30 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 13635

T Erry Nuradi Daftar ke PDIP

Diprediksi Kurang Dapat Dukungan dari Golkar

Medan-T Erry Nuradi melakukan gerak mengejutkan jelang Pigubsu 2013. Ketua DPD Golkar Serdangbedagai (Sergai) ini memilih perahu PDIP menuju BK 1. Hal ini dibuktikannya dengan mengambil formulir pendaftaran calon gubsu PDIP.

Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wara Sinuhaji, mengatakan langkah yang diambil oleh Erry adalah buah ketidaktegasan Partai Golkar. Ketidaktegasan itu menimbulkan rasa ketidakpercayaan diri Erry untuk tetap berjuang di perahu Golkar. “Karena Erry Nuradi tidak mendapatkan dukungan dari tingkat satu dan karena keinginan menjadi orang nomor satu sangat kuat, maka memutuskan berpindah ke partai lain,” kata Wara kemarin.

Selain itu, kata Wara, tidak menutup kemungkinan Partai Golkar menganggap Erry Nuradi belum pantas dan belum memenuhi kriteria untuk jadi gubsu. “Ya bukan minderlah, lebih tepatnya tidak percaya diri,” tambahnya.

Kepastian Erry mengambil formulir di PDIP dikemukan langsung oleh HM Affan SS. “Sudah ada satu yang mengambil formulir pendaftaran calon gubernur Sumut ke PDI-P. Bupati Sergai, Erry Nuradi yang mengambil formulir pendaftaran ke PDI-P,” kata Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP, kemarin.

Kapan tepatnya Erry Nuradi mengambil formulir pendaftaran cagubsu di Kantor PDI-P, Jalan Hayam Wuruk Medan? Sayangnya, HM Affan lupa tanggal dan hari tepatnya. “Ini masih mengambil formulir pendaftaran saja, belum bisa dipastikan juga karena formulirnya sampai sekarang belum dikembalikan. Waktu tepatnya saya lupa, ya sekitar sepekan setelah pembukaan pendaftaran hari Senin tanggal 2 April 2012 lalu. Dan yang mengambil formulir adalah perwakilannya, bukan Erry Nuradi langsung,” akunya.

Apakah kenyataan ini, memiliki korelasi dengan adanya perpecahan di tubuh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar (PG) Sumut? Untuk pertanyaan ini, Wara Sinuhaji tak menjawab dengan gamblang. Namun, menurut Wara, sikap dan langkah yang diambil Erry Nuradi menunjukkan secara jelas dan tegas, jika Erry tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam persaingan perebutan dukungan dari Golkar Sumut.

Ketidakpercayaan diri Erry Nuradi itu juga didasarkan, adanya perasaan kalah pamor atau popularitas dari kandidat lainnya terutama dengan sosok Gus Irawan. Selain itu, masih ada beberapa faktor lainnya yang menyebabkan seolah-olah Erry Nuradi “terdepak” dari Golkar Sumut, dalam bursa pencalonan Gubsu 2013-2018 mendatang.

Beberapa faktor yang tak terpisahkan adalah ada kemungkinan calon dari Golkar Sumut bukan hanya Gus Irawan dan Chairuman Harahap saja, tapi masih terbuka peluang besar sosok-sosok lainnya yang secara tiba-tiba melakukan manuver dan kemudian ikut mencalonkan.

Dengan kenyataan itu, Erry menganggap tidak akan lagi mendapat suara dan dukungan karena suara di Golkar Sumut tidak lagi terpecah dua, melainkan lebih dari itu. “Karena Erry sudah memprediksi tidak kuat link dan akarnya di Partai Golkar, dan belum tentu hanya dua calon saja dari Golkar yang maju, masih ada peluang calon-calon lainnya. Jadi banyaknya kandidat yang maju, membuatnya khawatir tidak mendapatkan kendaraan politik,” terang Wara.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rafdinal S.Sos menilai, mengatakan jika benar Erry Nuradi mendaftar ke PDI P, itu tak lebih hanya sekadar untuk mengukur peluang. Sikap yang diambil Erry Nuradi pun bukanlah satu bentuk minder atau takut bersaing dengan nama-nama lainnya seperti Gus Irawan dan Chairuman Harahap, atau nama lainnya. Tapi dengan sikap tersebut, Erry berupaya ingin segera mengambil start di depan supaya bisa mendapat peluang di luar Golkar.
“Walaupun saya juga belum begitu yakin, apa betul Erry menjadi calon dari PDI-P. Karena yang diinginkan PDI-P bukan Erry, melainkan RE Nainggolan,” jelasnya.

Lalu, bagaimana sikap Golkar Sumut dengan manuver Erry Nuradi? Wakil Ketua DPD PG Sumut, Gomo Mendrofa, yang dikonfirmasi mengenai kabar tersebut, mengaku belum mengetahui kabar tersebut. “Ya jika memang benar seperti itu, terima kasih atas informasinya,” katanya.

DPP PDIP Sambut Erry
Sementara itu, dari Jakarta, pihak DPP PDIP menyambut baik usaha Erry Nuradi. Ketua DPP PDIP, Maruarar Sirait, mengatakan, memang partainya tidak membatasi latar belakang partai kandidat yang mendaftar ke PDIP. “Kita punya mekanisme terbuka. Boleh dari orang partai sendiri, boleh dari luar partai. Boleh mendaftar, tapi tentu ada syarat,” ujar Maruarar Sirait saat dihubungi Sumut Pos, tadi malam.

Dijelaskan, jika pendaftar berasal dari non PDIP, maka hal pertama yang akan dinilai adalah soal kedekatan ideologi yang bersangkutan. “Ideologi kita, Pancasila 1 Juni. Apalagi Sumut itu pluralis,” imbuh Ara, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut putra Sabam Sirait itu mengatakan, setelah lolos dalam hal ideologi, barulah dilihat hasil survei yang mengukur tingkat popularitas. “Karena survei bisa untuk melihat kehendak publik,” imbuh vokalis muda Senayan itu.

Lebih lanjut, anggota DPR itu mengatakan, setelah dua tahapan itu dilalui, maka akan dilihat seberapa besar dukungan kader PDIP Sumut terhadap Erry. Belum cukup. Seperti saat pilgub Sumut 2008, para kandidat akan menjalani fit and proper test yang dilakukan para petinggi partai. Penentuan calon juga akan diputuskan lewat rapat yang dipimpin langsung Ketum PDIP, Megawati Soekarno Putri.
Dia memastikan, DPP PDIP akan ekstra hat-hati dalam menentukan calon yang akan diusung di Pilgub Sumut 2013 mendatang. Alasannya, “Secara historis, Sumut merupakan basis tradisional PDI Perjuangan.”

PDIP bertekad memenangkan pilgub Sumut, siapa pun yang nanti diajukan, entah dari kader sendiri atau non kader. Pilgub Sumut 2013, lanjut Ara, akan dijadikan momen untuk konsolidasi partai di wilayah Sumut.

Satu hal lagi yang ditekankan Ara, bahwa partainya tidak semata mencari tokoh yang populer. Apalagi, jika popularitas itu didongkrak dengan cara-cara menggalang pencitraan. “Sekarang bukan eranya lagi politik pencitraan, tapi politik kinerja. Kerja yang konkrit,” imbuhnya. Terlebih, lanjutnya, Sumut memerlukan perubahan ke arah yang lebih baik. (ari/sam)

Bandara Binaka tak Mau Kalah

MEDAN-Peningkatan kelas Bandara Silangit ternyata membuat bandara lainnya di Sumut tak mau ketinggalan. Pemerintah Kota Gunungsitoli pun meminta hal yang sama diperlakukan terhadap Bandara Binaka.

Ya, padatnya lalu lalang pesawat di wilayah udara Sumut dalam beberapa tahun mendatang, tampaknya sudah bisa dibayangkan. Bagaimana tidak, ada enam bandara di wilayah Sumut yang masuk dalam prioritas pengembangan hingga 2025. Keenam itu di luar Bandara Kualanamu.

Keenam bandara itu adalah bandara Aek Godang di Padangsidimpuan, Bandara Sibisa di Parapat, Bandara Pulau-pulau Batu di Nias Selatan. Selain itu, Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Bandara DR FL Tobing di Tapanuli Tengah, dan Bandara Binaka di GunungSitoli.

Skala prioritas pengembangan keenam bandara itu tercantum dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Kementrian Perhubungan 2005-2025, yang disusun di era Menhub Jusman Syafii Djamal dan dirilis 26 September 2008 itu.
Untuk tahun ini, sudah tergarap Bandara Kualanamu dan sedang dipersiapkan untuk pengembangan Bandara Silangit. Nah, untuk tahun depan, mana yang akan masuk daftar untuk digarap?

Para bupati/wali kota di daerah terkait, saat ini sudah mulai rajin melobi agar bandara di wilayahnya bisa segera mendapatkan alokasi di APBN di tahun-tahun berikutnya, agar pengembangan bandara bisa cepat dilakukan. Siapa cepat, dia yang dapat.
Antara lain yang sudah menggalang lobi ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) adalah para bupati dan wali kota di wilayah Nias. Mereka menginginkan agar Bandara Binaka di Gunungsitoli segera dikembangkan, sebagaimana Bandara Silangit.

“Mereka minta agar Bandara Binaka mendapatkan prioritas,” ujar Yasonna H Laoly, anggota DPR asal Nias, kepada Sumut Pos di Jakarat, kemarin. Masih kata Yasonna, Bupati Nias Selatan juga menggalang lobi agar pembangunan bandara yang digarap Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), dilanjutkan lagi. “Karena sekarang bandara itu pembangunannya tersendat,” imbuh Yasonna.

Menurut Yasonna, untuk saat ini dorongan prioritas harus pada Bandara Binaka terlebih dahulu. Untuk Bandara Pulau-pulau Batu di Nias Selatan, kata Yasonna, untuk saat ini biar saja tetap menjadi bandara perintis. “Di sana yang penting ada penerbangan reguler dulu, yang ditopang dengan transportasi laut, karena kapal fery yang lancar sangat membantu masyarakat di sana,” terang politisi dari PDI Perjuangan itu.

Ditekankan Yasonna, saat ini yang paling mendesak adalah pengembangan Bandara Binaka. Sebenarnya, lanjut dia, upaya perpanjangan landasan sudah dilakukan Kemenhub. Hanya saja, terbentur masalah pembebasan lahan. “Tapi jangan karena kendala ini lantas terhenti. Soal lahan, itu tanggung jawab Pemda, biar dianggarkan pemda,” imbuhnya. Rencana perpanjangan landasan, dari 1.800 meter saat ini ditambah hingga 700 meter.
Menurut Yasonna, Bandara Binaka merupakan bandara terpadat di Nias. Saat ini sudah ada empat kali penerbangan dalam sehari, yakni dua kali Merpati dan dua kali Wing. “Jadi Binaka sangat layak untuk segera dikembangkan,” kata Yasonna.(sam/ram/ari)

Dianggap sebagai Keputusan Politik
Pengamat ekonomi dari Unimed, M Ishak menyatakan bahwa pelebaran Bandara Silangit ini bukan untuk perekonomian, melainkan untuk politik. Karena bila untuk perekonomian, lebih yang ditingkatkan akan keterampilan dan kinerja masyarakat setempat.
“Perekonomian masyarakat di sekitar Bandara Silangit masih kecil dan tidak memadai, hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya putra daerah yang merantau. Hal ini menandakan bahwa lapangan kerja di daerah tersebut masih kecil. Nah, kalau ini untuk perekonomian masyarakat, kenapa tidak masyarakat nya yang ditingkatkan, mulai dari pendidikan hingga ke sosialnya?” ungkapnya.

Menurutnya, daerah sekitar bandara Silangit ini belum menjanjikan, mulai dari pertanian dan indutri kreatifnya. Hanya Danau Toba yang menjadi andalan. “Nah, bila masyarakat hanya bertumpu pada Danau Toba saja, kapan indutri kreatifnya akan berkembang? pertaniannya juga sangat kecil, hanya menyumbang sekitar 2 hingga 3 persen di Sumut, jadi tingkatkan dulu yang kecil, agar semua masyarakat tidak tergantung hanya pada Danau Toba saja,” tegas Ishak.

Pengusaha Mendukung Penuh
Pelabaran Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Kota Siborong-borong, mendapat dukungan penuh dari pihak pengusaha. Setidaknya hal ini diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatera Utara, Parindungan Purba. “Selama ini ada penerbangan dari Pinang Sori, Aek Godang dan lainnya. Tetapi itu bukan Internasional, tapi kalau Siangit jadi internasional, maka akan jadi ikon pertumbuhan di wilayah pantai barat,” ujarnya, Rabu (18/4).
Dia juga menegaskan bahwa ini akan memudahkan pertukaran informasi secara internasional. Bahkan lapangan kerja juga akan terbuka dengan lebar. “Bayangkan saja apa yang bisa dikelola. Lapangan kerja akan terbuka luas karena akan ada pembukaan hotel, taksi, dunia hiburan dan lainnya,” ungkap Parlindungan.

Anggota DPD RI asal Sumut ini mengharapkan agar ada kerja sama antara pihak kabupaten yang berada di sekitar Danau Toba dengan Bandara Silangit. “Bila kabupaten sekitarnya tidak bekerja sama, bagaimana kita bisa menyajikan wisata tingkat internasional? Kalau pariwisatanya baik, secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian masyarakat juga,” tambahnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut, Hervian setuju dengan yang diungkapkan Parlindungan. “Kalau daerah pariwisata ditempuh lebih dari 1,5 jam, akan menjadi membosankan. Karena itu, tidak heran bila objek wisata ini (Danau Toba) tidak memadai,” ungkapnya.

Nah, bila Silangit menjadi bandara internasional, maka untuk wisatawan mancanegara terutama dari IMT- GT (Indonesia Malaysia Thailand, Growth Triangle) akan mudah untuk berkunjung. “Kalau wisman dari negara ini bisa kita ambil, maka tidak heran bila ini akan menjanjikan,” tambahnya.

Pemprovsu Belum Punya Sikap

Nah, kendati Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengucurkan dalam rangka pengembangan Bandara Silangit, sebesar Rp17 miliar tahun ini, Pemprovsu belum berniat untuk melakukan hal yang sama. Pemprovsu belum bisa memiliki sikap untuk turut memberikan alokasi anggaran seperti yang dilakukan Kemenhub RI.

Itu yang dikemukakan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho usai mengikuti Seminar Motivasi Going Extra Miles:Melakukan Lebih untuk Menuju Sukses, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Sumut, di Aula Martabe Lantai 2, Kantor Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Jalan Diponegoro Medan, Rabu (18/4).

“Kayak Silangit itu, yang saya tahu akan ditake-over oleh pihak AP II. Jadi dari situ nanti, pengelolaannya akan menjadi bandara yang profesional. Kalau seperti itu, berarti kan akan menghasilkan,” ungkapnya.
Bagaimana dengan bandara-bandara perintis lainnya yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut)? “Kita lihatlah dulu,” jawabnya singkat.

Seorang pimpinan DPRD Sumut, HM Affan SS yang dimintai pendapatnya terkait hal yang sama, menyatakan ada kemungkinan anggaran pembenahan dan pembangunan sejumlah bandara perintis di Sumut, dimasukkan dalam rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (PAPBD) Sumut 2012. “Tapi persoalannya, sejauh ini saja banyak hal terkait anggaran yang belum terpenuhi,” tutur Wakil Ketua DPRD Sumut dari Fraksi PDI P tersebut.

Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU) John Tafbu Ritonga menyatakakan, tentang besar kecilnya anggaran yang nantinya dialokasikan untuk pembenahan dan pembangunan sejumlah bandara perintis di Sumut, tergantung dari dua hal yakni kemampuan APBD Sumut dan kebutuhan pembangunan.

“Yakni kemampuan APBD Sumut dan kebutuhan pembangunan itu sendiri. Harusnya ada program itu,” jelasnya.(sam/ram/ari)

Sepeda Motor Dilarikan, Leher Digorok

MEDAN- Mitra Julianto (21), warga Simpang Pasar X, Tanjung Beringin Langkat, ditemukan tewas di dalam parit kebun sawit, Jalan Baru, Desa Tandam Hilir, Hamparan Perak, Deliserdang, Rabu (18/4) pagi. Korban ditemukan dengan kondisi leher bekas luka digorok.

Pengakuan Jumino (58), kakeknya saat di depan Instalasi Kamar Jenazah RSU Dr Pirngadi Medan, cucunya itu pergi dari rumah Selasa (17/4) sore dengan alasan ke rumah temannya.

Disebutkannya setelah ditunggu hingga pukul 22.00 WIB, cucunya tak juga pulang ke rumah. “Keluarga sudah menghubungi teleponnya dan tak ada sahutan juga. Karena dibilang ke rumah teman, kami percaya saja dan dia pergi dengan sepeda motornya,” katanya.

Lanjutnya, Mitra Julianto merupakan anak pertama dari tiga bersaudara anak dari pasangan Suroso (47) dan Miss (44). Terangnya, cucunya itu sehari-harinya bekerja sebagai kuli bangunan. Dijelaskannya, mereka mendapatkan Mitra meninggal dari kepolisian setelah ditelepon pihak kepolisian kepada Kepala Desa (Kades) karena heandponenya tertinggal di lokasi penemuan jenazah Mitra.

“Kami ditelepon Kades karena polisi memberi tahu Mitra meninggal dunia dan jasadnya dibawa ke RSU Pirngadi Medan. Setelah kami cek dan ternyata itu memang Mitra,” bebernya.

Disambungnya, di sekitar lokasi penemuan tak ada ditemukan identitasnya kata polisi dan yang tertinggal hanya heandpone saja. Tambahnya, mereka mendapat kabar bahwa cucunya meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan setelah di cek ke RSU Pirngadi Medan ternyata meninggalnya tak wajar.

“Sepeda motornya juga hilang dan dia diduga meninggal dibunuh karena lehernya ada luka gorok,” ucapnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsekta Binjai Ipda Yusdi mengaku korban ditemukan pertama sekali oleh warga dan warga melaporkan hal rersebut ke polisi.

“Di sekitar penemuan lokasi tak ada ditemukan identitas korban. Kami juga tak ada menemukan sepeda motor korban,” akunya. Ipda Yusdi menambahkan, pihaknya saat ini sedang mengumpulkan semua bukti-bukti yang ada. (jon)

Jersey

Oleh: Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Andik Vermansyah, gelandangan Indonesia Selection, tak pernah membayangkan akan mendapat jersey atawa kostum David Beckham. Apalagi, sampai membayangkan sang bintang itu memintanya untuk bertukar jersey.

Tapi begitulah, ketika November lalu, saat Indonesia Selection menjamu klub asal Amerika Serikat LA Galaxy Andik memang menjadi bintang. Bahkan, si Beckham sampai melakukan perbuatan curang agar pergerakan Andik terhenti. Itulah sebab, ketika pemain Indonesia lainnya sibuk mengincar jersey-nya, suami Victoria itu malah sibuk mencari Andik. Mungkin, dia merasa bersalah dengan pemain Persebaya tersebut. Sebuah jersey adalah bentuk maaf ala Beckham.

Lain lagi dengan Boaz Salossa. Ketika Indonesia menjamu Timnas Uruguay – sebulan sebelum kisah Andik dan Beckham tadi – jagoan asal Papua itu juga mendapat jersey bintang. Adalah Luis Suarez, striker kebanggaan Uruguay yang memberikan jersey-nya pada Boaz. Alasannya, Boaz adalah satu-satunya pemain Indonesia yang berhasil mencetak gol ke gawang Uruguay. Saat itu Indonesia dipermalukan Uruguay 1-7.

Soal tukaran jersey memang sudah menjadi tradisi di sepakbola. Perhatikan saja, nyaris di setiap laga usai, para pemain saling bertukar jersey. Bahkan, Lionel Messi – bintang Barcelona dan Argentina – sempat mengeluh karena bajunya itu menjadi incaran pemain lawan. Tidak tanggung-tanggung, beberapa pemain malah sudah meminta pada Messi ketika laga belum usai.

Sayangnya, di Sumut, soal ganti jersey belum begitu trend. Setiap PSMS main di Teladan, perhatikanlah, jarang ada yang bertukar jersey. Entahlah, mungkin di Sumut dan secara umum klub Indonesia, jersey masih tergantung pada dana bukan?
Jika di sepakbola Sumut belum marak, tukaran jersey malah marak di dunia politik Sumut. Beberapa politisi Sumut malah tak segan-segan bertukar jersey-nya. Sebut saja HT Milwan, Ali Umri, Arifin Nainggolan dan sebagainya.

Tentu, pergantian jersey yang mereka lakukan atas dasar pertimbangan matang. Ya, tidak sekadar bertukar baju. Pasti ada hitung-hitungannya. Atas nama politik, bukankah hal itu lumrah. Seperti teori klasik ala Aristoteles: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Nah, mereka yang menjadi politisi harus berpikir cerdas demi kebaikan bukan? Jadi, ketika seorang politisi merasa baju yang dikenakannya sudah tidak bisa mewakili aspirasinya, ya, tinggal ganti baju; ketika seorang politisi merasa baju yang dikenakannya sudah tidak mewakili kebaikan, ya, tinggal ganti baju. Masalah kebaikan bersama atau pribadi kan itu urusan nanti.

Bedanya dengan sepakbola, tukaran jersey tidak mengubah nasib sang pemain. Andik tetaplah Andik dan tidak berubah menjadi Beckham. Pun dengan Boas yang tidak langsung menjadi pemain Liverpool dan Uruguay. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri.

Jersey yang telah mereka miliki hanyalah kebanggaan bagi anak dan cucu mereka nanti. Semakin banyak jersey yang mereka koleksi, maka semakin bangga dia menuliskan kisah hidupnya.

Di politik, tukaran baju berarti kontrak baru, sikap baru, hingga tujuan baru. Repot dan bahkan bisa menjadi senjata makan tuan. Tapi, sekali lagi, begitulah politik. Risiko demi kebaikan bersama itu memang besar. Mereka yang berani tukar baju berarti memiliki dasar yang kuat. Tidak sembarangan itu! (*)

Amiruddin Rawan Dicopot

Nama Pengganti Ketua DPRD Medan Bermunculan

MEDAN-Posisi Ketua DPRD Medan, Amiruddin, benar-benar rawan. Politisi Partai Demokrat ini dikabarkan akan dicopot dari jabatannya karena terlalu banyak tersandung masalah.

Setidaknya, kabar ini terdengar di gedung DPRD Medan dan ada sebagian anggota DPRD Medan membenarkan isu tersebut. Di antaranya Abdul Rani dan Ikrimah Hamidi serta seorang anggota DPRD Medan lainnya, dari fraksi yang sama dengan Amiruddin, yaitu Partai Demokrat.

“Kita memang ada mendengar isu tersebut Tapi belum bisa dipastikan dan kita tidak akan mempersoalkan masalah internal partai orang lain. Selama usulan pemberhentian Amiruddin sebagai ketua DPRD Medan sesuai dengan mekanisme PP No.16, maka tidak ada alasan kita untuk menolak usulan partai dalam persoalan ini,” kata Wakil ketua DPRD Medan, Ikrimah Hamidi, kemarin.

Terpisah, anggota DPRD Medan lainnya, Abdul Rani dari fraksi PPP membenarkan isu tersebut. “Benar memang ada kita mendengar rencana Partai Demokrat mencopot Amiruddin dari jabatannya sebagai ketua DPRD Medan. Tapi sampai sekarang kita belum pernah melihat suratnya,” ujar Rani sembari mengakui, kalau dirinya juga sempat mendengar nama M Faisal yang bakal menggantikan Amiruddin, sebagai ketua DPRD Medan.

Hal senada diungkapkan salah seorang kader Demokrat lainnya yang meminta namanya tidak dituliskan. “Tolong nama saya jangan ditulis. Ini persoalan etika. Kalau rencana untuk memecat Amiruddin dari posisi ketua DPRD Medan memang ada kita dengar. Dan, itu masih dalam pembahasan DPP Demokrat. Namun demikian, kita belum bisa memastikan hal tersebut, sebelum ada surat resmi yang menjelaskan tentang persoalan ini,” ungkapnya.

Sebelumnya, Amiruddin memang berkasus dengan seorang petugas sekuriti di Bandara Polonia. Selain itu, dia juga sempat bersitegang dengan Kadishub Medan. Ada juga kasus rekomendasi PAW Raymond Simatupang. Dan, dianggap tidak mampu memimpin rapat paripurna.

Dalam sebuah kesempatan belum lama ini, Amiruddin sempat mengatakan siap menerima segala risiko, termasuk posisinya sebagai ketua DPRD Medan dicopot. “Saya ini korban dari sebuah manover politik,” jelasnya.

Nah, meski pencopotan Ketua DPRD Medan dari jabatanya sebatas isu, namun diinternal fraksi Demokrat sepertinya sudah memunculkan beberapa nama yang diperkirakan bakal mengggantikan posisi Amiruddin. “Siapapun dia, asal anggota fraksi Demokrat DPRD Medan, berpeluang untuk menggantikan Amiruddin sebagai ketua DPRD Medan. Jika memang surat pemecatan Amiruddin sebagai ketua DPRD Medan sudah dikeluarkan Partai,” beber anggota fraksi Demokrat lainnya yang meminta namanya untuk tidak dituliskan. (adl)

Eksekusi Lahan 4400 Meter Ricuh

LUBUK PAKAM- Pelaksanaan eksekusi lahan tanah seluas  4400 meter persegi serta dua unit rumah yang ditempati ahli waris keluarga almarhum Abdul Wahab Amin dan ahli waris almarhum Farida alias Sicik alias Hamidah di Dusun II Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu, Deliserdang, berlangsung ricuh, Rabu (18/4) sekitar pukul 11.15 WIB.

Saat akan dilakukan eksekusi serta pembongkaran terhadap dua unit rumah itu, tiba-tiba tiga lelaki dari pihak tergugat melakukan perlawanan dengan mendorong aparat kepolisian dan rombongan PN Lubuk Pakam.

Namun, tindakan itu telah diantisipasi petugas kepolisian yang berjumlah ratusan orang. Kemudian ketiga orang itu diamankan kepolisian agar tidak berbuat anarkis.

Dalam eksekusi itu, petugas berhasil mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah, membuka dinding tepas serta menebang tanaman yang ada di sekitar lahan tersebut.

Karena atap rumah terbuat dari asbes dan susah dibongkar pihak PN Lubuk Pakam menginstruksikan agar dirobohkan saja dengan menggunakan tali. Namun kembali pihak termohon eksekusi melakukan protes.

“Bagus-baguslah dibuka atap sengnya. Janganlah dirobohkan biar bisa kami pakai. Kalu tidak, bakar saja sekalian pak,” teriak  keluarga tergugat.
Edi Utama SH, kuasa hukum ahli waris mengatakan hingga pihaknya masih melakukan perlawanan terhadap putusan tersebut. (btr)

Gedung Serba Guna Harus Dikelola Dispora Sumut

MEDAN- Gedung Serba Guna (GSG) yang awalnya dipersiapkan untuk menggelar berbagai even olahraga di Sumut, kini mulai diragukan akan berjalan sesuai tujuan awal. Keraguan itu mencuat setelah pengelolaan GSG diserahkan ke Dinas Pariwisata Pemprovsu.

Tentu saja ini mendapat protes dari masyarakat pecinta olahraga di Sumut. Banyak yang menilai, pengelolaan GSG diserahkan kepada pihak yang tidak berkompeten akan mengubah orientasi awal dan tak lagi menjurus untuk keperluan olahraga saja. Padahal, harapan masyarakat pecinta olahraga Sumut sempat meninggi dengan hadirnya fasilitas olahraga yang cukup megah itu.

Ketua Pengprov Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi) Sumut Brilian Moktar, menyesalkan hal itu. Brilian yang juga anggota DPRD Sumut itu menegaskan, seharusnya kepengelolaan GSG diserahkan kepada badan yang mengurusi olahraga seperti Disporasu atau KONI Sumut.

“Pemprovsu seharusnya melibatkan atau menyerahkan pengelolaan GSG kepada Disporasu atau KONI Sumut. Karena roh dari GSG itu adalah dititikberatkan untuk kegiatan olahraga,” katanya, kemarin.

Berkaca pada peletakan batu pertama 2003 lalu, di masa kepemimpinan Tengku Rizal Nurdin, pembangunan GSG dikarenakan fasilitas olahraga di Sumut khususnya untuk olahraga indoor sangat minim. “Saya khawatir fungsi GSG lari dari tujuan semula. Buktinya, pada peresmian GSG tersebut, KONI Sumut tidak diundang,” ungkapnya.

Di tengah upaya memajukan olahraga di Sumut, Brilian mengkhawatirkan anggaran yang cukup besar untuk membangun even itu malah salah sasaran. “Kita menyesalkan anggaran untuk pembangunan GSG ini Rp120 miliar salah kaprah,” sesalnya.
Lebih lanjut, Brilian mengharapkan Plt Gubsu Gatot Pudjonugroho mengembalikan pengelolaan GSG kepada pihak yang berkompeten.

“Kadispora Sumut harus menjelaskan kepada Plt Gubsu tentang tujuan awal pembangunan GSG tersebut. Kegunaan GSG memang  multifungsi. Namun, titik beratnya untuk kegiatan olahraga inddor, bukan untuk sebaliknya kegiatan olahraga yang menumpang,” tandasnya. (mag-18)

Karyawan PTPN II Temukan Mayat tanpa Identitas

BINJAI-  Sesosok mayat pria, ditemukan warga di dalam parit perkebunan PTPN 2 Hamparan Perak, Jalan Ringroad Megawati, Kelurahan Tandam Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, Rabu (18/4) sekitar pukul 10.00 WIB.

Mayat pria yang ditaksir berusia 20 tahun ini mengalami luka gorok di lehernya dan kepala atas kiri pecah akibat pukulan benda tumpul.
Tidak ada ditemukan identitas yang melekat di tubuh mayat pria yang saat itu memakai baju kaos warna hitam, berjaket sweter warna hijau berlambang M bertuliskan Monzay dan mengenakan celana panjang jeans berwarna hijau muda ini.

Penemuan mayat pria berambut ikal pendek ini, lantas menggegerkan warga sekitar yang berduyun-duyun mendatangi lokasi penemuan. Di tubuh korban, polisi yang datang ke lokasi hanya menemukan telepon genggam merek Nokia dan sebuah mancis di kantong celananya. Di lokasi yang berjarak 7 meter dari parit tempat ditemukannya mayat ditemukan batu yang berlumuran darah.(mag-4/mag-17/smg)

Tiket Semifinal Milik Tuan Rumah

Turnamen Basket UMSU Cup 2012

MEDAN- Tim basket putra UMSU sukses melangkah ke semifinal Turnamen Basket UMSU Cup 2012 setelah meraih kemenangan keduanya, Rabu (18/4). Tuan rumah menundukkan Universitas Cendana 52-38 di Lapangan Basket UMSU. Sebelumnya, UMSU menaklukkan USU di laga perdananya.

UMSU yang menurunkan Fadilson, Irwan Fahmi, Putra Satria, Suwandi dan Dani di posisi starter menunjukkan determinasinya sejak awal. Berbanding terbalik dengan Cendana yang terlihat canggung di bawah ring. Akurasi tembakan yang lemah menjadi petaka bagi Cendana. UMSU sudah unggul jauh 19-4 di kuarter awal.

Permainan Cendana berangsur membaik di kuarter kedua. Cendana mampu menambah delapan angka di kuarter kedua. Tambahan 12 angka mampu membangkitkan asa Cendana. Dengan defence yang lebih ketat, laju angka UMSU sedikit terhambat. Begitupun Irwan Fahmi cs mampu menambah 9 angka.

Di kuarter ketiga, UMSU mulai kembali menemukan performa terbaiknya. Tuan rumah mampu menambah 19 angka tambahan dan mulai meninggalkan Cendana hingga kuarter ketiga berakhir 47-26. Konsistensi permainan membuat UMSU mampu mempertahankan keunggulannya di kuarter keempat dengan skor 52-38.

Pelatih UMSU, Fauzi meski puas dengan kemenangan skuadnya mengaku masih banyak hal yang menjadi fokus untuk diperbaiki. “Entah kenapa di kuarter-kuarter awal anak-anak kurang termovitasi. Mungkin karena usia mereka yang rata-rata masih muda. Banyak yang belum tahu situasi. Tapi permainan mereka mulai membaik di kuarter ketiga dan keempat. Kami berhasil ke semifinal,” katanya.

UMSU masih menyisakan satu laga lagi di penyisihan menghadapi Universitas Prima Indonesia. Meski sudah memastikan tiket semifinal, UMSU tetap mengincar kemenangan. “Masih ada satu pertandingan lagi lawan Unpri. Mungkin kami harus memperbaiki komunikasi di defence. Yang harus diwaspadai mereka punya akurasi shooting yang bagus. Kami tetap mengincar kemenangan untuk memastikan juara grup,” pungkasnya.

Sementara itu di laga lainnya tak tak lagi menentukan tim basket putra Universitas Medan Area menundukkan Unimed 32-36. Laga dramatis tersaji pada duel USU kontra Universitas Prima Indonesia. USU hanya menang setengah bola 49-48. (mag-18)

Hayden Kembali Jalani Tes

MUGELLO – Performa Nicky Hayden di MotoGP Qatar belum memuaskan. Oleh sebab itu, Ducati memberikan tes tambahan selama dua hari di Sirkuit Mugello buat Hayden.

Hayden akan melakukan tes selama dua hari di Mugello, untuk menggantikan waktu tes yang tidak diikutinya pada awal musim.
Saat itu, pembalap asal Amerika Serikat tersebut mengalami cedera saat MotoGP Valencia dan latihan bulan Desember.
Sebagaimana dilansir Crash.net, Rabu (18/4), juara dunia 2006 itu akan bergabung bersama pembalap tes Franco Battaini, yang sudah melakukan tes sejak hari Selasa kemarin.

Tes ini sendiri, berlangsung untuk mengembangkan kinerja GP12. Hasil pengembangan motor itu, kembali akan dijajal oleh Valentino Rossi dan Hayden dalam beberapa tes di masa mendatang. Ronde kedua MotoGP 2012 akan berlangsung di Jerez, Spanyol. Pada balapan perdana di MotoGP Qatar, Hayden hanya mampu finis di peringkat enam. Sedangkan Rossi, hanya berada di posisi 10 di Sirkuit Losail. (bbs/jpnn)