Home Blog Page 13772

Ogoh-ogoh Hadir Membersihkan Bumi

Peringatan Nyepi di Medan

MEDAN-Tadi malam ada suasana berbeda di Medan. Beberapa lelaki mengarak Ogoh-ogoh keliling Lapangan Benteng. Patung raksasa dengan ekspresi menakutkan dan menyeramkan sebagai lambang ‘Buta Kala’ itu tampak hidup.

Aksi inipun diikuti oleh para wanita serta anak-anak lalu disusul tarian barongsai. Ya, aksi barongsai juga mewarnai perayaan hari raya Nyepi yang jatuh pada penanggal 1 Sasih Kedasa tahun Isakan 1934 tepatnya dimulai pada 22 Maret. Tarian barongsai pun dipercaya sebagai pengusir roh kejahatan yang ada dimuka bumi. Sekitar ratusan umat Hindu dari multietnis seakan larut dalam perayaan ini.

“Ogoh-ogoh adalah perayaan puncak menjelang hari raya Nyepi yang jatuh pada 23 Maret. Ogoh-ogoh diarak sebanyak 3 kali putaran lapangan. Tujuannya agar pengusiran roh halus lebih sempurna dan membersihkan bumi dari hal-hal yang tidak baik,” kata Jero Mangku I Wayan Sukantra selaku panitia.

Selain wujud raksasa, katanya, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada seperti naga, gajah, garuda bahkan patung para dewa. Prosesi ini sendiri, melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang mahadahsyat.

“Kekuatan itu meliputi buana agung (alam semesta) dan buana alit (diri manusia). Kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup khususnya manusia dan seluruh isi dunia bisa menuju kebahagiaan atau kehancuran. Namun semua itu tergantung pada niat luhur manusia,” ujarnya.
Menurut Jero Mangku, pawai Ogoh-ogoh juga bertujuan untuk menetralisir alam semesta beserta isinya yang selama ini sering diganggu dan dipengaruhi sifat-sifat negatif yang menimbulkan malapetaka agar kehidupan alam semesta menjadi tenang dan damai.

“Ada 7 tarian daerah turut mewarnai perayaan ini. Di antaranya tarian Bali ada 3 tarian yang dipertunjukkan selain itu tarian India, Tamil, Batak, danChina. Ada juga pertunjukan tarian Bali yang dibawakan anak-anak. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 18.00 WIB sampai 21.00 WIB. Jadi hanya berlangsung sekitar 4 jam saja,” urainya.

Sebelumnya, tambah Jero Mangku, pada siang harinya, dilakukan Tawur Kesanga yang bertujuan menjaga keseimbangan atau keharmonisan, serta penyucian kekuatan unsur alam semesta. “Tawur yang digunakan adalah tingkat ‘Panca Sata’ yaitu dengan mempersembahkan korban lima ekor ayam dengan bulu yang berbeda-beda dan berwarna-warni,” jelasnya.

Namun, perayaan Nyepi di Medan dengan di Bali tentu saja memiliki perbedaan. “Perayaan Nyepi di Bali, seluruh masyarakatnya diwajibkan untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Bahkan fasilitas listrik juga dilakukan pemadaman 1 x 24 jam, terkecuali di tempat-tempat tertentu, seperti rumah sakit. Kita tidak boleh keluar rumah, suasana yang sepi sangat terasa pada saat perayaan Nyepi,” tambahnya.

Perayaan hari raya Nyepi yang dilandasi nilai Nyepi Saka Warsa 1934 dan Tri Karya Parisuda denga tema ‘Kita Tingkatkan Kerukunan, Kedamaian, dan Kesejahteraan itu sendiri dibuka oleh Walikota Medan Rahudman Harahap dan ditandai dengan pemukulan gong di hadapan para umat Sedarma atau Hindu.

“Semoga kita, khususnya umat Hindu menjadi pribadi selaras dalam mnjalani kehidupan di tahun mendatang. Perayaan ini, merupakan bentuk penyucian jiwa dari segala kekotoran dan tentunya ditahun mendatang kita akan menjadi manusia yang kembali suci,” ungkapnya.

Bahkan, kegiatan perayaan Nyepi tersebut akan direncanakan menjadi agenda tahunan di Kota Medan. “Kegiatan ini memang baru pertama kali diadakan. Nantinya akan kita buat menjadi agenda tahunan. Medan adalah kota multikulturalisme, dalam perayaan ini, kita berharap menjadi momen yang tepat untuk intropeksi diri ke depannya,” bebernya. (mag-11/adl)

 

Kalau Untung, Kenapa Tidak …

Tentang 2.198 Rumah di Belawan yang Akan Digusur

BELAWAN-Ancaman gusur karena akan ada pembangunan pelabuhan baru di pesisir utara Medan ternyata tak membuat warga resahn

Malah, warga yang rumahnya akan digusur rela pindah. Asalkan, mereka mendapat ganti untung dan bukan ganti rugi.

“Kalau penggusurannya ganti untung, kami mau disuruh pindah dari tempat ini. Tapi kalau justru merugikan warga ya kami pasti tak mau,” kata, Sulaiman (47) warga Lorong Pahlawan, Belawan kepada Sumut Pos, Kamis (22/3).

Rencananya, dua investor asing asal Brunei Darussalam dan Hongkong akan menanamkam modalnya guna membangun pelabuhan  baru di kawasan tersebut (lihat grafis). “Maunya investor itu membangunkan rumah di lokasi lain, jadi rumah diganti rumah pula. Tapi kalau investor mau membangunkan rumah terus warga dikasih konfensasi uang lagi ya lebih bagus,” tambah Sulaiman.

Ungkapan serupa juga dikatakan, Zulkifli (35). Ia berharap proses ganti untung dalam bentuk pembangunan rumah. Kalau bisa, rumah yang diganti jangan terlalu jauh dari Belawan. “Karena sebahagian besar masyarakat di sini menggantungkan hidupnya di laut,” tuturnya.

Dari informasi yang didapat, lokasi rumah pengganti untuk masyarakat Jalan TM Pahlawan Belawan akan dibangun di kawasan Jalan Veteren Pasar X Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang dan di Batang Kilat Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan. Lokasi itu, menurut Zulkifli, terlalu jauh dari pinggiran pantai.  “Masyarakat disini hanya mengerti mencari nafkah di laut, jadi kalau pembangunan perumahannya terlalu jauh justru akan mempersulit mereka dalam mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya,” ungkapnya.

Lurah Belawan I Kecamatan Medan Belawan, M Hamidi Jamhur Lubis, menuturkan proses ganti untung terhadap masyarakatnya yang akan mengalami penggusuran terkait rencana pembangunan pelabuhan di areal seluas 28 hektar tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan.  “Soal ganti untung itu nanti akan dibahas dan masyarakat akan dipertemukan dengan pihak investornya langsung. Karena pertemuan sebelumnya ditunda karena pihak investor berhalangan untuk dating,” kata Jamhur, kemarin.

Dia menambahkan, dalam rencana awal permukiman warga sempat pernah diwacanakan akan di bangun di dua lokasi berbeda di wilayah Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang.”Kalau yang di Pasar X Desa Manunggal, Labuhan Deli memang jauh dari laut, sedangkan di Batang Kilat Sei Mati, Medan Labuhan terdapat perairan yang menjorok ke laut,” jelasnya.

Begitu pun meski keputusan soal pemindahan lokasi pemukiman warganya, Jamhur menyerahkan sepenuhnya kepada keinginan masyarakat itu sendiri. Sebab kedua lokasi tersebut baru hanya sebatas usulan sebagai lokasi pemukiman baru bagi warga. “Dua lokasi itu kan masih sebatas usulan, dan persoalan ini kita serahkan kepada mereka (warga, Red) langsung. Dan, ini dapat terlaksana apabila warga setuju. Soal apakah mereka minta ganti untung dalam bentuk dibangunkan rumah atau mereka minta dalam bentuk uang tunai itu merekalah yang menetukan. Apalagi belakang ini kabarnya laut sudah tidak bisa lagi diandalkan karena kondisi dan hasil tangkapan mereka juga berkurang,” ungkapnya.

Sebelumnya, informasi diperoleh Sumut Pos, rencana megaproyek pembangunan dermaga pelabuhan di lahan seluas 28 hektar oleh dua investor asal Brunai Darussalam dan Hongkong itu diperkirakan akan menelan biaya mencapai triliunan rupiah. Proges proyek itu memang masih dalam penjajakan. Kedua investor asing yang disebut-sebut telah melakukan lobi-lobi di tingkat pemerintah pusat. Jika izin keluar, maka sekitar 2.198 unit pemukiman warga yang terdapat di 25 lorong atau gang di Jalan TM Pahlawan Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan akan diratakan.

M Faisal SE, Plt Kepala Lingkungan 28 Lorong Papan Kelurahan Belawan I, Belawan mengakui tentang adanya pendataan rumah warga terkait rencana pembangunan kawasan dermaga pelabuhan di daerahnya.”Di sini terdapat sedikitnya 167 unit rumah dari 245 KK (Kepala Keluarga), tapi sampai sejauh mana rencana daerah ini akan dibangun dermaga pelabuhan saya tidak tahu pasti,” ujarnya.

Namun begitu sebut dia, dari pendataan awal yang dilakukan sebahagian besar dari mereka menyambut baik atas adanya rencana pembangunan pelabuhan dikawasan dimaksud. (mag-17)

Menggeser Jam Matahari (2)

Oleh: Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Berdasarkan usulan Fleming, waktu dibagi berdasarkan rotasi bumi 24 jam. Bumi bulat dihitung 360 derajat, dan lalu dibagi dalam 24 zona waktu. Kala itu disetujui, pembagian waktu bumi diawali tengah malam di bujur 0 derajat Greenwich (GMT). Setiap 15 derajat ke arah kanan atau kiri berarti selisih satu jam (+1 GMT atau -1 GMT). Begitu terus hingga berputar dan kembali ke GMT.

Begitulah, hingga ada 24 daerah waktu di dunia – berdasarkan perhitungan kecepatan rotasi bumi, lingkaran bola bumi, dan lama rotasi bumi. Meski berpatok ke GMT, sebenarnya waktu dunia tetap berdasarkan pergerakan semu matahari. Hanya saja kali ini ada standarisasinya.
***
Wilayah Indonesia, yang dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan terpisah, tak serta merta mengikuti pengaturan zona waktu GMT itu. Masing-masing daerah memiliki sistem penyebutan waktu. Suku-suku memiliki penanda waktu sendiri-sendiri. Seperti Batak kuno yang disebutkan di atas misalnya.
Pengaturan waktu mengikuti standar GMT baru ada pada 6 Januari 1908. Seperti ditulis oleh historia.com, Belanda mulai mengatur zona waktu di wilayah Indonesia sekarang, dimulai dari Jawa Tengah dan Batavia. Saat itu diatur, ada perbedaan waktu 12 menit untuk Jawa dan Madura. Pengaturan ini sesuai waktu Amsterdam. Di luar wilayah itu, Belanda sama sekali tak mengaturnya.

Berikutnya, pengaturan zona waktu berkembang untuk wilayah di luar Jawa seperti Sumatera Barat dan Timur serta Balikpapan. Untuk pertama kalinya, Hindia Belanda membagi enam zona waktu sejak 11 November 1932. Ada selisih waktu, tiap zona 30 menit.

Pengaturan ini berubah saat Jepang berkuasa di nusantara pada 1942. Saat itu, Jepang menyatukan standar waktu Indonesia mengikuti Tokyo yaitu GMT+9. Alasannya sederhana. Jepang ingin membuat efektif operasi militer mereka.

Namun setelah Jepang kalah di Perang Dunia Kedua, dan Belanda menduduki kembali sebagian daerah di Indonesia pada 1947, sistem waktu di Indonesia diringkas menjadi tiga zona. Tiap zona berselisih GMT +6, +7, dan +8, kecuali Papua yang berselisih GMT + 9.

Namun, pembagian ini tak berlangsung lama. Pada 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, dan Indonesia kembali ke pembagian enam zona waktu dengan selisih 30 menit tiap zona. Hanya Irian yang masih menggunakan peraturan Belanda tahun 1947 karena masih diduduki Belanda. Aturan itu bertahan selama 13 tahun.

Tahun 1963, Indonesia mengubah kembali zona waktu menjadi tiga zona waktu: barat, tengah, dan timur. Irian Jaya yang telah kembali ke wilayah Indonesia masuk zona timur bersama daerah tingkat I Maluku.

Begitulah keputusan pemerintah, dan rakyat Indonesia pun menyusun irama hidupnya setiap hari berdasarkan zona waktu itu.
Peraturan itu bertahan sampai 1987, ketika pemerintah membuat kebijakan memutuskan Bali masuk ke zona tengah karena pertimbangan pariwisata, sedangkan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik ke zona barat dari zona tengah. Indonesia tetap dengan zona tiga waktu sampai hari ini. (bersambung)

Medan Plaza, Tempat Ibadah Sekaligus Belanja

Pusat Perbelanjaan Era 1980-an di Medan, Apa Kabar? (5/Habis)

Medan Plaza tampil berbeda dengan pusat perbelanjaan lain. Plaza yang sudah 25 tahun beroperasi ini ternyata masih eksis meski pengunjungnya mulai berkurang. Usut punya usut, keberadaan gereja di lantai 6 adalah faktor penting dalam perkembangan plaza ini.

Farida Noris – Juli Ramadhani Rambe,  Medan

Memilih tempat di Jalan Iskandar Muda, Medan Plaza dulunya memiliki tingkat pengunjung yang cukup tinggi. Pusat perbelanjaan yang berdiri sejak 1987 ini memang sempat mencapai masa kejayaannya. Namun, seiring bermunculannya pusat perbelanjaan yang lebih lengkap, maka Medan Plaza seolah tertinggalkan.

Mulyono selaku Supervisor Gedung Medan Plaza mengaku daya beli masyarakat di gedung 6 lantai itu semakin menurun setiap harinya. Bahkan, masyarakat yang datang mayoritas hanya kalangan menengah kebawah saja.

“Pengunjung juga semakin minim. Hanya hari-hari tertentu saja yang agak normal. Apalagi, daya beli masyarakat di sini juga jauh dari harapan. Bukan saya saja yang bilang begitu, semua karyawan di sini juga merasakannya,” ujar Mulyono yang sudah 12 tahun bekerja di Medan Plaza tersebut.

Menurutnya, akibat minimnya jumlah pengunjung, beberapa toko juga terlihat sepi. “Lihat saja, sudah siang begini, jumlah pengunjung masih dapat dihitung. Persaingan bisnis pasti ada, apalagi mal-mal besar sudah banyak bermunculan dan banyak kelebihan dan menawarkan paket-paket belanja yang menarik,” terangnya.

Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, parkiran Medan Plaza yang tidak ter-cover rapi juga membuat pusat perbelanjaan ini terkesan semerawut. Bagian depan parkirannya hanya diisi beberapa mobil dan taksi. Sedangkan, parkiran sepeda motor berada di bagian belakang gedungnya.
Untuk lantai 1, beberapa toko pakaian terlihat memenuhi pusat perbelanjaan ini. Aktivitas pembeli tidak begitu ramai. Para karyawan terlihat santai menunggu datangnya pembeli. Begitu juga saat berada dilantai 2, suasananya tidak berbeda jauh. Disini mayoritas diisi beberapa toko sepatu yang merupakan pasar murah serta ada juga beberapa toko baju.

Saat berada di lantai 3, pusat perbelanjaan ini juga memiliki pasar swalayan dan beberapa toko elektronik. Di lantai 4, diisi dengan bioskop, toko buku, dan cafe. Sayangnya, pembeli yang berkunjung juga terlihat sangat minim dan bisa dihitung. Begitu juga saat naik ke lantai 5. Memang ada tempat permainan atau timezone, karaoke dan billiard, namun sangat sepi dari pengunjung.

Pemandangan berbeda terlihat di lantai 6, di sini berdiri Gereja Bethel Indonesia (GBI). “Kalau hari biasa, gereja ini memang sunyi. Paling ramainya saat hari Jumat dan Minggu. Karena saat itu umat Kriten ada aktivitas di sini dan beribadah. Gereja ini sudah lama dibangun, sejak berdirinya plaza ini juga,” kata Jaya selaku operator bioskop.

Sambung, Jaya yang sudah 5 tahun bekerja di Medan Plaza ini, dengan keberadaan gereja tersebut, maka secara tidak langsung menarik pembeli. “Jadi dengan adanya gereja ini, para jamaatnya juga sekaligus belanja setelah mereka selesai beribadah. Memang semakin lama, jumlah pembeli di sini jauh berkurang jika dibandingkan sebelum banyaknya pusat perbelanjaan lain di Medan. Paling yang membuat plaza ini masih hidup dengan keberadaan pasar murahnya yang dimanfaatkan kalangan ke bawah untuk belanja,” jelasnya.

Istana Plaza yang Berkorban Demi Polonia

Pada tahun 1991, di Jalan Juanda ada plaza yang mampu mencuri fokus warga Medan. Namanya, Istana Plaza. Pada masa jayanya, plaza ini lebih identik dengan plaza life style.

Semua kebutuhan untuk pergaulan seperti kafe, karaoke, bioskop, dan lainnya tersedia. Sayang, do saat masa indah itu, ada masalah yang membuat Istana Plaza terduduk. Niat awal mendirikan 6 lantai, tetapi karena dekat dengan Bandara Internasional Polonia, akhirnya bangunan pun diruntuhkan 1 lantai. “Diruntuhkan karena menggangu pemandangan penerbangan, karena itu diruntuhkan 1 lantai,” ungkap Paulus Tamie, Ketua Asosiasi Pusat Pembelanjaan Indonesia (APPBI) Sumut.

Itulah sebab, walau terletak di tengah kota, Istana Plaza tidak terlalu lama menggugah perasaan warga Medan. “Masa operasionalnya tidak lama, hanya sekitar 10 tahun kalau saya tidak salah, setelah itu diganti dengan sekolah, dan sekarang Ace Hardware,” tambah Paulus.
Hal berbeda terjadi pada 2 plaza yang dibangun pada tahun 1980-an, Thamrin Plaza yang terletak di Jalan Thamrin Medan dan Buana Plaza yang terletak di Jalan Aksara Medan.

Thamrin Plaza yang berdiri pada 1989 ini tetap pada konsepnya dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Sehingga semua produk yang dijual disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung plaza. “Semua produk yang dijual harus sesuai tempat atau lantai, dan yang dijual juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kalau menolak kita juga tolak,” ujar Paulus, pengelola Thamrin Plaza.

Memasuki tahun pertengahan tahun 2000-an, pamor Thamrin Plaza mulai pudar, tetapi berdirinya Pasar Rame yang tepat di sebelah Thamrin Plaza, mampu “menyelamati” plaza yang memiliki 7 lantai ini. “Kita bersinergi dengan Pasar Rame, selain itu karena ini merupakan pasar dari suku tertentu jadi tetap rame. Tetapi kita juga memperbaiki manajemen,” tambah Paulus.

Salah satu perbaikan manajemen dilakukan pada renovasi bangunan, dan isi bangunan. “Ya seperti produk yang dijual harus sesuai, kita perbanyak tempat makan, seperti foodcourt. Sementara yang dihilangkan seperti kolam renang, warnet dan wartel, dan renovasi bangunan,” tambah Paulus.
Pangsa pasar juga sangat berperan penting dalam hidup matinya sebuah plaza. Seperti Aksara Plaza yang berdiri pada tahun 1990, Plaza ini mem\ngambil pangsa pasar menengah ke bawah, dan terbukti hingga saat ini masih berdiri dengan 7 lantai. Walaupun telah mengalami pergantian nama, dari Aksara Plaza menjadi Buana Plaza pada 2001. Tetapi plaza ini sangat dekat di hati masyarakat di sekitar daerah Tembung. (*)

Acha Septriasa Masih Betah Menjomblo

Setelah hubungan asmaranya dengan Irwansyah kandas, Acha Septriasa belum terlihat lagi menggandeng lelaki. Bintang film Love Story ini rupanya masih betah menjomblo. Apakah trauma berpacaran?

“Nggak trauma, cuma masih betah sendiri saja. Masih nyaman seperti ini. Pokoknya, sekarang lagi nggak ada yang dekat banget,” ujar Acha di Jakarta, Selasa malam (20/3).

Meski mengaku nyaman menjomblo, perempuan kelahiran Jakarta, 1 September 1989 ini tetap membuka hati bagi pria yang ingin mendekatinya. Tak ingin kegagalannya menjalin cinta terulang, ia pun mengaku sangat hati-hati saat memilih kekasih.

Seperti apa sih kriteria calon kekasih Acha? “Siapa saja sih asal anaknya baik. Kalau sama artis kan sudah kemarin. Pengennya sih yang nggak dari kalangan entertainment, biar bisa tukar pikiran,” cetusnya.

Namun Acha mengaku, pacaran itu urusan kesekian. Saat ini, ia hanya ingin fokus menuntut ilmu dan berkarier agar kelak saat nikah ia tak merepotkan siapapun, terutama orangtua.

Acha kini sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia hiburan dan fokus menjadi pekerja kantoran. Untuk merealisasikan mimpinya itu, Acha sudah mulai mengirim surat lamaran kepada beberapa perusahaan.

“Mungkin seriusnya aku akan kerja kantoran PR (public relation) di sebuah company. Aku sudah kirim CV juga dan tinggal tunggu interview. Ya, cita-cita itu (kerja kantoran) tetap ada,” pungkasnya. (rm/jpnn)

Uji Ketangguhan Freed Lewat Family Gathering

MEDAN- Sebanyak 70-an mobil Honda Freed dilepas dari Lapangan Merdeka Medan Jalan Pulau Pinang menuju Grand Hill Resort Sibolangit, Minggu (18/3).

Selain untuk mempererat hubungan silaturahmi antara konsumen dengan pihak showroom, acara yang bertajuk family gathering itu juga bertujuan untuk mengetes ketangguhan mobil dengan mesin 1500 cc tersebut.

Mobil yang dikendarai para peserta terdiri dari berbagai keluaran mulai dari rakitan 2009 hingga 2012. Mereka langsung dilepas oleh Ibnu Suhendra Sales Manager PT Istana Deli Kencana (IDK)- 2. Hadir juga dalam acara itu Direktur Utama IDK- 2 Aswin Wirjadi SH, perwakilan dari IDK-1 dan PT Aristra Medan.

Para peserta terlihat semangat dalam mengikuti acara itu. Hal ini terlihat dari iring-iringan para peserta dan semangat mendaki gunung hingga menuju Sibolangit. Selain itu para peserta yang mayoritas membawa anggota keluarganya ini saling bercanda selama berada di dalam perjalanan.
“Betul-betul Honda Freed mobil keluarga. Kabinnya lapang dan mewah. Pokoknya nyaman di dalamnya,” ungkap Jhon Simbolon salah seorang peserta yang menunggangi Freed keluaran 2012.

Dia menjelaskan selama di perjalanan dia dan keluarga mengaku nyaman di dalam kendaraan. Kesan goyang jika berada di atas kecepatan 100 tidak terlihat. Jhon mengaku meski baru sekali ini mengikuti family gathering ini namun dia dan keluarga merasa puas.
“Kapan lagi Honda buat acara seperti ini kita ikut,” tutur Jhon yang membawa istri dan dua orang putrinya itu. Kesan yang sama juga disampaikan oleh peserta yang lain.

Sementara itu begitu sampai di Grand Hill Resort Sibolangit, para peserta disuguhkan dengan makan siang bersama sambil menikmati pemandangan Grand Hill Resort. Ada juga sebagai dari para peserta bermain di lokasi acara. Usai makan siang acara dilanjutkan dengan lucky draw yang memperebutkan hadiah hiburan berupa televisi, payung, dan souvenir lainnya persembahan Honda.

“Wah lewat acara ini kita sudah bisa rekreasi dengan keluarga, pulangnya dapat hadiah lagi,” celoteh salah seorang peserta.
Di tempat terpisah Ibnu Suhendra Sales Manager PT IDK – 2 dan Jenny Sales Manager PT IDK-1 mengatakan family gathering ini seperti tiap tahun kita gelar. Selain acara ini, mereka juga pernah menggelar penanaman pohon. “Kami selalu aktif menggelar acara, dan bahkan ke depan lewat acara ini kita juga akan membentuk komunitas pencinta Honda Freed. Selama ini klub yang sudah terbentuk ada Honda Jazz,” pungkas Jenny. (dra)

Tiga Pelaku Bom KBRI Ditangkap

PARIS- Tiga pelaku pengeboman Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, diringkus kepolisian Prancis. Namun belum diketahui seperti apa proses penangkapan ketiga pelaku peledakan bom tersebut.

“Ketiga tersangka pengeboman di depan kantor KBRI itu tengah menjalani pemeriksaan oleh satuan anti-terorisme dari Brigade Kriminal Paris,” demikian dilaporkan radio Prancis Europe 1 seperti dikutip Punch Kamis, (22/3).

Sementara menurut Badan Intelijen Negara (BIN), pelaku pengeboman di KBRI Paris tersebut merupakan teroris. “Itu teroris di Perancis sana,” ujar Kepala BIN Letjen TNI Marciano Norman di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, kemarin.

Saat ini, lanjut Marciano, pihak intelijen dan Kepolisian Prancis sedang mengembangkan kasus peledakan tersebut. “Sehingga kita harapkan ke depan, kita bisa mendapatkan informasi yang lebih rinci,” tuturnya.

Saat ini, kantor KBRI mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian Perancis. “Aparat kepolisian di Perancis memberikan pengamanan,” katanya. Marciano berharap untuk peledakan kali ini pelaku bisa ditangkap. Pasalnya waktu pengeboman di tahun 2004 pelaku tidak terungkap.
“2004 kan juga terjadi ledakan di dekat KBRI dan itu sampai sekarang tidak terungkap siapa pelakunya,” katanya.

Marciano juga mengungkapkan kronologis meledaknya bom di KBRI Paris tersebut. “Pertama, bom itu diletakkan di tempat sampah di KBRI. Sepuluh menit kemudian, ada orang yang datang dan mengambil bom itu dan dipindahkan ke seberang KBRI. Baru, sesaat kemudian terjadi ledakan,” ujar Marciano.(c10/ttg/jpnn)

Kejagung Geledah Kantor Dispenda Batubara

Terkait Kasus Raibnya Uang Kas Senilai Rp80 Miliar

LIMAPULUH- Tim penyidik Kejaksaan Agung melakukan penggeledahan di kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (Dispenda) Batubara, Kamis (22/3). Pantauan Metro Asahan (grup Sumut Pos), Kantor Dispenda yang terletak di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Air Putih, Batubara, didatangi tujuh penyidik Kejagung dipimpin Alex Rahman dan didampingi Kasi Intel Kejari Kisaran Rudi Parhusip SH. Penyidik Kejagung menyita sejumlah berkas terkait aliran dana Rp80 miliar.

Kepada wartawan, Alex Rahman mengatakan, kedatangan mereka untuk mengambil dokumen aliran dana Rp80 miliar seperti yang dibeberkan Abdul Rahman saat pemeriksaan di Kejagung.

Menurut Alex, setelah melakukan penggeledahan dan pemeriksaan terhadap berkas yang sudah disita, administrasi keuangan di Dispenda sangat buruk. Di mana, banyak dokumen yang diminta penyidik tidak dapat diperlihatkan. Bahkan, dia menduga ada oknum tertentu telah menghilangkan beberapa dokumen sehingga penyidik tidak mendapatkannya.

Alex mengungkapkan, pihaknya sudah memeroleh keterangan dari Abdul Rahman dan Ibrahim yang ditangkap beberapa waktu lalu. Dari keduanya, sudah diketahui ke  mana saja aliran dana Rp80 miliar bahkan sudah mengarah kepada oknum-oknum yang terlibat. “Dalam waktu dekat akan ada pengembangan, dan dimungkinkan akan ditetapkan tersaka baru,” tegas Alex.

Diungkapkan Alex, penyitaan berkas dari Dispenda saat ini adalah berkas-berkas terkait rekening penampung aliran dana yakni CV Jumbo. Di mana diketahui di rekening CV Jumbo didapati uang Rp5,6 miliar.

Dijelaskan Alex, selama ini orang yang menyuruh Abdul Rahman dan Ibrahim melarikan diri adalah Yos Rauke dan
Fadil Kurniawan. Dalam pelariannya, Abdul Rahman dan Ibrahim mendapat pasokan dana dari Yos Rauke dan Fadil. “Meskipun Yos Rake dan Fadil dipenjara, ada kaki tanggannya yang terus mengirim dana kepada Abdul Rahman dan Ibrahim,” katanya.

Disebutkan Alex, kronologis dan konstruksi kasus raibnya  Rp80 miliar sudah jelas kesalahannya bukan berada pada Bank Mega melainkan kesalahan, karena Pejabat Batubara telah divonis bersalah atas kasus korupsi dan pencucian uang itu. Sebab, penempatan uang yang dilakukan para pelaku sudah salah karena tidak menempatkan uang pemerintah di bank negara.

Ditambahkan Alex, pihaknya juga sudah melakukan pemanggilan terhadap anggota DPRD Batubara Buyung untuk dimintai keterangan terkait kasus itu, namun untuk Bupati Batubara OK Arya Zulkarnain masih menunggu hasil pengembangan.

Rudi Parhusip ketika ditanyai terkait kasus itu mengatakan, dirinya hanya mendampingi tim penyidik yang datang menyita beberapa dokumen dari Dispenda Batubara.

Agus Ba’aka anggota tim penyidik yang ikut menggeledah kantor Dispenda menegaskan, pihaknya memiliki komitmen mengungkap kasus raibnya kas Batubara itu.(ck-1/smg)

Rossa Bersyukur Album Bundling Laris

Belakangan banyak penyanyi dan musisi papan atas tanah air yang memercayakan penjualan CD album mereka ke KFC. Dua pihak itu melakukan bundling dengan menjual CD bersama dengan paket makanan yang mereka tawarkan.

Rupanya, cara seperti itu diminati di tengah menurunnya penjualan fisik album. Dengan bundling, terjadi lagi penjualan album fisik yang mencapai jutaan kopi dalam hitungan bulan.

Para musisi dan penyanyi pun melihat itu sebagai sebuah harapan. Pada  (21/3) di KFC Kemang, Jakarta Selatan, beberapa wakil hits maker dan petinggi label musik datang dan duduk semeja untuk mendiskusikan fenomena tersebut. Ada Rossa, Ahmad Dhani, Melly Goeslaw, dan Anto Hoed yang merupakan wakil artis. Dhani dan Rossa sendiri sudah lebih dulu melakukan bundling dengan restoran fast food itu. Kemudian, Melly dalam proses bergabung.

Album The Best of Rossa sudah terjual satu juta keping dalam kurun waktu 3,5 bulan. Melihat fakta itu, ibu satu anak tersebut merasa bersyukur. “Saya bersyukur sekali ya. Awalnya, memang banyak yang meragukan. Tapi, setelah ngobrol dengan manajemen, saya bilang, pokoknya saya mau album saya dijual bundling. Sebab, saya tahu restoran ini menjangkau semua lapisan masyarakat. Outlet-nya juga banyak di seluruh Indonesia,” katanya.
Rossa kini masuk dalam program Million Club yang dibuat KFC. Itu semacam program yang dibuat untuk menggairahkan industri musik. Artis-artis yang tergabung dalam komunitas tersebut adalah artis hasil seleksi ketat dengan parameter tertentu. Di antaranya, top rating di program TV dan radio. Dhani sebagai artis sekaligus produser melihat ini sebagai sebuah lapangan baru di industri musik.

“Lapangan baru itu, kalau misalnya main bola, kan masih asyik, ya. masih hijau. Meski tempatnya terbatas, ini merupakan langkah bagus. Apa yang dilakukan sudah bisa menyelamatkan industri CD di Indonesia. Saya bilang industri CD ya, bukan musik. Sebab, kalau musik kan, nggak cuma jualan CD. Jadi, mulai sekarang, stop menjelek-jelekkan jual CD lewat restoran yang jual ayam,” terang dia.

Melly Goeslaw yang juga akan merilis albumnya di jalur yang sama bisa disebut sebagai musisi yang pernah mengalami kejayaan penjualan kaset dan CD saat penjualan secara konvensional masih berjalan lancar.

“Di era 90-an, saya pernah punya album yang satu hari habis terjual 20 ribu kopi. Sampai-sampai, kalau datang ke toko kaset dan CD, mereka memasang tulisan, CD Melly habis. Tapi, sekarang udah berbeda banget kondisinya. Mungkin, udah ada beberapa orang yang di PHK gara-gara ini. Karena penjualan CD menurun drastis, tenaga kerja yang biasanya melipat cover CD udah nggak dipakai lagi,” curhatnya.

Lebih dari itu, lanjut Melly, yang sangat merugi adalah komposer. Sebab, mereka tidak punya lahan lagi untuk bekerja. “Komposer itu dapat uangnya dari membuat lagu. Kalau penyanyi sih, masih bisa dapat penghasilan dari manggung. Komposer kan nggak ada manggung. Nah, kalau jualan album aja susah, kan jadi pikir-pikir kalau mau buat lagu,” urainya. (jan/c14/ayi/jpnn)

April, Tunjangan Profesi Guru Cair

JAKARTA- Para guru penerima tunjangan profesi pendidik (TPP) tidak perlu lama-lama menunggu rapelan pencairan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta TPP dicairkan tepat waktu. Yaitu dirapel tiga bulan sekali. Untuk tahap pertama, dijadwalkan cair bulan depan.
Mendikbud Mohammad Nuh menjelaskan, tahun ini tidak perlu lagi ada kasus keterlambatan pencairan TPP. Selain itu, dia berharap skenario pencairan TPP yang dirapel tiga bulan sekali tidak kacau seperti tahun lalu. Dia menjelaskan, tahun ini diharapkan seluruh guru penerima TPP tidak lama-lama menunggu pencairan rapelan.

Dia menjelaskan, pada tahap pertama TPP diterima April depan. TPP yang dikucurkan bulan depan itu merupakan rapelan sejak Januari, Februari dan Maret. Sedangkan untuk tahap kedua nanati, TPP dijadwalkan cair pada Juli. Lalu untuk tahap ketiga TPP cair pada Oktober. Kemudian gelombang terakhir pencairan TPP peride 2012 dijadwalkan Desember. “Harus dipaskakan untuk bisa dicairkan sesuai aturan. Yaitu dirapel tiga bulan sekali,” tegas mantan Rektor ITS itu.

Dia mengatakan, tahun lalu masih ada keluhan jika TPP dicairkan setahun sekali. Sekitar penghujung Ramadhan menjelang Idul Fitri. Muncul dugaan, uang yang sejatinya sudah disetor oleh pemerintah pusat ini ditimbun dulu oleh pemerintah kabupaten atau kota untuk dikeruk bunga simpanannya.
Nuh mengatakan, mulai tahun ini pihaknya akan memantau lebih dalam terkait pencairan TPP ini. Dia sudah berkoordinasi dengan Inspektorat Jendral (Itjen) Kemendikbud untuk menelusuri jika ada pencairan TPP yang nyangkut. Kerja dari Itjen Kemendikbud ini akan melihat perkembangan pada April nanti. Jika ternyata sudah tersalurkan ke guru, maka proses pencairan TPP sudah berjalan baik. Sebaliknya, jika masih ada guru yang belum menerima TPP berarti ada persoalan di daerah.

Sementara terkait persoalan klasik yaitu jumlah nominal TPP tidak sama dengan gaji pokok Nuh mengatakan terkendalam persoalan pendataan. Dia mengatakan, TPP untuk pencairan 2012 ini sudah disusun pada atau direncanakan pada 2011 lalu.

Sehingga, data yang digunakan adalah gaji guru PNS pada 2011. Tapi, pada kenyataannya selama 2012 telah terjadi kenaikan pangkat pada sejumlah PNS. Nah, di sinilah letak persoalan ini. Dia masih terus berkoordinasi mencai formulasi untuk mengantisipasi ketidak cocokan antara nominal TPP dengan gaji pokok PNS.(wan/jpnn)