31 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 13784

Empat Gol Safee Kandaskan Persegres

PERSEGRES – Striker asal Malaysia Safee Sali tampil ciamik ketika Pelita Jaya Karawang dijamu Persegres Per segres. Penyerang asal Malaysia itu membukukan empat gol dan membantu timnya menang telak 6-1.

Dalam lanjutan Indonesian Super League (ISL) di Stadion Tri Dharma, Persegres, Pelita membuka skor pada menit ke-12. Tembakan keras Greg Nwokolo dari luar kotak penalti merobek gawang Persegres yang dikawal oleh Hery Prasetya.

Berselang tiga menit, tim tamu mencetak gol kedua. Safee yang lolos dari jebakan offside dengan dingin memperdaya Hery lewat sontekannya.
Persegres mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-42 setelah Vic tor Igbonefo melanggar Gaston Castano di area terlarang. Gaston maju sebagai algojo dan tak kesulitan menaklukkan kiper Sahar Ginanjar. Kedudukan 2-1 untuk Pelita bertahan hingga babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, tim tamu makin mengganas. Mereka memperbesar keunggulan menjadi 3-1 pada menit ke-56 lewat gol kedua Greg. Usai menerima umpan Joko Sasongko, Greg mengecoh Muhammad Kusen dan melepaskan tendangan mematikan.

Lima menit kemudian, gawang Persegres kembali bergetar. Kali ini, sepakan kaki kiri Safee ke arah tiang dekat memaksa Hery memungut bola dari gawangnya lagi.

Safee melengkapi hat-trick-nya pada menit ke-75. Dalam posisi tidak terkawal, dia melepaskan tembakan melengkung sedikit di luar kotak penalti. Meski Hery mencoba terbang menghalau bola, gawangnya tetap jebol.

Pesta gol tim tamu akhirnya ditutup oleh Safee pada masa injury time. Diawali pergerakan Greg di sisi kiri, bola kemudian diumpankan ke mulut gawang. Safee yang tak terkawal tanpa kesulitan mengirim bola ke dalam gawang.
Kemenangan ini mengangkat posisi Pelita ke urutan kedelapan klasemen sementara dengan 24 poin dari 17 laga. Perse gres di posisi ke-13 de ngan 20 poin. (net)

Gus Irawan, Antara Golkar dan Demokrat

JAKARTA-Politik itu penuh dengan isyarat. Kehadiran Ketua Tim Pengawas Partai Demokrat, TB Silalahi di acara pemberian bulang-bulang pada Dirut Bank Sumut Gus Irawan Pasaribu dari Pomparan Guru Tatea Bulan Boru, Bere/Ibebere Kabupaten Toba Samosir, beberapa hari lalu punya makna politik, yang berkaitan dengan pemilihan gubernur (pilgub) Sumut 2013.

Pengamat politik lokal Ray Rangkuti menilai, kehadiran TB Silalahi yang juga merupakan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat, bisa dimaknai bahwa Partai Demokrat sedang mengincar Gus Irawan untuk diusung sebagai bakal calon (balon) gubernur Sumut. Dengan prinsip siapa cepat maka dia dapat, Demokrat tak mau keduluan Golkar untuk menggaet Gus Irawan.

“Saya melihat ada dua target Demokrat sekaligus, yakni merebut Gus Irawan dari Golkar untuk dijadikan cagub. Atau minimal, kalau Gus Irawan tak mau lepas dari Golkar, Demokrat akan berkoalisi dengan Golkar,” ujar Ray Rangkuti kepada Sumut Pos di Jakarta, Jumat (23/3).

Seperti diberitakan, di acara adat itu, TB Silalahi sempat mengeluarkan guyonan politik. “Saya bilang Gubernur Bank Sumut ya. Kalau kemudian nanti kata bank nya hilang, itu kita tidak tahu,” katanya sambil bercanda, saat itu.

Tapi, mungkinkah Golkar mau diajak koalisi dengan Demokrat bersama-sama mengusung Gus Irawan? Ray mengatakan, semua tergantung proses nego, tergantung bagaimana ‘pembagiannya’. Ini menyangkut siapa yang akan mendampingi Gus Irawan menjadi cawagubnya.

Menurutnya, Golkar juga punya bargaining dalam penjajakan koalisi dengan Demokrat. Yakni, saat ini Golkar sedang melambung, sedang Demokrat tren dukungan publik terus menurun. “Termasuk PKS juga turun. Golkar malah naik. Demokrat akan diuntungkan jika berkoalisi dengan Golkar,” imbuh mantan pimpinan KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilihan) itu.

Hingga saat ini, baik Golkar maupun Demokrat, sama-sama masih belum menetapkan siapa calon yang akan diusung. Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bathoegana, beberapa hari lalu menyebutkan, partainya tidak akan tergesa-gesa menetapkan calon. Namun, dia sudah mengajukan satu lagi kriteria nama yang akan diusung. “Dia harus figur yang BBM. Apa itu? Bersih, Berani, Merakyat. Mudah-mudahan muncul barang itu,” kata Sutan kala itu, sembari tertawa.

Golkar secara resmi juga belum pernah menyebut nama yang akan diincar. “Saat ini kita sedang survei,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Leo Nababan, pekan lalu.

Informasi teranyar yang didapat Sumut Pos di Jakarta, Partai Demokrat juga punya peluang besar untuk memberikan tiket kepada mantan Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution. Ini lantaran jenderal kelahiran Medan ini punya kedekatan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, yang merupakan adik Ani Yudhoyono.

Namun, banyak kandidat yang saat ini gencar mendekati sejumlah partai. Artinya, seorang kandidat tidak hanya mendekati satu partai saja. Dan satu partai bisa didekati banyak kandidat. “Itu biasa. Ini masih tahap saling endus,” ujar Ray Rangkuti, pria asal Mandailing Natal (Madina), yang terus mengikuti dinamika politik lokal jelang pilgub 2013.

Seperti PDIP, yang sudah ‘dimasuki’ sejumlah nama, seperti Chairuman Harahap, RE Nainggolan, dan AY Nasution sebagaimana disampaikan politisi PDIP, Yasonna H Laoly. Politisi gaek PDIP, Sabam Sirait, beberapa waktu lalu cerita, di suatu acara, duduk berdampingan dengan AY Nasution. “Oh, Pangkostrad. Katanya mau maju,” ujar Sabam Sirait.

AY Nasution tidak membantah cerita Sabam. Saat berjumpa Sumut Pos kemarin di Jakarta, AY Nasution tersenyum saat dimintai konfirmasi hal itu. Begitu pun, saat ditanya mengenai kabar bahwa dia bakal diusung Partai Demokrat, dia pun tersenyum. Jenderal yang punya kepribadian rendah hati itu banyak cerita, namun off the record, minta tidak diberitakan dulu.

Masih Tunggu Persetujuan Syamsul Arifin

Kabar menarik malah muncul dari DPD Golkar Sumut. Soal siapa yang akan diusung oleh partai ini untuk pilgubsu mendatang ternyata masih menunggu restu Gubernur nonaktif yang juga Ketua DPD Partai Golkar Sumut nonaktif Syamsul Arifin.

“Gus Irawan memang sudah terlihat merapat ke Golkar. Tapi Golkar belum ada sampai ke sosok-sosok itu. Nanti akan ada survey dari DPP. Kalau sudah ada nama pastinya, nanti calon itu sowan ke Datok (Syamsul Arifin, Red). Kalau Datok sudah setuju, Ical (Abu Rizal Bakrie, Red) pasti setuju. Datok masih sama, masih tetap kuat di Sumut,” ungkap fungsionaris Partai Golkar Sumut yang enggan disebutkan namanya ini, kemarin.

Bagaimana dengan kekuatan Akbar Tanjung di Sumut? Apakah akan berperan besar dalam penentuan calon yang akan diusung?
Terkait hal itu, sumber tersebut mengakui, Akbar Tanjung juga sosok yang memiliki kekuatan di Sumut. Tapi, dalam konteks kepartaian tetap saja keputusan nantinya ada di pimpinan partai yang telah dikomunikasikan dengan penasihat partai.

“Akbar Tanjung memang kuat di Sumut. Tapi tidak ada perbedaan-perbedaan siapa yang paling kuat, antara Akbar Tanjung ataupun Ketua DPP Abu Rizal Bakrie. Semuanya juga berdasarkan komunikasi yang terjalin, baik oleh pimpinan maupun oleh penasihat,” terangnya lagi.

Wakil Ketua DPRD Sumut dari Fraksi Golkar Chaidir Ritonga mengakui Akbar Tanjung secara psikologi memiliki kekuatan di Sumut. Namun, tetap saja sebagai pengambil kebijakan adalah Abu Rizal Bakri. Begitu halnya dengan Syamsul Arifin. “Antara Bang Akbar dan Datok (Syamul Arifin, Red), memiliki kedekatan psikologis di Sumut. Namun, tetap saja keputusan atau kebijakan tetap oleh ketua umum DPP, nantinya pada pengusungan calon setelah dilakukan survey oleh tim yang turun dari DPP,” urainya.

Terkait sosok yang diusung oleh Partai Golkar, Chaidir Ritonga juga menyatakan, belum ada kepastian siapa nama calon yang akan dimajukan pada Pilgubsu 2013 mendatang.

Semuanya, sambungnya, masih akan melalui tahapan-tahapan seperti survey dan sebagainya. “Belum ada, dan nantinya akan dilakukan survey oleh tim dari DPP. Jadi sejauh ini perkembangannya masih cair. Kecuali mungkin PKS yang sudah mulai ada titik terangnya, dan mengambil momen saat ini,” ungkapnya.

Ketika disinggung mengenai Gatot Pujo Nugroho yang sempat dibahas oleh Partai Golkar Sumut secara internal, serta beberapa nama lain yang mungkin mencuat untuk maju seperti, Ketua DPW PPP Sumut, Fadly Nurzal, Chaidir menyatakan perbincangan atau pembahasan itu adalah secara pribadi-pribadi.
“Ya, itu kan pendapat pribadi. Artinya, sah-sah saja siapa pun orangnya yang menyatakan, ini layak atau tidak layak. Namun, nantinya akan ada hasil survey yang dilakukan,” ungkapnya.(sam/ari)

Atasi Pendemo Kapoldasu Janji tak Pakai Peluru Tajam

Rencana aksi besar-besaran pada Senin (26/3) mendatang juga mendapat perhatian khusus Kapoldasu Irjen Pol H Wisjnu Amat Sastro. Bahkan, dia langsung mengumpulkan Rektor Universitas se-Kota Medan Jumat (23/3) malam di Hotel Hermes, Jalan Pemuda, Medan.

Pertemuan ini sebagai bentuk langkah menjaga situasi Kamtibmas yang kondufis di Sumatera Utara. “Mari duduk bersama, kita bahas bersama-sama. Buat di atas kertas dan ditandatangani. Serahkan ke Wakil Rakyat (DPR) biar mereka yang menyampaikan aspirasi rakyat Sumatera Utara, “ kata Wisjnu.
“Saya berharap semua elemen masyarakat membantu untuk menciptakan suasana kondusif,” tambah Wisjnu.

Menurut Wisjnu, Senin 26 Maret yang tinggal beberapa hari lagi harus disikapi dengan benar. Dikabarkan akan ada 63 elemen mahasiswa, buruh, LSM dan Organda melakukan aksi unjuk rasa turun ke jalan. Dalam mengatasi ini, Wisjnu mengaku dalam mengamankan aksi, personel polisi tidak akan menggunakan peluru tajam. “Kita hanya gunakan water canon dan tameng,” kata Wisjnu.

Sedangkan Pangdam I BB, Mayjen Lodewijk Freidrich Paulus yang juga hadir mengatakan, TNI akan turut membantu pihak kepolisian. “Kita akan mengerahkan anggota 10 batalion untuk membantu polisi,” kata Lodewijk.

Sementara itu, Rektor IAIN Prof Dr Nur Ahmad Fadil Lubis mengapresiasi pertemuan diusung Direktorat Binmas Polda Sumut dan Direktorat Intelkam Polda Sumut. Dikatakannya sebaiknya mahasiwa diberikan kegiatan positif agar tidak terkonsentrasi pada unjuk rasa 26 Maret nanti.

Ahmad mengatakan, ia sudah menugaskan  PR III  hadir di kampus untuk menindaklanjuti ke fakultas, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sementara, Rektor Unimed Prof  Dr Ibnu Hajar mengaku sudah mensosialisasikan hal tersebut jauh-jauh sebelumnya. “Kita membantu  dengan  imbau mahasiswa agar tidak keluar untuk melakukan  aksi ke jalan. Selain itu  Kampus juga dijaga, tidak boleh orang luar masuk, karena bahaya pihak ketiga ini sangat mempengaruh,” ujarnya.

“Jika mahasiswa melakukan kesalahan, maka aturan akan ditegakkan, ditegur, skor dan di DO,” tambahnya. (mag-5)

BBM Diangkut Malam Hari

Hindari Macet & Pembajakan dari Pengunjuk Rasa

BELAWAN-Aksi unjuk rasa mahasiswa dan masyarakat umum menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat Pertamina berpikir keras. Pasalnya, demonstrasi membuat distribusi BBM menjadi kacau. Tidak hanya karena lalu lintas jadi macet, beberapa truk pengangkut BBM pun sering dibajak pendemo.

Itulah sebab PT (Persero) Pertamina UPMS I Medan mulai kemarin, Jumat (23/3)  melakukan pendistribusian BBM bersubsidi ke SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) pada malam hari. “Berdasarkan perintah dari Pertamina, pendistribusian BBM ke SPBU dilakukan malam hari dari pukul 19.00 hingga 06.00 WIB. Ini dilakukan untuk menghindari kemacetan dan pembajakan truk tangki yang dilakukan pendemo di Medan,” kata Hendrik, Humas dan Pengawas PT Elnusa Petrofin Medan.

Diakuinya, aksi demontrasi penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah pusat belakangan ini sangat mengganggu aktivitas pendistribusian BBM ke SPBU di Medan dan luar kota Medan. “Belakangan ini tak jarang sopir truk tangki yang akan memasok BBM ke SPBU terjebak kemacetan dan dibajak para pendemo,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah perubahan jadwal pendistribusian BBM bersubsidi nantinya tidak akan menimbulkan kelangkaan bahan bakar di setiap SPBU? Hendrik mengatakan hal tersebut tidak akan berpengaruh. “Inikan sudah dikoordinasikan oleh pertamina ke SPBU, jadi stok BBM di SPBU masih aman dan kemungkinan besar tidak akan terjadi kelangkaan,” terangnya.

Sayang, kondisi di lapangan berkata lain. Terlihat, di sebagian SPBU yang ada di luar Medan sudah mulai memasang ‘Premium Habis’. Seperti yang terlihat di daerah Mandailing Natal. “Penyaluran BBM sudah sesuai dengan kuota. Jadi, tidak ada cerita bila SPBU kekurangan atau kehabisan premium. Nah, kalau seandainya hal tersebut terjadi, silahkan terjadi laporkan pada kita,” elak Asisten Customer Relations Fuel Retail Marketing PT Pertamina Region I Sumbagut, Sonny Mirath.

Sonny juga menegaskan, bila terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh pengusaha SPBU, maka akan ditindak langsung. “Kalau ketahuan ada SPBU yang bermain, maka akan kita tindak, dengan memberikan sangsi berupa penghentian penyaluran BBM sementara waktu,” tambah Sonny.

Dirinya menegaskan, bila saatnya ini Pertamina telah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengontrol SPBU, sehingga dapat mencegah terjadinya penimbunan BBM. Sonny juga menjelaskan di Kabupaten Madina saat ini sedang terjadi antrean panjang dalam pembelian BBM, hal ini dikarenakan jembatan penghubung antara Sumut dan Sumbar yang terletak di Desa Gunung Tua Lumban Pasar, Panyabungan putus. Sehingga terjadi pengalihan terminal BBM, yang juga menambah waktu untuk pengisian. “Karena jembatan putus, stasiun pengisian kita ubah, dari awalnya di Sibolga, berubah di Teluk Kabung di Padang. Nah ini memakan waktu, dari Sibolga 6 jam, tetapi sekarang menjadi 14 jam,” tambah Sonny.

Sementara itu, Tim Khusus dari Polda Sumut, Kombes Suhardono Budi Nugroho menyatakan bahwa Medan merupakan daerah yang aman dalam penimbunan BBM. Sedangkan daerah yang paling berpotensi dalam melakukan penimbunan sekitar 7 daerah di Sumut. “Pangkalansusu, Binjai, Kisaran, Belawan, Simalungun, dan Sibolga yang merupakan kebutuhan BBM nya sangat tinggi, ini yang akan berpotensi untuk penimbunan,” tambah Suhardono.

Lima Jalan Protokol Ditutup Saat Aksi

Seperti diberitakan, ada kabar soal demonstrasi besar-besaran yang akan digelar pada Senin (26/3) mendatang. Terkait itu, selain telah menyiapakan langkah antisipasi berupa penambahan personel, Polresta Medan juga akan menutup lima jalan protokol.

“Ya, ada sejumlah ruas jalan di Kota Medan ditutup dan dialihkan ke ruas jalan yang lainnya. Ruas jalan yang kita tutup adalah lokasi yang digunakan pengunjuk rasa untuk berorasi,” ungkap Kepala Satuan (Kasat) Lantas Polresta Medan Kompol M Risya Mustario kepada Sumut Pos, kemarin sekitar Pukul 15.00 WIB.

Jalan yang dimaksud pihak Polresta Medan adalah Jalan Zainul Arifin, Jalan Gatot Suboroto, Jalan Imam Bonjol, Jalan Raden Saleh, dan Jalan Dipenogoro. “Kita akan mengerahkan seluruh personel dan dibantu Dirlantas Polda Sumut untuk mengatur lalu lintas yang macet dan jalan yang dijadikan lokasi aksi,” tambah Risya.

Dia sudah menginstruksi seluruh anggotanya di Satlantas Polresta Medan untuk langsung menutup jalan dan mengalihkan kenderaan kalau melihat massa aksi. Karena itu, Risya mengimbau kepada warga Kota Medan untuk mengindari jalan yang diduga akan dipakai para pengunjuk rasa. “Ya masyarakat saya imbau untuk memilih ruas jalan yang tidak macet dan tidak dilintasi massa,” ungkapnya.

Soal demo pada Senin mendatang kembali ditegaskan oleh Kongres Rakyat Sumatera Utara (KRSU), Senin (26/3). “Sekarang ini jumlah riil yang sudah pasti akan ikut aksi ini berjumlah 15.874 orang. Dari konsolidasi kita, jumlahnya nanti diperkirakan sampai 50 ribu orang, bahkan bisa lebih karena kita terus konsolidasi,” kata Ahmadsyah, pimpinan aksi Kongres Rakyat Sumatera Utara, dalam konferensi pers di Medan, Jumat (23/3) siang.
Sedikitnya 51 elemen terdiri dari berbagai elemen masyarakat seperti buruh, tani, nelayan, supir, abang becak, dan mahasiswa akan bergabung dalam aksi Kongres Rakyat Sumatera Utara. “Demo yang kemarin-kemarin itu kan masih pemanasan. Nanti Senin semua bergabung. Jika pemerintah tidak juga membatalkan rencananya, demo bisa berlangsung berhari-hari,” papar Ahmadsyah.

Titik kumpul unjuk rasa besar-besaran ini adalah Lapangan Merdeka, Medan. Panitia aksi belum memastikan sasaran dan metode demonstrasi. Alasannya, hal itu masih dibahas. Namun, mereka menyatakan tidak ada skenario aksi anarkistis dalam aksi nanti.

Panitia aksi juga meminta maaf kepada kepada masyarakat, terutama sopir dan tukang becak, yang terganggu dengan adanya aksi unjuk rasa nanti. “Ini adalah konsekuensi dari sebuah aksi. Kami mohon maaf dan kami berharap masyarakat memahami,” ujar Ahmadsyah.

Panitia mengaku tidak punya target lain di luar memaksa pemerintah untuk membatalkan rencana menaikkan harga BBM pada 1 April mendatang. Mereka juga tidak ingin kegiatan ekonomi di Medan lumpuh saat unjuk rasa berlangsung. “Kami tidak provokatif dan tidak akan anarkis. Tapi kita tidak tahu jika kawan-kawan sopir yang tergabung dalam Kesper memilih mogok seperti pada 1998 lalu,” ujar Pahala Napitupulu, salah seorang panitia aksi Kongres Rakyat Sumatera Utara.

Mereka juga meminta aparat kepolisian maupun TNI yang dilibatkan dalam pengamanan aksi untuk tidak bertindak represif. “Selama ini kami melihat aparat keamanan takut dan hati-hati sekali dalam setiap aksi. Sebenarnya ketakutan itu tidak perlu. Jika takut, pemerintah cukup membatalkan rencananya menaikkan harga BBM,” imbuh Pahala.

Kembali Pahala Napitulu ketua dari Serikat pekerja seluruh Indonesia (SPSI) 1992 kepada Sumut Pos mengatakan dirinya akan juga membawa massa dari buruh dan warga Sari Rejo Medan Polonia untuk bergabung dalam aksi ini, massanya akan berorasi di depan Bandara Polonia Medan.”Kita akan berorasi di depan Polonia, selain itu massa akan mendatangi Kantor DPRD Sumut dan Kantor Gebernur,” sebutnya.

Saat disinggung apakah massa, ada berniat untuk melumpuhkan aktivitas Bandara Polonia, dirinya mengatakan tidak. Mereka hanya hendak mendatangi Danlanud, pasalnya kantor Danlanud dekat bandara Polonia Medan. Selain aksi menolak kenaikan BBM, dirinya akan menanyakan persoalan tanah di Sarirejo kepada Danlanud.(mag-17/ram/gus)

Menggeser Jam Matahari (3/Habis)

Oleh: Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Bertahan selama 25 tahun, mendadak pada pekan kedua Maret baru lalu, muncul ide penyatuan zona waktu WIB, WITA, dan WIT.

Usulan itu datang dari Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). Menurut mereka, sebaiknya satu negara memiliki sesedikit mungkin zona waktu, untuk kemudahan administrasi, akomodasi, dll.

KP2EI ingin meniru penyatuan zona waktu di berbagai negara. Contohnya China yang membentang sebegitu panjang, tetapi hanya punya 1 zona waktu  dan terbukti memberi keuntungan ekonomis. Semenanjung Malaysia dan Sabah Serawak di Pulau Kalimantan juga memilih menyamakan zona waktu, meski tidak satu zona. Kemudian, Malaysia dan Singapura menyamakan zona waktu dengan Hongkong, padahal seharusnya berbeda. Hasilnya berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut.

Ide penyatuan waktu oleh KP3EI ini pun mendapat sambutan pro kontra. Kalangan yang pro percaya, jika zona waktu Indonesia digabungkan, banyak hal yang diuntungkan. Contohnya, jam kerja di seluruh wilayah di Indonesia akan sama, sehingga produktivitas serta efektivitas kerja meningkat.
Ilustrasinya begini, selama ini pegawai di wilayah timur Indonesia baru efektif bekerja pada pukul 10.00 WIT. Soalnya, mereka menunggu rekan di wilayah barat yang baru mulai buka pintu kantor pada saat sama (08.00 WIB). Urusan perbankan juga kurang efektif. Pukul 5 sore Indonesia Timur sudah menghentikan kegiatan, tapi di wilayah Barat masih pukul 3, dan sedang giat-giatnya. Akibatnya Timur menunggu hingga jam 7-8 malam.

Karena itulah, muncul usulan penyatuan waktu tadi. Diusulkan, Indonesia menggunakan GMT +8, yakni zona waktu yang sama dengan Singapura, Hongkong, Taipei serta Manila. Dengan samanya ruang waktu, masyarakat di kawasan tengah dan timur Indonesia bisa mempunyai ruang transaksi yang lebih banyak untuk bertransaksi dengan masyarakat di kawasan barat Indonesia, juga Singapura, Hong Kong, dan sejumlah negara lainnya.
Salah satu manfaat yang jelas antara lain perdagangan di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Komoditi Berjangka Indonesia akan lebih cepat dibuka dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Ini diharapkan akan menambah transaksi perdagangan mencapai Rp500 miliar sehari atau Rp20 triliun dalam setahun.

Namun kalangan yang kontra dengan ide penyatuan zona waktu ini, juga tak mau kalah. Menurut yang kontra, pembagian waktu di Indonesia sekarang sudah tepat secara internasional. Posisi Indonesia ada di  95 hingga 141 derajat garis bujur timur. Artinya zona waktunya terbagi tiga. Karena itu, ide penggabungan zona waktu di tanah air dianggap kurang tepat. Setidaknya, harus dikaji lebih mendalam.

“Jika disesuaikan jam standar, maka WIB akan dipaksakan bekerja lebih awal, sedangkan WIT lebih pagi,” kata yang kontra. Risikonya, waktu produktif masyarakat tak sesuai dengan aktivitas matahari, terutama bagi yang terbiasa dengan jam matahari.

Perubahan waktu juga dianggap bisa membuat catatan sejarah menjadi membingungkan, dan memicu sakit kepala dalam penanganan sejumlah kasus hukum. Kesehatan masyarakat dan kestabilan ritme biologis bisa kacau. Masyarakat sudah terbiasa beraktivitas dengan ritme ‘jam matahari’. Tentu tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun itu.

Jadi, bagaimana? Didukung atau ditolakkah ide penyatuan zona waktu ini?
Hemat penulis, sebuah perubahan wajar menimbulkan reaksi karena butuh adaptasi. Tetapi kita tak mesti langsung bereaksi menolak sebuah perubahan sebelum kita merasakan baik buruknya. Dan sebenarnya, dalam praktik hidup manusia, aktivitas tidak terlalu dipengaruhi oleh pergerakan semu matahari (yang mengatur jam), tetapi oleh angka psikologis yang menjadi kebiasaan selama ini.

Dipercaya, faktor sugesti nantinya akan terasa ketika penyatuan jam ini sudah dilaksanakan. Jika selama ini makan siang jam 1, maka ketika zona waktu telah disatukan, rasa lapar akan sudah terasa saat masuk jam 1, bukan di jam 2 yang seharusnya pada saat jam lama.

Contoh nyata, jika biasanya seseorang makan siang jam 1, maka tidak peduli berada di Australia yang beda + 4 jam, atau di Eropa yang – 6jam, maka makan siangnya akan tetap jam 1. Di hari-hari pertama sih ada kekacauan tubuh (itu yang disebut dengan jet lag), tetapi setelah itu tubuh akan cepat melakukan penyesuaian.

Juga dipercaya, setelah penyatuan zona waktu ini berjalan 1 minggu, orang akan menjadi terbiasa.

Terakhir, untuk diingat, penentuan perbedaan 1 jam untuk setiap lintang 15 derajat adalah juga penyederhanaan. Karena bisa saja setiap lintang 7.5 derajat berbeda 30 menit, sehingga Indonesia terbagi dalam 6 wilayah. Atau lebih ekstrimnya setiap lintang 3.75 adalah perbedaan 15 menit, dan seterusnya.

Nah yang sekarang mau dilaksanakan adalah penyederhanaan yang lebih besar lagi, yakni bujur 45 derajat menjadi 1 jam.
Keputusan mengenai pembagian zona waktu di Indonesia, memang adalah keputusan politik, bukan keputusan ilmiah. Keputusan ini bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan, bila akan menghasilkan suatu hal yang lebih baik dari sebelumnya. (*)

Yang Terdengar hanya Suara Ayam dan Burung Liar

Melihat Perayaan Nyepi di Sumatera Utara

Bali. Tentunya nama ini tak asing lagi di telinga. Di Kabupaten Langkat, ternyata terdapat Kampung Bali, yang budayanya masih kental dengan budaya Bali yang sesungguhnya. Seperti apa warga di sana merayakan Hari Nyepi?

Hamdani-Jhonson-Darmawan, Langkat, Medan, Sergai

Kampung Bali ini letaknya tepat di Desa Paya Tusam, Kecamatan Sei Wampu, Kabupaten Langkat. Untuk menuju ke Kampung Bali ini, jarak yang ditempuh dari Kota Binjai sekitar 30 km.

Dengan menggunakan sepeda motor dan melalui jalan berbatu serta terjal, Sumut Pos yang berangkat sekitar pukul 09.30 WIB, akhirnya tiba di Kampung Bali sekitar 12.00 WIB. Sebelum masuk ke lokasi perkampungan itu, terlihat dua gapura yang ukirannya khas dengan bangunan umat Hindu Bali. Bahkan, bunga-bunga bekas sesajen umat Hindu Bali saat melaksanakan sembayang Hari Raya Nyepi masih terlihat di depan gapura.

Melihat hal tersebut, hati serasa tak sabar untuk segera melihat perkampungan Bali itu. Berjarak sekitar 100 meter dari gapura, akhirnya Sumut Pos sampai di Kampung Bali. Namun, saat berada di lokasi pemukiman umat Hindu Bali tersebut, tidak ada terlihat aktivitas, yang terdengar hanya suara hewan peliharan seperti ayam dan suara burung liar.

Karena suasana sangat hening, Sumut Pos keliling sejenak di perkampungan itu untuk mencari seseorang agar dapat memandu. Setelah beberapa menit mencari warga setempat, barulah Sumut Pos bertemu dengan seorang pemuda bernama Ketut Budiman yang hendak keluar dari rumah untuk berkunjung ke rumah tetangganya. Ketika pertama kali bertemu, pemuda itu menyambut dengan ramah, seakan sudah berkenalan lama.
Bahkan, pemuda itu bersedia untuk memandu Sumut Pos untuk berkeliling di Kampung Bali tersebut. Sambil berjalan kaki, Sumut Pos berbincang dengan pemuda itu terkait kegiatan yang dilakukan oleh warga saat Hari Raya Nyepi. Menurut Ketut, umat Hindu Bali sudah melakukan ritual atau sembayang untuk menyambut Nyepi yang dilaksanakan, Kamis (22/3) pukul 16.00 WIB.

Selama perjalanan menuju rumah kepala dusun, Ketut mengungkapkan, ketika melakukan sembayang, ratusan umat Hindu Bali keluar rumah dan berkumpul di pura. “Sembayang menggunakan sesajen itu dilakukan untuk meminta kepada Tuhan agar umat Hindu dijauhkan dari bencana. Ritual ini, tetap berlangsung esok harinya, itu dilakukan secara pribadi di depan rumahnya,” ujar Ketut.

Selain itu, setelah sembayang Nyepi, umat Hindu Bali tetap melanjutkan ibadah dengan berpuasa. “Puasa yang dilakukan sebagai wujud syukur umat kepada Tuhan. Puasa tersebut dilakukan sejak pukul 18.00 WIB hingga esok harinya pukul 18.00 WIB. Adapula yang berpuasa sejak pukul 24.00 hingga esok harinya Pukul 24.00 WIB, yang jelas berpuasa selama 24 jam penuh,” jelas Ketut.

Maka dari itu, kata Ketut, setelah Nyepi tiba, susana juga ikut sepi. Karena, umat Hindu juga menghentikan segala aktivitas dengan berdiam diri di dalam rumah untuk merenungi segala hidup sembari berdoa agar diberikan rezeki dan kesehatan. “Berpuasa itu diwajibkan bagi semua umat Hindu, tak terkecuali bagi anak-anak yang berusia 7 tahun,” ucapnya.

Setelah panjang lebar berbincang dengan Ketut, Sumut Pos diantar ke pura kecil hingga ke pura yang besar. Di sana juga tampak sesajen yang ditaruh di Padmasana atau tempat duduk Tuhan. Setelah melihat beberapa bekas ritual umat Hindu Bali itu, Ketut membawa Sumut Pos keliling di wilayah Kampung Bali. Selama perjalanan tersebut tampak di depan rumah-rumah warga bunga-bunga dan bercampur buah kelapa kuning
Selanjutnya, Sumut Pos dibawa ke rumah Kepala Dusun, Nyoman Sumandro. Di sana, Sumut Pos dijelaskan, terkait asal muasal Kampung Bali di Kabupaten Langkat tersebut. Menurut Nyoman Sumandro, Kampung Bali pertama kali berdiri di Langkat sekitar tahun 1970. Ketika itu, Sebanyak 15 Kepala Keluarga (KK) dari Bali, dikontrak untuk mengelola sebuah kebun di daerah Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat.

“Kontrak itu dilakukan hanya selama 6 tahun. Ketika masa kontrak sudah mulai berakhir, para orangtua kami berpikir mau tinggal di mana. Akhirnya, dicarilah lahan kosong yang disebut sebagai Tanah Negara Bebas (TNB). Sehingga, ditemukanlah tempat ini dan sekarang terus berkembang,” jelas Nyoman Sumandro.

Setelah kampung ini berkembang, sambungnya jumlah penduduknya juga semakin banyak. Sehingga, sebahagian penduduknya memilih untuk meninggalkan Kampung Bali tersebut. “Sekarang ini sudah ada 40-an KK, dengan jumlah penduduk ditaksir mencapai 160 jiwa. Kalau warga yang lain tidak berangkat dari kampung ini, saya rasa lebih banyak lagi. Mereka pergi karena areal pemukiman di sini dikhawatirkan tidak dapat menampung jumlah pennduduk jika terlalu banyak,” ungkapnya, seraya menambahkan, warga yang pergi ada yang kembali ke Bali dan juga memilih ke Pekanbaru, Riau.

Kalau dahulu, kenang Sumandro, Kampung Bali masih terlihat asri. “Dulu belum ada pura seperti saat ini. Orangtua kami sembahyang dengan pura yang dibuat dengan daun dedep yang dipancang dengan empat sudut. Semakin berkembangnya zaman, pada 1976 pura baru dibangun,” terangnya, seraya menambahkan, ketika raya Nyepi tiba, keluarga dari Kuta Bali sering datang berkunjung ke kampung mereka.

Suasana di Kampung Bali Langkat tak jauh berbeda dengan warga keturunan Bali di Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Serdang Bedagai (Sergai). Umat Hindu Bali di desa itu terlihat berdiam di rumah tanpa ada melakukan aktivitas apa pun.

Pemangku adat Pura Bali I Wayan Gio (65) yang sempat ditemui Sumut Pos hanya mengatakan Nyepi ini semua umat Hindu Bali memang berdiam di rumah. Keterangan I Wayan Gio didukung Pendeta Pura Agung Reksa Buana, Jalan Polonia, Medan Polonia, Jero Mangku I Wayan Sukantra. Dia mengatakan, Hari Raya Nyepi ini dilakukan sesuai dengan 4 rangkaian Hari Raya Nyepi yaitu Melis atau Melastri, Taur Keseng, Nyepi, dan Ngemak Geni. “Pada rangkaian ke-3 yaitu Nyepi inilah kita semua umat Hindu tidak boleh melakukan kegiatan apapun selama 24 jam atau 36 jam penuh. Melaksanakan Hari Raya Nyepi ini berarti melaksanakan Catur Brata Penyepian,” katanya.

“Ada 4 hal di dalam perayaan Hari Raya Nyepi yang tidak boleh dilakukan yakni menyalakan api (Amati Geni), bepergian berpergian (Amati Lelungan), foya-foya atau bersenang-senang (Amati Lelaungaun), dan bekerja  (Amati Karya),” tambahnya. (*)

55 Jenazah Imigran Dimakamkan Massal

Seputar Kapal Layar Motor (KLM) Barokah Tenggelam di Perairan Surabaya

SURABAYA – Seluruh jenazah imigran gelap penumpang Kapal Layar Motor (KLM) Barokah yang tenggelam pada 17 Desember lalu di perairan lepas Pantai Prigi akhirnya dimakamkan. Kemarin (23/3), jenazah-jenazah itu  dimakamkan di Makam Putat Jaya yang dikelola Pemkot Surabaya. Mereka dimakamkan secara massal dalam satu lubang besar.

Persiapan pemakaman dilakukan sejak pagi. Satu per satu, jenazah dikeluarkan dari kontainer  pendingin, kemudian dikafani dan dimasukkan ke dalam peti jenazah. Setalah itu, peti-peti jenazah ditata di Taman RS Bhayangkara Polda Jatim untuk disalatkan bersama.

Prosesi salat jenazah dipimpin Kabiddokkes Polda Jatim Kombespol dr Budiyono MARS. Prosesi tersebut diikuti seluruh petugas Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia Regional Tengah dan beberapa warga asing yang sempat mengklaim jenazah tersebut sebagai keluarganya.

Usai salat Jumat, sekitar pukul 13.20, belasan kendaraan pengangkut jenazah mulai berdatangan. Karena jumlah jenazah yang dimakamkan ada 55 orang, armada yang disediakan pun kurang. Biddokkes bahkan harus meminta bantuan truk Dalmas dan Satpol PP untuk mengangkut peti menuju makam.
Prosesi pemakaman sempat terganggu oleh ratusan warga yang berdatangan ingin menonton. Permintaan polisi agar warga menyingkir juga tidak diindahkan. Akhirnya, polisi hanya bisa meminggirkan warga dari jalur pengangkutan peti jenazah. Selebihnya, warga yang sebagian juga anak-anak nekat menonton dari atas gundukan tanah galian di pinggir liang lahat.

Prosesi pemakaman selesai sekitar pukul 16.00. Setiap makam diberi penanda nisan berkode identifikasi. Tujuannya, jika ada lagi keluarga yang mengklaim sebagai pihakkeluarga, jenazah bisa dikenali. Total terdapat 55 jenazah yang dimakamkan. Terdiri dari 53 jenazah yang belum teridentifikasi dan dua jenazah yang telah teridentifikasi.

Sebanyak 53 jenazah yang belum teridentifikasi terdiri dari 33 laki-laki, 11 perempuan, dan sembilan anak-anak. Sedangkan, sisa tiga jenazah lainnya masih disimpan di kamar mayat RS Bhayangkara Polda Jatim. “Ketiganya mau diambil oleh pihak keluarga,” terang Budiyono. Namun, jika tidak kunjung diambil, mereka juga akan dimakamkan di Surabaya.

Dua jenazah yang telah teridentifikasi dan dimakamkan di Putat Jaya berasal dari Irak dan Iran, bernama Zahra dan Mubina. Mereka merupakan rekan dari tiga jenazah yang belum teridentifikasi dan merupakan anak dari seorang warga Irak, Riyadh Al Ka’bi.

Saat ditanya, Riyadh mengaku tidak bisa mengenali jasad ketiga anaknya. Selain itu, dia terkendala dana jika harus memulangkan mereka. “Biayanya USD7.000 per jenazah,” tuturnya dengan bahasa Parsi. Memang ada bantuan dari pemerintah Irak, namun tidak cukup. “Saya ridha mereka dimakamkan di sini,” tuturnya.

Kabiddokkes Budiyono menyatakan, jenazah-jenazah itu dimakamkan bersama sejumlah barang pribadi. Namun, dia memastikan tidak ada satupun barang berharga di dalam peti. “Yang ikut dikubur hanya pakaian dan tas. Barang berharga, seperti dompet, uang, dan perhiasan kami simpan,” tegasnya.
Dia menjelaskan, informasi semacam itu perlu disampaikan karena ada isu sekelompok orang yang berniat membongkar makam para imigran. Mereka yakin di dalam makam tersebut terdapat barang berharga.

Sementara itu, bersamaan dengan pemakaman para jenazah, berakhir pula masa identifikasi. Namun, data para imigran yang belum teridentifikasi masih utuh. “Kalau ada keluarga yang datang, kami persilakan untuk menunjukkan data pembanding postmortem,” ujarnya. (byu/fat/jpnn)
Data tersebut akan dicocokkan dengan data yang dimiliki DVI.

Jika cocok, keluarga boleh memilih apakah mau memulangkan jenazah atau membiarkannya dimakamkan di Surabaya. “Kalau mereka minta jenazah dikembalikan, ya kami bongkar makamnya,” kata mantan Kabiddokkes Polda Jateng itu.

Budiyono menambahkan, pendanaan untuk pemakaman berasal dari beberapa pihak. Untuk lahan dan tenaga penguburan, serta peti jenazah, dibantu oleh Pemkot Surabaya. “Kalau untuk operasionalnya dari kami dan Dinkes Jatim,” tandasnya.

Sementara itu, pihak Kementrian Luar negeri memastikan sudah tidak ada masalah terkait pemakaman jenazah tersebut. “Kami sudah rapat dengan para dubes, dan mereka tidak keberatan dengan jadwal pemakaman ini,” terang Kasi Asia Pasifik Direktorat Konsuler Kemenlu Aditya Timuranto di sela pemakaman kemarin.

Jadwal pemakaman tersebut sudah tertunda dua kali. Awalnya, jenazah akan dimakamkan pada 20 Januari. Namun, para dubes belum setuju. Lalu, diputuskan ditunda tanggal 29 Februari. Tertunda lagi karena warga Iran berdemonstrasi di KBRI Iran, menuntut jenazah jangan langsung dimakamkan.
Akhirnya, diputuskan kemarin sebagai tanggal pemakaman. “Waktu rapat terakhir, sebenarnya Dubes Iran sempat meminta penundaan lagi, karena ingin proses identifikasi terus berjalan,” terangnya. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh Kemenlu karena sudah terlalu lama.

Lagi pula, lanjutnya, keputusan memakamkan atau tidak sebenarnya ada pada pihak Indonesia. sebagian keluarga juga meminta pemakaman disegerakan, karena masa kunjungan mereka telah habis.

Meski begitu, pihaknya sudah menyampaikan ke Dubes Iran jika warganya tetap bisa meminta proses identifikasi dilanjutkan. Syaratnya, mereka membawa data pembanding untuk postmortem. “Kalau cocok, mereka boleh membongkar makam kalau mau dibawa kembali ke negara asal,” tambahnya.  (byu/fat/jpnn)

Ekspor Kopi Sumut Tetap Harum

MEDAN- Sejak dulu, cita rasa kopi terus menarik perhatian masyarakat. Bahkan, sampai saat ini, peminat kopi terus bertambah termasuk gerai penjual minuman khas ini.

“Minum kopi sudah menjadi trend di Sumut, sehingga permintaan kopi olahan ini semakin banyak,” ujar Wakil Ketua Bidang Speciality dan Industri Kopi Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Saidul Alam, Jumat (23/3). Menurutnya, walau permintaan kopi olahan dari luar negeri terus bertambah, tetapi permintaan kopi domestik juga masih bagus. Meski permintaan naik, namun harga kopi masih belum membaik. Kini, harga kopi domestik berkisar Rp50.000 per kilogram dan harga kopi luar negeri sebesar USD6,6 per kilogram.

Rendahnya harga kopi ini disebabkan trend harga kopi dunia menurun. Sedangkan, tujuan ekspor kopi olahan bukan hanya ke Amerika dan Eropa, tetapi juga ke negarapeminum teh, seperti Cina dan Jepang.

Senada, eksportir biji dan kopi olahan asal Sumut, Irfan Anwar, mengaku, adanya penguatan permintaan kopi olahan,  namun tingginya permintaan kopi ini belum sebanding dengan potensinya.

“Sekarang memang ada penguatan permintaan kopi, namun ini masih belum maksimal, perlu promosi dan penjualan gencar untuk meningkatkan pangsa pasarnya,” jelas Irfan.

Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut Fitra Kurnia, menjelaskan, kualitas kopi di Sumatera Utara memang sangat diakui di dunia. (ram)

Mohamed Merah Tewas Tertembak di Kepala

PARIS- Mohamed Merah pelaku serangkaian pembunuhan  bermotif agama di Perancis akhirnya tewas di tangan aparat kepolisian Perancis.
Seperti dilaporkan AFP, Kamis(22/3), Merah meninggal karena luka tembak di kepala ketika berusaha untuk melarikan diri dari aparat yang mengepung kediamannya di sebuah apartemen  di Toulose, Perancis.

Kematian warga negara Perancis keturunan Algeria  berusia 23 tahun ini mengakhiri drama pengepungan selama lebih dari 32 jam yang melibatkan sekitar 300 orang polisi.

Jaksa khusus Francois Molin mengatakan, Merah berusaha menyerang polisi dengan membabi buta ketika disergap di apartemennya. Ia menembakkan pistol sebanyak 30 kali sebelum akhirnya melompat keluar jendela.

Sementara itu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengatakan, saat ini sedang berlangsung investigasi untuk memastikan apakah Merah melakukan aksinya sendiri atau dibantu orang lain. (dil/jpnn)

Tambang Meledak, 5 Tewas 17 Selamat

BEIJING – Tim evakuasi dikabarkan berhasil menyelamatkan 17 pekerja tambang yang terperangkap selama lebih dari 48 jam di sebuah tambang batu bara di timur laut Cina setelah sebuah ledakan gas terjadi di tempat itu.

“Ledakan terjadi pada Kamis (22/3) di sebuah tambang batu bara di Provinsi Liaoning, menewaskan lima pekerja dan melukai belasan lainnya,” ujar salah seorang pejabat setempat seperti dikutip AFP, Jumat (23/3).

Tambang batu bara di Cina selama ini memang dikenal kerap mengalami insiden kecelakaan mematikan yang menewaskan para pekerja. Hal ini disinyalir akibat lemahnya sistem perlindungan yang tersedia serta minimnya peralatan keselamatan yang dimiliki para pekerja.

Insiden ledakan di tambang batu bara Cina bukan baru kali ini terjadi. Sebelumnya, pekan lalu kecelakaan di sebuah tambang batu bara dilaporkan menewaskan 13 orang. Pada Februari kecelakaan yang sama dilaporkan kembali terjadi dan menyebabkan 15 orang tewas.(net/jpnn)