27 C
Medan
Thursday, February 5, 2026
Home Blog Page 13796

Razia Kendaraan, 165 Tilang Dikeluarkan

LANGKAT- Kapolres Langkat, AKBP Leonardus Erick Bhismo, memimpin gelaran razia di tiga lokasi guna menciptakan situasi kondusif dan tertib berlalu lintas, Sabtu (18/2) petang.

Hasilnya, 165 surat tilang dikeluarkan untuk pengemudi melanggar peraturan. Selain melibatkan ratusan personel, razia kali ini sedikit berbeda karena menyertakan segenap perwira mulai Waka Polres Kompol RK Aritonang, Kabag Sumda Kompol Erizal, Kabag Ren Kompol Marjo, Kabag Ops Kompol Suyadi, Kasat Samapta AKP W Nainggolan, Kasat Lantas AKP Faidil Zikri, Kasat Reskrim AKP Aldi Subartono, Kasat Intelkam AKP Asril, Kasat Binmas AKP Z Lubis, Kasubag Humas AKP Jauhari Aruan dan para Kanit.

Dalam kesempatan itu, disebutkan dia kepada wartawan, 266 personil diturunkan untuk ke tiga titik sweeping persisnya di Jalan Proklamasi Kelurahan Kwala Bingei Stabat, selanjutnya Terminal Pasar 10 Kecamatan Hinai dan terakhir di depan Pos Lantas Sei Karang Kecamatan Stabat.

Tak kalah pentingnya, sweeping dimaksud juga mentargetkan daftar pencaharian orang (DPO), peredaran senjata illegal maupun bentuk kejahatan lainnya. Namun, di momen itu selain keluarkan tilang, sedikitnya 74 unit sepeda motor, 2 mobil, 16 SIM serta 73 STNK diamankan. (mag-4)

Sehari, 3 Warga Tewas Lakalantas

SERGAI- Kecelakaan lalulintas kembali menelan korban. Ironisnya, tak sampai sehari, 3 nyawa melayang di jalan raya.
Kali ini, dua unit sepeda motor saling tubruk di Jalan Pasar Rodi, Dusun V, Desa Pematang Pelintahan, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sabtu (18/2) sekira pukul 21:30.

Akibat peristiwa itu, dua pengendara sepeda motor tewas di lokasi kejadian sedangkan tiga lainnya mengalami  luka-luka.

Keterangan dihimpun Sumut Pos, sepeda motor Jetwin BK 4412 NH dikendarai Erbin Tora Sitinjak (16) warga Dusun VI, Desa Makmur, Kecamatan Teluk Mengkudu, berboncengan dengan Ratnasari Br Butar-butar (14) dan Santa Br Manurung (14) keduanya warga Dusun I, Desa Pematang Guntung, Kecamatan Sei Rampah menuju Desa Firdaus.

Sementara itu, dari arah berlawanan meluncur sepeda motor Honda Supra tanpa nomor polisi dikendarai Muhammad Candra  (16), berboncengan dengan Baharuddin (18) keduanya warga Dusun V dan Dusun III, Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu.

Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), sepeda motor yang dikendarai Erbin Tora Sitinjak mengambil jalur kanan sehingga tabrakan tidak dapat terhindarkan. Akibat kerasnya benturan kedua pengendara tewas di TKP dengan kondisi luka serius, sedangkan kedua sepeda motor ringsek.
Terpisah, akibat  ban pecah, mobil jenis Suzuki Vitara menyeruduk rumah makan, berikut seorang pembeli dan  dua unit sepeda motor di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Desa Pasar Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, persisnya di depan RSU Trianda, Minggu (19/2) sekira pukul 12.30 WIB.

Diketahui, mobil Vitara BK 114 L yang dikemudikan Suriono (31) warga Desa Lubuk Dendang, Kecamatan Perbaungan, datang dari arah Medan menuju Sei Rampah. Setibanya di lokasi kejadian, tiba-tiba ban depan sebelah kanan pecah,  sehingga oleng dan pengemudi tidak dapat menguasai kendaraan.
Sebelum menubruk rumah makan di jalur kanan, mobil tersebut sempat menghantam bagian belakang Bus ALS BK 7768 DO yang datang dari arah Tebingtinggi, hingga akhirnya, Suzuki Vitara itu nyelonong masuk ke dalam rumah makan, untungnya tak ada korban jiwa.

Sementara itu di Lubukpakam, seorang mahasiswi Unimed, tewas digilas truk di Simpang Timbangan Cemara Lubukpakam, Minggu (19/2), sekira pukul 12. 30 WIB.

Peristiwa itu terjadi ketika, Rapika Utari Br Manurung (22) mkahasiswi Unimed jurusan fisika itu, hendak menemui calon tunangannya, Jimmy Butar-butar di Kota Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit BK 5657 UK.
Setiba di lampu trafik light, persimpangan Timbangan Cemara Lubukpakam, korban berhenti tidak sendirian. Posisi korban ketika itu tepat berada di garis depan trafik light, dibelakangnya ada bus Kopaja jurusan Medan-Duri BK 7503 DO, mobil Suzuki Escudo BK 5412 HZ dan truk pengangkut kelapa sawit BK 8517 LR.

Setelah intruksi trafik light mengisyaratkan boleh melajukan kendaran, Pika  langsung menarik gas kendaraannya. Naas, stang sepeda motornya disengol bus Kopaja.

Akibatnya, korban terjatuh, tubuhnya terlindas truk pengakut sawit hingga remuk.(mag-16/btr)

PTPN III Kleim Eks HGU Lahan Konservasi

TEBINGTINGGI- PTPN III Perkebunan Gunung Pamela melakukan pengamanan terhadap lahan seluas 75 hektar di Afdeling II, Desa Gunung Pane, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Sergai, Sabtu (18/2).

Pengamanan dilakukan terkait adanya sekelompok orang yang mengatasnamakan kelompok tani hendak menggarap lahan tersebut. Dengan menurunkan ratusan karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Perkebunan (SPBUN), pihak perkebunan membangun posko di lokasi. Tampak berjaga-jaga di areal sejumlah personel TNI dan Polri.

Menajer PTPN III Perkebunan Gunung Pamela, H Tambal Siregar didampingi Ketua SPBUN Tahan Saragih, Askep B Tambunan, APK Simon Tobing dan sejumlah staf perkebunan mengatakan, lahan yang diatasnya tumbuh hutan liar dan rawa-rawa tersebut bukan lahan tidur sebagaimana yang disebutkan 59 orang kelompok tani yang ingin menggarapnya, melainkan sengaja dibiarkan sebagai habitat berbagai spesies hewan dan satwa yang dilindungi di dalamnya. Selain itu lahan itu sebagai daerah resapan air bila hujan.

Menurutnya, lahan tersebut merupakan lahan konservasi, dilindungi dunia internasional sebagaimana pencanangan global warning. Disamping itu, sebagai RSPO (The Roundtable on Sustainable Palm Oil)  yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan minyak sawit. Dimana, perkebunan yang tidak memiliki hutan lindung di dalamnya, nilai jual produk yang dihasilkan akan bernilai rendah,” ungkap Tambal Siregar
Sementara Askep B Tambunan mengatakan, untuk mengamankan areal konservasi itu, pihaknya telah memasang plang RSPO, supaya dipahami bahwa lahan tersebut sengaja dibiarkan tumbuh hutan dan rawa-rawa, karena memang diperuntukkan sebagai lahan resapan air, bukan sebagai lahan untuk komoditi sawit.

“Di dalam plang RSPO itu jelas dituliskan bahwa kawasan ini adalah kawasan yang mempunyai atau memberikan fungsi pendukung keanekaragaman hayati bagi kawasan lindung atau konservasi. Kemudian kawasan ini juga merupakan habitat bagi populasi spesies yang dilindungi untuk bertahan hidup. Serta kawasan ini sebagai kawasan atau ekosistem yang terpenting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir bagi masyarakat hilir,” ujar B Tambunan.
Sebelumnya, Ketua Kelompok Tani Maju Bersama, Darwin Saragih melalui surat akte notaris No. 101 tertanggal 28 Januari 2011 telah melayangkan surat kepada pihak Manejer Perkebunan PTPN III Gunung Pamela tertanggal 15 Februari 2012 atas pemberitahuan pengelolaan dan menguasai tanah rendah (rawa-rawa) dibawah pengawasan  organisasi Tani Maju Bersama. Mereka ingin melanjutkan melakukan pengelolaan dengan bercocok tanam sekaligus menguasai tanah rendah rawa-rawa di sekitar Afdeling II, Kebun Gunung Pamela itu.

Dalam surat tersebut, mereka beralasan bahwa pihak PTP Nusantara III Perkebunan Gunung Pamela tidak dapat menunjukan data autentik terhadap tanah rendah rawa-rawa tersebut masuk dalam areal HGU milik PTPN III Gunung Pamela. (awi/smg)

Perekam dan Pelaku Video Mesum SMA Tebing Tinggi Sama-sama Menghilang

Pengakuan polisi yang menyatakan sudah mengantongi identitas perekam vedio mesum ANS dan DT beberapa hari lalu ternyata hanya isapan jempol belaka. Buktinya, hingga Minggu (19/2) polisi belum berhasil membekuk pelakunya.

Padahal, sebelumnya Kasat Reskrim Polres Tebing Tinggi, AKP Lili Astono mengaku pihaknya sudah mengantongi identitas pelaku. Kabar terbaru berdasarkan analisa polisi di Polres Tebingtinggi, pelaku sudah kabur ke luar Kota Tebingtinggi.

Karena itu Polres Tebingtinggi membentuk tim khusus guna memburu pelaku yang telah membuat malu keluarga ANS dan DT dan menghebohkan masyarakat Kota Lemang.

Belum dapat pelakunya, masih dalam pengejaran, diduga pelaku sudah lari ke luar kota ini, karena itu kita telah membentuk tim khusus (timsus) gabungan dari Polres dan Polsek Padang Hulu, 4 orang dari Polres dan 3 orang dari Polsek Padang Hulu.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat pelaku bisa kita tangkap, ujar AKP Lili Astono, kemarin.

Lili Astono bertahan tidak mau memberi tahu siapa pelaku tersebut, namun dirinya mengklaim pelaku warga Kota Tebingtinggi. “Pelakunya orang Tebing dan sejauh ini masih ditetapkan satu orang. Kalau ditanya apakah pelaku dikenal dengan ANS atau DT, saya sendiri nggak tahu, tapi sudah lah bos, identitasnya belum bisa kita beritahukan,”katanya minta pengertian.

Anehnya petugas yang semula berulang-ulang mengatakan akan mengungkap kasus ini hingga kini belum ada meminta keterangan dari ANS dan DT selaku pemeran video “hot” itu. Ditanya apa alasannya, Kasat Reskrim mengaku masih kesulitan melacak keberadaan sepasang muda mudi itu.

“Hingga saat ini belum kita ketahui dimana “rimba” keduanya, jadi bagaimana mau kita mintai keterangan kalau kedua orang itu pun sudah tidak berada di Tebingtinggi lagi, informasi yang kita dapat, katanya kedua orang itu sudah kabur dari Tebingtinggi akibat dilanda malu,” kilah AKP Lili Astono.

Kasat Reskrim menambahkan menyiasatinya pihaknya masih sebatas mengumpulkan bahan dan keterangan dari pihak luar diantaranya keterangan dari pihak sekolah ANS dan juga beberapa orang yang punya hubungan dekat dengan ANS atau DT.

Terpisah, didapat informasi bahwa pihak pengelola Lubuk Indah Wak Oban, akan menuntut secara hukum perbuatan ANS dan DT sejak beredarnya video mesum ANS dan DT di lokasi usahanya.

Pasalnya, sejak aksi mesum mereka menyebar Lubuk Indah menjadi sepi, sehingga lambat-laun pemilik usaha itu khawatir mengalami “gulung tikar”.
Namun niat menuntut ANS dan DT itu diurungkan Wak Oban, pasalnya ketika datang menemui rumah orangtua ANS di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebingtinggi, Ibu dari “artis” mesum asal Tebingtinggi itu tiba-tiba jatuh sakit dan mengalami shok.

“Gitulah kudengar ceritanya, makanya Wak Oban tidak jadi mengadukan keberatannya kepada orangtua ANS ataupun DT,” terang Hakim, warga kampung Kelurahan Durian, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing Tinggi, menceritakan omongan-omongan warga yang pernah didengarnya beberapa hari lalu. (awi/ton)

Pengantin pun Ikut Padamkan Api

Kebakaran di Gang Seto Jalan AR Hakim, 18 Rumah Ludes

MEDAN-Kabar duka kembali hadir dari kawasan Jalan AR Hakim. Setelah Gang Bakung yang terbakar awal bulan lalu, kini giliran Gang Seto Kelurahan Tegal Sari 2, Kecamatan Medan Area. Kebakaran itu pun memaksa seorang pengantin pria yang nyaman di pelaminan untuk membantu warga memadamkan api.

“Undangan lari Bang melihat api semakin membesar. Terus saya ikut bantu Bang madamkan api,” kata Eko Kurnia Sari yang kembali duduk di pelaminan dan melanjutkan pesta  pernikahannya dengan Ayu setelah api padam.

Begitulah, lokasi pernikahannya dengan kebakaran memang tidak jauh. Saaat terjadi kebakaran, para tamu memang berteriak histeris. Mereka bubar meninggalkan Eko dan Ayu di pelaminan. Beruntung, api tak lama kemudian bisa dipadamkan, pesta kembali berlangsung meski di lokasi kebakaran masih menyisakan sedih.

Ditengarai Tempat Mesum

Terlepas dari itu, beberapa pihak malah ‘bersyukur’  dengan kebakaran di Gang Seto. Pasalnya, selama ini Gang Seto ditengarai sebagai lokasi mesum. Setidaknya hal ini diungkapkan seorang warga Sukiaty (42). Dia mengatakan 18 rumah yang terbakar kerap dijadikan sebagai tempat kumpul kebo. “Rumah yang terbakar itu sering tempat pasang-pasangan kumpul, banyak yang tak kami kenal sering datang ke situ. Dan mungkin ini teguran dari Tuhan supaya orang itu tobat,” terang ibu yang kesehariannya jualan di Pasar Bakti.

Hal senada juga diungkapkan oleh Daniel Butarbutar (28), pria ini mengatakan jika rumah yang terbakar tersebut adalah rumah berbentuk sekat-sekat kamar yang banyak di huni oleh pasangan luar nikah. “Mungkin juga itu tempat yang sering digunakan untuk prostitusi. Karena gimanalah, lihat dari bentuk rumah dan lokasinya memang kuat arahnya ke situ,” terang pria yang mengaku tinggal di Jl Bromo.

Warga yang lain,  Manik (35), juga membenarkan komentar warga. Ia juga mengatakan di sekitar lokasi kebakaran ada sebuah salon yang tiap malam sering menjadi tempat berkumpulnya wanita-wanita penghibur. “Ada di dekat situ salon, di salon itu tiap malam banyak kali kumpul-kumpul cewek-cewek gak tau ntah dari mana aja,” terangnya

Musibah kebakaran yang terjadi di Gang Seto menyisakan misteri bagi warga sekitar. Pasalnya, sebuah rumah ibadah yang terletak di sebelah rumah yang terbakar tidak tersentuh sedikit pun oleh api. Hal tersebut semakin meyakinkan warga jika musibah tersebut adalah teguran Tuhan.

Kepling Lingkungan V Tegal Sari II, Dasril Villi (49) mengaku tidak mengetahui jika lokasi kebakaran tersebut kerap digunakan sebagai tempat mesum. “Kalau masalah itu, saya kurang tahu. Ini ajalah dulu kita bereskan karena gimana pun korban ini warga lingkungan sini, jadi kita bantu lah dulu,” terangnya pada Posmetro Medan (grup Sumut Pos).

Terlepas dari itu, sedikit 18 rumah terbakar pada Minggu (19/2), kemarin sekira pukul 16.00 WIB di lokasi tersebut. Lokasi kebakaran ini berjarak tak lebih dari 1 km dari lokasi kebakaran di Jalan Bakung tempo hari. Tak pelak, begitu melihat gumpalan asap, warga langsung panik dan histeris.

Tanpa dikomando warga mencoba memadamkan api dengan mengambil air dari rumah masing-masing dan ada yang memanfaatkan air selokan untuk memadamkan api. Teriakan, minta tolong terus terdengar di lokasi kejadian menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran. Namun, upaya warga tersebut sia-sia. Angin yang berhembus sangat kencang dalam waktu singkat membuat api semakin membesar. Isak tangis dan doa pun terdengar saat api satu per satu meluluhlantahkan rumah warga yang mayoritas bangunannya semipermanen. Melihat api semakin tak terkendali, warga yang merasa ketakutan langsung menyelamatkan harta benda mereka dengan menyelematkan barang-barang mereka keluar rumah.

Petugas lalulintas Polsek Medan Area di bawah pimpinan Kanit Lantas Polsek Medan Area  AKP Syahfril, langsung mengambil tindakan untuk memperlancar mobil dinas pemadam kebakaran bisa masuk ke TKP. “Kita menutup sementara jalan dari simpang Jalan Bromo ke arah Simpang Halat. Kita tidak mau petugas pemadam kebakaran kesulitan masuk ke lokasi karena macetnya jalan atau,” ujar Syahfril pada Sumut Pos.

Selang beberapa menit menutup jalan, mobil pemadam kebakaran datang. Warga pun memberi jalan untuk mobil pemadam masuk ke lokasi. Setelah hampir satu jam bertarung memadamkan api, petugas pemadam dibantu dengan warga berhasil memadamkan api.  Menurut informasi yang didapat Sumut Pos, sebelumnya warga melihat kepulan asap dari salah satu rumah warga. Saat itu warga mencoba menerobos ke dalam rumah. Namun si pemilik rumah lagi tidak berada di rumah bahkan rumahnya dalam kondisi digembok.

Hingga pukul 18.30 WIB, di sepanjang Jalan AR Hakim dari simpang Gang Seto hingga Pajak Bakti, perabotan rumah tangga dari kursi lemari dan TV masih berserakan. “Apa yang bisa diselamatkan-diselamatkan. Kita takut bang. Api terus besar. Takut merembet  ke rumah kita,”  ujar warga yang tinggal di sepanjang Jalan AR Hakim Simpang Gang Seto.

Diketahui 125 jiwa dari 25 kepala keluarga korban kebakaran harus menderita kerugian ratusan juta rupiah. Bahkan, tempat untuk berteduh ratusan jiwa ini saja sudah tak ada. Kepling Dasril Villi pun menyiapkan tempat untuk berteduh sementara. Masjid Bakti yang berada tepat di samping TKP kebakaran menjadi tempat bermalam para korban. “Di sini nanti kita buat dapur umum,” ujar Dasril sambil menunjuk tanah kosong yang berada tepat di depan masjid. (mag-5/smg)

Lihat Videonya:

Dibalik Dugaan Perselingkuhan Anggota DPRD Sumut

Megalia Itu Cucu Sudi Silalahi

MEDAN-Sosok Megalia Agustina, anggota DPRD Sumatera Utara kini hangat diperbincangkan di tengah masyarakat Sumatera Utara.  Namanya ‘naik daun’, tapi sayang bukan karena kemampuannya berpolitik, melainkan jadi bahan cibiran masyarakat.

Itu setelah pemberitaan-pemberitaan di sejumlah media massa yang mengungkap tentang dugaan skandal perselingkuhannya dengan Borkat Hasibuan, petinggi DPD Demokrat Sumut. Tapi siapa yang tahu kalau ternyata wanita berparas cantik itu ternyata berasal dari Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Awalnya, dia tidak begitu dikenal. Bahkan tidak hanya di kalangan warga di kampungnya, sesama kader Demokrat di Kabupaten Simalungun juga tidak begitu akrab dengan nama Megalia Agustina. Tapi namanya tiba-tiba melejit setelah, wanita berkulit putih mulus ini terpilih menjadi Anggota DPRD Sumatera Utara Dapem IX.

Setelah ditelisik, ia ternyata anak Bang Motan, pemilik bengkel dan showroom sepeda motor terbesar di Kecamatan Tanah Jawa. Lokasi bengkel dan showroomnya persis di Pekan Tanah Jawa, tak jauh dari Kantor Camat Tanah Jawa.

Menurut Iwan (45), mantan Ketua Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kecamatan Tanah Jawa, orangtua Megalia Agustina itu Pengurus Masjid Raya Tanah Jawa. Dan ternyata, si Megalia Agustina juga masih memiliki hubungan saudara dekat dengan Sudi Silalahi, Mensesneg RI (Menteri Sekretaris Negara). “Megalia itu cucunya si Sudi Silalahi. Nenek si Megalia adalah kakak kandung Mensesneg Sudi Silalahi,” ungkap Iwan kepada Metro Siantar (grup Sumut Pos) .

Lanjut Iwan, Megalia Agustina, di mata masyarakat adalah sosok yang peduli olahraga, khususnya di cabang sepak bola. Kesebelasan Gasta Tanah Jawa merupakan salah satu klub binaan Megalia.

Sidang Perceraian Megalia-Suami, 29 Februari 2012

Muhammad Hery, suami Megalia Agustina, masih merasa dendam kepada pasangan yang diduga menjadi selingkuhan istrinya, Borkat Hasibuan.
“Saya sakit hati sama si Borkat itu. Dan saya sempat akan melaporkan masalah ini ke Polda Sumut tanggal 14 Februari 2012 lalu. Saya sudah sempat duduk di Polda, tapi tidak jadi. Karena saya sakit saat itu, kemudian saya ditolong sama saudara saya,” akunya, Minggu (19/2).

Herry juga mengaku, dirinya juga digugat cerai oleh Megalia Agustina dan akan menjalani persidangan di Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 29 Februari 2012 mendatang. Serta, Herry juga mengakui bila dirinya dengan Megalia telah pisah ranjang sekira delapan bulan ini. “Memang iya, tapi sudah saya anggap tidak ada. Kami masih suami istri. Sudah tidak ada masalah lagi,” jawabnya lagi.

Herry juga membenarkan, jika persoalan yang dihadapinya itu, membuat dirinya susah tidur dan menjadi banyak pikiran. “Semua orang pun begitu. Saya drop, tidak bisa tidur,” katanya lagi, sembari berulang-ulang mengatakan sudah tidak ada masalah lagi.

Suami Megalia Bertelepon dengan Istri Borkat

Namun, kembali ketika ditanya apakah dirinya pernah meminta istri Borkat Hasibuan, Cut Dian Satriani untuk melakukan penyadapan terhadap telepon Borkat Hasibuan, dan akan memberikan uang senilai Rp6 juta kepada Cut Dian Satriani, Herry juga membenarkannya.

“Iya, tapi waktu itu saya namanya lagi emosi. Sekarang sudah tidak ada masalah lagi. Memang saya pernah bertelepon dengan Cut Dian Satriani, tapi bukan membahas itu. Harusnya dikonfirmasi ke dia (Cut Dian, Red),” bebernya.

Disiapkan Sanksi Tegas

Terkait Wakil Sekretaris DPP Partai Demokrat, Achsanul Kosasih menegaskan, tidak akan tinggal diam dengan kasus ini.  “Sudah pasti akan ada tindakan tegas dari partai, apabila memang benar ada informasi perselingkuhan ini,” demikian diungkapkannya secara khusus kepada Sumut Pos di Jakarta, Minggu (19/2).

Hanya sayangnya, Ichsanul belum dapat menjelaskan sanksi seperti apa nantinya akan diberikan. Apalagi dirinya belum mengetahui persis adanya permasalahan ini. Selain itu, pada dasarnya dugaan perselingkuhan menurutnya juga merupakan urusan pribadi dari masing-masing orang.
Hanya saja ia mengingatkan seluruh elemen partai Demokrat, agar jangan sampai permasalahan pribadi membuat citra partai kian terpuruk di mata masyarakat. “Karena sekarang ini, kita tengah mencanangkan mulai dari pusat sampai daerah hingga ke ranting-ranting, untuk aktif mengawal semua program pemerintah,”ungkapnya.

“Selain itu, untuk hal-hal seperti ini sebenarnya juga sudah ada yang menangani. Karena dalam AD/ART kita kan jelas, bahkan ada komisi pengawas hingga ke Dewan-Dewan Pimpinan Cabang (DPC),” tambahnya.

Namun meski demikian, Achsanul berjanji akan mengecek kebenaran informasi ini. Apalagi seperti diberitakan atas dugaan ini, istri yang bersangkutan bahkan telah melaporkannya hingga ke Ketua DPRD Sumut. “Jadi kita (DPP) akan cek. Jangan sampai karena urusan pribadi, Demokrat kian terpojok. Saat ini kan sudah ditegaskan kepada seluruh elemen partai, bahwa waktunya kita kembali berjuang untuk rakyat,” tegasnya.

Untuk itu, sebelum permasalahan ini semakin meluas, jika memang dugaan perselingkuhan tersebut memang ada, Ichsanul meminta agar Megalia maupun Borkat, dapat menyelesaikannya secara kekeluargaan terlebih dahulu. “Ini penting, mengingat banyak pihak saat ini yang mungkin menginginkan Partai Demokrat kian terpuruk,”ungkapnya.

Sebelumnya, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Rafdinal Ssos mengatakan, persoalan ini harus segera disahuti oleh pihak Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD Sumut, begitu pula dengan partai dari dua politisi tersebut untuk mengambil sikap dan kebijakan serta memberikan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya.

Mengenai pemecatan, Rafdinal menyatakan, itu melalui mekanisme yang ada. Artinya, sanksi yang diberikan harus didasarkan oleh kajian dan pembahasan yang dilakukan, baik oleh BKD DPRD Sumut maupun Partai Demokrat Sumut. “Pemecatan itu proses lanjutan, harus dipisahkan. Kalau benar berselingkuh dan terjadi perzinahan, maka bisa diberi sanksi tegas. Dan bisa juga mereka berselingkuh, karena rasa sayang dan tidak ada perzinahan. Artinya, baik BKD dan Partai Demokrat Sumut harus mengkajinya secara detil,” ungkapnya. (iwa/ari/san/smg)

Kasus JR Saragih Ditangani Polda Sumut

MEDAN-Kasus dugaan korupsi Bupati Simalungun, JR Saragih tidak hanya bergulir di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi ternyata juga ditangani oleh Bagian Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut. Itu terbukti, dari dipanggilnya anggota DPRD Simalungun, Bernhard Damanik dalam rangka diinterogasi dan dimintai keterangan oleh Tipikor Polda Sumut, pada Jumat (17/2) lalu.

Pemanggilan tersebut berdasarkan Surat No.R/49/II/2012/Direskrimsus Tanggal 10 Februari 2012. Isinya, diminta hadir di ruangan Sub Dit III/Tipikor Ditreskrimsus Polda Sumut. Pemeriksaan atau proses interogasi yang dijalankan Tipikor Polda Sumut, dilakukan oleh Kanit 1 Sub Dit III/TIPIKOR, Komisaris Polisi (Kompol) M. Hasan Yusuf.SH.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut, Komisaris Besar (Kombes) Pol Raden Heru Prakoso yang dikonfirmasi Sumut Pos, Minggu (19/2).

“Ya, ada laporan yang kita terima dan sudah ada dilakukan upaya pemanggilan, untuk dilakukan klarifikasi oleh Tipikor Polda terhadap, kasus dugaan tindak pidana atas adanya penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan pengelolaan Keuangan Daerah Pemkab Simalungun. Yang dimintai klarifikasinya adalah pelapor yaitu anggota DPRD Simalungun, atas nama Bernhard Damanik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Heru menuturkan, penanganan kasus tersebut akan terus berlanjut, guna untuk mengumpulkan barang bukti dan sebagainya. Tujuannya, apakah nantinya kasus tersebut bisa dan akan dinaikkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan dan seterusnya terhadap Bupati Simalungun, JR Saragih.

“Kalau nanti barang buktinya masih kurang, maka akan dipanggil lagi. Untuk kemudian dipelajari, bisa atau tidak status kasus tersebut dinaikan terhadap yang dilaporkan. Jadi, nantinya tetap akan ada pemeriksaan lanjutan,” tegasnya.
Bagaimana pula dengan kasus JR Saragih, yang ditangani KPK?

Terkait hal itu, Heru Prakoso menyatakan, Tipikor Polda Sumut siap menerima pelimpahan dari KPK, bila memang KPK akan melimpahkan kasus JR Saragih ke Polda Sumut. “Kalau KPK melimpahkannya, kita siap menerimanya,” jawabnya.

Apakah ada kemungkinan Polda Sumut akan mengikutsertakan pihak Polres Simalungun? Terkait hal itu, Heru mengemukakan, tidak tertutup kemungkinan akan melibatkan Polres Simalungun, untuk membantu upaya penanganan kasus tersebut.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sumut, Kombes Pol Sadono Budi Nugroho yang juga dikonfirmasi Sumut Pos, membenarkan adanya pemeriksaan atau proses interogasi kepada anggota DPRD Simalungun, Bernhard Damanik terkait kasus dugaan korupsi Bupati Simalungun, JR Saragih.

“Ya, benar. Ada laporan dan pemeriksaan terkait dugaan tindak pidana korupsi di Pemkab Simalungun,” jawabnya singkat.

Secara terpisah, anggota DPRD Simalungun Berhard Damanik yang dikonfirmasi Sumut Pos melalui seluler, ternyata juga membenarkan bahwa dirinya telah menjalani pemeriksaan di Tipikor Polda Sumut, pada Jum’at (17/2) lalu.

“Ya, dari pukul 09.00 WIB sampai sekitar pukul 12.00 WIB di Tipikor Polda Sumut,” akunya.

Mengenai kasus dugaan korupsi yang mana, Bernhard Damanik mengatakan, ada beberapa kasus dan salah satunya kasus yang juga tengah ditangani KPK, yakni dugaan korupsi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Simalungun Tahun 2010 dengan besaran Rp48 miliar.
“Salah satunya mengenai APBD Simalungun 2010, sebesar Rp48 miliar. Dan saya diinterogasi pada saat itu. Intinya, soal adanya dugaan korupsi yang menyebabkan kerugian negara. Dan ini katanya perintah dari Mabes Polri,” bebernya.(ari)

Soal e-KTP, Medan Raih Penghargaan

JAKARTA-Walikota Medan, Rahudman Harahap, menerima penghargaan sebagai pimpinan daerah yang tergolong tercepat mengurus pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP), dari Mendagri Gamawan Fauzi. Penghargaan diserahkan tadi malam (19/2), di depan para bupati/ wali kota se-Indonesia dalam rangkaian Rakornas Program E-KTP di sebuah hotel di Jakarta.

Secara simbolis, Rahudman menerima 10 e-KTP yang sudah dicetak untuk masing-masing kecamatan yang ada di Kota Medan, dari Sekjen Kemendari, Diah Anggraeni. Rahudman menempati urutan kelima dari 10 bupati/ wali kota yang dinilai punya komitmen tinggi melaksanakan program pembuatan e-KTP.

Secara berurutan, ke-10 daerah itu adalah Kota Jakarta Timur, Kota Palembang, Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis, Kota Medan, Kabupaten Sidoardjo, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kabupaten Seram, dan Kabupaten Pati. “Ke-10 kabupaten/ kota ini yang berhasil memberikan pelayanan pembuatan e-KTP tertinggi,” ujar Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan (Adminduk) Kemendagri, Irman, saat mengumumkan pemenang.

Sedang Mendagri Gamawan Fauzi menjelaskan, pimpinan 10 daerah itu punya komitmen tinggi melaksanakan program e-KTP. Secara simbolis hanya diserahkan 10 e-KTP per kecamatan kepada pemenang, karena saat ini pemerintah pusat masih konsern pada perekaman untuk pembuatan e-KTP. Dikhawatirkan, jika pencetakan e-KTP dilakukan sekarang, malah bisa mengganggu perekaman. Gamawan berharap, 197 kabupaten/ kota yang mulai pembuatan e-KTP pada 2011, bisa tuntas semuanya pada April 2012. Ini merupakan waktu perpanjangan.

Menanggapi prestasi yang diraihnya itu, kepada koran ini Rahudman mengatakan, dari sekitar 2,2 juta wajib e-KTP di Kota Medan, hingga kemarin sudah berhasil dilakukan perekaman terhadap hampir 900 ribuan wajib e-KTP.

Diakui, kendala utama selama ini adalah kurangnya peralatan. “Padahal masyarakat sangat antusias. Pelayanan terkadang hingga jam 11 malam. Nanti tenaga dan jam kerjanya kita tambah lagi untuk mengejar target,” terang Rahudman.

Dikatakan, sepulang dari Jakarta, dia akan memerintahkan semua jajaran, mulai dari camat, lurah, dan kepling, untuk lebih menggenjot lagi. “Penghargaan ini sebagai pemacu agar lebih giat lagi,” imbuhnya.

Selain terhadap 10 daerah yang dinilai punya komitmen tinggi, penghargaan juga diberikan kepada dua daerah yang sudah kelar pelayanan perekaman per 31 Desember 2011, yakni Kota Solok dan Kabupaten Bangka Tengah.  Dua daerah yang jumlah penduduknya tak sepadat Medan ini juga mendapat penghargaan. Selain itu, tiga daerah yang per 15 Februari 2012 sudah selesai yakni Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, dan Kabupaten Belitung Timur. (sam)

Kalau Rapat, Tidak Perlu Lagi Makanan Kecil

Oleh: Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Sudahkah terbukti jumlah rapat-rapat di Kementerian BUMN turun 50 persen seperti yang saya inginkan” Angka pastinya masih dikumpulkan. Tapi, berdasar penjelasan para direktur utama BUMN, terasa sekali jumlah rapat itu menurun drastis.

“Rasanya turun 60 persen,” ujar Nur Pamudji, Dirut Perusahaan Listrik Negara.

“Selama tiga bulan ini saya baru rapat dua kali di kementerian. Kira-kira menurun 75 persen,” ujar Karen Agustiawan, Dirut Pertamina.
Rapat memang harus dikurangi. Kerja yang harus ditambah. Kerja, kerja, dan kerja. Di birokrasi, kesibukan rapat itu memang luar biasa. Jadi salah anggapan masyarakat selama ini kalau birokrasi itu malas. Birokrasi itu rajinnya bukan main. Kalau sudah rapat, bisa panjang sekali. Bahkan, untuk satu topik saja bisa dilakukan?berkali-kali.

Tentu ada dampak negatifnya. Penghasilan sejumlah staf menurun. Dampak lainnya: banyak ruang rapat yang kosong. Saya suka turun-naik dari lantai ke lantai. Terasa benar penggunaan ruang yang mahal itu terlalu boros. Padahal, banyak ruang rapat yang berukuran besar. Maka beberapa staf di Kementerian BUMN mengusulkan agar segera dilakukan penataan ulang seluruh ruang kerja. Tentu saya menghargai usul seperti itu dan harus segera dilaksanakan. Pepatah hemat pangkal kaya, rupanya, sudah banyak dilupakan di zaman yang serba ada ini. Digantikan oleh?adagium: boros itu meningkatkan pertumbuhan ekonomi! Kalau semua orang berhemat, siapa yang belanja” Bagaimana nasib pabrik-pabrik?

Boros ruangan tentu memberikan contoh yang kurang baik. Secara kasar bisa dihitung paling sedikit akan ada dua lantai dari gedung 22 lantai di dekat Monas itu yang bisa dihemat. Beberapa BUMN yang selama ini masih sewa kantor (ada satu BUMN yang untuk salah satu bagiannya harus sewa kantor Rp 50 miliar selama lima tahun!) bisa berpindah ke gedung itu.

Apakah menurunnya jumlah rapat di Kementerian BUMN itu sudah membuktikan otomatis BUMN-BUMN kini lebih banyak kerja, kerja, kerja” Tentu belum bisa dibuktikan seketika. Bukti yang terbaik adalah hasil tutup buku akhir tahun nanti. Benarkah kinerja BUMN meningkat” Ataukah berkurangnya panggilan rapat dari kementerian itu justru melonggarkan kontrol dan membuat BUMN kian malas?

Berkurangnya jumlah rapat secara drastis di Kementerian BUMN itu sebenarnya bukan berarti menurunnya intensitas komunikasi. Sejumlah rapat itu kini sudah digantikan oleh terbentuknya grup BlackBerry Massanger.

Misalnya, ada satu grup BBM yang semua anggotanya pejabat eselon I. Maka meski rapim Kementerian BUMN hanya dilakukan satu minggu satu kali (tiap Selasa jam 07.00), pada dasarnya rapat itu berlangsung bisa beberapa kali sehari. Hanya forumnya tidak di ruang rapat dengan sebuah meja rapat, tapi di forum BBM. Peserta bisa berada di mana saja dan sedang melakukan apa saja. Yang jelas tidak ada hidangan makanan kecil dalam rapat seperti itu.
Ada juga grup BBM yang anggotanya menteri, wakil menteri, seorang deputi, dan semua direktur utama BUMN yang bergerak di bidang pangan. Maka masalah-masalah peningkatan produksi beras di BUMN dibicarakan di “ruang rapat tanpa hidangan” itu. Demikian juga ada grup BBM bidang gula. Anggotanya menteri, wakil menteri, deputi bersangkutan, dan semua direktur utama yang membawahkan urusan gula. Ada grup BBM energi. Dan sebentar lagi, setelah holding perkebunan terbentuk, akan diadakan grup BBM perkebunan.

Intensitas rapat melalui grup BBM seperti itu bukan main. Juga hemat sekali waktu. Bahkan, “rapat itu” berlangsung tidak mengenal hari dan jam. Bisa saja pada Minggu ada topik yang harus dibahas. Bahkan, ada yang sampai jam 23.00 masih mengajukan pendapat.

Isi dan kualitas pembicaraan tidak kalah dengan rapat yang dilaksanakan di ruang rapat sungguhan. Meski menggunakan BBM, jangan khawatir dimanfaatkan untuk yang bukan-bukan. Tidak akan ada pembicaraan mengenai “Apel Malang” atau “Apel Washington” di situ. Sesekali ada yang memasukkan humor, tapi biasanya kalau lagi akhir pekan. Arifin Tasrif, Dirut Pusri Holding yang tergabung dalam grup BBM pangan, termasuk yang suka kirim humor. Hanya kadang saya sulit mengenali nama asli mereka karena banyak yang pakai nama maya. Arifin Tasrif, misalnya, di BBM menggunakan nama Kapal Selam. Rupanya dia sekalian jualan pempek Palembang.

Tentu saya sangat menganjurkan agar semua BUMN membentuk grup-grup BBM seperti itu. Intensifnya luar biasa. Ini saya rasakan sewaktu masih di PLN. Waktu itu saya memiliki tujuh grup: grup khusus yang anggotanya semua direksi plus sekretaris perusahaan, grup saya dengan para general manager se-Jawa-Bali, grup saya dengan para general manager se-Indonesia Barat, grup saya dengan semua general manager se-Indonesia Timur, grup saya dengan para manajer perencanaan, grup saya dengan para manajer keuangan, grup saya dengan para manajer SDM, dan seterusnya. Keluhan masyarakat, info soal korupsi, pengaduan tender yang main-main, dan segala persoalan yang berkembang bisa langsung dikomunikasikan melalui grup BBM.

Model komunikasi manajemen seperti itu sekaligus bisa menerabas batas-batas hierarki dan birokrasi. Juga bisa lebih terbuka. Kekurangan di satu tempat langsung diketahui oleh siapa pun di tempat lain. Kalau tidak terbiasa, memang seperti membuka aib dan kelemahan. Tapi, itulah cara yang efektif untuk melakukan perbaikan. Kalau niatnya sudah untuk melayani masyarakat, soal kelemahan yang dibuka di depan sesama manajer seperti itu tidak akan terasa sebagai aib lagi. Justru dengan cara itu tanggung jawab bisa muncul. Apalagi, bukan hanya soal kekurangan yang dibeber di grup BBM, tapi juga soal prestasi. Dulu sering saya memasukkan pujian dari pelanggan listrik yang dikirimkan via SMS ke handphone saya. SMS itu langsung saya masukkan ke grup BBM. Sebagai pendorong bahwa hasil kerja keras mereka diapresiasi oleh masyarakat luas. Salah satu contoh ketika Peter Gontha memuji PLN via SMS yang merasa kaget petugas PLN begitu cepat datang ke rumahnya yang listriknya sedang bermasalah dan petugas itu tidak mau diberi uang tip. SMS itu saya masukkan ke grup BBM dan dalam waktu singkat menyebar luas ke jajaran PLN.

Sungguh sangat banyak rapat yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang tidak perlu harus membuang waktu sampai lima jam (satu jam perjalanan, tiga jam rapat, satu jam perjalanan kembali). Kecuali kalau rapatnya benar-benar harus dan bisa mengambil keputusan saat itu.

Tentang rapat pimpinan Kementerian BUMN sendiri, kini tidak lagi dilakukan di Kantor Kementerian BUMN. Tiap Selasa lokasi rapat itu berpindah dari BUMN satu ke BUMN lainnya. Sekaligus agar seluruh pejabat eselon I Kementerian BUMN mengetahui dengan mata kepala sendiri markas BUMN yang selama ini sering mereka panggil. Sekalian untuk mengecek apakah di BUMN tersebut juga sudah dilakukan rapat pimpinan setiap Selasa jam 07.00. Rapat paling jauh dilakukan di BUMN Angkasa Pura II Selasa lalu. Sekalian untuk mengecek persiapan perbaikan Bandara Soekarno-Hatta.

Perubahan memang sedang dilakukan. Ruang ATC/tower sudah lebih disiplin dan bersih. Tidak ada lagi yang merokok di ruang kontrol lalu lintas pesawat. Peningkatan kapasitas tower menjadi dua sisi juga sudah hampir selesai. Satu sodetan express taxy sudah selesai, tinggal membuat satu lagi. Bagian-bagian jalan yang sempit yang menjadi sumber kemacetan di sekitar bandara sudah dipagari seng, pertanda proyek pelebaran jalan sedang dilakukan.

Yang tahun ini mulai dikerjakan adalah: pembuatan gedung parkir empat tingkat di tengah-tengah antara terminal satu dan dua. Di tengah-tengah itu tahun ini mulai dibangun juga stasiun kereta api. Gedung parkir dan stasiun itu harus selesai akhir tahun depan.
Sementara menunggu gedung parkir, segera dilakukan pengaturan darurat: banyaknya mobil yang menginap di bandara akan disediakan lokasi khusus. Kendaraan karyawan bandara dan karyawan toko-toko di bandara akan dialihkan juga di lokasi lain. Itu dilakukan agar lokasi parkir bandara lebih diperuntukkan melayani penumpang.

Terminal 3, yang sekarang ini hanya seperti huruf I, akan dikerjakan menjadi huruf U lebar. Berikut apronnya sekalian. Dari terminal tiga akan dihubungkan dengan kereta tanpa sopir menuju terminal 1 dan 2. Pembangunan terminal 3 ini juga harus sudah selesai akhir tahun depan. Kalau semua pekerjaaan itu selesai, daya tampung Bandara Soekarno-Hatta meningkat menjadi 60 juta penumpang. Sekarang ini sudah 50 juta penumpang per tahun yang memadati bandara yang mestinya hanya untuk 22 juta penumpang itu.

Memang masih ada proyek besar lainnya: membangun landasan nomor 3 dan membangun terminal 4. Tapi, proyek itu memerlukan waktu lebih panjang. Masih harus membebaskan tanah 730 ha yang tentu tidak akan mudah.

Dengan mengurangi kesibukan rutin berupa rapat-rapat yang kurang efektif, pemikiran memang bisa lebih dicurahkan untuk hal-hal yang mendasar.
Rapat tentu saja penting. Tapi, kebanyakan rapat bisa membuat orang sinting! (*)

Awas Ada Mahyadi

PSMS vs Sriwijaya FC

MEDAN-Bertandang ke Stadion Teladan menghadapi PSMS, Senin (20/2) sore, Sriwijaya FC mengandalkan pengalaman beberapa pemain eks skuad berjuluk Ayam Kinantan itu. Pasalnya, skuad berjuluk Laskar Wong Kito itu mengkhawatirkan gaya rap-rap yang kini semakin kental setelah dibesut pelatih PSMS Suharto AD.

Asisten pelatih Sriwijaya FC Indrayadi mengaku, tak ada persiapan khusus untuk menghadapi PSMS. “Kita datang dengan persiapan matang,” ungkapnya, Minggu (19/2).

Namun, menurut Indrayadi, tim besutan Kas Hartadi ini sedikit mengkhawatirkan pola permainan yang kerap dipertontonkan anak-anak Medan dalam tiap pertandingan. “Kita tau gaya rap-rap yang kerap ditampilkan PSMS dan tipikal permainan ini cenderung keras. Namun, kita memiliki mantan pemain PSMS di skuad kita seperti Mahyadi Panggabean dan Supardi. Kita harap mereka bisa mengimbangi permainan keras itu,” tuturnya.

Sementara kapten Sriwijaya FC Firman Utina mengatakan, Sriwijaya FC saat ini berada di puncak klasemen sementara. Namun, mereka tetap respect terhadap tim-tim lawan. “Semua pemain memiliki pengalaman dalam bersepakbola. Mudah-mudahan dengan hal ini, besok (Hari ini, Red) bisa menjadi tontonan pertandingan yang menarik,” katanya.

Sementara pelatih PSMS Suharto AD mengaku tak gentar menghadapi tim sekelas Sriwijaya FC. “Tim sekuat apa pun tetap memiliki kelemahan. Dan sisi ini yang bakal kita manfaatkan untuk meraih kemenangan di kandang,” jelas pelatih berkepala plontos ini.

“Kita berharap, anak-anak bisa bermain konsisten dengan konsentrasi tinggi. Dengan begitu kita bisa tetap fight hingga 90 menit pertandingan,” tambahnya.

Hal menarik yang menjadi sorotan dalam laga kali ini adalah, kedua tim sempat bersua di partai final Liga Djarum 2007/2008. Saat itu PSMS dikalahkan di Stadion Jaka Baring dengan skor 3-1. Pada laga tahun itu, PSMS masih diperkuat Mahyadi Panggabean yang saat ini telah memperkuat lini pertahanan Sriwijaya FC dan Markus Haris Maulana. Sedangkan Sriwijaya diperkuat Sulaiman Alamsyah Nasution yang kini gelandang potensial bagi PSMS.

Akankah kedua skuad yang masing-masing memiliki pengalaman pertemuan dalam pertandingan grand final Liga Djarum 2007/2008 lalu itu kembali tampil dengan mempertontonkan laga yang seru, dan saling beradu taktik dan strategi? Mari sama-sama kita saksikan, sore ini (20/2). Tentunya masyarakat Kota Medan berharap PSMS mengungguli Sriwijaya FC di Stadion Teladan. (saz)