Home Blog Page 13693

Jangan Kau Tinggalkan Mama…

Pemakaman Tasya, Bayi yang Tewas akibat Diterlantarkan di RS Pirngadi

MEDAN – Kepergian Anastasya F Situmeang, anak pertama dari Mualtua Situmeang (31) dan Rini Oktaviani Sinaga (25) warga Jalan Pelajarujung Gang Sederhana, Medan Denai diwarnai isak tangis, Sabtu (7/4) siang. Tidak hanya itu, kepergian bayi 7 bulan yang tewas akibat diterlantarkan tim medis Rumah Sakit (RS) Pirngadi Medan ini, juga diiringi guyuran hujan, seolah-olah larut dalam duka.

Rumah berwarna cat kuning pada barisan kelima di Jalan Pelajarujung ramai dikunjungi orang. Suara kidung puji-pujian terdengar dari dalam rumah itu. Nyanyian-nyanyian itu ternyata untuk menggiring kepergian seseorang ke pemakaman. Isak tangis pun larut dalam guyuran hujan tatkala melihat sosok bayi mungil terbujur kaku di peti jenazah. Begitulah suasana rumah duka Mualtua Situmeang dan istrinya, Rini Oktaviani menjelang menggiring putri pertamanya, Tasya (panggilan Anastasya) ke pemakaman.

Amatan Sumut Pos, para tetangga dan sanak family lalu lalang bergantian masuk ke dalam rumah untuk melayat dan mengucapkan belasungkawa. “Sabar ma eda. Nunga songoni pangidoan Tuhan (sabarlah Eda, memang sudah begitu kehendak Tuhan),” kata seorang pelayat perempuan berbaju hitam kepada keluarga duka.

Sang ibu, Rini Oktaviani Sinaga dan suaminya, Mualtua Situmeang, yang duduk di samping peti jenazah Tasya yang belum ditutup, hanya bisa menangis dan meratapi sang anak yang telah terbujur kaku di dalam peti. “Tasya, boasa ditadingkon ho oma. Ise ma dongan oma mo on (Tasya, kenapa kau tinggalkan mama. Siapa kawan mama mu ini lagi),” tangisnya sembari meratapi jenazah Tasya di dalam peti.
Sang ayah, Mualtua hanya bisa tertunduk lemas meratapi jenazah sang anak. Sang ibu, Rini Oktaviani Sinaga hanya bisa menangis dan terus menangis. “Tasya! Tasya! Kenapalah pergi anakku,” tangis kakaknya Mualtua yang juga duduk di dekat peti jenazah itu.

Sekitar satu jam kemudian, orangtua Mualtua, Marudut Situmeang (58) dan ibunya, Nona Siahaan (58), yang tinggal di Batam tiba di rumah duka. Begitu turun dari taksi, pintu depan pun terbuka. “Mana Tasya! Mana Cucuku!” tangis neneknya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Sontak saja, begitu masuk kedalam rumah suasana semakin dipenuhi dengan isak tangis. Tak hanya itu, sang nenek, Nona, pun langsung menangis histeris dan memeluk peti jenazah cucunya itu. “Ago poang! pahopuku on dungo ho pahumpuku, ro opung mo on (Aduh! cucuku bangun kau cucuku, sudah datang opung mu ini),” tangis Nona sambil memeluk peti jenazah cucunya.
Isak tangis histeris kembali pecah setelah peti jenazah mau ditutup untuk menuju ke pemakaman terakhir. “Kenapa kalian tutup peti anakku ini. Jangan tutup petinya,” tangis Rini sambil memeluk peti jenazah dan tak membiarkan peti jenazahnya ditutup.

Sontak keluarga yang lain menarik Rini lalu menutup peti jenazahnya. Peti jenazah Tasya pun diangkat Mualtua dan saudara laki-lakinya menuju pemakaman yang berjarak 1 kilometer dari kediaman mereka.
Selama dalam perjalanan menuju pemakaman, hujan rintik-rintik pun turun memberangkatkan jenazah Tasya. Jenazah pun tiba di pemakaman lalu dikebumikan.

Usai pemakaman, Mualtua mengatakan menyesalkan penanganan yang dilakukan rumah sakit di RS Pirngadi. “Sangat disesalkan karena anak saya yang sudah berada dua jam di rumah sakit tak ditangani dengan serius. Padahal itu rumah sakit pemerintah. Pelajaran lah itu buat siapapun,” katanya sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

Sekedar mengingat, Tasya yang menderita sesak dan penurunan kesadaran ini sempat berada dua jam lebih di dalam Ruang IGD (instalasi gawat darurat) RSU Dr Pirngadi Medan, Jumat (6/4). Namun, Tasya tak ditangani serius oleh rumah sakit dan meninggal dunia Jumat sore 16.00 WIB di dalam ruangan IGD.(jon)

Berita sebelumnya: 2 Jam Lebih tak Ditangani, Bayi 7 Bulan Tewas di Pirngadi

Ratusan Ribu Rumah untuk Buruh-Wartawan

JAKARTA-Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) menargetkan membangun 200 ribu rumah bagi para pekerja/buruh yang tersebar di kawasan-kawasan industri di  seluruh Indonesia.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan kesejahteraan, sehingga kesejahteraan para buruh bisa meningkat lebih baik.

“Ini merupakan kesepakatan Kemenakertrans dengan Kemenpera. Pemerintah juga telah mengadakan  petemuan dengan perwakilan serikat buruh dan Apindo untuk membicarakan rumah bagi pekerja di kawasan-kawasan industri ini,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, di Jakarta, Kamis (5/4).

Muhaimin mengatakan, upaya peningkatan kesejahteraan buruh ini telah dilakukan  sejak beberapa tahun terakhir. Yakni,  dimulai dengan membangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) untuk pekerja lajang di kantong-kantong industri, termasuk yang sudah berjalan baik di Batam.

“Untuk tahun ini, kita berharap melalui kerjasama dengan Menteri Perumahan Rakyat, kita akan bikin tower perumahan di daerah kantong-kantong industri Jabodetabek. Pemerintah terus mengembangkan perumahan murah untuk para pekerja dan buruh dengan harga terjangkau dari segi bantuan uang muka maupun terjangkau dari segi kredit ataupun cicilan yang diberikan untuk para buruh,” jelasnya.
Ketua Umum DPP PKB ini menambahkan, pemerintah juga akan memprioritaskan besaran upah, perumahan dan  transportasi serta jaminan sosial bagi pekerja/buruh. Dijelaskan, pengelolaaan perumahan ini akan diserahkan pada Perumnas, Jamsostek ataupun Pemda.

Sedangkan lokasi perumahan untuk pekerja/buruh yang sudah berkeluarga, akan dicarikan pada  lokasi-lokasi yang dekat dengan tempat kerja dan transportasi massal.
Tak hanya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), PNS, TNI, dan Polri yang disiapkan perumahan dengan suku bunga rendah. Para jurnalis juga ternyata ikut kecipratan proyek pemerintah.  Menurut Menteri Perumahan Rakyat, pemerintah akan membangun kompleks rumah wartawan di Citayam. Proyek pembangunan rumah untuk para kuli tinta tersebut direncanakan selesai dibangun dalam waktu enam bulan mendatang.
“Kemenpera akan membangun kira-kira 1.000 rumah untuk para wartawan,” ujarnya kepada wartawan di Kantor Kemenpera, Rabu (4/4).

Pembangunan perumahan bagi wartawan, lanjutnya, merupakan salah satu arahan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pasalnya, selama ini presiden melihat kinerja wartawan sangat berat, harus mencari berita yang harus ditayangkan kepada masyarakat luas selama 24 jam.

“Melihat itu Kemenpera kemudian diminta presiden untuk memberikan perhatian pada penyediaan rumah bagi wartawan. Apalagi tidak semua wartawan telah memiliki rumah,” tuturnya.

Untuk membangun rumah para kuli tinta ini, Kemenpera akan menunjuk Perumnas. Mengenai lokasi pembangunan rumah wartawan ini, menurut Djan Faridz, akan dipusatkan di daerah Citayam, Depok. Harga tanah yang telah ditawarkan ke Kemenpera sekitar Rp 100 ribu per meter. Dari perhitungan Kemenpera, biaya untuk pembelian tanah yang diperlukan adalah Rp 10 juta. Harga bangunan rumah sekitar Rp 25 juta dan sedikit keuntungan untuk pengembang.
“Rumah untuk wartawan ini harganya Rp 45 juta dengan cicilan sekitar Rp 300 ribu hingga Rp Rp 400 ribu. Tentunya cicilan rumah ini lebih rendah daripada mencicil motor sehingga tidak memberatkan,” tandasnya.
Untuk dapat memperoleh rumah ini, pemerintah akan memberikan beberapa kemudahan. Pertama, besar uang muka diusahakan maksimal 10 persen dari harga rumah. Kedua, apabila para wartawan sudah dicover  Jamsostek diharapkan Jamsostek bisa ikut membantu penyediaan uang muka tersebut.

“Kami harap pihak media melalui bagian personalia juga bisa mengirimkan surat permohonan perumahan bagi karyawannya sebagai penjamin gaji. Dan wartawan juga harus datang ke bank untuk kreditnya,” terangnya. (cha/esy/jpnn)

Harga Udang, Kepiting dan Belangkas Turun

BELAWAN- Memasuki seminggu pasang air laut, harga kepiting, udang dan belangkas turun. Penurunan harga jual tiga komoditas hasil laut ini disebabkan hasil tangkapan nelayan di Belawan pada musim pasang laut lima belas hari bulan ini kian membanjiri tangkahan TPI (tempat pelelangan ikan) dikawasan Bagan Deli, Belawan, Sabtu (7/4) kemarin.

“Kalau sudah pasang besar biasanya tangkapan kepiting, udang dan belangkas nelayan di sini meningkat. Dan kalau pasokan banyak harga jual pun pastinya jadi turun,” kata, M Nasir (52) seorang nelayan.
Seperti kepiting kelapa jenis jumbo sebelumnya harga jualnya mencapai Rp120.000 per kg, turun menjadi Rp90.000/kg.

“Memang pada musim pasang laut seperti ini tangkapan nelayan bertambah, ini dikarenakan pada musim saat ini justru membuat perkembangbiakkan kepiting di sekitar 6 mil laut dari pinggiran pantai terus banyak jika dibandingkan hari-hari sebelumnya,” ungkapnya.

Lain lagi dengan penjualan udang lipan super, jenis udang kelas ekspor yang mencapai berat 4 ons ini dijual per ekor dengan harganya Rp20.000 dari harga sebelumnya Rp25.000 per ekor untuk jenis udang yang masih hidup. “Sedangkan kalau yang sudah mati biasanya harga jualnya rendah hanya Rp5.000 per ekor dari sebelumnya Rp10.000 per ekornya,” terangnya.

Sementara, harga jual komoditas hasil laut lainnya yang ikut mengalami penurunan harga yakni belangkas. Dalam per ekornya hewan laut penghasil telur mirip ikan pari ini di jual seharga Rp15.000 per ekor dari harga sebelumnya Rp20.000 per ekor. (mag-17)

Tewas Gantung Diri di Tugu Tol

Pacar Tunangan dengan Pria Lain

BELAWAN- Ahmad Ramadhan alias Riko (19) warga Lingkungan 29 Kelurahan Pekanlabuhan Kecamatan Medan Labuhan benar-benar putus asa. Gara-gara pacar menikah dengan pria lain, Riko nekat gantung diri di Tugu Gerbang Tol Belmera Kampungkurnia, Belawan, Sabtu (7/4) kemarin. Riko ditemukan tewas dengan posisi leher tergantung dengan menggunakan tali nilon.

Keterangan dihimpun Sumut Pos di lokasi kejadian menyebutkan, mayat korban yang ditemukan pertamakali oleh warga setempat yang sedang melintas di kawasan Tugu Gerbang Tol Belawan.
“Tadi ada warga yang bilang kalau ada orang gantung diri di tugu itu, lalu kami bergegas datang dan ternyata benar. Warga lalu melaporkan kejadian ini ke polisi,” ujar, Anton (28) salah seorang warga.
Petugas Polsekta Medan Labuhan yang tiba di lokasi kejadian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Hasil penyelidikan, polisi menemukan secarik surat bertuliskan ungkap perasaan dan permohonan maaf korban kepada pihak kedua orangtuanya.

“Dari olah TKP korban murni bunuh diri, dan di sekitar lokasi ditemukan sepucuk surat telah kita amankan, diduga motif bunuh diri ini soal asmara,” terang, Kanit Reskrim Polsekta medan Labuhan, AKP Oktavianus.
Namun penyelidikan petugas terpaksa berhenti, pasalnya ayah kandung korban, Riduan (39) meminta agar pihak kepolisian tidak membawa jenazah putra pertamannya dari lima bersaudara ini ke RSU dr Pirngadi Medan untuk diotopsi.”Pihak keluarga minta agar tidak dilakukan otopsi terhadap korban, dan surat pernyataan tidak keberatan sudah ditandatangani orang tuanya,” ucapnya.

Riduan, ayah kandung korban ketika ditanyai tidak membantah kalau aksi nekat putranya itu diduga dipicu oleh permasalahan asmara.

“Sebelum kejadian tak ada tanda-tanda keanehan, dia (Riko) tampak seperti biasa, keseharian dia terlihat periang,” tuturnya sedih.

Perbuatan nekat Riko dikabarkan setelah hubungan asmaranya dengan kekasihnya berinisial, S warga Jalan Young Panahhijau, Marelan putus.
Ini dipicu adanya dugaan orang ketiga yang hadir di dalam kehidupan cinta kedua sejoli ini.

” Aku tak tahu pasti hanya saja ada yang bilang, Riko sebelumnya sempat dapat SMS dari pacarnya yang minta putus karena ceweknya mau tunangan dengan pria lain,” sebutnya.
Layanan pesan singkat tersebut diduga membuat korban berpikiran untuk memilih mengakhiri nyawanya dengan menggunakan seutas tali nilon.”Dia ini anak baik dan rajin, tapi kenapa dia mau berbuat nekat seperti itu,” kesalnya. (mag-17)

KPR dari Bank BNI Dalam 3 Bulan Tersalur Rp1,8 T

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) sudah mengucurkan kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar Rp 1,8 triliun selama 3 bulan pertama pada 2012. Pertumbuhan KPR tersebut didorong oleh rendahnya bunga yang rata-rata sebesar 9 persen BNI juga tengah memberikan promo bunga murah 7 persen fixed selama satu tahun. “Pertumbuhan KPR selama 3 bulan mencapai Rp 1,8 triliun. Total kredit KPR mencapai Rp 19,8 triliun,” kata Direktur Konsumer dan Ritel BNI Darmadi Sutanto di, Jakarta, Kamis (5/4).

Darmadi mengatakan, BNI menyediakan beberapa program. Salah satunya adalah KPR murah karena bunganya hanya 7 persen. BNI kini memang tengah mengadakan promo suku bunga KPR 7,49 persen selama satu tahun. Padahal di tataran itu, rata-rata KPR keseluruhan bunganya berada di kisaran 9 persen.  “Tergantung programnya. Ya,  kalau bunga sekitar 7 persen ada fixed satu tahun. Kalau di rata-ratakan 9 persen,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Darmadi menyampaikan tahun ini BNI berencana menambah 1.500 mesin ATM baru yang akan tersebar diseluruh Indonesia. “Sekarang sudah 6.500 nanti ada proses penggantian dengan yang sudah kadaluarsa. Nantinya akan ditambah mungkin sekitar 1.500 lagi,” kata Darmadi lagi.

Sebelumnya, Dirut BNI Gator M Suwondo mengatakan, bisnis pembiayaan perumahan dianggap PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) masih menjanjikan. Pertumbuhan KPR perseroan akan kembali menggeliat di kisaran 27 -28 persen pada 2012. Perseroan merupakan pemain baru dalam bisnis KPR. Ke depan, bisnis ini akan terus berkembang dengan pengembangan sistem dan SDM pada seluruh wilayah.

“Kami ini pemain baru. Namun bisnis ini masih sangat baik. Portofolio kami sampai akhir tahun lalu mencapai Rp 18 triliun, terjadi penumbuhan 50 persen dibandingkan sebelumnya,” kata Gatot akhir pekan lalu.  “Tahun ini kita targetkan portofolio tumbuh 27-28 persen.  Artinya, sekitar Rp 25 triliun-Rp 26 triliun,” katanya.

Gatot mengemukakan, banyak kerja sama yang terjalin antara perseroan dengan pengembang. Totalnya mencapai 526 pengembang hingga akhir 2011. Jumlah ini meningkat dibanding awal BNI terjun serius di bisnis KPR pada 2006 yang hanya 20 pengembang.

Sebagai wujud komitmen bisnis KPR yang terus dijaga, BNI bersama DPP Real Estate Indonesia (REI) berinisiatif melahirkan pembiayaan dengan skema dan pola perhitungan spesial, dengan nama KPR Griya Idaman. Pembiayaan ini menawarkan cicilan murah mulai dari Rp 600 ribu per bulan serta tenor maksimal 20 tahun.

KPR Griya Idaman ditujukan bagi konsumen yang membeli rumah di atas harga yang ditetapkan pada FLPP 2012, yakni Rp 70 juta.(ari/jpnn)

Pulang

Sunlie Thomas Alexander

Setelah tujuh tahun.

Senja Pertama

INI senja yang pertama baginya setelah bertahun-tahun pergi. Hidup di berbagai tempat: kota-kota serba gemerlap maupun kelabu, yang terus-menerus menawarkan ketegangan dengan kampung halaman; atau desa-dusun hiruk-pikuk maupun sunyi yang dulu bahkan tak terbayangkan olehnya. Begitu banyak lagi tempat dan nama yang tak tercatat di peta…

Menyusuri jalan tanah kuning becek yang di sana-sini tergenang air hujan, ia menjalankan sepeda motor yang direntalnya setengah jam setelah meninggalkan bandara dengan lamban. Ia memang harus berhati-hati agar tak melindas genangan air kotor atau tempat-tempat yang lebih becek, karena bisa jadi roda sepeda motornya bakal terbenam. Kedua roda sepeda motor bebek itu sudah berlumuran lumpur tanah kuning yang memerciki kaki celananya hingga sebatas betis.
Ah sekian tahun, ternyata jalan kecil yang menghubungkan kampungnya dengan jalan raya menuju kota kecamatan itu tak juga berubah. Tak pernah tersentuh aspal semenjak ia masih kanak-kanak. Ia mengeluh kecil ketika akhirnya sebuah lubang menganga tak mampu dielakkannya. Air kuning kotor langsung bercipratan membasahi celananya sampai bagian lutut.

Suasana

Warna jingga—seperti sirup rasa jeruk—yang sedikit temaram dan seakan menyimpan kesedihan yang ganjil, menyapu langit di depan matanya.Deretan pepohonan dan semak belukar liar di kanan-kiri jalan bergerak-gerak oleh hembusan angin, mengeluarkan suara seolah mengisak. Jalan yang dilaluinya kini sedikit lebih bagus, tapi ia tak juga mempercepat laju sepeda motor. Seolah-olah memang memilih melarutkan dirinya dalam senja yang murung ini.
Ada suara cucak rowo yang ia kenali baik di antara pepohonan. Ia menoleh sekilas sekadar ingin memastikan. Tapi burung mungil itu tak tampak karena rimbunnya dedaunan pohon-pohon: duku, rambutan, manggis, durian, cempedak, dan sebagian yang tak lagi bernama di dalam kepalanya—walaupun ia masih mengenali aroma dan bentuk batang yang pernah akrab dengannya selama bertahun-tahun itu. Tercium pula bau getah karet basah.

Cahaya matahari penghabisan berkilauan di dedaunan. Seperti butir-butir kristal, sisa air hujan bertetesan setiapkali angin berhembus lebih kencang. Rasa gelisah tiba-tiba saja membuncah di hatinya, membuatnya merasa seolah sedang menghadiri sebuah konser yang memilukan. Langit kian temaram, semakin muram.

Seorang Lelaki Setengah Baya Bersepeda

Mereka berpapasan. Ia mengendurkan gas sepeda motornya, membiarkan lelaki bersepeda itu lewat terlebih dulu karena sempitnya sisa jalan yang akan dilalui. Lelaki setengah baya itu tampak agak terburu-buru, tapi mereka sempat bertatapan sesaat. Ia hanya mengangguk kecil, namun kedua mata lelaki itu sekilas seperti bercuriga. Tidak ada tegur sapa sama sekali.

Sejenak kemudian ia merasa mengenali lelaki itu. Namun otaknya yang seolah membatu, tak bisa digunakan untuk mengingat. Toh, ia merasa begitu yakin lelaki setengah baya bersepeda itu memang salah seorang dari masa lalunya yang luput. Ah, memang begitu banyak nama-nama dan peristiwa yang raib tak berbekas ditelan waktu.

Yang Tersisa dari Kenangan.

Gedung Sekolah Dasar

Dulu, bersama anak-anak lainnya setiap hari ia berjalan kaki belasan kilo pulang-pergi ke sekolah yang terletak di ujung kampung itu. Kini ia melihatnya lagi. Bangunan itu tak banyak perubahan, selain ada beberapa ruang kelas tambahan yang entah dibangun kapan. Gedung sekolah tersebut kayaknya belum lama dicat ulang. Ia merasa sedikit terharu juga melihat bekas sekolahnya. Dari adiknya ia tahu, sampai sekarang belum juga ada SLTP di kampungnya…

Rumah Mantan Kepala Kampung

Rumah itu juga lebih bagus sekarang. Lantai terasnya dipasangi keramik putih. Ada sebuah taman kecil di depan rumah. Dinding-dindingnya dicat kuning telur. Seingatnya, dulu rumah itu bercat hijau muda. Ia menduga lelaki gemuk pemiliknya sekarang sudah bukan lagi kepala kampung.
Pos Kamling
Aneh, pikirnya, pos kamling itu ternyata masih ada. Berbentuk kotak bujur sangkar yang terbuka di bagian muka dan berdiri di atas empat tiang kayu. Dinding-dinding papannya tampak penuh dengan graffiti dari semprotan pilox. Rapuh, seperti mengerang. Atap sengnya sudah penuh karatan. Ada sehelai tikar pandan butut tergelar di dalam pos. Sebuah sendok kotor—mungkin bekas mengaduk kopi semalam—tergeletak di atas tikar itu.
Ah, sesekali ia pernah nongkrong di sana…

Rumah Orangtua Hasan

Ia sebenarnya ingin sekali singgah ke rumah itu. Tapi merasa sungkan. Lagipula siapa yang bakal ditemuinya di sana? Hasan seperti dirinya, telah lama merantau. Bahkan lebih dulu. Tentunya setelah sekian lama, orang di rumah itu telah menjadi serba asing buatnya. Ia menjalankan sepeda motornya lebih lambat untuk mengamati rumah bercat putih itu. Agaknya juga tak ada perubahan yang berarti, kecuali ada sebuah retakan cukup panjang di tembok sisi kiri, entah karena apa. Yang jelas mengingatkannya pada tembok rumah-rumah di kota rantaunya sehabis gempa tiga tahun silam.

Sebatang Pohon Durian

Pohon besar yang menjulang tinggi itu berdiri tak jauh dari rumah orangtua Hasan. Konon diwariskan turun-temurun oleh buyut Hasan. Semasa kanak-kanak, ia dan Hasan sering menunggui buah-buah pohon itu jatuh bila musim buah tiba. Kakek Hasan yang waktu itu masih hidup, akan memberi mereka upah berupa setengah dari jumlah durian jatuh yang mereka dapatkan. Dan itu sudah lebih dari cukup. Perut kenyang, dan mereka akan bersendawa keras-keras. Kalau ada sisa durian yang tak sanggup mereka habiskan, mereka pun menjualnya kepada orang-orang kampung. Uangnya mereka belikan bola, gambar umbul, kelereng, baju, sepatu, atau sekadar buat jajan di sekolah. Daging durian pohon itu berwarna kuning mengkilap dan cukup tebal. Teringat itu, ia jadi menelan ludah. Terbayang harum dan lezatnya buah kenangan…

Mang Sidiq

Lelaki tua itu tampak sedang sibuk dengan burung-burungnya di halaman rumah ketika ia lewat. Cuma berkaos singlet dekil dan celana pendek yang tak lagi kentara warnanya. Persis sebagaimana sosok dalam redup kenangannya. Mang Sidiq tidak melihatnya karena terlalu serius dengan burung-burung. Ada lima buah sangkar di dekat lelaki tua itu. Wajah tukang urut kampung itu tampak ceria, dari bibirnya yang monyong terdengar siulan sumbang. Ia dulu pernah keseleo parah karena tergelincir dari sepeda dan dibawa kepada lelaki itu.

Bibi Jum

Ia menghentikan sepeda motor di tepi jalan, di depan rumah perempuan kurus yang sedang menyapu teras itu tanpa mematikan mesin. Perempuan itu mengangkat wajah dan tertawa lebar ketika melihatnya. Tergopoh-gopoh, Bibi Jum—demikian ia memanggil perempuan seumur emaknya itu—berlari kecil menghampirinya. Ia membungkuk meraih dan mencium tangan perempuan itu.

“Aduh, kapan kau balik? Sudah lama Bibi tak melihatmu, sekarang kau agak gemukan dan lebih putih. Kok jarang sekali pulang? Sudah punya pacar belum? Masa’ kalah sama adik-adikmu. Tinggal kamu yang belum nikah lho? Sudah kerja atau masih kuliah?” begitulah, perempuan itu segera memberondongnya dengan sederet pertanyaan. Ia cuma tertawa kecil.
“Ayo, singgah ke rumah Bibi dulu.”

“Nanti saja Bi, aku belum sampai ke rumah…”

“Oh! Jadi kau baru tiba? Aduuh, sudah cepat sana pulang!” Bibi Jum tampak sedikit kaget dan memperhatikan ransel di punggungnya dengan mata terbelalak. Dulunya, perempuan itu pernah membantu emaknya berjualan kain.

Annisa

Perempuan muda itu sibuk menyuapi anaknya makan di bangku beranda. Mungkin anak kedua, tebaknya dengan dada berdebar. Ia mempercepat laju sepeda motornya dan tak berani menoleh sedikit pun. Jantungnya seperti bergemuruh. Ia meringis!

Lapangan Bola

Sebelah gawang di lapangan kecil itu terlihat miring… Rumput sekarang tampak lebih gundul, apalagi di sekitar kotak pinalti. Bagian depan kedua gawang tergenang air, demikian pula di sejumlah tempat lain. Waktu kecil—sebagaimana anak-anak di hampir seluruh muka bumi ini—mereka sering bermain sepakbola di sana, tapi kadangkala main layangan atau kasti. Pada bulan Agustus, lapangan itu biasanya digunakan untuk penyelenggaraan turnamen sepakbola antardesa atau sekadar turnamen antarkampung. Terkadang diadakan juga di sana pelbagai ajang perlombaan, seperti panjat pinang, lompat karung, makan kerupuk, dan lain-lain.

Yang Raib ditelan waktu Warung Kopi Mang Ucup

CUKUP lekat dalam ingatannya, sebuah warung kopi lumayan ramai yang buka sampai larut malam. Pemuda-pemuda kampung suka berkumpul di sana main gaple atau remi, juga para orang tua termasuk bapaknya. Kadangkala ia minta diajak karena bosan di rumah. Ada sebuah televisi hitam-putih berukuran 18 inci di sana, di pojok warung. Sementara bapaknya sibuk bermain kartu domino, ia akan duduk di dekat televisi ditemani segelas teh hangat. Kadang-kadang acara televisi cukup menarik, tetapi lebih sering membosankan. Sehingga membuatnya mengantuk dan kerap kali jatuh tertidur.

Ketika bapak membangunkannya dan mengajak pulang, ia sudah kepayahan untuk membuka mata. Kalau sudah begitu, bapak akan mengomel panjang-pendek dan menyuruhnya mencuci muka di sumur belakang warung. Berdua, mereka bapak-anak kemudian pulang menyusuri jalan becek (tentu berdebu jika kemarau) dengan bantuan penerangan lampu senter. Suara kodok dan jangkrik begitu riuh di tengah kelengangan sepanjang jalan.
Warung itu tak ada lagi. Tapi bekas fondasi bangunannya masih tampak di antara ilalang lebat.

Lapangan Bulu Tangkis

Lapangan kecil itu juga sudah lenyap. Kedua tiangnya sudah hilang tak berbekas. Sebuah papan pengumuman kusam kini tampak tegak di sana. Bertuliskan: Di sini Akan Dibangun Posyandu.

Yang Baru dI Kampung Masjid

MASJID itu lumayan besar dan indah dengan kubah putih dan menara menjulang tinggi, tapi tampak sunyi. Hanya sejumlah lansia yang terlihat duduk-duduk di serambi masjid menunggu adzan maghrib. Ia merasa ada yang aneh, mungkin sesuatu yang salah. Padahal dulu, seingatnya tatkala di tempat yang sama masih berdiri masjid tua yang dibangun oleh mendiang kakeknya, jemaah selalu saja berlimpah. Tak peduli tua-muda, lelaki-perempuan, termasuk anak-anak.
Tapi apa yang salah?

Sejumlah Rumah Baru di Samping Masjid

Tentu saja ia tidak tahu rumah-rumah itu milik siapa saja. Milik warga kampungnya atau para pendatang baru. Rata-rata rumah beton yang cukup bagus. Bahkan ada satu rumah yang lumayan besar, bertingkat dua dengan gaya arsitektur mediterania. Kepunyaan seorang kaya baru di kampung?

Seorang Remaja Bergiwang

Remaja tanggung itu sedang bermain gitar di depan salah satu rumah baru. Dia duduk di pagar beton teras. Kulitnya kuning langsat, tentu tidak seperti kebanyakan anak-anak kampung. Ada sepasang giwang besar di telinganya kiri-kanan, berbentuk cincin mencolok berwarna emas. Anak laki-laki tersebut tampak demikian khusyuk dengan permainan gitarnya. Samar-samar, ia mengenali sebuah lagu lama Iwan Fals yang dibawakan ABG itu.

Gadis Berkaos Tank Top

Satu kelokan lagi akan sampai ke rumah orangtuanya, ia berpapasan dengan gadis berkaos tank top merah menyala dan bercelana putih pendek ketat itu. Cantik, dengan rambut hitam yang terurai sebahu. Berkulit putih bersih. Ia terpukau juga melihat keelokan tubuh dan mulusnya kulit gadis itu terutama di sekitar wilayah dada yang montok dan perutnya yang rata. Gadis yang berjalan kaki entah hendak ke mana itu mengerling kepadanya dengan genit, dengan sedikit senyum tersungging di sudut bibir yang ranum. Ia menyeringai lebar dan bersiul kecil.

Ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, tetapi ia terkenang pada seorang gadis lain yang beberapa kali dicumbuinya di kota rantau. Adik tingkat di kampus yang kemudian menjadi teman dekatnya. Hubungan mereka memang cuma sebatas sahabat karib. Tak lebih dari itu, tak ada letup asmara. Tapi di saat-saat sedang berdua, entahlah, mereka terkadang begitu sulitnya menahan hasrat untuk bercumbu…
***

AH, akhirnya ia melihat rumah orangtuanya! Rumah yang selama bertahun-tahun membesarkannya. Rumah tua itu seperti berdiri dalam kabut. Tampak ngungun, sarat aroma kerinduan sekaligus asing… Ia mempercepat laju sepeda motornya, seakan hendak memburu rasa kangen di dadanya sendiri. Sekarang ia ingin secepatnya bertemu dengan abah dan emaknya, dengan adik perempuannya. Ah, sudah tujuh tahun!
Namun, ketika memasuki halaman rumahnya, ia merasa seolah-olah memasuki sebuah dimensi lain. Bulu kuduknya terasa berdiri. Entahlah, ia merinding… Rasanya badannya  menggigil.***

Gaten, Yogyakarta,  2007-2010

Harga Udang, Kepiting dan Belangkas Turun

BELAWAN- Memasuki seminggu pasang air laut, harga kepiting, udang dan belangkas turun. Penurunan harga jual tiga komoditas hasil laut ini disebabkan hasil tangkapan nelayan di Belawan pada musim pasang laut lima belas hari bulan ini kian membanjiri tangkahan TPI (tempat pelelangan ikan) dikawasan Bagan Deli, Belawan, Sabtu (7/4) kemarin.

“Kalau sudah pasang besar biasanya tangkapan kepiting, udang dan belangkas nelayan di sini meningkat. Dan kalau pasokan banyak harga jual pun pastinya jadi turun,” kata, M Nasir (52) seorang nelayan.
Seperti kepiting kelapa jenis jumbo sebelumnya harga jualnya mencapai Rp120.000 per kg, turun menjadi Rp90.000/kg.

“Memang pada musim pasang laut seperti ini tangkapan nelayan bertambah, ini dikarenakan pada musim saat ini justru membuat perkembangbiakkan kepiting di sekitar 6 mil laut dari pinggiran pantai terus banyak jika dibandingkan hari-hari sebelumnya,” ungkapnya.

Lain lagi dengan penjualan udang lipan super, jenis udang kelas ekspor yang mencapai berat 4 ons ini dijual per ekor dengan harganya Rp20.000 dari harga sebelumnya Rp25.000 per ekor untuk jenis udang yang masih hidup. “Sedangkan kalau yang sudah mati biasanya harga jualnya rendah hanya Rp5.000 per ekor dari sebelumnya Rp10.000 per ekornya,” terangnya.

Sementara, harga jual komoditas hasil laut lainnya yang ikut mengalami penurunan harga yakni belangkas. Dalam per ekornya hewan laut penghasil telur mirip ikan pari ini di jual seharga Rp15.000 per ekor dari harga sebelumnya Rp20.000 per ekor. (mag-17)

Mandala Airlines Medan-Jakarta Rp400 ribu

MEDAN- Maskapai penerbangan Mandala Airlines kembali meluncurkan pesawat barunya dan melakukan penerbangan perdananya di Bandara Polonia Medan, Selasa (3/4) lalu. “Penerbangan perdananya hari Selasa (3/4) lalu di Bandara Polonia Medan,” kata Djamal, Staff Duty OIC Bandara Polonia Medan, Sabtu (7/4) sore.

Menurutnya, penerbangan pesawat baru milik Mandala Airlines ini dilakukan sebanyak dua kali penerbangan dalam sehari. “Namun yang baru terealisasi sebanyak 1 kali penerbangan dalam sehari,” bebernya.
Dijelaskannya, pesawat milik maskapai penerbangan Mandala Airlines itu ada dua pesawat dengan nomor penerbangan RI-092 dan RI-093.

“Pesawat dengan penerbangan nomor RI-092 dengan rute penerbangan tujuan Jakarta-Medan-Jakarta dan pesawat dengan nomor penerbangan RI-093 dengan rute penerbangan Medan-Jakarta-Medan. Kapasitas pesawatnya dengan 180 orang penumpang dan jenis pesawatnya Airbus A320 dan harga tiketnya Rp400-500 ribu,” jelasnya.

Hal senada juga diucapkan Kepala Bagian Umum Otoritas Bandara Polonia (Otban) Medan, Agung Rahino. Disebutkannya, pihak Mandala Air sudah melakukan koordinasi terkait penerbangan perdana mereka, Selasa (3/4) lalu.
Menurutnya, pihak Otban sudah melakukan pemeriksaan terhadap semua yang berhubungan dengan pesawat tersebut. “Kita juga sudah periksa pesawat, pilot dan crue pesawatnya, semua sudah layak terbang,” jelasnya.
Mengenai pemeriksaan, ujarnya, sudah dilakukan saat penerbangan perdana kemarin. “Penerbangan perdana dilakukan dan diikuti oleh pihak Bandara Polonia , Otban Polonia Medan dan Dinas Perhubungan,” akunya.

Amatan Sumut Pos , loket penjualan tiket Mandala Air sedang melayani pembelian tiket. “Tiketnya tujuan Medan-Jakarta-Medan dan Jakarta-Medan-Jakarta. Harga tiketnya Rp459.900 per orang. Penerbangannya dua kali dalam sehari ,” kata petugas tiket Mandala di Bandara Polonia Medan.(jon)

Banyak Jepang di Lapangan Merdeka

Ramadhan Batubara

Lapangan Fukereido begitu namanya saat masa Jepang. Lapangan Merdeka namanya kini. Setelah sekian puluh tahun berubah nama dengan menggunakan kata Merdeka, ternyata lapangan di tengah Kota Medan itu tetap saja tak bisa hilang dari kuasa Jepang. Dan, hal itu saya buktikan kemarin pagi. Saya memang tidak memilih sisi lapangan yang dekat kantor pos. Sisi itu belum hidup di kala hari masih pagi. Dia hidup saat malam; menawarkan beraneka makanan dan minuman. Malam adalah miliknya. Tapi, ketika matahari masih terang, sisi dekat Stasiun Kereta Api Medan adalah pilihan. Ya, barisan toko buku yang menawan.

Dan, dari pilihan itulah lantun ini bermula. Atas nama keinginan mencari buku yang berharga miring, saya parkirkan si Lena (masih ingat dengan sepeda motor saya bukan?) di depan sebuah kios yang masih tutup. Belum lagi saya turun, terdengar sekian tawaran dari penjual buku yang sudah beroperasi.

Cari apa, Bang? Kamus Besar Bahasa Indonesia? Novel? Buku pelajaran? Majalah? Buku resep makanan? saya hanya tersenyum mendengar bapak tua duduk di sebelah kios yang tutup tadi.
Buku kedokteran atau hukum, Bang? katanya lagi ketika saya sudah akan melewati kiosnya. Sumpah, saya merasa bosan ditanyai terus.

Ayolah, kenapa saya tidak dibiarkan menjelajahi Pasar Buku ini dengan leluasa. Ya, biarkan saya menjelajahi ribuan judul dan cover buku yang menggoda itu.
Akhirnya, saya berhenti di depan kiosnya. Bukan untuk mencari buku yang dicari, saya ingin mencari yang tak ada di sana. Maksudnya, biar dia diam. Gak ada komik ya, Pak? kata saya begitu melihat toko dia hanya berisi buku serius.
Eh, bukannya menggeleng, si bapak malah tersenyum. Tampaknya dia mengejek pilihan saya tadi. Dia sepele. Mungkin dalam hatinya berkata, Percuma bawa ransel sok wartawan, bacaannya komik.
Selesai senyum dan memunculkan roman mencurigakan, dia menunjuk arah ke dalam, ke sebuah gang. Itu saja.

Sudahlah, untuk apa diperpanjang. Saya ikuti saja arah tangannya. Maksudnya biar cepat terhindar dari dia. Sayangnya, arah tangannya itu bak petunjuk yang tidak bisa saya tolak. Setelah memasuki gang itu, saya malah terpaku di kios yang menawarkan beribu komik. Terpandang oleh saya, barisan komik itu sebagian besar adalah komik Jepang, mungkin sembilan puluh prosennya. Mungkin karena itulah saya terpaku, mata saya terus mencari komik made in Indonesia. Tak terlihat Gareng Petrok karya Indri Soedono atau Jaka Sembung-nya Djair Warni. Sempat terpikir juga mencari karya anak Medan seperti karya Zam Nuldyn, Taguan Hardjo, Bahzar, dan Djas. Tapi, tumpukan komik Jepang telah membuat mata saya capek. Bertanya pada penjual adalah langkah terbaik bukan?

Lucunya, bukan karya mereka yang saya tanyakan pada pedagang komik-komik tersebut. Saya malah menyebut Topeng Kaca. Ya, sebuah komik Jepang era sembilan puluhan. Setelah kalimat keluar dari mulut saya, si pedagang bergegas. Tak sampai tiga menit dia sudah membawah tujuh buku.Saya sumringah. Sumpah. Komik itu sejatinya sempat membantu saya untuk belajar teater. Malah, pengetahuan dari komik Topeng Kaca itu sempat saya terapkan saat melatih teater. Komik itu memang bercerita tentang seorang tokoh yang berniat dan berhasrat untuk menjadi pemain drama alias aktor. Jadi, ceritanya mengandung proses sebuah pementasan; baik dari pencarian karakter hingga berbagai unsur pementasan.
Nah, begitu tumpukan Topeng Kaca ada di depan saya, langsung saja dilahap. Sayang, edisinya tak lengkap. Tak ada edisi satu dan empat. Bang, edisinya kurang ya? tanya saya langsung.
Wah, kalau Topeng Kaca laris itu, Bang. Harus pesan on line. Banyak kali peminatnya. Harganya pun sampai 25 ribu per edisi, balas sang penjual.
Dua puluh lima ribu untuk buku lusuh? Kalau komik lain berapaan? penasaran saya. Rata-rata 5 ribu untuk satu edisi, Bang.

Wow. Menggiurkan. Saya tinggalkan Topeng Kaca. Meski ingin bernostalgia dengan komik itu, tapi edisinya tak lengkap. Ya sudah, saya cari komik lain, selagi harganya lima ribu.
Maka, setelah hampir satu jam mengobrak-abrik tumpukan komik, saya memilih Master Cooking Boy karya Etshusi Ogawa. Saya juga mengambil Diva karya Hiromu Ono. Dan, satu komik Korea karya Choi Kyung-ah yang berjudul Bibi, The Road to Fashion. Setelah dihitung, dari tiga komik itu, ada 18 edisi. Fiuh.

Lapan lima ribu aja, Bang terang si pedagang.  Saya tersenyum. Tidak apalah, selagi tanggal muda. Saya serahan selembar uang seratus ribu. Nah, di saat menunggu uang kembalian, tiba-tiba mata saya tertuju ke sebuah buku. Bukan komik, tapi tentang komik. Buku itu berjudul Yuk, Bikin Komik Sambil Ketawa. Saya ambil dan saya lihat penulisnya adalah Dwi Koendoro Br. Langsung saja terbayang Panji Koming dan Sawungkampret. Saya buka, ternyata Dwi Mas Deka Koendoro Br menuliskan proses kreatifnya sebagai komikus. Buku yang menarik. Kenapa saya tak pernah tahu?

Yang ini berapa, Bang? langsung saya tanya, suara saya bahkan agak berteriak.

Lima belas! teriak si pedagang. Sip. Seratus ribu tanpa kembalian. Setelah dimasuki plastik hitam, buku-buku itupun saya masuki ke ransel. Selesai.
Saya kembali ke parkir. Begitu Lena akan saya nyalakan, pedagang tua dekat parkiran itu malah menyapa, Dapat komiknya?
Kurang ajar. Saya arahkan saja jari saya ke ransel. Dia tersenyum. Saya tak peduli. Saya nyalakan Lena.  Begitu meninggalkan gerbang Pasar Buku itu, saya merasakan ada yang kurang. Bah, bukankah saya ke tempat ini karena istri minta dicarikan buku resep makanan Nusantara?

Waduh, mau kembali lagi terasa sangat malas. Hm, saya buka ransel dan saya lihat komik Jepang soal jagoan masakan tadi. Hm, boleh juga. Komik itu kan soal masak dan masakan, istri saya pasti tak marah.
Akhirnya saya tinggalkan Lapangan Fukureido itu. Meski sudah tidak jajahan Jepang lagi, tapi begitu banyak karya anak Jepang di sana. Bukankah itu juga namanya dijajah? Ah, entahlah.(*)

Menanti Kebijakan Pembatasan BBM Subsidi

Rencana pemerintah membatasi pemakaian subsidi BBM justru menimbulkan kontroversi di masyarakat. Kontroversi itu terutama menyangkut soal gagasan membatasi pemakaian BBM bersubsidi untuk seluruh moda tranportasi. Gagasan ini dinilai melanggar prinsip keadilan karena dibandingkan dengan pemilik mobil, pemilik sepeda motor masuk dalam kategori ekonomi menengah ke bawah. Bagi masyarakat kelas ini sepeda motor bukan sebagai barang konsumsi melainkan modal produksi.

‘’Ketergantungan masyarakat pada kendaraan bermotor pribadi, terutama sepeda motor, sebetulnya dipicu oleh buruknya angkutan umum, selain biayanya memang lebih hemat,’’ ungkap Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran), Darmaningtyas.

Kemudahan proses pengajuan kredit pemilikan sepeda motor yang dilakukan industri otomotif nasional yang didukung pemerintah daerah guna menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), juga ikut menyumbang tingginya jumlah pengguna sepeda motor dari tahun ke tahun.

‘’Sudah bukan rahasia lagi bahwa Unit Pelaksana Teknis (UPT) PKB juga merupakan “ladang favorit” bagi sejumlah aparat di beberapa daerah, karena dengan menjadi petugas di UPT PKB mereka pasti akan terkena cipratan rejeki kegiatan penambahan kendaraan bermotor yang didaftarkan warga,’’ katanya. Darmaningtyas memaparkan fakta-fakta ini dengan maksud agar pemerintah objektif melihat lonjakan tingkat konsumsi BBM subsidi dari tahun ke tahun.
Tentu saja booming kendaraan bermotor ini suatu saat justru menjadi boomerang. Dalam catatan  Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sumut jumlah kendaraan yang menjadi objek pajak ada sebanyak 1.942.180 unit hingga akhir Desember 2010. Kepala Dispenda Sumut Syafaruddin dalam hearing di Komisi C DPRD Sumut di Medan, Senin (14/11) lalu mengatakan, jumlah kendaraan itu terdiri dari mobil sedan (48.504 unit), dan jip (62.243 unit). Disusul, taksi (7.023 unit), bus (5.427 unit), minibus (219.349 unit), truk (143.673 unit), becak bermotor (16.646 unit), sepeda motor 1.438.808 unit), dan alat berat (507 unit). ‘’Sedangkan jumlah kendaraan hingga tahun 2011 belum terdata,’’ katanya.

Menyimak data Dispenda Sumut tersebut, hingga akhir 2010 saja sudah tercatat 486.219 unit kendaraan roda empat, 16.646 unit roda tiga, dan 1.438.808 unit sepeda motor yang beroperasi di Sumut. Angka ini dikalkulasi naik rata-rata 10-12 persen per tahunnya selama kurun waktu lima tahun belakangan. Asumsi kenaikan ini diperkuat oleh data Direktorat Lantas Polda Sumut yang mencatat jumlah kendaraan bermotor di Sumut mengalami kenaikan 11,28 persen atau 455.855 unit, yakni dari 4.039.127 pada Desember 2010 menjadi 4.494. 982 unit hingga November 2011. Dari jumlah itu sepeda motor adalah penyumbang angka terbesar. Dalam setahun jumlahnya naik 455.855 unit, yakni dari 4.039. 127 unit menjadi 4.494.982 unit.

Selain itu, mobil penumpang naik 18.941 unit, yakni dari 324.984 unit menjadi 353.925 unit. Kemudian kendaraan khusus naik 58 unit, yakni dari 952 unit menjadi 1.010 unit. Sementara mobil barang dan mobil bus, dilaporkan tetap, yakni masing-masing 204.983 unit dan 29.978 unit.

Akibat dari peningkatan jumlah penggunaan sepeda motor dan mobil pribadi, lonjakan konsumsi BBM pun tak terelakkan. Khusus untuk kendaraan roda empat, di mana semakin banyak masyarakat yang menggunakan mobil dengan kapasitas mesin di atas 2.000 cc yang boros BBM telah berkontribusi besar terhadap konsumsi BBM bersubsidi. Saat ini diperkirakan konsumsi BBM oleh sepeda motor tidak lebih dari 5,76 juta kiloliter per tahun, atau hanya 27%, dan selebihnya, dikonsumsi oleh kendaraan roda empat atau lebih. Sehingga sekali lagi, rencana pembatasan BBM bersubsidi bagi para pengendara sepeda motor adalah suatu paradoks.

Pemerintah akan tetap menerapkan pengendalian konsumsi BBM subsidi kendati tidak lagi tercantum dalam APBN-P 2012. Salah satunya mengurangi pasokan premium di SPBU perumahan elit.
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo menjelaskan, salah satu program pengendalian konsumsi BBM bersubsidi adalah menekan pasokan premium bagi SPBU-SPBU yang terletak di perumahan-perumahan elite.
“Kita akan kurangi pasokan premium dan menambah pertamax di SPBU-SPBU yang ada di perumahan elit,” ujarnya di Jakarta, awal Maret lalu.

Selain itu, lanjutnya, pejabat-pejabat pemerintah, BUMN dan BUMD juga dilarang keras untuk menggunakan premium. Namun untuk SPBU daerah-daerah yang masih belum menjual pertamax, masih diperbolehkan untuk mengkonsumsi premium.

Rencananya pemerintah melalui BPH Migas akan meningkatkan pengawasan distribusi BBM subsidi, agar tidak ada penyimpangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta BPH Migas untuk menggandeng pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan.

“Karena tangannya BPH migas tidak cukup untuk melakukan pengawasan. Walaupun itu tugasnya, karena aparatnya sedikit sekali. Jadi kerja sama dengan pemda. Pemda yang memiliki kuota itu harus juga menjaga,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, BPH Migas sudah komitmen segera memperketat distribusi BBM hingga tingkat kabupaten/kota. Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, BPH Migas akan memberlakukan pengaturan kuota BBM subsidi per kabupaten/kota.

“Pembagian kuota per kabupaten ini akan memprioritaskan konsumen di wilayah Indonesia bagian timur,” ujarnya saat rapat dengan Komisi VII DPR, Senin (12/3).
Selama ini, distribusi BBM subsidi memang cenderung memprioritaskan wilayah Indonesia bagian barat. Akibatnya, kasus kelangkaan BBM subsidi kerap terjadi di Indonesia bagian timur seperti NTT, Maluku, maupun Papua.
“Karena itu, nanti akan dipiroritaskan di wilayah timur dengan maksud untuk mendorong perekonomian di sana,” katanya.
Beberapa strategi lain yang akan diterapkan BPH Migas untuk meredam lonjakan konsumsi BBM adalah menetapkan alokasi BBM subsidi per sektor pengguna, misalnya rumah tangga, transportasi umum, nelayan, pertanian, perikanan, serta usaha mikro.

“Jadi, konsumen di luar kelompok itu, misalnya taksi kelas premium (mewah, Red), kapal kargo, angkutan darat untuk industri dan perkebunan, tidak diprioritaskan mendapat BBM subsidi,” sebutnya. Langkah pengetatan distribusi BBM memang harus dilakukan karena pemerintah tidak berencana menambah kuota BBM subsidi.
“Jadi, dalam RAPBNP 2012 ini kuotanya tetap 40,5 juta kiloliter,” ujarnya.

Hanya saja, PT Pertamina Sumatera bagian utara mengaku hingga kini belum menerima penetapan kuota bahan bakar minyak atau BBM untuk tahun 2012, sehingga penyaluran tetap mengacu pada angka di tahun 2011.
“Meski belum ada penetapan kuota BBM bersubsidi yang harus disalurkan Pertamina, manajemen tetap berupaya memperlancar pasokan dengan mengacu pada angka di tahun 2011,” kata Assistant Customer Relation Fuel Retail Marketing Region I Marketing and Trading Directorate PT. Pertamina (Persero), Sonny Mirath, di Medan, belum lama ini.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2006, Pertamina menyalurkan BBM Bersubsidi kepada rumah tangga, transportasi, usaha kecil, perikanan dan layanan umum.
Sonny mengungkapkan tahun lalu kuota premium dan solar untuk di wilayah Sumatera bagian utara (Sumbagut) yang meliputi wilayah Sumut, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat dan Aceh masing-masing sebanyak 3.575.868 kiloliter (kl) dan 2.490.015 kl. Jumlah kuota premium dan solar itu naik dari 2010 yang masih 3.307.778 kl dan 2.341.922 kl.

Dari kuota premium sebanyak 3.575.868 kl itu, realisasi sebanyak 3.664.168 kl atau lebih tiga persen, sedangkan solar dari 2.490.015 kl realisasi 2.568.490 kl atau naik tiga persen. “Mengacu naiknya penyaluran pada Januari hingga Maret, permintaan BBM pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi lagi dari 2011,” katanya.

Selama Januari-Maret, penyaluran premium dan solar naik 12 persen hingga 15 persen dari realisasi di bulan yang sama 2011. Pada Januari 2012, misalnya, penyaluran premium dan solar Sumut naik 13 persen dan 12 persen dibandingkan Januari 2011. Penyaluran premium misalnya menjadi 133.689 kl dari Januari 2011 yang masih 117,872 kl dan solar dari 75,035 kl pada 2011 menjadi 84,347 kl Januari 2012.
‘’Kenaikan permintaan BBM diakibatkan pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya kendaraan,’’ kata Sonny. (valdesz/jpnn)

Komplikasi Pembatasan BBM Bersubsidi

Perhatian publik di awal 2012 ini kembali tersedot pada wacana pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi mobil pribadi. Kali ini, rencana penghematan konsumsi BBM bersubsidi ini masuk dalam APBN 2012. Pemerintah sudah berani memastikan konsumsi BBM bersubsidi akan dibatasi mulai 1 April 2012. Wilayah Jawa-Bali akan menjadi proyek percontohan, diikuti Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Papua secara bertahap sepanjang 2012-2014.
Inti dari kebijakan itu adalah,  hanya angkutan umum, pelayanan umum dan sepeda motor (roda dua dan tiga), serta kapal/perahu nelayan yang berhak mendapatkan BBM bersubsidi. Di luar itu harus menggunakan BBM nonsubsidi atau menggunakan konversi bahan bakar gas (BBG). Tidak ada pilihan lainnya. Jelas, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini jika diimplementasikan akan membawa implikasi yang tidak kecil bagi para pemakai di lapangan.
Sekilas, apa yang direncanakan pemerintah  tampak mudah diimplementasikan, namun di lapangan, dipastikan banyak sekali kendala yang muncul. Kesiapan SBPU dalam rangka konversi ke BBG jelas jauh dari memadai, sementara alat converter masih harus diimpor. Apalagi kalau konsumen dipaksa untuk membeli converter sendiri yang harganya mencapai Rp12 juta-Rp15 juta, dipastikan akan banyak yang keberatan.  Sementara di saat yang sama, SPBU untuk BBG jumlahnya juga belum memadai dan belum merata keberadaannya di seluruh Jawa Bali.

Belum lagi bicara mengenai kesiapan infrastruktur pendukung Pertamina di seluruh wilayah Indonesia untuk SPBU pertamax atau BBM nonsubsidi.  Pertamina harus memperluas jaringan pemasaran/ distribusi agar pertamax atau BBM nonsubsidi tersedia hingga ke daerah terpencil. Kelihatannya untuk deadline 12 April 2012 belum terlalu siap, mengingat habit dan karakter manusia Indonesia yang cenderung kurang disiplin terhadap tenggat waktu pelaksanaan sebuah proyek.

Tak hanya itu, implementasi kebijakan ini di lapangan juga akan membawa komplikasi permasalahan yang tidak kecil. Sampai sejauh mana misalnya, ketegasan petugas SPBU di lapangan dalam memberikan layanan kepada pihak yang membeli dengan menggunakan jeriken dengan alasan untuk dijual kembali. Bisa saja mereka sebenarnya adalah calo/oknum yang mencarikan BBM subsidi untuk pihak tertentu. Jelasnya, akan muncul kompleksitas persoalan yang tidak kecil di lapangan. Lemahnya pengawasan dan ketiadaan sistem yang jelas, serta rendahnya integritas personal akan menjadikan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini rawan penyelewengan.
Kerumitan (kompleksitas) persoalan tidak hanya sebatas itu. Menurut hitung-hitungan Biro Pusat Statistik (BPS), pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akan memberi tambahan inflasi sebesar 0,3%. Hitung-hitungan ini berasal dari bobot penggunaan BBM terhadap rumah tangga sebesar 3%. Ini dikalikan dengan kenaikan sebesar 44% harga yang ditanggung pengguna baru BBM nonsubsidi. Selanjutnya dikalikan jumlah baru potensi pengguna BBM nonsubsisdi hingga 23%. Sekitar 14 juta pengguna mobil (pelat hitam) harus beralih menggunakan BBM nonsubsidi.

Menurut prediksi Bank Indonesia (BI), kebijakan pembatasan BBM subsidi ini akan mendongkrak inflasi. Kalau inflasi di 2012 diperkirakan mencapai 4,5% (sudah memperhitungkan aspek kenaikan tarif dasar listrik/TDL), maka kebijakan di atas akan menyumbang angka inflasi kurang lebih 0,7% hingga 0,8%. Dengan demikian, angka inflasi tahunan diprediksi akan mencapai 5,2%-5,3%. Tak aneh, di awal tahun ini, bank sentral Indonesia  tetap mempertahankan suku bunga induk (BI-Rate) di angka 6% karena tingginya angka inflasi.

Dengan kenaikan angka inflasi tersebut, jelas akan menyengsarakan rakyat banyak.  Dengan demikian, kebijakan pembatasan BBM subsidi ini bukan semata-mata untuk efisiensi anggaran pemerintah, melainkan lebih merupakan pelaksanaan agenda liberalisasi di seluruh sektor ekonomi. Di sektor energi, pemerintah tidak berhasil menjaga ketahanan energi. Akibatnya, ya rakyat yang dirugikan.
Dengan demikian, kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi, hanya akan menguras kantong rakyat kelas menengah ke bawah. Jadi, itu sama saja dengan pemangkasan daya beli masyarakat. (net/jpnn)

Negara Setengah Hati?

Sempat mengemuka tahun 2011 lalu, pembatasan subsidi BBM (jenis premium) muncul lagi. Pembatasan subsidi BBM rencananya dimulai April 2012 di Pulau Jawa, akan menyusul kemudian di pulau-pulau lainnya. Opsinya yang muncul adalah subsidi BBM dibatasi atau BBM dinaikkan?Dibatasinya subsidi BBM berarti BBM bersubsidi hanya diperuntukkan secara terbatas.

Rencananya hanya kendaraan jenis angkutan umum, mobil operasional UMKM dan kendaraan roda dua yang berhak menggunakannya. Selain kendaraan jenis tersebut, penggunaan BBM dialihkan dari premium ke pertamax. Dengan kata lain, mereka akan membayar biaya yang lebih mahal karena membeli BBM non subsidi. Beberapa pihak menganalisa, bahwa pembatasan subsidi BBM seperti ini akan melahirkan pasar gelap BBM bersubsidi.
Opsi kedua, harga BBM dinaikkan. Ini berarti harga BBM bersubsidi (premium) yang ada sekarang akan naik. Penggunanya relatif tidak terbatas seperti opsi pertama.

Dengan demikian setidaknya menurut hemat pemerintah, APBN tidak terbebani oleh subsidi. Baik opsi pertama maupun kedua, tujuan pemerintah adalah untuk mengurangi beban subsidi dari APBN. Sementara itu, baik opsi pertama dan kedua nantinya pengguna kendaraan bermotor akan mengeluarkan biaya lebih dari biaya BBM yang ada sekarang.

Lantas mengapa untuk meringankan beban APBN, Negara selalu melihat ke arah subsidi (BBM)? Padahal subsidi relatif masih ringan dibanding pos APBN lainnya. Dana subsidi BBM dalam APBN adalah sekitar Rp.123 triliun. Melalui pembatasan subsidi seperti yang dikatakan Rofiyanto (Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Kementerian Keuangan), apabila pemerintah bisa menekan konsumsi sesuai kuota volume BBM bersubsidi yang telah ditetapkan sebanyak 40 juta kiloliter maka anggaran yang dapat dihemat sebesar Rp 7,8 triliun hingga Rp 8 triliun.

Bandingkan saja dengan anggaran untuk membayar cicilan hutang luar negeri dengan bunganya sebesar Rp.230,3 triliun (2010) dan Rp.240,1 triliun (2011). Bila yang dikatakan oleh pemerintah, pembatasan subsidi BBM bisa menghemat Rp.40 triliun, mengapa tidak menghemat anggaran lain saja.

Misalnya anggaran untuk biaya pelesiran pejabat ke luar negeri, yang besarnya Rp.12,7 trilyun (2009), Rp.19,5 triliun (2010) dan Rp.24,5 triliun (2011). Atau proyek perawatan gedung tersebut mencapai 500 miliar rupiah; Renovasi Ruang Rapat Anggota Banggar DPR 20 miliar; Papan Selamat Datang DPR Rp 4,8 miliar rupiah; Renovasi Tempat Parkir Motor 3 miliar rupiah; Renovasi Toilet sebesar 2 miliar rupiah; Pembuatan Kalender 2012 dengan biaya 1,3 miliar rupiah; Pemberian Makan Rusa di DPR 598 juta rupiah. Juga biaya renovasi Istana Kepresidenan yang dari Rp 8.832.251.011 pada tahun 2011 meningkat drastis menjadi Rp80.482.165.012 di tahun 2012.

Negara semestinya mengayomi rakyat banyak. Kebutuhan pihak yang dilayani seharusnya lebih diprioritaskan. Lantas mengapa beban APBN bukan gaji dan tunjangan pejabat? Mengapa bukan bunga hutang luar negeri? Mengapa harus hak rakyat yang dikurangi? Bukankah keberadaan Negara untuk mengayomi dan melayani hajat hidup rakyatnya.

Banyak yang sudah mengingatkan, bahwa pembatasan subsidi BBM atau naiknya harga BBM bersusidi akan berdampak pada naiknya harga barang-barang kebutuhan lainnya. Harga barang naik, namun daya beli lemah. Di samping itu, angka kemiskinan dan pengangguran berpotensi bertambah seperti kenaikan harga BBM tahun 2005. Tindak kriminal juga mengintip di sela-sela tuntutan bertahan hidup. Belum lagi tingkat depresi sosial yang rentan.
Negeri kita memang kaya dengan sumber daya migas. Namun hampir 90% sumbernya dikuasai oleh asing. Sebuah keadaan yang tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan sekali.  Selama ini negara mengimpor minyak mentah dan yang siap pakai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tak salah jika disebut negara tersandera kepentingan asing (neoimperialism).

Kita tentu sudah mengalami beberapa kali kenaikan harga BBM. Selama pemerintahan yang ada tersandera oleh kepentingan asing, maka selama itu juga harga BBM akan selalu naik. Selama tersandera kepentingan asing, pemerintah juga akan perlahan-lahan memangkas subsidi-subsidi yang ada, hingga lenyap. Rakyat pun semakin babak belur! (*)

6 Provinsi Penyedot Kuota BBM Subsidi Terbesar

Provinsi Over Kuota
1. Banten 7,2 %
2. DKI Jakarta 6,5 %
3. Jawa Barat 5,2 %
4. Jawa Tengah 4,2 %
5. Jawa Timur 3,8 %
6. Sumatera Utara 3,3 %

Sumber: Pertamina

Faktor Pemicu Lonjakan Konsumsi BBM Subsidi

Kenapa penggunaan BBM bersubsidi ini selalu melewati kuota yang ditetapkan pemerintah di APBN? Berikut sejumlah fraktor pemicunya:

  • Bertambahnya sepeda motor yang mencapai 7 juta unit dan mobil sebesar 800.000 unit.
  • 1 unit sepeda motor rata-rata menghabiskan BBM 0,75 liter/hari (1 tahun = 1,9 juta kiloliter).
  • 1 unit mobil menghabiskan BBM 3 liter per hari (1 tahun= 900.000 kiloliter).
  • Membaiknya perekonomian membuat konsumsi energi khususnya BBM semakin besar.

Realisasi BBM bersubsidi tahun 2011 mencapai total 41,8 juta kiloliter
atau 103,2% dari kuota APBN-P 2011 sebesar 40,49 juta kiloliter.

Sumber: Survei Lemigas 2011, Kementerian ESDM

Roadmap Pembatasan Subsidi BBM

  • 2012
    Pembatasan BBM hanya diterapkan di wilayah Jawa-Bali. Pembatasan diberlakukan untuk BBM jenis premium.
  • Awal 2013
    Pemerintah berencana memperluas areal pembatasan BBM subsidi ke Sumatera. Pada tahap ini pembatasan tak hanya dilakukan terhadap BBM jenis premium, namun mulai diberlakukan pada solar. Pembatasan premium rencananya dilakukan sejak awal tahun dan solar baru digelar pada pertengahan tahun.
  • Medio 2013
    Pembatasan BBM bersubsidi mulai diterapkan pemerintah untuk wilayah Kalimantan. Namun, kebijakan ini rencananya mulai dilaksanakan pada pertengahan tahun dengan jenis BBM berupa premium dan solar.
  • Awal 2014
    Pembatasan BBM bersubsidi semakin meluas hingga ke wilayah Sulawesi yang diterapkan sejak awal tahun untuk jenis premium dan solar.
  • Medio 2014
    Implementasi pembatasan di wilayah Maluku dan Papua dimulai pada pertengahan 2014 untuk jenis premium dan solar.

Sumber: Keterangan pers ‘Arah Kebijakan Fiskal 2012’, Kemenkeu RI