabumi, atau dari Kawah Ratu dekat Gunung Bunder.

Pegunungan di Jabar yang cukup rawan untuk penerbangan karena sering diselimuti kabut yang menyebabkan pesawat hilang kontak dan menghilang dari radar:

  • Kawasan Gunung Ciremai
  • Kawasan Gunung Halimun
  • Kawasan Gunung Salak

Misteri Gunung Salak

  • Meletus dua kali: Tahun 1669 dan Tahun 1824
  • Pada abad ke 4 dan 5 di kaki Gunung Salak berdiri kerajaan Hindu pertama di Jawa Barat dengan nama Salakanagara.
  • Terungkapnya kerajaan Salakanagara bermula dari penemuan tulisan Raja Cirebon yang berkuasa tahun 1617 Wangsakerta. Dari sinilah diketahui, jika kerajaan Hindu pertama di Jabar bukan Tarumanagara, tapi Salakanagara.
  • 91 lokasi tempat petilasan atau tempat bersemedi para raja dan pengikutnya.
  • 40 makam kuno yang berusia ratusan tahun
  • Misteri adanya goa berisi belasan patung emas berbagai ukuran.

Skenario Evakuasi

Jalur Udara  
Dari lokasi jatuh –> Helikopter Super Puma menuju Cidahu –> Cassa menuju Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta–> petugas akan menyerahkan ke pihak terkait untuk evakuasi lebih lanjut.

Jalur Darat
Dari lokasi jatuh–> Desa Cijeruk, Bogor–>  Posko Evakuasi di Desa Loji, Cigombong, Bogor
–> RS PMI Bogor (selamat)
–> RS Kramat Jati Polri, Jakarta (tewas)

Kejanggalan

  1. Mengapa instrumen Ground Proximity Warning System (GPWS) atau alat pendeteksi ketinggian, minimum obstacle clearance altitude (MOCA), minimum off route altitude (MORA), dan theater airborne warning system (TAWS) tidak memberitahu pilot pesawat bila sudah terlalu dekat dengan daratan, melenceng dari rute penerbangan, dan ada hambatan/tebing gunung di jalur penerbangan?
  2. Mengapa peralatan emergency location beacon-aircraft (ELBA) atau emergency locator transmitter (ELT) yang menunjukkan posisi pesawat saat kecelakaan tidak memancarkan sinyal darurat?
  3. Mengapa pilot meminta izin menurunkan ketinggian dari 10 ribu meter menuju 6 ribu meter dan sebelum dijawab ATC Bandara Soekarno Hatta posisi pesawat sudah berada di ketinggian 5.400 meter?
  4. Mengapa manifes penerbangan yang berisi daftar penumpang pesawat tidak ditinggal di bandara, namun dibawa penumpang ikut dalam penerbangan?

Pilot yang Pilih Rute Berbeda

PENYEBAB joy flight SSJ100 menjadi deadly flight mulai terungkap. Terutama, kenapa penerbangan kedua tersebut mengambil rute Bandara Halim Perdana Kusuma – Gunung Salak – Pelabuhan Ratu.

Padahal, rute tersebut ternyata jauh berbeda dengan penerbangan pertama.

Memang, penerbangan berdurasi sekitar 30-an menit tersebut untuk melintasi Pelabuhan Ratu. Pilot Alexander Yablontsev diberi keleluasaan untuk menentukan jalur mana yang akan diambil. “Karena dia dari pihak manufacturing, diberi kebebasan untuk pilih jalur,” ujar Consultant and Business Development PT Trimarga Rekatama Sunaryo.

Penerbangan pertama Sukhoi yang mendarat kembali di Halim sekitar pukul 13.00 WIB hanya berputar di langit Jakarta. Sunaryo tidak tahu kenapa di penerbangan kedua Alexander memilih untuk mampir ke Gunung Salak. Selanjutnya, seperti diketahui peristiwa mengenaskan itu terjadi.

Karena itu, Sunaryo menegaskan keputusan melewati rute Gunung Salak murni keputusan pilot Alexandr Yablontsev dan Kopilot Alexandr Kochetkov. Termasuk kalau selama penerbangan ada manuver-manuver yang dianggap perlu oleh pilot. Kenapa? Karena tema penerbangan kemarin adalah demo kepada calon pembeli. “Namanya saja demo flight, jadi terserah mereka,” imbuhnya.

Sunaryo mengakui, kalau peristiwa nahas itu tidak terjadi, pihaknya berencana menggelar joy flight ketiga di malam hari. Setelah peristiwa mengerikan itu terjadi pihaknya membatalkan penerbangan malam.

Karena terkait dengan keputusan pilot, Sunaryo tidak mau berkomentar banyak tentang kebijakan pilot untuk menurunkan ketinggian pesawat dari 10 ribu kaki ke 6 ribu kaki. Meski demikian, dia meyakinkan kalau pilot tersebut paham dengan risiko melintasi Gunung Salak, meski baru pertama menerbangkan pesawat di Indonesia.

Saat disinggung sepaham apa pilot tersebut, dia mengatakan Alexandr sudah memperlajari peta. Apalagi, Sunaryo beralasan di pesawat itu ada orang dari PT Trimarga yang sudah hafal trayek ke Gunung Salak.

Kahumas Basarnas Gagah Prakoso di Terminal Kedatangan Bandara Halim menjelaskan kalau SSJ100 tidak mengirim sinyal emergency sebelum hilang kontak. Makin menguatkan kalau pesawat tersebut mengalami benturan di Gunung Salak secara tiba-tiba.

Gagah menjelaskan, pilot tersebut turun dari ketinggian 10 ribu kaki ke 6 ribu kaki untuk mengindari awan. Seperti diketahui, pesawat tidak ramah dengan awan karena bisa menyebabkan goncangan alias turbulensi. Kemungkinan besar, Alexsander Yablontsev ingin menghindari awan yang terlampau banyak.

Memang, masih banyak kemungkinan kenapa burung besi seharga USD35 juta itu bisa jatuh. Tapi, melihat kondisi pesawat yang hancur diduga kecepatan pesawat saat itu sekitar 600-700 km per jam.  Jadi, begitu turun untuk menghindari awan, SSJ100 langsung menabrak gunung. “Itu inisiatif pilot,” kata Gagah.

Yang pasti, kata Gagah, berdasarkan rekaman percakapan antara pesawat dengan ATC Bandara Soekarno Hatta, saat pilot melaporkan pesawat bakal menurunkan ketinggian dari 10 ribu meter menuju enam ribu meter, belum ada respon dari Air Traffic Control (ATC). Saat itulah diketahui kalau pesawat buatan Rusia itu hilang kontak.

Gagah mengakui setelah lost contact, SSJ100 tidak mengirim sinyal darurat ke otoritas penerbangan Indonesia. Setelah di cross chek ke ATC Bandara Changi dan ATC Australia, mereka juga tidak menerima sinyal darurat tanda pesawat jatuh. Padahal, pesawat yang jatuh biasanya mengirimkan sinyal location beacon-aircraft (ELBA)” atau emergency locator transmitter (ELT).

“Kemungkinannya, impact benturan terlalu besar sehingga alatnya rusak. Kalau habis baterei tidak mungkin, karena baterei ELT dan ELBA biasanya tahan selama seminggu. Karena itu agak aneh mengapa tidak ada sinyal darurat setelah jatuh,” terangnya.

Meski demikian, Gagah enggan berspekulasi lebih jauh. Menurutnya, ada baiknya menunggu hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sebab, dari hasil investigasi institusi itulah akan diketahui dengan pasti kenapa pesawat tersebut jatuh. “Apakah pesawat itu punya ELT atau tidak, itu tergantung investigasi KNKT. Namun, semua pesawat komersial seharusnya punya alat itu,” terangnya.

Kejanggalan lain adalah rute penerbangan. Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai keputusan joy flight kearah Pelabuhan Ratu tidak lazim. Karena daerah di selatan Jakarta yang berkontur gunung-gunung, lebih berawan, dan lebih berangin kencang dibandingkan jalur utara Jakarta tidak tepat bila digunakan untuk penerbangan demo.

“Kalau pilotnya hafal rute penerbangan di Indonesia, mereka pasti akan mengarahkan rute joy flight ke Krakatau atau Indramayu yang relatif lebih ringan,” terangnya.

Ketinggian pesawat ketika terbang di atas gunung Salak juga menjadi perhatian. Menurut Gerry, pilot Indonesia akan mengambil jarak aman 11 ribu meter di atas permukaan air laut di atas Gunung Salak, sesuai ketentuan MOCA (Minimum Obstacle Clearance Altitude).

Pertama untuk menghindari kabut dan risiko harus mengurangi ketinggian karena cuaca masih relatif aman. Selain itu, menghindari risiko benturan dengan tebing karena ketinggian puncak Gunung Salak sekitar enam ribu kaki. Karena itu, pilot Indonesia biasanya akan mengambil ketinggian yang aman di atas Gunung Salak sekitar sembilan ribu feet.

“Awan di Gunung Salak juga biasa bertumpuk-tumpuk kalau sore. Kalau penerbangan di atas 20 ribu kaki mungkin tidak ada masalah, namun kalau hanya enam ribu feet tentu risiko gangguan cuaca lebih besar,” terangnya.  (dim/ken/kuh/jpnn)

Ucapkan Bela Sungkawa, Putin Telepon SBY

MUSIBAH jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 di Gunung Salak, Bogor, mendapat perhatian luas. Bahkan, pemimpin kedua negara bakal melakukan komunikasi terkait dengan jatuhnya pesawat yang tengah melakukan joy flight tersebut.

Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah menuturkan, pihaknya telah menerima pemberitahuan dari kedutaan besar Rusia di Jakarta bahwa Presiden Vladimir Putin akan menghubungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Kami juga mendapat informasi (Presiden Putin akan menelepon SBY, Red) dari KBRI di Moskow,” kata Faizasyah di kompleks Istana Kepresidenan, tadi malam.

Hubungan telepon antara SBY dan Putin dilakukan pukul 22.30 tadi malam. Faizasyah mengatakan, hubungan telepon terkait dengan ucapan belasungkawa.

Selain komunikasi via telepon, surat belasungkawa dari pemerintah Rusia juga dikirimkan melalui kedubes Rusia di Jakarta. “Surat disampaikan kepada kementerian luar negeri,” kata mantan juru bicara kemenlu itu.

Penjualan SSJ100 Dihentikan Sementara

Terlepas dari hubungan dua negara, bisa jadi, joy flight untuk memperkenalkan SSJ100 Rabu (9/5) itu akan percuma. Pasalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ternyata belum memberikan izin terbang komersial terhadap pesawat yang buat oleh Sukhoi Civil Aircraft tersebut. Artinya, pesawat belum boleh beroperasi meski beberapa perusahaan sudah melakukan pembelian.

Kemenhub mengaku tahu ada penerbangan promosi pesawat SSJ100 yang jatuh di Gunung Salak, Bogor. Namun, tetap boleh terbang karena joy flight kemarin masih dalam tahap hubungan bisnis antara perusahaan. “Kami tahu mereka ada promosi, tapi kami belum boleh ikut campur,” kata Menhub EE Mangindaan sebelum sidang kabinet di Kantor Presiden, kemarin.

“Nanti kalau persyaratan bolehkah pesawat ini diterbangkan di Indonesia, nah itu akan ada tim yang kita akan menguji,” urai Mangindaan. Prosesnya, maskapai penerbangan yang akan menggunakan pesawat tersebut mengajukan aplikasi ke Kemenhub. “Kalau oke, silakan airlinesnya (menggunakan),” sambungnya.

Mangindaan mengungkapkan, beberapa maskapai penerbangan sudah melakukan komunikasi dengan kementeriannya untuk menggunakan pesawat tersebut. “Prosesnya sekarang belum sampai di Kemenhub, tapi kami siap menindaklanjuti,” katanya.

Sementara itu, pasca-insiden jatuhnya pesawat, agen penjual SSJ100 memastikan kalau penjualan pesawat tersebut bakal dihentikan sementara waktu. Kegiatan jual beli itu akan dihentikan sampai proses investigasi selesai dilakukan oleh pihak KNKT dan Rusia. “Sampai diketahui semua penyebabnya,”  kata konsultan PT Trimarga Rekatama Indra Djani.

Namun, dia memastikan kalau penjualan bakal dipending cukup lama. Sebab, proses investigasi biasanya berjalan cukup lama lantaran berbulan-bulan. Maklum, pengusutan melingkupi berbagai hal mulai cuaca, mesin, atau human error.

Bagaimana dengan empat maskapai Indonesia yang sudah melakukan pembelian” Dia tidak menjawab detil. Dia hanya mengurai diantara perusahaan itu adalah Sky Aviation yang membeli dua belas pesawat dan Queen Air enam unit. “Saya tidak mau bersepkulasi tentang kegiatan marketing,” tambahnya.
Sementara itu, jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak mendapat perhatian serius Presiden SBY. Presiden menginstruksikan dilakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat yang tengah melakukan joy flight itu.

“Saya berharap investigasi segera dilakukan dengan seksama,” kata SBY dalam keterangan di base ops Halim Perdanakusuma, kemarin. SBY mengaku telah mendapatkan laporan dari Kepala Basarnas terkait dengan upaya pencarian dan evakuasi korban. Begitu juga laporan dari Wakasau dan jajaran TNI AU.

Presiden juga menyampaikan keprihatinannya atas jatuhnya korban dalam insiden tersebut. “Terus terang saya tidak bisa mengatakan sekarang, apa yang menyebabkan hilangnya atau pun barangkali jatuhnya pesawat itu. Investigasilah yang akan menjelaskan nantinya,” katanya.  (fal/dim/jpnn)

Leo Nababan: Ada yang Jual Nama Ical!

Rumor AY Nasution Disiapkan jadi Ketua Golkar Sumut

JAKARTA-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar membantah rumor yang menyebutkan Ketum Golkar Aburizal Bakrie alias Ical, menghendaki ketua DPD Partai Golkar Sumut mendatang dari militer nonaktif.  Nama pun disebut-sebut mengarah ke mantan Pangkostrad Letjen (Purn) AY Nasution
Wakil Sekjen DPP Golkar, yang juga Ketua Korwil Sumut, Leo Nababan, merasa yakin sangat tidak mungkin Ical sejauh itu membicarakan calon ketua Golkar Sumut. Jika Ical punya hasrat menimang AY Nasution, Leo menyatakan, dirinyalah yang pertama kali mendengar dari mulut Ical.

“Saya yakin Pak Ical tak sejauh itu. Saya tahu persis watak beliau (Ical, Red), yang taat azas, tahu hirarki. Kalau ada harapan seperti itu, beliau pasti menyampaikan ke saya selaku ketua korwil, lantas saya teruskan ke Plt ketua Golkar Sumut untuk disukseskan,” ujar Leo Nababan kepada Sumut Pos, Kamis (10/5).

Leo pun menceritakan, pada Rabu (9/5) dia dipanggil Ical untuk membicarakan masalah partai. Namun, kata Leo, dalam pertemuan itu Ical sama sekali tidak menyinggung nama AY Nasution. “Kalau ada yang menyebut Pak Ical ingin Pak AY Nasution, itu berarti ada yang jual-jual nama beliau (Ical, Red),” tuding Leo.

Hanya saja diakui, AY Nasution sebagai mantan petinggi TNI AD, punya chemistry dengan Golkar.  “Beliau (AY Nasution, red) itu tentara. Dari sejarahnya, berdirinya Golkar juga tak lepas dari peran TNI AD, selain MKGR, Kosgoro, SOKSI,” terang Leo.

“Jadi, chemistry ideologinya sudah barang tentu sama, yakni Pancasila, UUD, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,” imbuhnya.
Jadi, katanya, Golkar membuka diri bagi siapa pun untuk menyiapkan diri maju sebagai calon ketua Golkar Sumut. “Tapi untuk saat ini DPP belum berpikir untuk menggelar Musdalub,” ujar Leo.

Terkait dengan AY Nasution, Leo mengingatkan, peluangnya untuk ikut maju sebagai calon ketua Golkar Sumut, tidak tertutup. “Tapi jangan karena mau maju di pilgub, terus ambil ketua Golkar. Tapi kalau untuk mengabdi (sebagai ketua Golkar Sumut, Red), why not?” terang Leo.

Dihubungi terpisah, AY Nasution mengaku dirinya tidak tahu-menahu mengenai pemberitaan yang menyebut dirinya dielus-elus sebagai calon ketua Golkar Sumut. “Yang benar, saya akan ikut maju sebagai calon gubernur Sumut,” tukasnya via telepon kepada Sumut Pos.

Jadi, tidak benar juga akan ikut dicalonkan sebagai ketua Golkar Sumut? “Bukan tidak benar, tapi saya tidak tahu berita itu. Sebaiknya ditanyakan saja kepada yang ngomong di berita itu,” imbuhnya.

Pria kelahiran Medan itu pun enggan berbicara panjang lebar mengenai rumor tersebut. Dia hanya menegaskan berkali-kali, bahwa saat ini dirinya konsentrasi untuk mencalonkan diri sebagai cagub Sumut. “Ini kebetulan saya sedang di Jakarta, tapi saya menetap di Medan untuk konsentrasi menuju Sumut 1,” tegasnya.

Sudah mendaftar ke partai mana? “Tak usahlah disebutkan partai itu,” harapnya.

Diberitakan sebelumnya, konflik di tubuh DPD Partai Golkar Sumut kian meruncing. Plt Ketua DPD Andi Achmad Dara kabarnya sengaja dipertahankan DPP untuk menunggu sosok yang tepat memimpin Golkar Sumut. Informasi yang berkembang, AY Nasution adalah sosok yang dimaksud.

“Nama ini muncul berkat manuver  yang dilakukan oleh kelompok Tabagsel alias Tapanuli Bagian Selatan, dengan memanfaatkan isu Musdalub yang digelindingkan Kelompok 55 yang dimotori mantan Sekretaris DPD Golkar Sumut Hardi Mulyono,” ujar sumber Sumut Pos di partai berlambang pohon beringin itu, Rabu (9/5).

Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut Amru Daulay mengakui kalau dirinya pernah melakukan pertemuan dengan AY Nasution. “Saya pernah bertemu dengannya dan saya secara pribadi mendukung beliau itu (AY Nasution) dalam pencalonan Gubernur Sumatera Utara. Golkar kan membuka semua bagi siapa saja yang akan menginginkan diri mencalonkan diri dari Partai Golkar untuk maju sebagai Cagubsu,” ujar Amru Daulay, Rabu (9/5).

Hardi Mulyono: Ini Lucu-lucu

Rumor ini pun langsung ditanggapi mantan sekretaris DPD Golkar Hardi Mulyono. “Untuk jadi ketua itu adalah kader partai yang minimal sudah lima tahun. Kemudian itu harus ditetapkan melalui Mudalub. Ini lucu-lucu, kalau tiba-tiba ada yang mengusulkan AY Nasution jadi Ketua DPD I Golkar,” tegas fungsionaris PG Sumut yang baru terkena revitalisasi tersebut.

Dijelaskannya, sosok AY Nasution dalam sisi perjalanan hidupnya berkecimpung di dunia kemiliteran. Secara nyata juga, tidak bersinggungan dengan kehidupan atau seluk-beluk partai, terlebih di Golkar Sumut. “Dia (AY Nasution, red), baru saja pensiun dari jabatan jenderalnya. Jadi, ini lucu-lucu. Makanya jangan lucu-lucu untuk soal ketua dan sebagainya,” kata pria yang mengaku tengah di Pontianak saat diwawancarai Sumut Pos, via seluler tersebut.

Tangapan berbeda muncul dari pengamat politik Shohibul Anshor. Menurutnya, AY Nasution memimpin Golkar Sumut bukanlah hal yang tak mungkin.  Rumor itupun tercipta karena diduga ada kader yang menginginkan mantan Pangkostrad itu.

“Ya, ada minat dari kader-kader Golkar ke arah situ. Dan jika benar, ini surprise. Artinya, arahnya nanti bisa menggabungkan Demokrat, Hanura dan Gerindra serta Golkar, terlebih dalam Pilgubsu 2013 mendatang,” katanya kepada Sumut Pos, kemarin.

Apalagi, sambungnya, AY Nasution memiliki kedekatan dengan keluarga Istana, yang notabene adalah pendiri Demokrat. Selain itu, ada hubungan emosional dengan Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Partai Gerindra, begitu halnya dengan Wiranto bersama Partai Hanuranya. (sam/ari)

Tak Ada Murid saat Panen Cengkeh Tiba

Pengabdian Sarjana Sumut di Kepulauan Simeulue (3/Habis)

Gempa tetap menjadi momok bagi sarjana asal Sumut yang menjadi Guru SM-3T dan mengabdi di Kepulauan Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam. Namun masih banyak lagi kasus yang membuat mereka harus kerja ekstra. Misalnya, saat musim cengkeh dan ketiadaan upacara bendera.

Kesuma Ramadhan, Kepulauan Simeulue

Soal gempa seperti yang dirasakan beberapa guru di SMPN 1 Desa Kampung Aie, Kecamatan Simeulue Tengah. Roby, seorang koordinator guru SM-3T, mengakui gempa yang berulang membuat mereka tak nyaman. Ya, meskipun secara teknis tidak ada kendala, namun bagi Roby fenomena gempa yang rutin terjadi memberikan trauma bagi para guru SM-3T.

“Bahkan akibat gempa besar yang terjadi pertengahan April kemarin, kami harus lari ke daerah pegunungan bersama masyarakat untuk menyelamatkan diri jika terjadi tsunami seperti 2004 lalu,” sebutnya.

Gambaran memprihatinkan lainnya begitu terasa ketika masa musim cengkeh tiba. Saat musim itu berlangsung, maka ruang sekolah akan terasa sepi karena ketidakhadiran para siswa didik. “Mereka meminta izin membantu orang tuanya memetik hasil panen,”ujar Roby yang diamini seluruh temannya yang lain.

Selain itu, pengakuan mengejutkan juga datang dari guru SM-3T lainnya, Reza Pohan.

Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Makmur Jaya, Kecamatan Salam, Reza mengaku terkejut dengan pola jam belajar di sekolah itu. Sebelum kehadirannya, guru yang menetap di sekolah tersebut, selalu menerapkan masuk belajar pukul 11.00 WIB dan berakhir pukul 13.00 WIB.
Padahal menurut Reza, seharusnya jam belajar sudah dimulai pada pukul 08.00 WIB.

Selain itu dari pengakuan Reza, sekolah swasta itu juga tidak pernah melaksanakan upacara bendera sejak sekolah itu berdiri.

Alhasil, kedatangan Reza menambah tugas baru untuk mengubah sistem yang telah mendarah daging bagi seluruh siswa dan guru. “Agar ini bisa berubah secara bertahap, setiap pagi saya selalu memukul lonceng pukul 08.00 pagi. Saya juga selalu membiasakan upacara bendera dan bergantian mengajak guru lain menjadi pembina upacara,” ungkapnya.

Menariknya lagi, lagu Indonesia Raya dan Hening Cipta di Daerah Simeuleu Tengah terkadang agak asing terdengar di telinga. Selain lebih merdu dan mendayu, para siswa mendendangkan kedua lagu itu sesuai dengan dialek daerahnya yang cenderung bernuansa pesisir.

Ternyata sesuai informasi yang didapat dari sejumlah masyarakat, dialek yg digunakan penduduk Simeuleu, terbagi dalam tiga dialek dengan daerahnya masing-masing. Yakni  untuk masyarakat Kecamatan Simeleue Timur, Simeuleu Selatan, Teupa Barat, dan Teluk Dalam menggunakan dialek Defayan.
Masyarakat Kecamatan Simelueu Barat, Alafan dan Salang, dalam kesehariannya menggunakan dialek Sigulai. Sementara masyarakat Simeulue Timur, dialek yang digunakan agak berbeda dengan keduanya, yakni menggunakan dialek Jame.

Berjuang Sendiri di Pulau Terpencil

Perjuangan lebih berat tampaknya dihadapi Leonard Tambunan. Dia bertugas di SMPN 3 Kecamatan Teluk dalam Desa Bulu Hadik. Nah, berbeda dengan nasib teman-temannya yang lain, pria kelahiran 29 September 1985 ini, harus mampu berjuang sendiri di sebuah pulau kecil bernama Siumat yang letaknya sedikit terpisah dari Kepulauan Simeuleu.

Untuk bisa sampai ke Kota Sinabang, Leonar setidaknya harus menyeberangi lautan lepas menggunakan kapal kecil, yang sering disebut masyrakat setempat dengan sebutan Robin.

Namun tidak mudah untuk melaluinya, selain harus memakan waktu sekitar dua jam lamanya, pengendara Robin juga harus memperhatikan kondisi cuaca yang sangat tidak menentu di daerah tersebut.

“Sebulan yang lalu, seorang guru kontrak asal Sinabang baru saja meninggal dunia akibat disapu ombak saat menyeberang dari Siumat ke Kota Sinabang. Kondisi inilah yang membuat saya harus berpikir matang untuk pergi ke Kota,” ujarnya.

Dibalik bayang-bayang yang mengancam keselamatan jiwanya, Leonar harus membiasakan hidup sendiri mengajar di SD dan SMP satu atap di daerah pengabdiannnya.

Anak keempat dari enam bersaudara ini tak tahu harus mengadu kemana, jika terjadi sesuatu hal buruk yang menimpa dirinya. Pasalnya keterbatasan sinyal untuk berkomunikasi juga menghantui hari-harinya. Selain itu ketiadaan bahan makanan hingga pasokan air bersih menambah warna lika-liku pengabdian Leonar di daerah yang terasing baginya .

Yang lebih memilukan lagi murid seakan tak begitu peduli dengan keberadaan guru, dan ini didukung dengan ketidakpedulian para orangtua murid atas pendidikan yang ditempuh anaknya. “Mereka juga berani melawan ketika dinasihati bahkan sering bolos, itu jugalah yang membuat saya kesulitan ketika memberikan materi di kelas,”tuturnya.

Beruntungnya, Leonar mendapatkan kesempatan untuk tinggal di sebuah rumah dinas milik pemerintah daerah setempat untuk tinggal tanpa dikenakan biaya. Ditemani dua orang guru bantu asal daerah setempat, menjadi pelipur lara bagi Leonar untuk bisa berbagi pengalaman dalam melewati hari-harinya.

Meskipun begitu, Leonar tak pernah menyerah untuk tetap mengabdi meskipun aral dan rintangan menghadang. Karena bagi pria kelahiran Desa Batang Serangan, Kabutaen Langkat ini, menjadi guru dan bisa berbagi ilmu adalah mimpi yang telah lama diimpikannya.

Melihat kondisi itu, Tim Monev Ditjen Dikti, Ganefri serta staf ditjen Dikti, Riyanto, mengaku akan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi Leonar dan seluruh  masalah yang dihadapi guru SM 3T di Simeuleu.

“Beragam masalah telah saya dengarkan dan lihat langsung. Tapi untuk diketahui bahwa ke-244 guru SM 3T di sini adalah orang-orang yang beruntug. Karena dengan pengabdian selama setahun nantinya kalian akan mendapatkan prioritas untuk mengikuti program profesi guru (PPG) tanpa melalui seleksi. Selain itu para guru SM-3T juga akan mendapatkan sertifikasi yang nantinya akan secara langsung mendapatkan tunjangan sertifikasi,” ujar Ganefri, didampingi Riyanto  saat melakukan pertemuan dengan puluhan guru SM-3T di SMPN 3 Kecamatan Teluk Dalam Desa Bulu Hadik, belum lama ini.

Kalimat akhir itu juga menjadi kisah akhir perjalanan dan penelusuran Sumut Pos di Simeuleu. Minggu (29/4) lalu, sekitar pukul 10.00 WIB, tim akhirnya bertolak kembali ke Kota Medan. Perjalanan hingga ke Kota Medan dicapai selama 50 menit bersama Merpati Air. Tak terasa, empat hari telah terlalui. Begitu banyak duka dan cerita yang dialami para sarjana Sumut yang mengabdi di kepulauan itu. Salut. Sebagai generasi muda, ternyata mereka mau bersusah payah di sana dibanding sekadar di belakang meja. Sekali lagi, salut. (*)

Amputasi

Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

AMPUTASI adalah sebuah kata yang menjadi momok bagi semua orang. Jika melihat arti harfiah yang ada di dalam kamus, amputasi berarti pemotongan (anggota badan), terutama kaki dan tangan dengan tujuan  untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Bayangkan betapa menyeramkan makna dari sebuah kata yang pada awalnya berasal dari kata amputare itu.

Namun kini, kata yang berasal dari bahasa Italia itu pun mulai bisa dipakai bukan hanya di dunia kedokteran. Bebarapa sendi kehidupan, mulai dari ekonomi, politik dan lain sebagainya pun telah  menerapkan kata amputasi guna menyelamatkan sebuah kepentingan ataupun mencapai sebuah tujuan.
Kalau sudah begini, jadi teringat suhu politik yang ada di Sumatera Utara jelang Pilgubsu yang berlangsung pada 7 Maret 2013 mendatang.

Bukan satu atau dua, tapi bisa empat atau lima, bahkan mungkin enam nama yang kini digadang-gadang sebuah partai politik untuk diusung dan dimenangkan pada Pilgubsu nanti.

Fakta ini tentu saja menguntungkan sebuah partai politik, karena dengan semakin banyaknya kader ataupun tokoh yang ingin bergabung dan mendapat restu dari partai tersebut, maka semakin tinggi pula nilai jual dan popularitas partai yang bersangkutan.

Artinya apa? Para calon gubernur tadi harus pandai-pandai mengambil hati ketua partai sehingga mendapat restu untuk maju pada Pilgubsu mendatang. Di sinilah akhirnya lahir sebuah lelucon. Kenapa?

Pasalnya, jikapun nanti terpilih sebagai gubernur, maka para calon gubernur tadi akan memimpin rakyat Sumatera Utara dan bukan memimpin partai yang telah menggolkan dirinya sebagai gubernur. Jadi, seharusnya para calon gubernur tadi mengambil hati masyarakat, bukan hati ketua partai. Terlebih Pilgubsu masih menerapkan sistem pemilihan langsung yang melibatkan seluruh masyarakat Sumatera Utara.

Tak tahu, apakah para calon gubernur tadi lebih memandang penting restu dari seorang ketua partai dari pada resttu masyarakat Sumatera Utara, yang sejatinya bersentuhan secara langsung dan memiliki peran yang sangat sentral untuk memenangkan seorang tokoh pada Pigubsu mendatang. Bukannya suara yang dimiliki oleh seorang ketua partai sama banyaknya dengan jumlah suara yang dimiliki oleh si Ucok, si Udin ataupun si Paijo. Sama-sama satu suara.

Tak ada aturan yang mengatakan bahwa seorang ketua partai memiliki jumlah suara yang lebih banyak dibanding masyarakat awam.  Ingat, vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Di sisi lain, belum tentu seorang calon gubernur yang diusung oleh sebuah partai benar-benar tokoh yang popular di tengah mansyarakat, apalagi dicintai masyarakatnya.

Karenanya, tak heran bila kini masyarakat mengharapkan adanya tokoh independen yang terbukti benar-benar mampu merangkul dan mengumpulkan dukungan secara langsung dari masyarakat.

Tapi, karena sulit untuk mendapatkan dukungan secara langsung yang besarnya hanya 3% dengan sebaran 50 persen kabupaten/kota yang ada di Sumut, tak ayal para calon gubernur tadipun beramai-ramain memilih cara yang menurut mereka sangat gampang dilakukan yakni mendekati dan merayu ketua partai demi mendapat dukungan.

Ya, jika hitungan-hitungannya masih mengacu pada UU No 12/2008, untuk sebuah provinsi yang jumlah penduduknya mencapai 12 juta jiwa lebih seperti yang disebutkan di atas, maka seorang calon gubernur di Sumatera Utara minimal harus mendapatkan sedikitnya 45.000 dukungan. Jelas, bukan perkara yang mudah untuk dilakukan. Hmmm….

Nah, menyadari jika mencari dukungan langsung kepada masyarakat bukan hal yang gampang, maka konsekwensi yang dipilih para calon gubernur tadi adalah menggantungkan nasibnya kepada ketua partai.

Ujung-ujungnya mereka harus rela jika akhirnya menjadi salah satu dari beberapa tokoh yang harus tereliminasi, karena partai yang bersangkutan melakukan amputasi demi mendapatkan satu figur, yang menurut mereka dapat memimpin provinsi ini dengan baik, eh… maksudnya berpotensi besar memenangkan Pilgubsu mendatang. Hajab-hajab. (*)

Mulialah Orang yang Meniti Ibadah

Drs H Hasan Maksum Nasution SH, SPd I, MA

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perhatikanlah, sesungguhnya jalan yang menuju surga itu dikepung oleh kesukaran (hal-hal yang tidak menyenangkan), sementara jalan menuju neraka itu dikepung dengan kesenangan-kesenangan nafsu”.

Dan sabda beliau lagi: “Perhatikan. Sesungguhnya jalan menuju surga itu penuh dengan tanjakan (kesukaran) sedangkan jalan menuju ke neraka itu, mudah dan penuh kesenangan syahwat”.

Nah, ibadah merupakan jalan menuju kebahagiaan dan cara yang harus ditempuh untuk masuk surga, karenanya, penciptaan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah, agar tercipta puncak kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki di sisi Allah.

Jalan yang dilalui dalam beribadah mulai dari awal hingga yang akhir, dari tingkat terendah sampai tertinggi, yang menjadi harapan dan cita-cita bagi penempuhnya, ternyata jalan itu sangat sulit dan melelahkan, banyak tanjakan dan penuh resiko, nyaris terkepung rintangan dan tantangan, pembegal dan penjagal.

Sementara di sisi lain, manusia sebagai penempuh jalan itu, sangatlah lemah, berumur pendek dan memiliki banyak keterbatasan, namun ia tetap dituntut untuk dapat melaluinya hingga lolos sampai dipuncak, meraih kesuksesan. Bila tidak, akan hancur, merintih pedih, pedih dalam kehinaan siksa yang tiada henti.

Merentas dan Mematahkan Hambatan

Bagaimana caranya merantas dan mematahkan hambatan dan kesulitan-kesulitan tersebut, hingga dapat meraih buah kesuksesan beribadah? tahapan-tahapan yang mesti dilalui itu dalam pandangan sang maestro ada tujuh, secara kronologis tujuh tanjakan dan tahapan itu ialah tahap ilmu dan ma’rifat, tahap taubat, tahap rintangan, tahap godaan, tahap motivator tahapan pendoda dan pencemar ibadah dan tahap puji dan syukur.

Allah SWT tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaNya. Jalan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya, begitu jelas bagi orang yang memiliki kehendak dan ketetapan hati untuk menempuhnya, tetapi Allah berkuasa menyesatkan siapa yang dia kehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Allah maha mengetahui terhadap orang-orang yang pantas mendapatkan petunjuk.
Sesungguhnya ibadah itu merupakan buah dari ilmu, kegunaan umum, menghasilkan kekuatan bagi seseorang hamba, harta perniagaan, para wali, jalan-jalan orang yang bertakwa, saham orang yang alim, profesi para pembesar dan pilihan orang-orang yang memiliki penglihatan.
Ibadah juga adalah jalan menuju kebahagiaan dan cara yang harus ditempuh untuk masuk surga.
Bersamaan dengan itu, manusia merupakan makhluk yang lemah, sementara masa yang dilaluinya begitu sulit dan melelahkan, persoalan keagamaan menjadi semakin surut, kesempatan untuk merealisasikan komitmen keagamaan sangat sempit, umur begitu pendek, kesibukan sangat banyak dan menumpuk, juga kesempatan untuk beramal selalu saja terabaikan dan gegabah dalam menunaikannya.
Padahal yang menilai, maha melihat. Karenanya barangsiapa yang memperoleh bekal ketaatan yang memadai, sungguh dialah orang yang beruntung dan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, sepanjang masa selama-lamanya.
Sebaliknya, barangsiapa yang melewatkan kebaktian begitu saja, maka merugilah ia bersama orang-orang rugi, binasalah ia bersama orang-orang yang binasa, karena ia menyia-nyiakan ibadah yang menjadi perintah Allah baginya, maka jadilah ia berada dalam sebuah kondisi yang terekam oleh kebinasaan dan kerugian yang besar.
Mulialah orang-orang yang bermaksud meniti ibadah, tapi sayang jumlahnya hanya sedikit dan mulialah orang-orang yang merambah dan menempuh jalan dan sangat sedikit diantara mereka yang konsisten dengan tujuan semula, sampai memperoleh apa yang dicita-citakan.
Sesungguhnya, sesuatu yang pertama kali menggerakkan kesadaran seorang hamba untuk beribadah dan menempuh jalan secara murni dan ikhlas adalah, karena adanya motivasi getaran samawiyah dari Allah SWT dan petunjuk- Nya secara khusus.
Dalam surat Az-Zumar ayat 22 Allah berfirman: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk menerima agama Islam, lalu ia mendapatkan cahaya dari Tuhannya. Dengan demikian, maka seseorang perlu mengendalikannya dengan kendali takawa, agar keberadaan nafsu itu tetap ada.(*)
(Penulis Dosen STAISU)

Aktualisasi Makna Hijrah

Hijrah merupakan tonggak penting bagi perjalanan Islam dan kaum muslimin. Dengan adanya hijrah, kaum muslimin menemukan posisi strategis untuk mengembangkan dakwah Islam dan menancapkan pondasinya yang kokoh sehingga terwujud negara Islam yang kuat.

Maka sudah selayaknya apabila nilai-nilai berharga yang terkandung di dalamnya diaktualisasikan pada kehiduapan nyata, sehingga akan memberikan dampak positif sebagaimana hijrah ini juga telah memberikan pengaruh signifikan pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya ketika itu.

Hijrah secara harfiah berarti meninggalkan dan secara istilah adalah berpindah dari negara ke negara Islam. Negara kafir adalah suatu negara yang syiar-syiar Islam tidak ditegakkan; seperti adzan, shalat berjamaah, hari raya, shalat Jumat, dan lainnya.
Hijrah merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tidak mampu menegakkan syiar-syiar Islam di negara di mana dia menetap, dengan landasan firman Allah yang artinya .

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah). Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu.’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS An-Nisa: 97-99)

Imam Bukhari dalam Shahihnya mengungkapkan latar belakang ayat tersebut dengan menukil perkataan Ibnu Abbas, “Ada sekelompok kaum muslimin tinggal bersama kaum musyrikin (di Mekah). Dengan begitu mereka menambah jumlah pasukan musyrikin untuk melawan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Lalu mereka terbunuh ditembus anak panah atau tertebas pedang. Lantaran itu Allah menurunkan ayat tersebut”.

Imam Ibnu Katsir seorang penafsir kenamaan mengatakan “Ayat ini mencakup setiap muslim yang menetap di tengah-tengah orang kafir sedangkan dia mampu untuk hijrah dan tidak mampu untuk menegakkan agamanya. Maka orang tersebut telah menzhalimi diri mereka sendiri, dan telah melakukan keharaman berdasarkan ijma (kesepakatan) dan berdasarkan ayat ini”.

Mufassir lain, Imam As-Syaukani memberi tafsiran, “Ayat ini merupakan dalil wajibnya hijrah dari negeri kafir menuju negeri muslim bagi yang tidak kuasa menjalankan agamanya.” Syaikh Ibnu Utsaimin, seorang ulama di masa kita ini mengatakan, “Di dalam ayat tersebut terdapat dalil bahwa orang-orang yang tidak hijrah padahal mereka mampu, maka para malaikat mencabut nyawa mereka dan menghinakan mereka dengan berkata “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Hal ini dikecualikan bagi orang yang lemah, maka Allah mengampuni mereka dan Allah tidak membebani manusia melainkan sesuai kemampuannya.

Yang dikategorikan orang-orang lemah tersebut dijelaskan oleh Imam Ibnu Jarir Ath Thabari yaitu orang yang mendapati kesulitan, tidak memiliki daya dan tidak menemukan jalan untuk hijrah.

Dengan keterangan di muka, maka jelaslah bagi kita bahwa syariat hijrah merupakan suatu kewajiban dan kewajiban ini tetap berlaku serta relevan sampai akhir zaman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Hijrah tidak terhenti sampai terputusnya taubat dan taubat tidak terputus hingga matahari terbit dari Barat.” (HR Abu Dawd No 2479, Ahmad, 1:192, Darimi, No 2418, dishahihkan oleh Al-Albani).

Sebagai seorang muslim kita harus menaati setiap syariat yang digariskan oleh Rabb kita dan meyakini bahwa syariat tersebut merupakan kemaslahatan dunia dan akhirat kita. Inilah wujud dari persaksian kita bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Kita tidak perlu khawatir kehidupan kita akan bertambah melarat, susah, dan merana.

Allah sudah menjamin akan memberi kecukupan kepada kita. Kekhawatiran ini lebih disebabkan karena kita sudah begitu tergantung kepada kelezatan dunia. Realita yang terpampang di muka kita membuktikan, banyak dari saudara kita yang menetap di negara kafir menjadi lupa akan agamanya, gaya hidup dan pola pikirnya menyerupai orang-orang kafir.

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)

Imam Ibnu Katsir menafsirkan, “Ayat ini merupakan dorongan untuk hijrah dan motivasi agar berpisah dengan orang musyrik. Kemanapun orang mukmin itu pergi meninggalkan orang-orang kafir niscaya akan menemukan tempat yang luas dan tempat berteduh.”

Sedang Imam Ibnu Jarir At-Thabari mengatakan, “Barangsiapa meninggalkan negara kafir dan penduduknya yang kafir karena ingin menyelamatkan agamanya menuju negara Islam dan penduduk negeri itu masih komitmen dengan agamanya sesuai dengan yang disyariatkan Allah niscaya dia akan mendapati rezeki yang melimpah di negeri tersebut.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan hijrah ini, seperti diinformasikan oleh Jabir bin Abdillah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan gerak cepat untuk menyerang kaum Khots’am (setelah terjadi peperangan) sebagian penduduk Khots’am menyelamatkan diri dengan bersujud (untuk memberitahukan bahwa mereka muslim), tetapi mereka tetap terbunuh. Berita ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda,

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang menetap di tengah-tengah orang musyrik.” Para sahabat bertanya: “Mengapa wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Supaya Api keduanya tidak saling terlihat.” (Shahih, Abu Dawud, No 2645).

Maksud dari hadis tersebut adalah wajib bagi setiap muslim agar tempat tinggalnya berjauhan dari tempat tinggal orang-orang musyrik. Jangan menetap di suatu tempat yang mana bila dia menyalakan apinya (lampu rumah atau memasak) akan terlihat oleh orang-orang musyrik. Akan tetapi hendaknya dia tinggal bersama orang-orang muslim lainnya. Ini juga merupakan desakan agar berhijrah. (Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, 7:219)

Maksudnya orang tersebut disamakan dengan orang-orang musyrik pada sebagian sisi, karena dia bergabung dengan musuh Allah dan loyal kepada mereka. Konsekuensinya dia akan berpaling dari Allah yang akibatnya dia akan dikuasai setan dan menyeretnya ke dalam kekafiran.

Az-Zamakahsari mengatakan, “Ini sangat rasional, sebab loyal kepada yang dicintai dan loyal kepada musuh adalah dua hal yang saling bertentangan. Hadis tersebut mengharuskan hati agar menjauhi musuh-musuh Allah dan jangan sampai bergabung dan berinteraksi dengan mereka.” (Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, 7:337).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Bagaimana mungkin hati seorang mukmin akan tega bila dia hidup di negara kafir yang setiap saat disemarakkan syiar-syiar kekafiran dan hukum yang dilaksanakan adalah selain hukum Allah dan hukum Rasul-Nya. Sedangkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, mendengar dengan kedua telinganya, dan rela dengan itu semua. Lebih-lebih lagi bila dia menjadi warga negara kafir tersebut beserta seluruh keluarganya, merasa tentram seperti menetap di negara kaum muslimin. Padahal bahaya besar mengancam agama dan akhlaknya dan keluarganya.” (net)