25 C
Medan
Friday, January 16, 2026
Home Blog Page 13863

Kejari Binjai Didesak Tangkap Nazri Kamal

BINJAI- Penanganan kasus dugaan penyelewengan dana APBD Kota Binjai 2007 hingga 2009 sebesar Rp19 miliar yang dialokasikan untuk PD Pembangunan Kota Binjai, sampai saat ini belum juga membuahkan hasil. Karenanya, puluhan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Binjai Peduli Aset Negara (AMBPAN), mendatangi Kejaksaan Negeri (Kejari) Binjai di Jalan T Amir Hamzah, Kecamatan Binjai Utara, Selasa (27/2) pagi pukul 09.00 WIB.

Mereka meminta kepada Kajari Binjai agar mantan Dirut PD Pembangunan Nazri Kamal segera periksa dan ditangkap untuk diproses secara hukum. “Nazri Kamal harus bertangungjawab, karena sudah merugikan Pemerintah Kota Binjai,” teriak Sulaiman, koordinator aksi.

Selain itu, dalam orasinya, Sulaiman juga meminta, agar pihak Kejari Binjai segera mengusut tuntas aset PD Pembangunan. Sebab menurut mereka, ada aset PD Pembangunan yang sudah beralih menjadi milik pribadi Nazri Kamal. “Aset PD Pembangunan yang diduga sudah beralih diantaranya, perusahaan perumahan, perusahaan pengelolaan air mineral, perusahaan batako dan perusahaan pabrik cat. Maka dari itu, kami minta agar Kejari Binjai segara melakukan pengusutan sampai dengan tuntas. Jangan biarkan negara dirugikan oleh orang yang tak bertanggung jawab,” teriak Sulaiman.

Sementara itu, Nazri Kamal, saat dikonfirmasi Sumut Pos via selulernya menegaskan, kalau aksi yang dilakukan masyarakat itu syarat dengan politik. “Ini sudah dutunggangi pihak ketiga. Sebenarnya, ini ulah orang nomor satu di Pemko Binjai dan orang dekatnya,” cetus Nazri Kamal.

Selain itu, Nazri Kamal juga mengatakan, aksi yang dilakukan masyarakat itu, hanya untuk mengalihkan isu. Agar persoalan yang ada di Pemko Binjai tidak terlihat oleh penegak hukum. “Kenapa kasus dugaan tak jelasnya proyek di Kota Binjai tidak disarankan untuk dusut oleh penegak hukum. Dan kenapa proyek pembuatan kantor Dinas Kesehatan yang bermasalah tidak diusut. Jadi, aksi ini hanya pengalihan isu, yang sering kita sebut, maling teriak maling,” tegas Nazri.

Untuk itu, Nazri meminta, agar orang nomor satu di Pemko Binjai, dapat mebuat surat ke penegak hukum. Agar penegak hukum dapat mengusut persoalan lain selain persoalan di tubuh PD Pembangunan.(dan)

124 Armada Disiapkan untuk Distribusi BBM Subsidi

LABUHAN- Menjelang rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, PT Elnusa Petrofin Medan selaku perusahaan transportasi, telah menyiagakan armadanya guna kelancaran pendistribusian BBM ke SPBU. Tak hanya itu, anak perusahaan PT Pertamina ini juga siap mengoperasikan sedikitnya 124 unit truk tangki yang nantinya akan melayani kebutuhan SPBU di Medan dan Nangroe Aceh Drussalam (NAD).

“Untuk pendistribusian BBM menjelang kenaikan harga sudah kita siapkan, hanya tinggal menunggu intruksi dari PT Pertamina Upms I Medan. Sedangkan untuk armada, dari 124 unit truk tangki yang kita kelola, nantinya akan ditambah dengan armada cadangan dari perusahaan lainnya yang sudah melakukan kerjasama dengan PT Elnusa,” kata Hendrik, Humas PT Elnusa Petrifin Medan kepada Sumut Pos, Selasa (28/2) siang.

Dikatakannya, dari jumlah keseluruhan armada yang telah disiapkan nantinya akan melayani kebutuhan 231 unit SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Dengan jumlah pasokan mencapai 29.000 KL (kiloliter) BBM jenis bensin dan 16.000 KL biosolar pada setiap harinya.

“Hal-hal seperti ini sudah kita antisipasi, termasuk sistem pengawasan distribusi nantinya juga akan dikoordinasikan dengan Pertamina dan aparat penegak hukum. Disamping memonitor pengiriman BBM ke SPBU. Ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya penyimpangan pendistribusian,” ujarnya.
Hendrik menilai, titik rawan penyimpangan distribusi BBM bersubsidi yakni di wilayah Utara kota Medan dan kawasan Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deliserdang. “Kedua titik ini yang dinilai rawan, karena di daerah tersebut  banyak ditemukan agen penampungan tak resmi,” tutupnya.(mag-17)

Siswa SD Tewas Ditabrak Mobil Pengangkut Wortel

KARO- Malang benar nasib Chiko Silalahi, siswa kelas I Sekolah Dasar (SD) , Yayasan Perguruan GBKP Masehi Cabang Berastagi, warga Listrik Atas Berastagi ini. Pasalnya, dia tewas ditabrak mobil pengangkut wortel di depan gerbang sekolahnya, Selasa (28/2) pukul 11.00 WIB.

Informasi yang diperoleh Sumut Pos, korban bersama tiga temannya hendak menyeberang jalan di Jalan Merdeka, kawasan Pasar Buah. Namun di saat bersamaan, dari arah Jalan Gundaling, mobil pick-up BK 9934 SC pengangkut wartel melaju kencang dan menabrak Chiko.

Melihat bocah SD itu terkapar, pengemudi mobil tersebut tancap gas, melarikan diri menuju Medan. Warga sekitar yang melihat kejadian mencoba melakukan pertolongan. Chiko dibawa ke RSU Amanda, Simpang Korpri Berastagi.

Namun sayang, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, anak bungsu dari dua bersaudara itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Sementara, beberapa saat kemudian, kenderaan yang menabrak korban ditemukan Kanit Lantas Polsekta Berastagi Iptu M Yusuf terparkir di jalan menuju Pekuburan Muslim dan Nasrani, Kampung Tempel, Desa Sempa Jaya. Sementara sopirnya melarikan diri.

Kepada wartawan, Iptu M Yusuf mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus tersebut. Selain itu, ujar Yusuf, pihak kepolisian  juga mengimbau sopir pick-up tersebut agar segera menyerahkan diri.(wan)

Satu Tewas Tertimbun Kayu

Dua Hari Pasca Banjir Bandang Madina

MADINA-Banjir yang menerjang Kabupaten Mandailing Natal, Minggu (26/2) malam lalu, tak hanya menyisakan lumpur dan tumpukan kayu di mana-mana. Di badan sungai Aek Kitang, Desa Gunungmanaon ditemukan seorang warga tewas.

Mayat Amirhan Nasution (56) ditemukan warga tertimbun tumpukan kayu. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai panarik becak itu merupakan warga Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan Utara.

Mayat bapak delapan anak ini ditemukan, Selasa (28/2) sekira pukul 14.15 WIB oleh puluhan relawan yang juga kader Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC PPP) Madina bersama warga Gunungmanaon, saat gotong-royong mengangkut tumpukan kayu dari badan sungai.
“Awalnya yang kelihatan adalah tangan. Saat ditemukan mayat dalam kondisi telentang dan sudah bugil,” terang Ketua DPC PPP Madina, HM Dahler Nasution.

Sementara itu, informasi yang dihimpun dari keluarga korban, Parhimpunan Nasution menyebutkan, Minggu (26/2) sore, udanya (paman) masih menarik becak mengelilingi Panyabungan. Sekitar pukul 21.00 WIB, korban ingin melihat kondisi jembatan Gunung Tua yang runtuh. Ketika itu, korban memarkirkan betornya tak jauh dari jembatan atau sekitar 20 meter.

“Ada yang melihat paman kami memarkirkan betornya di pinggir jalinsum. Ia ingin menyaksikan jembatan yang roboh. Namun, tidak ada yang melihat paman jatuh karena pada saat itu listrik padam. Kami perkirakan uda jatuh pada saat itu sehingga tidak diketahui orang lain,” terang Parhimpunan.
Selanjutnya, Senin (27/2) siang setelah memastikan korban tidak pulang ke rumah sementar betornya masih parkir di pinggir jalinsum, pihak keluarga melaporkan kehilangan ke Mapolres Madina. Kemarin siang, keluarga korban menerima kabar Amirhan Nasution telah meninggal tertimpa tumpukan kayu di Sungai Aek Kitang, sekitar 1,5 kilometer dari jembatan roboh.

Kasatreskrim Polres Madina, AKP SM Siregar SH membenarkan laporan pengaduan orang hilang. “Benar ada laporan pengaduan orang hilang yang identitasnya sama dengan mayat yang ditemukan. Untuk sementara kita perkirakan dia hanyut saat melihat jembatan runtuh. Memang di lokasi kita lihat penyangga jembatan di pinggir sungai retak. Mungkin korban terlalu dekat berdiri di pinggir sungai, tetapi kita masih lihat dulu kepastiannya,” tukasnya.
Sementara itu, hingga kemarin air masih menggenangi Desa Gunungmanaon di Kecamatan Panyabungan, Kecamatan Madina. Ketinggian air mencapai satu meter masih dilihat di mana-mana. Termasuk di Masjid Raya Gunungmanaon. Seluruh rumah warga masih terendam.

Di desa lain, seperti Manyabar, Sabajambu, Pagaran Tonga dan desa lainnya, warga sudah mulai membersihkan rumah masing-masing. Rumah yang rusak juga mulai diperbaiki. Sejauh ini, Pemkab Madina belum bisa memastikan besaran kerugian akibat banjir ini, tetapi diperkirakan lebih dari Rp20 miliar.
“Kita belum bisa memastikan jumlah kerugian karena kita masih terus melakukan pendataan. Perkiraan sementara lebih Rp20 miliar,” sebut Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Madina, Rizpan.

Sementara itu, ambruknya jembatan mengakibatkan suplai berbagai kebutuhan masyarakat seperti bahan bakar minyak (BBM) terhambat. Untuk mensuplai BBM ke Madina, Pertamina mengambil stok dari Terminal BBM Sibolga, dengan jarak tempuh 6 jam. Tetapi, putusnya jembatan ini, membuat Pertamina harus mengalihkan pengiriman.

“Ini salah satu upaya untuk mengantisipasi faktor penghambat distribusi,” ujar Asisten Manager External Relation PT Pertamina Fuel Retail Marketing Regional Sumbagut, Fitri Erika.

Menurutnya, kegiatan pengalihan suplai BBM ini, merupakan strategi Pertamina yang memiliki pola Supply RAE (Regular, Alternatif, dan Emergency). Suplai ini dilakukan bila terjadi hambatan dalam distribusi. (wan/smg/ram/jon)

Minum Miras Oplosan, Dua Tewas Lima Kritis

LANGKAT- Meregang nyawa akibat mengkonsumsi minuman keras (miras) kembali terjadi. Kali ini dua orang warga tewas usai mengkonsumsi miras adalah Deni Kazana alias Dedi (19) dan Irma Huda (28) warga Dusun VIII, Desa Mekar sawit, Kecamatan Sawit Seberang, Langkat. Kedua korban masih bertalian keluarga karena masih sepupu.

Informasi yang dihimpun, Selasa (28/2) menyebutkan, peristiwa berujung kematian ini berawal dari digelarnya hiburan keybord di salah satu desa di Kecamatan Sawit Seberang. Semacam jadi tradisi, tanpa kehadiran miras rasanya acara pesta tersebut tidak lengkap. Oleh sebab itulah, kedua korban langsung mencari miras untuk dinikmati sambil menikmati tontotan organ tunggal tersebut.

Minuman yang dipilih jenis Mansion. Minuman tersebut lalu dicampur Pepsi Blue. Selanjutnya, minuman itupun ditenggak sedikit demi sedikit hingga keduanya teler. Selain mereka, beberapa rekan mereka yang lain juga ikut ambil bagian, mereka adalah Anggi (17), Andi (17), Prima (21) dan Yogi (20). Menjelang tenggah malam, suasana yang dinggin bagi sebagian warga, tapi hanggat bagi para pemuda ini karena terus meminum minuman keras tadi. Menjelang dini harinya, keybord berakhir dan merekapun bergerak pulang ke rumah masing-masing. Namun, tak lama setelah itu, kedua korban mengalami rasa sakit yang luar biasa di dada dan perutnya. Mereka langsung muntah-muntah, hingga tak sadarkan diri. Keduanya langsung dibawa ke Klinik Keluarga untuk diobati secara medis. Naas, belum lama ditangani petugas medis, keduanya sudah menghembuskan nafas terakhir. “Mereka keracunan minuman keras dan kami sudah mencoba melakukan pertolongan, tapi takdir berkata lain,” kata Dr Dahlia, pemilik Klinik Keluarga.

Keesokan paginya, keempat remaja lainnya juga ikut keracunan akibat meminuman miras oplosan tersebut. Lalu, keempatnya dibawa ke Klinik Keluarga untuk diberikan perawatan secara serius. Nasib baik, kondisi keempatnya sudah berangsur pulih dan dalam tahap penyembuhan. “Gitu bangun tidur pagi, dadaku terasa sesak bang, terus aku merasa pusing dan mual-mual, padahal aku malam itu minumnya cuma sikit, tapi kalau kedua temanku yang meninggal itu memang paling banyak minumnya dan sudah dua hari mereka minum terus ditempat pesta itu, karena yang pesta itu kawan kami juga,” kata Anggi, salah seorang korban yang dirawat.

Sementara, Kanit Reskrim Polsek Padang Tualang, Iptu Firman PA saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Kata Firman, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait tewasnya kedua remaja tersebut yang diduga akibat miras oplosan tersebut. “Kita masih selidiki dan kami akan segera memanggil pemilik warung yang menjual miras itu,” katanya.

Terpisah, Lesmari (19) warga Dusun Bukit Harapan, Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, harus dilarikan ke RSU Tanjung Pura, Selasa (28/2), karena kritis usai meminum minuman keras.

Sebelumnya di lokasi berbeda, Minggu (26/2) sekira pukul 05.00 WIB, Endre Balation (47) musisi asal Hongaria tewas di dalam perjalanan saat hendak dilarikan ke RSU Dr Djoelham Binjai. Diduga korban tewas akibat meminum miras jenis Mansion House disebuah penginapan Plain Stonn Inn di lokasi wisata alam Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Langkat. (mag-4/wis/smg)

Aklamasi, Anuar Shah Kembali Pimpin PP Sumut

Hasil Muswil PP Sumut ke-XII di Padangsidimpuan

SIDIMPUAN- Dalam Musyawarah Wilayah Pemuda Pancasila (Muswil PP) Sumut ke –XII yang dilangsungkan di Padangsidimpuan, Selasa (28/2), kembali terpilih sebagai Ketua MPW PP Sumut Anuar Shah SE.

Anuar Shah atau akrab disapa Aweng, terpilih secara aklamasi melalui 30 MPC dari 33 kabupaten/kota se-Sumut yang masing-masing memiliki 1 hak suara. Soalnya, MPC Binjai tidak memiliki hak suara karena dibekukan, sedangkan 2 dari 5 kabupaten/kota di Pulau Nias belum terbentuk pengurus MPC-nya. Kemudian 1 suara dari MPW dan 1 suara dari MPN.

Sebelumnya, Ketua Umum (Ketum) Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila (PP), H Japto Sulistyo Soerjosoemarno SH, secara resmi membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) PP Provinsi Sumut ke-XII, bertempat di auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Padangsidimpuan (Psp), Selasa (28/2).

Sebelum dibuka, Japto bersama Sekjen MPN, TM Nurlif, Kabid Pemberdayaan Perempuan MPN, Camelia Malik, Koorda Sumatera, Sakhyan Asmara, bersama HB Horas Hutahean, Ajib Shah, dan Anuar Shah di ulosi oleh unsur muspida se-Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) dan tokoh adat, SS Baginda Tambangan.

“Penyematan ulos merupakan kegiatan adat yang sakral, sebagai bentuk penghormatan tertinggi tuan rumah kepada tamu yang datang,” ucap Baginda Tambangan yang juga Ketua MPO PP Kota Psp ini.

Ketua MPN PP, H Japto Sulistyo Soerjosoemarno dalam sambutannya mengatakan, kagum atas pelaksanaan Muswil PP Sumut ke-XII. Selain di langsungkan di luar Kota Medan selaku ibukota Provinsi Sumut, Muswil di langsungkan dengan meriah, dan juga diyakininya akan berjalan demokratis, lancar dan penuh rasa kekeluargaan.

“Saya haramkan Muswil ini menjadi ajang pertentangan di kalangan kita. MPN punya hak untuk tidak mensahkan dan tidak melantik ketua yang tidak sesuai AD/ART yang ditetapkan,” tegasnya.

Japto juga menjelaskan, posisi PP saat ini Back to Zero. Dirinya tidak menampik beberapa anggotanya di rekrut dari pemuda yang kurang baik pada awalnya, tapi begitu masuk PP, mereka jadi tahu etika, bermartabat dan bersahaja.(neo/smg/jun)
serta beradat.

Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah

DAIRI- Hujan es disertai angin kencang melanda Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi, merusak puluhan rumah warga, Senin (27/2).
Informasi diperoleh Sumut Pos, angin kencang disertai hujan es tersebut terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Kerusakan terparah terjadi di Desa Sihorbo, Desa Adian Gupa, Desa Sinampang dan Desa Adiannangka.

Kondisi rumah warga akibat musibah itu, sebagian besar atap rumahnya terbang diterjang angin. Seperti rumah Ayen Pandiangan, warga Desa Sihorbo, seluruh atap rumahnya terangkat dan terbang hingga puluhan meter, sehingga seluruh perabot yang ada di dalam rumah ikut rusak. Beruntung, bencana alam itu tidak menelan korban jiwa, namun diperkirakan kerugian materi mencapai ratusan juta rupiah.

Camat Siempat Nempu, Sahala Siagian, yang dihubungi di tempat kejadian menjelaskan, pihaknya segera melaporkan kejadian itu kepada instansi terkait di Pemkab Dairi. Untuk sementara, tim dari kecamatan masih melakukan pendataan. (mag-14)

Ramai-ramai Cerai di Tahun Kabisat

Pengadilan Agama Medan Sidangkan 30 Perkara

MEDAN- Tanggal 29 Februari cuma muncul empat tahun sekali menjadi fakta unik seputar tahun kabisat. Nah, pada tanggal ini, sedikitnya ada 30 perkara perceraian akan disidangkan di Pengadilan Agama Medan.

Menurut Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Medan Jumri SH, dari 30 perkara perceraian yang terdaftar dan akan disidangkan itu, paling banyak diajukan oleh kaum istri atau cerai gugat yaitu 23 perkara. Sedangkan perceraian yang diajukan kaum suami atau cerai talak hanya 7 perkara.
“Setiap tahunnya angka perceraian di Kota Medan terus meningkat. Namun jumlah perceraian yang diajukan istri atau pihak perempuan tetap paling mendominasi,” jelasnya.

Menurutnya, persidangan yang telah terdaftar pada 29 Februari tersebut bukan atas permintaan dari kedua belah pihak. “Nggak ada permintaan. Kebetulan saja sidang perceraian mereka jatuh pada 29 Februari ini. Karena sebelum jalan sidang, dua minggu sebelumnya majelis hakim memberikan mereka waktu dua minggu untuk mediasi. Kalau pasangan suami istri ini nggak mau mediasi, maka sidang akan dilakukan,” katanya.

Jadi, lanjut Jumri, sidang akan berlangsung dua minggu setelah gugatan cerai terdaftar di Pengadilan Agama. “Jadi Pengadilan Agama itu sifatnya pasif, cuma menerima perkara yang masuk saja. Tapi kita lebih mengharapkan pasangan suami istri tersebut dapat dimediasi. Karena bagaimana pun perceraian itu sesuatu yang dibenci Allah,” urainya.

Sambungnya, faktor-faktor penyebab perceraian bukan hanya disebabkan persoalan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga saja, tapi juga karena karena krisis akhlak, poligami tidak sehat, cemburu, kawin paksa, cacat biologis, gangguan pihak ketiga dan lainnya. “Untuk tingkat pendidikan didominasi tingkat SMA sederajat dan lama pernikahan itu ada yang baru menikah 1 tahun, ada juga yang telah lama hingga 25 tahun pernikahan,” bebernya.

Jika di tahun kabisat ini ada 30 psangan akan bercerai, lain halnya dengan yang menikah di tanggal yang muncul empat tahun sekali ini. Berdasarkan penelusuran wartawan koran ini di Kantor Urusan Agama (KUA) dan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan, tidak ada warga yang mendaftar untuk menikah di tanggal ini.

“Sampai saat ini, belum ada pasangan calon pengantin yang mendaftar untuk menikah ke kantor kita (Disdukcapil Medan),” kata Kadis Disdukcapil Medan, Darusalam Pohan didampingi anggotanya yang mengurus pendaftaran calon pengantin di ruang kerjanya, Senin (27/2) lalu.
Dijelaskannya, kebiasan pasangan calon pengantin di Kota Medan menikah dulu baru mendaftar ke kantor Disdukcapil. “Biasanya seperti itu, mereka menikah dahulu di Gereja, kuil atau vihara baru mereka mendaftar. Hal itu tidak menjadi masalah, asal mereka mau mendaftar,” jelasnya.
Sementara Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kota Medan Iwan Zulhami menegaskan, tak ada yang mendaftar menikah pada 29 Februari ini.(mag-11/adl)

Kata Mereka yang Ultah di 29 Februari

Orang-orang yang lahir pada 29 Februari tergolong istimewa. Mengapa demikian? Pasalnya, tidak setiap tahunnya mereka merayakan ulang tahun mengingat tahun kabisat yang memuat tanggal 29 hanya empat tahun sekali. Karena itu, tak jarang yang menanti momen tersebut dengan merayakan ulang tahunnya cukup spesial.  Bagaimana dengan mereka?

Dian Febrian, Rayakan Bareng Teman

Dian Febrian

Mahasiswi UMSU jurusan Ekonomi angkatan 2010 ini termasuk orang yang sangat menantikan hadirnya pada 29 Februari. Ia berencana merayakan ulang tahunnya kali ini dengan lebih spesial.

“Kalau tidak tanggal 29 saya males merayakan ulang tahun. Memang setiap tahunnya kawan-kawan tetap memberikan ucapan selamat ultah. Tapi tanggalnya tidak pernah pas, kadang tanggal 28 atau tanggal 1 Maretnya. Rencananya tahun ini saya akan merayakan bareng kawan-kawan dengan makan malam di kafe,” ujarnya.

Pirngadi, Sering Diledek

Pirngadi

Pria kelahiran 29 Februari 1984 ini kerap mendapat ledekan teman-temannya karena ulang tahunnya yang baru datang empat tahun sekali.
“Sering diejekin kalau umurnya saya masih muda karena ulang tahunnya tidak setiap tahun. Ada yang bilang umur saya baru 8 tahun. Ada kenangan tersendiri, pernah mereka memberi saya kue ultah dengan angka 8 padahal saya sudah SMA ketika itu. Lucu juga sih, tapi bagi saya setiap tahunnya sama. Tidak terlalu menganggapnya special. Paling ngerayakannya dengan traktir teman-teman makan,” katanya.

Lili, Buat Syukuran

Lili

Warga Medan Johor yang bertepatan berulang tahun di tanggal 29 Februari 1996 ini mengaku saat bulan kabisat itu keluarganya mengadakan perayaan khusus seperti syukuran kecil-kecilan.

“Perayaannya hanya syukuran. Aku kan anak paling kecil dalam keluarga, tentu aja ada acara, apalagi ulang tahun ku hanya empat tahun sekali. Kalau nggak nyampek tanggal 29 Februari, paling hanya dapat ucapan selamat pada tanggal 28 Februari itu. Begitupun, umur kita tetap bertambah setiap tahunnya,” ungkap putri sulung dari tujuh bersaudara itu.

Rifky Aufan, Rayakan Bareng Pacar

Rifky

Mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta ini menunggu momen 29 Februari ini untuk merayakannya dengan spesial bareng pacar. Tapi apa daya, ia terpisah jarak dengan pacarnya.

“Rencananya mau ngerayain bareng pacar saya di Medan. Tapi saya nerusin kuliah di Jakarta dan belum ada kesempatan pulang. Sedikit kecewa tapi tetap bisa ngerayain bareng kawan-kawan. Ada untungnya juga tidak ulang tahun setiap tahun karena bisa menghindar dari ajakan teman yang menuntut traktiran. Jadi lebih hemat gitu,” pungkasnya. (mag-18/mag-11)

Aura Iklim di Indonesia Lebih Baik

Tahun Kabisat, Fenomena Alamiah dan Terkesan Biasa

MEDAN- Tahun kabisat adalah tahun yang jumlahnya habis dibagi empat. Di mana jumlah hari pada tahun ini berjumlah 366 hari, karena terjadi penambahan hari di Bulan Februari menjadi 29 hari.

Menyikapi perihal tahun kabisat ini, Dosen Sosiolog Universitas Negeri Medan (Unimed) Iqbal menganggap, keistimewaan tahun ini tak lebih kepada pertanggalan dan sebuah fenomena yang alamiah.

“Kalau kabisat ini lebih kepada keunikan saja, dan tidak ada yang menjadi hal penting untuk dikaji karena bukan sebuah masalah. Kecuali jika ada komunitas yag menjalani ritual setiap tahun kabisat, kalau ini ada, baru layak dikaji mengapa mereka melakukannya. Akan tetapi sejauh ini saya belum ada pernah mendengar suatu komunitas yang menjadikan tahun kabisat sebagai tahun yang istimewa,” ujar Iqbal.

Masih menurut Iqbal, keunikan yang terjadi pada kabisat ini, yakni dimana tahun kabisat dikenal sebagai tahun pembulatan. Jadi secara pertanggalan seseorang yang berulang tahun pada tanggal 29 hanya mendapat jatah sekali dalam empat tahun, akan tetapi soal umur tidak mempengaruhi dan tetap bertambah.

Meskipun begitu bilang Iqbal, sejauh ini masih banyak juga masyarakat yang belum mengenal apa itu kabisat. Selain karena tanggal kelahiran yang tidak tepat pada tanggal 29 Februari, masyarakat juga tidak begitu terlalu menjadikan kabisat sebagai tanggal yang istimewa.

Sementara menurut ahli Antropologi Universitas Airlangga, Surabaya- Jawa Timur, Pinky Saptandari, Tahun Kabisat bagi kebanyakan orang, kini tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Karena menurutnya, kehidupan masyarakat umumnya tidak lagi bersentuhan langsung dengan hal-hal perputaran waktu.

“Saya sebenarnya tidak meneliti terlalu jauh akan hal ini. Tapi yang pasti menurut saya, ada faktor kesejarahan dalam hal ini. Dan lagi tentunya penanggalan itu ditetapkan setelah melihat sejumlah tanda-tanda yang ada. Baik dari perputaran tata surya maupun alam yang ada,” ujar Pinky saat berbincang dengan koran ini lewat selulernya, Kamis (23/2) lalu.

Namun sayangnya, menurut Pingky, saat ini perhatian masyarakat terhadap perputaran tata surya sangat menurun. Hal ini tentunya dipengaruhi beberapa hal. Di antaranya akibat kemajuan teknologi yang begitu luar biasa. “Dan juga karena masyarakat sekarang kehidupannya tidak langsung bersentuhan dengan hal-hal semacam itu,” tambahnya.

Padahal sebelum memasuki era modern, lanjutnya, manusia sepenuhnya menerjemahkan perputaran tata surya untuk menjadi pedoman kehidupan. “Misalnya tentang tanggal  29 Februari dalam hal kelahiran. Sekarang ini juga tidak terlalu berpengaruh lagi. Karena, kelahiran bisa diatur lewat operasi. Jadi teknologi benar-benar mempengaruhi,” ungkapnya.

“Kenapa minat masyarakat menurun, karena selama ini mereka hanya tahu bahwa sekarang inilah memang waktunya menikahkan anak yang baik. Tapi mereka tidak pernah diajarkan mengapa bisa demikian. Jadi filosofinya tidak diajarkan. Jadi ada efek budaya, wisdom dan pengetahuan yang terkait dengan hal tersebut. Sehingga orang sekarang lebih pragmatis saja,” tambahnya.

Jadi kalau ada yang lahir tanggal 29 Februari, menurut Pingky juga tergantung orang melihatnya. Sebab ada yang melihatnya sebagai berkat dan merupakan sebuah keunikan. Tapi ada juga yang menganggapnya musibah sehingga tidak heran banyak masyarakat yang menginginkan kelahiran anaknya di tanggal 29, akhirnya dipercepat lewat operasi.

Secara terpisah Prof DR(HC) Suhu Huang meramalkan, Indonesia di tahun kabisat memiliki aura yang cukup baik. Terutama berkaitan dengan bencana alam. “Memang bencana yang kecil-kecil ada. Tapi itu nggak bencana alam yang besar. Berbeda dengan di luar negeri, itu ada. Indonesia ini kan berada di bagian timur, jadi selama setelah tanggal 29 Feberuari nanti, itu tidak ada bencana besar,” ungkapnya.

Namun memang dari segi dunia usaha, menurutnya, krisis berkepanjangan di seluruh dunia sangat berdampak juga terhadap Indonesia. Apalagi krisis tersebut hingga menimpa negara-negara maju sehingga mau tidak mau, Indonesia perlu benar-benar memperhatikan hal ini. “Seperti di Jepang dan negara-negara maju lainnya. Hanya saja dari segi iklim, Indonesia kan jauh lebih baik dari negara-negara tersebut. Sehingga untuk membangun dunia usaha tetap terbuka peluang,” ungkap Suhu yang membuka praktek di Teluk Gong dan Mangga Dua Square, Jakarta.(uma/ken)