25 C
Medan
Tuesday, January 13, 2026
Home Blog Page 13880

Ratu Udik, Sahabatnya, dan Pena dari Rendra

Oleh: Riza Multazam Luthfy

Ia berpunca dari udik. Teman-temannya meruahnya Ratu Udik. Karena memang perangainya yang kekampung-kampungan. Tampang dan tingkahnya yang lugu, tak sanggup menyembunyikan tabiat orang desa. Ditambah lagi dengan kebutaannya dalam hal teknologi. Sehingga, suara-suara sumbang kerap ditenggak. Joni dan Fiko, adalah dua di antara mereka yang mencibirnya terang-terangan. Pasalnya, semua tugas ia tunaikan dengan menulisnya di atas kertas folio. Tak terkecuali, tugas berbentuk paper ataupun makalah.

atu Udik termasuk korban. Ya, tepatnya korban ketidaktahuan. Karena ketidaktahuannya, ia mengambil jurusan sastra. Sebuah jurusan, yang dalam benaknya, kelak mengirimnya menjadi seorang guru.

“Nduk. Besok kamu jadi guru, ya. Dulu emak ngebet jadi guru, tapi gak bisa. Enam hari setelah lulus SD, bapak langsung melamar emak”.
Pesan emaknya terpacak dalam-dalam. Sehingga ia berazam menjadi pengajar sekolah di kampungnya.

Kekecewaan menyergap. Ketika menginjak semester dua, Ratu Udik baru mafhum bahwa sebenarnya, bila bercita-cita guru, maka kudu bersila pada jurusan pendidikan. Bukan sastra Jerman. Makanya, ia agak heran, mengapa di jadwal kuliah, sama sekali tidak tercium mata kuliah yang berhubungan dengan pendidikan. Dan dugaannya selama ini, bahwa setiap sarjana bisa langsung jadi guru dan mengajar di sekolah, harus lekas-lekas disingkirkan. (Barangkali persangkaannya benar, menurut konteks masa lalu. Lulus SMP saja, boleh jadi guru. Namun sekarang, sarjana pendidikan kian membludak. Mereka saja terancam tidak mendapat jatah kursi guru, apalagi jebolan non-pendidikan).

Nasi terlanjur menjelma bubur. Penyesalan harus dihapuskan. Penyesalan yang berlarat-larat hanya akan menerbitkan penderitaan. Akhirnya, Ratu Udik nekat menyambung jalan yang kadung ia tempuh.

“Maaf, Mak. Bukan bermaksud mendurhakaimu. Aku akan menapaki jalan yang terlanjur kupilih. Sesulit apapun”
Bertukas-tukas batinnya bergumam.
***
Berawal dari tugas Pak Janu, dosen Pengantar Ilmu Sastra, ia berkenalan dengan puisi. Kenal dalam arti sesungguhnya. (Karena semasih belajar di SD, jika bertemu dengan halaman yang memuat puisi, Bu Nanik langsung melewatinya). Guna menggenapi tugas Pak Dosen, Ratu Udik menggarap puisi cinta. Ya, cinta. Tema yang sangat dekat dan akrab dengan remaja.
Dari tugas itu pula, ia mulai bergaul dengan dunia maya. Tulisan tangannya tentu tak akan berfaidah. Sebab, Pak Dosen bersedia menerima kalau puisi dioper melalui email.
“Rob, nanti habis kuliah tolong ajari aku ngirim email, ya!”
Katup bibirnya menghembuskan kalam itu kepada Robet. Untungnya, mahasiswa yang baru dua hari bertukar nama dengannya itu mengekor saja.
***
Bukanlah Ratu Udik anak orang berpunya serupa teman-temannya yang lain. Jamak kali ia mengutang kepada Dewi, kalau kiriman dari emak ludes. Parahnya lagi, jika tempo pemberesan uang semester tiba. Demi sekadar memungut uang, ia rela mengasongkan kerudung dan asesoris milik Bu Atin. Juga menunggu kios pulsa di sebelah kos.

Dalam kegetiran hidup seperti itu, ia mencari tempat buat membocorkan perasaan. Dan ternyata puisi menjadi medium terbaik baginya. Saat mandi. Belajar. Melungguh di WC. Makan. Mau tidur. Bahkan ketika ngelindur pun semua syarat puisi. Tak ketinggalan pula ketika dosen berceramah.
“Daripada ngantuk. Kan lebih baik bikin puisi.”

Alasan yang kurang jitu, memang. Ketika kupingnya menangkap teguran dari dosen.
Hari-harinya, selain mengerjakan tugas kuliah, juga dipadati dengan memproduksi puisi. Dengan puisi, ia jelmakan rasa kesal pada Danu, yang kerap menyematkan permen karet di bajunya. Mendeskripsikan sebagian dosen yang minta ampun killer-nya. Juga kegalauannya tatkala menyambut tarikh penertiban utang.

Setelah puisi berhasil ditelurkan, Ratu Udik  menjemurnya di kamar kos. Makanya tak heran, bila ia selalu mengunci pintu kamar. Sebab, bila ibu kos memergoki dindingnya dijejali kertas, maka marahnya bisa tiga hari tiga malam.
Kebiasannya itu menggelinding sampai sekitar delapan bulan. Kemudian, atas saran Mbak Jeni, redaktur media kampus, ia mulai berani mempublikasikan karya. Berbekal pengetahuan mengirim email dari Robet, Ratu Udik menerbangkan puisi-puisinya ke beberapa media massa. Bahkan, tiap minggu, sembilan sampai sepuluh media massa diserang. Tentunya dengan puisi-puisi yang berbeda.

Jadwal mengirim karya ke media massa jatuh pada hari Jumat. Oleh dasar itulah, maka Kamisnya ia wajib berpuasa, agar bisa menyisihkan uang untuk online di internet.

***
Meski belum satu pun puisinya menyangkut, harapannya sukar tumbang. Perjuangan terus berlanjut. Dan ketika mengetahui bahwa para redaktur koran lebih terpikat dengan karya-karya orang lain, ia tak ambil pusing. Dalam pandangannya, menulis puisi dan mempublikasikannya merupakan keniscayaan. Sedangkan dimuatnya puisi di media massa adalah kebetulan.
Karena acapnya bertarung dengan media massa. Akhirnya pada pertengahan semester empat, beberapa puisinya termaktub di segelintir koran.
“Puisimu ada di Jabung Post, Mbak.”

Leni, adik semesternya, menenteng koran dan menunjukkannya kepada Ratu Udik.
Alamak. Meski baru termuat di koran daerah,  ia begitu bungah. Hatinya melonjak. Semangatnya bercabang-cabang. Rasa cintanya terhadap puisi kian menebal. Bahkan, sugesti yang baru terbangun yaitu apabila ia berbuat baik kepada puisi, maka puisi bakal membalas kebaikannya.
Atas dasar itulah, ia berhasrat mengangkat puisi sebagai sahabat.

***
“Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha bi almahri almadzkuur”

Pernikahan kedua mempelai berjalan lancar. Selain mahar berupa cincin emas dan uang 6.000.000 rupiah, Robet juga mempersembahkan selembar kertas yang bertuliskan puisi. Ratih menatap lama dan mengeja puisi tersebut. Ia terhenyak lantas tertegun, sebab puisi itu sangat mirip, bahkan kembar, dengan puisi yang diciptanya tujuh tahun silam. Usut punya usut, ternyata Robet mengarsip karya pertama mantan Ratu Udik itu. Ia berkisah, bahwa sebelum melayangkan email ke alamat Pak Janu, terlebih dahulu ia menyimpannya ke dalam flashdisk. Ia menggembala puisi Ratih sebagaimana ia menggembala perasaannya. Dalam ingatan, masih terrekam jelas bagaimana ia harus bersitegang dengan satpam. Ia hampir diusir. Sebab, saban malam pembacaan puisinya kerap membangunkan pak RT.

Sebulan seusai mengikat janji dengan Robet, Ratih dipercaya menjadi dosen sebuah kampus ternama di Malang. Sesungguhnya, kualifikasi akademiknya kurang memenuhi syarat. Akan tetapi, karena kredibilitasnya sebagai penyair sudah diakui. Terlebih, kualitasnya dalam berkarya begitu mumpuni. Maka ia pun dipinang sebagai tenaga pendidik di kampus. Ia diminta mengampu beberapa mata kuliah. Walakin, kepalanya menggeleng. Demi memelihara kualitas karya, ia hanya bersedia menggepit mata kuliah Sastra Indonesia.

Karena track-record-nya bagus, berulang kali Pak Rektor hendak mengangkatnya sebagai dekan fakultas sastra sekaligus mengantongi SK PNS. Namun, perempuan berjanggut pedang itu menangkis. Baginya, hal tersebut bakal memangkas waktunya dalam berkarya.
***

Hari berebut senja. Aroma obat-obatan berseliweran memadati ruangan.

Di sebelah kanannya, berdiri sang buah hati, suami, bapak, dan emak. Sedang di sebelah kiri ada sejumlah sanak famili dan tetangga.
Dari ke sekian pengunjung, Robet tampak paling tegang. Gerahamnya mengait. Betisnya menggigil. Dan pandangannya menerawang. Dalam situasi darurat seperti itu, ia agak menyesal, kenapa dulu Ratih menolak tawaran Pak Rektor. Jika bersedia, pastilah gajinya akan membantu meringankan biaya operasi. Biaya yang sukar ditanggung oleh lelaki yang cuma guru swasta. Mana penjualan bukunya seret. Siapa pula yang sudi membeli buku puisi, selain kalangan sastrawan sendiri. Belum lagi, puisi-puisi Ratih kian nyenyai nangkring di koran. Tak semisal masa emasnya dulu. Sebulan bisa nongkrong tujuh kali. Ya, maklumlah. Para redaktur mulai melirik penulis muda, yang jumlahnya seabrek. Dan pastilah mereka juga memerlukan eksistensi dan pengakuan.

Tujuh orang dokter bersiap-siap mengoperasi penyakit Ratih. Kanker yang hinggap di payudaranya selama setahun terakhir itu sudah saatnya dihabisi. Berada di atas ranjang, wajah Ratih amat tenang. Sepi dari kegelisahan. Giginya juga terbentang, menandakan tak ada secuilpun kesedihan. Padahal semua orang yang bersua di selingkarnya cukuplah cemas.
Sejurus kemudian, sebiji pena berkelebat dalam pikirannya. Ya, pena. Hanya pena. Bukan nasibnya yang gawat dan tinggal menunggu keajaiban. Pena yang diperoleh dari penyair besar Yogyakarta itu berloncatan dalam otak Ratih.
“Mas, tolong ambilkan pena keperekan yang ada di lemari.”

Ahai. Siapa yang mengira bahwa dalam kondisi genting demikian, Ratih malah ingin bermain  imajinasi. Siapa juga yang menduga kalau pena lusuh itu hendak dipakai memahat puisi. Padahal, dokter menyarankan untuk beristirahat total. Apalagi, karena sebentar lagi dioperasi, maka segala aktifitas, baik yang berhubungan dengan fisik maupun pikiran, harus dikucilkan.

Awalnya, Robet melarang. Ia amat kawatir dengan keadaan istrinya. Akan tetapi, karena keinginan Ratih urung dibendung, maka dibiarkan istrinya itu melancarkan hobinya; Mendekap dan memeluk erat sahabat. Ya, puisi adalah sahabat yang begitu lekat dan dekat dengan kehidupannya.

Jemari kanannya menari-nari di atas kertas. Tujuh bait dihasilkan. Sampai sini, tak ada sesuatu yang mencengangkan. Tiada hal yang istimewa. Semua berjalan biasa saja. Namun, selepas pena bergerak-gerak sepuluh menit. Tiba-tiba alat tulis itu menyembulkan cahaya. Merah. Ah, bukan. Sahihnya merah bercampur kuning. Semua mata terpaku. Segala yang hadir terpukau. Kepala mereka geleng-geleng, mengisyaratkan keheranan. Bagai amuba, cahaya tersebut terbelah, berganda, dan melahirkan rona lain; Biru, hijau, dan ungu. Usai menampilkan keindahan yang tiada tara, cahaya itu lekas menjalar ke tulang Ratih. Sehingga muka dan serata tubuhnya menjadi terang seperti neon yang baru saja dinyalakan.

Dan, wow. Mengetahui kondisi terbarunya, Pak Heru, kepala tim operasi, mengatakan bahwa operasi dibatalkan. Penyakit Ratih lenyap entah ke mana.

Yogyakarta, 2011
Catatan:
Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha bi almahri almadzkuur = Akad yang diucapkan oleh pihak suami ketika menikah.

Hercules AU Siap Operasi

Selesai dalam Perawatan Amerika Serikat

JAKARTA – Satu setengah tahun lamanya pesawat Hercules C-130 B milik TNI AU harus “dirawat” di Amerika Serikat. Pesawat angkut andalan itu mondok di ARINC Aerospace Oklahoma untuk menjalani perbaikan di semua sisinya.

“Hitung-hitungannya ini perawatan tingkat berat,” ujar Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus  kemarin.  Pesawat bersandi udara (call sign) A-1323 itu kini telah keluar bengkel dan kembali ke Indonesia. “Pesawat sudah siap operasi lagi per hari ini (kemarin),” ujarnya.
Saat ini Hercules A-1323 berada di home basenya, Skuadron 31 Lanud Halim Perdanakusumah. “Pesawat ini bisa air to air refueling,” katanya. Yang dimaksud adalah pengisian bahan bakar ke pesawat lain yang sedang terbang di udara.

Hercules terbang mendekat pesawat yang kehabisan avtur itu dalam jarak aman, lalu, melalui pipa khusus bahan bakar ditambahkan. “Harus dilakukan dalam perhitungan yang presisi dan cuaca yang bagus,” kata Azman.

Perawatan pesawat ini gratis sebagai bagian dari kerjasama Program Depot Maintenance (PDM) sebagai kerjasama antara Indonesia dan  Amerika Serikat.
Pesawat C-130 B A-1323 kembali ke Indonesia dengan menempuh waktu penerbangan selama 35.40  jam melalui rute Will Roger (Air Force Base) AFB Oklahoma, Travis AFB California, Hikam AFB Honolulu, Bachkolz Army Base, Lanud Biak, Lanud Iswahjudi dan mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma Jumat (24/02) lalu.

Pesawat A-1323 diawaki oleh Komandan Skadron 31 Letkol Pnb. Eko Sujatmiko bersama tujuh belas awak pesawat dari Skadron Udara 31 serta didampingi oleh empat orang tenaga mekanik dari ARINC Aerospace. “Pesawat ini sudah memperkuat TNI AU sejak Maret 1984, sekarang siap terbang lagi dengan kekuatan baru,” tutupnya.(rdl/ttg/jpnn)

Serasa di Jepang Bersama AKB48

JAKARTA – Indonesia memiliki tempat spesial bagi pemerintah Jepang. Saat memperingati satu tahun bencana tsunami yang terjadi di Jepang, Kedutaan Besar Jepang dan Japan Foundation serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengadakan Japan Pop Culture Festival 2012.

Dalam festival yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta Selatan, tadi malam, mereka menampilkan kolaborasi idol group terpopuler di Jepang. Yakni, AKB48 dan sister grup mereka, JKT48. Grup yang memiliki rekor dunia dengan personel terbanyak, yakni 48 orang, itu tidak datang full team. Mereka diwakili 14 orang. Beberapa personel yang mengikuti konferensi pers, antara lain, Takahashi Minami yang menjadi juru bicara, Miyazawa Sae, dan Maeda Ami. “Terima kasih sudah hadir di sini. Makasih sudah mengundang kami datang ke Jakarta untuk menunjukkan bagusnya kebudayaan Jepang. Kami datang sebagai duta Jepang dan berharap bisa mempererat persahabatan antara Jepang dan Indonesia,” kata Minami.

Grup yang populer dengan lagu Heavy Rotation itu baru kali pertama berkolaborasi dengan JKT48. JKT48 sendiri merupakan sister group pertama AKB48 di luar negeri. “Ya, ini kolaborasi pertama kami,” tambah Minami.

Dalam kolaborasi tadi malam, AKB48 dan JKT48 menyanyikan hits Heavy Rotation dan Aittakata.

AKB48 saat ini memang tengah digemari bukan hanya di Jepang, tapi juga di negara-negara lain seperti New York, Los Angeles, Paris, Moskow, Taiwan, dan Korea. (jpnn)

Empat Warga Kisaran Terjaring

Polisi Gelar Razia Senpi di Perbatasan Aceh-Sumut

BANDA ACEH-Dalam rangka mengantisipasi masuknya senjata api (senpi), melalui jalur sungai Tamiang dan jalur laut, serta meningkatkan pengamanan menjelang pemilukada Aceh, petugas semakin gencar melaksanakan razia.

Pada gelaran kegiatan Sabtu (256/2) dinihari pukul 00.30 WIB, Polres Aceh Tamiang bersama TNI mencegat beberapa kenderaan di Desa Tualang, kecamatan seruway, Kabupaten Aceh Tamiang.  Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Utara dan negeri jiran Malaysia.
Dalam razia tersebut, berhasil menangkap  empat orang pria yang mencurigakan masuk ke Aceh Tamiang tanpa dilengkapi identitas. Ketika diintrogasi, mereka mengaku berasal dari Kisaran, Kabupaten Asahan  Sumatera Utara.

Selanjutnya menggeledah seluruh barang bawaan mereka. Meski tidak menemukan senpi, namun keempat warga tersebut diamankan di Mapolsek Seruway. Dalam pengakuannya menyebut hendak hendak berjualan kain di Aceh Tamiang.

Berkaitan dengan razia tersebut, Kapolres Aceh Tamiang AKBP Armia Fahmi kepada Koran ini kemarin mengatakan bahwa razia tersebut dilakukan dalam rangka mengantisipasi masuknya senpi ke Aceh melalui jalur laut dan sungai Tamiang menjelang Pemilukada Aceh yang sebentar lagi dihelat.(jpnn)

GPIB Kembangkan Program CD

Konven Pendeta dan PST 2012 Ditutup

Konven Pendeta dan Persidangan Sinode Tahunan GPIB tahun 2012 ditutup. Peserta dan panitia yang bekerja keras sejak Selasa (21/2), akhirnya bisa tersenyum puas karena kegiatan tahunan GPIB tersebut berlangsung sukses.

Pada pembahasan program kerja siang kemarin, Sabtu (25/2), sidang PST telah menyelesaikan evaluasi dan penyusunan program kerja Komisi Teologi dan Komisi Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes). Sedangkan empat seksi lain dibahas pada sesi siang hingga sore.

“Secara umum, PST menerima hasil evaluasi Komisi Teologi dan Pelkes dengan berbagai catatan. Sidang juga menerima program kerja 2012-2013 kedua komisi ini,” papar Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Sinode (MS) GPIB, Pdt Adriaan Pitoy STh MMin, saat break PST, kemarin.
Evaluasi dan pembahasan program kerja di dua komisi ini memakan waktu terbilang lama. Itu karena dua komisi tersebut memiliki peran sentral dalam pelayanan jemaat ke depan, tanpa mengurangi makna peran komisi lain.

Program kerja kedua komsi ini terkait program kerja Unit Pembinaan dan Pelayanan Masyarakat (UP2M). “Kita akan bermita dengan masyarakat, swasta dan pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seperti program community developmen (CD) dari GPIB lah,” ujar Pdt Pitoy menjelaskan.
Program CD GPIB ini akan dilaksanakan di tiap-tiap daerah di seluruh Indonesia. Tidak hanya jemaat GPIB, program ini akan menyentuh siapa saja yang dipandang pantas menerima. Lantas dari mana dananya?

Ditegaskan Pdt Pitoy, gereja bukanlah organisasi profit yang bisa menyisihkan keuntungan untuk program community development. Nantinya, dana untuk UP2M berasal dari sumbangan jemaat yang mampu dan sumbangan-sumbangan lain yang tidak mengikat. “Jumlahnya lumayan besar. Tadi dibahas, saya lupa nilai totalnya,” kata Pdt Pitoy lagi.

Khusus Komisi Teologi, PST menekankan program kerja untuk menguatkan wawasan da lam rangka peningkatan kontribusi untuk mas yarakat di sekitar jemaat, dimanapun berada.

Keseluruhan hasil pembahasan dalam PST ini nantinya akan dibukukan dan menjadi Program Kerja dan Anggaran 2012-2013. Selanjutnya, Konven Pendeta dan PST 2013 akan dilaksanakan di Kota Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.
Usai PST, sejumlah peserta dari kalangan pendeta akan menerima pembekalan. “Hanya untuk penguatan dan pencerahan bagi pelayan,” ujar Sekum MS GPIB ini.

Secara umum, Konven Pendeta dan PST GPIB Tahun 2012 ini dinilai sukses. Untuk itu, panitia secara khusus mengucapkan terimakasi kepada peserta Konven dan PST 2012, Muspida Puls di Medan dan Sumatera Utara, dan kepada masyarakat. “Kami berharap Kota Medan dan Sumatera Utara makin dicintai masyarakat Indonesia, utamanya dalam pengembangan industri pariwisata,” pungkas Pdt Pitoy. (tms)

Anak Terlantar di Yapeka Butuh Perhatian

Pdt Ruben Esron Purba MTh didampingi oleh Pdt Lastiur boru Pasaribu tidak lelah dalam membina dan merawat kehidupan anak-anak terlantar di Panti Asuhan Yayasan Pelita Kasih (Yapeka) di Kota Medan.

Panti asuhan yang dibangun sederhana ini masih dalam tahap pembangunan dan bersebelahan dengan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Jemaat Rekhab yang berada di Jalan Sempurna Ujung No 50 Cinta Damai, Kampung Lalang, Medan.

Kehidupan anak-anak yang berada di Panti Asuhan Yapeka cukup memprihatinkan. Mereka hidup dalam fasilitas kehidupan yang cukup miris. Anak-anak tersebut sehari-hari tidur beralaskan tikar dan makan dengan ala kadarnya.

Menurut Pimpinan Panti Asuhan Yapeka : Pdt Ruben Esron Purba, MTh, kondisi tersebut menyebabkan anak-anak kurang nyaman dalam hidup. Bahkan banyak diantara anak-anak yang menderita sakit dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya sudah banyak pihak yang ingin membantu pembangunan Panti Asuhan tersebut beserta fasilitasnya namun sampai kini belum ada yang terwujud.

“Kita doakan agar di tahun 2012 ini anak-anak dapat hidup dengan tenang dan nyaman dalam kehidupan masa depannya, ujar Gembala GBIS Jemaat Rekhab ini.

Disesalkan Pdt Ruben Esron Purba, MTh kurangnya kepedulian Pemerintah Kota Medan pada anak-anak terlantar yang telah dikumpulkan dalam rumah panti asuhan di kota Medan. Untuk itu bagi pihak-pihak yang memiliki kepedulian pada anak-anak tersebut dapat memberikan saran dan informasi untuk mendukung pelayanan Panti Asuhan Yapeka, Medan dengan menghubungi Pdt Ruben Esron Purba, MTh dan Pdt Lastiur boru Pasaribu di nomor 081361149205. (*/rs)

Menanti Juara Baru DBL

MEDAN-Perhelatan Honda DBL North Sumatera Series 2012 memasuki puncak.Laga final yang mempertemukan Methodist 2 kontra Sutomo 1 pada kelompok putra dan SMAN 5 Medan versus Wahidin di kelompok putri akan menjadi puncak dari even basket pelajar terbesar di Indonesia ini. Sejak memulai cerita Sabtu (18/2) lalu, GOR Samudera Sport Club menjadi saksi drama-drama yang terjadi Kompilasi emosi menghinggapi seluruh peserta yang berlaga.

Tawa riang tim yang memastikan tiket final, tangis dari peserta yang harus mengakhiri kiprahnya lebih awal, kehebohan ala suporter mendukung timnya berlaga dan beragam rasa lainnya yang dikemas dalam 24 laga yang dihelat.
Kejutan juga tak pernah absen dari arena laga. Lihat saja bagaimana juara bertahan putri, Sutomo 1 harus tumbang dari SMKN 7 yang baru perdana ikut DBL.

Dua free throw saat overtime yang menentukan langkah tim putri SMAN 5 untuk kali perdana. Santo Thomas 1 yang menjelma menjadi kekuatan baru dengan kemampuannya menembus semifinal Pulangnya SMKN 1 Percut Sei Tuan karena pemain ilegal dan banyak kejutan lainnya yang terjadi.

Satu kesimpulan dari tiga kali penyelenggaraan DBL di Medan, tak ada tim yang mampu mempertahankan gelar juaranya di tahun berikutnya. Sekedar kilas balik, juara tahun 2010 putra, Methodist Binjai harus merelakan gelarnya ke tangan Wahidin di tahun berikutnya. Tim besutan Hidayat Natasasmita itu akhirnya tumbang di semifinal tahun ini lewat Sutomo 1. Begitu juga di kelompok putri, Methodist 2 yang menjadi kampiun di 2010 tak menyentuh final di tahun berikutnya. Jejak itu diikuti Sutomo 1 tahun ini.

Ini menandakan DBL selalu menyajikan pertarungan yang kompetitif.  Peta kekuatan berubah setiap tahun. “Tidak ada yang bisa memprediksi kekuatan tim di DBL setiap tahun. Siapapun bisa saja menjuarai DBL. Saya pikir DBL itu bagus bagi pelajar untuk meraih prestasi,” ujar Manajer Sutomo 1, Handy Suwandi.

Regenerasi menjadi faktor penting jika ingin mempertahankan prestasi pada turnamen yang tidak diperbolehkan untuk siswa kelas XII ini.  “Seperti kami Wahidin yang sekarang banyak diisi siswa kelas X. Meski tahun ini gagal, tapi kami masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri agar bisa lebih baik di tahun berikutnya,” ujar Pelatih Wahidin, Hidayat Natasasmita.

Tentunya seisi GOR Samudera Sport Club akan menjadi saksi sejarah baru terukir tahun ini. Mari berharap-harap cemas menantikan juara baru DBL. Sutomo 1 atau Methodist 2 dan Wahidin atau SMAN 5 yang akan tersenyum paling akhir. (mag-18)

AKBP Apriyanto Positif Narkoba

MEDAN-Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Apriyanto Basuki Rahmat dinyatakan positif mengonsumsi narkoba setelah melakukan tes urine. Urine mantan Wakil Direktur (Wadir) Reserse Narkoba Kepolisisan Daerah Sumataera Utara (Poldasu) yang dikenal sebagai polisi rumahan oleh pengusaha dan pengelola hiburan malam itu mengandung narkotika tingkat tiga.

“Ya, itu hasil pemeriksaan urine AKBP ABR. Flunitrazepam itu juga terdapat dalam pil Happy Five. Sementara hasilnya demikian, nanti kita dalami lagi,” terang Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Raden Heru Prakoso, kemarin.
Hasil tes urin milik AKBP Apriyanto yang tertuang dalam surat laboratorium nomor : 864/NMF/2012, tertanggal 22 Februari 2012, hasilnya positif mengandung jenis Flunitrazepam yang terdapat dalam golongan III nomor urut IV lampiran UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

Sebelumnya, apa yang menimpa AKBP Apriyanto sempat disangsikan oleh beberapa kalangan pengusaha dan pengelola tempat hiburan malam. Setidaknya hal ini diungkapkan salah seorang yang berkecimpung di bisnis hiburan malam yang dihubungi Sumut Pos. Dan sebutan orang rumahan untuk sang wadir juga dibenarkannya.

Menurut pria keturunan yang namanya tak ingin dipublikasikan itu, selama ia berkecimpung di dunia hiburan malam, baru kali ini pejabat polisi yang dikenalnya sebagai orang rumahan. Diakuinya, pernah ia sekali bergabung dengan Apriyanto saat karoke. Apriyanto dilihatnya berbeda. “Wa lihat dia beda. Gak suka minum. Apalagi narkoba. Saya yakin dia tidak. Kalau nyanyi kerjanya cuma makani snack,” terangnya.

Tapi, nasi telah jadi bubur. Dengan keluarnya hasil tes urine menjelaskan mantan Wadir Narkoba tersebut postif mengonsumsi narkoba. AKBP Apriyatno dicopot dari jabatannya setelah menikmati pil Happy Five bersama seorang perempuan bernama Sri Agustina di D’core Paramount Jalan Merak Jingga Medan, Sabtu (12/2) lalu. Saat itu ada razia di tempat hiburan tersebut. Selain AKBP Apriyatno, Jhonson Jingga sang pemilik D’Core dan kapten D’Core Ade Hendrawan juga tersangkut. Dan tidak ketinggalan, sang perempuan yang menjadi teman AKBP Apriyatno, Sir Agustina.

Istri AKBP Apriyatno, Rina Wandini, sempat membantah dan merasa suaminya difitnah terkait hal itu. Bahkan, Rina menerangkan, suaminya Apriyanto malam itu hendak menukar mata uang Bath (mata uang Thailand) untuk dirupiahkan sebanyak Rp10 juta. “Karena suami saya mau ke Bangkok mewakili BNN dalam acara seminar narkoba. Jadi suami saya meminta tolong Jhonson Jingga,” kata Rina Rabu (22/2) sore lalu.

Selain itu, Rina menerangkan kalau suaminya sudah meninggalkan D’Core sebelum razia berlangsung bersama perempuan bernama Wina hingga kini masih dalam pencarian. “Suami saya banyak kenalan. Jadi, suami saya jam 21.00 WIB keluar rumah dan pulang dari D’cure Paramount pukul 23.30 WIB,” kata Rina.

Atas pernyataan itulah kini pihak Poldasu akan memeriksa Rina. Setidaknya hal ini diungkapkan Dir Narkoba Kombes Pol Andjar Dewanto. Pemeriksaan untuk mengkonfrontir keterangan saksi-saksi dan tersangka. Andjar yang dihubungi melalui telepon seluler mengatakan hari ini Sabtu (25/2) akan pemeriksaaan terhadap Rina digelar. “Sabtu akan kita periksa. Kalau ditunda nanti kalian yang sibuk nanyain,” kata Andjar

Siap Ikuti Proses Penyidikan Sementara itu, setelah beberapa hari tak bisa ditemui dan dihubungi, AKBP Apriyanto akhirnya mau ditemui wartawan dan angkat bicara. Didampingi kuasa hukumnya, Marudut Simanjuntak, kepada sejumlah wartawan media cetak dan elektronik mengaku akan mengikuti proses penyidikkan.

Perwira pangkat melati dua ini berharap agar penyidik benar-benar adil dalam memproses kasus yang kini tengah dihadapinya. “Saya sudah siap, semuanya saya serahkan  kepada penyidik dan pimpinan untuk memprosesnya,” kata AKBP Apriyanto.

Namun, Apriyanto mengaku heran lamanya hasil tes urinenya keluar. Padahal menurut pria rumahan ini, tes urine satu hari bisa. “Saya tes urine tanggal 15 lalu kira-kira jam 10 lewat. Satu hari harusnya sudah keluar hasil tesnya berarti tanggal 16 harusnya saya  sudah  diterima,” kata Apriyanto.

Atas lambatnya keluar hasil tes. Apriyanto mengaku  tanggal 17, ia pun menghadap  Wakapolda Sumut. Untuk menanyakan kasusnya. Di saat itu, Apriyanto mengaku sempat mendengar keterangan Kalabfor, Kombes Pol Chomsi kepada Wakapolda yang menanyakan hasil tes urinenya. Dari dari pembicaraan itu, Apriyanto mengaku mendengar kalau Kalabfor  menyatakan jika tes urinenya negatif.

Atas keterangan negatif Itu, menurut Apriyanto, Wakapolda sempat mengatakan kepada dirinya untuk tes darah saja. “Jangankan tes darah Jenderal, tes rambut saya juga siap,” jawab Apriyanto.

Kini, Apriyanto merasa aneh. Apa yang didengarnya ternyata berbeda dengan yang dipaparkan Kombes Pol Raden Heru Prakoso yang mengatakan kalau hasil tes urine Apriyanto terbukti mengandung zat yang termasuk narkotika golongan tiga. (mag-5)

Lihat Penyeludupan Narkoba, Tengah Malamlah…

Menyusuri Pintu Masuk Narkoba dan Barang Ilegal Lainnya di Sumatera Utara (4/Habis)

Jelang maghrib Kwala Besar makin ramai. Beberapa nelayan pulang dari laut. Sumut Pos dan rombongan memilih meninggalkan kampung itu. Bang Mail berpesan agar rombongan membuka mata lebar-lebar sepanjang perjalanan menuju pulang, siapa tahu dapat melihat langsung transaksi para penyeludup.

Dua ekor ikan tenggiri berukuran 3 kilogram telah kami kuasai. Beberapa lembar uang pun berpindah tangan ke toke ikan yang dermaga kayunya tempat perahu kami bersandar. Satu per satu rombongan mulai memenhui perahu. Perjalanan dimulai lagi.

Meninggalkan Kwala Besar berarti penyusuran kami akan selesai Setelah perkampungan ini, kami akan menjumpai kawasan Karang Gading Kabupaten Langkat, setelah itu tak ada lagi perkampungan besar lain hingga tiba di Parit Belang, Telaga Tujuh, Kabupaten Deliserdang.

Maghrib berganti gelap dan kami mulai menikmati lagi bising suara mesin perahu yang dikemudikan Bang Ful. Lepas Kwala Besar, jalur air mulai menyempit. Rapat hutan bakau di kiri kanan bak marka jalan di daratan sana. Seandainya tak ada hutan bakau itu, bisa dipastikan sulit menentukan arah. Benar-benar gelap. Dan, kami akan berada di atas perahu sedikitnya dua jam.

Beruntung, Bang Ful cukup kenal kawasan itu. Beberapa keramba ikan terlewati, sama sekali tidak tersenggol perahu. Padahal, Sumut Pos yang duduk di barisan depan sama sekali tidak bisa melihat tonggak-tonggak kayu keramba yang kadang samapi ke tengah sungai.

Beberapa nelayan dengan perahu dayung masih terlihat. Mereka memakai lampu sekadarnya. Nelayan yang menggunakan perahu motor pun beberapa kali melintas. Sekali lagi, beruntung Bang Ful lihai, bukan tidak mungkin perahu kami bertabrakan bukan?

Setelah jauh meninggalkan Kwala Besar, perahu nelayan mulai jarang. Sumut Pos hanya bisa menikmati suara mesin yang membahana. Tanpa kata.

Tapi, entah karena terlalu memperhatikan sesuatu yang mencurigakan, Sumut Pos melihat dua perahu nelayan parkir di pinggir hutan bakau. Tak ada suara mesin perahu mereka. Masing-masing perahu terdiri atas dua orang. Nah, keempat orang itu sibuk memindahkan barang. Sayang, suasana begitu gelap. Sumut Pos hanya bisa melihat gerakan mereka; seperti bayangan. Mau berteriak kepada Wak Ngah dan Pak Awang untuk mencari tahu apa yang dilakukan dua perahu itu adalah tidak mungkin. Pun, untuk melihat Bang Ful tersenyum juga tidak bisa. Semua gelap.

Tiba-tiba Bang Ful belok kiri, dia memasuki paluh kecil. Ya, seperti jalan pintas. Nah, di kawasan ini, seperti di Paluh Makna, hutan bakau bercampur dengan pohon nipah serta kelapa sawit. Pohon bakau dan nipah di barisan depan dan sawit di barisan berikutnya. Bayangan pohon kelapa sawit jelas terlihat, runcing-runcing dan memanjang, sangat berbeda dengan pohon nipah dan bakau. Sumut Pos memperhatikan Bang ful yang bergerak-gerak, seperti menunjuk-nunjuk. Sumut Pos berusaha paham, pasti ini salah satu kawasan tempat penyeludup menghindar alias bersembunyi jika ada razia atau malah jalan pintas menuju Karang Gading yang dianggap aman.

Paluh ini lebarnya tak sampai tujuh meter, benar-benar mirip gang di kota besar. Perahu kami melaju sendiri, sayang tidak bisa cepat. Pasalnya, beberapa dahan pohon bakau dan nipah kadang masuk ke tengah paluh. Pak Awang yang duduk paling depan sibuk menyingkirkan dahan-dahan pohon itu.

Malah, beberapa kali, perahu terasa membentur sesuatu. Bukan di bagian depan, tapi di bagian dasar perahu; seperti menyeret. Tampaknya, paluh ini tidak berair dalam. Kenyataan ini seakan menegaskan kalimat Bang Mail di Kwala Besar. Ya, kapal patroli pasti tidak akan bisa melewati paluh ini. Perahu kami yang kecil – seperti perahu pasir – saja beberapa kali menyentuh dasar, bagaimana dengan kapal patroli?

Tak Lama kemudian, setelah memasuki jalur yang lebih besar, terlihat beberapa lampu rumah. Ya, sebuah perkampungan yang belakangan diketahui namanya Karang Gading. Perahu kami melaju pelan.

Kami pun memasuki perkampungan ini, tidak seperti Kwala Besar, perkampungan ini terlihat lebih banyak penghuninya. Dua sisi sungai menawarkan rumah-rumah. Tapi, kampung ini kesannya begitu sepi. Tak tampak aktivitas yang berarti. Di beberapa rumah terlihat dermaga kayu ala kadarnya. Beberapa rumah itu malah mirip dengan rumah toke ikan di Kwala Besar yang memiliki dermaga memanjang. Ada beberapa perahu yang bersandar. Dan, ada beberapa kotak ikan di sana, terbengkalai dan bertumpuk.
Tiba-tiba Bang Ful mematikan mesin perahunya.
“Tenang,cuma sampah…,” katanya.
“Inilah Karang Gading, masuk Kabupaten Langkat,” kata Wak Ngah.
“Di sini juga tempat masuk barang-barang itu?” tanya Sumut Pos.

Wak Ngah mengangguk. Tapi sekali lagi, ketika diarahkan ke narkoba, Wak Ngah tak menjawab. Sumut Pos berusaha melihat senyum Bang Ful, sayang lelaki hitam berambut gelombang itu sibuk menyingkirkan sampah. Senyum yang penuh dari arti dia tidak terlihat, padahal posisi kami sedang di kawasan yang menawarkan banyak lampu.

Belum sempat berbincang lagi dengan Wak Ngah, mesin perahu kembali dinyalakan. Perahu kembali berjalan normal. Karang Gading belum juga selesai terlewati. Di suatu sudut, terlihat beberapa warga yang memperhatikan kami. Mereka duduk di semacam warung kopi. Ekspresi mereka begitu jelas; curiga.

Lalu, jembatan yang membelah sungai di depan mata. Ya, jembatan Karang Gading. Sebuah sepeda motor melintas. Kabarnya, jembatan ini juga berperan persis dengan jembatan yang ada di Parit Belang; sering menjadi tempat untuk menghalau para penyeludup yang tidak permisi.

Setelah itu, perjalanan kembali melewati gelap, tak ada yang istimewa. Hanya, suasana mencekam benar-benar terasa. Tak terbayang ketika perahu kami berpapasan dengan para penyeludup yang pastinya membawa senjata berapi sebagai pegangan. Pukul sembilan malam kami tiba di Parit Belang.

Sumut Pos mengutarakan kekecewaan pada Wak Ngah dan Pak Awang setelah sampai di darat. Wak Ngah tersenyum saja. “Ya, yang kjita lewati tadilah jalur-jalur itu…” balas Pak Awang.
Bang Ful permisi, tugasnya telah selesai.

“Apalagi, mau lihat langsung penyeludupan narkoba? Ya, tengah malamlah… tapi jangan ajak kami. Ajak saja yang lain yang berani mengambil risiko,” tegas Pak Awang.

“Sudahlah, yang penting kalian kan bisa melihat jalur-jalur itu…” tambah Wak Ngah.
Suasana mulai tidak menyenangkan. Sumut Pos mengalah dan meminta maaf. Kami pun mulai bercanda sambil menikmati kopi. Ya, untuk apa dipaksakan. Mungkin, lain kali, Sumut Pos punya kesempatan yang sama dan narasumber yang lebih terbuka. Itu saja. (*)

Gatot pun Bakal Diperiksa

Dugaan Korupsi Bansos Rp1,2 T

MEDAN-Pengusutan dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Pemprovsu 2009-2011 sebesar Rp1,2 triliun terus bergulir di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu). Korps Adhiyaksa itu juga memberikan sinyal bakal memeriksa Plt Gubsu, Gatot Pujo Nugroho, untuk menuntaskan kasus tersebut.
Usai gelar perkara pekan lalu, Kejatisu saat ini sedang melakukan pendataan terhadap dua ribun

penerima aliran dana bansos yang terdiri dari ormas, OKP, yayasan, anggota dewan, kelompok masyarakat lainnya hingga perorangan.Kepada wartawan koran ini, Kasi Penkum Kejatisu, Marcos Simaremare mengatakan, pihaknya telah meminta Kejari se-Sumut untuk ikut mendata dan memproses penerima aliran dana bansos di wilayahnya masing-masing.

“Sejauh ini belum ada laporan dari jaksa di Kejari mengenai masyarakat yang menerima bantuan itu. Kita masih mendata, saat ini sedikitnya ada berkisar dua ribu kelompok atau perorangan yang terdata menerima aliran dana itu,” ujarnya, Jumat (24/2).

Dia menyebutkan, tim Kejatisu saat ini sedang melakukan kroscek data dan melakukan penghitungan ulang jumlah penerima aliran dana dengan jumlah dana bansos yang diduga diselewengkan sebesar Rp1,2 triliun. “Sejauh ini jumlah satuan bantuan yang paling tinggi mencapai Rp5 miliar (bantuan Gatot untuk mahasiswa Sumut di Mesir, Red), ada yang Rp500 juta, Rp300 juta, Rp100 juta dan masih banyak lagi, saat ini masih disingkronkan dengan data penerima aliran dana itu,” tegasnya.

Apakah Kejatisu bakal memeriksa Plt Gubsu? Apakah sudah ada rencana meminta izin presiden untuk pemeriksaan petinggi di Pemprovsu itu? Marcos mengatakan, pihaknya tidak akan padang bulu. Siapapun yang terlibat, lanjutnya, akan diperiksa dan dimintai keterangan. “Kasus ini kasus besar. Soal adanya dugaan keterlibatan itu, masih dilakukan penyelidikan. Tapi intinya, siapapun bakal diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban, tanpa pandang bulu. Belum kita panggil ataupun dimintai keterangannya,” jelasnya.

Kapan pengumuman tersangka dilakukan? Dia menyatakan, pihaknya segera mengumumkan tersangka usai kroscek data penerima aliran dana bansos dengan jumlah kerugian negara. “Usai ini, kita akan menentukan siapa tersangkanya,” tegasnya.

Meski disebut dalam gelar perkara, namun Gatot belum pernah diperiksa Kejatisu. Penyidik sejauh ini hanya memeriksa mantan Kepala Biro Binsos, Hasbullah Lubis, mantan Kepala Biro Keuangan, M Syafii, Kepala Biro Binsos, Sakhira Zandi, Kepala Biro Keuangan, M Sagala, dan sejumlah staf di Kantor Gubsu.

Dalam melakukan kroscek, lanjutnya, pihaknya sangat ekstra hati-hati. Pasalnya, banyak alamat penerima dana aliran bansos yang fiktif.  “Banyak alamat yang menerima bantuan itu tidak jelas. Misalnya ada yayasan yang menerima bantuan, ketika penyidik mencari alamat si penerima bantuan, ternyata alamat yang menerima bantuan itu adalah warung. Bahkan pemilik warung sendiri tidak mengetahui alamat yayasan tersebut,” tegasnya.

Dana yang Cair Dibagi Dua
Seorang pejabat di Kantor Gubsu, mengatakan, penyimpangan dana bansos di Pemprovsu memang telah berlangsung sejak lama dan biasanya tak ada masalah. “Kalau Jumat gini, sepi. Jarang ada yang masukan proposal. Biasanya Senin, Selasa sampai Kamis baru ramai. Biasanya di bawah dulu (di bagian Tata Usaha dan Arsip), baru naik ke Binsos. Dari Binsos didisposisi baru naik lagi ke lantai 9, untuk ditandatangani Plt Gubsu. Ada juga yang diteruskan ke Sekda baru turun ke Binsos lagi. Dari Binsos sudah diketahui nominalnya berapa, baru nanti ada semacam laporan ke Biro Keuangan.

Kemudian keluarlah berbentuk cek, diserahkan ke Binsos. Baru diambil di Binsos. Setahu saya seperti itu,” ungkapnya.

Pencairan proposal memiliki waktu relatif. Jika yang memasukkan proposal memiliki kedekatan dengan pejabat atau orang-orang dekat kepala daerah dan sebagainya, biasanya bisa lebih cepat. “Biasanya ada itu yang mengajukan diri, atau memang punya jalur cepat karena ada kenalan di Kantor Gubsu. Sekarang ini yang bisa cepat dari orang dekat Plt Gubsu, kemudian akan sesegera mungkin disampaikan ke Kabiro Binsos Provsu. Kau tahulah orang dekat Plt Gubsu ini juga dekat sama Kabiro Binsos, jadi urusannya cepat,” urainya.

Bagaimana dengan istilah ‘belah jengkol’ alias bagi dua dana bansos yang cair antara si pemilik proposal dengan petugas di Kantor Gubsu? Mengenai hal itu, PNS tersebut mengakui adanya praktik-praktik tersebut. Dan itu kerap terjadi. Sayangnya, tidak ada yang membukanya secara transparan.

“Misalkan saja, proposal-proposal seminar atau kegiatan lainnya yang nominalnya hanya Rp10 juta sampai Rp20 juta. Ini tidak pernah ada pantauan langsung di lapangan, apakah benar ada kegiatan itu atau tidak. Katakanlah, satu hari saja ada yang cair proposal misalnya besarannya Rp10 juta. Kalau dibelah dua, berarti petugas di Kantor Gubsu dapat Rp5 juta. Bayangkan kalau sebulan itu ada 30 proposal, berarti petugas di Kantor Gubsu mendapatkan Rp150 juta. Sudah bisa beli mobil dia,” tukas pejabat tersebut.

Ditambahknya, jika proposal yang diajukan telah dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumut, seperti kegiatan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) atau organisasi besar lainnya, maka tidak ada yang berani memotongnya. “Kalau yang dianggarkan di APBD, seperti KNPI, PWI atau lainnya, tidak berani dipotong,” bebernya.

Dijelaskannya, alur proposal lainnya adalah biasanya melalui kegiatan-kegiatan audiensi. Proposal ini nantinya langsung mendapat pertimbangan dan perhatian dari kepala daerah. “Biasanya yang ratusan juta itu ada agenda audiensi. Ini nanti langsung dapat perhatian dari Plt Gubsu atau gubernur. Udah disetujui gubernur, kemudian turun lagi ke Binsos. Tapi tetap saja, itu awal masuknya ke Bagian Tusip (tata usaha dan arsip, Red) dulu, baru audiensi,” jelasnya.

Ada juga, lanjutnya, proposal yang dibawa konstituen partai yang dititipkan kepada anggota dewan untuk dimasukkan dalam proses penganggaran. Proposal yang seperti ini biasanya fiktif. Kalaupun ada dan berhasil dicairkan, biasanya pemilik proposal hanya dapat bagian 40-60 persen saja.

Kepala Biro Binsos, Shakira Zandi, kepada wartawan koran ini membantah adanya praktik ‘belah jengkol’. Apalagi sampai namanya dikait-kaitkan agar proses pencairan dana lancar. “Wallahi (kalimat sumpah, Red). Tidak ada yang namanya dipotong-potong. Katanya karena saya, itu namanya menjual-jual nama saya. Beritahukan ke saya siapa orangnya. Tidak ada itu. Sejak saya menjabat, sudah saya tegaskan jangan ada pegawai yang bermain-main dengan dana bansos atau memotong-motongnya. Saya tidak pandang bulu, akan saya proses kalau ada yang kedapatan seperti itu,” ujar Sakhira Zandi yang dua kali diperiksa Kejatisu.

Mengenai hibah ke Mesir sebesar Rp5 miliar, Shakira kembali menegaskan, semuanya sudah sesuai dengan aturan yang ada, mulai dari adanya permintaan dari KBRI di Mesir, kemudian adanya Memorandum Of Understanding (MoU) antara Pemprovsu dengan KBRI dan izin dari Kementerian Agama (Kemenag RI) dan sebagainya. “Semuanya sudah sesuai aturan,” tegasnya.(rud/ari)