Home Blog Page 13862

Anakku Mati Dibakar Orang…

Kejadian tragis di Kutalimbaru, Deliserdang, Minggu (26/2) malam, menyisakan cukup banyak pertanyaan. Duka keluarga dua korban tewas dibakar massa, Ricardo Sitorus dan Marco Siregar, seakan tiada henti. Apalagi, ketika keduanya pamit sebelum tewas untuk ke gereja.  

MEDAN- Saat rumah duka Ricardo Sitorus disambangi koran ini, suasana duka kental terasa di rumah bercat putih itu. Rekan dan kerabat korban tampak sudah memadati rumah duka di Jalan Perkutut, Gang Setuju, Kecamatan Helvetia.

Pada Posmetro Medan (grup Sumut Pos), S Sitorus (50) ayah korban mengaku, Minggu (26/2) sekira pukul 16.00 WIB Ricardo pamit untuk pergi ke gereja. Itulah pertemuan terakhir Sitorus dengan putra tercintanya sebelum meregang nyawa dibakar massa.
“Mau gereja di GBI Medan Plaza katanya, sudah mau diantarnya pun saya partamiangan tapi saya bilang tak usah karena saya takut mengganggu ibadahnya,” ujar Sitorus dengan wajah sembab dan berlinang air mata.

Setengah termangu, Sitorus mengaku malam harinya sekira pukul 20.00 WIB ia menelepon handphone Ricardo namun tak ada jawaban. Sekira pukul 04.00 WIB subuh, Effendi Hutasoit personel Reskrim Polresta Medan yang juga teman korban datang ke rumah Ricardo. “Katanya anak saya sudah mati dibakar orang,” urainya sambil berlinang air mata.

Sitorus meminta kepada kepolisian agar segera menangkap pelaku yang menyebabkan anaknya sampai tewas tak wajar. Menurutnya, ia tahu benar anaknya bukan seorang pencuri apalagi sampai nekat mencuri ternak. “Itu anak saya, saya tahu dia. Nggak mungkin dia mencuri lembu, dia bukan pencuri lembu. Anak saya usaha rental mobil,” tuturnya.

Selama ini Ricardo bekerja sebagai honorer di PD Pasar Simalungun. Namun, Ricardo juga menjalankan bisnis rental mobilnya. “Waktu pergi pakai kemeja lengan pendek, celana jeans. Pakai kalung mas putih 10 gram, cincin 10 gram, di tangan kanan ada cincin permata merah 3 gram,” urai pegawai Dinas Pendidikan ini.

Pengakuan yang sama juga terlontar di rumah duka Marco di Jalan Perkut Gang Gereja Kecamatan Helvetia. Sore itu pada waktu yang sama Marko pamit untuk pergi ke gereja.

“Katanya mau gereja, Bang,” ujar Putra (17) adik Marco saat disambangi di rumahnya.

Putra juga mengaku sore itu tak berfirasat buruk soal abangnya. “Perginya rapi, pakai kemeja dan pakai jeans,” tutur Siswa ST Thomas II itu sambil mengaku orangtuanya belum dapat ditanyai karena masih dalam keadaan berduka.

Pada kejatian Minggu (26/2) malam lalu, sejatinya Kepala Desa Lau Bakeri sempat mengamankan Brigadir Albertus Zebua dan meminta bantuan kepada Polsek Kutalimbaru. Tapi, banyaknya massa membuat nyali personel Reserse Polsek Kutalimbaru ‘ciut’ (lihat grafis). “Karena personel Polsek minim membuat warga terus menganiaya Ricardo dan Marco. Massa kemudian menyeret keduanya ke bawah kendaraan yang sudah dibalikkan,” jelas Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso. Setelah berada di samping mobil yang sudah terbalik, mobil yang dikendarai korban kemudian dibalikkan kembali sehingga posisinya kembali seperti semula. Lalu, massa membakar mobil tersebut hingga menewaskan Ricardo dan Marco.

“Keduanya tewas di TKP akibat luka bakar yang cukup parah, setelah itu kita mengamankan jasad korban untuk di autopsi di RS Adam Malik. Mobil korban juga sudah diamankan di Polresta Medan, berikut tiga orang yang selamat. Jadi itu bukan pencuri lembu,” ungkap Heru.

Heru mengaku saat ini polisi sedang memburu Kelana yang memancing warga bertindak anarkis hingga menyebabkan Ricardo dan Marco tewas diamuk massa. Ditanya soal SOP tindakan warga yang anarkis, Heru mengatakan anggotanya tak ada yang melakukan tembakan peringatan. “Massa sudah terlalu anarkis,” sebutnya.

Bentuk Frustasi Kolektif

Penasihat Kapolri Kastorius Sinaga, sangat menyesalkan sikap main hakim sendiri yang diperlihatkan massa di Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten DeliSerdang, Sumatera Utara. Pasalnya hanya karena diteriaki maling, massa langsung membakar dua orang hidup-hidup hingga tewas.
Namun meski menyesalkan hal tersebut, menurut sosiolog Universitas Indonesia ini secara khusus kepada Sumut Pos mengatakan tingginya aksi main hakim yang dilakukan masyarakat, merupakan bentuk frustasi kolektif karena kekecewaan yang berkepanjangan. Sehingga masyarakat gampang dihasut untuk melakukan tindakan anarkis.  “Jadi dalam hal ini, aparat kepolisian tidak dapat berbuat banyak. Polisi hanya menjadi petugas pemadam kebakaran yang hanya memadamkan sesaat dan menjaga aksi tersebut tidak meluas. Seharusnya kan mengatasi hal ini itu dilakukan oleh instansi-instansi yang ada,”ungkapnya.

“Jadi tingginya aksi kekerasan jika dilihat dari angka kuantitatif yang dilakukan masyarakat, memperlihatkan kalau Pemda di Sumut sangat belum bekerja dengan maksimal. Bahkan dari segi persentase, kenaikan aksi main hakim ditengah masyarakat Sumut, mencapai 15-20 persen setiap tahunnya. Sering kita lihat Pemda tidak berbuat apa-apa menyikapi apa yang terjadi,”ungkap Kastorius yang menyatakan Sumut dalam analisa kerawanan konflik di Indonesia, termasuk daerah kerawanan dalam kategori hotspot,” timpalnya lagi..

Menurut Kasto, Sumut urutan teratas peta kerawanan konflik, disebabkan beberapa hal. Kekecewaan yang berlarut-larut akibat persoalan tanah ini, begitu banyak terjadi. Belum lagi akibat kesulitan ekonomi dan hal-hal sosial lain. “Makanya saya sebut kalau ditanya mekanisme penanganan, itu tidak bisa ditangani kepolisian sendiri. Tapi Pemda, termasuk Badan Pertanahan Nasional dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada. Jadi harus diselesaikan secara konfrehensif. Pemda harus bijak menyikapi isu-isu pembebasan lahan perkebunan, tambang dan lain-lain. Kalau persoalan yang terjadi dapat diminimalisir, maka saya pikir masyarakat tidak akan gampang lagi terpicu hanya karena hasutan,”ungkapnya.(ala/smg/gir)

Mabes Polri dan Poldasu tak Kompak

Korban Tewas di Kutalimbaru Diyakini Anggota BIN

Identitas kedua korban yang dibakar hidup-hidup oleh warga karena diduga maling lembu masih menjadi perdebatan. Bahkan, ada yang mengatakan salah satu korban adalah anggota Badan Intelejen Negara (BIN).

Identitas korban sebagai anggota BIN malah dinyatakan pertama kali oleh Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso, pada wartawan di ruang kerjanya Senin (27/2) siang. “Salah satu korban yakni RJS merupakan anggota BIN, keterangan ini kita peroleh dari hasil pemeriksaan beberapa teman korban yang berhasil melarikan diri ke dalam hutan,” ujar Heru kemarin siang.

Selang beberapa jam, Heru malah meralat keterangannya. RJS alias Ricardo Jeferson Sitorus adalah warga Jalan Perkutut Gang Setuju Medan. Sedangkan seorang lagi – yang tewas dibakar juga – bernama Cristian Marko Siregar warga  Jalan Perkutut, Medan.

“Ricardo bukan anggota BIN ataupun anggota polisi, namun ia sering mengaku anggota BIN. Begitu juga M Siregar. Dia bukan anggota polisi. Kalau anggota polisi pasti kita bilang polisi,” kata Heru, tadi malam.

Senada dengan Heru, keterangan yang didapat dari Kapolresta Medan Kombes Monang Situmorang. “Tau dari mana informasi itu, kan tidak bisa dipertanggungjawabkan, keduanya diketahui sipil!” tegasnya.

Menariknya, keterangan Heru dan Monang berlawanan dengan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution. Dia membenarkan bahwa dua korban tewas akibat amuk massa di Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatra Utara, adalah anggota polisi. Keduanya adalah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Siregar, anggota Direskrim Polda Sumut. “Anggota yang meninggal ialah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Siregar. Mereka dianiaya warga dan kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dibakar,” ungkap Saud dalam keterangan persnya di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.
Saud Usman menjelaskan, saat itu kedua orang  korban bersama dengan tiga orang rekannya yakni Albertus Zebua, Moses Mindo Purba, dan Bambang Irwanto hendak melakukan penangkapan terhadap seorang bandar Togel berinisial K.

“Namun saat anggota kita hendak menangkap K, mereka diteriaki maling. Massa lalu mengejar anggota kita. Tiga berhasil melarikan diri. Tapi dua anggota kita tertangkap, dianiaya, dimasukkan ke mobil, dan dibakar,” kata Saud Usman.

Ketika keterangan Saud Usman diadu ke Heru, Kabid Humas ini pun langsung meralat. “Ya yang saya paparkan sama kamu tadi ya itu lah yang saya laporkan ke Mabes Polri. Salah itu, mungkin beliau sedang terburu-buru,” tegas Heru saat ditanya ada tidak membuat laporan ke Mabes Polri.
Selain soal identitas, motif kejadian tragis itu juga belum jelas. Pasalnya, banyak cerita yang berkembang dan semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Pertama, soal menciduk Kelana (lihat grafis), seorang bandar toto gelap (Togel).  “Kita belum bisa pastikan mau menggerebek atau apa, keterangan sementara kelimanya menjumpai bandar judi itu dan kasus ini kita masih melakukan pengumpulan bahan keterangan,” terang Kombes Monang Situmorang.

Apa yang diungkapkan Monang memberi cela berkembanganya isu kalau kedatangan korban dan rekan ke Kelana untuk mengambil ‘upeti’.
Selain soal bandar togel, motif lain adalah tentang sewa-menyewa mobil alias mobil rental. “Kepergian Marko dan temannya ke Kutalimbaru untuk menjemput mobil mereka karena mereka itu usaha rental mobil. Mereka mendengar mobil mereka berada di Kutalimbaru, lalu mereka pun ke sana untuk menjemput mobil. Tak benar keponakan saya itu melakukan perbuatan kriminal karena dia itu anaknya baik-baik dan sopan,” kata Wilmar Sihombing (37), paman Marko Siregar (salah korban tewas lainnya) saat berada di instalasi jenazah RSUP H Adam Malik, Senin (27/2) siang.

Ucapan sang paman juga didukung oleh teman-teman korban. “Mobil itu punya Pak Haji, katanya dirental nggak dibalik-balikkan. Jadi mereka mau nyari itu ke sana,” ujar teman korban, Franky.

Dulu, lanjut Franky, Ricardo memang honorer di PD Pasar Simalungun. Namun, Ricardo lebih memilih menjalankan bisnis rental mobilnya. “Memang dulu dia di Siantar, tapi seminggu dua kali saja dia ke sana. Nggak tahu sekarang entah masih aktif di sana atau nggak. Dia nggak tinggal disana, nginap-nginap saja di rumah kawannya di sana,” jelas Franky yang tinggal tak jauh dari rumah Ricardo.

Hal yang sama juga diakui beberapa teman Marko, mereka mengatakan sore itu Marko berniat menemani Ricardo untuk menjemput mobil yang disewa orang dan tak kunjung dikembalikan. “Dia cuma mau ngawani si Jeff (Ricardo), mereka memang join itu,” tutur Jhon Paul Siringo-ringo (29), teman Marko.

Terlepas dari itu, kejadian ini mungkin tidak akan terjadi jika warga bisa menahan emosi. Tapi, warga memang sudah geram atas dengan aksi pencurian yang sering terjadi daerah tersebut. “Kami sering kehilangan Bang, makanya kami geram dengan aksi pencurian, makanya kami dengar orang teriak maling, langsung mengajarnya,” kata seorang warga, R Pasaribu (40), kemarin.(mag-5/gus/uma/sam/ala/roy/eza/smg)

Kronologis Malam Mencekam di Kutalimbaru

Minggu (29/2)

Sekitar pukul 17.00 WIB

  1. Brigadir Albertus Zebua, Moses Minardo Purba, Cristian Marco Siregar, Rikardo Sitorus, dan Bambang Irwanto merental mobil Kijang Innova warna hitam (BK 1020 HK) di kawasan Jalan Rajawali Medan. Pemiliknya bernama Hj Nelima SH warga Jalan Terompet No 2 Kelurahan Titi Rantai Medan.
  2. Rombongan menelepon Koptu Suroso (anggota Koramil Pancurbatu). Koptu Suroso memberi info tentang adanya perjudian jenis toto gelap (Togel) di daerah Kampung Merdeka Desa Gelugur Rimbun Kecamatan Pancurbatu. Disebutkan bandar tersebut bernama Kelana.
  3. Rombongan bertemu dengan Koptu Suroso di sebuah rumah makan belut di kawasan Desa Sukaraya Kecamatan Pancurbatu. Mereka mengatur siasat untuk menangkap Kelana.
  4. Koptu Suroso bersama dengan Bambang Irwanto mengendarai sepeda motor matik meluncur ke lokasi penulisan judi togel yang mereka incar itu.
  5. Begitu sasaran target terlihat, keduanya pun kembali menemui rekannya yang lain itu di sebuah lahan kosong di kawasan Tanjung Anom.

Sekira pukul 19.00 WIB

  1. Rombongan kembali bergerak menuju Kolam Samsul di Desa Sukaraya Kecamatan Pancurbatu. Namun, Koptu Suroso tidak ikut lagi dalam rombongan tersebut.
  2. Bambang Irwanto menelepon Kelana untuk bertemu di depan kolam Samsul.
  3. Kelana tiba di Kolam Samsul tersebut.
  4. Cristian dan Brigadir Albertus Zebua langsung membekuk Kelana. Kelana pun berteriak “maling!” sambil melarikan diri ke arah ilalang dekat kolam tersebut.
  5. Warga yang mendengar teriak Kelana warga langsung mencari sumber suara.
  6. Rombongan dikejar massa yang mulai tak terkontrol emosinya.
  7. Rikardo Sitorus mengajak empat rekannya melarikan diri ke arah Desa Lau Bakeri Kecamatan Kutalimbaru dengan mengendarai mobil yang mereka rental.
  8. Warga yang sudah emosi mengejar dengan menggunakan sepeda motor dan meneriakinya maling. Sepanjang jalan, rombongan dilempari warga dengan menggunakan batu.

Sekira pukul 22.30 WIB

  1. Rombongan dikepung warga tepatnya di Glugur Rimbun Simpang Lonceng Blok H Perumahan Bumi Tuntungan Sejahtera Desa Lau Bekeri Kecamatan Kutalimbaru.
  2. Kelima orang dalam mobil ditarik warga keluar mobil dan menghujaminya dengan pukulan dan tendangan. Kelimanya pun dituduh sebagai komplotan maling lembu.
  3. Brigadir Albertus Zebua pun mengatakan kalau dirinya polisi, namun warga yang sudah emosi tidak lagi peduli.
  4. Rikardo Sitorus mengeluarkan kartu identitas serta diduga mengeluarkan senjata api jenis revolver.
  5. Moses Minarto Purba dan Bambang Irwanto diselamatkan oleh salah satu warga sekitar saat mereka mengaku kalau mereka merupakan warga sipil. Begitu keluar dari kerumunan massa Moses Minarto Purba dan Bambang Irwanto pun langsung melarikan diri ke hutan yang tak jauh dari lokasi mereka ditangkap warga.
  6. Brigadir Albertus Zebua dibawa masyarakat ke rumah kepala desa sedangkan Ricardo Sitorus dan Cristian Siregar terus dihajar warga.
  7. Keduanya diseret-seret sejauh 50 meter dan terus dipukuli. Begitu sampai di mobil yang mereka gunakan sebelumnya. Warga pun langsung menindih dengan pukulan bertubi-tubi di dalam mobil tersebut. Selanjutnya keduanya yang berada didalam mobil langsung dibakar hingga tewas.
  8. Kepala Desa Lau Bakeri menghubungi polisi dan menyerahkan Brigadir Albertus Zebua ke Polsek Kutalimbaru.

Sumber: Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang

Tiga Jembatan dan 4,6 Km Jalan Rusak

SIGLI- Memasuki hari ketiga pasca banjir bandang yang melanda Kecamatan Tangse Pidie, akses transportrasi masih terkendala. Sebab, tiga jembatan di daerah itu putus total dan tidak bisa dilintasi kenderaan roda dua dan empat, juga 4,6 kilometer jelan amblas sehingga menyulitkan petugas dalam mendistribusikan bantuan.

Data dari Posko Badan Penanggulangan Daerah (BPBD), Kabupaten Pidie, korban luka, warga Ule Gunong wanita dua orang, sementara jumlah penduduk Blang Malo 350 KK dan 1.400 jiwa, pengungsi 45 KK, 149 jiwa. Sedangkan jalan yang putus diantaranya, Gampong Blang Malo-Kuala Panteu 1 Km, Blang Malo-Pulo Pante 300 meter, Ulee Gunong-Kebun Dodok 3 km dan jalan Ulee Gunong-Dayah Lambo 300 meter amblas, sedangkan Daerah Aliran Sungai (DAS), yang rusak sepanjang 6 Km diantaranya, Gampong Neubok Badeuk 2 km, Pulo Seunong 1 Km, Pulo Kawa 1 Km, Pulo Mesjid I, 1 km dan Gampong Pulo Mesjid II 1 km. Sementara titik pengungsi ada tiga, Gampong Paya Guci, Blang Malo dan Kebun Nilam.

Kepala BPBD, Pidie Apriadi SSos kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos) Senin (27/2), mengatakan, selain mendistribusikan bantuan pihaknya juga terus berupaya memperbaiki kembali sarana jalan dan jembatan yang rusak agar transportrasi Tangse-Beureuneun lancar dan bisa dilalui. “Kita kerahkan semua personil termasuk 120 TNI dan 100 lebih personil Polisi serta BPBA, Satgana dan relawan PMI,” jelasnya.(mir/smg)

BBM Naik, Bantuan Siswa Miskin juga Naik

BOGOR- Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 April mendatang, langsung mendapatkan respon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kementerian yang dipimpin Mohammad Nuh itu sudah berancang-ancang menaikkan unit cost Bantuan Siswa Miskin (BSM). Upaya ini digunakan untuk meredam gejolak masyarakat terhadap kenaikan BBM.

Usai membuka perhelatan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2011 di Sawangan, Depok kemarin (27/12), Nuh mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi tentu akan mengakibatkan inflasi dan menurunnya daya beli. Terutama untuk masyarakat yang masuk kategori miskin dan hampir miskin.

Dampak tersebut, kata Nuh, jika tidak ditanggulangi bisa memperparah tingkat putus sekolah. Dia menyebutkan, sekitar 70 persen kasus drop out disebabkan karena persoalan ekonomi. Orang tua sudah tidak punya biaya lagi untuk membiayai sekolah anaknya. “Tentu kita harus memagari supaya angka drop out tidak menjadi-jadi akibat kenaikan harga BBM,” ujar menteri asal Surabaya.

Salah satu upaya atau perhatian untuk siswa miskin diberikan melalui BSM. Tahun ini, Kemendikbud menganggarkan nominal BSM mencapai Rp3,9 triliun. Nuh menegaskan, kenaikan unit cost BSM ini masih dalam tahap ancang-ancang. Siap dilakukan jika harga BBM bersubsidi benar-benar dinaikkan pemerintah.

Upaya Kemendikbud menaikkan unit cost BSM dimulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dan sederajat. Untuk unit cost BSM tingkat SD naik dari Rp 380 ribu menjadi Rp 450 ribu per siswa per tahun. Untuk tingkat SD jumlah penerima BSM mencapai 3,5 juta anak.

Sementara pada jenajgn SMP dan sederajat, unit cost BSM dinaikkan dari Rp 580 ribu menjadi Rp 700 ribuan per siswa per tahun. Jumlah siswa SMP pemerintah BSM mencapai sekitar 1,7 siswa. Terakhir untuk jenang SMA dan SMK, unit cost BSM naik dari Rp 700 ribuan menjadi Rp 1 juta. Total siswa SMA dan SMK yang menerima BSM ini sekitar 1,1 juta anak.

Sementara, utak-atik besaran kenaikan harga BBM terus dilakukan pemerintah. Pemerintah juga akan membahasnya dengan Komisi VII DPR untuk menentukan kepastian kenaikan BBM sebagai imbas melejitnya harga minyak dunia.

Meski begitu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, kenaikan harga yang rencananya akan diberlakukan bulan April itu tidak akan mencapai 40 persen dari harga saat ini. “(Kenaikan) tidak sampai segitu (40 persen),” kata Jero di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin (27/2).

Jika harga BBM saat ini Rp4.500, maka kenaikan maksimal (40 persen) adalah Rp1.800, sehingga harga BBM akan menjadi Rp6.300. Saat ini, beberapa kalangan memang menyarankan kenaikan harga BBM berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.500.
Jero menjelaskan, selain membahas kisaran kenaikan harga BBM, pemerintah juga merumuskan kompensasi yang akan diberikan kepada masyarakat miskin. Termasuk yang berhak mendapatkan kompensasi itu.(wan/fal/jpnn)

Kejagung Jerat Dhana Lima Pasal

JAKARTA- Kejaksaan Agung (Kejagung) benar-benar all out membongkar kasus mantan PNS Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak yang jadi tersangka korupsi Dhana Widyatmika. Korps Adhyaksa itu bahkan memprioritaskan kasus tersebut daripada kasus korupsi lainnya. Mereka yakin kejahatan tersebut tidak hanya berhenti di PNS golongan III-c tersebut.

“Speed kasus ini akan kami tingkatkan. Ini sudah jadi prioritas,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Noor Rachmad di Jakarta, Senin (27/2). Karena itu, kata Noor, semua sumber daya terbaik Kejagung dikerahkan untuk menuntaskan kasus dugaan makelar pajak model Gayus Tambunan itu.

Bahkan, kata Noor, saat ini tim khusus bentukan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Andhi Nirwanto sedang menyeleksi satu penyidik sebagai tambahan personel. Itu dilakukan agar kasus tersebut cepat rampung dan bisa dibawa ke meja hijau. “Sekarang sedang interview yang bersangkutan. Dengan tenaga baru di tim khusus, kasus bisa cepat tuntas,” katanya.

Saking “geregetannya”, penyidik pada JAM Pidsus bakal menjerat Dhana lima pasal sekaligus. Selain pasal-pasal tentang korupsi, bapak satu anak itu bakal dijerat pasal money laundering, gratifikasi, penerimaan suap, dan pemerasan. Sebab, ada indikasi Dhana tidak hanya “pasif” menerima suap dan gratifikasi. Tapi juga meminta bahkan mengarah ke mengancam jika tidak diberi.

Yang mengejutkan, kendati banyak yang menyebut kasus ini “Gayus baru”, justru perkara ini dilakukan jauh sebelum Gayus menjalankan aksinya. Jika Gayus melakukannya pada 2009, Dhana diduga melancarkan aksinya pada 2002. Saat itu, dia masih bertugas di Ditjen Pajak sebagai petugas pemeriksa pajak.(aga/kuh/jpnn)

Putra Baasyir Sebut Intervensi CIA

MA Vonis Kasasi Abu Bakar Baasyir 15 Tahun  

JAKARTA- Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan pidana dengan hukuman penjara 15 tahun kepada terdakwa kasus tindak pidana terorisme Abu Bakar bin Abud Ba’asyir atau biasa dikenal dengan sebutan Abu Bakar Ba’asyir. Putusan di tingkat kasasi dalam perkara itu dipimpin hakim agung Djoko Sarwoko, didampingi dua anggota yakni Mansur Kertayasa dan Andi Samsan Nganroe.

Dalam amar putusan perkara pidana khusus tindak pidana korupsi Nomor 2452 Kasasi/Pid. Sus/2011 tersebut, MA menolak permohonan Kasasi II terdakwa Abu Bakar Ba’asyir dan mengabulkan permohonan Kasasi I dalam tuntutan Penuntut Umum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 15 tahun.

“Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No 148/Pid.B/2011/PN tanggal 16 Juni 2011,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur pada saat membacakan petikan putusan perkara itu, di gedung MA, kemarin (27/2).
Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan Abu Bakar Ba’asyir dengan hukuman penjara 15 tahun dengan Putusan Nomor 148/Pid.B/2011/PN Jakarta Selatan 16 Juni 2011. Ba’asyir dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaan subsider, yakni pasal 14 jo pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme.

Anak Baasyir,  Abdul Rachim menilai putusan MA ini sewenang-wenang. “Ini adalah maker musuh Allah dan intervensi Amerika Serikat, CIA dan sekutunya,” kata pria yang akrab disapa Iim ini.

Keluarga langsung berangkat ke Jakarta menjenguk Baasyir hari ini di Bareskrim Mabes Polri. “Langkah selanjutnya akan kami konsultasikan dengan tim kuasa hukum dulu,” katanya. Yang jelas Iim menduga AS  melakukan intevensi karena dua hari sebelum putusan kasasi mengeluarkan pernyataan bahwa JAT yang didirikan Baasyir merupakan organisasi teroris internasional. (rdl/ris/jpnn)

KPK: Ketum Parpol tak Kebal Hukum

JAKARTA-Ketua KPK Abraham Samad mengatakan, jika hukum memerlukan, pihaknya akan memanggil Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. “Sehubungan dengan itu, kini KPK menginvestigasi lebih dalam kasus korupsi wisma atlet. Dengan sendirinya KPK tentu menelisik secara hukum dugaan keterlibatan Anas Urbaningrum,” kata Abraham di lobi ruang rapat Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, kemarin (27/2).

“Begini ya, di dunia ini tidak ada orang yang kebal hukum, termasuk seseorang itu dalam posisi ketua umum partai politik apa pun,” tegas Abraham.
Ketika ditanya proses hukum mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Angelina Sondakh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap kasus wisma atlet, Abraham menegaskan, pihaknya akan segera menahan Angelina bila persyaratan hukumnya sudah terpenuhi.

“Jika ditahan sebelum berkas perkara selesai, tersangka bisa bebas demi hukum saat masa tahanannya habis. Jadi, KPK harus berhati-hati,” ungkapnya. (fas/jpnn/c7/jpnn)

200 Warga Malaysia Terancam Longsor

KUALALUMPUR- Sedikitnya 200 jiwa yang menghuni 43 rumah di Kampung Baru Air Merah, Malaysia, terancam dihanram longsor. Bencana ini dapat melanda kapan saja jika hujan deras turun.

Seperti pada Minggu (26/2) lalu, 20 rumah tertimbun longsor lumpur. Beruntung tidak ada satu pun warga yang dilaporkan tewas maupun menderita luka.
Setelah diselidiki, ternyata banjir ini dipicu pembangunan kompleks rumah yang mengorbankan pohon-pohon yang berada di bukit dekat sekitar wilayah proyek. “Kemarin baru saja longsor lumpur itu melanda. Setiap kali hujan, kami selalu khawatir,” ujar seorang warga Sharif Mohd Ali seperti dikutip Bernama, Senin (27/2). (net/jpnn)

Christine Pandjaitan, Masih Aktif di Panggung Tembang Kenangan

Nama penyanyi cantik Christine Pandjaitan, tentu tidak asing lagi ditelinga. Lama tidak terdengar kabarnya, bukan berarti wanita yang begitu populer sejak era 1970-an ini hengkang begitu saja dari blantika musik Indonesia.

Wanita yang tetap terlihat cantik meski usia telah setengah abad ini, masih tetap aktif mengisi panggung-pangung tembang kenangan. Dan selain itu, diam-diam Christine baru saja melahirkan album baru. Bahkan di album yang bertemakan rohani Kristiani ini, Christine sekaligus bertindak sebagai produser.

“Album ini murni sebagai persembahan saya bagi Yang Kuasa. Semoga benar-benar dapat memberkati orang lain,”ungkap wanita yang mengaku sebenarnya masih memiliki kerinduan untuk membuat album sekuler di jalur pop ini. “Tapi sekarang saya nggak tahu lagi jalurnya. Apalagi sekarang saya kan tinggal di Bandung. Sehingga akses dengan teman-teman penyanyi juga terbatas. Untuk mencari jalur rekaman nasional, saya nggak bisa lagi,”ungkapnya saat dihubungi Sumut Pos akhir pekan lalu.

Menariknya meski sejak dulu dikenal sebagai penyanyi pop lewat lagu-lagu karya Rinto Harahap, ibunda tercinta tiga putra/i ini mengaku ingin menyanyikan lagu-lagu beraliran lebih keras. “Mungkin memang sudah ditakdirkan kali saya dikenal dengan lagu-lagunya bang Rinto. Padahal sebenarnya dulu itu saya kepengennya aliran lain, karena lagu bang Rinto itu kan terkesan ringan dan easy going. Tapi jujur, sekarang saya malah sangat menikmati membawakannya, dan lagi saya dapat berimprovisasi dengan bebas,”ungkap penyanyi “Katakan Sejujurnya”ini.

Dari segudang aktifitas yang kini banyak mengisi acara tembang kenangan, Christine mendapat dukungan penuh dari seluruh keluarga. Baik itu dari sang suami dokter Maringan Tobing, maupun ketiga anak-anaknya yang telah berusia 24 tahun, 21 tahun dan 16 tahun.

Tidak jarang dalam setiap aksi panggungnya banyak para fans rela menunggu berjam-jam dibelakang panggung. Jadi tidak heran kan jika dulunya Christine kerap memasang tampang judes. “Sampai-sampai saya dibilang judes sama abang, mama, dan banyak penggemar. Itu karena setiap ada penggemar yang mendekat sehabis saya turun dari panggung, saya memang memasang wajah jutek. Karena kalau disahuti, dia mau ngomong terus. Jadi saya benar-benar merasa terganggu,”ungkap wanita kelahiran 23 Desember 1960 ini.(gir)

Sibuk Urus Buruh Myanmar

Eva Kusuma Sundari

Dipercaya menjadi presiden Kaukus Parlemen ASEAN untuk Myanmar (AIPMC) membuat Eva Kusuma Sundari harus berpikir dan bersikap dalam skala lebih luas. Sebut saja dalam persoalan buruh migran. Perhatian Eva kini tak hanya tertuju pada isu domestik menyangkut TKI. Kacaunya perlindungan terhadap buruh migran Myanmar di Thailand juga menyedot konsentrasinya.

“Buruh migran dari Myanmar di Thailand, seperti buruh lainnya di kawasan ini, tidak mendapat perlindungan hukum yang cukup baik. Mereka menghadapi masalah besar, bahaya, dan kekerasan terus-menerus,” katanya di Jakarta, kemarin (25/2).

Dia menjelaskan, dengan makin baiknya perekonomian Thailand, semakin sedikit warga di sana yang bekerja di sektor domestik. Kondisi tersebut menjadi peluang pekerja asal Myanmar untuk bekerja di sana.(pri/c5/agm)