28 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 13900

Manajer PTPN 2 Tantang HKTI Menggugat

Terkait Konflik Lahan Eks HGU di Tanjung Jati

BINJAI-Konflik lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 Tanjung Jati, ternyata tak jauh berbeda dengan konflik lahan eks HGU PTPN 2 Sei Semayang. Pasalnya, dalam sengketa lahan ini, masyarakat kecil terus melarat, sementara oknum PTPN 2 terus meningkat ekonominya. Sebab, setiap lahan eks HGU PTPN 2, sudah dikelola oleh pihak ketiga dan perorangan.

Hal itu disampaikan langsung Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB) Sumatera Utara, Alimuddin, dalam pertemuan dengan PTPN 2, warga tani, serta unsur  Muspika, dan Muspida lainnya, di Balai Desa Tanjung Jati, Langkat, Senin (5/3), siang pukul 09.00 WIB.

Pertemuan yang membahas persoalan dalam sengketa lahan eks HGU PTPN 2 Tanjung Jati itu, dihadiri langsung oleh Manajer PTPN 2 Tanjung Jati T Tampubolon, Kapolsek Tadam AKP Zakaria, Kepala Desa (Kades) Ruslan, Sekretaris Camat (Sekcam) Binjai Aliandi, Ketua Himpunan Kelompok Tani Indoesia (HKTI) Tanjung Jati Was Irawan dan Ketua FRB Sumut Alimuddin.

Manajer PTPN 2 T Tampubolon, dalam pertemuan itu mengatakan, kalau lahan yang digarap HKTI adalah lahan HGU PTPN 2 dengan sertifikat nomor 3. “Lahan perkebunan di Tanjung Jati ini, memang ada HGU yang belum diperpanjang dengan luas lahan sekitar 27,75 Ha. Namun, yang digarap HKTI itu masih dalam HGU. Makanya, apapun alasannya saya akan tetap mempertahankan areal itu, karena masih dalam tanggung jawab saya selaku menejer,” kata T Tampubolon.

Selain itu, T Tampubolon juga mengatakan, sertifikat HGU yang dipegang PTPN 2 Tanjung Jati, berlaku sampai 9 Juni 2025 mendatang. “Nah, untuk itu saya sarankan, kalau memang HKTI merasa memiliki hak. Ajukan gugatan kepada yang berwajib, jagan main asal garap saja. Kalau gugatan itu menang, kami tidak akan menahan sejangkalpun tanah itu. Apalagi, dalam persoalan ini tidak ada untungnya untuk saya,” tegasnya seraya menambahkan, akibat aksi dari warga, PTPN 2 setiap tahunnya merugi Rp1 miliar.

Menyikapi hal itu, Ketua FRB Sumut Alimuddin dengan tegas mengatakan, kalau T Tampubolon tidak memahami pokok persoalan dalam sengketa lahan PTPN 2 tersebut. “Dari keterangan bapak, terlihat dengan jelas, kalau bapak sama sekali tidak memahami persoalan lahan ini. Kalau diurut dari sejarah, PTPN 2 telah merampas hak masyarakat tani yang hingga kini belum juga dikembalikan,” tegas Alimuddin.

Lebih jauh dijelaskan Alimuddin, selama pihaknya memperjuangkan hak rakyat, banyak ditemukan kenjanggalan yang dilakukan aparatur pemerintah. Mulai dari BPN, hingga tim B Plus yang ditugaskan untuk menyelesaikan masalah ini. Dengan banyaknya kejanggalan itu, kata Alimuddin, pihaknya berencana mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) guna menindak oknum PTPN 2 dan aparatur pemerintahan yang bermain dalam konflik lahan eks HGU PTPN 2 ini.

“Insya Allah, bulan ini kami akan membeberkan ke KPK sekaligus mencari tahu, berapa puluh ribu hektar tanah rakyat dirampas PTPN 2? Berapa puluh ribu yang dikelola PTPN di luar HGU? Sudah berapa banyak yang dialihkan kepada pihak Kepong? Dibenarkan atau tidak PTPN 2 menyewakan atau mengalihkan lahan itu kepada pihak ke tiga? Dan kemana uangnya? Inilah yang akan kita pertanyakan kepada KPK dalam seminar. Hal ini kita lakukan, untuk menyeret oknum yang telah memperkaya dirinya sendiri, sehingga membuat rakyat terus melarat,” ungkap Alimuddin.

Alimuddin juga menilai, negara juga telah melakukan pembiaran terhadap sengekta tanah yang ada di Sumut. Sehingga, mafia tanah bebas masuk. “Jangan salahkan kami, kalau nantinya masyarakat akan mengambil lahan itu dengan caranya sendiri,” tegas Alimuddin.

Karena Alimuddin membangkitkan semangat warga tani untuk tetap memasuki lahan. Membuat menejer PTPN 2 Tanjung Jati T Tampubolon berang. Sehingga, ia mencoba mengklarifikasinya. Alahasil, keduanya saling ‘serang’.  Namun beruntung, adu argument keduanya dapat dihentikan oleh Kades Tanjung Jati, dengan meminta T Tampubolon mengakhiri penjelasannya, mengingat waktu yang tidak cukup.

Usai pertemuan, ketua HKTI, Was Irawan, kepada Sumut Pos mengungkapkan, kalau lahan PTPN 2 Tanjung Jati, telah disewakan kepada pihak ketiga. Bahkan, menejer PTPN 2 Tanjung Jati itu, juga mendapat saham dari lahan tersebut. “Masyarakat Tanjung Jati hanya sebagai pekerja. Sementara yang memiliki lahan orang luar. Dalam sewa menyewa itu, untuk 1 Ha lahan dihargai Rp2,5 juta,” kata ketua HKTI Was Irawan.

Namun hal ini dibantah oleh menejer PTPN 2 Tanjung Jati, T Tampubolon, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya. “Kami memang ada kerja sama dengan pihak ketiga yang diberi nama Kerja Sama Operasional (KSO). Tapi semua itu diatur oleh Direksi PTPN 2 Tanjungmorawa. Yang jelas, PTPN 2 menerima 10 persen dari hasil sewa lahan itu, 90 persen untuk KSO. Uang itu langsung ke rekening PTPN 2, bukan kepada saya. Soal sewa menyewa lahan Rp 2,5 juta per Ha itu antara pihak ketiga dengan yang lain. Kami tidak tahu menahu soal itu,” bantahnya saat berada di kantornya. (dan)

Ratusan Karyawan Langkat Nusantara Kepong Mogok Kerja

LANGKAT- Seratusan karyawan di PT Langkat Nusantara Kepong (LNK) kebun Gohor Lama dan Tanjung Beringin, tergabung dalam Serikat Pekerja Merdeka (SPM) dan Serikat Pekerja Kebun (SP-BUN) rayon tengah mogok kerja, Senin (5/3).

Secara keseluruhan, karyawan menggelar mogok kerja berasal dari delapan area diduduki PT LNK yakni kebun Bukit Lawang, Marike, Bekiun, Tanjung Keliling, Besilam, Padang Brahrang, Gohor Lama dan Tanjung Beringin berkonsentrasi di kantor pabrik kelapa sawit kebun Gohor Lama. Marsudi memimpin Serikat Pekerja Merdeka (SPM), SP-BUN dipimpin Sarifin Sembiring serta perwakilan kebun lainnya dipimpin Korwil SP-BUN rayon tengah Bram Sembiring Meilala.

“Kita jangan mau menjadi TKI di negeri sendiri, karyawan ini manusia jangan diinjak-injak harga diri kami. Kita menuntut kesejahteraan karyawan karena saat kebun ini dikelola PTPN2 kesejahteraan karyawan sangat diperhatikan, setelah dikelola PT LNK semua kesejahteraan kami dihilangkan,” seru Marsudi didampingi Sarifin saat berorasi.

Ironisnya lagi, masih menurut mereka, lahan sawit sekitar 200 Ha masih produktif ditumbangi sehinga PKS tidak berproduksi karena minusnya TBS diolah membuat pendapatan karyawan berkurang.

Karenanya, Marsudi dan Sarifin mengajak karyawan bersatu merapatkan barisan bekerja sama dan sama bekerja memperjuangankan hak-hak normatif. Apabila dikenakan PHK bagi karyawan, secara keseluruhan harus siap namun dibayarkan  sesuai UU Ketenagakerjaan.

Sarifin menekankan, SP-BUN sejak 24 Februari 2012 sudak tidak bermitra lagi dengan perusahaan karena pihak perusahaan selalu mengambil kebijakan sendiri tanpa kordinasi dengan SP-BUN maupun SPM mengakibatkan karyawan rugi. Jika tuntutan karyawan tidak segera ditindaklanjuti, dijanjikan aksi serupa terus berlangsung sampai perusahaan mengabulkannya.

Aksi mogok dikawal kepolisian serta dihadiri perwakilan pihak Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) maupun Camat Wampu. sayangnya perwakilan menejemen PT LNK sebabkan mediasi yang coba dilakukan Disnakertrans gagal.
Kapolsek Stabat, AKP Zulkarnaen menjelaskan aksi mogok kerja berjalan tertib. (mag-4)

Pesta Ekstasi di Kafe, 20 Orang Ditangkap

KISARAN- Satu ruang KTV di Kafe C Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Kisaran Barat, Asahan digerebek polisi, Senin (5/3) sekitar pukul 00.30 WIB. Sebanyak 20 pengunjung kafe, dua di antaranya oknum polisi digelandang karena diduga menggelar narkoba jenis inex.

Keterangan yang dihimpun METRO (Grup Sumut Pos), penggerebekan berawal ketika polisi mendapat informasi adanya pesta narkoba di lokasi hiburan malam tersebut. Dipimpin Wakapolres Asahan, Kompol Budiman Panjaitan menuju lokasi. Personel langsung merangsek ke satu ruangan KTV.  Di tempat itu, polisi menemukan pengunjung sedang berjoget dengan alunan musik keras. Tak mau menunggu lama, polisi langsung menggelandang 20 pengunjung ke Mapolres Asahan.

“Acaranya lagi jalan. Kalau tak salah dengar, house music lagi diputar. Kami aja ketakutan,” ujar sumber.
Kapolres Asahan AKBP Yustan Alpiani membenarkan melakukan penggerebekan di satu kafe. Hanya saja, Yustan belum mau berbagi informasi mengenai diamankannya 20 pengunjung kafe. (sus/ing/smg)

Seorang Mahasiswa Gagal Perkosa IRT

MEDAN-Akibat tak kuasa menahan arus bawah, Chairizal Ali Manalu (28) mencoba memperkosa Noarita Rahatika br Nasution (26) di kamar mandi rumahnya Jalan Jati III, Gang Budi, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota.

Namun, niatan, aksi mahasiswa Institute Teknologi Medan (ITM) semester 9 itu dipergoki warga setelah korban berteriak minta tolong. Peristiwa tersebut terungkap saat Kapolsek Medan Kota, Kompol Sandy Sinurat memaparkan kasus itu, Senin (5/3) siang.

Noarita mengaku Senin (29/2) sekira pukul 17.00 WIB, dia akan memandikan anaknya yang berusia 3 tahun. Kebetulan saat itu Noarita bermaksud mandi.
Seperti orang mandi pada umumnya, Noarita melepas baju anaknya. Begitu juga dengan bajunya, hingga saat itu korban setengah bugil. Begitu masuk ke dalam kamar mandi. “Aku terkejut, soalnya pintu rumah ku kunci dari dalam, pas aku mau mandi dan baru mau buka baju tiba-tiba dia (Ali, Red) muncul dan langsung mencekik leherku dan menodongkan pisau kebagian leher, aku langsung berontak,” ujarnya.
Ali mengaku khilaf, saat melakukan itu tanpa ada pengaruh narkoba. (gus/smg)

Diduga Sakit, Tunawisma Ditemukan Tewas

LUBUK PAKAM- Adul Maringan Sihite (56), warga Jalan Krakatau, Tanjung Mulia, Medan, ditemukan tewas di dusun III, Desa Tanjung Morawa B, Kecamatan Tanjung Morawa B, tepatnya di Jalinsum Medan-Lubuk Pakam, Simpang Abunawas, Senin ( 6/3) pagi pukul 07.30 WIB. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya.

Sofian (29), warga yang pertama kali menemukan mayat tunawisma itu. Pagi itu ia hendak pergi berangkat kerja dan melihat sesosok mayat lelaki terbaring di pinggir jalan. Dia pun coba mendekatinya, serta mencoba membangunkan, tetapi tidak ada reaksi.

Atas temuan itu dia pun melaporkan kepada warga sekitar dan diteruskan ke Mapolsek Tanjungmorawa. Tak lama kemudian, petugas Polsek Tanjungmorawa tiba di lokasi, langsung melakukan identifikasi, selanjutnya diboyong ke RSUD Deliserdang.

Menurut keterangan, korban merupakan gelandangan yang kerap mangkal di salah satu warung kopi dan tempel ban yang tak jauh dari lokasi penemuan itu.
Terpisah, Kanit Reskrim polsek Tanjung Morawa, Iptu Adi Alfian, membenarkan penemuan sesosok mayat di Dusun III Desa Tanjung Morawa B. Setelah dialakukan pemerikasan, diduga kematian korban akibat mengidap satu penyakit. “Mayat kita boyong ke kamar istalasi kamar jenaza RSUD Deliserdang di Lubukpakam,” terangnya.(btr)

2 Bandar Sabu Tanjungbalai Dibui

MEDAN- Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut  meringkus dua orang yang diduga bandar sabu-sabu, yang kerap beroperasi di Tanjung Balai, Minggu (4/3) sekira pukul 12.00 WIB.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos di Markas Narkoba Polda Sumut, kedua tersangka yang diamankan bernama Ahmad Ali Sirait (31) warga Jalan Singosari, Kelurahan Gading, Kecamatan Datuk Bandar, Tanjung Balai dan rekannya Faisal Riza Damanik (32) warga Jalan S Parman, Kelurahan Pantai Burung, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Tanjung Balai.

“Benar, ada dua tersangka yang ditangka di Jalan Medan-Kisaran,  di Desa Sei Bejanggar, Batubara. Dari tangan kedua tersangka ditemukan barang bukti sabu seberat 92,23 gram, Hp serta satu unit senjata api merk P 230 Phanton. Semuanya disita untuk menjadi barang bukti,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Kombes Pol Anjard Dewanto, Senin (5/3).

Di  Mapoldasu, Ahmad Ali Sirait mengaku baru sebulan menjalani profesi sebagai kurir narkoba dan senjata api.
Hal itu dilakukannya untuk mencari uang tambahan.

“Aku hanya kaki untuk mengambil barang, dan aku hanya ngambil uang persen. Kalau ada yang mau beli aku bisa ngambilkan,” katanya.
Dia membeberkan, setiap jhinya (Gram, Red) upah yang diterimanya hanya 50- ribu rupiah. Sehingga, setiap sabu-sabu yang dibawanya bukan miliknya pribadi melainkan pesanan orang lain.

Ketika disinggung tentang senjata api yang diamankan petugas dari tangannya, Ali kembali menjawab hanya sebagai agen saja, sedangkan senjata api itu merupakan milik orang lain. “Senpi itu mau dijual Rp4,5 juta, bila sudah laku saya mendapatkan Rp500 ribu jika berhasil dijual,” katanya.
Lebih lanjut, ketika ditanyai mengenai siapa pemilik sabu-sabu serta senpi itu, Ali enggan memberikan jawaban apapun. Dirinya hanya diam saja.
Kini kedua tersangka beserta barang bukti sudah diamankan di Poldasu untuk pemeriksaan lebih lanjut. (mag-5)

Dapat Rp20 Ribu per Hari, Hidupi Suami Yang Sedang Sakit

Ibu Dua Anak Jadi Tukang Tambal Ban

Memasak untuk makanan keluarga memang biasa dikerjakan oleh kaum wanita, berbeda dengan ibu dua anak, Sabaria Daulay (45). Kerjanya memasak ban untuk ditambal demi mendapatkan Rp5 ribu rupiah per lubang.

SOPIAN-Tebing Tinggi

Di temui di Jalan Imam Bonjol, Lingkungan IV, Kelurahan Satria, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebingtinggi, Senin (5/3). Lokasi itu merupakan tempat prakteknya memasak ban untuk di tambal.

Sabaria yang masih memiliki suami dan dua anak itu membuka tambal ban di areal pertanahan milik PT KAI. Di atas tanah itu, Sabaria mendirikan rumah berdindingkan tepas, dan beratapkan atap rumbia.

Bermodalkan alat-alat kerja sederhana seperti gunting, obeng, tempat memasak tempel ban yang dibuat sendiri dari setrika bekas, mesin compresor udara yang sudah tua dan sering rusak. Walapun dengan alat sederhana, tapi tangan wanita itu trampil dan dengan mudah membuka ban sepeda motor selama dua menit dan menempelnya selama 10 menit.

“Yah untuk menempel dan masak ban ini hingga memasangnya, saya butuh waktu 15 menit saja,” ujar istri Harun (56).
Dia membeberkan, pendapatannya dalam satu hari tidak tentu, mulai Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per harinya. Rezeki itulah yang dimakankanya untuk keluarganya yang berjumlah 5 orang. “Anak saya ada dua, suami saya sakit dan ada satu keponakan saya tinggal di rumah ini,” katanya tersenyum.
Sabaria mengaku, kalau dirinya menambal ban ini sudah bisa sejak masa gadis dahulu. Ketika itu, orang tuanya membuka tambal ban dan dari orang tuanya itulah dia belajar cara menambal ban.

Istri Harun ini mengaku, dirinya terpaksa melakoni menambal ban dikarenakan suaminya yang dahulunya bekerja sebagai pengayuh becak dayung sedang sakit paru-paru akut. Akibat penyakit tak kunjung sembuh, suaminya hanya bisa terbaring di kamar tidurnya.
“Apa mau dibilang lagi, inilah kondisinya. Saya  terpaksa menutupi kebutuhan keluarga dengan menjadi tukang tambal ban warisan ilmu dari orang tua,” ceritanya.

Selama melakoni sebagai penambal ban, Sabaria menyebutkan, setelah kedua anaknya tamat sekolah, barulah anak-anaknya membantunya menambal ban. Sebenarnya, katanya dirinya enggan melihat anaknya menjadi penambal ban.

Tapi, dikarenakan anaknya, Putra (19) mengalami sakit pada mata karena kurang jelas penglihatannya, akibatnya tidak ada perusahaan yang menerimanya. Kini, kedua anaknya praktis menjadi tukang tambal ban.

“Terkadang peran saya sebagai seorang ibu, tapi saya juga sebagai seorang bapak, untuk istirahat tidurpun sering aku tak sempat,” kata Sabaria.
Anak kedua Sabaria, Putra mengaku, harus membantu ibunya bekerja siang malam, karena untuk bekerja di perusahan tak ada yang mau menerimanya karena memiliki mata rabun.

Kini, Sabria berharap kepada Pemko Tebingtinggi untuk membantu perobatan suaminya. Karena selama ini pengobatan hanya dilakukan di Puskesmas terdekat dan pengobatan secara tradisional. Namun, pengobatan alat medis rumah sakit tidak pernah dilakukannya karena ketiadaan biaya.
Seorang penambal ban, B Manurung (45) warga Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai mengaku salut dengan seorang wanita bisa melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki, penambal ban ini sudah cekatan  gesitnya membuka ban sepeda motor dengan cepat. “Yang penting pekerjaan itu halal,” ungkap Manurung. (*)

Hanya Nico

MEDAN- PSMS kini berada di Sorong Papua untuk melakoni laga away kontra Persidafon Dafonsor Besok (7/3). Ironis, PSMS tak memiliki striker dengan jam terbang tinggi. Satu-satunya pemain bertipikal striker tulen yang siap turun hanya pemain muda, Yoseph Nico Ostanika
Striker utama Osas Saha mendapat akumulasi kartu kuning, Arie Supriatna menerima hukuman kartu merah dan Choi Dong Soo dibekap cedera. Itulah faktanya.

Sebenarnya PSMS masih memiliki seorang striker lagi yakni Sigit Sudarmawan. Tapi, ia juga dibekap cedera pada awal musim saat melakoni laga uji coba melawan tim Divisi Utama ISL PS Gayo Lues, 30 Desember lalu. Saat itu PSMS masih ditangani Raja Isa dan anak-anak Medan dipecundangi di Stadion Kebun Bunga dengan skor akhir 0-2. Akibat cedera yang terjadi pada pertandingan itu, tulang lengan kanan Sigit patah. Dan hingga saat ini Sigit belum bisa memperkuat PSMS.

Harapan hanya pada Nico. Mantan pemain Bintang Medan kelahiran 1991 itu masih minim jam terbang. Melawat ke markas lawan tentu saja bakal berat baginya untuk mencetak gol.

Pasalnya, dari 14 kali laga yang sudah dilakoni PSMS baik kandang maupun tandang, Nico baru dipercaya Suharto sebanyak empat kali. Itu pun belum full time. Alasan mendasar Suharto tak menurunkan Nico dalam satu pertandingan penuh, tentu jam terbang yang masih rendah.

Mengetahui adanya perubahan taktik dan strategi yang bakal diterapkan pelatih, ia mengaku siap menjadi pilar utama dalam menambah pundi-pundi gol bagi PSMS. “Saya tahu, penyerang yang tersisa tinggal saya. Dan saya akan menjawab kepercayaan yang diberikan pelatih kepada saya,” ungkap Nico saat dihubungi Sumut Pos Senin (5/3).

Bertanding dalam kondisi tim yang bisa dikatakan cukup riskan, Nico mengaku kerap mendapat motivasi dari pelatihnya. “Coach terus memotivasi pemain dalam tiap sesi latihan. Ia berharap agar semua pemain tetap bisa bertanding dengan enjoy dan penuh percaya diri. Tak perlu memikirkan hal lain. Dengan begitu, kita bisa menampilkan performa yang lebih maksimal dalam pertandingan,” katanya.
“Saya dan teman-teman berjanji akan mempertontonkan kemampuan terbaik pada laga ini,” tambah Nico.

Ia juga berharap, dukungan dari masyarakat Kota Medan terus mengalir. Dan itu yang memang sangat mereka butuhkan saat ini. “Bukan hanya performa maksimal dari pemain di lapangan yang bisa menghasilkan kemenangan bagi PSMS. Tapi juga dukungan dari luar lapangan yang tak terhingga dari pendukung dan masyarakat Kota Medan,” tandasnya. (saz)

Badai Cedera Hantam Pro Duta

MEDAN- Kekalahan dari PSLS Lhoukseumawe Sabtu (433) lalu membuat Pro Duta Deli Serdang FC harus merelakan tampuk pimpinan klasemen Divisi Utama PSSI 2011/2012. Kesempatan untuk kembali menjadi pemuncak terbuka saat menjamu PSSB Bireuen di Stadion Baharoeddin Siregar, Jumat (30/3) mendatang.

Namun Kuda Pegasus terancam tampil tak lengkap. Beberapa pilar andalannya harus berkutat dengan cedera. Tiga diantaranya diperoleh dari laga keras kontra PSLS.  Adalah Abdelhadi Laakkad, Antonio Solde Villa dan Hardiansyah Lubis tiga nama yang dimaksud. Menambah daftar cedera yang sebelumnya diisi Tambun Naibaho.

Hardiansyah Lubis mengalami cedera pada siku kanannya. Sedangkan Laakkad menderita cedera di engkel kanannya. Antonio Soldevilla mengalami robek di dahi kanannya. Itu terjadi ketika ia berduel dengan pemain belakang lawan tanpa bola. Toni bahkan sempat dirawat di Rumah Sakit setempat.
Raut kesal masih ditunjukkan Pelatih Pro Duta, Roberto Bianchi jika mengingat kejadian saat laga. “Lawan main agresif dan keras. Permainan mereka sangat parah. Bahkan pemain kami Toni (Antonio) disikut pemain lawan, tidak sanksi dari wasit,” ungkap pria yang akrab disapa Beto usai latihan di Stadion TD Pardede, Senin (5/3) pagi.

Meskipun Beto menampik akan melaporkan hal ini ke Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) sebagai pengelola liga.  “Kita tidak akan laporkan soal wasit. Tapi lihat saja mungkin kita akan membalas perlakuan mereka di kandang nanti,” tandasnya.  (mag-18)

Target Realistis cuma Seri

DENGAN kondisi tim yang bisa dibilang nyaris amburadul, seri merupakan target realistis yang paling mungkin dicapai PSMS.
Suharto juga telah melakukan simulasi pada sesi latihan Senin (5/3) sore, dengan berbagai strategi dan taktik baru.

“Kita sudah simulasikan formasi yang bakal kita terapkan yakni 4-2-3-1. Formasi ini menjadi pilihan utama ketika kita dihadapkan dengan kondisi seperti ini,” ujarnya saat dihubungi awak koran ini Senin (5/3).

Praktis memang hanya tersisa empat pemain inti yang bakal diturunkan menghadapi tim berjuluk Gabus Sentani itu. Persidafon juga dianggap Suharto sebagai tim yang cukup luar biasa saat bermain di kandang. “Tinggal Novi, Wawan, Zulkarnain dan Luis Pena yang tersisa dari pemain inti. Bersama pemain lapis kedua yang sedikit banyak sudah sering diturunkan melakoni beberapa pertandingan, kita akan bersusaha memanfaatkan materi yang kita miliki ini untuk tetap mencuri poin,” tegas Suharto.

Namun, target curi poin ini tak ditanggapi berlebihan oleh Suharto. “Dengan materi yang ada, target kita tak muluk-muluk. Yang realistis, kita akan berusaha menahan imbang Persidafon di depan para pendukungnya. Dan itu akan cukup bagus,” katanya.
Sedikit banyak, Suharto tetap mengaku memiliki kans untuk mencuri poin, walau maksimal hanya satu poin. Karena menurutnya, sudah hampir rata pula pemain lapis dua PSMS diturunkan dalam beberapa pertandingan terakhir. Seperti Ledi Utomo, Rahmad, Ramadhan Syahputra, Alamsyah Nasution, M Antoni dan Yoseph Nico.

“Pengalaman bertanding mereka sangat memberikan pengaruh pada pertandingan nanti. Mudah-mudahan mereka bisa bermain fokus, konsisten dan tetap konsentrasi selama 90 menit pertandingan,” harap Suharto.

Ia juga mengharapkan dukungan penuh dari pendukung dan masyarakat Kota Medan. “Jangan lupa, bilangkan ke masyarakat Kota Medan, skuad PSMS sangat membutuhkan moril dan spirit untuk bisa menampilkan performa terbaiknya. Kita sangat berharap doanya,” tandasnya.
Adapun perkiraan pemain yang bakal diturunkan pada laga bentrok Persidafon yakni dengan formasi 4-2-3-1, Eddy Kurnia; Novi Handriawan, Ledi Utomo, Wawan Widiantoro, Rahmad; Ramadhan Syahputra, Zulkarnain, Alamsyah Nasution, M Antoni, Luis Alejandro Pena; Yoseph Nico Ostanika. Sedangkan cadangan adan Alrian Suhaibi, Eko Prasetyo, Zainal Anwar, Masrudin Al Massi. (saz)