24 C
Medan
Saturday, January 17, 2026
Home Blog Page 13845

Dari Buku ‘TB SILALAHI (bercerita tentang pengalamannya)’ (2/Habis)

Stres Berat, Minta Petunjuk Patung Gatot Subroto

Ceritanya, sewaktu TB harus menghadap Pak Harto menyampaikan masalah yang sangat penting, Wiranto mencegahnya. Pak Harto lagi bad-mood. Tapi, TB ngotot karena masalahnya memang penting. Di ruang kerja Pak Harto itu, TB mencari akal bagaimana membuat Pak Harto tidak lagi murung.

Oleh: DAHLAN ISKAN, Pecinta Buku

Berceritalah TB mengenai kisah kehebatan Pak Harto yang pernah dia dengar dari para jenderal yang pernah mendengarnya. Yakni, mengenai pertempuran Ambarawa. Waktu itu, Pak Harto diperintah Jenderal Gatot Subroto untuk mempertahankan sebuah bukit yang penting. Pak Harto dan pasukannya tidak boleh meninggalkan bukit itu sama sekali. Ketika malam, Belanda membombardir bukit itu habis-habisan, Jenderal Gatot Subroto menangis.

Dia mengira Pak Harto pasti sudah tewas. Demikian juga pasukannya. Pagi itu, Gatot Subroto mengerahkan pasukan menyisir bukit tersebut untuk mencari mayat Pak Harto. Ternyata, Pak Harto masih hidup. Ternyata, Pak Harto, dengan perhitungannya sendiri, tidak menaati perintah atasannya itu. Pak Harto, sebelum malam tiba, sudah meninggalkan bukit tersebut.

Senjata TB itu sangat ampuh. Baru sebentar TB berkisah, Pak Harto sudah menimpali. Bahkan, Pak Harto-lah yang kemudian meneruskan kisah itu dengan semangatnya. Wiranto yang mendengarkan dari ruang sebelah merasa gembira. Maka, setiap melihat Pak Harto bad mood, Wiranto minta agar TB berpura-pura punya urusan dengan Pak Harto.

Hebatnya, TB menyadari, menjadi anak emas itu banyak tidak enaknya. Dan dia belajar banyak dari situ Waktu Rudini diangkat menjadi KSAD, TB yang masih paban diminta menjadi orang nomor dua untuk menghadap. Padahal, mestinya para asisten dulu. Itu menimbulkan kecemburuan yang merugikan dirinya. Apalagi ketika akhirnya tahu TB-lah yang diminta membuatkan konsep tujuh perintah harian KSAD yang baru.

TB juga pernah menjadi anak emas Jenderal M Jusuf. Mulanya dari kunjungan Menhankam/Pangab asli Makassar itu ke Makassar setelah meredanya kerusuhan anti-Tionghoa di sana. Jenderal Jusuf begitu senangnya kerusuhan tersebut berhasil diselesaikan dengan cepat. Karena itu, saat itu juga, di tempat rapat itu juga, Jenderal Jusuf minta pangkat Pangdam Hasanuddin Brigjen Soegiarto dinaikkan menjadi mayor jenderal.

Setelah itu, sang Pangdam dengan rendah hati mengemukakan bahwa kerusuhan tersebut cepat teratasi berkat peran asisten operasinya, Letkol TB Silalahi. Kebetulan, pangkat TB itu sudah agak lama tersendat. Mendengar itu, Jenderal Jusuf langsung mengeluarkan perintah yang mengagetkan: Ya sudah, naikkan pangkat Silalahi hari ini juga!

KSAD saat itu, Letjen Poniman, menjelaskan bahwa kenaikan pangkat tidak bisa dilakukan mendadak di tempat seperti itu. Setidaknya, harus dibuatkan dulu surat keputusannya di Jakarta. Setidaknya, harus dicarikan dulu nomor surat keputusan yang akan dibuat. Apa jawaban Jenderal Jusuf? “Tidak usah lah kau cari-cari nomornya. Kalau perlu, pakai nomor mobil saya,” perintah sang Jenderal.

Tentu tidak ada yang berani membantah perintah panglima ABRI. Tapi, ada kesulitan teknis untuk menaikkan pangkat TB saat itu juga. Dari mana bisa mendapatkan tanda pangkat kolonel di kota seperti Makassar yang akan disematkan di pundak TB? Sudah diusahakan dicarikan di toko-toko dan di pasar loak, tapi tidak ditemukan. Akhirnya, memang bisa didapat. Tapi, tanda pangkat itu sudah sangat kusam. Cepat-cepat tanda pangkat itu di-brasso untuk disematkan di pundak TB.

Kelak, peristiwa tersebut menyulitkan karir TB. Terutama setelah panglima ABRI-nya diganti. TB dikira “geng”-nya Jenderal Jusuf. Karirnya terhenti sangat-sangat lama dan penempatannya pun tidak di pusat kekuasaan.

TB sempat frustrasi lagi. Sampai-sampai, saat berjalan pagi dengan istrinya di kompleks Seskoad Bandung, TB mengambil sikap yang dianggap istrinya sangat aneh. Ketika melewati patung Jenderal Gatot Subroto, TB berhenti: menghadap patung, memberi hormat militer dengan sikap sempurna, dan meneriakkan kata-kata berikut ini: “Pak Gatot, saya ini stres berat. Saya sudah mencoba berbuat yang terbaik untuk Angkatan Darat. Tapi, nasib saya terkatung-katung. Mohon petunjuk!”

“Kamu ini sudah miring,” kata istrinya. “Lama-lama kamu bisa gila!” tambah sang istri.

Sangat menarik membaca bagaimana TB berhasil menundukkan dirinya sendiri dari rasa frustrasi. Lalu, berhasil bangkit, mencapai pangkat letnan jenderal, dan bahkan menjadi menteri.

Kelihatannya buku ini berisi cerita tentang TB. Tapi, pada dasarnya, inilah buku tentang tokoh-tokoh militer Indonesia. Lengkap dengan sikap, karakter, dan pola kepemimpinan mereka. Hampir di semua bab TB bercerita tentang pertemuannya dengan tokoh militer. Mulai Try Sutrisno sampai SBY. Masing-masing lengkap dengan gambaran gaya dan sikap kepemimpinan mereka.

Semua itu menggambarkan bahwa faktor kepemimpinan sangat memengaruhi jalannya sejarah. Termasuk sejarah militer. TB, dengan keseniorannya, bercerita tentang tokoh-tokoh tersebut seperti tidak sungkan, tanpa beban dan tidak perlu menutup-nutupinya.

Sekarang ini, pada usianya yang sudah 72 tahun tapi masih gesit seperti saat berumur 60 tahun, guru segala jenderal ini diminta kembali ke medan laga. Kali ini ke arena politik kekuasaan. Tentu kali ini TB tidak bisa membawa tank kavaleri. (*)

Penjualan Rumah Murah Terganjal Bunga Kredit

MEDAN- Hingga saat ini, Real Estate Indonesia (REI) Sumut telah membangun 2.400 rumah sederhana yang siap di KPR. Walau sudah siap huni, tetapi rumah tersebut belum bisa dijual, karena belum keluarnya keputusan Kemenpera terkait dengan bunga rumah sederhana tersebut.

Ketua REI Sumut, Tommi Wistan mengatakan, kendala rumah tersebut, belum adanya keputusan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang saat ini masih dalam penggodokan di pusat. “FLPP kan masih ada penggodokan, jadi rumah yang sudah siap belum bisa di KPR, sudah banyak rumah sederhana yang kita bangun,” ujar Tommi.

Untuk tahun 2012 ini, target rumah sederhana yang dibangun REI sebanyak 10 ribu unit. Tetapi, pembangunan belum mencapai 10 persen. Walaupun masih sedikit pembangunannya, REI tidak merasa terganggu dengan target tersebut.

Karena, target yang dibuat bukan dari pemerintah, melainkan sebagai penyemangat untuk pengembang kecil. “Target kita bukan dari pemerintah, tapi dari pribadi, sebagai penyemangat untuk developer kecil,” tambah Tomi.

Karena itu, REI Sumut berharap agar pemerintah dapat menaruh perhatian terutama dalam hal FLPP ini. “Kita sudah ada rumah yang siap untuk di KPR kan, karena itu pemerintah bisa perhatian, modal pembangunan rumah terbenam,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris DPP Asosiasi Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Iwan Ray mengungkapkan, saat ini unit rumah yang sudah dibangun pengembang berjumlah sekitar 2 ribuan, dan yang sudah siap di KPR berkisar 800 unit.

Diakuinya, rumah siap huni tersebut dibangun sejak 2011 lalu, untuk penjualanan 2012. Tetapi, kebijakan pemerintah tentang FLPP mengacaukan penjualanan. Bukan hanya pembangunan rumah yang terbengkalai, tapi juga harga rumah yang sudah tidak sesuai.(ram)

Repot Melindungi RvP

PERFORMA Robin van Persie di lini depan Arsenal musim ini terbilang fantastis. Buntutnya, klub raksasa dari belahan negara lainnya tertarik mendatangkanya. Sebut saja Real Madrid dan Barcelona.

Konon, Arsene Wenger sedang bekerja keras menahan agar pemain muslim yang akrab disapa RvP itu, agar tak keluar dari Arsenal. Wenger tak ingin sakit hati lagi karena kehilangan Fabregas. Desakan dari media massa membuat strategi menahan pemain bintangnya agak sulit.

Belakangan, ada lagi godaan agar RvP segera hengkang ke klub lain demi sebuah tropi. Di Arsenal, RvP memang berat mendapatkannya. Mantan pemain Arsenal Dennis Berkamp yang juga Orang Belanda berkomentar soal itu.  “Tak diragukan lagi, dia (Van Persie) bisa membuat perbedaan dan saya menggambarkannya sebagai pemain hebat,” ucap Bergkamp kepada Arsenal Magazine.

“Fantastis rasanya menggambarkan bagaimana dia bisa berkembang, dan pemain seperti itu layak mendapatkan trofi. Jadi saya berharap hal itu bisa segera terjadi, karena karakter dan juga gaya permainannya fantastis.”

“Saya pikir hal itu lebih mudah bagi pemain seperti Robin atau saya berada di belakang striker. Dan terkadang membuka ruang untuk dirinya sendiri.”

“Tapi ternyata dia bisa berada di depan yang membuat perbedaan. Hal itu akan memberikan banyak tekanan kepadanya, namun sepertinya dia bisa mengatasinya. Saat ini dia menempati posisi yang sangat sulit,” pungkas Bergkamp. (bbs/jpnn)

Mau Menang

Deltras FC v PSMS

MEDAN- Misi wajib menang diusung PSMS melawan Deltras FC pada laga lanjutan kompetisi ISL di Stadion Gelora Delta, sore ini (3/3). Uniknya, setiap tandang, misi menang selalu diapungkan, tapi tak ada yang jadi kenyataan.

Rekor tandang PSMS memang dikenal paling buruk musim ini. Tak sekalipun PSMS mampu meraih tiga angka di kandang tim lain. Paling keras hanya imbang, itupun hanya sekali ketika menahan Pelita Jaya 2-2. Sisanya, PSMS harus mengakui keunggulan tuan rumah. Seperti saat meladeni Persib Bandung, Arema Indonesia, PSAP Sigli dan Persela Lamongan.

Pelatih PSMS, Suharto AD menuturkan, berlatar belakang pertandingan terakhir ia mengaku telah mempersiapkan tim lebih matang. “Kekalahan saat di Persela jadi pelajaran berharga. Bagaimana kita harus lebih fokus dan konsentrasi selama 90 menit pertandingan, itu yang jadi prioritas latihan kita.

Baik dalam mempertahankan kemenangan, pertahanan di lini belakang dan tetap bisa melakukan serangan mematikan,” ungkapnya, Jumat (2/3).
“Kali ini kita harus menang, untuk memperbaiki posisi kita di klasemen sementara. Serta memperbaiki rekor buruk partai tandang kita di beberapa pertandingan terakhir ini,” tambah Suharto.

Suharto juga mengaku akan melakukan rotasi pemain untuk mendukung asupan bola ke lini depan serta tetap menyolidkan antara kiper dan pemain lini belakang. “Untuk siapa yang jadi starter tetap kita tentukan besok (Hari ini, Red). Siapa yang paling siap, itu yang kita turunkan. Kita tak ingin kehilangan poin lagi,” katanya.

Sementara, dari kubu Deltras FC tetap optimis bisa mengoleksi tiga poin usai pertandingan ini. “Pada laga ini, status kita sebagai tuan rumah. Kita tetap memiliki peluang besar untuk memetik poin penuh,” tutur pelatih Deltras FC Jorg Peter Steneibrunner.

“Kami punya pendukung yang cukup fanatik. Dan itu merupakan satu bentuk dukungan yang cukup besar bagi kami. Pendukung merupakan satu kekuatan juga motivasi yang besar bagi kami,” tambah Jorg.

Skuad berjuluk The Lobster ini juga mengaku tak mau kalah atas PSMS. “Dalam pertandingan tak ada tim yang mau kalah. Begitu juga PSMS. Saya berharap, dalam laga kali ini seluruh pemain bisa membuktikan dan menunjukkan penampilan terbaik mereka kepada masyarakat Sidoarjo,” tandasnya. (saz)

Diskon Tas Accent

MEDAN- Bagi para wanita, tas tangan bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap dalam berbusana saja, tetapi  juga  menjadi penentu prestige seorang wanita.
Wanita pasti berburu berbagai macam model tas tangan yang sedang ngetrend dan menarik. Namun, bagaimana jika tas yang diburu sama dengan yang dikenakan oranglain? Tentu hal ini sangat tidak diinginkan bukan. Untuk itu Accent di Plaza Medan Fair menyediakan berbagai model tas terbaru  dengan desain khusus dan elegan.

“Accent menyediakan banyak koleksi tas untuk wanita. Barangnya selalu update, jadi jangan takut jika memakai tas yang sama dengan orang lain. Tas yang kita sediakan dapat dipakai kemana saja seperti ke kantor, ataupun ke acara-acara formal,” kata pemilik toko Accent, Jaya Kumar. Menurutnya, tas Accent dengan bahan kain sintetis ini sangat cocok jika dipadu dengan busana kerja. “Selama ini,  Accent selalu menghadirkan busana kantor untuk wanita dengan desain dan model-model terbaru. Mulai dari blazer, pants, rok serta blus untuk wanita karir tersedia di Accent. Untuk melengkapinya, tersedia juga produk tas,’’ujarnya.

Selain itu, harga yang ditawarkan juga bervariasi yaitu harga normal tadinya Rp329.000, kini bisa didapat hanya seharga Rp199.000. Tentu saja ada syaratnya, yakni harus belanja minimal senilai Rp499.000 dengan kartu kredit Mandiri. “Jika tidak dengan kartu kredit, dapat membeli dengan harga promo juga dengan belanja minimal Rp599.000,” tambahnya lagi. (mag-11)

Diterpa Cedera di Saat Terakhir

PSMS menambah daftar pemain cedera, sehari sebelum laga kontra Deltras dimainkan. Setelah pasti ditinggal Anton Samba, Choi Dong Soo menyusul cedera pada sesi latihan terakhir.

Di samping pemain cedera, PSMS juga bakal ditinggal Zulkarnain karena akumulasi kartu kuning. Soal Dong Soo Suharto menginfokan masalah itu kemarin.  “Ia mengalami cedera di lutut. Dan sudah dipastikan tim medis, ia bakal tak bisa mempekuat PSMS besok (Hari ini, Red),” ujarnya, Jumat (2/3).

Sempat juga ada info beredar yang menyatakan wing back PSMS Wawan Widiantoro mengalami cedera engkel. Namun Suharto mengklarifikasi kabar tersebut dengan menyatakan Wawan sudah sembuh. “Tidak, dia bisa memperkuat PSMS besok (Hari ini, Red). Dia sudah sembuh,” katanya.

Namun, mengintip persiapan calon lawan, ternyata Deltras juga tak bisa diperkuat lima pemain intinya. Tiga karena cedera dan dua hasil akumulasi kartu kuning. Dari kabar ini, tetap saja Suharto tak mau lengah.

“Kita harus tetap waspadai tim lawan. Seperti saya katakan sebelumnya, skill individu pemain Deltras FC cukup merata. Jadi saya yakin mereka masih akan memberikan perlawanan sengit pada pertandingan besok (Hari ini, Red),” tutur pelatih berkepala plontos itu.

Lima pemain yang mungkin tak turun di Deltras adalah Shin Hyun Joon, Budi Sudarsono dan Purwaka Yudhi. M Fakhrudin serta Walter Brizuela yang terkena akumulasi kartu kuning.

Tanpa lima pemain pilarnya, tentu memberikan tekanan tersendiri bagi pelatih Deltras  Jorg Peter Steneibrunner. “Kami sudah siapkan sejumlah pemain lapis kedua untuk menutupi kelemahan tim,” ujar pelatih berkebangsaan Jerman itu.

“Saya akan menurunkan M Yusuf dan Indra Setiawan menutupi kekosongan di barisan tengah. Untuk sektor belakang, ada Wahyu Gunawan dan Achmad Maulana. Lini belakang sedikit tertolong, meski tak diperkuat Purwaka, kami memiliki Benny Wahyudi yang siap tampil maksimal,” pungkas Jorg. (saz)

Masifikasi Batik

Lina Kusyanto tak sedang bicara tentang nasionalisme sekalipun ia menyinggung salah satu identitas nasional yakni batik. “Saya ingin memperlihatkan bahwa batik cocok dipakai untuk busana internasional,” katanya.

Ia ucapkan itu seusai peragaan busana Batik Keris di Mal Pondok Indah Jakarta, tahun 2011 lalu, dan wartawan mode mencatat omongannya. Tentu, sekalipun terdengar sangat sadar budaya, terutama karena batik Indonesia sudah mendapat pengakuan UNESCO sebagai mata budaya tak benda warisan dunia, jelas ia tak sedang memberikan “peringatan” kepada Malaysia yang mengaku-akui batik sebagai warisan budayanya. Pengusaha batik itu sesungguhnya sedang mengungkapkan prioritas utamanya dalam mengakrabi batik: menjajaki kemungkinan batik dikomersialkan ke pasar internasional.

Bagi para pebisnis, membuka dan memperluas pangsa pasar dari produk-produknya merupakan kewajiban dalam mengembangkan usaha. Tanpa upaya itu, bisnis yang ditekuninya tinggal menunggu kebangkrutan.

Bagi para pebisnis pakaian jadi, menjadikan produknya sebagai ikon gaya hidup, salah satunya dilakukan dengan menggelar peragaan busana. Melibatkan para desainer kenamaan, salah satu teknik pemasaran di aras moderen saat ini.

Belakangan, para pebisnis batik semakin gencar berpromosi. Mereka melakukan penjajakan berbagai kemungkinan agar batik betul-betul menjadi ikon Indonesia yang bukan hanya bisa diterima publik nasional tetapi juga oleh pasar internasional. Kesibukan mereka ditandai dengan melibatkan para perancang busana kenamaan yang mampu menampilkan karya-karya disain kreatif, sehingga batik tetap senantiasa mengikuti tren mode.

Bukan perkara bisnis batik yang menjadi soal di sini, melainkan batik itu sendiri yang kini diposisikan sebagai “kain nasional”. Sebagai “kain nasional” merujuk pada konsep identitas politik bernama negara-bangsa, harkat batik kemudian ditingkatkan menjadi pakaian dinas harian (PDH) di lingkungan birokrasi pemerintah.

Swasta juga ikut-ikutan setelah kampanye “Satu Hari Mengenakan Batik”.  Maka, suatu hari penuh, kita mendadak menjadi orang Indonesia dengan kadar nasionalisme sangat kental. Dengan batik, semua suku lebur, meskipun tidak akan ada yang bisa menolak bahwa Batik merupakan tradisi kain yang berkembang di Pulau Jawa.

Sebagai identitas nasional, sudah diandaikan bahwa batik mengandung keragaman kain tradisional yang dimiliki kelompok-kelompok budaya yang ada di negeri ini, integrasi dari seluruh nilai-nilai tradisi yang melekat pada khazanah kain tradisi Nusantara.

Mungkin Koentjaraningrat tak pernah membayangkan kalau defenisi yang dibuatnya tentang kebudayaan nasional sebagai “puncak-puncak kebudayaan daerah” ternyata dipakai juga untuk menentukan batik sebagai kain nasional. Dengan begitu, batik merupakan “puncak kebudayaan kain” tradisional, sedangkan kain-kain tradisional lainnya berada pada posisi bukan puncak.

Sebagai puncak kebudayaan kain tradisional, sangat pasti, suatu saat batik akan membunuh kain-kain tradisional yang ada di negeri ini. Para pembunuhnya adalah pemilik kain tradisional itu sendiri, tentu tanpa mereka sadari.

Diawali dengan kebiasaan mereka memuja batik, lalu ikut serta mengkampanyekan “Satu Hari Mengenakan Batik” sebagai sebentuk tanda nasionalisme kebangsaan. Setelah itu ini yang paling mempengaruhi para pemilik kain tradisional itu melihat potensi ekonomi yang begitu besar.

Bayangkan apabila semua manusia Indonesia memakai batik, pasti akan mempengaruhi proses produksi batik, kemudian mendorong munculnya industrialisasi batik. Kita bisa mengkalkulasi, apa jadinya sebuah industri yang hasil produksinya dikampanyekan agar dipakai minimal sehari dalam sepekan.

Salah satu dampak yang kini dirasakan, potensi ekonomi yang besar itu telah merasuki isi kepala para elite pemerintah daerah untuk memproduksi batik yang khas daerahnya sendiri. Gagasan itulah yang kemudian akan membunuh kain radisional yang ada. Perhatian pemerintah daerah lebih difokuskan terhadap industrialisasi batik, karena konsumennya sudah pasti, yakni bisa disesuaikan dengan Permendagri Nomor 53 Tahun 2009 yang menetapkan tentang uniformitas PNS kain batik dan kain tradisional lainnya.

Permendagri tentang uniformitas PNS adalah gagasan yang ditawarkan oleh para pejabat pemerintah, elite-elite yang melihat seni dan kebudayaan bukan sebagai nilai atau filsafat hidup masyarakat yang menganutnya, tetapi sebagai tanggung jawab dan beban tugasnya. Tanggung jawab dan tugas yang harus dipikul karena pemerintah pusat telah mengeluarkan regulasi yang intinya bangsa Indonesia harus merasa banggsa atas sesuatu yang mendapat pengakuan UNESCO.

Tapi para elite pemerintah, terutama di daerah, menerjemahkan regulasi pemerintah pusat sebagai perintah yang berarti sebagai kewajiban. Maka, di daerah-daerah yang juga memiliki tradisi kain yang khas daerahnya, malah mengkampanyekan “Satu Hari Mengenakan Batik”.

Karena tanggung jawab dan beban yang disampaikan pemerintah pusat lewat Permendagri itu, kemudian semua pemerintah daerah menerjemahkan  batik sebagai kewajiban. Mereka pun menerjemahkan batik sebagai kain nasional dengan defenisi bahwa semua daerah harus memiliki batik sebagai identitas bersama, sehingga seluruh daerah kemudian memiliki batik yang sengaja diciptakan sesuai tradisi yang dianut masyarakat calon pemakainya.

Maka, batik yang selama ini menjadi kain tradisional mainstream masyarakat penganut kebudayaan yang ada di Pulau Jawa, kini dimiliki komunitas kebudayaan yang ada di luar mainstream itu. Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah lain yang memiliki kain tradisional daerahnya, perlahan-lahan memperkenal batik yang khas daerahnya. Sementara kain-kain tradisional yang sudah ada, tak pernah dipromosikan sedasyat ketika pemerintah daerah mempromosikan batik khas daerahnya.

Inilah yang terjadi di Kota Medan ketika pemerintah kota memberikan pelatihan membuat batik khas Kota Medan kepada masyarakatnya.

Pelatihan yang bertujuan meningkat keterampilan dalam membuat batik Medan yang dikampanyekan begitu luar biasa karena dibiayai dari dana APBD sebuah kebijakan yang justru menenggelamkan pengrajin ulos. Jangankan pelatihan serupa, perhatian yang begitu besar hampir tak pernah dinikmati masyarakat pengrajin ulos.

Apa yang sebetulnya ada dalam kepala para elite pemerintahan daerah yang begitu bersemangat memiliki batik khas daerahnya?

Di era otonomi daerah saat ini, para elite pemerintah daerah ternyata tidak punya kemampuan untuk memahami apa itu otonomi daerah. Mereka tidak memperhatikan potensi apa yang ada di daerahnya sendiri, tetapi menyibukkan diri mengadopsi hal-hal lain yang dinilainya bagus yang ada di luar daerahnya. Apalagi jika pemerintah pusat sudah ikut mempromosikan dengan memuji-puji hal yang berhasil itu sebagai sesuatu yang pantas dicontoh oleh daerah lain.

Sangat pasti, tidak akan ada penolakan dari daerah atau menimal mengkritisi, jika pemerintah pusat mulai mengkait-kaitkannnya dengan semangat nasionalisme. Nasionalisme yang dikonsep berdasarkan semangat Sumpah Pemuda untuk berikrar bahwa “kain persatuan Indonesia adalah batik”.

Para elite pemerintah daerah, justru pada saat masyarakatnya tidak ingin diseragamkan terutama dalam urusan yang sangat personal yakni biologis berupa sandang, malah sibuk untuk membakukan batik sebagai seragam kebersamaan. Lihatlah pegawai negeri sipil (PNS), mereka lebih tampak seperti sekelompok massa yang hanya bisa manut, yang seluruh riwayat hidupnya terdiri dari segala hal yang dibakukan.(*)

Penulis adalah Esais, peneliti
di Matakata Institute

4 Pendemo Terbakar

Puluhan Ormas Islam Unjukrasa di Kantor Wali Kota Medan

MEDAN-Tubuh empat orang pendemo yang tergabung dalam aliansi ormas Islam terbakar, saat menyalakan api di tumpukan ban bekas yang sudah disirami dengan bensin, depan kantor Wali Kota Medan, Jumat (3/3) sekitar pukul 14.00 WIB.

Keempat pendemo Iwan dari Ormas Islam terbakar di bagian paha sampain
kaki, Sofyan aktivis mahasiswa Unimed  terbakar dibagian kaki, punggung serta tangan, Bayan  aktivis mahasiswa Unimed terbakar di bagian kaki kanan dan Rahman terbakar pada badan. Keempatnya selanjutnya diboyong ke Rumah Sakit Brimob Poldasu untuk mendapatkan perawatan.

Kejadin itu bermula saat puluhan pendemo mengikuti aksi unjuk rasa menuntut janji Wali Kota Medan, Rahudman Harahap untuk melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Ikhlas, di Jalan Jati 1 Maret lalu.

Saat aksi puluhan pendemo cekcok dengan Kapolek Medan Baru, Kompol Dony Alexander, yang melarang pendemo membakar ban. Namun, pendemo tidak mengindahkan larangan tersebut. Beberapa orang dari pendemo tetap bersikeras membakar ban bekas yang sudah ditumpukkan  tepat di depan gerbang kantor Walo Kita Medan. Ada delapan ban bekas yang sudah disiapkan pendemo.

Beberap pendemo kemudian menyiramkan bensin ke ban tersebut. Tanpa dikoordinir, tiba-tiba salah seorang pendemo menyulutkan api ke arah tumpukan ban yang sudah disirami dengan bensin. Akibatnya, beberapa orang yang masih berada di dekat tumpukan ban tersulut api termasuk Iwan, Sofyan, Bayan dan Rahman.

Keempatnya mencoba memadamkan api dengan berguling-guling dibantu teman-temannya yang lain. Bayan dan Rahman melepaskan jaket dan baju yang sudah terbakar. Sedangkan Iwan dan Sofyan tidak bisa memadamkan api karena baju dan celana sudah terbakar di seluruh tubuhnya.

Meski kondisi tubuhnya sudah terbakar, Sofyan tampak tetap bersemangat dan langsung meneriakkan Allah Akbar sebanyak dua kali. Teriakan itu disambut peserta demo lainnya.

Sementara itu, polisi yang berjaga langsung memadamkan api dengan racun api serta mengamankan sisa ban yang belum terbakar untuk menghindari kebakaran. Setidaknya ada enam ban yang diamankan ke dalam halaman parkir kantor Wali Kota Medan.

Tidak berapa lama setelah kejadian, perwakilan peserta demo dipersilahkan masuk ke dalam kantor Pemko Medan agar tuntutan bisa disampaikan langsung ke pejabat pemerintah. Namun karena Wali Kota Medan Rahudman Harahap, pejabat utama yang ingin ditemui peserta demo tidak ada, akhirnya peserta memilih keluar lagi dan tidak menyampaikan tuntutannya kepada Asisten Kesejahteraan Sosial Musadad dan Asisten Pemerintahan Umum Daudta Sinurat yang mewakili Wali Kota Medan.

“Kalau Wali Kota Medan tidak mau menjumpai kami, kami tidak mau ketemu dengan yang lainnya,” kata Ketua Aliansi Formas Islam Sumut, Loe Insar Adnan, sesaat setelah mendapat informasi bahwa Wali Kota Medan tidak bisa hadir karena sedang menjemput Sri Sultan Hamengku Buwono IX di ruang VIP Bandara Polonia Medan.

Menurutnya, alasan ketidakhadiran wali kota tersebut tidak bisa diterima sehingga harus diwakilkan kepada yang lain. Sebab Wali Kota Medan sudah berjanji dengan peserta demo untuk melakukan peletakan batu pertama di Masjid Al-Ikhlas Jalan Timor pada 1 Maret 2012. Namun hingga 2 Maret 2012, tidak ada realisasi apapun.

Massa melanjutkan aksinya ke Hotel Emerald Garden di Jalan Putri Hijau.
“Sebelum berangkat ke Emerald Garden untuk melanjutkan aksi, kami memberikan bingkisan satu ekor kura-kura untuk Wali Kota Medan Rahudman yang sudah membohongi kami,” jelasnya.

Sementara, ratusan personil gabungan dari Sabhara Polresta Meda, Satpol PP dan pegawai pemerintahan Pemko Medan dan petugas kepling melakukan pengamanan mengantisipasi aksi unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan ratusan masa dari aliansi Ormas Islam sejak pukul 09.00 WIB.

Dengan membawa temeng dan pentungan, puluhan personel berbaris siaga di dalam pekarangan kantor Pemko Medan dibantu dua unit mobil rantis untuk memantau massa dilengkapi dengan CCTV dan satu unit mobil water canon milik Sabhara Polda Sumut, serta satu unit mobil pemdam kebakaran (damkar) milik Pemko Medan yang difungsikan untuk menyiram masa bila melakukan tindakan anarkis. Ditambahkan lagi mobil tahanan milik Polda Sumut juga distanbykan di lokasi.

Peletakan Batu Pertama Cuma Janji
Sementara rencana peletakan batu pertama pembangunan kembali Masjid Al Ikhlas di Jalan Timor No 23 Medan yang dijadwalkan 1 Maret 2012 belum terwujud. Hingga saat ini areal reruntuhan masjid masih dikelilingi pagar tembok bercat hijau.

“Peletakan batu pertama gagal karena Pemko Medan dan Pemprovsu tidak serius untuk menyelesaikan masalah ini dan bisa menimbulkan konflik berkepanjangan,” tegas Rafdinal SSos, Humas Panitia Pembangunan Kembali Masjid Al Ikhlas, didampingi Ketua Aliansi Ormas Islam, Drs Leo Imsar Adenan dan Ketua Forum Umat Islam Sumatera Utara, Ustad  Sudirman Timsar Zubil.

Padahal, tambah Rafdinal, sesuai pertemuan antara Muspida Plus, Pemko Medan, Pemprovsu, Kodam I/BB, MUI Sumut, anggota DPD RI DR Rahmat Shah, Forum Umat Islam dan Aliansi Ormas Islam  di Hotel Madani Medan telah disepakati, bahwa pembangunan kembali Masjid Al Ikhlas direncanakan paling lambat 1 Maret 2012.

“Aliansi Ormas Islam sudah dikecewakan. Bila dibiarkan berlarut-larut, maka kami akan melaporkan masalah ini kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” jelas Rafdinal.

Sementara itu,  Leo Imsar Adenan menyebutkan, pantia pembangunan kembali Masjid Al Ikhlas memang sudah terbentuk namun surat keputusan (SK) nya belum ditandatangani oleh unsur Muspida Plus atau Pemko Medan.
“Kami berharap agar Pemko Medan dan Pemprovsu benar-benar merealisasikan,” ujar Leo Imsar Adenan.

Pernyatan senada juga dilontarkan Ketua Umum Forum Umat Islam (FUI) Sumut, Ustad Sudirman Timsar Zubil. SK panitia pembangunan kembali Masjid Al Ikhlas agar segera dikeluarkan dan ditandatangani sehingga kepercayaan publik terhadap Pemko Medan dan Pemprovsu tidak hilang sama sekali. (adl/gus)

KPK: Ketum Parpol tak Kebal Hukum

JAKARTA-Ketua KPK Abraham Samad mengatakan, jika hukum memerlukan, pihaknya akan memanggil Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

“Sehubungan dengan itu, kini KPK menginvestigasi lebih dalam kasus korupsi wisma atlet. Dengan sendirinya KPK tentu menelisik secara hukum dugaan keterlibatan Anas Urbaningrum,” kata Abraham di lobi ruang rapat Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, kemarin (27/2).

“Begini ya, di dunia ini tidak ada orang yang kebal hukum, termasuk seseorang itu dalam posisi ketua umum partai politik apa pun,” tegas Abraham.

Ketika ditanya proses hukum mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Angelina Sondakh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap kasus wisma atlet, Abraham menegaskan, pihaknya akan segera menahan Angelina bila persyaratan hukumnya sudah terpenuhi.

“Jika ditahan sebelum berkas perkara selesai, tersangka bisa bebas demi hukum saat masa tahanannya habis. Jadi, KPK harus berhati-hati,” ungkapnya. (fas/jpnn/c7/jpnn)

Agar Makin Tenang

West Brom v Chelsea

WEST BROMICH- Kemenangan di kandang West Bromich Albion mesti diraih Chelsea, jika Andre Villas-Boas ingin lebih tenang dan tentu lebih lama di klub asal London itu. Jika sampai kalah lagi, bukan mustahil dia segera angkat kaki.

Main di kandang West Brom, tentu saja membuat AVB pening. Apalagi daya gedor The Blues sedang melempem. Itu karena tak kunjung tajamnya Fernando Torres. Penggantinya belakangan kembali ke Drogba. Namun pemain satu ini juga sudah mulai luntur ketajamannya.

Chelsea, yang saat ini berada di peringkat empat namun punya nilai sama dengan Arsenal di peringkat lima, 46 poin, berharap Drogba kembali fit. Usai melibas Bolton 3-0 di laga terakhir liga, Drogba dikabarkan cedera lutut.

Kabar baik dari daftar pemain adalah bakal kembalinya Ashley Cole yang sudah pulih dari cedera betis.  Dari kubu tuan rumah, Manajer  Roy Hodgson menyambut kembalinya sang kapten Chris Brunt untuk pertandingan melawan Chelsea. (ful)