31 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 13783

Methodist-II Bungkam Wiyata Darma

MEDAN- Tim futsal SMP Methodish-II memuluskan langkahnya untuk melaju ke babak semifinal setelah berhasil memenangkan pertandingan kedua pada babap penyisihan Turnamen Futsal SMP Wiyata Darma, setelah keamrin (24/3) mengalahkan tim Wiyata Darma A dengan skor 8-0.
Kesembilan gol milik SMP Methodist-II itu tercipta oleh Winson dengan emapat gol. Sementara Michael,Jonathan, Pesta serta Andre masing-masing mengoleksi satu gol.

“Saya senang bisa memenangkan partandingan ini. Namun kami belum puas, karena masih banyak pertandingan lainnya yang harus dimenangkan,” tutur Karolus Damanik, pelatih SMP Methodist-II kepada wartawan usai pertandingan.

Karolus juga menambahkan, selain melaksanakan latihan rutin, selama ini timnya juga sering mengikuti pertandingan sehingga membuat mental pemainnya benar-benar teruji.

Sebelumnya Prime One School menang 2-0 atas tim SMP Wiyata Dharma B. Sedangkan SMP Chandra Kusuma kontra Cinta Budaya berakhir dengan skor imbang 3-3, serta Brigjend Katamso melawan Kalam Kudus dengan skor 8-0. (mag-10)

Juru Cerita Pernikahan

Cerpen: Dadang Ari Murtono

Di kampung lain ada pengajian, atau wayang kulit, atau orkes musik dangdut untuk merayakan pernikahan. Namun di kampung saya, yang selalu dan wajib ada adalah seorang juru cerita yang bercerita semalam suntuk perihal pernikahan-pernikahan yang bahagia. Bercerita kepada sepasang pengantin yang sebentar lagi akan sekelamin, yang selama cerita itu dikisahkan, tidak boleh beranjak dari kursi pelaminan.

Mesti mendengarkan dengan seksama. Dengan  tidak sedikit pun mengantuk. Dan bila sedetik saja sepasang pengantin itu melanggar pantangan itu, maka, orang-orang percaya, pernikahan itu tidak akan bahagia. Tidak akan awet hingga kakek nenek. Akan bubar  di tengah jalan.

engingat perannya yang sangat penting tersebut, banyak orang yang berebutan untuk bisa menjadi juru cerita pernikahan. Mereka mendapat bayaran yang lumayan banyak. Mereka akan dipandang sebagai orang yang istimewa, orang yang mesti dihormati. Dan siapa-siapa yang berpapasan jalan, mesti menyapa lebih dulu. Persis seperti orang-orang memperlakukan penghulu. Atau lurah. Atau imam masjid.

Semua orang memang bisa bercerita. Bukankah manusia itu adalah makhluk pencerita? Tapi tidak semua orang bisa menuturkan cerita dengan gaya yang  menarik dan tidak membosankan. Tidak semua orang bisa terus memikat pendengar dan menjaga agar para pendengar itu tidak meninggalkan arena penceritaan sebelum cerita itu berakhir. Dan ia, perempuan dengan rambut panjang sepunggung itu adalah pencerita pernikahan terbaik yang ada di kampung saya. Sedemikian baik dan berbakat perempuan itu hingga orang-orang di kampung-kampung yang berada di sekitaran kampung saya juga selalu mengundangnya bila mempunyai hajat pernikahan.

Pada bulan-bulan Besar dan Bakdo Mulud, hampir dapat dipastikan ia tidak berada di rumah ketika malam. Pada bulan-bulan yang dianggap orang-orang baik untuk menyelenggarakan pernikahan itu, ia benar-benar sibuk. Untuk mendapatkan jasanya bercerita, seorang penanggap mesti menghubunginya dua bulan sebelum hari pernikahan. Orang-orang juga bersedia membayar lebih mahal pada bulan-bulan tersebut.

Perempuan itu seakan memiliki ilmu gaib yang membuat orang-orang begitu terpesona. Begitu larut mendengar ceritanya. Dan tak merasa capek. Atau mengantuk. Atau berkeinginan meninggalkan gelanggang cerita.

Cerita seperti apakah yang dituturkannya hingga orang-orang begitu menyukainya dan menjadikannya rebutan siapa-siapa yang berhajat? Ah, sesungguhnya, cerita yang dituturkannya biasa-biasa saja. Tak ada perbedaan dengan cerita-cerita yang dituturkan pencerita-pencerita lain.
Cerita itu selalu berkisar perihal pernikahan yang ideal. Bercerita tentang seorang lelaki dan perempuan yang rukun. Yang tidak pernah bertengkar separah apa pun permasalahan yang mereka hadapi. Yang tak sekali pun ada piring melayang-layang di dalam rumah. Tak ada kasur dan bantal yang acak-acakan sebab dilempar-lempar. Tak ada teriakan marah. Tak ada makian. Dan pada ujung cerita, selalu ia katakan: mereka hidup bahagia selama-lamanya.

Dia juga sering menyisipkan sedikit gurauan dalam ceritanya. Gurauan yang tidak jauh dari perkara pernikahan. Dan gurauan apalagi yang lebih tepat dituturkan bila bukan gurauan tentang malam pertama. “Wah, saya harap si pengantin pria ini tidak lupa mengasah kerisnya sebelum berangkat tadi,” guraunya. Dan orang-orang tertawa. Sedang si pengantin pria hanya senyum-senyum malu.

Ia juga menyisipkan pesan-pesan pada pengantin perempuan. Pesan agar para perempuan itu bisa menyenang-nyenangkan si lelaki. Bisa mengerti makanan favorit si lelaki. Bisa mengatur uang belanja dengan baik. Bisa berdandan dengan baik untuk suaminya. “Lelaki itu gampang-gampang sulit,” katanya. “Mereka suka bila kita terlihat cantik, tapi sangat pelit memberi uang untuk membeli bedak. Mereka menuntut kita untuk selalu wangi sedang mereka sendiri malas mandi. Mereka selalu ingin kita puaskan di tempat tidur, tapi tak sekali pun memikirkan apakah kita puas atau tidak. Mereka sering memberi sedikit uang belanja sambil mengeluh tak lagi memiliki uang tapi mereka dengan santainya pergi ke warung, membual-bual sambil membakar rokok yang harga satu paknya sama dengan uang belanja yang diberikannya. Tapi seorang perempuan mesti sabar. Sebab begitulah kata pepatah: perempuan itu, surga nunut neraka katut (surga ikut neraka turut) pada lelaki,” lanjutnya.

“Tapi percayalah, seorang lelaki tidak akan macam-macam bila di rumah dia bisa merasa nyaman, merasa senang. Bukankah cikal perselingkuhan itu adalah perasaan tidak nyaman di rumah?” katanya.

Dengarlah. Alangkah sederhana cerita itu bukan? Apa yang menarik dari cerita semacam itu? Tapi tetap saja tak ada yang beranjak dari duduknya bila si perempuan sudah mulai bercerita.

Para lelaki selalu berpikir alangkah bahagia lelaki yang menikahi perempuan itu. Alangkah tentram rumah tangga mereka. Dan para perempuan menjadikannya panutan dalam menjaga cinta, menjaga lelakinya agar tidak macam-macam. Dan sepasang pengantin yang mendengar, seakan telah mendapat gambaran yang tepat tentang masa depan pernikahan mereka nantinya.
“Seperti tokoh dalam ceritanya, kita akan hidup bahagia selama-lamanya,” kata si pengantin pria. Dan si perempuan tersipu malu.
“Berjanjilah kau tak akan terperangkap perempuan lain. Seperti tokoh laki-laki dalam cerita itu,” kata si pengantin perempuan.
“Dan kau berjanjilah untuk terus menjaga cinta dan pernikahan kita. Seperti tokoh perempuan dalam cerita itu,” jawab si lelaki.
***
Begitulah selama bertahun-tahun. Perempuan juru cerita pernikahan itu terus bercerita. Dan orang-orang mengira bahwa tokoh laki-laki dan perempuan dalam cerita yang selalu ia tuturkan adalah dirinya sendiri dengan suaminya. Sungguh, orang-orang tidak pernah melihat pasangan itu bertengkar. Orang-orang tak pernah mendengar ada teriakan dari rumahnya. Tidak ada suara gemerincing beling piring dan gelas yang membentur lantai.
“Mereka memang benar-benar pasangan yang bahagia. Pasangan terbaik. Kepada merekah lah semestinya kita belajar menjaga rumah tangga,” kata orang-orang di warung kopi.

Dan seseorang menyaut, “barangkali hal itulah rahasia kenapa cerita yang ia tuturkan menjadi begitu menarik. Jauh lebih menarik dari semua pencerita pernikahan yang pernah ada. Dia begitu mendalami cerita itu sebab itu adalah cerita rumah tangganya. Ada emosi yang bisa kita rasakan dalam caranya bertutur. Ya, itulah barangkali yang membuatnya berbeda dengan pencerita-pencerita yang lain.”
***
Pagi itu, seisi kampung gempar. Seorang lelaki yang baru pulang dari kota untuk menjual panenan kubis bersumpah melihat suami perempuan pencerita pernikahan itu keluar dari sebuah hotel melati sambil menggandeng seorang perempuan. Perempuan yang bukan perempuan juru cerita pernikahan!
Adakah yang percaya pada ucapan si lelaki yang baru pulang dari menjual kubis di kota? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin suami perempuan juru cerita yang rumah tangganya begitu harmonis dan bahagia bisa melakukan hal semacam itu? Tidak mungkin. Tidak mungkin.
“Jangan menyebar fitnah!” senggrang seseorang.

“Atau mungkin kau salah lihat,” saut seorang yang lain dengan nada yang lebih lunak.

Tapi lelaki penjual kubis itu telah bersumpah. “Terserah kalian kalau tidak percaya. Tapi memang begitulah kenyataannya. Sungguh, aku tidak menyebar fitnah. Aku tidak salah lihat. Aku bisa melihatnya dengan begitu jelas,” sungut si lelaki penjual kubis.

Cerita itu sudah hampir surut ketika di pagi yang lain, seorang perempuan yang baru saja membeli kalung emas di kota bercerita melihat lelaki suami perempuan juru cerita berboncengan sepeda motor dengan perempuan yang bukan si juru cerita. Dari cara si perempuan melingkarkan tangannya di pinggang si lelaki, terlihat jelas bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Tapi sekali lagi, adakah yang percaya cerita semacam itu?

Namun, ketika untuk ketiga kalinya seseorang mengatakan melihat lelaki suami perempuan juru cerita bergandengan tangan begitu mesra dengan perempuan lain yang bukan si juru cerita, orang-orang mulai percaya. Dan mulai meragukan keyakinan bahwa rumah tangga perempuan juru cerita adalah pernikahan ideal yang mesti ditiru oleh pasangan-pasangan yang baru menikah.
Cerita-cerita itu mulai menurunkan reputasi si perempuan juru cerita. Orang-orang yang berhajat berpikir ulang untuk mengundangnya bercerita dalam pesta pernikahan yang akan mereka gelar.

Tapi kejutan masih belum selesai. Malam itu, orang-orang mendengar teriakan yang begitu pilu, teriakan yang terdengar begitu sakit dari rumah si perempuan juru cerita. Dan pagi harinya, mereka terkaget-kaget mendapati si perempuan juru cerita terkapar di ruang tamu dengan luka menganga di lehernya. Sementara suami si perempuan tak ada di rumah. Ponselnya tak bisa dihubungi. Entah kenapa.
Beberapa hari kemudian, polisi menetapkan si suami perempuan juru cerita sebagai tersangka pembunuhan dan berstatus buronan atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga dan pembunuhan berencana. “Cinta segitiga,” kata mereka.

 

Berpikir Plagiatisme di Warung Bubur Ayam Cirebon

Oleh: Ramadhan Batubara

Jangan pakai kacang. Tolong beri lada yang banyak. Dua kalimat ini saya lontarkan pada penjual bubur ayam ala Cirebon yang ada di seputaran Museum Sumatera Utara. Ya, saya memang butuh bubur akibat fisik yang tidak fit.

Sang penjual pun sigap. Tak sampai lima menit, pesanan saya sudah ada di depan mata. Mangkuk putih yang diberikannya penuh dengan kerupuk berwarna merah. Menggoda. Saya aduk dan satu persatu suapan saya nikmati.

Sayang, lidah memang sedang tidak siap mengecap rasa. Bubur yang biasanya nikmat terasa hambar. Saya tambahi sambal, tidak lupa kecapnya. Fiuh tetap saja.

Lalu, saya lihat ada sate kerang (kalau makanan ini jelas khas Medan). Saya ambil satu tusuk. Saya campur dengan bubur yang sudah berwarna kecoklatan itu. Akibatnya, bubur berubah warna lagi; agak kemerahan. Sumpah, saya berharap akan ada rasa berbeda setelah saya makan itu. Tapi, sekali lagi, sayang. Bubur itu tetap saja hambar.

Nyaris putus asa, saya pun memesan teh manis hangat. Entahlah, saya hanya berharap pada rasa. Dengan kata lain, jika tak dapat asin dan pedas, kenapa tak coba manis?

Rupanya, setelah menunggu sekira sepuluh menit —setelah minuman itu hadir— rasa bisa saya rasakan. Manis memenuhi lidah, bahkan sampai ke kulit bibir. Nikmat.

Saya sendokan lagi bubur ayam itu. Tergigit oleh saya daun bawang dan bawang gorengnya. Tidak menunjukkan rasa luar biasa, memang, tapi cukuplah menambah semangat makan. Ya, perut harus terisi agar obat bisa diminum.

Tapi, harus saya katakan, cukup lama saya harus menghabiskan semangkuk bubur ayam itu. Selain soal rasa yang penuh dengan hambar, pikiran saya juga terbelah. Ini semua karena Sumut Pos edisi pekan lalu mengalami kecelakaan. Tepatnya di halaman sastra di rubrik puisi.

Begitulah, ada puisi yang begitu mirip dengan karya Kahlil Gibran. Ceritanya, puisi itu tentang anak. Nah, ketika ada penikmat sastra yang mengingatkan saya tentang hal itu, saya shock. Ini tentunya sebuah pukulan bagi saya. Ya dengan kata lain, kenapa puisi karya anak Medan yang begitu mirip dengan karya penyair Lebanon itu bisa lolos.

Sempat saya berusaha membela diri (tentunya dalam hati) dan mengatakan kalau dalam dunia sastra ada istilah yang namanya hipogram. Artinya, karya sastra bisa muncul karena ada keterikatan dengan karya sebelumnya.

Dengan kata lain, bisa saja puisi anak Medan itu berlandaskan teori tersebut. Tapi, setelah terbit dan saya perhatikan dengan seksama, ternyata sulit juga diterima. Malah, ini menjurus plagiat.

Saya coba membela diri lagi. Saya katakan pada diri saya: puisi itu tercipta karena terinspirasi secara berlebihan. Tapi, kalimat khas milik Kahlil begitu telanjang dipindahkan oleh anak Medan itu. Dia hanya mengganti persona ‘mu’ pada Kahlil menjadi ‘ku’ pada sajaknya. Fiuh.

Satu lagi yang membuat saya shock, sajak Kahlil tentang anak sudah sering kali saya kutip untuk lantun. Tapi, kenapa ketika meloloskan sajak karya anak Medan itu saya seperti lupa ingatan? Apakah ini karena saya terlalu percaya pada mereka yang mengirimkan karya? Entahlah…

Saya harus akui, soal plagiatisme memang sangat sulit dilawan. Cukup banyak kasus yang telah terjadi. Beberapa redaktur lain pun telah jadi korban. Kali ini mungkin giliran saya. Ya, saya terima itu. Seperti saat ini, saya sedang makan bubur ayam Cirebon. Pertanyaannya, mungkinkah yang saya makan ini juga buah dari plagiatisme?

Maksud saya begini, bubur yang terasa hambar karena lidah saya lagi malas mengecap rasa kan katanya berasal dari Cirebon? Nah, mungkinkah bubur ini jiplakan dari bubur asli Cirebon yang terkenal itu? Sulit juga saya ambil kesimpulan, masalahnya ini sangat luas. Apalagi, soal makanan yang berlabel daerah cenderung tidak dipatenkan. Dia merupakan produk massal. Tercipta melalui proses panjang. Jadi, siapapun bisa mengklaim. Ayolah, berapa rumah makan Padang di Jawa sana yang pemiliknya bukan orang Minang?

Persis dengan warung bubur ayam Cirebon, beberapa langkah dari tempat saya makan ini ada juga warung bubur ayam: namanya warung bubur ayam Jakarta. Hahahahaha.

Tapi begitulah, selain fisik tidak fit, bubur ayam makin tak nikmat karena masalah plagiat memang menghantui saya. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Saya kecewa dengan ‘penyair’ yang saya percayai. Dan, saya ingin Anda masih percaya dengan koran ini. Itu saja. (*)

Tuan Rumah Wahidin Buka Peluang

Libala SMA Zona Medan 2012

MEDAN-Tuan rumah Wahidin membuka peluang melaju dari grup B dengan membungkam SMA Santo Thomas 1, 71-10 pada laga perdananya di Liga Basket Pelajar (Libala) tingkat SMA putra zona Medan 2012 di GOR Pradipa Medan, Sabtu (24/3) kemarin. Langkah itu diikuti Sutomo 2 yang menang dramatis atas SMA Bodhicitta 48-30.

Dari grup C, SMA Husni Thamrin dan SMA Sultan Iskandar Muda mencatat awal yang baik. SMA Husni Thamrin menundukkan SMAN 4 Medan 33-24. Sementara SMA Sultan Iskandar Muda menekuk SMA WR Supratman 52-43.

Duel Wahidin dan Santo Thomas 1 berlangsung timpang. Sejak awal tim besutan Hidayat Natasasmita ini langsung tancap gas. Torehan 22 angka membuat Humbed dkk meninggalkan Santo Thomas 1 yang hanya mampu mengoleksi 2 angka. Produktivitas Santo Thomas 1 tak juga membaik di kuarter berikutnya. Hanya menambah dua angka, sementara Wahidin semakin jauh memimpin 37-4.

Dua kuarter tersisa, Wahidin tak mengendurkan agresifitasnya dengan terus menambah perolehan angka hingga akhirnya mengakhiri laga dengan 71-10.
Gelaran Libala zona Medan 2012 ini merupakan zona ketiga setelah sebelumnya digelar di Pematang Siantar dan Tanjung Balai. 14 tim putra akan bertarung memperebutkan predikat terbaik hingga 2 April mendatang.

Menurut Kabid Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) Perbasi Sumut, Herijanto, gelaran di Medan kali ini akan digelar di dua tempat. Grup  A yang dihuni empat tim digelar di Lapangan basket Sutomo 1 sementara Gruop B dan C digelar di GOR Pradipa Perguruan Dr.Wahidin.
“Kita gelar di dua tempat. Mengingat pesertanya cukup banyak 14 tim putra. Nantinya juara di Medan akan diadu dengan juara-juara dari daerah lain. Pembukaan di GOR Pradipa besok (hari ini-red),” ujarnya.

Mengisi Grup A, SMA Wiyata Dharma, Harapan Mandiri, SMAN 2 Medan, dan tuan rumah Sutomo 1. Sementara Grup B dihuni tuan rumah Wahidin, Santo Thomas 1, Bodhi Cita, Sutomo 2, dan Methodist 2. Grup C akan bertarung Husni Thamrin, SMAN 4 Medan, Sultan Iskandar Muda, WR Supratman, dan Hang Kesturi. Laga penyisihan.antinya dua tim teratas di grup akan maju ke babak penyisihan berikutnya dengan sistem grup.
Sebelumnya di zona Pematang Siantar dijuarai SMA Sultan Agung Siantar. Sementara di Tanjung Balai sebagai kampiun SMA Sisingamangaraja Tanjung balai. Untuk dua zona berikutnya Lubuk Pakam akan digelar 2-4 April mendatang. Sementara zona Binjai dan Langkat digelar pada 6-8 April mendatang.
“Babak grandfinal menunggu juara seluruh zona. Kemungkinan sehabis Ujian Nasional,” kata pria yang akrab disapa Tekpeng ini. (mag-18)

SMK Mulia dan SMP Budi Agung Kampiun

Futsal Piala Wali Kota Medan

MEDAN- SMK Mulia dan SMP Budi Agung menjuarai Medan Futsal Competition 2012 memperebutkan piala Wali Kota Medan setelah tampil perkasa di final, Sabtu (24/3) kemarin di Cemara Sport Centre. SMK Mulia berpesta gol ke gawang SMAN 13 B dengan skor telak 9-3 sementara SMP Budi Agung memupus harapan SMP Muhammadiyah 6 Belawan dengan skor tipis 5-4.

Manajer tim, Drs H AE Siregar menyambut suka cita kemenangan timnya. “Ini berkat kerja keras anak-anak dan berkat persiapan kita yang matang. Kita bangga bisa menjadi juara di turnamen yang diikuti seratusan peserta ini,” ujarnya.

Sebelum menggelar semifinal dan final sekaligus, Medan Futsal Competition 2012 sempat libur sepekan. Rehat sepekan dimanfaatkan untuk memulihkan stamina pemain. Tak terkecuali SMK Mulia yang tampil sangat prima pada duel kontra SMAN 13 Medan B.

Duel berlangsung timpang. Zulfikar cs dengan mudahnya menerobos pertahanan lawan. Benar saja, lima gol diceploskan hingga jeda. Sementara SMAN 13 Medan B hanya mampu menceploskan satu gol.

Di babak kedua, tim besutan Syahrial Onces itu semakin tak terbendung. Empat gol tambahan diceploskan dan mengakhiri asa SMAN 13 Medan B yang hanya mampu menambah dua gol. Gol-gol kemenangan SMK Mulia lahir lewat Zulfikar, Peri Ardiansyah, Yogi Pratama dan Ridwan dengan masing-masing koleksi dua gol. Dilengkapi satu gol dari Basrial.Sukses itu semakin lengkap dengan gelar best player tingkat SMA yang menjadi milik Zulfikar Lubis.

Sebelumnya tempat ketiga dihuni oleh SMK Multi Karya yang menundukkan SMA N 13 A dengan skor 2-1.

Di kategori Pelajar SMP, SMP Budi Agung berhasil menjadi juara pertama setelah menekuk SMP Muhammadiyah 6 Belawan dengan skor 5-4. Juara ketiga diperoleh SMP N 2 Medan yang menaklukkan SMP N 1 Medan dengan skor 3-1. Pemain SMP Budi Agung, Edo Nugroho tampil sebagai pemain terbaik.
Turnamen ditutup Kepala Dinas Pendidikan kota Medan, DR. Rajab Lubis sekaligus penyerahan piala bergilir Wali Kota Medan. Selanjutnya ia berpesan agar-agar even-even futsal untuk pelajar digalakkan karena bernilai positif. “Ini hal positif yang harus tetap dilakukan, kedepannya Medan menjadi pusat pengembangan futsal di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Ketua Panitia pelaksana Medan futsal competetion 2012, Auliandri mengatakan adanya turnamen futsal ini dapat memotivasi para pelajar untuk berkembang, khususnya dalam bidang olahraga. Dia juga mengatakan turnament ini merupakan pembinaan pemain usia dini. “Turnament ini adalah pembinaan pemain usia dini,itu sebabnya kita cuima mengikut sertakan pemain kelas 1 dan 2 dari SMP dan SMA. Kedepannya kita akan terus lakukan pembinaan pemain futsal asal Sumut agar dapat berprestasi ditingkat Nasional,” pungkasnya. (mag-18)

Antisipasi Demo, Laga PSMS Ditunda

MEDAN- Demonstrasi menentang kenaikan BBM per 1 April mendatang yang terjadi hampir di semua kota besar di Indonesia, mempengaruhi jadwal pertandingan PSMS versus PSPS.

Usai melakukan rapat alot bersama jajaran pihak keamanan Polda Sumut, CEO PSMS Idris menuturkan, dengan berat hati manajemen harus menunda pertandingan tersebut. “Kita sudah bicarakan. Hasilnya, pertandingan harus ditunda. Dan direncanakan kembali digelar Selasa (27/3),” ungkapnya, Sabtu (24/3).

“Namun, pada Selasa (27/3) itu, kita tak tau apa masih bisa ditayangkan secara live apa tidak. Karena ANTV kan sudah merencanakan hal itu jauh-jauh hari. Jadi kalau ditunda, dan jika ditayangkan live, tentu akan bentrok ke acara hari berikutnya,” tambah Idris.
Tapi menurut Idris, masih belum ditutup kemungkinan pertandingan tersebut kembali digelar secara live.

“Kita masih menunggu keputusan dari mereka (ANTV). Kalau memang acara pada hari Selasa (27/3) itu bisa digeser, maka pertandingan ini mudah-mudahan akan bisa ditayangkan lagi,” katanya.

Adapun pertimbangan kenapa pertandingan ini harus ditunda, karena pihak Polda Sumut merasa lebih utama mempersiapkan tenaga keamanan untuk aksi demonstrasi tersebut.

“Mereka (Polda Sumut) tentu lebih memprioritaskan untuk fokus menangani masalah yang lebih besar. Dan kita bisa memaklumi. Kita juga tak mau pertandingan yang kita gelar tanpa dikawal pihak keamanan. Jadi, kita harus rela menunda pertandingan ini,” jelas Idris.
Selain itu, menurut Idris, PSMS memiliki jumlah penonton yang cukup membludak.

“Kita juga tak mau penonton kita menambah kekisruhan yang terjadi. Bisa saja, penonton akan semakin memperkeruh suasana dengan membuat macet di berbagai titik jalan kota,” ujarnya.

Sementara, pelatih sementara PSMS Suharto AD mengaku dengan ditundanya pertandingan tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi mental pemain.
“Namun, karena hanya ditunda sehari, tentu tak akan begitu memperngaruhi. Tinggal kita mensiasatinya agar pemain bisa lebih tenang,” pungkasnya.
Poldasu dalam laporannya menegaskan bakal meninjau soal pertandingan itu.

“Kita lihat dulu situasi hari senin mendatang, kalau memungkinkan akan tetap berlangsung pertandingannya,” ungkap Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Sumut, Irjen.Pol Wisjnu Amat Sastro, Sabtu (24/3).

Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kota Medan, Syaiful Bahri mengatakan pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan pihak penyelenggara dan pihak Panitia dari ISL.

”Kita coba berkordinasi lah dulu dengan pihak penyelenggara dan pihak Panitia.” katanya.(saz/gus)

Decky tak Tergantikan

RENCANA PSMS IPL merombak skuad di putaran kedua kemungkinan tak hanya menyentuh pemain, tapi juga posisi penjaga gawang. Namun, Pelatih PSMS Fabio Lopez memastikan, posisi kiper PSMS belum tergantikan alias aman.

Skuad Ayam Kinantan saat ini memiliki tiga penjaga gawang, yakni Decky Ardian Cahyadi, Irwin Ramadhana dan Ary Manurung.
Dari 11 pertandingan yang digelar di putaran pertama, Decky kerap menjadi pilihan PSMS sebagai starter dan bermain sepanjang babak atau lebih dari 990 menit.

Decky yang dinilai performanya meningkat dari hari ke hari, tetap dipastikan sebagai starter. Fabio Lopez mengatakan, pihaknya tidak akan mengganti posisi Decky dengan kiper baru mana pun.

“Kita tak ada bermaksud mengganti Decky, dia tetap bersama PSMS. Kita tak ada niat mengganti kiper,” ungkapnya, Sabtu (24/3).
Komentar tersebut sekaligus menampik spekulasi, bakal ada kiper rekrutan baru bagi PSMS di putaran kedua.

“Decky boleh diganti, kalau Buffon (kiper Juventus) yang datang menggantikannya,” ujar pelatih asal Italia itu setengah bercanda.
Bersama PSMS, Decky memang cukup sering melakukan penyelamatan gemilang. 20 gol telah bersarang ke gawangnya, namun, Fabio meyakini, di putaran kedua, performa PSMS yang semakin membaik akan seiring dengan kemampuan kiper kelahiran Malang 29 tahun yang lalu itu.

Sementara pelatih kiper PSMS Syahril Nasution menyatakan, terus berupaya memperbaiki performa ketiga kiper yang dilatihnya.
“Kiper yang bagus adalah yang paling sedikit melakukan kesalahan sendiri saat mengamankan gawangnya. Dan itulah yang saya terus benahi pada ketiga kiper, sekaligus memperbaiki teknik, apa yang harus dilakukan, dan tidak untuk dilakukan,” tuturnya.

Menurutnya, tiga kiper PSMS saat ini memiliki kemampuan yang baik. Sementara mentalitas bertanding menurutnya bisa diperbaiki.
Sementara, di sisi lain, Fabio berharap, pemain-pemain baru yang datang ke PSMS merupakan pemain yang berperangai baik seperti skuadnya yang ada sekarang.
“Saya tidak akan mentolerir pemain yang datang berpotensi merusak suasana kondusif di PSMS,” tandasnya. (saz)

Film Mata Tertutup

Menolak Radikalisme Agama

Salah satu ilmu pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya ialah melalui layar lebar alias film, dengan cara inilah SET Film dan MAARIF Production mempersembahkan Mata Tertutup, sebuah film karya Garin Nugroho.

Film ini merupakan salah satu bentuk dari rentetan Program Pendidikan Kewarganegaraan untuk memperkuat Karakter Bangsa yang dipersiapkan oleh MAARIF Institut.

Mata Tertutup merupakan rangkaian dari Tiga kisah dalam satu film yang dirangkai menjadi satu cerita panjang. Tentang wajah kehidupan beragama masyarakat Indonesia yang ditafsirkan sedang galau. Potret abu-abu tentang kehidupan agamis yang abangan sampai memetamorfosa pemeluknya menjadi fundamentalis yang salah arah. Mengajak kita yang merasa beragama mempertanyakan lagi, “Sudah benarkah saya memahami agama yang saya anut?”

Alfin (Kiki The Potters), Momon (Bryan McKenzie), Farhan (Zacky Zimah), dan Juned (Ajun Perwira) adalah empat sekawan yang hidup bersama di satu rumah kontrakan. Mereka sama-sama anak rantau dan berkuliah di kampus yang sama. Masing-masing punya sifat dan kelakuan yang berlainan. Meskipun begitu mereka selalu tolong-menolong tanpa pamrih (kecuali kepepet). Selain Farhan yang alim, tiga yang penghuni yang lain adalah sekelompok playboy yang ingin mendapatkan cewek cantik dan kaya.

Farhan mencoba mendekati Aisyah, gadis berkerudung di kampusnya. Mendengar ayah Aisyah sakit, Farhan lantas ingin memberi bantuan finansial. Sayangnya, untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri Farhan sering kesusahan. Ia pun jadi makin putus asa setelah tahu Aisyah dipersunting seorang tua untuk menjadi istri kelimanya dengan imbalan biaya operasi ayahnya ditanggung sepenuhnya.

Sedang Juned, playboy yang sok kaya, mengejar gadis model di kampus. Setelah berbohong tentang kekayaan orangtuanya, Juned pun diterima sebagai pacar gadis model tersebut. Namun, biaya pacaran yang melambung tinggi, membuat Juned akhirnya menyerah.

Satu ketika, empat sekawan ini menolong wanita cantik dan seksi bernama Sheila (Tya Restyana) yang sedang diganggu preman. Sheila malam itu memohon tinggal sementara di rumah mereka. Sheila pun bercerita tentang nasibnya yang malang. Ia merasa telah ditipu oleh orang yang menjanjikan pekerjaan setibanya di kota. Sewaktu di desa, Sheila dijanjikan akan bekerja jadi karyawan pertokoan, tapi malah didesak-desak bekerja sebagai pelacur. Padahal, Sheila bertekad mengumpulkan uang demi membantu panti asuhan tempatnya dibesarkan. Farhan, Juned, Momon dan Alfin pun tersentuh. Mereka sepakat untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin guna membantu tujuan Sheila.

Meskipun masih berstatus mahasiswa, dan karakterisasi Farhan yang alim, pemilihan jalan keluar untuk mendapat uang dalam waktu singkat dengan cara menggandakan uang terasa janggal dan dipaksakan. Hal tersebut bertolak belakang dengan yang telah mereka lakukan di awal cerita. Untuk bertemu dengan dukun pengganda uang, mereka harus menempuh perjalanan menantang. Dan sekali lagi, ketemu pocong.

Satu celah besar kegagalan film ini dalam menyajikan sajian yang menarik adalah karena penggarapannya yang dipaksakan meniru format Warkop DKI, namun hasilnya tak selucu yang diharapkan. Komedi satir yang dihadirkan adalah komedi yang membahas kekurangan fisik, sehingga terkesan garing dalam beberapa adegan. Beberapa adegan malah diletakkan tanpa tujuan yang jelas dan jadinya kurang menyatu dengan keseluruhan cerita. (net/jpnn)

Satu Lagi dari Garin

Film Mata Tertutup, sebuah film Indonesia yang paling tegas menyuarakan sikap anti fundamentalisme agama, beredar di jaringan Bioskop 21/XXI mulai Kamis (15/3) lalu.

Film karya terbaru garapan Sutradara Garin Nugroho ini, akan menyapa penggemar film di tanah air setelah melakukan “world premiere” di Festival Film Internasional Rotterdam (IFFR) di Belanda, pada akhir Januari lalu dan diputar dalam peringatan Hari HAM Se-Dunia, pada awal Desember lalu di Pusat Kebudayaan Erasmus Huis oleh Kedutaan Belanda.

“Penayangan film Mata Tertutup ini, dilakukan dua minggu lebih awal dari pemutaran di Museum Nasional Singapura yang akan dilakukan tanggal 31 Maret mendatang. Kami bersyukur film ini mendapat sambutan menggembirakan dari penikmat film di mancanegera. Kami berharap mendapatkan apresiasi serupa dari masyarakat Indonesia,” ujar Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute yang menjadi produser dalam produksi film ini di Jakarta.

Selain di Jakarta, film Mata Tertutup juga diputar di Tangerang, Bekasi, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Makasar, Pekan Baru, Batam, Medan, Malang, Bogor dan Solo. Film Mata Tertutup, menurut Fajar, mengangkat persoalan fundamental dalam kehidupan keindonesiaan hari ini, yaitu nasionalisme di kalangan generasi muda yang kian terkikis.

Film yang diangkat dari hasil penelitian MAARIF Institute ini, menceritakan remaja yang menjadi korban Negara Islam Indonesia (NII), Jemaah Islamiyah, dan seorang ibu yang harus kehilangan anaknya. “Film ini ingin menyadarkan bangsa ini bahwa persoalan negara dan agama tidak bisa dilihat secara hitam dan putih. Anak muda harus cerdas dalam memahami realitas. Jika tidak, mereka bisa menggali kubur masa depannya bahkan atas nama agama,” ujar Buya Syafii Ma’arif saat dihubungi.

Bagi Garin sendiri, ini merupakan film yang tidak biasa dengan proses produksi tidak biasa. “Kami ingin melihat masa depan Pancasila dan Kebhinekaan Indonesia dengan menyodorkan fakta-fakta yang justru mencemaskan,” ujarnya. (net/jpnn)

DPD PKS Kota Medan Gelar Mudzakarah Du’at

MEDAN- Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kota Medan menggelar Mudzakarah Du’at. Pelaksanaan itu bertujuan untuk menyatukan persepsi para da’i di Kota Medan dalam menyebarkan kedamaian dan ketentraman.

Dalam kegiatan itu, ada sekitar 50 da’i di Kota Medan. Pelaksanaan itu dibungkus dalam tema: “Dengan Dakwah yang Sejuk dan Proaktif untuk Menyebarkan Damai Berkah bagi Masyarakat Kota Medan yang Madani dan Religius.”

Pelaksanaan itu digelar DPD PKS Kota Medan, Sabtu (24/3) di Hijir Ismail, Asrama Haji Medan. Pelaksanaan digelar bertujuan untuk memberikan pembelajaran dan mengembangkan pendidikan serta penambahan wawasan kepada da’i.

Ketua DPD PKS Kota Medan, H Azhar Arifin Lc mengatakan, puluhan da’i ini dikumpulkan dan diberikan pendidikan sebagai wujud menambah wawasan, kemudian menyamakan persepsi setiap umat dalam menghadapi kebijakan seorang pemimpin bangsa.

Dia berpendapat, puluhan da’i ini dikumpulkan karena para da’i inilah yang selalu berinteraksi langsung dengan masyarakat, sehingga bisa dibayangkan setiap harinya para da’i memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui berbagai mimbar.

“Jadi kami bertugas membantu pemerintah dalam hal membentuk persepsi postif terhadap penyelenggaraan negara,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua Panitia yang juga Koordinator Bidang Pembangunan Umat DPD PKS, Hanafi mengatakan, pertemuan para dai ini bersikap diskusi dalam membahas beberapa tema penting yakni, Tsaqofah da’iyah (pemahaman wawasan), Syumuliatul Islam (universalitas agama Islam), problematika umat, Ghoznul Fikri (perang pemikiran) dan urgensi pendidikan. “Tujuan besarnya tetap pendidikan, sekaligus memperkuat silaturahim diantara para dai,” sebutnya. (ril)

April, ISL U-21 Diputar

Klub Dibagi Lima Grup

JAKARTA – Kompetisi sepak bola usia muda di tanah air bakal semakin bergairah. Itu seiring diputarnya kembali kompetisi Indonesia Super League (ISL) U-21 mulai 1 April mendatang di lima kota berbeda.

Pada tahun ini, peserta kompetisi junior ini bertambah setelah beberap tim seperti Gresik United (GU), Persita Tangerang, dan PSAP Sigli memastikan diri turut serta. Alhasil, total klub yang akan mengikuti kompetisi ISL U-21 berjumlah 19 klub dan terbagi di lima grup berbeda.

“Kami memang memberikan porsi untuk klub yang main di Divisi Utama. Itu bagus karena mereka sudah mengembangkan jenjang pembinaan sebagai salah satu instrumen syarat klub profesional,” kata CEO PT Liga Indonesia (PT LI) Joko Driyono, kemarin (24/3).

Nah, lima stadion yang akan menjadi lokasi pertandingan adalah Stadion Krakatau Steel, Cilegon (kandang Persita), Kanjuruhan (Arema), Aji Imbut (Mitra Kutai Kartranegara), Teladan (PSMS Medan), Mandala (Persipura Jayapura).

Pembagian grup menjadi lima ini  berbeda dengan penyelenggaraan pada 2011 yang digelar di tiga wilayah. Pemekaran ini menurut Joko sengaja dilakukan sebagai imbas dari kondisi persepak bolaan nasional sekaligus untuk melakukan efisiensi.

Meski sistem pertandingan digelar ala home tournament, PT LI ternyata menerapkan kompetisi penuh. Di mana, setiap tim akan melakoni laga layaknya home and away, sehingga masing-masing tim di setiap grup akan saling bertemu dua kali.

“Semangatnya tetap untuk bisa menggelar laga home and away. Tapi, karena beberapa pertimbangan, system pertandingannya demikian,” terang alumnus ITS, Surabaya tersebut.

Nantinya, dari lima grup yang ada, akan dipilih masing-masing juara grup dan tiga runner up terbaik untuk lolos ke babak delapn besar. Rencananya, dalam babak delapan besar grup akan dibagi kembali dalam dua grup berbeda. Untuk hadiah, tak ada perubahan dari penyelenggaraan tahun lalu. Juara berhak atas hadiah sebesar Rp 100 juta, runner up Rp 75 juta, dan peringkat ketiga Rp 50 Juta. (aam/jpnn)