Home Blog Page 13792

Facial Laser Mengangkat Sel Kulit Mati

Mendengar kata facial laser, apa yang mucul dalam pikiran kita?, harga mahal yang hanya mampu dijangkau kalangan menengah ke atas. Tapi tidak begitu adanya. Saat ini, berbagai salon atau rumah kecantikan kelas menengah bawah juga telah melengkapi fasilitas facial laser.

Perbedaan pada facial biasa adalah dengan pemakaian laser untuk menyempurnakan hasil treatment pembersihan wajah. Antara lain, mampu  membuang lapisan luar kulit yang berlebihan dan pengeluaran jerawat batu. Kemudian, memperlentur lapisan kulit. Sehingga, kulit wajah lebih kenyal.
Proses treatmennya pun tidak beda jauh dengan facial pada umumnya. Dimulai dengan pembersihan wajah, urut wajah, pembersihan komedo, masker dan lainnya. ‘’Sebelum pemakaian facial laser, wajah terlebih dahulu dibersihkan dengan susu pembersih, setelah kotoran atas kulit wajah terangkat, wajah pun diurut perlahan untuk menambah rileks kulit, dan dilanjutkan dengan penguapan, sehingga pori-pori kulit wajah terbuka,”jelas Nita dari Geby Salon yang teletak dijalan HM Joni Medan.

Penguapan, sambungnya, memudahkan pengangkatan komedo dan jerawat batu. ‘’Karena penguapan akan membuka pori-pori wajah,” ujar Nita.
Saat pori-pori terbuka, dilanjutkan dengan proses pencarian komedo dan calon jerawat atau jerawat yang membengkak. “Untuk tahap awal, akan dicari dengan cara manual, kita melihat dan mengelus wajah, apakah ada calon jerawat agar segera dimatikan,” tambah Nita. Setelah pencarian manual, dilanjutkan dengan sedot lemak wajah, atau lebih tepatnya komedo.

Saat wajah sudah bersih, dilanjutkan dengan proses Laser. “Selain untuk menghaluskan, laser juga berfungsi untuk meredam pembengkakan wajah. Kan biasanya kulit kita akan membengkak saat melakukan facial,” tambah Nita. Setelah laser, wajah akan diberi masker yang berfungsi untuk mengencangkan kulit wajah. Setelah didiamkan selama 15 menit, atau saat masker sudah mulai kering, wajah akan diurut sedikit lebih ringan untuk menambah rileks kulit wajah.

Pada umumnya, disalon untuk kelas menengah atas ini, facial laser akan dikenakan biaya Rp55 ribu hingga Rp70 ribu. Harga terjangkau, dan hasil maksmal. (ram)

Jadi Blogger, Saling Share dan Menambah Teman

MEDAN- Banyak  hal bermanfaat yang bisa diperoleh dengan membuat blog.  Blogger sendiri merupakan sebutan terhadap orang yang menulis di blog tersebut. Sebagai tempat bernaung dan menyatukan visi dan misi para blogger, maka dibentuklah Komunitas Blogger Sumut.

“Komunitas Blogger Sumut sudah lama berdiri, dengan anggota yang mencapai puluhan orang. Tujuan dibentuknya komunitas ini sebenarnya sebagai wadah untuk mencurahkan inspirasi seseorang yang peduli dengan kampung halamannya dengan cara menulis, mempromosikan potensi daerah yang belum dikenal secara umum dan juga menjadi mitra kerja yang professional antara sesama anggotanya.

Di dalam blog sendiri juga ada berbagai fasilitas seperti pengunjung bisa meninggalkan komentar, ada sindikasi dengan menggunakan RSS feed, dan lainnya. Selain itu, ada banyak pilihan di internet, dan beberapa layanan yang menyediakan tempat menulis blog secara gratis, seperti wordpress dan blogspot.

Dalam komunitas blogger semua anggotanya mayoritas penulis. Disini, kita bisa sharing ilmu dan mengenal banyak orang. Isi blog juga bermacam-macam. Ada yang sekedar curhat, ada yang menulis soal cerita fiksi, bahkan ada juga anggotanya yang sekedar memuat foto di dalam blog tersebut.
Setiap anggota Blogger Sumut juga berperan aktif dalam mempromosikan potensi daerahnya masing-masing. Selain itu, mendirikan taman bacaan bagi semua pihak, terutama anak-anak kurang mampu dan melakukan Blogger Goes to School untuk berbagi ilmu masing-masing anggota.

Biasanya kita ngumpul sesama anggota Blogger Sumut dan membahas event apa yang akan dilakukan. Kita juga membuat pelatihan menulis blog yang baik, ada juga lomba siapa yang membuat posting paling bagus dan nantinya diberi domain. Terakhir kali kita juga membuat lomba menulis mengenai Pariwisata Sumut di blog.

Saya sendiri, mulai bergabung di Komunitas Blogger Sumut sejak tahun 2008 lalu. Saya mendaftar secara online untuk menjadi anggota. Awalnya memang suka nulis dan sering membuat curhat di dalam blog. Ada kenikmatan tersendiri saat tulisan kita dimuat di dalam blog. (*)

Wirda Fitriani
Anggota Komunitas Blogger Sumut
Bekerja di Bagian Sistem Suport IT Consultan RSUD dr Pirngadi Medan

Tunangan dengan Saudara Tirinya

Bobbi Kristina, Anak Whitney Houston

Anak mendiang Whitney Houston, Bobbi Kristina Brown diam-diam ternyata sudah bertunangan dengan saudara tirinya, Nick Gordon.  Hal tersebut mengejutkan teman-teman Bobbi.

Menurut sumber TMZ, Minggu (18/3), Bobbi menyampaikan perihal pertunangannya kepada teman-temannya di sebuah restoran. Setelah Bobbi menyampaikan kabar tersebut, mereka pun langsung terkejut dan sempat tak percaya dengan hal itu. Mereka punya anggapan bahwa pertunangan itu terjadi karena Bobbi dan Nick merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama kehilangan sosok ibu mereka, Whitney Houston yang meninggal pada Februari lalu. Bobbi yang lahir dari pernikahan Whitney dengan Bobby Brown itu sudah tinggal bersama dengan Nick di rumah Whitney di Atlanta. Walaupun pria berusia 22 tahun itu tak pernah diadopsi oleh Whitney, namun Nick sudah dirawat oleh pelantun ‘I Will Always Love You’ itu sejak ayah Nick masuk penjara. Sedangkan ibu kandung Nick tak mampu merawatnya.

Sejak kematian Whitney Houston, sang anak Bobbi Kristina Brown diisukan memiliki hubungan yang tidak wajar dengan kakak angkatnya Nick Grodon. Dalam beberapa kesempatan, keduanya tertangkap kamera paparazzi berjalan berduaan serta bermesraan layaknya sepasang kekasih. Sehari setelah interview dengan Oprah Winfrey, Bobbi  terlihat asyik berduaan dengan sang kakak angkat Gordon  di kedai Starbucks di Atlanta. Yang paling terbaru, mereka terlihat berpelukan, berpegangan tangan dan bahkan berciuman sambil membawa pizza di Atlanta tanggal 13 Maret silam.  (bbs/net)

Nikita Mirzani Berbagi dengan Penderita Kanker

Artis Nikita Mirzani ternyata tak selalu identik dengan keseksian dan kenakalan. Ia pun bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan.

Di ulang tahunnya yang ke-26, Nikita tampak merayakannya bersama anak-anak penderita kanker. Ia juga terlihat begitu hangat menghibur mereka.
Sesekali Nikita tak kuasa menahan rasa sedihnya. Namun, hal itu tak ingin diperlihatkannya kepada anak-anak di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia yang berlokasi di Jalan Anggrek Neli, Jakarta Barat, Sabtu (17/3).

“Senang, tapi kasihan juga. Di usia seperti mereka kan harusnya main-main dan sekolah. Tapi tidak bisa mereka lakukan karena sakit berat. Saya suka banget melihat anak kecil. Capeknya hilang bisa melihat anak-anak kecil,” ungkapnya.

Di hari ulang tahunnya itu, ia pun seperti mendapat kado berharga dari anak-anak tersebut. Namun, ada yang selalu dirindukannya. Siapa itu? “Dulu kalau ulang tahun pasti ada Mama, dan suka diberi kado. Tapi setelah Mama nggak ada semoga kadonya kesehatan saja,” kisahnya.
Di usianya yang  ke-26 tahun, Nikita  mengaku belum mempunyai seorang pendamping.

Meski begitu, Nikita tak terlalu memusingkan hal tersebut. Ia pun lebih memilih fokus berkarier ketimbang memikirkan jodoh. “Saya masih single,” tuturnya.

Beberapakali ia memang dikabarkan tengah dekat dengan seorang pria. Namun, tampaknya asmaranya tak semulus karier artis yang kerap tampil seksi itu. Sampai saat ini, ia pun masih menjomblo.

Nikita Mirzani  lahir  di Jakarta 17 Maret 1986. Dia pertama kali bermain di sinetron utamanya Lihat Boleh, Pegang Jangan.  Si gadis cantik ini disebutkan mengawali karir sebagai peserta ajang mencari jodoh TAKE ME OUT yang ditayangkan di Indosiar. Karena wajahnya yang menarik, dia ditarik menjadi model salah satu sampul majalah. Sejak itu, namanya semakin dikenal oleh masyarakat. Nikita Mirzani juga mulai menerima banyak tawaran menajdi model dalam berbagai bidang.

Belakangan, nama Nikita Mirzani semakin menjadi sorotan publik akibat berbagai peristiwa kontroversial yang menyangkut dirinya. (bbs/net)

Perampok CIMB Medan Ditembak Mati di Bali

Dibekuk di Dua Lokasi OLEH Densus 88

DENPASAR-Buronan perampokan CIMB Medan berhasil ditembak mati di Bali. Tercatat lima pelaku teror tewas di tempat tadi malam setelah baku tembak dengan Densus 88 di dua lokasi berbeda di Denpasar.

Mabes Polri mengumumkan penyergapan terhadap sejumlah pelaku yang diduga terkait jaringan teroris di Bali. “Telah dilumpuhkan 5 pelaku kejahatan,” kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar dalam siaran pers, Minggu (18/3).

Penyergapan terhadap pelaku jaringan teror itu dilakukan di dua lokasi. Penyergapan dilakukan tadi malam. “Lokasi pertama di Jl Gunung Sapotan, Denpasar dan lokasi kedua di Jl Danau Poso, Sanur, Denpasar,” jelas Boy.

5 Pelaku yang tewas dikabarkan ada yang buronan perampokan CIMB Niaga Medan beberapa waktu lalu. Adalah HN (32) asal Bandung, pelaku yang dimaksud. Bersama HN, ada AG (30) warga Jimbaran yang disergap di kawasan Gunung Soputan. 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso. “Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Niaga di Medan. Semua tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penangkapan karena melakukan perlawanan dengan senjata api pistol,” terangnya.

Dari para pelaku, polisi menyita dua pucuk senjata api jenis FN. Satu pucuk ditemukan di TKP Saputan dan satu lainnya di Danau Poso. Selain itu, disita pula satu magasen, 48 butir peluru caliber 9 mm, dan cebo penutup wajah. “Para pelaku telah dipantau dalam sebulan terakhir,” papar Boy.
Mereka diduga hendak melakukan serangkaian aksi kriminal di Pulau Dewata itu. “5 pelaku kejahatan akan melakukan aksi teror dan perampokan money changer juga toko emas di beberapa tempat di Bali,” jelas Boy Rafli.

“Para pelaku telah diikuti, mereka melakukan survey beberapa tempat antara lain Toko Mas Uluwatu, Bali money changer, dan cafe Lavida Loca. Semua tersangka meninggal dunia,” tambah Boy.

Setelah menembak mati 3 teroris di Sanur, Densus 88 Antiteror menembak mati dua teroris lagi di Jl Gunung Soputan, Denpasar. Di TKP penembakan terdapat ceceran darah. Menurut saksi mata, ditembak mati dua orang teroris di Jl soputan No 2 Banjar Abiantumbul Denpasar, pukul 21.30 WITA, Minggu (18/3). Kronologis penembakan, awalnya ada orang jalan dari lampu merah. Setelah berupaya lari ditembak di depan bengkel oleh Densus 88 Antiteror. Terdapat ceceran darah dan bekas ditarik dibawa ke mobil. Peristiwa terjadi sangat cepat, kurang dari 5 menit.

TKP sudah ditutup dengan police line. Brimob menjaga ketat lokasi penembakan. Penembakan dilakukan oleh puluhan anggota Densus Mabes Polri yang melakukan penggerebekan TKP. Puluhan Brimob, Polsek Denpasar Selatan melakukan penjagaan ketat TKP.

Puluhan warga Sanur juga memadati TKP. Mereka ikut menjaga lokasi dan memeriksa setiap orang yang melintas di kawasan ini “Setiap orang ditanya oleh warga. Di cek KTPnya,” kata seorang warga yang sengaja melihat TKP.

Informasi yang berhasil dihimpun Radar Bali (grup Sumut Pos), saat penyergapan pelaku di kawasan Jalan Danau Poso 99X, Sanur, itu, sempat terjadi balasan tembakan. “Saya sempat melihat adegan penembakan itu dari kejauhan,” papar Ketut Ariawan, sopir taksi Blue Bird, bernomor DK 185 IA semalam, seusai kejadian.

Menurutnya, kejadian berlangsung dengan sangat cepat. Petugas yang sudah bersiaga melakukan penyergapan di bungalow yang masuk kawasan abu-abu itu menghujani tembakan dan dibalas. “Kayaknya, ada juga petugas yang kena,” ujarnya.

Yang jelas, baku tembak itu berlangsung dalam rentetan tembakan. “Mereka tiadak diam saja saat diserbu, tapi membalas,” terang Ariawan, perihal adegan baku tembak yang menyebabkan mereka roboh.

“Saya di lokasi di Danau Poso. Di sini tertembak tiga orang. di Jalan Gunung Soputan dua orang, informasi ini valid dari pihak polisi,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya yang tadi malam berada di lokasi di Jalan Danau Poso.

Arjaya mengatakan, dia mampu masuk ke dalam untuk melihat proses pengangkutan mayat yang diduga teroris tersebut. “Saya masih di dalam, masih sedang bicara. Sebentar lagi saya telepon ya,” ungkap Arjaya sambil mematikan telepon.

Sementara itu, Kelian Banjar Adat Belanjong Wayan Sabra mengatakan sekitar pukul 21.00 ada tiga kali tembakan yang terdengar. “Kami awalnya tidak tahu ada penyergapan, yang kabarnya teroriris. Setelah ada tembakan tiga kali baru saya ke sini (Jalan Danau Poso). Suaranya keras tiga kali..tar..tar..tar, berturut-turut,” ujar Sabra.

Dia mengatakan setelah ada tembakan, situasi ramai. Bahkan polisi juga sangat ramai, dengan jumlah hampir seratus orang. Dia mengatakan beragam polisi, mulai Gegana, Tim Forensik sudah masuk ke penginapan dan kos-kosan milik Pak Losen.
Namun Sabra mengaku tidak bisa masuk, lantaran masih proses steril kawasan penginapan Pak Losen itu. “Yang punya namanya Pak Losen, tempat itu penginapan dan kos-kosan,” ungkap Sabra. (art/pra/dwi/wan/jpnn)

BBM Naik, Medan Harus Kondusif

Wali Kota Medan Gelar Rapat dengan Unsur FKPD

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM menggelar rapat dengan seluruh unsur  Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kota Medan di pendopo rumah dinas Jalan Sudirman Medan, Minggu (18/3) malam.

Dalam pertemuan ini, orang nomor satu di Pemko Medan ini ingin  menjelaskan mengapa Bahan Bakar Minyak (BBM) harus dinaikkan. Penjelasan yang disampaikan itu merupakan hasil pertemuan dengan Wakil Presiden Budiono beberapa hari lalu.
Menurut Wali Kota, penjelasan itu harus disampaikan karena kenaikan harga BBM akan memicu terjadinya  pro dan kontra. Karenanya,  kenaikan itu harus dijelaskan dan disosialisasikan sehingga seluruh masyarakat bisa menyikapinya dengan positif. Hal itu penting agar Kota Medan tetap aman dan kondusif.

“Menyampaikan protes itu sah-sah saja asal disampaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kita tidak ingin kondusivitas Kota Medan ini terganggu akibat adanya protes menyusul terjadinya kenaikan harga BBM,” kata Wali Kota.

Untuk itu, dalam rapat yang dihadiri Wakil Wali Kota Drs H Dzulmi Eldin MSi, Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang, Dandim 0201/BS Letkol Inf Doni Hutabarat, Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Hendro Kiswanto, Sekda Ir Syaiful Bahri, sejumlah pimpinan SKPD, Camat, Koramil dan Kapolsek itu, Wali Kota merasa perlu dibentuknya komitmen maupun sinergitas untuk mengantisipasi kemungkinan hal-hal yang terjadi menyusul kenaikan BBM.

Di samping itu, Wali Kota minta kepada seluruh camat untuk segera konsolidasi dengan lurah. Artinya, camat harus memberi  penjelasan kepada lurah mengapa BBM harus dinaikkan. Setelah itu, lurah memberi penjelasan kepada seluruh kepala lingkungan untuk selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat. Jika sudah mengetahuinya, tentunya  masyarakat tidak akan terpicu melakukan unjuk rasa.

“Jadi camat harus bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kenaikan harga BBM ini,”  ungkapnya.
Selain itu, Rahudman juga menginstruksikan kepada camat untuk terus berkoordinasi dengan Polsek maupun Koramil. Dengan adanya sinergitas yang kuat ini, diharapkan mampu mengeleminir terjadinya pengumpulan massa terkait kenaikan BBM. Karenanya, Wali Kota mengizinkan kapolsek maupun danramil untuk memanggil camat dalam rangka menciptakan kekondusifan.

“Harga mati bagi kita, Kota Medan harus tetap kondusif. Untuk itu Pemko Medan siap mendukung apa yang dilakukan Polresta Medan maupun Dandim 0201/BS dalam mendukung kekondusifan tersebut.  Silahkan menyampaikan pendapat tetapi jangan dengan tindakan anarkis,” tegasnya.
Kepada Kepala Dinas Perhubungan dan Kepala Satpol PP Kota Medan, Rahudman memerintahkan mulai hari ini, Senin (19/3),  ditempatkan sejumlah petugas Dishub dan satpol PP di titik-titik rawan, terutama persimpangan yang acapkali terjadi kemacetan  untuk membantu tugas aparat  kepolisian. Dalam menjalankan tugas tersebut, diharapkan personel yang diturunkan   mampu menciptakan pelayanan  yang baik kepada masyarakat.

Begitu juga dengan Kadis  Pencegah dan Pemadam Kebakaran, Wali Kota minta untuk terus siaga 24 jam penuh. Jika masyarakat membutuhkan tenaganya, layani dengan cepat sehingga masyarakat merasa terlayani dengan baik. Sedangkan  bagi Bakominda, dia juga meminta terus menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Segala kejadian yang terjadi di tengah masyarakat secepatnya dilaporkan guna diambil langkah antisipasinya.
Sementara itu, Kapolresta Medan Kombes Pol Monang  Situmorang  sangat mendukung  instruksi yang disampaikan Wali Kota Medan Rahudman Harahap kepada seluruh camat untuk secepatnya mensosialisasikan kepada masyarakat mengapa BBM harus dinaikkan? Berikan penjelasan itu dengan bahasa yang baik, sederhana dan tegas sehingga masyarakat mudah memahaminya. “Yang membuat Kota Medan ini aman adalah masyarakatnya sendiri,” jelas Kapolresta.

Dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terkait kenaikan BBM, Kapolresta mengatakan, akan menurunkan  dua pertiga dari seluruh personel yang dimilikinya atau sekitar 1.000 personel. Seluruh peronel itu akan ditempatkan di kawasan yang dinilai rawan serta   menjaga SPBU.

Sedangkan Dandim 0201/BS Letkol Inf Doni Huatabarat dalam rapat itu menyampaikan 5 langkah yang harus dilakukan  untuk antispasi terkait kenaikan harga BBM yakni,  melakukan sosialisasi kepada masyarakat, sebab banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengapa BBM harus dinaikkan, cegah kelangkaan BBM, cegah masyarakat untuk ikut dalam unjuk rasa, tingkatkan kewaspadaan  dengan tidak membiarkan orang maupun oknum-oknum untuk memprovokasi masyakat  serta  terus tingkatkan sinergitas. “Kelima langkah ini sudah dijalankan disatuan saya,” ungkap Dandim.

Dari rapat itu, Wali Kota pun menyimpulkan sejumlah langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan BBM seperti mencegah terjadinya kenaikan harga BBM mulai sekarang sampai 1 April mendatang.  Untuk itu, FKPD harus berkoordinasi dengan Pertamina dan pengusaha SPBU. Selanjutnya, melakukan operasi pasar  untuk menekan harga 9 bahan pokok tidak naik menyusul kenaikan harga BBM. Karenanya, Sekda harus segera membentuk tim guna mengenadalikan harga 9 bahan pokok tersebut.

Terkait penyebaran beras untuk warga miskin ( raskin), Wali Kota minta dikontrol sehingga penyebarannya tidak sampai terlambat kepada masyarakat. Serta, terus berkoordinasi untuk mengantisdipasi kemungkinan terjadinya demonstrasi yang disertai dengan tindakan anarkis  terkait kenaikan harga BBM nantinya.(adl)

Dokter Gigi Gadungan Bebas Praktik Empat Tahun

MEDAN-Aksi Sampriadi (40) yang berpraktik sebagai dokter gigi palsu terpaksa berakhir di sel penjara. Pasalnya, aksi yang diduga sudah dilakukannya selama 4 tahun lalu terendus polisi.

Dia pun dibekuk  Reskrim Mapolresta Medan, melalui Tim Reserse Ekonomi dari tempat praktiknya sehari-hari yang diberi nama Praktek Spesialis Gigi Bersama Purnama di Jalan SM Raja Medan No 318,  tidak jauh Kampus UISU pada Jumat (16/3) lalu.

Berdasarkan keterangan Panit Ekonomi Polresta Medan Iptu Alex, awalnya tersangka Sampriadi adalah sales alat-alat kesehatan. Sebelum menjadi dokter gigi palsu di tempat itu, tersangka menekuni pekerjaan sales alat kesehatan selama 6 tahun. “Saat menjadi sales, tersangka selalu memasok alat kesehatan kepada pasangan suami istri yang merupakan dokter gigi, drg Mirion dan suaminya drg Robert,” ujar Iptu Alex.

Dipaparkannya, pasangan suami istri itulah pemilik Praktik Spesialis Gigi Bersama Purnama di Jalan SM Raja tersebut. Kedekatan tersangka dan pasangan suami istri itulah membuka peluang bagi tersangka untuk belajar ilmu praktik kesehatan gigi. “Bahkan, diduga, tersangka menjadi ‘asuhan’ pasangan suami istri itu untuk bisa menjadi dokter gigi palsu yang andal,” tuturnya.

Tepat pada 2010, pasangan suami istri yang berprofesi sebagai dokter gigipun akhirnya pindah ke Bandung. Di kota itu, pasangan suami istri tersebut pindah praktik kerja di salah satu RSU terkenal di sana.

Karena pasangan suami istri tersebut pindah, tersangkapun lalu mengontrak kediaman mereka. Apalagi, tersangka dinilai sudah ‘lulus praktik’ oleh mereka. Dengan mengandalkan papan nama Praktik Spesialis Gigi Bersama Purnama, tersangka semakin mulus menjalankan aksinya. Dengan perbekalan alat-alat kesehatan yang selama itu diperjual belikan dan sedikit keahlian meracik obat, Sampriadi pun sangat mudah menerima dan mengobati pasien-pasien yang mengalami jenis penyakit pada mulut dan gigi.

Apalagi, warga banyak yang sudah mengenal drg Merion dan suaminya sebagai dokter profesional. “Itulah membuat Sampriadi semakin mudah meraup untung sebagai dokter gigi palsu. Ketika pasien menanyakan keberadaan drg Mirion dan suaminya drg Robert, Sampriadi selalu mengatakan bahwa pemilik praktik sedang liburan keluar kota, dan dirinyalah yang meneruskan pekerjaan drg Mirion dan suaminya, karena dirinya juga mengaku seorang dokter gigi profesional,” bilangnya.

Hingga Minggu (18/3), Sampriadi masih dilakukan pemeriksaan di Mapolresta Medan. “Dari pengakuan tersangka, drg Robert dan drg Mirion mendapat 40 persen pembagian.  Sedangkan 60 persennya keuntungan untuk Sampriadi sendiri. Kita masih terus mendalami pemeriksaan karena pengakuan tersangka, dia ini terus komunikasi sama dokter Robert dan istrinya di Bandung dan uangnya disetorkan ke pasangan dokter suami istri itu,” ujar Iptu Alex.(mag-5)

Hamil Tua untuk Lahirnya Putra Petir

Oleh: Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Dukungan untuk lahirnya Putra Petir terus mengalir. Sampai-sampai saya tidak mampu membalas satu per satu e-mail yang masuk. Tanggapan tidak hanya datang dari seluruh Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Putra-putra petir yang sekarang bekerja di luar negeri terlihat lebih antusias. Seorang doktor kita yang sejak S-1 sudah belajar di Jepang menulis bahwa kelahiran Putra Petir merupakan sebuah keharusan. E-mail juga datang dari ahli-ahli ITS Surabaya, ITB Bandung, UGM Jogjakarta, USU Medan, dan banyak lagi.

Dari luar kampus mengirimkan e-mail yang juga sangat konkret. Seorang ahli yang sekarang menekuni microturbine (turbin dan generatornya berada dalam satu kemasan kompak yang sistemnya sudah bisa menyerap panas mesin itu sendiri menjadi energi listrik tambahan) langsung melangkah. Dia akan membeli mobil Kijang untuk diganti mesinnya dengan mesin mobil listrik. Dalam dua bulan, sudah akan jadi mobil listrik yang bisa saya pakai ke kantor sehari-hari.

Saya sampaikan kepadanya, jangan menggunakan merek mobil yang sudah ada. Kita belum minta izin kepada pemilik merek tersebut. Belum tentu kita boleh menggunakannya. Kalau sampai kita digugat, energi kita habis untuk itu. Kita akan kelelahan. Kita akan susah. Kelahiran Putra Petir bisa gagal.
Lebih baik kita ciptakan sendiri bodi mobil listrik nasional itu. Mungkin memerlukan waktu beberapa bulan, tapi lebih nasional. Atau kita minta izin saja ke Mendikbud Bapak Mohammad Nuh untuk bisa menggunakan bodi mobil Esemka. Desain mobil Esemka yang terbaru, yang sudah disempurnakan di sana-sini (seperti yang saya lihat di pameran mobil Esemka di Universitas Muhammadiyah Solo bulan lalu), sudah sangat keren.

Atau kita pakai bodi mobil nasional (mobnas) Timor yang sudah tidak diproduksi lagi itu. Mobnas Timor cukup bagus dan enak dikendarai. Masyarakat juga sudah bisa menerima Timor. Masih ada ribuan Timor yang saat ini berlalu lalang di jalan-jalan. Penampilannya yang baik bisa kita manfaatkan sebesar-besarnya. Hanya, saya masih belum tahu bagaimana prosedur perizinannya saat ini. Apakah masih harus minta izin ke Mas Tommy Soeharto atau cukup ke pemerintah, mengingat mobil Timor pernah disita BPPN pascakrisis berat 1998.

Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah terjadi, sedang terjadi, dan akan terus terjadi itu, tidak ada jalan terbaik, kecuali kita musuhi BBM itu sendiri. Kita jadikan BBM musuh kita bersama. Kita demo BBM-nya ramai-ramai, bukan kita demo kenaikannya. Kalau setiap kenaikan BBM kita demo, kita hanya akan terampil dalam berdemo. Tapi, kalau BBM-nya sendiri yang kita musuhi, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar untuk bangsa ini ke depan.

Jalan terbaik adalah jangan lagi kita gunakan BBM. Kalau kita sudah tidak menggunakan BBM, apa peduli kita dengan barang yang juga menjadi penyebab rusaknya lingkungan itu. Kelak kita bersikap begini: Biarkan ia naik terus menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau apa ia!

Tanpa ada gerakan yang nyata untuk melawan BBM, seumur hidup kita akan ngeri seperti sekarang. Seumur hidup kita harus siap-siap untuk melakukan demo. Seumur hidup kita tidak berubah!

Kalau kita sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu, mengapa kita tidak mencari jalan lain? Mengapa kita menyerah begitu saja pada keadaan? “Mengapa? Mengapa?” kata Koes Plus. Anggaplah kita tidak takut kepada Koes Plus. Tidakkah kita harus takut kepada yang menciptakan alam semesta ini “Berapa kali Allah mengatakan ‘Afalaa ta’qiluuun’.

Kita pernah menjawab pertanyaan ‘mengapa’ itu beberapa tahun lalu. Saat program konversi minyak tanah ke elpiji dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bukan main sulit dan beratnya meyakinkan masyarakat untuk pindah dari minyak tanah ke elpiji. Bukan main bisingnya demo dan penentangan terhadap konversi saat itu. Bukan main kecaman yang dilontarkan, sampai-sampai program itu dianggap menyengsarakan rakyat kecil.

Meski awalnya ditentang begitu hebat, didemo begitu seru, dan dimaki-maki setengah mati, toh akhirnya “Purwodadi kuthane, sing dadi nyatane!? Kenyataannya berhasil!” Sekian tahun kemudian, diakui konversi minyak tanah ke elpiji tersebut sebagai success story yang besar! Kalau saja tidak ada konversi itu, alangkah beratnya saat ini! Harga minyak tanah pun akan ikut naik. Yang terkena tidak lagi para pemilik mobil dan motor, juga ibu-ibu di dapur! Sekarang, naikkanlah harga minyak tanah! Ibu-ibu tidak peduli! Maka, untuk mengenang kesuksesan konversi itu, seharusnya kini kita teriakkan: Hidup Putra Petir! Eh, salah: Hidup SBY-JK!

Yang diperlukan adalah tekad besar untuk mengatasi persoalan besar. Dengan membanjirnya dukungan pada program mobil-motor nasional listrik BUMN, rasanya tekad itu sudah sangat besar. Situasinya sudah seperti seorang ibu yang hamil tua. Harus segera dilahirkan! Kalau tidak, akibatnya tanya sendiri kepada ibu-ibu yang sekarang lagi hamil tua. Atau kepada ibu-ibu yang pernah hamil tua! Jangan tanyakan kepada bapak-bapak yang seperti hamil tua! Terutama yang hamilnya karena sudah kekenyangan menikmati bisnis BBM atau bisnis kendaraan BBM!

Tantangan terbesar untuk mewujudkan mobil-motor listrik nasional adalah itu! Sudah terlalu besar bisnis mobil-motor dengan BBM. Sudah terlalu besar keuntungan yang dinikmati dari bisnis kendaraan dengan BBM. Tidak gampang kita melawannya. Memang kita semua tentu termasuk yang harus tersindir sabda Tuhan, “Apakah kalian tidak menggunakan akal?” Tapi, memang tidak mudah keluar dari kungkungan mengguritanya bisnis yang ada.
Kalau soal teknologi, jelas tidak masalah. Harga baterai litium memang masih mahal. Tapi, itu karena produksinya belum masal. Kalau semua beralih ke mobil/motor listrik, harga baterai tersebut akan turun drastis. Itu saja. Jelas itu bukan soal teknologi. Itu soal penguasaan pasar. Kalau soal teknologi, salah satunya bertanyalah kepada LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia! Ternyata, LIPI sebenarnya sudah lebih 10 tahun terakhir ini merintis penciptaan mobil dan motor listrik yang kita maksud. Prototipenya pun sudah jadi. Di luar LIPI masih banyak yang siap melakukannya!

Seperti juga pernyataan pencipta microturbine itu, LIPI pun mengatakan sangat siap. Kalau saya menghendaki segera naik mobil listrik yang mesinnya ciptaan LIPI, dalam hitungan dua-tiga bulan sudah bisa diwujudkan. Tinggal bodinya menggunakan mobil apa. LIPI tidak akan menciptakan bodi mobil. Bukan karena sulit, tapi karena sudah banyak yang mampu menciptakannya. Kita memiliki banyak industri karoseri yang andal. Sudah pula ekspor besar-besaran. Contohnya industri di Malang, Magelang, Surabaya, dan Bekasi. Soal karoseri, kita harus bangga dengan kemampuan dan keterampilan bangsa sendiri.

Tinggal mesin ciptaan LIPI itu kita bandingkan dengan mesin-mesin ciptaan para ahli dari universitas dan ahli dari kalangan praktisi. Bisa saja kita pilih salah satu atau kita bicarakan bagaimana baiknya.

Saya sendiri sudah menaruh perhatian pada kendaraan listrik itu sejak menjadi direktur utama PLN. Salah satu yang membuat saya berat meninggalkan PLN adalah belum terwujudnya kendaraan listrik itu. Dalam road map yang sudah saya sampaikan kepada direksi PLN saat itu (juga saya beberkan dalam rapat kerja nasional PLN di Karawaci tahun 2010), pada akhirnya PLN harus memproduksi kendaraan listrik di akhir tahun 2013. Yakni, setelah byar-pet teratasi, setelah wabah kerusakan trafo beres, setelah wabah gangguan jaringan tuntas, dan setelah perang intern lawan BBM selesai.

Waktu itu perang intern melawan BBM di PLN harus dimenangi akhir tahun 2012. Tahun depan, rencana saya waktu itu, penggunaan BBM di PLN yang semula 9 juta kiloliter harus tinggal maksimum 2,5 juta kiloliter! Untuk itu, saya membuat program ‘pembunuhan berencana’. Yakni, mematikan pembangkit-pembangkit besar yang haus BBM, seperti pembangkit di Tambak Lorok (Semarang), Gresik (Jatim), Muara Karang (Jakarta), dan akhirnya Muara Tawar (Bekasi) plus Belawan (Medan). Semua yang saya sebut itu adalah vampir-vampir BBM. Vampir-vampir itulah yang membuat PLN memboroskan uang negara puluhan triliun rupiah.

Untuk mendorong agar ‘pembunuhan berencana’ terhadap pembangkit besar yang rakus BBM itu bisa cepat dilakukan, saya sampai menawarkan hadiah khusus. Tim PLN yang bekerja di lapangan yang bisa menyelesaikan dengan cepat pembangunan transmisi 150 kv dari Lontar ke Tangerang akan saya beri hadiah mobil dari saya pribadi. Kalau transmisi tersebut berhasil dibangun, listrik untuk kawasan Jakarta Utara sampai Priok tidak perlu lagi dari PLTG raksasa Muara Karang. Listriknya bisa datang dari sumber yang sangat murah di Lontar, yang dialirkan dengan transmisi baru tersebut.
Akhirnya, tim itu benar-benar berhasil menyelesaikan proyek sulit tersebut. Memang terlambat satu bulan dari rencana, tapi hadiah tetap saya berikan. Mobil Avanza sudah dibeli. Sayang, masih belum mobil Putra Petir! Penyerahannya akan dilakukan bersamaan dengan dihapusnya BBM dari PLTG Muara Karang. Berkat penghapusan BBM di Muara Karang itu, negara akan lebih hemat setidaknya Rp2 triliun per tahun.

PLTG boros BBM lain seperti Gresik sudah tahun lalu tidak menggunakan BBM lagi. Demikian juga PLTGU Tambak Lorok Semarang. Sudah tidak minum BBM lagi. Dari tiga lokasi itu saja, setidaknya 3 juta kiloliter BBM sudah bisa dihemat.

Tinggal tiga PLTG lagi yang masih ‘bandel’: Muara Tawar, Belawan, dan Bali. Masih perlu dua tahun lagi untuk menghapus BBM dari tiga lokasi itu. Untuk menghapus BBM di Belawan, masih menunggu selesainya revitalisasi LNG Arun. Dari Lhokseumawe itu akan dipasang pipa gas ke Belawan. Agar penggunaan BBM di Belawan digantikan dengan gas.

Untuk menghapus BBM di Muara Tawar, masih menunggu selesainya proyek terminal apung LNG di Lampung. Terminal apung itu dibangun di Lampung sekalian untuk memenuhi kebutugan gas industri-industri besar di Cilegon. Kebetulan, dari Cilegon sudah ada pipa gas yang nyambung sampai Muara Tawar! Sedang untuk memerangi BBM di Bali, masih menunggu selesainya pembangunan transmisi 500 kv dari Jawa ke Bali. Itu transmisi yang tower-nya akan menjadi yang paling tinggi di dunia: 376 meter. Agar bisa menyeberangkan listrik melampaui Selat Bali.

Memerangi BBM tidak cukup hanya dilakukan untuk pembangkit-pembangkit listrik besar itu. Kita memiliki ribuan pulau kecil yang listriknya dibangkitkan dengan mesin diesel, yang bahan bakarnya BBM juga. Itu juga harus dilawan. Tidak ada senjata yang lebih tepat, kecuali tenaga surya. Karena itu, industri tenaga matahari juga harus dibangun!

Minggu lalu saya sudah memutuskan agar BUMN membangun industri PV. Saat ini sudah ada delapan pengusaha yang bergerak di industri listrik tenaga matahari. Namun, sifatnya baru merakit. Bahan-bahan solar cell-nya masih harus diimpor. Itulah yang akan diatasi BUMN. PT Lembaga Elektronika Nasional (LEN), perusahaan BUMN yang di Bandung itu, saya tugaskan untuk mendirikan industri tenaga matahari dalam pengertian yang sesungguhnya. SDM-nya sudah mampu. Ahli-ahlinya sudah banyak. Kesungguhan dan keteguhan hati yang diperlukan.

Agar industri tenaga matahari itu nanti lebih hemat modal, tidak perlu membeli tanah dan membangun pabrik. Saya minta, manfaatkanlah pabrik Industri Sandang di Karawang yang sudah lama tutup itu. Lokasinya sangat luas. Untuk 10 ha industri tenaga matahari itu, hanya memerlukan seperti tiga lokasi pabrik tekstil yang sudah lama mati tersebut.

Kita sungguh malu kalau sampai Indonesia tidak memiliki industri tenaga matahari. Negara kita sangat luas. Berada di garis khatulistiwa. Mataharinya begitu jreng. Pasar kita sangat besar. Tidak masuk akal kalau kita harus impor suku cadang tenaga matahari dari Malaysia. Atau dari negara bersalju yang tidak punya cukup matahari! “Mengapa? Mengapa?” tanya Koes Plus. Mau tidak mau BBM itu memang harus dilawan dari dua arah: dari gas dan listrik. Kendaraan umum yang besar-besar silakan beralih ke gas. Kereta api harus beralih ke listrik sebagaimana KRL. Kendaraan pribadi harus beralih ke listrik. Bukan hanya akan hemat BBM, juga akan sangat baik untuk lingkungan hidup. Kendaraan listrik tidak menimbulkan emisi sama sekali!

Jadi, ide mobil-motor listrik tersebut tidak muncul tiba-tiba. Hanya, kenaikan harga BBM yang menghebohkan itu harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk melawan belenggu hantu BBM. Dua tahun lalu saya sudah mencoba sepeda motor listrik di Bandung. Ciptaan anak bangsa sendiri. Saya keliling Kota Cimahi dengan motor listrik. Setelah itu, saya membeli motor listrik sekaligus dua buah. Setiap hari motor tersebut digunakan sopir yang ada di rumah saya di Surabaya. Saya minta segala macam kekurangannya dicatat. Setiap kali ke Surabaya, saya diskusi dengan pak sopir mengenai kelebihan dan kekurangan motor listrik tersebut. Catatan itulah yang terus saya diskusikan dengan para pegiat motor listrik.

Dulu, ketika masih bisa sering ke Tiongkok, saya juga mengunjungi pabrik mobil dan motor listrik. Tentu juga sering mencoba produknya. Saya tidak ragu lagi bahwa mobil dan motor listrik harus segera dilahirkan di Indonesia. Putra Petir tidak boleh terlalu lama berada dalam kandungan.
Situasinya sudah hamil tua. Harus segera dilahirkan!(*)

Enam Bocah Meregang Nyawa

14 Orang Meninggal karena Kecelakaan

MEDAN-Minggu kemarin menjadi kisah tragis bagi anak Indonesia. Sedikitnya enam bocah tewas setelah mengalami kecelakaan, satu di Binjai dan lima lainnya di Tasikmalaya. Selain itu, dua mahasiswa Universitas HKBP Nommensen juga meregang nyawa karena kecelakaan.

Di Binjai, Rio Syahputra (10) tak tertolong setelah terseret 10 meter karena sepeda motor matic yang dikendarai ayahnya, Soled (40), ditabrak Mobil Taft GT K 1211 MA. Kecelakaan yang dialami warga Jalan Gajah Mada, Binjai Timur berlangsung sekitar sekitar pukul 15.30 WIB. Akibat peristiwa tersebut, Rio tewas di tempat, sedangkan Soled dan empat penumpang mobil Taft tersebut yakni Timanken Br Surbakti (75), Rame Br Purba (55), Nur Aini, dan Suka mengalami luka serius. Sementara, Sikap Surbakti, sang sopir mobil Taft tersebut hanya mengalami luka ringan. Para korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Bangkatan di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Binjai Selatan, guna mendapatkan pertolongan.

Menurut Suryadi (52), saksi mata, kepada Sumut Pos mengungkapkan, kejadian itu berawal saat Soled melintas dari arah Km 19 menuju perkebunan tebu Tunggurono. Tepat di persimpangan jalan, korban yang saat itu membonceng anaknya memperlambat laju kendaraannya.

Namun, tanpa disangka, mobil Taft GT warna hitam, melaju dengan kecempatan tinggi dari arah Diski, Kecamatan Sunggal, Deliserdang. Tanpa bisa mengelak, korban langsung dihantam mobil Taft GT tersebut. “Mengerikan sekali melihatnya. Saya rasa mobil itu tidak sempat injak rem. Sebab, korban langsung dihantamnya hingga terseret sekitar 10 meter,” ujar Suryadi.

Begitu mobil menghantam korban, sambungnya, mobil itu oleng ke kanan dan terperosok ke dalam parit tepat di sebelah Sekolah Dasar (SD) di Jalan Pangeran Diponegoro. “Sepeda motor serta mobil itu terus merosot hingga berhenti setelah terperosok ke dalam parit. Karena saat kejadian itu benturannya sangat keras, membuat warga berdatangan untuk melihat dan menolong korban,” ungkapnya.

Sopir mobil Taft yang telah melakukan kelalaian, saat berada di Sat Lantas Polres Binjai mengakui, kalau saat itu ia hanya melaju dengan kecepatan 60 km per jam. “Kami baru pulang melihat keluarga meninggal di Telaga Dingin, Deliserdang. Setelah mendekati simpang itu, saya sudah melihat korban. Tapi, waktu itu saya berpikir, korban akan berhenti. Sehingga, saya tetap melajukan mobil. Begitu sudah sampai di persimpangan, ternyata korban juga melaju dan akhirnya langsung saya tabrak. Begitu benturan itu terjadi, saya bingung mau berbuat apa, akhirnya mobil saya oleng dan masuk parit,” ucapnya.
Kasat Lantas Polres Binjai AKP Agus S mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap supir dan saksi-saksi. “Iya, supirnya masih kita periksa, dan kita juga akan memeriksa sejumlah saksi yang melihat kejadian tersebut,” ujar AKP Agus S.

Dari Tasikmalaya Jawa Barat, sebelas dari empat belas penumpang Suzuki Carry bernopol Z 951 W tewas tertabrak Kereta Api (KA) Pasundan Jurusan Kiaracondong Bandung-Surabaya di perlintasan KA tanpa palang pintu di depan SMAN 3 Kota Tasikmalaya sekitar pukul 9.30. Dari sebelas korban itu, lima di antaranya masih bocah.

Kejadian nahas tersebut terjadi ketika mobil yang dikendarai Yudi berada di tengah lintasan saat kereta lewat. “Pada waktu itu, saya juga sempat berteriak jangan nyeberang kereta api sudah dekat, tapi mobil terus berjalan dan akhirnya tertabrak,” ujar Asep Usman (49), satpam SMAN 3 Kota Tasikmalaya yang melihat kejadian dan berada di sekitar lokasi.

Mobil kemudian tergusur kereta sekitar 15 meter dari palang pintu dan masuk ke sawah. “Setelah mobil terpental ke sawah, korban juga terpental dari dalam mobil keluar. Hanya ada beberapa orang saja yang berada di dalam mobil, kebanyakan terpental keluar,” ujarnya.

Melihat kejadian itu, kata Asep, dirinya beserta warga yang berada di sekitar lokasi, melaporkan ke Polsek Cibeureum dan langsung mengevakuasinya. Sertia (14), korban yang selamat mengatakan ketika kejadian itu, para penumpang dan sopirnya tidak mendengar dan tidak melihat ada kereta lewat sehingga mobil terus melaju. “Ketika di tengah rel, mereka melihat kereta, tapi mobil malah berhenti. Kami yang ada di dalam mobil semuanya berteriak dan tidak bisa lagi keluar, karena kereta sudah dekat dan ketika itu saya tidak ingat lagi,” ujarnya di RSUD Kota Tasikmalaya.

Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Gupuh Setiyono SIK melalui Kasatlantas AKP Muhamad Rano Hadianto SIK menuturkan tertabraknya mobil yang ditumpangi 14 itu diduga akibat human error karena berdasarkan keterangan saksi, jarak 100 meter, Kereta Api Pasundan jurusan Bandung-Surabaya sudah memberikan peringatan berupa membunyikan klakson dan peringatan lainnya.

“Untuk saat ini, kejadian tertabraknya mobil yang menimbulkan 11 meninggal ini ditangani satuan Reserse Polres Tasikmalaya Kota,” ujarnya. Dia pun mengatakan polisi belum bisa menentukan tersangka dalam kejadian ini, pasalnya masih dalam penyelidikan pihak kepolisian dan pemeriksaan saksi-saksi.

Sementara itu, dua mahasiswa Universitas HKBP Nommensen juga tewas dalam kecelakaan tunggal. Dua mahasiswa tersebut Ropiadotan Sinaga (21) dan Saut (21), mengalami kecelakaan kemarin sekitar pukul 03.00 WIB di Jalan Pintu Air Simalingkar B, Minggu (18/30 ) sekitar pukul 03.00 WIB. Kedua jenazah dievakuasi ke Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi Medan.

Informasi yang diperoleh di Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi Medan, kedua korban merupakan warga Desa Hatoguan Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir. Kejadian berawal saat kedua korban yang berboncengan dengan menaiki sepeda motor menuju Jalan Pintu Air Simalingkar B. Tiba-tiba sepeda motor yang mereka naiki menabrak dinding pagar sebuah warnet. Kedua korban yang selama ini nge-kos di Jalan Tempuling Medan Tembung, malam itu pergi bersama keempat temannya yang lain dengan menaiki 3 sepeda motor dan berboncengan menuju ke sebuah kafe yang tak jauh dari lokasi kejadian. Usai bersenang-senang dan menikmati minuman beralkohol, keenamnya membubarkan diri, sedangkan kedua korban menuju salah satu rumah saudara Rapiadotan di Jalan Pintu Air Simalingkar B. “Mereka baru pulang dari kafe. Keduanya ngekos. Karena larut malam, udah pasti nggak dikasi masuk sama pemilik kos nya. Habis dari sana, mereka bubar, yang saya tau dari temannya, kedua korban, menuju rumah saudara Rapiadotan. Pas diperjalanan itulah terjadi kecelakaan itu,” jelas SM Tambunan (43) paman korban saat ditemui di Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi Medan. (yna/jpnn/dan/mag-11)

Olympia Plaza, Beroperasi meski Enam Lantai Kosong

Pusat Perbelanjaan Era 1980-an di Medan, Apa Kabar? (1)

Kehadiran beberapa mal atau plaza di Kota Medan beberapa tahun belakangan ini menambah banyak pilihan bagi warga. Baik yang ingin belanja atau sekadar menikmati hiburan yang ada di mal atau plaza tersebut. Tapi, bagaimana kondisi plaza era 1980-an yang sempat menjadi tempat favorit warga Medan?

Juli Ramadhani Rambe, Medan

Sebut saja Olympia Plaza di Jalan MT Haryono Medan. Pada masa itu, Olympia Plaza menjadi surga berbelanja warga Medan hingga warga luar daerah. Tak salah bila Olympia dianggap cikal bakal awal Kota Medan menuju metropolitan.

Ini ditandai dengan bagunannya dirancang modern sebagai plaza metropolitan. Bangunan Olympia dibangun 9 lantai. Nah, mulai dari lantai 1 hingga lantai 3 difungsikan sebagai kios jualanan untuk produk fashion. Sedangkan lantai 4 difungsikan sebagai swalayan. Lantai 5, sebagai arena bermain, mulai dari video game, becak-becakan, kuda goyang, dan lain sebagainya. Lantai 6, dikondisikan sebagai bioskop. Sementara, lantai 7 hingga 8 difungsikan sebagai tempat hiburan; mulai dari kafe hingga diskotik.

Bukan hanya itu, bangunan ini juga dilengkapi dengan eslalator untuk mencapai tiap lantai. Bayangkan, dengan fasilitas selengkap itu, bukankah Olympia adalah surga bagi warga Medan di era 1980-an? Karena itu, tempat bila siang hari, di lantai 5 sesak pengunjung remaja, khususnya anak sekolah yang main video game. Kalau malam harinya, warga metropolis menikmati hiburan diskotik di lantai 8. Saat weekend, banyak pengujung menikmati hiburan film bioskop di lantai 6.

Tetapi itu dulu, pada masa kejayaan sang bangunan yang resmi dibuka pada tahun 1984. Berbeda sekali bila dibanding kondisinya saat ini. Bangunan yang berdiri di daerah strategis atau bersebelahan dengan Medan Mall, sudah tergerus zaman. Secara perlahan namun pasti, operasional di plaza pertama Kota Medan ini meredup. Bahkan, beberapa lantai yang menjadi pusat hiburan di plaza ini tidak berfungsi sama sekali.

“Untuk saat ini, yang beroperasi di plaza ini hanya lantai 1 hingga 3, lantai 3 pun hanya sedikit, sebagian besar sebagai gudang bagi para pedagang. Jadi total yang buka hanya sikit. Sedangkan untuk lantai empat hingga 9 sudah tutup total, gelap gulita,” ujar Suharno, seorang petugas keamanan yang bekerja di plaza itu.

Melihat dari awal, tidak akan terpikirkan kalau bangunan ini masih beroperasi dengan baik. Bila dilihat dari luar, kesan amburadul akan terlintas di benak. Lihatlah, becak dayung dan becak bermotor parkir seenaknya. Angkot bertumpuk mengantre untuk mendapatkan penumpang. Parkir sepeda motor dan mobil yang terletak di depan bangunan. Lalu, pedagang kaki lima yang membuka lapak (dagangan) di trotoar bangunan.

Kesan itu akan hilang saat menginjak lantai 1. Di lantai ini, dinding gedung terlihat masih bagus, bahkan lantainya juga terlihat bersih. Seperti layaknya pasar, lantai ini diisi dengan toko yang disekat-sekat. Seperti toko di Petisah,  Pasar Rame, dan pasar lainnya. Pada umumnya, yang berjualan di toko ini adalah pedagang lama, yang telah berjualan puluhan tahun atau sejak plaza ini beroperasi. Karena, sistem yang berlaku adalah toko sebagai hak milik, bukan sewa atau pinjam dengan jangka waktu tertentu. “Saya sudah memiliki toko di sini sekitar 32 tahun, sejak tahun 1980, saat pemasaran sudah saya beli. Di sini, toko dimiliki secara pribadi, kita tidak sewa apalagi pinjam,” ujar seorang pedagang pakaian di Olympia Plaza, Kadri Wong (71).

Dia mengisahkan, saat pertama kali membeli toko dengan harga sekitar Rp20 jutaan dan itu dibayar kredit dengan jangka waktu tertentu. “Tapi saya lupa berapa lama kreditnya. Setelah mulai sepi, saya beli lagi, jadi di sini banyak yang punya toko, minimal 2 setiap orang punya,” ujar Kadri yang mengaku memiliki 4 toko di Olympia Plaza.

Setiap harinya, plaza ini beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB. Tetapi tidak semua toko menutup sesuai jadwal, sebagian ada yang tutup hingga malam, atau sekitar pukul 20.00 atau 21.00 Wib, apalagi toko yang berada di sisi lantai 1 bagian luar. “Kalau Lebaran atau hari raya besar, kita bisa buka sampai pukul 9 malam, mobil ekspedisi juga tidak berhenti masuk,” tambah Kadri.

Lebih dari 100 pedagang membuka kios dagangannya di lantai 1 dan 2, yang mayoritas adalah produk fashion secara grosir, minimal 3 produk untuk setiap pembelian. Untuk semua produk di sini, mayoritas ‘diimpor’ secara langsung dari Tanah Abang Jakarta, bahkan ada sebagian yang dari Bandung. Untuk pembelinya, sebagian besar pedagang fashion dari Pasar Petisah, Pasar Rame, dan pasar tradisional lainnya. “Bahkan dari Tebing, Siantar, Sidimpuan. Banyak lah semua belanja di sini kok,” lanjut Kadri.

Kadri mengaku dari usahanya dia berhasil mengumpulkan Rp20 juta per bulan. Sementara pengeluaran yang dibebankan kepadanya sebagai pedagang di plaza tersebut senilai Rp1 juta sebulan. “Sudah masuk uang maintenance (perawatan gedung), listrik, dan air,” ungkap Kadri. “Sedangkan untuk lampu dan kipas angin disediakan oleh masing-masing toko,” tambahnya. Pihak gedung, hanya memfasilitasi lampu umum di tiap lantai dan eskalator.

Masa kejayaan plaza ini mulai pudar sekitar 15 tahun yang lalu atau sekitar pertengahan 1990-an. Hal ini disebabkan oleh berhenti beroperasinya swalayan yang berada di lantai 4. Apalagi, setelah berdiri Medan Mal. Efeknya, lantai 5 pun tergerus. “Awalnya yang berkurang mainan anak-anak, sedangkan untuk video game masih ada peminatnya seperti tukang becak, supir angkot yang main, bukan anak-anak lagi,” ujar salah satu pegawai gedung, Wina.

Setelah lantai 5 berhenti, maka fase selanjut adalah berhenti operasionalnya bioskop (lantai 6). “Bioskopnya sempat punya nama di sini, tapi mati karena dirazia, soalnya film yang diputar film Indonesia yang ada esek-eseknya,” ujar tukang becak yang telah beroperasi di kawasan ini lebih dari 20 tahun, A Manik (51).

Berbeda nasib dengan yang lantai yang lain, lantai 7 dan 8 sempat bertahan lama. Bahkan diskotiknya sempat berganti nama dan yang terakhir adalah M2000. Konon, dunia malam yang disediakan merupakan fasilitas kelas A. Berjalannya waktu dan banjirnya tempat hiburan dunia malam dikota Medan, akhirnya terkena imbasnya. Sekitar tahun 2003, diskotik ini pun tutup. (bersambung)