23 C
Medan
Friday, January 16, 2026
Home Blog Page 13862

Apa Guru SLB Tidak Dapat Tunjangan?

085359768xxx

Kepada Sumut Pos mohon dipertanyakan kepada Kadis Pendidikan Provsu mengapa kami guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di lingkungan Dinas Pendidikan Provsu tidak memperoleh tunjangan Gubsu dan tunjangan guru yang belum tersertifikasi terhitung sejak 2011 sampai sekarang

Gaji Honorer Masih Belum Layak

085372247xxx

Mohon kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi untuk menindak lanjuti tentang dana BOS yang begitu besar diberi kepada sekolah-sekolah negeri terutama SMP kemana sebenarnya uang itu? kenapa Dinas Pendidikan Provinsi tidak memberi petunjuk tentang penggunaan dana BOS kepada para Kepala Sekolah (Kasek) sehingga mereka merasa dana BOS adalah milik mereka. Kenapa penggajian honorer di sekolah negeri masih tidak layak (Rp300 ribu per bulan)? Tolong Pak Saiful, dengarkan jeritan para honorer yang selalu ditindas para Kasek. Bapak pernah berjanji waktu rapat guru honor di Wisma Tama Pematang Siantar 2010 lalu, akan memperjuangkn nasib para honorer di sekolah negeri. Tolong Pak, kami percaya akan janji Bapak.

Tidak Ada Laporan Khusus

Tunjangan bantuan Gubernur semua diserahkan ke Kabupaten/Kota untuk disalurkan ke seluruh guru-guru. Sampai saat ini, Pemprovsu belum ada menerima laporan khusus bahwa tunjangan itu belum disalurkan ke guru-guru inkusi (Sekolah Luar Biasa). Tanpa laporan itu kita tidak bisa menindaklanjuti.

Perihal gaji honorer, kalau dihitung dari jumlah Rp300 ribu itu memang kecil. Tetapi perhitungannya berdasarkan jam mengajar tenaga honorer tadi sebesar Rp30 ribu per jam. Meskipun mereka hanya mengajar 45 menit tetap dihitung satu jam. Terima kasih.

Zakaria
Kepala Humas Pemprov Sumut

Nadila Ernesta Stop Main Film Horor

Nadila Ernesta bertekad ingin lebih mengembangkan kariernya di dunia layar lebar. Salah satu langkah awalnya, ia mulai berhenti bermain film horor.

“Nanti sampai tua kerjaannya cuma main film horor doang! Kan ingin nyobain yang nggak horor, komedi, drama, ingin bisa banyak jadi agak dipilih-pilih kali ya,” tuturnya saat ditemui usai tampil di acara ‘Bukan 4 Mata’ di Studio Trans TV, Jakarta, Selasa (28/2)  malam.

Sebelumnya, kekasih drumer Netral, Eno itu memang dikenal kerap membintangi film-film horor, seperti ‘Hantu Rumah Ampera’ (2009), ‘Kereta Hantu Manggarai’ (2008), dan ‘Hantu Jembatan Ancol’ (2008). Kini ia pun berharap bisa mendapatkan karakter yang berbeda.

Perempuan berumur 24 tahun itu pun kini tengah terlibat dalam sebuah film drama komedi. Sayangnya, dirinya enggan menjelaskan lebih lanjut perannya dalam film itu.

“Aku belum boleh cerita, cuma jatuhnya drama dan ada komedinya juga,”paparnya.
Soal hubungan cinta, kendati telah berpacaran dengan Eno selama empat tahun, namun  Nadila Ernesta belum juga dinikahi oleh penggebuk band Netral itu.

Mengaku tidak menargetkan kapan harus menikah, wanita 24 tahun itu lebih memilih memantapkan hubungannya dulu dengan Eno.
“Gini kan kalau mau serius kalau kita mau nikah seumur hidup satu kali ya, enggak mau cerai atau segala macam. Harus mencari yang terbaik buat kita dan umur itu enggak menjamin semuanya, kayak umur segini nih waktunya gue nikah nih. Tapi aku sama sekali enggak ada target,” jelas Nadila.
Kendati begitu, dirinya sudah membahas pernikahan dengan sang kekasih. Hanya saja, masih sebatas obrolan santai. “So far sih pasti ada ya, cuma enggak ada omongan yang serius. Belum,masih santai banget kok,” ujarnya.

Selain mereka berdua, pihak keluarga juga santai menghadapi hubungan. Mereka belum menanyakan keseriusan hubungannya dengan Eno.
“Kalau belum ada apa-apanya dari akunya ya enggak bakalan ditanyain,” tutupnya. (net/bbs)

Akomodir Keluhan Perawat

PPNI Sumut Beri Masukan ke Panja RUU Keperawatan

MEDAN- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sumut banyak memberikan masukan kepada Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Keperawatan Komisi IX DPR RI saat berkunjung ke Sumut, beberapa waktu lalu. Harapannya UU Keperawatan yang kini dibahas akan mengakomodir semua keluhan masyarakat.

Ketua PPNI Sumut Evi Karota mengatakan perawat sudah banyak berperan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Namun peran perawat tersebut tidak pernah diperhatikan apalagi dihargai secara khusus sebagai bagian dari upaya nasional.

“Perawat sangat dibutuhkan selagi ada masalah dalam pelayanan kesehatan tetapi sering ditinggalkan dalam penetapan kebijakan kesehatan baik lokal maupun nasional. Perlindungan terhadap perawat yang melakukan pelayanan kesehatan sangatlah lemah yang berarti juga lemahnya perlindungan pada masyarakat yang mendapat pelayanan perawat,” jelasnya.

Evi Karota yang juga Pembantu Dekan II Fakultas Keperawatan USU ini melanjutkan saat ini tak terbantahkan dengan kedekatan perawat dengan masyarakat, maka secara tidak langsung perawat telah melayani masyarakat sampai pada kondisi dan daerah yang paling perifer dengan segala keterbatasan. Tapi di sisi lain perawat sering dianggap dan dituduh melanggar hukum dan tidak sedikit yang diciduk bahkan ditangkap.
“Perlakuan tidak adil terhadap perawat harus dihentikan agar perawat Indonesia dapat berkontribusi lebih banyak lagi untuk melayani masyarakat dengan tetap terjamin perlindungan dan kesejahteraannya,” katanya memberi saran.

Selain itu sambung Evi Karota perawat adalah tenaga kesehatan terbanyak dengan keilmuan yang cukup luas sehingga perlu diberi kesempatan untuk melayani pasien sesuai dengan keluasan keilmuannya.

Evi Karota menyebutkan banyaknya persoalan sosial dalam keperawatan akan mempengaruhi kualitas praktik/pelayanan  keperawatan saat ini antara lain kompetensi yang dimiliki perawat belum diimbangi dengan kewenangan yang tegas sesuai dengan kompetensi tersebut.

“Di masyarakat perawat adalah potensi luar biasa yang belum termanfaatkan oleh Negara, yang mana saat ini kita sedang menghadapi tingginya angka Kematian Ibu dan Bayi, Pencapaian MDGs, yang sebenarnya Perawat mampu melakukan itu dengan difasilitasi oleh pengaturan yang kuat dalam bentuk UU keperawatan,” sambungnya lagi.

Ditambahkan Evi Karota UU keperawatan akan berdampak pada peningkatan kualitas praktik perawat yang dapat dilihat dari indiikator kepuasan pasien dilayani secara paripurna, menurunnya infeksi nosokomial, angka kesalahan obat, dan dapat menurunkan masa rawat yang sangat menjadi sorotan di dunia perasuransian saat ini. (*/dra)

Pegawai Gotong Royong dan Tanam Pohon

Di Kelurahan  Simpang Selayang

MEDAN- Ada aktivitas yang berbeda di halaman halaman Kantor Kelurahan Simpang Selayang Jalan Setia Budi Simpang Selayang Lingkungan 2, pada Rabu (29/2) kemarin.

Di lokasi itu, para pegawai kelurahan, kepala lingkungan serta warga Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan melakukan kegiatan gotong-oyong dan penanaman bibit phon Mangga. Mereka pagi itu terlihat begitu bersemangat melakukan bersih-bersih sekaligus tanam pohon.
Lurah Simpang Selayang, Topan mengatakan, tujuan dilakukannya gotong-royong dan penanam bibit pohon mangga itu untuk menciptakan kelestarian lingkungan di halaman kantor kelurahan serta menghijaukan keindahan di kelurahan.”Bila di sekitar dekat kantor Kelurahan Simpang Selayang terlihat indah dan lestari, tentunya akan membuat enak dipandang,” ujar Topan kepada wartawan koran ini.

Menurutnya, kegiatan gotong royong tersebut dilakukan bukan hanya jam kerja saja. Tapi, pada hari Sabtu  dan Minggu, mulai pukul 07.00 WIB. Tak hanya itu, warga  kelurahannya juga selalu melakukan gotong royong di setiap lingkungannya masing-masing. Mulai dari membersihkan drainase, membersihkan sampah dan menata lingkungan masing-masing.

Untuk itu, Topan berpesan, kiranya masyarakatnya dapat menjaga kebersihan dan keindahan setiap lingkungannya. “Bila masyarakat dapat menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan, tentunya akan menciptakan suasana nyaman serta terhindar dari penyakit akibat tercemar lingkungan kotor,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan 2 Kelurahan Simpang Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan, Misman menyebutkan,  kegiatan gotong-royong memang wajib dilakukan masyarakatnya. (omi)

Menciptakan Lingkungan Sehat

Lingkungan sehat adalah lingkungan yang bersih. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan untuk mendukung kesehatan tubuh kita. Berikut ini adalah beberapa contoh hal yang bisa Anda perbuat untuk menciptakan lingkungan yang sehat.

Lingkungan Dalam Rumah
Lingkungan sehat berawal dari rumah Anda sendiri, dimana Anda hidup di dalamnya setiap hari. Apa saja yang harus dilakukan untuk membuat rumah yang bersih dan sehat?

  1. Sediakan selalu tempat sampah di tempat-tempat tertentu, misalnya di dapur. Untuk tempat-tempat tertentu, sediakan tempat khusus sampah kering.
  2. Jangan menunggu hingga tempat sampah penuh, terutama untuk sampah basah yang biasanya ada di dapur. Sampah bisa mengundang serangga (lalat atau kecoa) yang tentu saja bisa mendatangkan penyakit bagi keluarga.
  3. Bersihkan lantai rumah secara rutin, dimulai dengan menyapu lalu dipel hingga benar-benar bersih.
  4. Bersihkan pula bagian-bagian rumah yang lain, misal jendela, rak atau lemari dapur, maupun perabotan rumah yang lain.
  5. Jika ada kotoran, misalnya air minum atau makanan   yang tumpah, segera bersihkan dengan lap basah lalu dikeringkan.
  6. Salah satu cara menciptakan lingkungan sehat adalah dengan membiarkan udara luar dan cahaya matahari masuk ke rumah ketika pagi hari. Hal ini akan membuat rumah tidak pengap, segar, dan juga tidak nampak suram.

Lingkungan Luar Rumah

Tak hanya lingkungan dalam rumah, Anda pun harus menjaga kebersihan lingkungan yang ada di luar rumah, mulai dari teras dan juga
Halaman Rumah

  1. Lakukan kerja bakti secara rutin minimal seminggu sekali untuk membersihkan teras dan halaman rumah. Bersihkan rumput liar, memangkas tanaman  hidroponik rimbun, atau membersihkan got agar tidak menjadi sarang nyamuk
  2. Sediakan tempat sampah khusus di luar rumah.
  3. Atur tanaman di halaman agar tidak terlalu banyak tapi juga  tidak terlalu sedikit. Pepohonan yang cukup di sekitar rumah akan membuat rumah tampak sega namun tetapterlihat asri. (*)

PCNU Syahadatkan Alex Prahmana

TEBING TINGGI- Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tebing Tinggi telah mengsyahadatkan Alex Prahmana alias Akeit dari agama Budha memeluk ke agama Islam di Kantor PCNU Jalan KL Yosudarso, Kota Tebing Tinggi, Rabu (29/2) sekira pukul 11.00 WIB.

Alex Prahmana memeluk agama islam karena sudah kebulatan tekad dan tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun. Setelah masuk Islam, dia akan tetap menjalankan syariah agama Islam, terutama belajar hukum tentang Islam, belajar sembahyang dan lebih mengenal Islam lebih jauh kedalam. “Dengan membacakan ikrar masuk islam, saya akan menjalankan perintah dan menjahui larangan yang dilarang oleh agama Islam,” ujar Akiet yang diberi nama muslim, Ahmad Alex Prahmana.

Setelah mengucap dua kalimat syahadat yang dibimbing oleh Ustad Drs Ibrahim Harahap dan mendapat pencerahan agama, Ahmad Alex mengaku tersanjung bahwa Islam itu indah dan akan tetap memeluk agama islam tanpa berpindah ke agama lain, kebulatan tekadnya memeluk islam didasarkan atas pergaulan selama ini dengan teman-teman yang beragama islam. “ Tak ada paksaan, saya ridho lahir dan batin masuk memeluk agama islam,”jelasnya.

Hadir dalam kegiatan itu, Ketua Tanfiziah PCNU Kota Tebing Tinggi, Ir Oki Doni Siregar, Ketua Rois, Ustad Ibrahim Harahap, Ketua MUI Ahmad Dalil Harahap, Sekretaris Syamsuddin Harahap, Muhammad Hatta Purba, Asnawi Mangkualam dan seluruh pengurus PCNU Kota Tebing Tinggi. (*/mag-3)(mag-3)

Kapasitas Inventarisasi GRK

Gatot Buka Workshop Pengembangan

MEDAN- Berbagai dampak perubahan iklim tidak terlepas dari perilaku manusia dalam menjalankan aktivitas pembangunan ekonomi, baik di negara maju maupun negara berkembang.

Kebijakan pembangunan yang terintegrasi dengan penanganan dampak perubahan iklim saat ini sangat diperlukan di Sumut. Sehingga, pembangunan ekonomi dan pelestarian fungsi lingkungan hidup dapat berjalan selaras, serasi dan seimbang.

Demikian disampaikan Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST dalam sambutannya sebelum membuka workshop Pengembangan Kapasitas Inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) di Sumut, Selasa (28/2) di Hotel Madani, Medan. Hadir dalam acara itu, Konsul Jepang Mr Yuuji Hamada, Ketua Penitia (Kepala BLH Sumut) Dr Ir Hj Hidayati MSi, Ir Hari Wibowo (Mewakili Deputy Bidang Kerusakan Hutan dan Perubahan Iklim) dan para undangan lainnya.

Dikatakan Gatot, pemerintah Indonesia pada pertemuan G20 di Kopenhagen tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomitmen melakukan penurunan emisi gas GRK 26 persen dari aksi mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sampai tahun 2020, dan dilaksanakan di lima sektor yaitu kehutanan dan gambut 22,78 persen, limbah 1,63 persen, pertanian 0,27 persen, industri 0,03 persen serta energi dan transportasi 1,29 persen.

“Sebagai tindaklanjut dari komitmen tersebut pemerintah Indonesia telah menerbitkan Perres No. 61 tahun 2011 tentang rencana aksi nasional penurunan emisi gas rumah kaca dan Perpres No. 71 tahun 2011 tentang penyelenggaraan inventarisasi GRK. Di dalamnya dinyatakan tentang kewajiban Pemprovsu dan provinsi lainnya untuk menyusun rencana aksi daerah penurunan emisi gas rumah kaca (RAD-GRK),” kata Gatot.

Sedangkan Ir Hari Wibowo yang mewakili Deputy Bidang Kerusakan Hutan dan Perubahan Iklim menyampaikan, kebijakan penurunan emisi GRK 26 persen yang telah berjalan kurang lebih 2 tahun memerlukan percepatan dalam pelaksanaannya. “Untuk itu, unit kerja Presiden RI bidang pengendalian dan pengawasan pembangunan (UKP-4) akan menggunakan instrumen pengendalian dan pengawasan yang telah dikembangkan UKP-4 selama ini untuk memastikan capaian kebijakan penurunan emisi 26 persen,” ujarnya.

Dan, lanjutnya, percepatan pelaksanaan Perpres No. 61 tahun 2011 dan Perpres No. 71 tahun 2011 itu diwujudkan dengan akan dikeluarkannya pedoman RAD GRK dalam waktu tidak terlalu lama lagi.

Dia juga berharap melalui pertemuan itu para pemangku kepentingan daerah memahami dasar-dasar inventarisasi GRK. Kemudian para pelaksana inventarisasi GRK di daerah terutama kabupaten/kota dapat melakukan penghitungan emisi GRK, serta meningkatkan kualitas pelaporan inventarisasi GRK daerah.

Sementara menurut data dari BLH Sumut, kalau sumber GRK di Sumut selama ini paling banyak berasal dari kendaraan (2.284.404 kenderaan), lalu industri (1600 industri), kebakaran hutan/lahan (498 titik hotspot), dan sampah (15 juta orang x 0,6 kg).

Kata dia, Sumut memiliki 1,7 juta Ha areal perkebunan sawit yang berpotensi menghasilkan 8,7 miliar ton setara CO2 tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa PKS (Pabrik Kelapa Sawit) dengan kapasitas olah 30 ton/jam saja dapat menghasilkan 13.000 ton setara CO2 per tahun dan berpotensi menghasilkan emisi 35.000-100.000 ton CO2 per tahun.

“Jadi apabila kualitas udara nasional melalui emisi tidak diperbaiki atau tidak dilakukan perubahan, maka telah diproyeksikan pada tahun 2018 akan terjadi peningkatan 20 kali partikel debu (PM). Makanya BLH Sumut melakukan 10 strategi 2010-2014, antara lain : peningkatan kualitas air permukaan (Asahan, Deli dan Belawan), konservasi ekosistem Danau Toba, Pantai Timur dan lain-lain,” katanya. (*/ila)

Nadia Vega Jadi Penulis Novel

Setelah lima tahun absen di film layar lebar, aktris Nadia Vega akhirnya kembali lewat ‘Keumala’. Dalam film tersebut, ia berperan sebagai penulis novel yang terancam buta karena penyakit. Apa tantangannya?

“Filmnya puitis banget, paling susah hapalin dialog, me-manage air mata kapan harus keluar, kapan harus buta total,” ujarnya saat ditemui di Planet Hollywood, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (28/2).

Nadia yang berperan sebagai Keumala, diceritakan sebagai penulis novel yang terkena penyakit retina mata. Awalnya rabun senja, pelan-pelan ia menjadi buta.

Saat perjalanan ke Aceh, Keumala bertemu dengan Langit (Abimana), fotografer yang hidup dalam penyesalan karena masa lalunya. Keduanya sering bertukar pikiran yang berujung ‘tegang’ karena beda pendapat. Namun diam-diam keduanya saling mengagumi.

Film arahan sutradara Andhy Pulung itu banyak mengambil adegan di kapal yang tengah terapung. Hal tersebut sempat menjadi kendala bagi aktris kelahiran Pekanbaru, Riau, 12 Desember 1987 itu. Rencananya, ‘Keumala’ akan tayang di bioskop pada 1 Maret mendatang
Dalam film tersebut , mantan kekasih Aldi Taher ini tampak mengubah gaya rambutnya.

“Iya sekarang gak pake poni, aku emang sempet tanya ke temen-temen dan orang lain, pingin ganti gaya nih. Jadi pengen lebih dewasa dengan gak pake poni, ya di-sesuaikan umur aja. Kalo soal baju aku sesuaikan dengan suasana. Kalo dulu kan ekstrim tomboy, sekarang lebih menghormati acara yang aku datangin,” ungkap Nadia.

Soal make up, Nadia  mengakui kalau kini dirinya juga belajar untuk mengenakan make-up lantaran sebagai bentuk hormatnya pada sebuah acara dan ingin tampil dalam kesan rapi.

“Ke depannya aku ingin ngeluarin single, genre belum tahu. Awalnya kan emang aku ingin nyanyi, tapi dipending karena ada tawaran ini. Tapi nyanyi akan terus lanjut nanti. Antara film atau nyanyi sama-sama enjoy ya. Aktingkan bisa melarikan diri sendiri, kalo nyanyi itu mengekspresikan diri,” tutur Nadia.
Nadia juga mengakui bahwa dirinya belajar akting secara otodidak.  (net/bbs)

The Virgin Janji Setia dengan Ahmad Dhani

Hengkangnya Tata dari Mahadewi dan Republik Cinta Manajemen milik Ahmad Dhani terkesan mengejutkan. Duo The Virgin, yang juga tergabung dalam manajemen artis tersebut menyayangkan keluarnya Tata.  Bagaimana dengan The Virgin?

Menurut Dara dan Mitha, mereka tak akan keluar dari RCM. Mereka berjanji akan terus berada di bawah asuhan manajemen Dhani.
“Aku makasih banget sama Mas Dhani, kalau nggak, aku masih bolak-balik cari label. Aku sign 2009, aku akan kontrak seumur hidup selama masih dibutuhkan,” kata Mitha saat ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Selasa, (28 /2)

Sama dengan Mitha, Dara juga akan bertahan selama dibutuhkan. Ia telah berjuang dari bawah untuk mendapatkan karier musik seperti sekarang ini. Mereka menganggap Dhani memiliki peranan penting dalam karier musiknya.

“Kami berharap nggak ada godaan, iming-iming yang nggak jelas. Mudah-mudahan fondasi kami kuat,” harapnya. (vvn/net)

Tiga Nama Mencuat untuk Bandara di Kualanamu

LUBUKPAKAM- Tiga nama diusulkan untuk bandara internasional yang sedang dibangun di Kualanamu, Deliserdang. Ketiga nama itu yakni, Bandara Sultan Suleman, Bandara Sultan Serdang dan Bandara Kualanamu Deliserdang.

Usulan ketiga nama ini terungkap dalam seminar sehari yang digelar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) bekerjasama dengan Pemkab Deliserdang bertajuk, Bandara Internasional dalam Perspektif Historis, Budaya dan Pembangunan. Seminar itu digelar di Balairung Pemkab Deliserdang, Selasa (28/2).

Direktur Keuangan Angkasa Pura II Laurensius Manurung menyatakan, soal penetapan nama bandara sepenuhnya ada di tangan Kementerian Perhubungan. Namun begitu, kata Laurensius,  bagi masyarakat Sumut yang berkeingginan mengusulkan nama untuk bandara baru itu agar menyampaikannya ke Gubernur Sumut. Kemudian gubernur mengusulkan ke Menteri Perhubungan.

Menyikapi itu, Ketua DPRD Deliserdang Hj Fatmawaty Takrim mengusulkan nama bandara itu Sultan Kerajaan Negeri Serdang dengan sebutan Sultan Serdang. Menurutnya, nama tersebut merupakan ciri khas budaya di Deliserdang, selaku lokasi tempat bandara baru itu berdiri.
Sementara Wakil Bupati Serdangbedagai Ir Soekirman mengatakan, nama Bandara Internasional Kualanamu Deliserdang yang selama ini disebut-sebut warga, sudah layak dipertimbangkan. Pasalnya, di sana telah terkacup dan menampung aspirasi Kesultanan Serdang dan Kesultanan Deli. Sedangkan kata Kualanamu, merupakan  desa yang ada di sana.

Terpisah, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho menjanjikan, pembebasan lahan untuk jalan masuk ke Bandara Kualanamu selesai Maret mendatang. Hal ini diungkapkannya saat  melakukan kunjungan ke lokasi proyek pembangunan Bandara Kuala Namu dan lokasi proyek pembangunan jalan akses menuju bandara, Selasa (28/2).

“Saya sudah pastikan melalui pihak Angkasa Pura II, runway bandara rampung pada November tahun ini,” ujar Gatot.
Usai kunjungan itu, Gatot sempat mendatangi Bupati Deliserdang Amri Tambunan di Kantor Bupati untuk mempertanyakan proses pembebasan tanah yang menjadi domain Pemkab Deliserdang. Dalam pertemuan itu, Asisten I Pemkab Deliserdang Syafrullah yang mendampingi Amri Tambunan menjelaskan, 129 warga yang menempati lahan eks HGU pada rencana jalan sepanjang 3,5 km sudah sepakat, dan tinggal menunggu proses pembayaran yang ditampung Pemprovsu di APBD 2012.(btr/ari)

Pasien Dipungut Uang untuk Pompa Air

Ditelantarkan, Penderita Kusta di RSK Sicanang Demo

BELAWAN- Puluhan penderita kusta berunjuk rasa di halaman Rumah Sakit Kusta (RSK) Sicanang, Belawan, Selasa (28/2) pagi. Mereka menuntut agar pimpinan dan kepala tata usaha (Ka TU) di rumah sakit tersebut dicopot, karena kurang maksimal memberikan pelayanan medis dan telah menelantarkan mereka.

Ketua Pasien Kusta RS Sicanang Damhur Nasution mengaku, selama ini pasien kusta di rumah sakit tersebut sering mendapat kesulitan ketika ingin berobat. Selain, dokter dan perawat jarang di tempat, obat untuk luka ke tulang tidak tersedia.

“Jangankan obat, mobil ambulans untuk merujuk pasien ke RSU Dr Pirngadi Medan pun tak punya,” kata Damhur Nasution. Parahnya lagi, ucap Damhur, para pasien yang semestinya harus diamputasi terpaksa gagal. Hal ini disebabkan ketersediaan biaya amputasi di rumah sakit milik Pemprovsu itu tidak ada. “Dulu biaya untuk amputasi ada disediakan, tapi sekarang sudah tak ada lagi. Buktinya, ada pasien kusta yang hingga kini butuh diamputasi, tapi tak diamputasi. Selain obat yang tidak lengkap, kami minta agar pimpinan dan Ka TU, Lindung Siagian diganti,” bebernya.

Tak hanya pelayanan medis yang dikeluhkan para pendemo, mereka juga meminta Ka TU segera mengembalikan uang para pasien yang dipungut untuk keperluan pembelian mesin pompa air. “Sebelumnya pihak rumah sakit melalui Ka TU pernah meminta uang kepada pasien dengan alasan pembelian mesin pompa air, tapi nyatanya kebutuhan air di sini masih bermasalah juga. Belum lagi aliran listrik kerap diputus PLN karena rekening tagihannya belum dibayar,” ungkap para pendemo.

Karena tak mendapat tanggapan dari pimpimnan rumah sakit mapun Ka TU tidak berada di tempat, akhirnya sekira pukul 11.00 WIB massa akhirnya membubarkan diri.

Sementara, Ka TU Rumah Sakit Kusta Pulo Sicanang Belawan Lindung Siagian ketika dihubungi Sumut Pos mengaku, pihak rumah sakit terpaksa menggunakan uang para pasien karena anggaran untuk keperluan pasien di rumah sakit sudah tidak ada lagi. “Uang pasien memang ada kita pakai untuk keperluan membeli mesin pompa air, itu dilakukan karena anggaran rumah sakit tak ada lagi, dan masih menunggu kucuran dana dari Dinas Kesehatan,” kata Siagian.

Namun, Siagian membantah soal tudingan pihak rumah sakit selama ini mempersulit para pasien untuk mendapatkan pelayanan medis. “Kalau kita persulit tidak ada, itu mengada-ngada, dan tidak ada yang diterlantarkan. Tapi kalau soal ketersediaan obat-obatan itu bukan bidang saya, tanyakan saja langsung sama pimpinan rumah sakit karena beliau yang lebih berkompeten untuk menjelaskannya,” dalihnya dari seberang telepon selular.(mag-17)