28 C
Medan
Thursday, January 8, 2026
Home Blog Page 13896

Parkir Sembarangan

081920123xxx

Jalan Gatot Subroto simpang Gang Ban-dung setiap hari macet karena mobil toko material parkir sembarangan. Mohon ditertibkan, terima kasih.

Kami Teruskan

Terima kasih informasinya, laporan ini kami teruskan ke dinas terkait dalam hal ini Dinas Perhubungan Kota Medan untuk ditindaklanjuti.

Budi Hariyono
Kabag Humas Pemko Medan

Jangan hanya Lips Service

Harus kita akui, kondisi perparkiran di Kota Medan sangat memprihatinkan dan terkesan amburadul. Jeleknya pengelolaan perparkiran di Kota Medan, sudah semakin parah, hal  ini sering dijumpai di sepanjang jalan di inti Kota Medan. Bahkan parahnya, rambu-rambu dilarang parkir pun tidak dipatuhi, ditambah lagi dengan Juru Parkir (Jukir) yang tidak resmi mendominasi tempat-tempat parkir yang menjadi lahan empuk. Belum lagi trotoar yang seharusnya tempat lalu lalang pejalan kaki pun ikut dijadikan lahan parkir, sehingga para pejalan kaki merasa tidak nyaman dan kehilangan haknya menggunakan trotoar.

Kita harap Wali Kota Medan dapat mengevaluasi kinerja petugas terkait meng-   ingat program Pemko Medan dalam peningkatan pelayanan publik yang sudah disosialisasikan tidak menjadi lips service belaka. Terima kasih.

Ilhamsyah
Ketua Komisi A DPRD Kota Medan

Meteor Jatuh di Pesisir Sergai

SERGAI- Penampakan fenomena jatuhnya  meteor terjadi Selasa (21/2) malam, sekira pukul 20.00 WIB. Peristiwa itu sontak menghebohkan warga pesisir Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.

Hebohnya warga diakibatkan penampakan cahaya sebesar gelas berwarna warni dari arah selatan menuju barat laut, yang berlangsung hampir mencapai 15 detik, sehingga banyak warga yang menyaksikannya.

Pengepul ikan, Fery(35) warga Dusun I, Desa Sentang, Kecamatan Teluk Mengkudu menuturkan, saat meteor itu melintas, dirinya sedang mandi dan melihat cahaya meteor warna warni sebesar gelas berjalan lambat dari arah selatan dan menghilang ke arah barat laut, tepatnya di perairan Sentang.

“Seumur-umur baru kali ini saya melihat pemandangan meteor jatuh sebesar itu dengan waktu yang terbilang lama,” imbuh Fery, Rabu (22/2).
Hal senada diungkapkan Reza (50) warga Dusun II, Desa Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu. Dia melihat batu meteor jatuh saat berada di halaman rumah yang tak jauh dari lokasi pantai bersama para tetangganya.

“Meteor itu jatuh tak jauh dari halaman rumah saya, sekitar 500 meter dari bibir pantai dan langsung menghilang dengan mengeluarkan cahaya yang cukup terang. Mudah-mudahan fenomena apapun itu kiranya menjadi pertanda baik,” terangnya. (mag-16)

Masih Syok, Pernikahan Pdt Melati Ditunda

SIANTAR – Pdt Melati Butarbutar Sth dengan Pdt Reinhard Lumbantobing Sth yang seharusnya menikah hari ini, Kamis (23/2) di Gerja HKBP Resort, terpaksa ditunda, karena kondisi Pdt Melati Butarbutar masih syok dan dalam perawatan dokter.

Viktor Sirait selaku kelarga Pdt Melati Butarbutar kepada METRO (grup Sumut Pos), menjelaskan, pernikahan seharusnya dilaksanakan pada hari Kamis (23/2). Dan segala sesuatu yang berkaitan dengan acara pesta baik acara pemberkatan di Gereja hingga acara adat di Sopo Godang sudah rampung hinga 90 persen.

Selain itu, untuk undangan sebagian juga sudah disebar dari 1500 undangan yang sudah dipersiapkan. Bahkan, direncanakan pada pesta tersebut akan dihibur oleh artis-artis batak, seperti Tongam Sirait, Boniaga Trio dan Laponta Trio.

Akan tetapi, mengingat kondisi Pdt Melati Butarbutar yang masih dalam perawatan medis, terpaksa acara pesta pernikahan tersebut ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Penundaan itupun hasil kesepakatan okedua belah pihak.

Menurut Viktor, selama Pdt Melati menjalani perawatan di Rumah Sakit, sudah banyak yang memberikan dukungan doa atas kesembuhannya. Selain itu, banyak juga pihak-pihak yang telah memberikan bantuan berupa biaya perobatanya.

“Saya sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada Melati Butarbutar. Terkhusus untuk doa serta harapan masyarakat atas kesembuhannya,” katanya.

Menurutnya, kondisi kesehatan Pdt Melati Butarbutar sudah mulai membaik. Bahkan ia sudah bisa berjalan setelah ia pulang dari RS Vita Insani, Selasa (21/2) lalu.

Sekedar mengingatkan, Pdt Melati Butarbutar yang bertugas di HKPB Panambean 1 Nagori Silakidir, Kecamatan Hutabayua Raja, dianiya Erwin Pandiri Nadapdap (15) pada Rabu (15/2) sekitar pukul 23.30 WIB di rumah Pdt Melati Butarbutar. Dengan menggunakan pisau, Erwin Pandiri Nadapdap tega menikam Melati hingga beberapa liang ketika Melati tidur di kamarnya. Erwin yang tinggal di Panambean 2, mendatangi rumah Melati lewat belakang rumah dan langsung menghujamkan pisaunya ke tubsuh Melati. Beruntung, warga setempat langsung cepat datang dan langsung membawa Melati dengan kondisi bersimbah darah ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Erwin yang tidak sempat melarikan diri, dimassa warga sebelum kepolisian datang.
Hingga saat ini, motif Erwin menganiaya Melati Butarbutar belum diketahui. Polisi belum memeriksa Erwin karena masih dirawat di rumah sakit. Sementara, Melati Butarbutar juga belum bisa dimintai keterangannya.(mag-1/smg)

Tiga Mobil Dinas Kepala BPPT Belum Ditarik

MEDAN- Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, H Gatot Pujo Nugroho, telah mengeluarkan instruksi dan perintah untuk penertiban penggunaan aset kendaraan dinas roda empat di jajaran masing-masing, paling lambat tanggal 17 Februari 2012.

Tapi, sampai saat ini, Rabu (22/2), masih ada saja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprovsu yang tidak menjalankan instruksi itu.
Buktinya, Kepala Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu (BPPT) Sumut, Oloan Sihombing diduga memiliki tiga unit mobil dinas yang masih digunakan sampai saat ini.

Menurut Ketua Partai Patriot Sumut ini kepada Sumut Pos, menuturkan, ketiga mobil dinas yang dimiliki Kepala BPPT Sumut itu antara lain, Ford Everest warna Hitam BK 1092 L, kemudian Toyota Pajero Sport warna Silver BK 7542 YY dan Kijang Innova BK 9797 ZZ yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumut 2011.

Selain itu, bendahara di BPPT Rutriama SE, juga memiliki mobil dinas jenis Daihatsu Terios warna hitam BK 1103 L, yang juga bersumber dari APBD Sumut Tahun 2011.

Menyikapi hal itu, Edison Sianturi didampingi Sekretaris Umum (Sekum) Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) Sumut, Drs Suaidi Pulungan, menyesalkan persoalan itu terjadi.

“Kita sangat menyayangkan kalangan DPRD Sumut, yang memiliki kewenangan anggaran ternyata luput terhadap persoalan ini. Dan kenapa pula eselon II punya mobil dinas lebih dari satu. Kita minta, agar DPRD Sumut bersikap tegas untuk penggunaan aset di seluruh SKPD. Dalam aturannnya, pejabat eselon IV sebenarnya tak berhak memakai kendaraan dinas, karena yang berhak memakai adalah PNS golongan III ke atas. Jadi DPRD Sumut jangan hanya memberi stempel dan mengesahkan begitu saja,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Edison Sianturi, ada sinyalemen, sejumlah proyek di BPPT Sumut dikerjakan atau ditangani oleh anak dari Kepala BPPT yakni, WS, yang saat ini berstatus Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Karo.

“Sinyalemennya seperti itu. Ini tidak boleh terjadi, karena ini bentuk nepotisme. Mengenai aset tadi, usulan-usulan yang diajukan SKPD dari dulu, muatannya ke aset dengan dalih pelayanan. Contohnya, komputer bisa lebih banyak dari staf atau pegawainya. Karena setiap tahun minta pengusulan. Harusnya, Plt Gubsu tegas, dan bila perlu lakukan evaluasi. Ini pemborosan dan seharusnya bisa digunakan untuk membangun tiga sampai empat ruang kelas sekolah atau lebih. Kita berharap, Plt Gubsu komit untuk melakukan penertiban mobil dinas yang dipergunakan SKPD.

Untuk itu, Gatot harus melakukan evaluasi dan bila perlu mencopot SKPD yang tidak pro rakyat. Ini hanya satu contoh, dan mungkin terjadi di SKPD lainnya,” ungkap Edison.

Sementara itu, Oloan Sihombing yang dikonfirmasi Sumut Pos terkait keberadaan mobil dinas yang dipergunakannya mengatakan, kesemuanya untuk menunjang kinerja instansi yang dipimpinnya. “Selain yang saya pakai, masih ada tiga mobil lapangan yang dipakai tim teknis untuk meninjau objek izin di 33 kabupaten/kota se Sumut,” ujarnya.

Terkait putranya, WS, yang diduga menjadi ‘makelar’ proyek, Oloan Sihombing membantah. “Anak saya dikatakan ikut panitia pengadaan barang, sama sekali tidak benar,” bantahnya.(ari)gasnya.(ari)

Pengurus KBPPP Pakpak Dikukuhkan

PAKPAK BHARAT-  Pelantikan Keluarga Besar Putra-Putri Polri (KBPPP) Resor Pakpak Bharat yang digelar di Gedung Serbaguna Salak, Rabu (22/2), berjalan sukses.

Adapun susunan pengurus yang dilantik yakni, Ketua KBPPP Charles Hutajulu, Sekretaris Sangap Marganda Banurea dan Bendahara Mintar Tinendung, beserta pengurus lainnya.

Ketua PD KBPPP Sumatera Utara Diapari Siregar, dalam sambutannya mengatakan, pelantikan merupakan sebuah prosesi sekaligus seremoni yang menandai sebuah eksistensi kepengurusan, dimana didalamnya terkandung beragam makna yang harus ditindaklanjuti sekaligus dipertanggungjawabkan.
“Diharapkan, dengan pelantikan ini dapat menjadi momentum untuk membesarkan organisasi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masayarakat, keluarga besar Polri maupun Pemkab Pakpak Bharat, sehingga tidak timbul pesan klasik, habis dilantik ‘tidur’ kembali,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Pakpak Bharat AKBP Giueseppe Reinhard Gultom, pada arahannya menekankan kepada pengurus KBPPP Resor Pakpak Bharat yang baru dilantik, agar menjaga citra Polri. (mag-14)

Borkat Keluar Kota, Cut Dian Melahirkan

Dugaan Perselingkuhan Kader Demokrat Sumut

MEDAN-Direktur Eksekutif Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumut, Borkat Hasibuan, terus menjadi bahan pembicaraan. Pasalnya, dia tidak mendampingi Cut Dian Satriani, istrinya, saat melahirkan. Di saat bersamaan, kasus dugaan perselingkuhannya dengan Anggota DPRD Sumut Fraksi Demokrat, Megalia Agustina, belum juga tuntas

Kemarin, Cut Dian memang melahirkan bayi mungil berkelamin perempuan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Rosiva, Jalan Bangka, Kelurahan Gang Buntu, Kecamatan Medan Timur, pukul 13.00 WIB. Bayi itu dalam kondisi sehat dengan panjang 4,9 centimeter dan berat 3,4 kilogram. Bayi itu pun diberi nama Dian Cahaya Salsabilla. “Sudah lahir, Alhamdulillah. Itu suara tangisannya,” kata ibunda Cut Dian, Hj Hadijah saat pertama kali mendengar suara tangisan cucu pertamanya, dari putri satu-satunya itu.

Kebahagiaan itu sedikit terusik ketika salah seorang perawat sempat mempertanyakan keberadaan ayah sang bayi mungil itu, sebanyak dua kali. “Bapaknya yang mana,” tanya perawat itu.

Pertanyaan pertama sang perawat, tidak dijawab. Mungkin, karena semua mata tertuju pada bayi mungil itu. Pertanyaan kedua, langsung dijawab Hj Hadijah. “Bapaknya lagi di luar kota,” jawab Hj Hadijah.

Pertanyaan itu, bisa jadi agar sang ayah dari bayi mungil itu membacakan iqomat di telinga bayi yang pipi dan bibirnya masih berwarna merah. Dengan sigap, seorang kerabat Cut Dian, Daud, mengambil alih peran itu. Daud dengan hikmat dan seksama, serta memeluk sang bayi mungil itu dengan penuh perasaan membacakan iqomat.

Dari seorang kerabat Cut Dian lainnya, yang bernama Icut, diketahui kalau bayi yang baru lahir tersebut adalah impian keluarga. Bagaimana tidak, Cut Dian dan Borkat sampai berobat ke Malaysia agar mendapatkan anak. “Saya bersahabat dengan Icik (panggilan kecil Cut Dian, Red) sejak kuliah di UISU, dari Tahun 2005 lalu. Ya, saya tahu kisah cinta antara mereka berdua. Tak usahlah diceritakan lagi, semuanya sudah tahu. Mereka sampai ke Malaysia untuk berobat. Ya, kan bisa menilai sendiri. Suaminya tidak ada datang. Sejak hamil pun, sudah tidak ada perhatian lagi,” urai perempuan berusia 34 tahun yang berdomisili di Jalan Setia Budi, Medan ini.

Icut mengisahkan, Icik selalu bercerita dengan dirinya, mengenai masalah apapun. Terkadang, dirinya yang ke kantor Icik di Jalan Pancing, terkadang pula sebaliknya atau bertemu di tempat lain. “Sejak kuliah itu, sampai sekarang kami terus bersahabat. Semuanya diceritakan,” tuturnya.

Sebelumnya, saat masih menunggu proses persalinan, sang bunda, Hj Hadijah yang saat itu mengenakan setelan busana muslim warna ungu mengatakan, mereka tiba di RS tersebut sejak pukul 08.30 WIB. Dan baru dipindahkan ke ruang bedah, lantai I RSIA tersebut pada sekira pukul 12.00 WIB. “Sekitar lebih kurang setengah 9 tadi kami sampai Dek. Jam 12.00 WIB, baru masuk kamar bedah,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait perselingkuhan Borkat dengan Megalia ternyata sudah diketahui DPP Demokrat. Namun, pengurus pusat partai berlambang mercy itu tidak mengambil sikap. Ketua DPP Demokrat, Sutan Bathoegana menjelaskan, masalah tersebut diserahkan ke DPD Demokrat Sumut. “DPD membentuk tim pencari fakta. Mereka yang akan melakukan investigasi untuk mengungkap kabar itu, benar atau tidak,” ujar Sutan Bathoegana kepada koran ini kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin, Selasa (21/2).

Sutan menjelaskan, hasil kerja tim pencari fakta yang dibentuk DPD Demokrat Sumut itu nantinya akan dilaporkan ke Komisi Pengawas Partai Demokrat yang dipimpin TB Silalahi. “Jadi, nanti hasil investigasi mereka (tim pencari fakta, red), dilaporkan ke Komisi Pengawas,” imbuh salah satu dari sembilan orang pendiri Partai Demokrat itu.

Apakah DPP sudah tahu kabar perselingkuhan itu? Sutan menjelaskan, secara resmi tidak ada laporan yang masuk ke DPP. Hanya saja, DPP mengetahuinya dari pemberitaan media massa. Menurut Wakil Ketua Fraksi Demokrat itu DPR itu, Komisi Pengawas Demokrat juga sudah pasti tahu kabar itu.

“Berita-berita itu pasti dia (Komisi Pengawas, Red) baca,” terang anggota Komisi VII DPR itu.
Semula, Sutan enggan berkomentar mengenai masalah ini. Menurutnya, masalah ini lebih merupakan masalah rumah tangga atau masalah pribadi. “Jadi saya terus terang saja saja tidak mau bicara soal ini karena ini soal rumah tangga orang. Itu persoalan pribadi,” kilah Sutan.

DPP, lanjutnya, tidak perlu ikut campur. Alasannya, di DPRD Sumut juga sudah ada Badan Kehormatan (BK). “Biar mereka yang menyelesaikan. Saya tidak begitu mengerti soal itu. Nanti bisa tersinggung orang itu kalau aku ikut-ikutan komentar,” kata Sutan.
Sebenarnya, Wakil Sekretaris DPP PartaiDemokrat, Achsanul Kosasih menegaskan, tidak akan tinggal diam dengan informasi adanya dugaan perselingkuhan itu.
“Sudah pasti akan ada tindakan tegas dari partai, apabila memang benar ada informasi perselingkuhan ini, ” ujar Achsanul. (ari/sam)

Gara-gara Narkoba, Wadir Narkoba Poldasu Dicopot

Nikmati Pil Happy Five Bersama Wanita Saat Karaoke

Medan-Karir kepolisian Wakil Direktur (Wadir) Narkoba Poldasu AKBP Apriyanto Basuki Rahmat terpaksa ‘tamat’ akibat ulahnya sendiri. Pasalnya, AKBP Apriyanto dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke Pamen Bid Propam Poldasu akibat mengonsumsi pil Happy Five (termasuk narkoba). Bahkan, dirinya mengonsumsi pil itu dengan wanita bernama Sri Agustina.

Pencopotan orang nomor dua di Direktorat Narkoba Polda Sumut tersebut langsung dikatakan Direktur Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Andjar Dewanto saat dikonfirmasi Sumut Pos, Selasa (20/2) di Markas Ditresnarkoba Polda Sumut.

Tidak seperti biasanya, bila ada penangkapan narkoba, Direktur Narkoba Polda Sumut langsung mengekspos. Namun,  kasus yang melibatkan Wakil Direktur Narkoba ini  seperti tertutup. Tampaknya sengaja disembunyikan agar tidak terekspos media. Tapi, seperti pepatah; bangkai disimpan di manapun, baunya akan tercium juga.

Terkuaknya kasus ini berawal dengan kedatangan seorang wanita separuh baya mengaku bernama Ratnawati Simamora (55). Ratna yang beralamat tinggal di  Jalan Stasiun No 84, Kedai Durian, Kelurahan Medan Johor tersebut, terlihat ribut dengan raut wajah kesal berjalan menuju markas Ditresnarkoba Polda Sumut. Wartawan koran ini yang merasa penasaran menemui Ratna dan menanyakan kekesalannya. Dengan penuh emosi, Ratna pun cerita kalau dirinya sangat keberatan atas penangkapan anak kandungnya, Ade Hendrawan (29). Ade merupakan waiters di Karaoke Paramount, Jalan Merak Jingga Medan.

Ratna pun bercerita soal penangkapan anaknya hingga ditahan oleh Dit Narkoba Poldasu. Kata Ratna, anaknya ditangkap karena kasus narkoba jenis pil Happy Five atau lebih dikenal dengan sebutan H5. “Anak saya ditangkap dari rumah tanpa ada surat penangkapan dan barang bukti,” aku Ratna.
Menurut cerita Ratnawati Simamora, penangkapan anaknya itu bermula pada Sabtu (12/2) lalu. Saat itu, Wadir Narkoba Poldasu AKBP Apriyanto Basuki Rahmat bersama dengan teman wanitanya, Sri  Agustina, warga Asam Kumbang,  berada di Karaoke Paramount, Jalan Merak Jingga Medan.

Lalu, AKBP Apriyanto meminta kepada Ade untuk menyediakan pil H5. “Siapa bosmu, minta sama dia H5,” ujar Ratnawati menirukan cerita anaknya.
Kemudian, Ade saat itu memenuhi permintaannya. Ade lalu meminta H5 kepada bosnya di tempat hiburan itu, Jhonson Jingga, yang disebut-sebut sebagai pemilik  Karaoke  Paramount. Setelah menerima dari Jhonson Jingga, Ade pun memberikan 1 papan H5 berisi 8 butir pil kepada Wadir Narkoba. “Setelah memberikan H5 pada polisi itu, anakku pulang ke rumah  karena sudah habis jam kerjanya,” jelas Ratnawati.

Namun, lanjutnya, setelah anaknya pulang, segerombolan polisi dari  Dit Narkoba Poldasu datang merazia tempat hiburan karaoke tempatnya bekerja. “Mungkin saat dirazia, si Wadir Narkoba dan teman wanitanya,  Sri Agustina terjaring,” ujarnya.

Selang dua hari, tepatnya Senin (14/2) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, kata Ratnawati, rumahnya didatangi beberapa orang mengaku polisi. Salah satu mengaku sebagai Direktur Reserse Narkoba Poldasu untuk mencari anaknya, Ade. “Waktu mereka datang mencari Ade, polisi-polisi itu mengaku hanya meminta keterangan Ade soal masalah label minuman,” ungkap Ratnawati, seraya menjelaskan bahwa saat itu, bos tempat anaknya berkerja (Jhonson Jingga),  juga ikut dalam rombongan Dir Narkoba ke rumahnya.

Lalu, dia dan suaminya, Rahman, mengantarkan rombongan itu ke rumah Ade. Sebagai informasi, Ade memang sudah tidak tinggal lagi dengan Ratnawati. Rumah Ade berada di  Jalan Suka Maju Medan. “Begitu sampai di rumah Ade, polisi langsung menangkap anak saya dan dibawa ke Dit Narkoba Poldasu,” ujarnya.

Saat itu, Ratnawati mengaku anaknya sempat menanyakan, di mana Wadir Narkoba yang menurutnya juga terkait dengan kasus ini. Namun, oleh Dir Narkoba mengatakan kalau AKBP Apriyanto sedang berada di Hongkong. “Saya baru di sini bu dan saya tak pandang bulu untuk menindak anggota saya bila terbukti bersalah,” ujar Ratnawati menirukan apa yang disampaikan oleh Kombes Andjar waktu itu.

Ratnawati, yang juga Kepling di tempat tinggalnya mengatakan, pada saat ia menjenguk Ade di penjara, Ade pernah menyampaikan bahwa ada orang dari pihak Jhonson Jingga meminta Ade agar mengakui barang tersebut adalah miliknya. “Anakku bilang gini sama ku: Mak, ada orang yang datang dari pihak Jhonson menjumpaiku, menyuruh aku mengakui barang itu punyaku,” kata Ratnawati mengulang cerita anaknya.

Namun, permintaan itu ditolak Ade, dengan alasan berhubungan saja dengan Ratnawati. Tapi, tak seorangpun yang mau mendatangi Ratnawati. “Kalau Wadirnya tidak dihukum, jangan hukum anakku .Kalau memang mau dilepaskan, lepaskan semua,” kata Ratnawati.

Selain itu, Ratnawati juga meminta Wadir Narkoba, AKBP Apriyanto juga harus diproses dan ditahan, karena dialah yang meminta obat itu sama Ade. “Ini sudah aneh. Anakku cuma disuruh untuk minta sama bosnya. Kalau memang sedang dilakukan razia, kenapa tidak saat itu juga anak saya ditangkap, mengapa ditangkap sehari setelah obat itu diserahkannya pada AKBP Aprianto,” kata Ratna.

Adapun saat razia yang langsung dipimpin Kombes Pol Anjard Dewanto dan AKBP Suwadi tempo hari, tim berhasil menangkap dua orang. Yakni, Jhonson Jingga dan seorang wanita bernama Sri Agustina yang diakui Ade datang bersama Aprianto.

Kedua orang yang diamankan tersebut mengaku mendapatkan Happy Five tersebut dari Ade Hendrawan, yang bekerja sebagai waters. “Padahal pengakuan anak saya, dia disuruh Wadir Narkoba untuk mengambilkan happy five itu ke bosnya. Tapi kok malah pengakuan si Jhonson terbalik, anak saya dibilang memberikan ke Jhonson,” kata Ratnawati.

Sementara itu, Direktur Narkoba Kombes Andjar Dewanto yang ditemui Sumut Pos di ruang kerjanya guna dikonfirmasi terkait kasus ini membantah melakukan penangkapan di luar prosedur. Sedangkan soal Wadir Narkoba, dia mengatakan masih pendalaman. “Masih pendalaman. Kita akan periksa petugas (Wadir) yang diduga terlibat dalam kasus ini,” terang Anjard.

Dia menceritakan, penangkapan Jhonson Jingga dan Sri Agustina berawal dari razia rutin yang digelar di tempat hiburan malam. Saat razia di klub malam Jalan Merak Jingga dan polisi mengamankan delapan butir pil happy five. Seketika keduanya dibawa ke Mapolda Sumut untuk diperiksa. Disinggung keberadaan AKBP Apriyanto di lokasi, Anjar menyatakan yang bersangkutan tidak dalam tugas saat itu dan secara kebetulan sedang berada di tempat yang sama.

Sedangkan Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Heru Prakoso ketika dihubungi Sumut Pos membenarkan kasus tersebut. “Benar, saat ini  Wadir Narkoba AKBP Apriyanto telah dicopot dari jabatannya. Adapun  pencopotan itu berdasarkan Surat Perintah Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro dan sementara jabatan tersebut masih kosong,” ujar Heru.

Dikatakanya, Apriyanto sejak 17 Februari sudah dipindahkan menjadi Perwira Menengah (Pamen) di Bid Propam Poldasu. Dicopotnya Apriyanto sebagai Wadir Direktorat Reserse Narkoba Poldasu tersebut dikarenakan adanya indikasi penggunaan narkoba. “Jika benar terbukti bersalah akan kita beri sanksi,” tambah Heru.

Saat ditanya apakah narkoba itu untuk dipakai sendiri atau digunakan menjebak seseorang  atau menjebak orang lain, Heru mengatakan kalau memang dua alasan itu penyebabnya, tetap merupakan tindakan yang salah.

Heru menambahkan  pencopotan Apriyanto untuk mempermudah pemeriksaan yang dilakukan Dit Narkoba terhadap yang bersangkutan. Selain itu, Heru juga mengatakan  pembebasan tugas ini juga termasuk sanksi yang diberikan.

Sementara itu, ternyata bukan hanya jabatan saja yang dicopot dari Apriyanto. Pantauan Sumut Pos di Markas Gedung Reserse Narkoba Polda Sumut, papan nama yang tergantung di depan ruangan Wadir yang biasa tertulis Wadir Narkoba Polda Sumut AKBP Apriyanto.juga telah dicopot. Sayang, saat ditanyai beberapa petugas jaga, tak satu pun ada petugas yang mau berkomentar. (mag-5)

Apriyanto Itu Orang Rumahan

Pencopotan  AKBP Apriyanto Basuki Rahmat sebagai wakil direktur direktorat narkoba Polda Sumut karena diduga terlibat kasus narkoba mengejutkan banyak pihak. Yang paling terkejut adalah orang-orang yang menjalankan bisnis tempat hiburan malam.

Dari para kalangan pencinta dunia gemerlap malam, Apriyanto mereka sebut orang rumahan yang tak kenal kehidupan dunia gemerlap malam (dugem). Beberapa orang yang berbisnis usaha hiburan malam maupun humas di beberapa tempat hiburan malam yang diwawancarai Sumut Pos, mengaku hanya mengetahui nama Apriyanto, tapi tidak kenal wajahnya.

Alasan itu dikatakan mereka karena ketidaksamaan hobi dengan sang pejabat polisi tersebut. Pasalnya, Apriyanto diketahui tidak suka minum dan narkoba. Setidaknya hal ini diungkapkan salah seorang yang berkecimpung di bisnis hiburan malam yang dihubungi Sumut Pos. Dan sebutan orang rumahan untuk sang wadir juga dibenarkannya.

Menurut pria keturunan yang namanya tak ingin dipublikasikan itu, selama ia berkecimpung di dunia hiburan malam, baru kali ini pejabat polisi yang dikenalnya sebagai orang rumahan. Diakuinya, pernah ia sekali bergabung dengan Apriyanto saat karoke. Apriyanto dilihatnya berbeda. “Wa lihat dia beda. Gak suka minum. Apalagi narkoba. Saya yakin dia tidak. Kalau nyanyi kerjanya cuma makani snack (makanan ringan),” katanya.

Dia juga menanggapi peristiwa razia hingga isu pemesanan happy five saat Apriyanto di tempat hiburan malam Paramount di Jalan Merak Jingga, Medan, sebagai sesuatu yang janggal. Pasalnya, selain Apriyanto sosok rumahan, di tempat hiburan sekitar Paramount saat itu tidak ada razia. Misalnya, di gedung Capital yang berjarak 500 meter dari Paramount dan tempat hiburan malam di Hotel Grand Aston yang berjarak 700 meter. Tentu keterangan ini berseberangan dengan apa yang dikatakan Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Anjard Dewanto. Sebelumnya dia mengatakan razia yang mereka lakukan pada tanggal 12 Februari lalu adalah razia rutin dalam pemberantasan narkoba. (mag-5)

Plt Gubsu Prioritaskan Empat Ruas Tol

MEDAN-Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera H Gatot Pujo Nugroho, ST mengusulkan empat ruas tol untuk dijadikan prioritas pembangunan dalam program percepatan pembangunan jalan tol Sumatera yang digagas Kementerian BUMN. Pemprovsu siap membentuk konsorsium dengan Jasa Marga dan pemerintah kabupaten/kota serta perusahaan yang berminat.

Usulan tersebut disampaikan Plt Gubsu pada pertemuan dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan bersama Gubernur se-Sumatera dan PT Jasa Marga, di Griya Agung Palembang, Senin (20/2). “Dukungan Menteri BUMN untuk percepatan pembangunan jalan tol di Sumatera ini tentunya merupakan kesempatan yang baik. Langkah inovatif percepatan pembangunan tol ini akan kita manfaatkan sepenuhnya, demi percepatan pembangunan ekonomi di Sumut,” ujar Gatot.

Gatot meyakini keempat ruas jalan tol tersebut strategis dan akan memberikan multiplier effect yang luas dalam mendukung percepatan pembangunan perekonomian Sumatera Utara. Keempat ruas tol yang tersebut adalah ruas Kualanamu-Tebingtinggi sepanjang 35 km, Medan-Binjai sepanjang 15,8 km, Tebingtinggi-Sei Mangke sepanjang 50 km, dan to Seimangke-Kualatanjung sepanjang 25 km. Kepada Menteri BUMN, Plt  Gubsu menjelaskan bahwa untuk ruas tol Kuala Namu-Tebingtinggi, sekitar 54 persen dari total kebutuhan lahan sudah dibebaskan, sehingga percepatan pembangunannya dapat dilakukan.

Kepala Bappeda Provsu Radil Akhir dalam kesempatan yang berbeda kemarin, menjelaskan  bahwa Pemrovsu beserta pemerintah kabupaten/kota terkait akan melakukan berbagai persiapan seperti kesepakatan pada pertemuan di Palembang. “Di antara persiapan yang akan dilakukan adalah dari sisi perencanaan, perizinan, penyediaan lahan, pencadangan kawasan ekonomi dalam rangka mendukung kelayakan ruas-ruas tol yang akan dibangun,” ujarnya didampingi Kasi Perhubungan  Bappeda Sumut, Harris Lubis.

Dijelaskannya, keempat ruas tol tadi merupakan bagian dari rencana pembangunan ruas tol Tebingtinggi-Kisaran yang pra studi kelayakannya telah dilakukan oleh Badan Pengaturan Jalan Tol (BPJT).

Sementara itu, pengamat Ekonomi dari USU, Jhon Tafbu Ritonga mengatakan, sejak periode I SBY terpilih, wacana untuk pembangunan Sumatera telah didengungkan, tetapi seiring berjalannya waktu, wacana ini hilang dan tidak pernah kedengaran lagi. “Karena itu, ini bagaikan harapan baru bagi kita. setelah hilang akhirnya ada yang mendengungkan kembali. Kita harus dukung, jangan hanya diam, seluruh provinsi yang ada di Sumatera bergerak lah,” ungkap Jhon.

Bila jalan bebas hambatan ini terealisasi, maka tugas pemerintah pusat dalam Masterplan  Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) untuk koridor Sumatera akan selesai, hanya dalam jangka waktu 5 tahun (minimal). Karena seperti diketahui untuk koridor Sumatera, hanya sebagian jalan di Sumatera yang masuk, tidak seluruhnya. “Optimis untuk pembangunan ini, karena ini akan mempercepat dan mengendurkan tugas pemerintah pusat dalam MP3EI,” lanjut Jhon.

Dukungan juga disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen Parulian Simanjuntak. “Bukan hanya kota, tetapi daerah pinggiran, jadi bayangkan apa yang akan terjadi bila ini berhasil dilaksanakan?” ungkapnya.

Sedangkan pengamat ekonomi dari Unimed, M Ishak, menjelaskan bahwa harus ada tim untuk pembangunan jalan bebas hambatan ini. “Peraturan pusat diharapkan tidak merugikan Pemda dan untuk memantaunya harus dibuat tim. Sehingga akan memonitor semua peraturan pusat yang cenderung mempersulit masalah administrasi, sehingga membuat investor malas masuk,” ungkap Ishak.

Wakil ketua Umum Bidang perdagangan, Distribusi dan Logistik Kamar dagang dan Industri Suamtera Utara, Hervia Tahier mengatakan bahwa bila rencana ini berjalan, maka bisa dipastikan program IMT GT Indonesia akan berjalan. Karena seperti diketahui bahwa selama ini permasalah yang selalu dihadapai oleh pengusaha adalah kerjasama dengan pemerintah. “Nah, kalau sudah ada begini, maka jalan kita terbuka karena sudah ada yang menggerakan,” ujar Hervian. (ari/ram)

Pendeta GPIB se-Indonesia Kumpul di Medan

Evaluasi Program Kerja 2011-2012, Susun Program 2012-2013

MEDAN-Dua agenda besar dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) tengah dan akan berlangsung di Convention Hall Hotel Danau Toba Internasional (HDTI) di Jalan Imam Bonjol No 17, Medan. Acara pertama, konvensi atau pertemuan para pendeta GPIB mulai Selasa, 21 Februari hingga Kamis 23 Februari dan Sinode Tahunan dari 23-25 Februari mendatang.

Menurut Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB,  Pdt Adriaan Pitoy, yang ditemui di Convention Hall HDTI Selasa (21/2) siang, setelah ibadah pembukaan sekitar pukul 13.00 WIB, agenda konven hari pertama diisi laporan ketua umum panitia dan majelis sinode. Setelah itu akan ada pertemuan dua sesi, membahas Arahan Strategis, Teologis tentang tema oleh majelis sinode dan Spiritualitas Melayani.

Ditambahkan Ketua I Majelis Sinode (MS) GPIB, Pdt M Tetelepta, kegiatan ini mengambil tema: Kepemimpinan yang Membangun Masyarakat. “Berangkat dari tema, pemimpin dan jemaat terbeban dan berkoordinasi menemukan cara mengayomi dan membangun masyarakat Indonesia 2013,” papar pendeta berdarah Ambon ini saat ditemui di sela-sela registrasi peserta di lobbi HDTI.

Sedangkan agenda persidangan Sinode tahunan GPIB 2012 diantaranya untuk mengevaluasi pelaksanaan program 2011-2012 dan penyusunan program kerja anggaran 2012-2013. “Kegiatan ini sekaligus mejadi persiapan pemilihan pemimpin jemaat (penatua-penatua),” ujar M Tetelepta menjelaskan.
Dalam pertemuan kali ini, setidaknya 451 pendeta dari keseluruhan 508 pendeta GPIB diharapkan hadir. Para pendeta ini tersebar dan melayani di 25 provinsi di Indonesia.

Dari amatan di Convention Hall, ratusan peserta Konven dan Sinode, ratusan peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Sejumlah Ketua II Majelis Sinode, Pdt Poltak Halomoan Sitorus, juga terlihat sibuk mempersiapkan diri.

Di dan Lobbi HDTI, panitia lokal berseragam batik melayani peserta yang menregistrasi kehadiran. Sejumlah pendeta tampak mengantre di meja panitia. “Pendeta juga harus antre lho,” ujar seorang pendeta wanita yang minta namanya tidak ditulis. “Minta pendapat dari beliau saja ya, jangan saya,” ujar pendeta itu sambil menunjuk ke arah Pdt M Tetelepta.

Sementara, sejumlah petugas keamanan dari pihak gereja, internal hotel dan dari Polresta Medan tampak berjaga. Meski tidak terlihat mencolok, keberadaan petugas keamanan dari kepolisian mudah diketahui. Apalagi, di parkiran juga tampak dua inut truk polisi dari Mapolresta Medan. “Pengunjung yang tidak dilengkapi badge dilarang masuk, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.,” ujar petugas keamanan. Menurut petugas itu, sejumlah intel juga membantu mengamankan lokasi, mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. (tms)

Seleweng

Oleh: Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Menyeleweng atau berselingkuh sudah bukan menjadi hal yang mewah lagi. Dia sudah sangat biasa didengar, ditonton, atau diketahui. Tapi, ketika selingkuh melibatkan anggota dewan, tentu kabar itu menjadi mahal. Seperti kabar yang menghentak Medan dan Sumatera Utara belakangan ini; anggota dewan berselingkuh dengan rekan satu partainya.

Mungkin karena itulah – maksudnya perselingkuhan menjadi gaya hidup populer –Dr Doug Weiss, presiden American Association for Sex Addictionn

Therapy dan pendiri situs konseling SexAddict.com menelaah soal selingkuh. Baginya, ada 6 jenis peselingkuh. Yakni tipe pemburu, tipe pahlawan, tipe korban, tipe oportunis, tipe profesional, dan tipe pemuja.

Nah, dari enam tipe yang ditawarkan Doug, memang jelas kenapa seseorang berselingkuh. Misalnya, pemuja. Tipe ini hanya menginginkan satu tipe pasangan tertentu. Mereka bisa membagi-bagi hatinya, dan seringkali merasa memiliki hak untuk melakukan perselingkuhan.Tipe ini cukup berbahaya karena mereka siap mengambil risiko meski memiliki keluarga yang nyaman. Atas dasar ingin saja, mereka sudah menggadaikan rumah tangga mereka. Tentu, tipe seperti ini seakan mengarah pada anggota dewan dan rekan separtainya tadi.

Ada juga selingkuh untuk mendapatkan sesuatu yang lebih (dengan mewakili salah satu tipe yang sudah dijabarkan Dr Doug Weiss). Dalam arti, tidak sekadar seks. Ada niat-niat lain yang terselebung dalam perselingkuhan tersebut. Misalnya, kekuasaan.

Kisah semacam ini dapat dilihat di kitab Pararaton. Dari kitab itu, diketahui dari perselingkuhanlah dinasti (trah) kerajaan Singasari yang menjadi cikal bakal kerajaan Majapahit yang berpusat di Kota Singasari (Malang) berdiri.

Kitab ini menceritakan bagaimana tokoh Ken Arok yang berangkat dari seorang ‘preman’ berhasil menjadi raja Singasari dan bergelar Rajasanegara Sang Amurwabhumi. Keberhasilan Ken Arok menjadi raja terinspirasi ketika secara tidak sengaja melihat kain yang dipakai Ken Dedes tersingkap. Perempuan yang katanya mahacantik ini adalah istri Tunggul Ametung yang saat itu memegang tampuk kekuasaan di Kerajaan Tumapel. Setelah melihat aurat yang bersinar milik Ken Dedes, Ken Arok tidak bisa menahan rasa. Istilah kerennya, terbayang-bayang.

Dia pun langsung ‘curhat’ pada sang guru, Lohgawe, seorang pendeta dari India. Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri seperti yang diceritakan Ken Arok itu disebut sebagai wanita nareswari yang diramalkan akan menurunkan raja-raja. Mendengar ramalan tersebut, Ken Arok semakin berhasrat untuk menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes.

Tidak sulit bagi Ken Arok untuk menyingkirkan Tunggul Ametung. Dia adalah tangan kanan suami Ken Dedes tersebut. Maka, dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung sewaktu tidur. Yang dijadikan kambing hitam adalah rekan kerjanya, sesama pengawal bernama Kebo Hijo. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes, bahkan menjadi penguasa baru di Tumapel.

Beberapa kalangan menganggap, tersingkapnya kain Ken Dedes dapat dimaknai sebagai sebuah simbol seksual, yakni Ken Dedes dan Ken Arok melakukan perselingkuhan yang lalu melebar menjadi motif politik untuk menyingkirkan Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, dan mengangkat dirinya menjadi penguasa baru.

Nah, adakah perselingkuhan anggota dewan tersebut juga mengarah seperti Ken Dedes? Setidaknya, sang anggota dewan adalah perempuan cantik dan masih muda. Apalagi, latar belakang keluarganya cukup bisa diandalkan. Sementara sang rekan separtai, berpikir semacam Ken Arok. Bisa saja dia berpikir kalau meraih sang anggota dewan, dia juga akan mendapat posisi lebih aman.

Entahlah, yang jelas sudah ada kabar perselingkuhan tentang mereka. Masalah apa yang mendasari mereka selingkuh, kan hanya mereka yang tahu. Mirip atau tidaknya dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes, kan belum ada yang tahu. Selesai. (*)