26 C
Medan
Saturday, January 17, 2026
Home Blog Page 13844

Anggota DPRD Curi Uang di ATM

BENGKALIS- Polres Bengkalis akhirnya menahan oknum anggota DPRD Bengkalis SM  Jumat (2/3) sekitar pukul  15.15 wib,setelah berkas perkara kasus pencurian uang di ATM sebesar Rp1 juta yang dilakukan politisi PBB itu dinyatakan P21 (lengkap). Kendati tersangka menolak untuk ditahan, namun penyidik Polres Bengkalis tetap dengan keputusan menahan SM yang kemarin terlihat didampingi istri dan tiga orang pengacaranya.

Kapolres Bengkalis AKBP Toni Ariadi melalui Kasatreskrim AKP Arief Fajar SIK membenarkan penahanan oknum anggota DPRD Bengkalis itu. Berdasarkan hasil pendalaman penyidikan dan alat bukti serta saksi-saksi yang sudah diperiksa, maka berkas pemeriksaan sudah dinyatakan lengkap atau P21.”Karena berkas kasus ini sudah P21 atau berkas perkaranya sudah dilimpahkan ke Kejaksanaan Negeri Bengkalis, tersangka langsung kita tahan. Walau tersangka menolak untuk ditahan,”ujar Arif Fajar.

Menurut Arif, tersangka SM datang sekitar pukul 14.00 WIB ke Polres,setelah dilakukan pemeriksaan secara mendalam, akhirnya berkas sudah P21 “Tersangka dijerat dengan KHUP 362 tentang tindakan pencurian ancaman maksimal 5 tahun kurungan,” tandasnya.

Terpisah salah seorang Pengacara tersangka Hidayat Tullah saat mencoba dimintai tanggapannya soal kliennya resmi ditahan itu, lebih banyak berdiam diri. Untuk masalah tanggapan atas kasus kliennya itu.  “No comment dululah, yang jelas karena klien kita ditahan, upaya kita mengajukan permohonan penangguhan penahanan secepat mungkin,” singkat Hidayat Tullah SM sebelumnya  berstatus tersangka.(evi/jpnn)

Foto Pria Kencing, Google Digugat

SEORANG warga sebuah desa di bagian barat laut Perancis menggugat Google. Penyebabnya, karena situs pencarian telah memuat foto pria desa yang sedang buang air kecil di pekarangan rumahnya secara on line dalam aplikasi Street View.  Ia meminta uang ganti rugi sebesar Euro 10,000, atau sekitar Rp119 juta karena merasa sudah kehilangan muka di depan tetangganya.

The Telegraph dalam edisi Jumat (2/3), melaporkan bahwa  gambar pria berusia 50 tahun terekam oleh kamera otomatis yang diletakkan pada mobil Google Street View yang sedang berkeliling di daerah Maine-et-Loire. Dalam gugatan yang didaftarkan Kamis (1/2), sang pria meminta Google mencabut foto dirinya dari internet. Dia beralasan tetangga sekitar rumahnya tetap mampu mengenali dirinya meskipun wajahnya ditutupi.

Jean-Noel Bouillard yang menjadi pengacara bagi sang pria yang tidak ingin identitasnya diketahui publik itu menyatakan bahwa Google telah melanggar privasi kliennya. “Masalah ini memang sekilas terlihat konyol, tapi ini sangat serius,” Bouillard.

Menurut Bouillard, kliennya tidak menyangka tindakan yang dilakukannya bulan November 2010 tersebut akan diketahui orang lain karena rumahnya dikelilingi pagar yang tinggi.  Hanya saja Bouillard tidak menjelaskan alasan sang pria memilih buang air kecil di luar rumah. (ara/jpnn)

Sekali Suntik Rp100 Juta, Pilih Terapi Meski Kanker Stadium Lanjut

Curhat Pasien Kanker di Fuda Cancer Hospital, Guangzhou, China

Divonis kanker stadium lanjut bak terkena pukulan supertelak. Bikin shock, bingung, dan sedih. Nah, pasien seperti itu butuh pendekatan personal dan penjelasan mendetail. Seperti apa?

ANDA MARZUDINTA (dari Guangzhou).

Maria Bernadeth Susilowati, 70, tak pernah mengira bahwa batuk yang dialaminya selama tiga bulan terakhir merupakan gejala kanker. Maklum, batuk itu seperti batuk biasa. Tidak mengeluarkan dahak, apalagi darah. Batuk tersebut kadang-kadang hilang, tapi kemudian kambuh lagi. Selain batuk, ibu lima anak itu beberapa kali merasakan tenggoroknya gatal.

“Saya bukan perokok, hampir tidak pernah minum minuman beralkohol. Saya juga hampir tidak pernah kena asap dapur karena sibuk bekerja. Jadi, saya bingung dari mana sumber kanker paru ini,” ujar Maria kepada Jawa Pos (Group Sumut Pos)di Fuda Cancer Hospital, Guangzhou, China, Jumat lalu (24/2).

Suatu ketika Maria mengeluhkan batuknya itu kepada saudaranya yang jadi dokter. Dia pun disarankan untuk rontgen dada. Hasilnya, ada benjolan di paru-paru Maria. “Saya ingat betul, waktu itu 19 Juli 2010. Kata dokter, lokasi benjolan dekat dengan pembuluh darah besar di perbatasan jantung dan paru-paru. Kalau mau operasi, sulit,” jelas perempuan yang mengelola perusahaan garmen bersama keluarganya itu.

Setelah diketahui ada kanker di paru-paru Maria, dilakukan perundingan keluarga. Dua kakak, seorang adik, dan lima anaknya mengupayakan hal terbaik demi kesembuhan Maria. “Apalagi, papa saya baru sekitar dua tahun lalu meninggal karena brain cancer (kanker otak). Kami ingin yang terbaik untuk mama,” kata Toni, anak kedua Maria yang setia mendampingi sang mama di Guangzhou.

Maria kemudian berobat ke Singapura. Dia menjalani biopsi dan dinyatakan mengalami small cell carcinoma. Maria harus mengikuti tahap terapi kanker. Yakni, radioterapi sebanyak 15 kali. “Sinar (demikian Maria menyebut radioterapi, Red) dilakukan setiap Senin sampai Jumat,  Sabtu, dan Minggu libur,” cerita nenek delapan cucu itu.

Maria juga wajib kemoterapi setiap tiga minggu. “Efeknya, tumpah (muntah), diare sampai seminggu, dan rambut rontok. Tidak cuma rambut kepala, rambut alis dan rambut lain juga habis,” ungkap dia. Berat badan Maria pun turun drastis. Yang awalnya 79 kilogram menjadi 69 kilogram. Satu paket kemoterapi terdiri atas enam kali terapi. Setelah itu, baru dilakukan PET scan (positron emission tomography scan) dan general check-up. “Hasilnya bagus, tidak ada penyebaran. Saya ganti-ganti obat kemo sampai lima kali,” jelasnya.

Pada PET scan berikutnya, diketahui ada penyebaran. “Dokter menyarankan ganti obat kemo. Harganya nggak ketulungan, sekali suntik seratus juta rupiah,” ujar perempuan yang tinggal di Malang, Jatim, tersebut. Untuk sekali terapi di Singapura, Maria menyatakan habis sampai Rp 70 juta.
Dia kemudian berunding dengan keluarga. “Anak saya yang tinggal di Korea meminta kopi semua hasil pemeriksaan saya. Dia ingin mendiskusikan pilihan penanganan selain kemo yang mahal itu,” ujarnya.

Akhirnya, disepakati melanjutkan pengobatan Maria di Guangzhou. “Pada 17 November 2011 saya periksa darah dan PET scan ulang di Fuda Cancer Hospital ini. Hasilnya, kanker sudah menyebar ke liver, tulang belakang, dan entong-entong (punggung atas). Hasil CEA (penanda kanker) juga tinggi sekali, sampai 500-an,” paparnya.

Menurut perempuan yang berada di bawah pengawasan dr Silvia Mariann dan suster Xiaoli Ren itu, dokter memberikan penjelasan mengenai penyakitnya dengan sangat detail. “Saya jadi bisa menerima bahwa kanker itu tergolong penyakit kronis. Para dokter mengupayakan cara untuk mengendalikan kanker,” imbuh dia.

Dia juga mendapat penjelasan dari dr Changming Zheng, kepala lantai 3, yang mayoritas dihuni pasien dari Indonesia. “Saya perlu cryosurgery dua kali, kemudian kemoterapi nano,” tuturnya, menirukan penjelasan dokter.

Cryosurgery merupakan metode pembekuan tumor menjadi bola es dengan menggunakan gas argon. Targetnya suhu minus 160 derajat Celsius. Kemudian, suhu dinaikkan menjadi 40 derajat Celsius dengan memanfaatkan gas helium.

“Dengan cara tersebut, diharapkan sel-sel kanker mati. Tetapi, jaringan sehat di sekitar benjolan tidak terpengaruh,” jelas dr Lizhi Niu PhD, pakar cryosurgical ablation (CSA), setelah peresmian gedung baru Fuda Cancer Hospital, Jinan School of Medicine, yang dihadiri Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, Sabtu (25/2).

Prof dr Kecheng Xu, chief executive president Fuda Cancer Hospital, menambahkan, yang diupayakan tim dokternya adalah mengendalikan kanker. (c11/ca/jpnn)

Guru TK bodhicitta Tabrak 15 Muridnya

Sudah 8 Bulan Bermobil, Belum Mahir Mundur

Medan-Seorang guru Taman Kanak-kanan (TK) Perguruan Buddhis Bodhicitta Jalan Selam Medan, menabrak 15 muridnya saat sedang senam di halaman sekolah, Jumat (2/3) pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Selain 15 murid itu guru yang bernama Marini (22) juga menyebabkan seorang murid SMP dan seorang guru cedera.

Pagi kemarin, sejatinya murid TK yang ditabrak itu sedang melakukan persiapan di lapangan untuk melakukan senam pagi. Saat itu kelima belas murid ini dibariskan di halaman sekolah yang berjarak sekitar 5 meter dari mobil Marini, Toyota Avanza matic dengan nomor polisi BK 1272 VQ warna silver.

Tak jauh dari lokasi itu, ada juga seorang murid SMP dan seorang guru.
Marini melihat mobil miliknya menghalangi lokasi yang digunakan untuk senam pagi. Dia pun memindahkan mobil tersebut. Maksudnya, agar senam menjadi nyaman. Sayangnya, usaha Marini malah membuat bencana.

Saat memundurkan mobil matic-nya itu, Marini tak mampu mengontrol. Mobil mundur dengan cepat. Marini tak melihat lima belas muridnya berada di belakang mobil. Prakk! Menyadari anak muridnya tertabrak, Marini kalut dan memajukan mobilnya itu.

Usaha ini ternyata tambah parah. Ada beberapa muridnya yang terlindas hingga dua kali. Tidak itu saja, murid SMP dan seorang guru yang berada di dekat lokasi ikut tersenggol dan menyebabkan luka. Mobil yang tak terkontrol itu akhirnya berhenti setelah menabrak tembok yang ada di sana.

Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, Marini yang merupakan warga Tajungbalai , terbilang sering mengendari mobilnya.

Dan mobil itu pula yang menjadi kendaraannya sehari-hari berangkat mengajar dari tempat kosnya di Jalan Beo No 10 A Medan. “Baru delapan bulan yang lalu, dia (Marini, Red) mulai mengendari mobilnya,” ucap kerabat dekat Marini, Andre Tan, yang dijumpai Sumut Pos di Satlantas Polresta Medan, kemarin.

Menurut keterangan saksi mata yang ditemui oleh Sumut Pos di lokasi kejadian, peristiwa tersebut memang cukup cepat. Bahkan, saksi mata yang tak ingin disebutkan namanya itu, tidk bisa berbuat apa-apa. “Aku sudah menjerit, namun tidak didengar. Malah, maju pula itu,” sebut wanita keturunan warga Tianghoa ini.

Pengakuan Rudi Rahman, Donatur Yayasan Perguruan Bodhicitta, yang didampingi Piter Lin, Direktur Pendidikan Yayasan Bodhicitta, di Lantai II Hotel Polonia Medan, sejatinya Marini bermaksud baik. Mengenai parkir mobil di dalam halam sekolah, menurut mereka adalah sebuah kebijakan perguruan. Semua mobil termasuk mobil orangtua siswa memang dimasukkan ke dalam halaman guna menghindari penculikan yang saat ini sedang marak.

“Marini tak menyangka dirinya menabrak murid. Tak hanya itu, dia juga bolak-balik pingsan saat ditanyai soal kejadian ini,” ungkap Rudi Rahman sembari mengatakan biaya pengobatan korban semuanya ditanggung oleh pihak yayasan.

Menurut Piter Lin untuk sanksi bagi Marini pihak yayasan menyerahkan sepenuh pada kepolisian. “Setiap orang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika memang bersalah, kita serahkan kepada pihak kepolisian,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai status Marini, Piter Lin menerangkan bahwa yang bersangkutan guru pengajar di sekolah tersebut. “Yang bersangkutan bukan guru tetap. Untuk menjadi guru tetap harus melalui beberapa tahapan,” ungkapnya.

Sementara itu, sebanyak sembilan murid perguruan Bodhicitta yang menjadi korban tabrakan sang guru telah diperbolehkan pulang oleh pihak RS Colombia Asia. Sedangkan tujuh murid lainnya masih mendapat perawatan insentif.

Wakapolresta Medan, AKBP Pranoyo, saat mengunjungi RS Colombia Asia mengatakan, hingga saat ini tak ada siswa yang meninggal dunia seperti isu yang yang berkembang di kalangan kawan-kawan media. Lebih lanjut, ditambahkannya, semua korban hanya mengalami luka-luka saja. “Kecelakaan disebabkan oleh kelalaian pihak guru saat mengendarai mobil dan menghantam murid yang sedang melakukan senam pagi,” katanya di RS Colombia Asia usai mengunjungi para siswa.

Wali Kota Minta Penanganan Serius Terhadap Korban

Menyikapi insiden kecelakaan yang terjadi, Wali Kota Medan Rahudman Harahap memastikan langkah pertama yang dilakukan, yakni bagaimana anak-anak bisa ditangani dengan sebaik-baiknya.

“Dari pengecekan yang saya lakukan terkait penanganan yang dilakukan pihak rumah sakit terhadap korban kecelakaan, ternyata seluruh korban telah ditangani dengan baik,” kata Rahudman di Rumah Sakit Colombia Asia.

Selain ingin mengetahui sejauh mana kondisi para korban, peninjauan itu juga dilakukan Rahudman melihat  bagaimana penanganan maupun perawatan yang telah diberikan pihak rumah sakit  terhadap korban. Hal itu dilakukan agar  luka-luka yang dialami para korban secepatnya disembuhkan.

Sedangkan untuk peristiwa kecelakaan yang terjadi, Rahudman menjelaskan kasus ini telah ditangani oleh pihak berwajib. Dengan kejadian ini, Rahudman mengingatkan kepada semua inntansi, khususnya sekolah supaya ke depan untuk lebih mengutamakan keamanan dan ketertiban, terutama letak kenderaan agar tidak parkir sembarangan baik itu di dalam maupun luar sekolah.

“Saya mendengar  kecelakaan ini terjadi karena guru yang sedang memundurkan mobilnya, mungkin gugup sehingga kecelakaan terjadi. Saya berharap kecelakaan seperti ini tidak terulang kembali,” harapnya.

Rahudman mengaku  miris dengan kecelakaan yang terjadi. “Seluruh orangtua korban untuk bersabar menghadapi cobaan ini. Sedangkan kepada dokter yang menangani para korban agar benar-benanr memberikan perawatan terbaik.

Kepada pihak sekolah, kita berharap bisa memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya  terkait dengan kecelakaan terjadi, terutama kepada pihak kepolisian sehingga  kejadian ini lebih jelas. Untuk pihak rumah sakit, kita juga berharap agar para korban ditangani oleh dokter-dokter spesialis,” ungkapnya. (jon/gus/uma/adl/mag-11)

Di Sumut, Guru Wajib Setor Rp2 Juta

Suap Warnai Ujian Kompetensi

JAKARTA-Penyelenggaraan perdana uji kompetensi awal (UKA) untuk guru calon peserta sertifikasi diwarnai kabar suap. Sejumlah guru di Sumatera Utara (Sumut) dikabarkan wajib menyetor Rp2 juta per orang kepada oknum dinas pendidikan kabupaten supaya lulus ujian itu.

Kabar adanya suap dalam UKA tersebut langsung ditanggapi jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDM-PMP) selaku pelaksana teknis UKA meminta guru yang terlibat suap itu buka mulut. “Mohon dilaporkan suap itu diberikan kepada siapa,” ujar Kepala BPSDM-PMP Syawal Gultom Jumat (2/3).

Permintaan Gultom tersebut mungkin sulit dipenuhi. Sebab, para guru yang sudah menyetor Rp2 juta itu bisa dipastikan tidak akan mengaku kepada siapa uang tersebut diserahkan. Sebab, jika melapor, mereka khawatir malah mendapat perlakuan negatif dari pejabat yang telah disogok. Gilirannya, para guru tersebut takut tidak lulus UKA. Jika tidak lulus, harapan memperoleh tunjangan profesi pendidik (TPP) pun bisa melayang.

Gultom mengaku sudah membaca laporan adanya guru yang dimintai sejumlah uang itu. Dia belum berniat menurunkan tim khusus untuk memverifikasi adanya praktik kotor tersebut. Mereka beralasan, dinas pendidikan kota, kabupaten, bahkan provinsi tidak memiliki wewenang untuk meluluskan peserta UKA.

Mantan rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) itu menjelaskan, seluruh lembar jawaban peserta UKA dipindai atau dikoreksi di Jakarta. Dia mengungkapkan, pihak yang diberi mandat untuk mengoreksi ribuan lembar jawaban peserta UKA itu adalah Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud. “Jadi, di sini sudah terputus hubungan antara dinas pendidikan daerah dan kelulusan UKA,” tegas Gultom.

Dia menyatakan, pihaknya bakal menggunakan dua acuan untuk menentukan kelulusan UKA. Pertama, kuota peserta sertifikasi di suatu daerah. Kedua, passing grade nilai tertentu. Sayangnya, rumusan pasti komposisi dua acuan penilaian tersebut belum bisa dipaparkan. Tapi, Gultom berjanji mengumumkan hasil UKA ke media massa sebelum disampaikan kepada seluruh peserta ujian.

Namun, dia menyatakan bisa menjadikan laporan adanya suap tersebut sebagai koreksi. Dengan demikian, dalam pelaksanaan UKA kedua dan seterusnya nanti tidak ada kabar buruk seperti itu lagi. Gultom menegaskan, guru tidak harus menghiraukan omongan-omongan petinggi dinas pendidikan daerah. Terlebih oknum yang mengiming-imingi bisa meluluskan mereka dalam UKA dengan kompensasi biaya tertentu.

Para guru juga wajib paham bahwa UKA tersebut bukan ujian terakhir. Kalaupun lulus UKA, belum tentu mereka bisa langsung memperoleh TPP. Sebab, mereka harus dinyatakan lulus pendidikan latihan profesi guru (PLPG) lebih dulu.

Praktik suap tersebut diduga terjadi karena guru cemas tidak lulus UKA lantaran ketatnya persaingan dan tingkat kesulitan soal yang lumayan berat. Sebagaimana diketahui, UKA 2012 yang dilangsungkan pada 25 Februari lalu diikuti 282.265 guru dan pengawas sekolah. Di antara jumlah tersebut, pemerintah memiliki kuota peserta sertifikasi 250 guru. Anggaran yang dihabiskan untuk menghelat ujian itu mencapai Rp6,5 miliar.

Pengumuman kelulusan UKA sampai sekarang masih belum pasti. Tapi, Kemendikbud menargetkan hasil UKA sudah bisa diketahui pertengahan bulan ini. (wan/c5/agm/jpnn)

Polisi: Marini Tidak Sakit

Setelah menabrak 15 muridnya, muncul berbagai pertanyaan tentang sosok Marini. Guru yang gagal menguasai mobilnya saat posisi mundur itu memang mengingatkan kasus Afriyani di Jakarta beberapa waktu lalu yang menwaskan sembilan orang.

Pertanyaannya, mungkinkah Marini dalam kondisi seperti Afriyani yang positif mengonsumsi narkoba? “Dia sehat (Marini, Red)tidak dalam keadaan sakit,” tegas Kasat Lantas Polresta Medan Kompol M Risya Mustario, kemarin.

Pernyataan Risya didapat setelah Marini diserahkan oleh pihak keluarga pelaku ke Satuan Lalu Lintas Polresta Medan, Jumat (2/3) sore sekitar pukul 17.30 WIB. Risya menambahkan Marini dititipkan rumah tahan wanita di Polresta Medan.”Hasil penyeledikan dari CCTV dia adalah pelaku tunggal dalam kejadian,” ungkapnya.

Sebelumnya, Marini yang didamping pihak keluarga enggan berkomentar atas kejadian yang dialaminya. Marini dengan mengguna pakaian berwarna abu-abu menutupi mukanya menuju ruang pemeriksaan unit Lakalantas Satlantas  Polresta Medan di Lantai II gedung Satlantas Polresta Medan.

Di dalam ruang pemeriksaan Marini hanya tertunduk sambil dilakukan pemeriksaan oleh juru periksa Satlantas Polresta Medan.

Sementara itu Awi bapak pelaku kepada sejumlah wartawan mengatakan meminta maaf kepada pihak korban atas kejadian ini.”Saya minta maaf kepada semua korban atas kejadian ini,”pintanya.

Lanjut pria tua ini mengungkapkan bahwa pagi harinya, pelaku sempat menelepon untuk menanyakkan kabar dan izin pamit pergi kerja.”Tadi pagi menelpon aku dan aku pun tahu kejadian ini,” sebutnya.

“Begitu tahu, aku tahu langsung kesini, Marini juga yang menelepon aku,” tambah Awi yang bekerja sebagai nahkoda kapal penangkap ikan di perairan kawasan Tanjungbalai.

Marini merupakan mahasiswi IT&B di Jalan Mahoni Medan, semester VI dan sudah bekerja Perguruan Buddhis Bodhocittia selama dua tahun, setahun pernah menjadi kasir sekolah ini, kemudian bekerja sebagai guru TK. “Anakku kuliah di Medan, semester terakhir, sudah dua tahun dia bekerja di sekolah itu,” pungkas Awi. (gus)

Dispenda Medan Diduga Korupsi Rp4,3 Miliar

MEDAN-Puluhan massa yang menamakan diri Aliansi Gerakan Mahasiswa Medan (Agam), Jumat (2/3), menggelar unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu). Mereka menuntut Kejatisu mengusut dugaan korupsi sebesar Rp4,3 miliar di Dinas Pendapatan (Dispenda) Medan.

Sebelumnya mereka juga menggelar unjuk rasa di Balai Kota menuntut Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, mencopot Kadispenda Medan, Syahrul Harahap, terkait kasus tersebut.

Di Kejatisu massa Agam meminta Kepala Kejatisu yang baru, Noor Rahmad SH, untuk mengusut tuntas dugaan korupsi tersebut. Dalam orasinya, pimpinan aksi Rifva Ginanjar, menduga adanya dugaan penyelewengan honorarium pegawai honorer sebanyak 2.530 orang pada tahun 2011 senilai Rp3.061.300.000.

Kemudian pengadaan lift senilai Rp1.016.111.250. Proyek tahun 2011 itu hingga kini belum selesai dikerjakan. Pasalnya hingga kini lift tersebut belum bisa dipergunakan. Selain itu, dalam pengadaan lift itu juga diduga terjadi penyimpangan spesifikasi. Dalam dokumen pengadaan lift berkapasitas 15 orang, namun lift yang terpasang hanya berkapasitas 9 orang.

Tak cuma itu, Rifva juga mengatakan, ada pembengkakan honorarium pegawai cleaning service (CS) sebanyak 216 orang senilai Rp261.000.000. Total nilai dugaan korupsi di Dispenda Medan selama 2011 mencapai Rp4,3 miliar. “Kami meminta kejatisu mengusut tuntas dugaan korupsi ini dan memeriksa Kepala Dinas Pendapatan Kota Medan,” katanya.

Massa Agam kemudian diterima Kasi Penkum Kejatisu, Marcos Simaremare SH MH. Dia mengatakan akan meneruskan aspirasi para mahasiswa tersebut kepada Kepala Kejatisu. “Kajatisu akan menyelidiki dan mencoba menemukan bukti permulaan dalam dugaan korupsi di Dinas Pendapatan Kota Medan,” katanya. Usai mendengarkan arahan Marcos, massa Agam membubarkan diri dengan tertib.

Sebelumnya, massa Agam menggelar aksi di Balai Kota. Mereka menuntut Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, mencopot Kepala Dinas Pendapatan (Kadispenda) Medan, Syahrul Harahap terkait dugaan korupsi tersebut. “Kami meminta kepada Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, segera mencopot Kadispenda Medan karena dianggap gagal menjalankan tugas,” kata Rifva Ginanjar.

Kadispenda Medan, Syahrul Harahap, yang dikonfirmasi wartawan koran ini membatah semua tudingan itu. Dia mengatakan, dugaan korupsi yang dituduhkan massa Agam sama sekali tak berdasar. Semua proyek di dinas yang dipimpinnya telah berjalan sesuai prosedur. “Tak ada yang betul itu, tak ada yang jelas,” jelasnya. (rud/adl)

Belum Ada Balon Gubsu yang Layak

Dari Diskusi Pilgubsu dengan Praktisi Kesehatan

MEDAN-Pernyataan mencengangkan muncul dalam diskusi Sumut Pos dengan Praktisi Kesehatan Medan, dr M Nur Rasyid Lubis SpB FINACS, terkait Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013, kemarin. Praktisi kesehatan yang akrab dipanggil dr Mamad itu mengatakan dari sekian bakal calon (balon) yang akan maju ke Pilgubsu, belum ada satu pun yang dianggap bisa meningkatkan kesehatan di Sumut.

“Gatot, Gus Irawan, RE Nainggolan, dan lainnya sama saja Belum ada yang terlihat pas kalau dipandang dari sisi visi kesehatannya,” ungkap dr Mamad di Graha Pena Medan, Jumat (2/3).

Dr Mamad menjelaskan, ada beberapa poin penting agar Sumut bisa maju dalam bidang kesehatan. Pertama, perbaikan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Artinya, cepat menangani pasien dan keprofesionalan pelaku bidang kesehatan. “Bagaimana membuat pasien merasa terhargai dengan pelayanan yang cepat dan tepat,” katanya.

Kedua, memandirikan fasilitas di rumah sakit. Dianggap tidak mandiri adalah ketika sebuah rumah sakit masih berharap dengan fasilitas yang ada di rumah sakit lain. Ketiga, pemerataan dokter pemerintah. “Kenyataannya dokter pemerintah juga praktik di rumah sakit swasta. Bukan tidak boleh, tapi berani tidak gubernur yang akan datang membuat regulasi dokter pemerintah tersebut,” cetus dokter yang juga Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK)IDI Medan itu.

Maksud dr Mamad, ada sebuah aturan yang mengatur penyebaran dokter dengan tegas antara rumah sakit pemerintah dan swasta. Ada tata caranya, hingga tidak menumpuk pada rumah sakit tertentu. Dan, ketika sudah berpraktik di rumah sakit swasta tak perlu lagi ke rumah sakit pemerintah. “Ini terkait soal poin pertama tadi. Bayangkan saja, ketika ada pasien di sebuah rumah sakit, tapi dokternya malah di rumah sakit lainnya,” jelas dr Mamad.

Keempat, soal ketersediaan obat. Untuk hal ini, bagi dr Mamad, bidang ini cerita baru. Pemerataan obat sudah lama menjadi kendala di Sumut. Poin kelima pada pembiayaan yang mahal. “Sebenarnya tidak mahal. Jika dibandingkan dengan Malaysia tepatnya Penang, biaya pengobatan sama saja.

Bedanya, pemerintah Malaysia tidak mengutip pajak tinggi. Sementara di negeri kita ini, pajak alat kesehatan kita bisa mencapai 40 persen!” tegas dokter yang juga menjabat Direktur SDM dan Pendidikan Rumah Sakit Umum Pusat H Adam Malik.

Dan poin terakhir, menurut dr Mamad, soal ketepatan diagnostik. Untuk bagian ini, sejatinya Sumut tidak kalah dengan negara lain. Malah, di beberapa kasus, pasien yang berobat ke negara tetangga malah menyesal. Pasien itu pun malah sembuh ketika kemudian dipindahkan ke Sumut.

Keenam poin di atas, bagi dr Mamad, adalah catatan penting untuk calon pemimpin Sumut di masa mendatang. Gubernur yang baru harus mampu menjadikan Sumut tidak hanya sebagai tempat kunjungan wisata, tapi juga tempat tujuan untuk berobat. “Tapi, dari sekian tokoh yang namanya sudah muncul, ya tetap saja belum ada yang pas. Belum ada satu pun dari mereka yang tampak memberikan perhatian lebih soal kesehatan di Sumut,” ulas dr Mamad.

Jika memang belum ada balon yang cocok, apakah ada gubernur Sumatera Utara selama ini yang ideal di sisi kesehatan? “Marahalim Harahap. Pada masa dia, cukup banyak rumah sakit berdiri. Setelah itu, mungkin T Rizal Nurdin,” pungkas dr Mamad. (omi)

Tower 433 Meter & Patung 5 Kambing

Travel Tour Hongkong-Macau (4)

Oleh: DAME AMBARITA
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Nginap semalam di Shenzen, perjalanan berlanjut ke Guangzhou, ibukota Provinsi Guangdong di Cina Selatan. Lagi-lagi naik bus. Sama seperti Hong Kong dan Shenzhen, kota terbuka kedua ke Cina ini juga dipenuhi deretan gedung-gedung tinggi. Lalu-lintas sama teraturnya dengan kedua kota sebelumnya. Tak banyak kendaraan. Polusi pun terkendali.

Pemandangan yang nyaris mirip di ketiga kota ini (Hong Kong, Shenzhen, dan Guangzhou) adalah penampilan modis para warganya. Karena kemarin sedang musim dingin umumnya orang mengenakan mantel tebal dan sepatu bot. Tapi jangan bayangkan penampilan ala petani atau pedagang di Sambu.

Fashion mereka benar-benar modis. Sweater, mantel, atau jaket yang mereka kenakan mewakili selera fashion dunia. Sepatu botnya juga modis. Pukul rata, para ladies di sana –baik wanita karir, karyawati, maupun yang jalan-jalan—terlihat sama modisnya dengan penampilan artis-artis kita di tanah air.

Sebagai perbandingan, bayangkan saja penampilan para ladies di sana dengan model-model yang berparade membawakan pakaian musim dingin, di catwalk dunia. Kurang lebih, miriplah.

Di Guangzhou, Aming membawa peserta tour ke Canton Tower (Guangzhou NewTV Tower) setinggi 433,2 meter. Menara ini pernah digunakan sebagai tempat pertunjukan kembang api pada Olimpade Beijing tahun 2008 lalu. Untuk naik ke atas tower naik lift, perlu antrian bertahap yang diatur sejumlah petugas berseragam. Tak ada yang berebut. Takut ama petugas berwajah dingin.

Nah, dari atas tower, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan Pearl River, sungai terbesar di Guangzhou dan terpanjang ketiga di Cina, yang terletak tak jauh dari tower. Sayang, karena pertengahan Februari kemarin sedang musim dingin, pemandangan yang terlihat sangat terbatas. Kabut menutupi kota dan sungai di kejauhan.

Turun dari tower, seharusnya para peserta dibawa ke Yue Xiu Garden dengan patung 5 kambingnya yang terkenal sebagai lambang kota Guangzhou. Adapun kisah kelima ekor kambing itu, kata Aming, memiliki legenda tersendiri.
Adalah cerita rakyat Guangzhou sejak 2000 tahun lalu, ketika Guangzhou masih merupakan wilayah yang rakyatnya tengah kelaparan, daerahnya miskin, gersang dan tandus. Walaupun orang-orang telah bekerja keras tetapi terus saja gagal dan tetap miskin.

Suatu kali, terdengarlah suara melodi dari langit, lalu muncullah lima dewa dari langit dengan baju lima warna yang mengendarai  lima kambing. Setiap kambing tersebut membawa bibit padi di setiap mulut mereka. Lalu kelima dewa itu beserta lima kambingnya meninggalkan biji-bijian itu kepada orang-orang yang tinggal di Guangshou.

Setelah itu kelima dewa naik kembali ke langit mengendarai awan dan meninggalkan lima kambingnya di daerah Guangshou. Akhir kisah ini, kelima kambing tersebut seketika itu juga berubah menjadi batu, dan sejak itu Guangshou menjadi tanah yang subur dan makmur. Patung lima kambing ini berdiri kurang lebih 10 meter dari permukaan tanah dan terletak di Taman Yue Xiu di Guangzhou. Arti kata Guangzhou adalah kota kambing dan kota telinga.

Tetapi rencana tour ke Yue Xiu Garden untuk melihat patung kelima kambing itu batal. Pasalnya para ladies-ladies yang bergabung di tour lebih suka wisata belanja saja. Jadilah bus memutar ke Beijing Road.

Tak banyak kesan di kota ini karena waktu lebih banyak dihabiskan melihat-lihat di toko-toko. Yang pasti saat jadwal makan di restoran di kota manapun, bebek peking wajib ada dalam daftar menu. (dame)

Komisi C Harus Ambil Sikap

Soal Sirkuit Pancing

MEDAN-Persoalan Sirkuit Multifungsi Pancing, aset atau bukan aset Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), mulai menemukan titik terang.
Berdasarkan keterangan Ketua Komisi C DPRD Sumut, Marasal Hutasoit kepada Sumut Pos, Jumat (2/3), sudah ada alih lahan tersebut kepada pihak pengembang.

Dijelaskannya, berkisar tahun 1980-an, pembangunan Kantor Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) di Jalan Pancing (sekarang Kantor Dinas Tarukim, Dispora dan Gedung Serba Guna, red), mengalami kekurangan biaya. Saat itu, yang membangun kantor tersebut adalah PT Perumahan Sarana dan Prasarana Pemprovsu.
Kemudian, karena kekurangan itu, ada kesepakatan dengan pengembang, untuk membantu dana tambahan pembangunan Kantor Gubsu saat itu. Namun, dana yang dipinjamkan itu, tidak begitu saja diberikan. Ada semacam kompensasi dari kesepakatan itu, yakni pengembang meminta 25 hektar lahan. Nah, lahan itu termasuklah lahan sirkuit multifungsi itu. Kemudian, pembangunan kantor gubsu di lahan dari pihak PTPN II tersebut, diteruskan oleh PT Mutiara Development.

“Saat itu akhirnya memang ada penjualan tanah itu, sekitar Rp80 miliar. Dan itu dibawa ke pemerintah pusat, dalam hal ini Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Ketika itu Mendagrinya masih Rudini. Namun yang kita sesalkan, kenapa sampai dilakukan seperti itu. Meskipun surat-suratnya sudah sesuai semua. Surat-surat atau bukti-buktinya sudah ada sama saya, sayangnya saya sudah keluar kantor. Dan data itu ada di kantor,” ungkapnya.

Sementara itu, pengamat kebijakan dan anggaran Sumut, Elfenda Ananda kepada Sumut Pos menegaskan, masalah ini tetap harus ditelusuri. Karena menurutnya, pelepasan hak atas tanah atau lahan tidak bisa begitu saja dilakukan.

Dalam hal ini, Pemprovsu harus melakukan penelusuran atas bukti-bukti kepemilikan aset tersebut. “Itu tidak bisa begitu saja. Yang namanya pelepasan tidak semudah yang dibayangkan, apalagi ini menyangkut aset,” tegasnya.

Lebih lanjut Elfenda Ananda menyatakan, Komisi C DPRD Sumut harus mengambil sikap, dengan membahas persoalan itu dengan serius, dan bila perlu mengagendakannya dalam rapat paripurna dewan. “Komisi C DPRD Sumut, harus membahas ini. Membawanya ke paripurna, untuk pada akhirnya persoalan ini bisa selesai secara tuntas,” tuturnya.

Diketahui, arena balapan tersebut nilai total pembangunannya mencapai Rp6,3 miliar. Sirkuit road race di Jalan Pancing tersebut, dibangun menggunakan APBD Sumut yang dikucurkan bertahap, yakni tahun 2007 senilai Rp1,7 miliar, tahun 2008 senilai Rp900 juta dan tahun 2010 senilai Rp3,7 miliar.

Tanah negara seluas 20 hektar itu awalnya merupakan bagian dari 45,5 hektar eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN IX yang dikuasai Pemprovsu selaku pemegang Hak Pengelolaan Lahan (HPL).

Dengan peruntukan fasilitas pendidikan, sosial dan pemerintahan, berdasarkan Berita Acara No 593/6714/17/BA/1997, tanggal 5 Mei 1997, Pemprovsu kemudian mengalihkan haknya ke-20 hektar tersebut kepada PT Pembanguna Perumahan (PP) Cabang I, dengan status pemegang Hak Guna Bangunan (HGB) selama 30 tahun.(ari)