30 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 13929

Pelaku Makan, Korban Sekarat di Dalam Mobil

Sidang Kasus Perampokan dan Pembunuhan Teller Bank BRI

MEDAN-Kasus perampokan dan pembunuhan terhadap teller Bank BRI Syariah Cabang Medan, Sri Wahyuni Simangunsong, kembali digelar di PN Medan, Rabu (29/2).

Sidang dipimpin Majelis Hakim, Agus Setiawan SH itu mendengarkan keterangan saksi Suherman, Eva Lestari Surbakti dan Ria Hutabarat dengan terdakwa Briptu Erwin Panjaitan.

Dalam keterangannya, saksi Suherman alias Embot mengatakan, dia ditelepon oleh tersangka Erwin untuk datang ke depan PDAM Sunggal. Suherman pun langsung datang untuk menemuinya. Setelah bertemu, mereka berangkat menuju Tanjung Sari. “Saya naik sepeda motor sementara Erwin, Eva dan Ria naik mobil korban,” kata Suherman.

Sementara saksi Eva Surbakti menjelaskan dia adalah teman dekat Ria (Istri Erwin).

“Saya ditelepon oleh Ria untuk datang ke rumahnya. Kami berangkat ke Tanjung Sari dan menuju Gundaling, Brastagi. Karena waktu telah malam, lalu kami istirahat dan makan nasi bungkus. Sementara korban kami tinggalkan di dalam mobil,” katanya. “Ketika itu, keadaan korban masih hidup, tapi di bajunya ada percikan darah. Lalu saya disuruh Erwin untuk melihat darimana datangnya darah itu. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan menuju Tele, Samosir,” katanya.

Saksi Ria Hutabarat, istri Erwin dalam kesaksiannya menjelaskan mereka bertiga pergi ke Berastagi. Di sana mereka mengambil sejumlah uang dari ATM BRI. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Samosir. Ria paling banyak mengatur di dalam perjalanan, karena Erwin mengemudikan mobil. Hakim mengundur sidang dengan agenda penjelasan dari saksi-saksi termasuk saksi mahkota. (rud/smg)

Sudah 2 Bulan Laporan Belum Ada Tindakan

085361311xxx

Pak Kapoldasu Yth kami telah membuat laporan ke Polresta Medan atas kasus pencabulan yang dilakukan seorang pria terhadap adik kami yang masih di bawah umur. Laporan kami sudah dua bulan lebih namun polisi belum juga melakukan pemanggilan terhadap tersangka. Kata Juper Polresta Medan, mereka masih menunggu hasil visum dari RSU Pirngadi Medan. Namun sudah dua bulan berlalu masih juga belum ada tindakan dari pihak kepolisian. Apa memang laporan kami orang miskin tak akan pernah diproses karena kami tak memberikan uang kepada polisi? Kami minta keadilan Pak, terima kasih.

Saya Konfirmasi

Ada beberapa kendala dalam penanganan kasus pencabulan. Apa ada saksi yang bersedia dan dapat langsung memberikan keterangan. Di samping hasil visum yang akurat dari rumah sakit. Saya akan konfirmasikan laporan ini dengan Kapolresta Medan. Terima kasih.

Kombes Pol Raden Heru Prakoso
Kabid Humas Polda Sumut

Setia Mendampingi ODHA

Dewi Sundari

Penampilannya sangat sederhana, namun gaya bicaranya yang ramah serta kepeduliannya terhadap orang lain menjadi nilai plus dan membuat orang nyaman bila berada disampingnya. Siapa sangka, kehidupannya tidak jauh dari orang-orang yang mengidap HIV/AIDS.

Dia adalah Dewi Sundari yang menjabat Direktur LSM SPKs (Sumatera Peduli Kesehatan). Sudah enam tahun lamanya wanita yang memiliki dua orang anak ini menjadi pendamping Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Banyak alasan kenapa Dewi memilih berkecimpung di dunia para ODHA.

Wanita kelahiran 10-10-1976 ini mengaku kepeduliannya terhadap dunia ODHA berawal dari 4 orang saudaranya yang mengidap HIV/AIDS pada 2006 lalu. Saat itu, Dewi sama sekali tidak mengetahui mengenai penyakit yang mematikan tersebut. Hingga selanjutnya 3 saudaranya meninggal dunia.
“Awalnya 3 orang adik ipar dan keponakan saya sakit-sakitan. Lalu mereka dibawa ke rumah mertua saya untuk menjalani perawatan. Karena nggak punya biaya, mereka hanya rawat jalan aja. Hati saya tergerak untuk merawat mereka. Ketiganya hanya dirawat sekadarnya saja bersamping-sampingan diatas tempat tidur,” jelas Dewi yang tinggal di Jalan Tg.Morawa tersebut.

Menurutnya, gejala penyakit yang dialami ketiga saudaranya tersebut seperti memiliki jamur didaerah mulut, diare berkepanjangan dan mengalami penyakit kulit. Beberapa kali, Dewi membawa ketiga saudaranya ke rumah sakit umum kawasan Tanjung Morawa. Namun karena tidak adanya konselor HIV/AIDS maka ketiga saudaranya diketahui menderita penyakit HIV/AIDS.

‘’Setelah kondisi dara saya semakin parah, kemudian dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan. Dirumah sakit itulah, diketahui kalau mereka mengidapHIV/AIDS.

Hanya 6 bulan mereka bertahan. Karena memang  sudah parah tidak bisa diselamatkan lagi,” ujarnya.

Selanjutnya, sepupu Dewi juga jatuh sakit karena mengidap HIV/AIDS. “Setelah tiga saudara saya tadi meninggal, kemudian menyusul sepupu saya juga mengidap penyakit yang sama. Mereka memang memiliki perilaku beresiko tinggi HIV/AIDS. Karena saya mulai mengetahui apa itu HIV/AIDS, bagaimana penularan dan pencegahannya, saya bisa merawat sepupu saya hingga dia bertahan hidup sampai sekarang,” jelasnya.

Dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan kasih sayang, Dewi pun terpanggil dan mulai membantu para ODHA. Pada 2007, Dewi bergabung dengan LSM SPKs. Hingga kini sudah 200 lebih ODHA yang menjadi dampingan Dewi. Namun, banyak yang nyawanya tidak terselamatkan akibat penyakit penyerta yang diderita ODHA semakin parah dan sudah kronis.

“Banyak ODHA yang tidak terima setelah tahu kalau mereka HIV/AIDS. Bahkan ada juga yang masih malu untuk membuka statusnya. Apalagi HIV/AIDS masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat yang awam terhadap penyakit itu,”sebutnya.

Padahal, sambungnya lagi, orang yang mengidap HIV/AIDS tidak semua kesalahan mereka. Misalnya, istri yang awalnya negatif, tapi setelah menikah dengan suami yang HIV/AIDS positif akhirnya tertular. Ada juga bayi yang tertular dari ibunya karena selama mengandung, si ibu tidak mengikuti PMTCT yaitu program khusus ibu hamil dengan HIV/AIDS.

Dewi bercerita, pernah suatu kali, dampingannya yang positif HIV/AIDS tidak terima dengan statusnya. Bahkan  mengancam bunuh diri jika memang terbukti didagnosa HIV/AIDS. ‘’Yang seperti ini sangat banyak ditemui. Butuh waktu yang lama untuk memberikan pemahaman kepada mereka,’’sebutnya.

Beruntung, keluarga tidak mempermasalahkan pekerjaan yang digeluti  Dewi. “Keluarga tidak pernah protes. Malahan, para ODHA sering datang kerumah dan main dengan anak saya. Saya nyaman dan senang bisa membantu para ODHA,’’sambungnya.  (mag-11)

IMM Gali Bakat Remaja Medan

Ikatan Model Medan (IMM)  yang terdiri dari para sosialita Medan ini kembali berkumpul untuk mengadakan acara pemilihan bakat untuk para anak muda Medan. Baik untuk remaja pria maupun wanita. Pemilihan bakat ini diadakan karena disadari, Medan memiliki segudang bakat, tetapi penyalurannya masih kurang.

Pemilihan  IMM Model Bintang Parfi 2012 yang diselenggarakan di Garuda Plaza Hotel (25/2) lalu ini diikuti sekitar 300 model. Dan para sosialita Medan, yang terdiri dari Shanti Devi, Cicik Fon, Andri, dan lainnya ikut meramaikan acara pemilihan ini. Pada kesempatan ini mereka tampil dengan baju warna senada. “Iya, kita sesuaikan, tahun lalu kan saat acara yang sama kita pilih merah, jadi tahun ini, kita pilih pink,” ujar Shanti Devi.

Berhubung pemilihan ini diadakan di Sumatera Utara, yang sangat identik dengan ulos, maka para sosialita ini menggunakan padanan kain budaya Batak ini sebagai bawahan. “Mau angkat nilai budaya, karena itu, seluruh anggota IMM, dan juga semua panitia menyertakan ulos,” tambah Shanti.

Rencananya ke depan, para pemenang dalam pemilihan ini akan dipromosikan untuk menunjang perfilman daerah. Apalagi acara ini juga didukung langsung oleh Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia). Sehingga, rencana dari sutradara Dedi Setiadi yang akan membuat film di Medan dengan judul “cinta, uang dan kekuasaan” dapat didukung langsung oleh talen daerah yang tidak lain adalah remaja Medan. “Acara pemilihan model ini kerjasama dengan Parfi, sehingga pemenangnya juga akan mendapat kesempatan setiap agenda Parfi,” ujar Ketua Panitia, Wempi.

Acara pemilihan IMM Model Bintang Parfi 2012 ini dihadiri oleh artis ibukota yang juga anggota Parfi, Elma Theana. Juga turut dihadiri oleh Plt Gubsu, Gatot Pudjo Nugroho, anggota DPR RI asal Sumut, Chairuman Harahap, dan anggota DPRD Sumut. (ram)

Musik Batak di Batak Night

MEDAN- PT Batak Nature menggelar pertunjukan musik bertema Batak Night setiap Jumat malam di lantai 26 Swiss-belhotel Medan.

Acara ini akan menyajikan hiburan berbagai lagu Batak, yang didukung oleh artis ibukota yang memiliki darah batak. Bahkan, dekorasi The View yang terletak dilantai 26 Swiss-belhotel ini juga akan mendapat sentuhan Batak.

“Tema tiap minggunya akan berubah, karena etnis Batak yang banyak, misalnya minggu ini Batak Toba, maka minggu depannya bisa Karo atau  Mandailing. Untuk mendukung acara, sentuhan Batak sangat kental, seperti pengisi acara yang memiliki darah batak, bahkan The View juga akan disulap sesuai tema,”ujar Direktur Utama PT Batak Nature, Paulina Ginting saat acara peluncuran Batak Night di The View SwissBell Hotel Medan, kemarin (28/2).
Untuk pembukaan Batak Night ini akan digelar 9 Maret mendatang dengan menampilkan Amigos. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai artis lain yang merupakan keturunan Batak.

“Banyak artis yang akan bekerja sama dalam Batak Night ini seperti Amigos, Judika, Victor Hutabarat, Jack Marpaung dan lainnya. Untuk pembuka akan menampilkan Amigos,” ungkap Paulina.

The View sendiri, merupakan salah satu lounge yang terkenal di Kota Medan. Lounge ini menyajikan musik yang bergenre jazz, sehingga sudah memiliki pangsa pasar terendiri. Batak Night merupakan penambahan pangsa pasar, sebagai buktgi bahwa The View terbuka untuk semua komunitas.
Director of Food and Beverange Grand Swiss-belhotel Medan, Guntoro Purnomo mendukung suksesnya acara ini Swiss-belhotel memberikan paket bagi tamu yang akan menginap.  (ram)

Chisora Dihukum, Haye tak Ingin Bertarung

LOS ANGELES – Petinju kelas berat Inggris, Dereck Chisora akhirnya dijatuhi larangan bertarung oleh dewan tinju dunia (WBC) perkelahiannya dengan mantan juara dunia David Haye.

Chisora dan rekan senegaranya, David Haye terlibat pertikaian saat konferensi pers usai kekalahan Chisora menghadapi Vitali Klitschko dalam perebutan gelar juara dunia kelas berat WBC di Olympiahall, Muenchen, dua pekan lalu.

Pihak WBC  menyebut tidak dapat menoleransi kelakuan Chisora. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai tindakan paling buruk dari  seorang petinju profesional. Sebelumnya mereka telah mencoret nama Chsora dari daftar peringkat penantang juara dunia versi WBC. Pihak WBC juga meminta Chisora menjalani terapi psikologi  pengendalian amarah. Chisora juga masih terancam berperkara dengan pihak kepolisian Jerman. Usai kekalahannya menghadapi Vitali, Chisora harus menjalani pemeriksaan oleh kepolisian Jerman menyangkut ancamannnya akan menembak Haye.

Sementara itu di tempat terpisah Haye mengatakan bahwa dirinya yang menjadi korban dan soal insiden pelemparan botol, Haye menyanggahnya mentah-mentah. “Dia mendatangi saya dan menghadap saya tepat di depan wajah saya.

Kemudian saya merasakan ada pukulan di wajah saya. Menurut anda, apa yang harus saya lakukan?,” tutur Haye membela diri.
“Lihat saja dari semua sudut kamera. Saya tidak punya pilihan. Saya bisa saja hanya terdiam dan membiarkan diri saya dipukuli, ditampar atau ditendang. Dia bahkan berteriak ingin mengalahkan saya dan menghancurkan rahang saya. Maka itu, kenapa saya tak boleh membela diri?,” tambahnya.
Lantas, beberapa hari setelah insiden tersebut, Chisora kembali ke muka media dan menyatakan permintaan maafnya atas kelakuan emosionalnya. Ketika awak media kembali menemui Haye dan menanyakan apakah Haye bersedia naik ring untuk balas dendam dengan ‘jalan resmi’, Haye sontak menolak.
“Jujur, saya tidak punya hasrat untuk melawan Chisora di dalam maupun di luar ring. Dia selalu kalah di tiga pertarungan terakhirnya,”  sindir The Hayemaker, sebagaimana dikutip Boxing Scene. (net/jpnn)

Sssst, Bawa Mobil ke Sekolah Dirazia

MEDAN-Pemko Medan bersama Satlantas Polresta Medan, Dinas Perhubungan (Dishub) Medan, Satpol PP Medan, Camat, Kapolsekta dan Danramil merazia kendaraan pribadi siswa di sekolah, Kamis (1/3) sekitar pukul 08.00 WIB. Selain itu tim juga akan menertibkan parkir kendaraan berlapis dan parkir di pasar.

“Tim terpadu sudah dibentuk untuk melakukan penertiban di beberapa titik lokasi yang rawan terhadap kemacetan akibat parkir berlapis, parkir kendaraan siswa di sekolah dan pasar,” kata kata Kadishub Medan, Syarif Armanysah Lubis, Rabu (29/2), usai audensi bersama Wali Kota Medan, Rahudman Harahap ke Kasat Lantas Polresta Medan. Dijelaskannya, beberapa titik lokasi yang khusus harus diamankan adalah kendaraan pribadi yang parkir di sekitar Jalan Imam Bonjol, tepatnya di Harapan Medan. (adl)

Apa Guru SLB Tidak Dapat Tunjangan?

085359768xxx

Kepada Sumut Pos mohon dipertanyakan kepada Kadis Pendidikan Provsu mengapa kami guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di lingkungan Dinas Pendidikan Provsu tidak memperoleh tunjangan Gubsu dan tunjangan guru yang belum tersertifikasi terhitung sejak 2011 sampai sekarang

Gaji Honorer Masih Belum Layak

085372247xxx

Mohon kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi untuk menindak lanjuti tentang dana BOS yang begitu besar diberi kepada sekolah-sekolah negeri terutama SMP kemana sebenarnya uang itu? kenapa Dinas Pendidikan Provinsi tidak memberi petunjuk tentang penggunaan dana BOS kepada para Kepala Sekolah (Kasek) sehingga mereka merasa dana BOS adalah milik mereka. Kenapa penggajian honorer di sekolah negeri masih tidak layak (Rp300 ribu per bulan)? Tolong Pak Saiful, dengarkan jeritan para honorer yang selalu ditindas para Kasek. Bapak pernah berjanji waktu rapat guru honor di Wisma Tama Pematang Siantar 2010 lalu, akan memperjuangkn nasib para honorer di sekolah negeri. Tolong Pak, kami percaya akan janji Bapak.

Tidak Ada Laporan Khusus

Tunjangan bantuan Gubernur semua diserahkan ke Kabupaten/Kota untuk disalurkan ke seluruh guru-guru. Sampai saat ini, Pemprovsu belum ada menerima laporan khusus bahwa tunjangan itu belum disalurkan ke guru-guru inkusi (Sekolah Luar Biasa). Tanpa laporan itu kita tidak bisa menindaklanjuti.

Perihal gaji honorer, kalau dihitung dari jumlah Rp300 ribu itu memang kecil. Tetapi perhitungannya berdasarkan jam mengajar tenaga honorer tadi sebesar Rp30 ribu per jam. Meskipun mereka hanya mengajar 45 menit tetap dihitung satu jam. Terima kasih.

Zakaria
Kepala Humas Pemprov Sumut

Nadila Ernesta Stop Main Film Horor

Nadila Ernesta bertekad ingin lebih mengembangkan kariernya di dunia layar lebar. Salah satu langkah awalnya, ia mulai berhenti bermain film horor.

“Nanti sampai tua kerjaannya cuma main film horor doang! Kan ingin nyobain yang nggak horor, komedi, drama, ingin bisa banyak jadi agak dipilih-pilih kali ya,” tuturnya saat ditemui usai tampil di acara ‘Bukan 4 Mata’ di Studio Trans TV, Jakarta, Selasa (28/2)  malam.

Sebelumnya, kekasih drumer Netral, Eno itu memang dikenal kerap membintangi film-film horor, seperti ‘Hantu Rumah Ampera’ (2009), ‘Kereta Hantu Manggarai’ (2008), dan ‘Hantu Jembatan Ancol’ (2008). Kini ia pun berharap bisa mendapatkan karakter yang berbeda.

Perempuan berumur 24 tahun itu pun kini tengah terlibat dalam sebuah film drama komedi. Sayangnya, dirinya enggan menjelaskan lebih lanjut perannya dalam film itu.

“Aku belum boleh cerita, cuma jatuhnya drama dan ada komedinya juga,”paparnya.
Soal hubungan cinta, kendati telah berpacaran dengan Eno selama empat tahun, namun  Nadila Ernesta belum juga dinikahi oleh penggebuk band Netral itu.

Mengaku tidak menargetkan kapan harus menikah, wanita 24 tahun itu lebih memilih memantapkan hubungannya dulu dengan Eno.
“Gini kan kalau mau serius kalau kita mau nikah seumur hidup satu kali ya, enggak mau cerai atau segala macam. Harus mencari yang terbaik buat kita dan umur itu enggak menjamin semuanya, kayak umur segini nih waktunya gue nikah nih. Tapi aku sama sekali enggak ada target,” jelas Nadila.
Kendati begitu, dirinya sudah membahas pernikahan dengan sang kekasih. Hanya saja, masih sebatas obrolan santai. “So far sih pasti ada ya, cuma enggak ada omongan yang serius. Belum,masih santai banget kok,” ujarnya.

Selain mereka berdua, pihak keluarga juga santai menghadapi hubungan. Mereka belum menanyakan keseriusan hubungannya dengan Eno.
“Kalau belum ada apa-apanya dari akunya ya enggak bakalan ditanyain,” tutupnya. (net/bbs)

Akomodir Keluhan Perawat

PPNI Sumut Beri Masukan ke Panja RUU Keperawatan

MEDAN- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sumut banyak memberikan masukan kepada Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Keperawatan Komisi IX DPR RI saat berkunjung ke Sumut, beberapa waktu lalu. Harapannya UU Keperawatan yang kini dibahas akan mengakomodir semua keluhan masyarakat.

Ketua PPNI Sumut Evi Karota mengatakan perawat sudah banyak berperan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Namun peran perawat tersebut tidak pernah diperhatikan apalagi dihargai secara khusus sebagai bagian dari upaya nasional.

“Perawat sangat dibutuhkan selagi ada masalah dalam pelayanan kesehatan tetapi sering ditinggalkan dalam penetapan kebijakan kesehatan baik lokal maupun nasional. Perlindungan terhadap perawat yang melakukan pelayanan kesehatan sangatlah lemah yang berarti juga lemahnya perlindungan pada masyarakat yang mendapat pelayanan perawat,” jelasnya.

Evi Karota yang juga Pembantu Dekan II Fakultas Keperawatan USU ini melanjutkan saat ini tak terbantahkan dengan kedekatan perawat dengan masyarakat, maka secara tidak langsung perawat telah melayani masyarakat sampai pada kondisi dan daerah yang paling perifer dengan segala keterbatasan. Tapi di sisi lain perawat sering dianggap dan dituduh melanggar hukum dan tidak sedikit yang diciduk bahkan ditangkap.
“Perlakuan tidak adil terhadap perawat harus dihentikan agar perawat Indonesia dapat berkontribusi lebih banyak lagi untuk melayani masyarakat dengan tetap terjamin perlindungan dan kesejahteraannya,” katanya memberi saran.

Selain itu sambung Evi Karota perawat adalah tenaga kesehatan terbanyak dengan keilmuan yang cukup luas sehingga perlu diberi kesempatan untuk melayani pasien sesuai dengan keluasan keilmuannya.

Evi Karota menyebutkan banyaknya persoalan sosial dalam keperawatan akan mempengaruhi kualitas praktik/pelayanan  keperawatan saat ini antara lain kompetensi yang dimiliki perawat belum diimbangi dengan kewenangan yang tegas sesuai dengan kompetensi tersebut.

“Di masyarakat perawat adalah potensi luar biasa yang belum termanfaatkan oleh Negara, yang mana saat ini kita sedang menghadapi tingginya angka Kematian Ibu dan Bayi, Pencapaian MDGs, yang sebenarnya Perawat mampu melakukan itu dengan difasilitasi oleh pengaturan yang kuat dalam bentuk UU keperawatan,” sambungnya lagi.

Ditambahkan Evi Karota UU keperawatan akan berdampak pada peningkatan kualitas praktik perawat yang dapat dilihat dari indiikator kepuasan pasien dilayani secara paripurna, menurunnya infeksi nosokomial, angka kesalahan obat, dan dapat menurunkan masa rawat yang sangat menjadi sorotan di dunia perasuransian saat ini. (*/dra)