Home Blog Page 13870

AKBP Apriyanto Ngadu ke Kapolri

Kuasa Hukum Tantang Dir Narkoba Tes Urine

MEDAN-Mantan Wakil Direktur (Wadir) Reserse Narkoba Polda Sumut, AKBP Apriyanto Basuki Rahmad tampaknya tak senang dengan hasil tes urine yang dikeluarkan laboratorium narkotika Polda Sumut. Melalui kuasa hukumnya, Marudut Simanjuntak SH, Apriyanto akan meminta perlindungan hukum kepada Kapolri, Jendral Timur Pradopo. Itu karena pihak Apriyanto menemukan sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut.

“Kita menduga adanya rekayasa dalam kasus ini dan meminta penyidik agar bekerja secara profesional. Itu tujuan surat ke Kapolri,” katanya.
Kejanggalan pertama, berdasarkan surat pengantar permintaan tes urine yang ditandatangani Direktur Narkoba Polda Sumut, Kombes Andjar Dewanto ke Labfor disebutkan kliennya sebagai tersangka.

“Itu tidak benar, kenapa hasil tes urine  sembilan hari baru diumumkan ke publik. Padahal satu hari saja bisa. Bahkan menurut cerita Pak Apriyanto, tanggal 17 dia diminta menghadap Bapak Wakapolda. Pak Wakapolda pun bertanya kepada Pak Kalabfor. ‘Hasilnya negatif Pak’, jawab Pak Kalabfor. Bahkan saat itu dihadapan Wakapolda Pak Apriyanto menantang untuk dilakukan tes darah atau cuci rambut,” ujar Marudut seperti pengakuan kliennya.
“Tapi kenapa sekarang kok hasilnya bisa positif?,” tanya Marudut yang mengaku telah memohon perlindungan hukum atas kasus tersebut kepada Kapolri Jenderal Timor Pradopo.

Kejanggalan lain juga adalah, kliennya tidak ada di TKP dan tidak ditemukan barang bukti padanya, hanya berdasarkan keterangan saksi kemudian AKBP Apriyanto sudah dicopot dari jabatannya. “Itu kan fakta-fakta yang nggak bisa ditutupi,” kata Marudut.

Marudut yakin, apabila semua anggota narkoba dilakukan tes urine pasti semuanya akan positif dan masuk penjara. “Termasuk Direkturnya itu, suruh aja tes urine,” katanya

Keluarga Apriyanto juga mengaku sempat diteror orang tak dikenal (OTK). Aksi teror dialami perwira lulusan Akpol terbaik di angkatannya tersebut seminggu setelah dia tersandung kasus narkoba delapan butir pil happy five yang melibatkan seorang manajer hiburan malam, Jhonson Jingga.
Keluarga Apriyanto merasa cemas karena OTK mengendarai mobil kerap terlihat memantau kediamannya di kawasan Komplek Citra Wisata, Kecamatan Medan Johor.

“Udah seminggu belakangan ini kami merasa sempat diteror. Saban hari, setiap sore, mobil-mobil dikenderai orang yang tidak kami kenal parkir di depan maupun dekat rumah. Malahan ada yang pernah ditanya satpam komplek, eh langsung pergi seperti enggan berbicara,” kata Rina Wandini didampingi, Marudut Simanjuntak.

Teror tersebut mereka alami setelah menggelar konferensi pers terkait pembelaan dirinya dan niat mengungkap kebobrokan Direktorat Narkoba Polda Sumut di bawah pimpinan Kombes Pol Andjar Dewanto.

Marudut menambahkan, OTK kerap memantau ke kediaman klien-nya mulai sore hingga malam hari. Bahkan, saat beranjak dari rumah, mereka kerap diikuti OTK. Meski cemas, dia memastikan pihak keluarga siap menghadapi risiko demi mengembalikan martabat mereka yang merasa dipojokkan oknum-oknum tertentu agar karirnya di kepolisian terhambat.

“Keluarga dan kami sebagai kuasa hukum sudah siap menghadapi segala permasalahan yang terjadi terkait kasus klien kami ini. Kasus ini benar-benar dipolitisir, tujuannya mungkin ada maksud lain. Yang pasti kami tidak terima dan akan melakukan perlawanan,” tuturnya.

Di lain pihak, penanganan kasus dugaan mengkonsumsi narkoba yang membelit Apriyanto makin serius. Setelah dinyatakan positif menggunakan narkoba dalam tes urine, pihak Direktorat Narkoba Polda Sumut yang menanganinya belum berani menetapkannya sebagai tersangka. Penyidik membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut guna menyeret mantan Dir Narkoba itu ke ranah hukum.

“Masih saksi, belum tersangka, karena memang harus didalami lagi kasusnya. Kita akan tunggu pemeriksaan lanjutan minggu depan,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso saat dikonfirmasi, Sabtu (25/2) Siang.

Pemeriksaan lanjutan pekan depan akan menyertakan istri AKBP Aprianto, Rina Wandini (40). “Kalau untuk pemeriksaan lanjutannya, nanti sepertinya istrinya dulu dimintai keterangan, baru di hari berikutnya Pak Wadir, karena kan dia (AKBP Apriyanto-Red) sudah pernah diperiksa,” terangnya.(ala/smg/gus)

Anas dan EBY Bungkam di Polonia

MEDAN- Banyaknya pemberitaan miring di media massa terhadap Partai Demokrat (PD) diduga menjadi alasan bungkamnya dua petinggi partai politik itu saat transit di Bandara Polonia Medan, Sabtu (25/2). Ketua Umum DPP PD, Anas Urbaningrum bersama Sekjend DPP Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhono (EBY) serta pengurus DPP Partai Demokrat.

Selama 45 menit di VIP room Bandara Polonia Medan, tak bersedia menerima wartawan. Bahkan, ruangannya tertup serta dijaga sejumlah pengurus PD yang berbadan besar.

Sumut Pos awalnya meminta izin kepada seorang pria berkaca mata, namun pria itu berulang kali enggan mengizinkan. Alasannya, Anas Urbaningrum dan Eddy Baskoro sudah kelelahan pulang dari Nangroe Aceh Darusalam (NAD).

Bahkan, ketika Anas berhadapan dengan wartawan di VIP room hanya tak ada sedikit pun mengeluarkan suara ataupun reaksi apapun. Lebih memilih diam, sedangkan Eddy Baskoro juga bersikap yang sama. Hanya saja, pengawal Eddy langsung menutup satu ruang VIP room yang sudah terhidang makanan dan minuman.

Sekitar pukul 17.15 WIB, Anas serta Eddy keluar dari satu ruang VIP Room, lagi-lagi ketika dihadang wartawan Koran ini sedikit pun tak ada memberikan komentar apapun saat disapa.

Sejumlah pengurus Partai Demokrat Sumut dan Medan di VIP Room Bandara Polonia Medan. Saat hendak mau diwawancarai, seorang pengurus partai menggunakan kaca mata dan baju biru garis-garis putih melarang agar diwawancarai. “Maaf bapak Anas Urbaningrum dan Edhie Baskoro Yudhono tak bisa diwawancarai karena langsung berangkat. Beliau sudah letih dan secepatnya harus kembali ke Jakarta,” ucapnya. (jon)

Dhana Tiru Modus Gayus

JAKARTA-Dhana Widyatmika, mantan PNS Ditjen Pajak, tampaknya bakal sulit menghindar dari proses hukum di Gedung Bundar. Tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) telah mengantongi sejumlah bukti kuat untuk segera menindaklanjuti temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) soal kepemilikan aset Dhana senilai Rp60 miliar.

Setelah mengantongi bukti yang cukup, penyidik kini mendalami berbagai modus memperkaya diri pria yang kini pindah menjadi PNS golongan III-C (bukan III-A) Dispenda Pemprov DKI tersebut. “Kami mendalami (modus) melalui sejumlah dokumen dan barang yang kami sita,” kata Direktur Penyidikan pada JAM Pidana Khusus Arnold Angkouw kemarin (25/2).

Tim penyidik beberapa hari ini memang menggeledah sejumlah kediaman milik Dhana, termasuk sebuah rumah di kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Selain dokumen, jaksa menyita hard disk komputer dan satu unit mobil Mini Cooper. Mobil tersebut diduga dibeli dengan uang yang kini dipermasalahkan kejaksaan.

Sebuah sumber di kejaksaan menyatakan, jaksa memiliki sejumlah kemungkinan tentang bagaimana Dhana bisa punya aset miliaran rupiah di rekeningnya. Pria kelahiran Malang, Jatim, itu dicurigai meniru modus yang dipraktikkan Gayus Tambunan, terpidana kasus makelar pajak dan pencucian uang. Yakni, menerima imbalan (fee) dari setiap pengurusan kasus pajak sejumlah perusahaan.

Dalam menjalankan aksinya, Gayus bisa mengurus perkara-perkara pajak dari perusahaan bermasalah. Nah, dari praktik memakelari perkara pajak itulah mantan PNS Direktorat Keberatan dan Banding Ditjen Pajak tersebut menerima imbalan dari perusahaan hingga miliaran rupiah. Gayus lantas berupaya menghilangkan jejak asal usul duit itu dengan pencucian uang (money laundering).

Untuk Dhana, papar Arnold, sangat mungkin dirinya memang menerima pemberian para wajib pajak yang ditangani. Sebab, tidak mungkin Dhana tiba-tiba menggelapkan duit pajak. Pertimbangannya, semua transaksi dilakukan dengan sistem perbankan. “Pastilah itu pemberian. Itu jelas-jelas tindak pidana korupsi,” terang jaksa senior tersebut.

Tapi, soal caranya, Arnold menolak membeberkan. Yang jelas, Dhana memenuhi unsur pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Yakni, unsur memperkaya diri dan menyalahgunakan kewenangan demi keuntungan diri sendiri. “Itu dulu saja lah. Kami juga masih dalami bukti-bukti,” ucap dia. (aga/kuh/c11/agm)

Sungai Deli Jadi Ikon Wisata Medan

MEDAN- Pemerintah Kota (Pemko) Medan melalui Dinas Bina Marga Medan sedang mempersiapkan panton atau alat pengerukan untuk membersihkan Sungai Deli.

Sungai yang membelah Kota Medan ini akan ditata sehingga menjadi salah satu ikon wisata Kota Medan.

“Kita harapkan tahun ini alatnya sudah masuk dan pengerjaannya bisa dimulai. Alat itu selanjutnya akan digunakan untuk membuka jalur dari Avros sampai Balai Kota Medan,” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap usai mengikuti aksi pembersihan aliran Sungai Deli yang digagas Lembaga Pemantau Sungai (LPS), Sabtu (25/2) pagi. Aksi bersih sungai ini dimulai dari Jalan Avros, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun sampai Balai Kota Medan.

Pembersihan sungai sekaligus memberikan pemahaman dan penyuluhan kepada warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai supaya tidak lagi membuang sampah sembarangan. Dengan demikian sungai yang mengalir dan melintasi wilayah Kota Medan sepanjang sekitar 35 kilometer dan luas daerah aliran sungai mencapai sekitar 17.000 hektar ini akan terbebas dari sampah.

“Jadi, sungai yang bersih itu terwujud apabila tidak kita biarkan. Karenanya, kita akan terus melakukan upaya-upaya bagaimana Sungai Deli ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan hiburan dan wisata bagi masyarakat, terutama anak-anak. Untuk itu  ke depan, kita harus memeliki gerakan terpadu agar sampah tidak lagi menjadi masalah bagi Sungai Deli,” ujarnya.

Dalam penelusuran yang telah dilakukannya, Rahudman mengaku kondisi Sungai Deli masih sangat memprihatinkan. Selain menemukan tumpukan sampah, ada warga di kawasan Kampung Aur yang membangun rumah di badan sungai. Jika datang banjir, sangat membahayakan warga yang menempati rumah di badan sungai tersebut.

“Atas dasar itulah, saya mengimbau warga yang bermukim di badan sungai supaya mau pindah. Apalagi Pemko Medan telah menyiapkan sejumlah rumah susun sederhana (rusunawa), tentunya lebih layak huni dan aman dibandingkan dengan rumah di badan sungai,” jelasnya.
Kepala Dinas Bina Marga Medan, Gunawan menambahkan kalau alat pengerukan tersebut belumbisa dipastikan kapan datangny ke Medan. Dimana, anggaran yang memakai APBD Kota Medan untuk pembelian alat tesebut dilanjutkan dalam proses tender. “Dipastikan alat tersebut dalam tahun ini datang. Proses pembelian alat tersebut akan melalui proses tender selama 45 hari,” jelasnya.

Penelusuran Rahudman di sungai ini bukan pertama. Sudah beberapa kali orang nomor satu di Pemko Medan ini menelusurinya dalam mendukung program kebersihan. Meski masih ditemukan sampah, namun mulai terlihat ada perubahan.

“Artinya, volume sampah mulai berkurang  jika dibandingkan dengan  penelusuran Sungai Deli yang pertama. Ini membuktikan pelayanan sampah sudah sampai di gang-gang. Harapan kita sampah warga harus diwadahi dan tempatkan di gang-gang yang dilalui becak-becak yang telah disediakan untuk mengangkut sampah,” pintanya.

Tak lupa, Rahudman menyampaikan rasa terima kasih kepada LPS atas inisiatifnya melakukan gerakan pembersihan aliran Sungai Deli. Diharapkannya, akan semakin banyak lagi muncul komunitas-komunitas peduli lingkungan lainnya untuk saling bekerjasama mewujudkan lingkungan yang bersih.
Ketua LPS, Dedi JP Harahap mengungkapkan kegiatan yang digelar ini dilaksanakan dengan perlu adanya wadah kepedulian terhadap sungai. Hal ini tidak terlepas setelah melihat kondisi sungai yang mengaliri Kota Medan, salah satunya Sungai Deli.

“Kegiatan ini diikuti peserta dari 21 kecamatan, masing-masing kecamatan terdiri dari 6 orang. Besar harapan kami melalui kegiatan yang kita laksanakan hari ini dapat menggugah hati sehingga dapat menjaga dan memelihara kelestarian sungai untuk masa-masa yang akan datang.Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan sungai bebas sampah dan menjadi awal gerakan selamatkan sungai kita,” ujar Dedi.

Melihat tingginya animo peserta  yang mengikuti kegiatan ini dan dukungan yang diberikan masyarakat, Dedi pun ingin melaksanakan kegiatan ini secara rutin. Minimal enam bulan sekali dan targetnya seluruh sungai yang melintasi Kota Medan. Dia berharap hasil kegiatan yang dilakukan ini bisa terukur dan akhirnya diketahui apa factor yang bisa melestarikan sungai, termasuk menggali potensi-potensi di sekitar sungai.

“Selain pariwisata, kita juga ingin sungai menjadi sarata transportasi alternative ke depannya. Selain itu, juga ingin melihat perhatian pemerintah kepada sungai Deli yang dulunya sudah menjadi jalur pembangunan di Kota Medan,” jelasnya.

Dalam kegiatan pembersihan sampah dari aliran Sungai Deli, para peserta berhasil mengumpulkan 3,6 ton sampan. Peserta yang paling banyak mengumpulkan sampah adalah Kecamatan Medan Maimun sebanyak 691 kilogram, disusul Medan Labuhan sebagai juara kedua (550 kg), juara ketiga Medan Sunggal (466 Kg), Medan Tuntungan juara keempat (360 Kg) dan Medan Kota keluar sebagai juara kelima (225 Kg).

Untuk lomba mewarnai, juara pertama Nabila Zwei dari SD Pertiwi III, juara kedua adalah Haikal Hidayat (SD Pertiwi), juara ketiga Galuh Maharini (SD Negeri 060843), juara keempat Keisha Maurice Mohotra (SD Sutomo) dan juara kelima Qaimima Ayuni Indriyani (SD Al Bukhari Muslim). Selain mendapat piala, seluruh pemenang lomba  juga mendapatkan uang pembinaan.(adl)

Bersinar Berkat Peran Sakit

Dinda Hauw

Jam terbang Dinda Hauw sebagai aktris memang belum tinggi. Dara 15 tahun itu baru bermain empat film. Yakni, Surat Kecil untuk Tuhan, Ayah Mengapa Aku Berbeda, Semesta Mendukung, dan Seandainya. Meski demikian, dia punya bekal kuat untuk menjadi pemain film hebat.

Ditemui di sebuah taman di kantor salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta Barat pada Kamis lalu (23/2), pemilik nama lengkap Nyimas Nasthiti Adinda tersebut berdandan kasual yang segar. Kulit putihnya kontras dengan kaus merah dan rok hijau yang dikenakan.

Sesekali, rambut pendeknya disisir dengan jari-jarinya. Rambut Dinda dulu panjang sepinggang. Tetapi, demi film Surat Kecil untuk Tuhan (SKUT), dia memangkasn habis rambutnya. “(Film) itu syuting Desember 2010 dan sekarang sudah Februari 2012. Tetapi, rambutku masih pendek segini,” ujarnya, lalu tersenyum.

Berkat memerankan tokoh Gita Sesa Wanda Cantika atau Keke di film yang diangkat dari novel kisah nyata dengan judul sama itu, Dinda masuk nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik Festival Film Indonesia 2011. Keke diceritakan menderita penyakit rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak). Rambutnya rontok sampai botak. Kulitnya mengering. Dia akhirnya meninggal.

Di film Ayah Mengapa Aku Berbeda, Dinda berperan sebagai anak tunarungu. Di film Seandainya dia diceritakan menderita leukemia. “Hahaha, perannya penyakitan semua,” katanya.

Bungsu di antara empat bersaudara pasangan K.M.S. Herman dan Hulwati Husna itu tidak tahu mengapa sering mendapat peran orang sakit. Yang penting, dia merasa enjoy saat menjalaninya. “Aku kan masih muda, masih belajar. Kalau ada kesempatan berkarya, kenapa tidak? Jadi, jalani aja dulu seperti air mengalir,” tuturnya.

Dinda tidak mau terjebak. Kalau punya pilihan, di film mendatang dia ingin mendapat karakter yang berbeda. Dia takut penonton bosan jika dirinya jadi orang sakit lagi. “Yah, Dinda main film penyakitan mulu, nih. Nanti ceritanya mati atau jadi cacat. Aku nggak mau orang berpikir seperti itu. Aku sih mau banget nyoba semua karakter,” terangnya.

Memang, saat berakting sebagai orang sakit atau tunarungu, Dinda begitu apik memerankannya. Apalagi saat menjadi Keke. Perempuan yang belajar akting secara otodidak itu merasa bahwa seolah bukan dirinya sendiri yang berada di depan kamera. “Begitu kamera rolling, aku bukan Dinda lagi,” tuturnya.

Film SKUT juga begitu membekas di hatinya. Sebab, Dinda mengorbankan banyak hal dan harus melalui proses tes yang panjang. Selain itu, emosinya terjalin di sana. “Aku dipilih sendiri oleh bapak (almarhumah) Keke. Setelah masuk dua besar, aku bertemu keluarga Keke. Aku yang dipilih,” terangnya. Di syuting hari terakhir dia bertemu dengan ibu Keke. “Waktu pamitan, kami berpelukan erat sekali. Setelah itu, aku nangis,” ungkapnya.

Sebelum bermain SKUT, perempuan kelahiran Palembang, 14 November 1996, tersebut beberapa kali terlibat sinetron dan iklan. Tetapi, baru di film itulah namanya melambung dan diperhitungkan sebagai raising star. Banyak tawaran film layar lebar berdatangan.

“Alhamdulillah, sekarang aku sedang memilih main film. Karena pilihan itu, aku harus menjalani banyak konsekuensi. Salah satunya, home schooling. Abang-abangku kasih tahu, kalau mau main film, aku harus memilih. Jaga image juga, kan. Aku dilarang main film yang aneh-aneh (vulgar, Red),” terangnya.

Kini Dinda duduk di kelas III SMA. Sebentar lagi perempuan yang saat kecil bercita-cita jadi dokter tersebut lulus. “Karena itu, sekarang aku main film dulu. Aku belum mau main sinetron karena mau mempersiapkan ujian juga,” jelasnya. (jan/c12/ayi/jpnn)

Irving Menangkan Tim Barkley

FLORIDA-Tim Charles Barkley mengalahkan Tim Shaquille O’Neal dengan skor 146-133 dalam Rising Star Challenge 2012. Kyrie Irving, rookie Cleveland Cavaliers yang membela tim pemenang terpilih sebagai Most Valuable Player.

Irving membuat delapan tembakan tiga angka dan menyelesaikan laga dengan 34 poin pada laga di Amway Center yang berakhir Sabtu (25/2) siang WIB untuk menyabet penghargaan pemain terbaik itu. MVP edisi sebelumnya didapat John Wall, point guard Washington Wizards.

Performa apik juga diperlihatkan Paul George dari tim Chuck. Pemain yang memperkuat Indiana Pacers itu sukses meraup 20 poin.
Tristian Thompson (Cavaliers) memimpin perolehan angka kubu Shaq dengan torehan 20 poin. Sementara pemain sensasional New York Knicks Jeremy Lin justru tampil meredup hanya mampu membuat dua poin saja.

Rising Star  Challenge edisi tahun ini memiliki format yang berbeda dari sebelumnya di mana rookie dan pemain tahun kedua digabung menjadi satu untuk pertama kali.

Liga menamakan dua tim yang bertanding dengan nama-nama pemain legendaris, Shaquille O’Neal dan Charles Barkley yang bertindak sebagai manajer umum yang menyusun komposisi tim.

Pemainan kedua tim membuat para penonton amat terhibur. Irving membuka pertandingan dengan alley-oop kepada George dan rookie Minnesota Timberwolves Ricky Rubio mengoper bola di belakang punggung kepada rekannya di tim Shaq.
Secara keseluruhan Lin tidak bersinar di laga ini. Ia baru “kelihatan” di awal paruh kedua ketika memperoleh operan dari Rubio dan menyerbu ke garis pertahanan lawan sebelum melakukan reverse lay up.

Lin hanya bermain selama sembilan menit sebelum ditarik ke bangku cadangan di pertengahan paruh kedua. Selama pertandingan, pebasket jebolan Universitas Harvard itu hanya melakukan empat kali shooting.

Forward Los Angeles Clippers, Blake Griffin yang bermain untuk Tim Shaq membuat sejumlah aksi mengagumkan. Ia menangkap sejumlah alley-oop dan bahkan melempar bola ke papan sebelum menangkapnya lagi untuk membuat dunk. (net/jpnn)

Cut Dian Pilih Jadi Single Parent

Menjenguk Istri Direktur DPD Partai Demokrat Pasca Melahirkan

“Saya hanya wanita biasa. Rasa sakit dalam hati pasti ada. Namun saya nggak mau menyesali yang sudah terjadi. Semuanya adalah kehendak Allah. Rumah tangga saya memang tidak bisa dipertahankan lagi karena sudah tidak ada kejujuran dan kepercayaan diantara kami. Dalam kondisi seperti ini saya berusaha untuk tetap sabar”

Farida Noris Ritonga, Medan

Kata-kata itu, begitu saja meluncur dibibir Cut Dian Satriani (34). Tanpa ekspresi sama sekali. Namun beberapa saat kemudian, mimik wajahnya berubah. Jelas terlihat kesedihan diraut wajahnya yang lelah. Meski istri dari Direktur Eksekutif Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumut, Borkat Hasibuan ini berusaha untuk tegar atas kekisruhan yang terjadi dalam rumah tangganya.

Saat ditemui Sumut Pos, Sabtu (25/2) dikediamannya di Jalan Damar 3 No 23, Kelurahan Pulo Brayan Darat 2, Kecamatan Medan Timur, para kerabat dekat Cut Dian terlihat silih berganti datang ke rumah besar ber-cat kuning itu untuk menjenguknya. Maklum, Cut Dian baru saja melahirkan putri semata wayangnya di RSIA Rosiva Medan. Namun dalam pemulihan, Cut Dian memutuskan untuk pulang dan menjalani rawat jalan meski bekas operasi caesar itu belum juga pulih.

“Bosan di rumah sakit. Hanya dinding putih saja yang bisa saya lihat. Memang selama di sana, banyak juga kerabat yang datang menghibur dan melihat kondisi saya setelah melahirkan. Tanggal 24 Februari kemarin, saya minta rawat jalan aja. Sebenarnya saya ingin segera bekerja lagi. Jenuh kalau terlalu lama di rumah. Tapi ibu mengharuskan saya supaya selama 40 hari tetap di rumah untuk pemulihan,” terangnya.

Pada 21 Februari lalu, dengan menjalani operasi caesar, Cut Dian telah melahirkan bayi perempuan dengan berat 3,55 kg dan panjang 49 cm yang diberi nama “Dian Cahaya Salsabila” yang berarti Cahaya mata a air di surga yang merupakan sumber kehidupan. Nama itu dipilihnya karena memiliki makna serta segudang harapan untuk putrinya kelak.

“Nama itu diambil dari nama awal saya yaitu Dian. Saya ingin nantinya anak saya bisa tegar seperti saya. Sedangkan kata Cahaya diambil dari nama opung karena saya sangat menyayangi beliau dan Salsabila berarti mata air surga. Kondisinya sehat-sehat aja, tadi saya baru saja menyusukan dia, setelah itu menidurkannya,” ujarnya lagi.

Setelah melahirkan, pada 21 Februari sore, Borkat Hasibuan pernah menjenguknya. Ditemani tiga orang temannya, sang suami melihat putri semata wayang mereka. “Sorenya setelah saya operasi, dia datang. Saya nggak melarang, karena itu juga darah dagingnya. Meski kedatangannya hanya untuk melihat bayi kami, itu tidak menjadi masalah. Hanya satu jam dia dirumah sakit, kita juga nggak banyak bicara, setelah itu, dia pergi,” jelas Cut.

April 2012 mendatang, kata Cut Dian, genap 6 tahun pernikahan mereka. “Lima tahun lalu, rumah tangga kami aman-aman saja. Nggak pernah terjadi cekcok. Seperti biasa dia juga pulang kerumah meski pulangnya larut malam. Saya nggak pernah mempermasalahkan. Walaupun dia hampir tidak pernah punya waktu untuk saya, nggak pernah saya protes. Karena dulunya saya sangat percaya dia. Tapi belakangan ini, puncaknya Mei 2011 lalu, rumah tangga kami mulai goyang. Sekali curiga saya mencari kebenarannya,” ungkap Cut Dian berusaha kembali mengingat kejadian itu.

Sejak itu, tambahnya lagi, perhatian sang suami terhadap dirinya sudah hilang. Bahkan Borkat yang disebut-sebut selingkuh dengan Megalia Agustina, anggota Fraksi Demokrat DPRD Sumut itu tidak pernah menelponnya selama diluar. Perubahan itu sangat jelas terasa. Karena sudah tidak adanya kejujuran dan kepercayaan, mereka putuskan untuk pisah ranjang. Sejak 5 Februari 2012, Borkat tidak pernah menginjakkan kaki kerumah itu lagi, meski pada saat itu, Cut Dian sedang hamil tua.

“Kecurigaan saya terbukti. Ternyata dia selingkuh dengan wanita lain. Saya pernah menggugat cerai dia, tapi karena kehamilan saya sudah waktunya, maka gugatan itu ditarik kembali. Nantinya setelah proses penyembuhan, dia akan saya gugat cerai lagi. Didalam rumah tangga harusnya ada sakinah, mawaddah, warrahmah. Tapi kalau salah satunya tidak ada, sebaiknya hubungan itu tidak usah diteruskan. Karena akan menyakiti salah satu pihak,” tegas Cut Dian.

Saat ini, dirinya hanya menunggu proses dari DPRD Sumut atas aduannya. “Saya ini juga wakil rakyat. Saya mengadu kepada anggota dewan yang menjadi wakil saya. Kita akan tunggu bagaimana kelanjutannya. Saya ingin pengaduan saya ke DPRD Sumut beberapa waktu lalu diproses sesuai janji mereka,” harapnya lagi.

Kini, menjadi “single parent” adalah pilihan satu-satunya bagi Cut Dian dalam merawat dan membesarkan putrinya. Baginya tidak ada yang perlu disesali atas keretakan rumah tangga mereka. Semua ketentuan sudah digaris tangankan oleh Allah. Tidak ada yang bisa menolak takdir dari-Nya termasuk jodoh.
“Mungkin kami memang nggak jodoh. Saya nggak mau larut dalam kesedihan. Single parent dalam membesarkan anak bukan berarti kegagalan. Itu semua tergantung didikan orangtua. Saya hanya berharap, anak saya menjadi putri yang berbakti dan selalu menyayangi saya,” bebernya mengakhiri pembicaraan siang itu. (*)

Kaget Dicubit, Dicakar, dan Dijewer Penggemar

Arief “Poconggg” Muhammad yang Menangguk Sukses via Twitter

Tak pernah ingin jadi orang terkenal, sampai kini Arief Muhammad mengaku masih sering malu menghadapi fanatisme fans. Sekarang dia mengelola website anak muda dan tengah menyiapkan buku kedua.  

REZEKI ternyata bisa datang dari kejadian yang tak diinginkan. Arief “Poconggg” Muhammad adalah contoh terbaik untuk itu. Berawal dari terbongkarnya identitas sebenarnya si pemilik akun @poconggg itu di Twitter yang membuatnya sampai harus menenangkan diri selama dua hari, kocek pemuda 21 tahun tersebut kebanjiran dan popularitasnya juga meroket.

“Padahal, aku sama sekali nggak pengin terkenal. Tapi, mau nggak mau, telanjur nyemplung, mau gimana lagi,” kata anak muda kelahiran 26 Oktober 1990 tersebut.

Anda yang pada September 2011 sudah aktif di Twitter mungkin masih ingat, insiden terkuaknya identitas @poconggg tersebut langsung menjadi trending topic. Juga, di luar dugaan Arief sendiri, sejak saat itu pula jalannya menuju popularitas yang mendatangkan uang pun terbuka lebar.
Tawaran menjadi pembicara di berbagai acara deras berdatangan. Bukunya yang berjudul Pocong Juga Poconggg laris manis di pasaran, bahkan sampai sekarang sudah menembus cetakan kesepuluh.

Buku karya mahasiswa semester VII Fakultas Hukum Universitas Trisakti tersebut lantas juga diangkat ke layar lebar dengan tajuk sama. Hasilnya? “Dikasih tahu, katanya film itu jadi box office nomor tiga untuk 2011,” tutur Arief.

Padahal, mayoritas pemeran di film besutan Chiska Doppert yang dirilis pada 24 November 2011 itu adalah bintang-bintang baru. Artinya, pesona si pocong dunia maya alias Arief-lah yang menjadi magnet bagi penonton.

Arief pun akhirnya kewalahan menghadapi berbagai tawaran yang bertubi-tubi datang tersebut. Sahabat penulis Raditya Dika itu pun terpaksa menggunakan jasa seorang manajer untuk turut meng-handle jadwal dan kegiatannya.

“Tapi, bukan manajer yang gimana gitu. Karena aku dekat sama Radit (Raditya Dika), aku minta tolong ke dia untuk bantuin cari orang yang bisa ngurusin semuanya. Aku dapat manajer sebulan setelah ketahuan,” jelasnya.

Arief bukanlah satu-satunya sosok yang mengalami transformasi besar dalam kehidupannya gara-gara Twitter: from nobody to somebody. Dari sosok orang kebanyakan mendadak menjadi pesohor dengan banyak penggemar dan tentu juga uang.

Maklum, sebagaimana dilansir Semiocast, sebuah lembaga riset media sosial yang bermarkas di Paris, Perancis, baru-baru ini, jumlah pengguna Twitter di Indonesia merupakan yang terbesar kelima di dunia dengan total 19,5 juta pengguna. Indonesia hanya kalah oleh Amerika Serikat (107,7 juta pengguna), Brazil (33,3 juta), Jepang (29,9 juta), dan Inggris Raya (23,8 juta). Sementara untuk Facebook, Indonesia bahkan berada di peringkat ketiga.
Pengguna Twitter di Indonesia juga dikenal sangat aktif. Bahasa Indonesia pun merupakan bahasa yang paling banyak digunakan dalam “berkicau” di Twitter, yang dibatasi sebanyak 140 karakter (huruf) per tweet, setelah Inggris, Jepang, Portugis, dan Spanyol.

Dengan latar belakang “kegilaan” kepada media sosial seperti itu, wajar kalau kemudian Twitter atau Facebook dengan cepat bisa mengangkat nama seseorang. Meskipun, niat awal seseorang yang mendadak jadi selebriti itu membuat akun sebenarnya hanya iseng.

Arief contohnya. Dia membuat akun @poconggg semata karena gemar membaca akun @pocongasli yang memuat sejumlah tweet kocak. “Aku seneng baca timeline @pocongasli yang lucu-lucu. Akhirnya, kepikiran bikin akun pas Agustus 2009 dengan nama poconggg. Niatnya juga buat lucu-lucuan dan iseng,” jelasnya.

Setelah dibikin, akun @poconggg tersebut tidak lantas mendapat banyak follower atau pengikut seperti sekarang. Bahkan, menurut Arief, dibutuhkan waktu setahun untuk mengumpulkan 100 ribu follower.

Namun, setahun kemudian, jumlah follower @poconggg melonjak hingga delapan kali lipat dan sekarang mencapai 1,8 juta follower. Akun tersebut pun menjadi pembicaraan hangat di dunia maya. Apalagi, topik yang diangkat si pocong kerap menjadi trending topic.
Pada hari-hari tertentu, akun @poconggg juga punya tema tersendiri.

Misalnya, pada malam Jumat, akun tersebut akan berisi cerita seram. Lalu, pada malam Minggu, @poconggg bakal memberikan nasihat cinta atau sekadar melontarkan komentar-komentar yang mengundang tawa.

Dampaknya, banyak orang yang ingin tahu siapa sebenarnya si pocong. Di sisi lain, banyak juga yang ingin memanfaatkan keingintahuan itu dengan sampai mengirim e-mail ancaman akan membocorkan jati diri Arief.

Ancaman tersebut tidak ditanggapi serius oleh Arief. Namun, akhirnya pada September 2011 identitas Arief benar-benar terbongkar, yang kemudian justru berbuah rezeki dan ketenaran.

Kini, setelah terkenal, Arief pun dipaksa siap menghadapi berbagai konsekuensi, termasuk fanatisme penggemar. Dia harus rela dicubit, dicakar, dijambak, sampai diinjak kakinya.

“Awalnya, keganggu dan kaget. Kadang ngeri juga, sih. Tapi, nggak papa, lama-lama lucu aja, lama-lama udah biasa juga. Meski, kadang masih suka malu juga,” ungkap Arief yang rutin menulis di blog pribadinya tersebut sembari tersenyum.

Proyek terbaru Arief kini adalah sebuah website anak muda bernama nyunyu.com yang dikelolanya bersama sang sahabat, Raditya Dika. Perusahaan tersebut sudah di-launching Januari lalu. ((c11/ttg/jpnn)

Pangkas Rambut Pilihan Tepat Saat Penat

Oleh: Ramadhan Batubara

Belakangan ini Medan begitu panas. Gerah. Berdebu. Kulit menjadi kering dan rambut terlalu cepat basah. Otak pun menjadi penat. Ujung-ujungnya, kepala sibuk mencari pemecahan. Dan, pemecahan yang saya pilih adalah pangkas rambut. Pasalnya, pangkas rambut   di kota ini dapat membuat orang rileks.

Ya, pukul dua siang tiga hari yang lalu, ketika matahari begitu garangnya menghajar bumi, saya mampir ke sebuah rumah toko tempat pangkas. Lokasinya di dekat Sungai Denai atau Sungai Amplas (di peta ditulis Sungai Percut). Jadi kalau dari Terminal Amplas, lurus saja hingga mencapai pertigaan Menteng. Sampai di pertigaan itu, belok kiri, ya Jalan Nawi Harahap. Nah, sebelum jembatan di jalan itu, lihat pertokoan di sisi kanan. Itulah tempat yang saya pilih.

Ruang tempat pangkas itu berbalut kaca di bagian depannya, sesaat terpikir kalau ruangan itu ber-AC. Maka, bergegas saya turun dari sepeda motor, maksudnya untuk ngadem. Kan menyenangkan pangkas dalam suasana sejuk. Sayang, begitu masuk, ternyata ruang itu hanya berfasilitas kipas angin. Ya sudahlah.

Abang tukang pangkas tersenyum dan langsung menyilakan duduk di kursi pangkas. Pemangkasan pun dimulai. Saya memilih ukuran 2 centimeter untuk rambut. Kata abang itu, 1 centimeter terlalu pendek, kesannya malah botak.

Ketam menjelajahi kepala saya. Rambut-rambut yang terpotong berjatuhan, sebagian malah mengenai wajah. Sial. Abang tukang pangkas langsung mematikan kipas angin. Beruntung, ruangan tidak begitu pengap dan panas.

Lalu, masuklah prosesi pangkas itu pada bagian yang saya suka. Abang tukang pangkas menggeser tuas kursi. Posisi saya pun jadi telentang. Abang tukang pangkas lalu menyiapkan pisau cukur.

Dalam posisi itu – yang sejatinya paling saya suka – sering membuat saya gamang. Ya, teringat film yang dibintangi Johnny Depp. Film itu berjudul Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street. Film ini mengisahkan kehidupan seorang pemangkas rambut di Era Victorian yang bernama Sweeney Todd (Johnny Depp). Ia ingin membalas dendam kepada orang-orang yang telah memenjarakannya dan memisahkannya dari istri beserta anak perempuannya. Sehingga ia menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang membunuh pelanggannya dengan menggorok leher mereka dengan pisau cukur. Pisaunya yang mahatajam begitu lincah menggorok leher pasien yang telentang seperti saya saat itu.

Si Sweeney Todd ini dibantu oleh Mrs Lovett (Helena Bonham Carter). Tapi bukan dalam membunuh, Mrs Lovett yang menjadikan daging korbannya menjadi komposisi dari kue pai yang dijual di kedai kue miliknya. Fiuh, posisi saya saat itu persis dengan korban Sweeney Todd. Telentang dan siap dicukur. Seperti korban dalam film musikal itu, saya pun pasrah saja ketika tukang cukur memainkan pisaunya di wajah saya. Ah…
Kumis telah lenyap. Kini pisau mahatajam itu berpindah ke dagu. Ah, begitu dekat pisau itu dengan urat leher saya. Saya pejamkan mata, berharap bukan Sweeney Todd yang mencukur jenggot saya.
Pencukuran selesai. Tak ada perih di wajah saya, pun leher tidak berdarah. Luar biasa. Setelah itu abang tukang pangkas mulai memijat kepala saya. Dia oleskan cairan yang mengandung mint. Dingin. Tak sampai disitu, dia pun mengompres jidat saya dengan air dingin. Nikmat.
Tuas dia geserkan, posisi saya berubah lagi menjadi duduk. Tangan abang itu mulai memijat pundak. Tak pelak, saya bertahak atau bersendawa. Angin keluar. Badan terasa ringan. Pandangan pun semakin terang.

Sumpah, pengalaman pangkas semacam ini hanya saya dapati di Sumatera Bagian Utara. Semakin nikmat – karena sering menikmati – ya di Medan. Beberapa waktu lalu saat masih tinggal di Jogja, pangkas hanya sekadar memotong rambut. Ya, sama sekali tidak ada pijatan, mint, hingga kompres air dingin. Pangkas di sana pun tak sampai lima menit. Sedangkan di Medan, seperti di pinggir Sungai Denai atau Sungai Amplas itu, bisa mencapai setengah jam lebih. Pasien benar-benar dimanjakan. Harga hanya sepuluh ribu rupiah. Fiuh…

Dengan kata lain, pijat di Medan telah mencakup potong rambut, bersihkan kumis dan janggut, seta pijat ringan pengusir penat. Tapi ya itu tadi, empat tahun tinggal di Medan dan entah sudah berapa puluh kali pangkas, tetap saja saya gamang saat kursi diluruskan hingga badan telentang. Selalu saja ada kecurigaan, apakah sang tukang pangkas bisa dipercaya. Bagaimana jika dia gila seperti Sweeney Todd. Adalah sangat gampang membunuh pasien yang pasrah bukan? Ah, tak terbayang ketika daging saya dijadikan kue seperti yang dibuat oleh Mrs Lovett. Hm, pikiran itu tampaknya harus saya buang jauh-jauh. Sudahlah, intinya pangkas telah menjadi pilihan saya ketika penat. Terkadang, ketika rambut belum panjang pun saya sering ke tempat seperti ini. Ya, hanya sekadar membersihkan janggot dan kumis yang jarang-jarang. Poinnya, yang saya incar adalah pijatan yang membuat rileks itu.
Mungkin karena itulah, selain warung jajan seperti mie Aceh dan Teh Susu Telur (TST), tukang pangkas seakan jamur di musim penghujan di kota ini. Nyaris di setiap sudut kota pasti ada tukang pangkas, baik ruang yang ber-AC hingga toko ala kadarnya di pinggir jalan yang sempit. Dan semuanya, menyiapkan pelayanan terbaik. Semuanya berlomba agar pelanggan tak lari. Kenapa tidak dinikmati? (*)

Redknapp Dukung Wenger

MENJELANG Derby London Utara, hari ini (26/2), manajer Tottenham Hotspur Harry Redknapp membela Arsene Wenger. Redknapp meminta fans Arsenal untuk tetap mendukung manajernya itu.

Arsenal tengah menuju ke tahun ketujuh puasa gelar secara berturut-turut. Sebagaian fans ‘Gudang Peluru’ telah menunjukkan ketidakpuasan dengan kinerja Wenger.

Di sisi lain pihak klub menegaskan dukungannya terhadap manajer asal Prancis itu meskipun tak jarang tuntutan agar Wenger segera keluar dari Emirates tak jarang diteriakkan.

Redknapp memperingatkan fans Arsenal untuk tidak mendesak klub memecat Wenger. Menurut dia, Wenger masih orang yang tepat untuk mengembalikan Arsenal kembali ke jalur kemenangan.

“Arsenal tidak bisa melakukan yang lebih baik daripada yang mereka sudah miliki, bisakah mereka? Mereka tidak bisa mengganti Wenger. Wenger adalah manajer kelas atas. Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di Arsenal,” ucap Redknapp di Telegraph. (bbs/jpnn)