28 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 13634

Alves Marahi Fans Messi

SIKAP kurang bersahabat ditunjukkan bek Barcelona Dani Alves kepada pengagum Lionel Messi di lobi Hotel Grosvenor House, London, kemarin dini hari. Bek asal Brasil itu berteriak histeris mengusir para fans.

Insiden yang tidak menyenangkan itu terjadi satu jam sebelum pertandingan first leg semifinal Liga Champions antara Chelsea kontra Barcelona, kemarin dini hari. Ketika itu, tiga pengagum Messi bersua idolanya di lobi hotel.

Kebetulan, mereka menginap di hotel yang sama dengan para bintang Barcelona. Para fans Messi itu bernama James McWatt, Ryan Hill, dan Steve Carruthers. Kesempatan bertemu Messi tidak mereka sia-siakan, mereka meminta sang pujaan menanda tangani jersey Barca mereka.
Messi tidak masalah dan terganggu dengan situasi itu. Bahkan, dia ingin menandatangani jersey Barca milik McWatt. Sayang, belum dilakukan, tiba-tiba Alves yang baru turun dari kamarnya ke lobi hotel langsung berteriak histeris.

Alves melarang para fans itu untuk meminta tanda tangan Messi. “Alves datang dan kemudian berteriak tidak tidak. Dia bertingkah seperti orang gila di depan kami. Dia marah-marah memakai bahasa Spanyol,” cerita McWatt kepada The Sun.

Keadaan pun memanas. Alves sempat beradu mulut dengan para fans dan kemudian datangkan beberapa rekan-rekannya seperti Jose Pinto, Adriano, dan Alexis Sanchez. Pertikaian antara beberapa pemain Barca dengan fans Messi itu akhirnya dilerai tim keamanan klub.
“Saya Sempat merekam kejadian tersebut. Kami sama sekali tidak berbuat keributan dan kami juga tidak mabuk. Kami hanya sangat gembira karena bertemu dengan Messi, idola kami,” bilang McWatt.

Insiden itu sontak membuat respek ketiganya kepada klub asal Catalan itu sirna. Padahal, sebelumnya mereka mengidolakan Barcelona dan Messi. Atas insiden itu, tidak ada penangkapan yang dilakukan polisi. Barcelona dan Alves sendiri menolak berkomentar soal kejadian di lobi hotel itu. (ham/jpnn)

Aksi Coret Baju Siswa Medan Usai UN

Sudah Dilarang, Siswa Tetap Coret Baju

Seluruh kepala sekolah sudah diimbau Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Rajab Lubis, untuk melarang siswa didik melakukan coret baju usai pelaksanaan Ujian Nasion (UN) tingkat SMA/MA.

Nyatanya, imbauan tersebut tak diterge para siswa. Mereka tetap mengapresiasikan diri lewat aksi coret baju di luar lingkungan sekolah begitu UN usai.
Di SMAN 5 Medan, ratusan siswa terlihat begitu antusias saat melakukan aksi coret baju di depan sekolahnya yang berlokasi di Jalan Pelajar nomor 14, Kamis siang (19/4) sekitar pukul 13.15 WIB.

Menggunakan tinta piloks dan spidol berbagai warna, puluhan siswa tak canggung untuk saling mencoret baju hingga rambut mereka. Bahkan puluhan siswa juga nekat berada di tengah jalan untuk mengabadikan kegiatan mereka dengan kamera yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Alhasil aksi coret baju di depan sekolah itu, sempat mengganggu pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Bagi Haris, salah satu siswa, aksi tersebut merupakan tradisi setiap tahun usai melaksanakan ujian nasional.

“Ini sebagai bentuk  luapan kegembiraan kami, karena  telah melewati masa-masa yang menegangkan. Ini juga momen setahun sekali, jadi tidak ada salahnya kami melakukan ini sebagai kenang-kenangan ,” ujarnya.

Melihat kondisi itu, Kepala Sekolah SMAN 5 Medan, Lindawati mengaku, jika pihaknya sudah memberikan imbauan dan melakukan razia kepada siswa guna menghindari  aksi coret seragam sekolah ini.

Hanya saja aksi  ini terjadi di luar lingkungan sekolah, yang bukan lagi menjadi tanggung jawab sekolah.
“Kami sudah mengimbau siswa agar tidak ada aksi coret baju. Tetapi kalau tetap berlangsung kita tidak bisa ambil sikap karena hal itu dilakukan di luar sekolah bukan di dalam sekolah ,” katanya.
Sementara itu aksi coret baju juga dilakukan para siswa SMAN 7 Medan. Meskipun hanya menggunakan spidol, namun tidak menyurutkan para siswa untuk tetap melakukan aksi coret baju.
“Sebelum ujian kita telah mengimbau para siswa untuk tidak melakukan aksi coret baju. Bahkan kita juga menggeledah tas siswa dan menyita tujuh cat piloks dan 15 spidol milik siswa,” kata Kepala Sekolah SMAN 7 Medan, Daud saat ditemui di sekolahnya.

Sementara itu, guna minimalisir aksi coret-coretan yang kerap dilakukan oleh siswa di Kota Medan, usai melaksanakan Ujian Nasional (UN), para siswa dan para guru Sekolah SMAN 3 Medan melakukan doa bersama serta diikuti dengan pengumpulan pakaian seragam sekolah.

“Coret-coret baju merupakan tindakan mubajir dan tidak mencerminkan kepribadian seorang kaum intelektual, dan itu sangat menyedihkan serta memprihatinkan sekali, dimana usai melaksanakan UN, yang notabene adalah cara untuk menentukan kualitas mutu pendidikan malah dikotori dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moral dengan melakukan coret-coret seragam sekolah, dimana, diseragam sekolah tersebut memiliki nilai-nilai kebangsaan yang harus dihargai, karena di dalamnya memiliki nilai tertinggi dalam menggapai cita-cita dan masa depan,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Emiruddin Harahap di hadapan sejumlah siswa, usai melaksanakan UN.

Menurut Emir,  aksi coret-coret yang dilakukan oleh siswa di Kota Medan, tanpa terkecuali juga dilakukan oleh siswa SMA Negeri 3, yang selama ini terjadi diakuinya merupakan luapan euforia para siswa usai melaksanakan UN.

Namun, mengapa tradisi yang mubajir tersebut tidak diubah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.

“Satunya yakni dengan mengumpulkan seragam sekolah bekas, adalah kegiatan positif yang harus dilakukan oleh seluruh siswa di kota Medan, terutama siswa SMA Negeri 3. Dengan kegiatan ini, diharapkan nantinya hasil pengumpulannya bisa dipergunakan atau didistribusikan kepada adik-adik kelas atau orang-orang yang tidak mampu, dan itu sangat mulia serta mencerminkan seorang kaum intelektual,” ujarnya. (uma)

Baru Cerai Langsung Bugil

Heidi Klum

Belum satu bulan resmi bercerai, Heidi Klum lagi-lagi jadi sorotan dengan pose bugilnya untuk majalah Allure edisi terbaru. Janda penyanyi Seal ini tampaknya tidak ragu untuk memamerkan tubuh seksinya pada publik. Dalam foto tersebut, Klum benar-benar memanfaatkan kedua tangannya untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya. Sementara tangan yang satu menutup bagian kewanitaan, tangan yang lain dengan lihai menutup bagian dadanya sehingga tidak terlihat di depan kamera.

Di usianya yang sudah menginjak 38 tahun, supermodel asal Jerman ini masih tetap tampil menawan. Tubuhnya terlihat ramping meski telah melahirkan empat orang anak. Dengan bangganya, Klum menyatakan tidak pernah menjalani bedah plastik. Semua orang memiliki pandangan masing-masing mengenai kecantikan. Namun, bagi Klum, bedah plastik tidak membuat orang terlihat lebih cantik, terutama pada gadis muda.

Sementara di balik perceraiannya, terungkap alasan karena Seal bertemperamen tinggi. Pelantun Kiss From Roses ini punya perilaku buruk dan Klum khawatir itu akan berdampak negatif terhadap anak-anaknya. “Prioritas utama Klum selalu pernikahan, tapi ia merasa sikap Seal membuat mereka tidak akan menemukan jalan yang sama,” ungkap sumber. (rm/jpnn)

Gugatan Pasien Pirngadi Sudah di Pengadilan

MEDAN-Keluarga  menggugat manajemen RSU dr Pirngadi Medan Rp 3,16 miliar, terkait  tewasnya Ganda Hermanto Tua Nainggolan (19), karena disuruh pulang saat masih kritis oleh petugas medis RSUD dr Pirngadi Medan.

Gugatan didaftarkan oleh Roder Nababan SH dan Sobambowo Bu’ulolo SH dari Badan Layanan Hukum (BLH) Sekolah Sumatera Utara. Dalam gugatan itu tuntutan keluarga terdiri dari kerugian materil sebesar Rp228 juta dan inmateril sebesar Rp2,932  miliar. Menurut rencana sidang pertama akan digelar pekan depan.

“Harapan saya semoga keluarga dimenangkan dan ada efek jera yang didapat RS Pirngadi atas kasus ini. Mengingat kasus seperti ini tidak hanya menimpa keluarga Ganda, namun juga masyarakat lainnya,” kata Pdt Dikson Panjaitan, salah satu pendeta yang peduli atas kejadian yang menimpa korban.
Dikson juga menilai Pirngadi sebagai rumah sakit milik pemerintah, seharusnya melayani masyarakat kecil tapi tidak menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Dia juga menilai, kejadian yang menimpa keluarga Ganda adalah bentuk ketidakmanusiawian dan tidak memiliki bentuk sosial bagi sebuah rumah sakit pemerintah.

“Apalagi kita tahu ibu Ganda tidak mengerti untuk urusan seperti ini. Kita harapkan ada keadilan yang didapat oleh orang kecil seperti mereka,”ucapnya.
Sementara itu Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin mengaku belum menerima laporan secara resmi dari pihak pengadilan.

“Memang belum ada pemberitahuan secara resmi kepada kita mengenai adanya proses pengadilan yang berjalan. Kalaupun kita dipanggil, kita dengar dulu tuntutan mereka. Karena tuntutan itu juga haknya pasien menyampaikan ketidakpuasan pelayanan yang diberikan rumah sakit,”ujarnya.
Masih menurut Edison untuk gugatan perdata maka pasien yang akan membuktikan kesalahan rumah sakit dan bukan sebaliknya. Edison juga mengaku tidak bisa memberikan komentar lebih lanjut karena hal ini sudah masuk proses pengadilan.

Edison mengaku, sudah melakukan upaya pertemuan dengan keluarga pasien dengan pimpinan rumah sakit.
Sekadar diketahui, Ganda Hermanto Tua Nainggolan dirawat di RSUD dr Pirngadi sejak (20/2).

Dirinya dirawat selama lebih kurang 40 hari di ruang XVIII, Flamboyan lantai satu dengan status penyakit pembengkakan jantung.
Dari pengakuan sang ibu, Berlian br Tamba (56), saat ditemui dikediamannya, Jalan Panglima Denai, Gang Soda tepatnya di Rumah Susun milik Pemko, Selasa (17/4),  anaknya disuruh pulang karena masa waktu kartu Medan Sehat menggunakan kasuistik atau rekomendasi dari dinas kesehatan anaknya telah habis.

Sehingga harus dipulangkan untuk perpanjangan kartu, agar diperkenankan untuk dirawat lagi di rumah sakit.
“Saat itu anak saya masih kritis dan dan butuh perawatan. Tapi kenapa tidak diberikan keringanan untuk mengurusnya tanpa harus menyuruh pulang anak saya,”sesalnya.

Dirinya juga menyesalkan pengakuan rumah sakit menganai adanya permintaan pulang dari pihak keluarga untuk mengikuti ujian nasional (UN). Bahkan Berliana yang saat itu menandatangani permintaan pulang yang diberikan rumah sakit, tidak pernah tahu isi surat tersebut, karena harus menemani  anaknya yang terus merengek menahankan sakit.

“Lebih baik anakku tidak lulus ujian dibandingkan harus menahankan sakit. Gurunya saja bahkan menjamin untuk mengantarkan soalnya ke rumah sakit agar bisa mengikuti ujian,” ucapnya.

Ironisnya kepulangan Ganda ke kediamannya, Kamis (29/3) lalu itu tidak bertahan lama. Pasalnya, dua jam tiba di kediamannya, Ganda menghembuskan nafas terakhirnya karena sesak nafas akibat kehabisan oksigen.

“Waktu di rumah sakit anak saya sudah gak mau pulang karena gak mau lepas oksigen. Bahkan saat tiba di rumah, anak saya menangis minta oksigen,” sebut wanita yang berjuang sendirian membesarkan ketiga anaknya sepeninggal suaminya pada 2002 silam .

Bahkan dari pengakuan Berliana, ketika di rumah sakit, anaknya bisa menghabiskan dua tabung oksigen per harinya, jika kekurangan oksigen maka dampak yang terjadi, tubuh anaknya akan membiru.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini notabenenya adalah seorang anak yatim dan bertahan hidup dari seorang ibu yang bekerja hanya ditempat penampungan barang bekas.

Dengan proses berjalannya pengadilan nantinya, tidak banyak yang diharapkan oleh Berlian.

“Cukuplah saya sendiri yang merasakan kepedihan ini. Saya tidak mau ada orang lain  menjadi korban karena kemiskinannya,”ucap Berlian dengan isak tangis penuh kesedihan.

Sepeninggal kepergian anak bungsunya itu Berlian mengaku tak lagi mampu untuk mencari nafkah dan lebih bergantung kepada kedua anaknya. Dirinya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sendirian dan mengingat masa-masa yang pernah dilaluinya bersama sang anak.
“Hingga saat ini sudah lima kali aku ke kuburannya (Ganda). Sering kutanya sama dia, bisa gak dia nyelesaikan soal UN nya,”ucapnya yang mengaku seperti orang stres sering berbicara sendiri di kuburan anaknya.

Tak jarang untuk mengenang anaknya, Berlian sering memperhatikan anak dilingkungannya yang akan berangkat sekolah mengikuti UN.
Bahkan Berlian sempat berfikir untuk ke sekolah anaknya di SMAN 21, dan menggantikan posisi anaknya mengikuti UN yang tengah berlangsung.
“Sesedihnya ditinggal suami lebih sedih lagi ditinggal anak yang sudah kubesarkan 18 tahun lamanya. Kalau seandainya bisa, aku maunya tidur di kuburannya untuk menemaninya setiap hari disana,”ucapnya dengan deraian air mata yang tak pernah henti ketika mengenang sang buah hati.
Meskipun kenangan itu tak kan bisa terulang, kini Berlian hanya bisa berharap sebuah keadilan berpihak kepada keluarganya. (uma)

Situmeang se-Sumut Ancam Nginap

Marga Situmeang se-Sumut dan se-Kota Medan mengancam aksi menginap di RSU dr Pirngadi.

“Jika pihak rumah sakit tak mau meminta maaf kepada keluarga Mualtua Situmeang (32) dan istrinya, Rini O Sinaga (25), maka Jumat (20/4) hari ini seluruh marga Situmeang se-Sumut dan se-Kota Medan akan melakukan aksi menginap di halaman RSU dr Pirngadi Medan,” kata Sugianto Situmeang, salah satu pengurus marga Situmeang Sumut,  didampingi Israel Situmeang, pengurus marga Situmeang Kota Medan, Kamis (19/4) siang.

Menurutnya, ini jelas-jelas kesalahan dan ini tak bisa dibiarkan karena yang menjadi taruhannya nyawa manusia.

“Dirut RSU Dr Pirngadi harus dicopot dari jabatannya karena tak becus dalam memimpin rumah sakit. Rumah sakit jangan dijadikan ajang untuk bisnis karena milik seluruh warga Medan bukannya milik swasta. Tak hanya itu, kenapa dokter yang ada di saat kejadian hanya dokter praktek bukannya dokter yang ahli dalam bidangnya,” tegasnya.

Sugianto menjelaskan, pihak rumah sakit harus bertanggung jawab atas kematian dari Anastasya F Situmeang dimana berdasarkan dari kasus 2011 yang diberitakan sudah ada tiga kasus yang terjadi selama kepemimpinan Dirut RSU dr Pirngadi Medan.

“Ini jelas menunjukkan bahwa dirut tak bisa mempimpin rumah sakit milik Pemko Medan. Dirut harus dicopot begitu juga dengan dokter yang memeriksa Anastasya juga harus dibatalkan izinnya karena kerjanya tak becus,” tegasnya.

Ditegaskannya, mereka tak terima dengan perlakuan oleh pihak rumah sakit terhadap orang susah.

“Kami juga akan melakukan aksi kumpul uang recehan (koin) untuk menggelar aksi simpati terhadap Anastasya. Lalu, uang koin yang terkumpul sebanyak Rp5 juta akan kami serahkan kepada pihak RSU dr Pirngadi Medan biar mereka tahu kalau kami saja bisa mengumpulkan uang koin Rp5 juta,” bebernya.

Sugianto mengaku, aksi kumpul koin ini dilakukan karena mereka menolak keras uang berduka yang diberikan oleh rumah sakit kepada ayahnya sebesar Rp1 juta.

“Siapa tak bisa terima nyawa manusia dihargai Rp1 juta. Ini jelas-jelas sudah tak manusiawi,” akunya.

Sementara itu, Israel Situmeang, pengurus marga Situmeang Kota Medan menambahkan, mereka tak terima dengan sikap yang ditunjukkan oleh pihak rumah sakit dengan memberikan uang duka sebesar Rp1 juta.

“Kalau perlu, akan kami pecahkan beberapa kaca di rumah sakit itu senilai Rp1 juta biar mereka tahu kami juga bisa berbuat nekad jika mereka tak meminta maaf,” pungkasnya. (jon)

Pecahkan Rekor, Fogg Harapan Utama Inggris

LONDON- Tuan rumah Inggris memiliki harapan baru untuk mendapatkan medali pada cabang olahraga renang di Olimpiade London 2012. Harapan itu ada pada pundak perenang 24 tahun bernama Daniel Fogg.

Memang selama ini Fogg tidak terlalu dikenal pada orbit renang internasional. Prestasi perenang kelahiran Edmonton, Middlesex, Inggris itu juga tidak terlalu moncer. Fogg hanya mendapatkan satu medali perunggu 1.500 gaya bebas pada Commonwealth Games 2010 di New Delhi India lalu.  Namun, dalam setahun ini, prestasi Fogg langsung melejit. Dia sudah memastikan diri masuk dalam skuad Inggris di Olimpiade pada awal tahun ini.

Hal yang lebih spektakuler, Fogg berhasil memecahkan rekor nasional Inggris yang sudah bertahan selama 21 tahun pada nomor gaya bebas 1.500 meter. Dia melakukannya pada ajang British Gas Championships Maret lalu.

Catatan waktu Fogg adalah 14 menit dan 55,30 detik. Itu sudah cukup untuk menggusur rekor lama milik Ian Wilson yang bertahan sejak tahun 1991 lalu. Waktu Wilson adalah delapan detik lebih lambat ketimbang milik Fogg. Mencatat waktu under 15 detik pada gaya bebas 1.500 meter adalah yang pertama dalam sejarah renang jarak jauh Inggris.

Selain lolos pada gaya bebas 1.500 meter, Fogg juga berambisi mengamankan satu tempat pada renang jarak jauh open water 10 kilometer. (nur/jpnn)

Kendalikan Bangunan yang Bikin Semrawut

Developer masih banyak membangun gedung sesuka hati sehingga menjadi semrawut. Kok bisa? Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos, Adlansyah Nasution dengan Kepala Bappeda Kota Medan, Zulkarnain.

Apa yang harus dilakukan Pemko Medan terkait developer yang sesuka hati membangun?

Pemko Medan akan melakukan pengendalian kawasan terutama bagunan agar disesuaikan dengan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Medan. Dimana, pembangunan harus sesuai dengan struktur dan pola ruang, juga harus sesuai dengan penetapan budi daya dan penetapan kawasan lindung. Saat ini Pemko sedang mendorong implementasi stukruktur tata ruang Kota Medan agar lebih konsisten dengan perencanaan yang lebih detail. Untuk itu butuh Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan saat ini sudah menjadi program legislasi daerah tahun 2012.

Apa guna RDTR itu?
Agar pengembang ataupun developer tidak lagi membangun sesuka hatinya. Sebab, dalam RDTR itu akan ditetapkan seberapa besar kawasan pemukiman ataupun kawasan lindung di setiap kecamatan sehingga dapat mendorong keseimbangan dari masing-masing kawasan. Dari masing-masing kecamatan, seharusnya kita perlu menetapkan dan mengetahui lebih akurat setiap kecamatan berapa sebenarnya kawasan permukiman, sehingga kita bisa mencari berapa besar rasio kepadatan penduduk. Sebab rasio kepadatan penduduk seharusnya berasal dari data berapa besar kawasan permukiman di kecamatan dibagi jumlah penduduk, bukan berapa besar keseluruhan kawasan di Medan dibagi jumlah penduduk.

Kawasan mana saja yang banyak developer membangun sesuka hatinya?
Dari pantauan udara yang dilakukan Wali Kota Medan bersama saya, demografi Kota Medan bisa dilihat distribusi sebaran penduduk yang relatif cukup merata. Intinya ke depan kita akan mendorong implementasi struktur tata ruang kota Medan ini agar lebih konsisten dan sesuai dengan RTRW yang telah ditetapkan. Itu menunjukkan adanya distribusi pembangunan ataupun kegiatan pembangunan yang lebih merata di seluruh wilayah, dan kita lihat kegiatan pembangunan cukup merata berlangsung di semua wilayah.

Apalagi yang ditemukan?
Di beberapa kawasan terlihat tingkat penduduk yang lebih tinggi, hal ini terjadi dengan terlihatnya beberapa pusat kawasan sosial ekonomi sehingga menarik konsentrasi penduduk. Oleh karenanya, aktivitas ekonomi yang besar perlu pengendalian efektif . Untuk itulah kita perlu mendorong penetapan RTRW Medan bisa lebih konsisten untuk diimplementasikan. Dari pemantauan udara juga terlihat kawasan hutan lindung di Medan secara keseluruhan masih mendekati aturan dalam RTRW yakni 30 persen. Kawasan lindung kita itu terlihat beragam ada budi daya hutan mangrove, pemakaman juga lapangan setempat. Begitupun, dari pantauan udara, kualitas kawasan lindung di Medan tetap harus ditingkatkan kualitasnya. Contohnya bagaimana lebih menantu mengembangkan kawasan kota mangrove supaya pemanfaatan lebih terlindungi pemko sedang susun konsep konservasi kawasan lindung mangrove. Saat ini Pemko Medan sedang menyusun  konsep konservasi kawasan lindung mangrove. Bagaimana kita kembangkan kota mangrove sekaligus memberikan lapangan mata pencaharian bagi masyarakat setempat sehingga dapat mendorongnya menjadi eko wisata.

Apa upaya yang dilakukan Pemko Medan?
Kita juga melihat program prioritas yang saat ini perlu segera dikerjakan adalah mengatasi banjir dan menata kawasan pesisir pantai dengan pembentengan dan pembangunan tanggul di bibir pantai sekaligus penataannya sehingga muncul aktivitas ekonomi. Artinya, ke depan kita tidak sekadar membangun benteng tapi juga akan menata kawasannya sehingga akan muncul aktivitas ekonomi nanti di sana, selain itu kita juga akan melakukan penataan DAS dan normalisasi sungai dan itu sudah masuk dalam program Badan Wilayah Sungai II. Untuk tahun ini program penataan DAS dari BWS II untuk kota Medan adalah SID Sungai Belawan kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, SID Sungai Babura Kota Medan dan Deli Serdang, normalisasi dan perbaikan tanggul kritis Sungai Deli sepanjang 4.000 meter di Medan dan O and P Medan Flood Control Kota Medan 2 km. (*)

Dinas Bina Marga tak Aspal Jalan

MEDAN-Dinas Bina Marga Kota Medan mencueki aspirasi warga yang sudah berulangkali meminta mengaspal Jalan di Lingkungan IV dan V, Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia.

Hal tersebut terungkap saat pelaksanaan Reses I Anggota DPRD Medan Dapem II tahun 2012, Kamis (19/4) siang di Asrama Haji, Medan.
“Ini adalah keempat kali saya melaporkan kepada anggota dewan yang terhormat bahwa aspirasi warga.

di lingkungan IV dan V Kelurahan Polonia hingga kini belum terealisasi, padahal pada reses-reses sebelumnya pihak anggota dewan sudah menekankan kepada Dinas Bina Marga untuk segera mengaspal jalan tersebut,” kata Andreas, warga Kelurahan Polonia.

Anggota DPRD Medan asal Dapil II Damai Yona Nainggolan, Abdul Rani, Paulus Sinulingga, Burhanuddin Sitepu, Faisal Nasution, Kuat Surbakti, Daniel Pinem, Salman Alfarisi dan Zul Morado, Deni Ilham, Ilhamsyah dan Bangkit Sitepu sangat menyayangkan kinerja Dinas Bina Marga yang tidak tanggap terhadap keluhan masyarakat, padahal itu sudah berulangkali dibicarakan pada reses anggota DPRD Kota Medan Dapil II.

Untuk itu, anggota DPRD Medan sepakat untuk mengirimkan surat rekomendasi kepada Wali Kota Medan untuk mengevaluasi kinerja Kadis Bina Marga Medan, Gunawan Surya Lubis, karena selain tidak merealisasikan tuntutan warga, satu pejabat pun dari dinas tersebut tidak hadir pada reses itu.
Selain masalah pengaspalan jalan di lingkungan IV dan V, warga Medan Polonia juga mengutarakan adanya jembatan yang memprihatinkan di kelurahan tersebut pada hal jembatan dimaksud sangat vital bagi masyarakat, karena menghubungkan kelurahan Medan Polonia dengan Kecamatan Medan Baru.
Reses yang dihadiri Camat, Lurah, Kepling dan warga dari 7 kecamatan yang ada di Dapil II tersebut juga membicarakan berbagai pra sarana yang masih belum terbangun di daerah mereka masing-masing.

Politisi PDI P, Daniel Pinem pada kesempatan itu meminta kepada Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Kota Medan untuk menyerahkan  daftar jalan-jalan yang akan diperbaiki diberikan kepada pihak kecamatan dan kelurahan agar warga bisa mengetahui proyek apa saja yang akan dikerjakan di lingkungannya.
“Hal itu perlu agar warga juga dapat mengawasi jalannya pembangunan di daerah mereka,” ujar Daniel.
Selain masalah prasarana, warga juga menyoroti masalah pendidikan dan kesehatan. Berbagai masalah pendidikan seperti adanya kutipan-kutipan yang dilakukan oleh pihak sekolah menjadi beban bagi warga.
Kadisdik Kota Medan, Rajab Lubis yang hadir pada kesempatan itu menjelaskan semua kutipan yang dilakukan pihak sekolah harus melalui musyawarah dengan pihak Komite dan Dewan Sekolah, di luar itu merupakan kutipan liar dan akan ditindak.
Rajab juga menjelaskan selama pelaksanaan UN tidak ada kebocoran soal, kalaupun ada kunci jawabban yang beredar itu adalah palsu. Kemudian, masalah sekolah dasar (SD) PAB 35 di Kecamatan Medan Sunggal yang kondisinya memprihatinkan juga jadi perhatian para anggota DPRD Medan.
Damai Yona Nainggolan meminta Kadis Pendidikan Kota Medan untuk segera membentuk tim menelusuri kondisi sekolah-sekolah yang ada di daerah ini karena kemungkinan kondisi sekolah yang sama juga ada di kecamatan lain.(adl)

Digigit Ular

Boinem (38), warga Desa Cinta Raja, Stabat, terpaksa harus dilarikan ke Ruang IGD RSU dr Pirngadi Medan, Kamis (19/4) siang. Setelah kaki kanannya digigit ular saat membersihkan kebun sawit milik PTPN tempatnya bekerja.

Pengakuan Boinem, saat sedang membersihkan kebun tiba-tiba ular mematuknya.

“Saya tak melihat ada ular dan tiba-tiba saja ular itu menggigit kaki kanan saya dan saya pun berteriak,” katanya.
Dijelaskannya, begitu dirinya berteriak, pekerja kebun yang lain langsung memberikan pertolongan.

“Selanjutnya saya dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Diakuinya, dirinya tak mengetahui ular jenis apa yang menggigit kakinya karena kejadiannya begitu cepat.
“Saya langsung terjatuh,” pungkasnya. (jon)

Pedagang Medan Blokir Jalan, Mogok Jualan hingga Demo

MEDAN-Ratusan pedagang formal di Pasar Penampungan di Jalan Sutomo Baru, Jalan Seram, Jalan Sei Kera, Jalan RRI dan Jalan Veteran melakukan aksi blokir jalan Sutomo, Kamis (19/4) sejak pukul 05.00 WIB.

Aksi itu dilakukan karena pedagang geram dengan keberadaan pedagang kaki lima atau informal yang selama ini berjualan di badan Jalan Sutomo.
“Keberadaan PKL di badan Jalan Sutomo ini jelas sangat meresahkan kami. Gara-gara keberadaan mereka penghasilan kami berkurang 70 persen setiap hari, dagangan kami menjadi tak laku,” kata Dewa, seorang pedagang cabai di Pasar Penampungan.

Dewa yang mengaku sudah sepuluh tahun berjualan di pasar itu menyatakan, akibat keberadaan PKL di Jalan Sutomo dirinya sulit untuk menghidupi keluarganya.

“Saya berjualan cabai kalau tak laku bagaimana, busuklah cabai kami ini. PKL ini tidak hanya merugikan kami juga membuat kemacetan di Jalan Sutomo setiap hari. Kalau mereka tidak bisa ditertibkan PD Pasar, maka kami akan tetap melakukan aksi dan akan berjualan di badan jalan juga,” terang Dewa.
Aksi blokir jalan yang dilakukan pedagang ini membuat jalanan macet terutama di sepanjang Jalan Sutomo.

Sementara itu, ratusan pedagang Pasar Petisah Medan juga melakukan aksi mogok berjualan. Mereka menuntut PD Pasar menertibkan pedagang informal yang berjualan di dalam gedung Pasar Petisah. Kemudian ratusan pedagang dengan berjalan kaki dari Pasar Petisah melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Wali Kota Medan.

Pedagang Pusat Pasar Medan juga melakukan aksi penolakan dengan adanya pergantian pengelola petugas jaga malam. Menurut seorang pedagang Rukiah Manurung (58), pedagang keberetan dengan adanya pergantian pengelola. (adl/gus)

UN SMK Berakhir Ada Kunci Jawaban di Kaos Kaki

MEDAN-Pelasanaan Ujian Nasional (UN) di Medan dipercaya tak murni bebas dari kecurangan. Setidaknya, Tim investigasi Komunitas Air Mata Guru (KAMG) menemukan beberapa kecurangan dalam dua hari pelaksanaan UN di Kota Medan dan beberapa daerah lainnya seperti Serdangbedagai, Balige, Labuhanbatu, Aek Kanopan,  dan Lintong Ni Huta “Tim monitoring juga menemukan seorang siswa yang menyimpan kunci jawaban yang telah dicatat di dalam kaos kakinya.

Bahkan saat pelaksanaan ujian Bahasa Inggris dengan listening, sebelum tape diputar sejumlah siswa telah mengisi kolom jawaban meskipun soal belum didengarkan. Bentuk seperti ini semakin membuktikan kepada kita adanya kunci jawaban yang beredar sebelum ujian berlangsung,”terang ketua Tim Investigasi Benny Saragih saat memberikan keterangan pers yang berlangsung di kantor KAMG, Rabu (18/4).

Modus kecurangan itu sendiri bilang Benny, selain menuliskan di alas LJK, tim monitoring juga ada menemukan sebuah sapu tangan yang berisikan kunci jawaban yang tertinggal di laci siswa.
Melihat kondisi tersebut Ketua KAMG Abdi Muskarya Saragih meminta Pelaksanaan UN ini ke depannya dihentikan. “Kembalikan ujian kepada siswa dan guru ,”ungkapnya.

Disinggung mengenai nama sekolah yang terbukti melakukan pelanggaran, Abdi enggan menyebutkannnya. “Maaf kami tidak bisa memberitahukan sekolah mana yang terbukti curang, karena ini menjadi kerahasian kami,” ucapnya.

Dalam kesempatan lainnnya, Ketua Panitia UN Sumut Henri Siregar menjelaskan, secara umum hasil laporan dari Panitia UN Kabupaten/Kota dan Pengawas berjalan tertib dan lancar. “Tidak ada kendala, semua berjalan lancar dan selesai hari ini (kemarin). Ini tinggal menunggu satu hari lagi untuk SMA,” ucap Henri.
Henri menyatakan, LJK mulai diberangkatkan siang kemarin ke Unimed untuk dilakukan pemindaian. Dibawah pengawasan ketat pihak kepolisian dan pengawas Unimed.

“Dalam dua hari ini untuk LJK SMK semua kemungkinan akan rampung. Lalu, nanti disusul dengan LJK SMA. Untuk distribusi susulan masih terkejar sampai di lokasi hari Minggu (22/4),” ucap Henri.

Hanya saja, Henri belum mendapatkan data jumlah siswa yang mengikuti ujian susulan SMA. Sebab, Kabupaten/Kota belum melampirkan data siswa yang tidak hadir.“Belum ada datanya, kemungkinan bersamaan dengan LJK nanti itu,” jelasnya.Sedangkan  Ketua Panitia UN Medan, Munawar menyebutkan,  jumlah siswa
Medan yang akan mengikuti ujian susulan berbeda-beda setiap harinya.

Di hari pertama dan kedua sebanyak 418 orang. Terdiri dari SMA sebanyak 156 orang, SMK sebanyak 247 orang dan MA sebanyak 15 orang. Sedangkan hari ketiga sebanyak 422 orang. Terdiri dari SMA sebanyak 153 orang, SMK sebanyak 254 orang dan MA sebanyak 15 orang.
“Siswa bisa ikut susulan jika disertai dengan alasan yang jelas dan benar. Bisa jadi tidak semua ini bisa ikut susulan,” jelasnya.

Ramai-ramai Coret Baju
Fenomena coret-coret baju usia UN masih tetap terjadi di Sumut. Dari pantauan Sumut Pos di beberapa jalan tampak gerombolan siswa dengan baju seragam yang berubah warna. Kepala sekolah SMKN 3 Medan, Usman Lubis, mengaku, telah memberikan imbauan kepada para siswanya untuk tidak melakukan aksi coret baju di akhir pelaksanaan UN. “Dari hasil penggeledehan, kita menemukan 7 kaleng cat semprot, dan 9 spidol dari tas siswa. Dan hasil temuan tersebut telah kita sita, namun ada atau tidaknya siswa kita yang tetap melakukan aksi coret baju di luar sekolah, bukan jangkauan pengawasan kita lagi, “ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Sekolah SMKN 2 Medan, Sukardi SPd MM.
“Kita kumpulkan seluruh siswa pada pagi hari sebelum masuk ruang ujian untuk menyampaikan imbauan larangan coret-mencoret baju. Tapi  setelah  keluar lingkungan sekolah kita tidak tau lagi,”sebutnya.

Lain halnya dengan SMKN 1 Medan Untuk mencegah aksi coret baju bagi siswanya, sekolah tersebut menyediakan  kain putih sepanjang lima meter dan spidol sebagai wadah coret-mencoret siswa lewat sebuah tanda tangan.

“Kita siapkan mereka media untuk menuangkan aspirasi para siswa,”ungkap Kepsek SMKN 1 Medan, Asli Sembiring.
Di Jalan STM Medan, sejumlah siswa SMK Negeri 3 Medan dengan sorak-sorai merayakan usainya pelaksanaan UN. “Selesai sudah penderitaan. Tinggal happy-happynya aja ini,” ungkap seorang siswa, Ari, yang tertera di bet nama seragam sekolah yang hampir 80 persen sudah berwarna-warni itu.

Menanggapi fenomena ini, pemerhati pendidikan Kota Medan Emir Harahap menuturkan, kegiatan corat-coret baju seragam usai UN tak diketahui sejak kapan dimulai dan untuk apa. “Tapi satu yang pasti, aksi corat-coret seragam sehabis UN seolah-olah menjadi ritual bagi siswa, utamanya siswa SMA dan SMK,” kata Emir.

Menurut Emir, hal ini sungguh menyedihkan apa pun alasannya. “Karena dalam kondisi perekonomian rakyat yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan, di sisi lain ada sekumpulan siswa yang mencorat-coret seragam dan pada akhirnya tidak untuk apa-apa,” tegasnya.

Di Tebingtinggi, pelaksanaan UN relitif aman. Setidaknya hal ini diungkapkan Kadis Pendidikan Kota Tebingtinggi Drs Pardamean Siregar. Dia pun berharap kelulusan pada tahun ini mencapai 100 persen. Usai pelaksanaan UN tingkat SMK tidak kita temukan pelajar yang melakukan konvoi menggunakan sepeda motor dan aksi coret-coret baju. “Sebelumnya pihak Disdik telah meminta seluruh Kepala Sekolah se Kota Tebingtinggi untuk melarang anak didiknya melakukan konvoi kenderaan dan aksi coret baju karena itu perbuatan yang merugi,” bilang Pardamean.

Di Lubukpakam, Angkot Hikmah Diserang Siswa
Usai UN, sekira puluhan orang siswa SMK Negeri 1 Lubukpakam melempari satu unit angkot Hikma dengan batu karena ditompangi pelajar SMK Istiqlal Deli Tua. Peristiwa terjadi saat angkot itu melintas di Jalinsum Lubukpakam-Medan Desa Jati Sari Kecamatan Lubuk persisnya di depan Stadion Baharoeddin Lubuk Pakam. Akibatnya 3 orang korban terluka, dan angkot Hikma mengalami pecah kaca depan samping kanan, kiri dan belakang karena dihantam batu besar dan bambu.

Disebutkan, aksi perusakan dengan cara melemparan dan penghancuran itu, dipicu dari gesekan antarkedua kelompok semenjak berada di pantai Gudang Garam Desa Kualalama Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdangbedagai. Di sana kedua kelompok, awalnya merayakan usai mengikuti kegitan UN di sekolah masing masing. Namun, sempat terjadi bersingungan antara siswi dari SMK Istiqlal Deli Tua dengan siswa SMK Negeri 1 Lubukpakam. Pada saat itu, kedua kelompok tidak melakukan penyerangan, namun saling maki.

Sadar bukan di kampungnya, puluhan pelajar SMK Negeri 1 di Lubukpakam, mengurunkan niat untuk bentrok saat itu. Mereka menunggu di depan Stadion Baharoeddin Lubukpakam. Dan, angkot  Hikma BK 1033 GD yang ditumpangi siswa SMK Istiqlal Deli Tua melintas, spontan puluhan pelajar itu langsung bergerak cepat merangsek ke jalan dan menghentikan angkot yang berisi pelajar SMK Istiqlal Deli Tua. Tanpa banyak tanya, puluhan pelajar berpakaian sekolah yang sudah dicorat-coret itu langsung menghancurkan kaca depan angkot dengan batu dan bambu.

Tidak hanya itu saja,  para pelajar yang terlihat emosi itu langsung menghantam kaca samping angkot yang ditumpangi pelajar SMK Istiqlal Deli Tua sehingga pecah menghantam kepala beberapa pelajar perempuan yang ada di atas angkot.

Kebetulan, tiga orang personil Polsek Lubukpakam, yang kebetulan melintas, langsung turun dari mobilnya serta menghalau para pelajar yang beringas. Bahkan, membubarkan massa pelajar itu, ketiga personel Polri itu melepaskan letusan senjata ke udara. Bunyi letusan senjara itu membuat nyali para pelajar SMK itu ciut dan langsung melarikan diri. Beberapa di antaranya berhasil diamankan polisi dan dibawa ke Polsek Lubukpakam untuk dimintai keterangan. (uma/mag-3/btr)