26 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 13940

Madrid dan Barca Rebutan Sturridge

MADRID- Kubu Real Madrid dan Barcelona akan bergerak mengejutkan pada bursa transfer musim panas 2012. Rival bebuyutan itu memperebutkan striker potensial Chelsea Daniel Sturridge.

Menurut Electrocampista, striker muda The Blues, Daniel Sturridge, akan menjadi target transfer mengejutkan El Real dan Barca. Striker berdarah Jamaica ini cocok dengan rencana regenerasi Madrid dan Barca.

Kontrak striker 22 tahun ini di Stamford Bridge akan selesai pada Juni 2013. Jika tak memperpanjang kontrak, Chelsea diyakini akan menjual Sturridge kepada klub lain dengan harga yang cocok.

The Blues terancam kehilangan Sturridge tanpa mendapatkan sepeser pun sesuai aturan Bosman jika tak menjualnya paling lambat pada bursa transfer musim dingin 2013. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda The Blues memperpanjang kontrak.

Menurut koran Inggris, Daily Star, dua tim raksasa Spanyol itu siap memberikan tawaran pada musim panas nanti senilai 26 juta euro. Padahal, harga Sturridge di bursa transfer ditaksir hanya sekitar 17 juta euro.

Sturridge berkostum Chelsea sejak 2009 setelah direkrut dari Manchester City. Sejauh ini, ia telah mengemas 20 gol dalam 70 penampilan bersama The Blues.(net/jpnn)

Olga – Jessica Serius Pacaran, Tak Buru-buru Nikah

Keseriusan hubungan asmara antara Olga Syahputra dan Jessica Iskandar semakin kentara, setelah keduanya mengaku bersama-sama bertemu dengan orang tua Jessica.

“Kemarin saja bapaknya Jessica waktu di mall mau ketemu sama Olga. Olga serius, kalau dianya serius,” ungkap Olga Syahputra saat ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (28/2)

Namun Jessica menegaskan kalau hubungan mereka sementara waktu hanya pacaran. Saling menjajaki dan mencoba mengenal satu sama lain, belum akan memikirkan rencana menikah. Keinginan Olga untuk segera menikah, sementara waktu ditangguhkan terlebih dulu.

“Pacaran dulu….Biar Kak Olga saja yang ngomong, kan dia cowoknya. Maunya pacaran dulu, sampai siap, baru boleh ngelamar,” ungkap Jessica tersenyum.
Hal ini sekaligus menjawab hubungan Olga dan Jessica yang konon sekedar gosip belaka. Mereka mengaku serius dan jika berjodoh akan menuju jenjang pernikahan.  (kpl/net)

Tak Lagi Lucu Aksi Billy Crystal sebagai Host Oscar

LOS ANGELES – “Ayo bangun, kami sudah siap menyambutmu di rumah,” ucap George Clooney, menatap sosok yang terbaring koma di atas tempat tidur rumah sakit. Alih-alih seorang istri dalam sekuel awal film The Descendants, sosok itu ternyata Billy Crystal. Clooney pun menciumnya dalam-dalam. Seketika Crystal membuka matanya dengan jenaka dan bertanya, “Apakah ini di vila” George, ayo bikin pasta.”

Pelesetan dari The Descendants itu menjadi opening Academy Awards sekaligus kiprah Crystal yang kesembilan sebagai host. Aksi mesranya bareng Clooney plus monolog khas stand up comedian sukses mengocok perut audiens. Agaknya, kerinduan insan film atas guyonan spontan Crystal nan natural terobati.

Sayang, hanya pada sesi-sesi awal audiens terhibur oleh aksi komedian 63 tahun itu. Malam Oscar mampu memberi kesan begitu klasik, berkelas, sekaligus lucu. Namun, setelah lewat beberapa sesi, tampak tanda-tanda Crystal mulai kehabisan ide. Alhasil, bukan lucu lagi, candaan yang dilontarkannya cenderung rasis.

Misalnya, saat dia berkomentar tentang Olivia Spencer yang memenangkan Oscar untuk Aktris Pembantu Terbaik lewat film The Help. “Setelah nonton The Help, saya cuma ingin memeluk perempuan kulit hitam pertama yang saya temui. Toh, hanya perlu menyetir 45 menit dari Beverly Hills,” ucapnya
Sebelumnya, dalam montase film, dia nongol dalam Midnight in Paris, berperan sebagai Sammy Davis Jr, dengan wajah dicat hitam. Meski sudah pernah membawakan joke serupa, kali ini aksi Crystal dinilai keterlaluan. Beberapa selebriti menumpahkan kecaman melalui Twitter.

“Kemenangan Octavia Spencer rasanya menyelamatkan acara ini setelah Billy Crystal tampil dengan wajah menghitam,” tulis aktor dan komedian AS Paul Scheer, seperti dilansir Daily Mail. Sementara itu, model Coco Rocha menulis dengan nada sinis, “Saya tidak tersenyum sedikit pun sejak Billy Crystal menyanyi, saat semua audiens sedang menikmati malam terbaik mereka! Ada yang salah dengan saya?”

Bukan hanya sesama selebriti, penikmat film pun memanfaatkan jejaring sosial untuk melancarkan kritik kepada mantan pemandu Saturday Night Live tersebut.

Terlepas dari guyonan rasisnya, banyak yang menganggap Crystal tidak lucu lagi. Beberapa candaannya tidak nyambung dan cenderung tidak peka. Misalnya, saat dia menggunakan dua aktor senior Christopher Plummer dan Max von Sydow, yang keduanya berusia 82 tahun. “Tahun depan tempat ini bakal berubah nama jadi teater Flomax,” ucapnya.  Aksinya sering kalah lucu jika dibandingkan dengan beberapa presenternya.

Misalnya, Emma Stone yang membacakan pemenang bersama Ben Stiller. Tanpa ragu, dia menunjukkan ekspresinya yang begitu gembira karena mendapat kesempatan menjadi presenter.  Duet Cameron Diaz dan Jennifer Lopez juga menarik. Mereka beraksi membelakangi panggung, menunjukkan gaun backless yang dikenakan sebelum akhirnya berbalik, tertawa, dan mengumumkan pemenang Kostum Terbaik. Tingkah unik juga ditunjukkan pasangan dalam film Iron Man, Robert Downey Jr-Gwyneth Paltrow. Mereka bertengkar persis seperti di Iron Man.

Ketika Paltrow mengucapkan narasi dan Downey langsung menyela, “Membosankan”. Paltrow marah, menarik kerah Downey, dan bilang: “Aku kehabisankesabaran,’’.  (na/c6/ayi/jpnn)

Kenali Gejalanya Sejak Dini

Tangani Penderita Autis

Orangtua harus memperhatikan tumbuh kembang anak sejak dini. Karena bukan tidak mungkin anak mengalami masalah koordinasi motorik yang mengganggu prestasi akademik dan personal sosialnya. Untuk itu, intervensi dini sangat dibutuhkan karena masalah perkembangan anak akan sulit ditangani seiring bertambahnya usia anak.

“Anak semakin pasif, kurang bermain, bergerak, berinteraksi dan muncul berbagai macam keterlambatan. Ini termasuk gangguan perkembangan koordinasi gerak atau Developmental Coordination Disorder (DCD) atau biasa disebut dengan anak autis. Kondisi seperti ini ditandai dengan lemahnya kualitas otot tubuh secara keseluruhan,” kata Konsultan dan Praktisi Anak Berkebutuhan Khusus, Tri Budi Santoso dalam Seminar Pengaruh Koordinasi Motorik Terhadap Kemampuan Akademik Anak di Medan Club baru -baru ini.

Menurut Tri Budi Santoso, anak dengn DCD sering memperlihatkan performace yang bervariasi. DCD juga sangat berpengaruh pada fisik, sosial dan kesehatan emosi anak. “Misalnya anak sering terlihat lemah, geraknya lamban, kesulitan mengerjakan aktifitas sehari-hari, tidak suka duduk dilantai karena cepat capek dan keseimbangan duduk nya jelek,” jelasnya.

Dijelaskannya dampak DCD yaitu  anak sering mengurung diri, pasif tidak mau beraktifitas, perilaku menarik diri dan motivasi dalam belajar sagat lemah. Bahkan jika tidak ditangani dan mendapatkan terapi sejak dini maka kondisi tersebut akan berlanjut hingga remaja. Pada penelitian jangka pajang, anak yang didiagnosis DCD pada umur 15 tahun, sekitar 46 % tanda dan gejala DCD masih ada hingga usia 25 tahun.

“Biasanya DCD mulai terlihat saat anak berusia 6 tahun. Obat khusus pada anak yang mengalami DCD belum ada. Maka sebagai orangtua perkembangan anak harus diperhatikan. Anak DCD yang disertai kondisi penyakit atau syndroma yang lain diberikan intervensi sesuai tanda dan gejala yang ada seperti terapi bermain dengan bimbingan orangtua,” ungkapnya.

Namun, tidak semua aktifitas keseharian menjadi hambatan bagi anak dengan DCD. Peran orangtua sangat penting dengan memberikan dorongan pada anak untuk berpartisipasi pada semua aktifitas. Selain itu intervensi dini akan membuahkan hasil yang lebih baik. “Jangan malu jika anak mengalami gangguan perkembangan koordinasi gerak. Sebaiknya cepat tangani dengan memasukkannya ke sekolah berkebutuhan khusus,” urainya.

Sementara, Sekretaris FMPA (Forum Masyarakat Peduli Autis)  Sumut, Vita Lestari Nasution mengatakan seminar yang bekerjasama dengan Sakai Morrisons School dan FP5A (Forum Pemerhati dan Penulis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Sumut tersebut diharapkan memberi manfaat terhadap orangtua agar mampu mendidik dan membina anak-anak mereka yang  berkebutuhan khusus.  (mag-11)

Cok Bongak, Wajah Medan dari Pinggiran

Oleh:
Hidayat Banjar

Tak gampang memotret Medan yang begitu heterogen. Beragam etnis berbaur di Medan. Secara umum, Medan dapat dilihat dari dua perspektif: elit dan pinggiran. Keduanya memiliki khas tersendiri. Kalau orang-orang elit bergunjing di lobi-lobi hotel, kafe-kafe mewah. Sedangkan orang-orang pinggiran bergunjing dari warung ke warung, rumah ke rumah dan kafe-kafe murahan.

Dari perspektif yang kedua inilah agaknya Cok Bongak ‘dilahirkan’ oleh Dayon Arora dan kawan-kawan. Ya, Dafi Film Medan yang berdiri sejak 2011 menggarap film serial komedi bertajuk Cok Bongak melalui kacamata orang-orang Medan pinggiran.

Menurut Budaya Makmur alias Dayon Arora, Direktur Dafi Film, ketika bertemu dengan penulis, baru-baru ini di kantornya, Jalan Brigjen Katamso, Gang Darul Aman Medan, film ini merupakan produksi pertama mereka.

Kata Dayon, awalnya bincang-bincang santai, Abdul Azis Lubis menyarankan agar menggarap cerita khas Medan. Lalu, Budaya Makmur alias Dayon Arora pun sebagai produser mempercayakan penggarapan naskah sekaligus penulis skenario kepada Yan Amarni Lubis.

Selain yang menggagas, Azis juga dipercaya sebagai penata kamera sekaligus cameraman dan editor bersama Puli Ansari Lubis dan Ismail Hasibuan. Sedangkan penata art audio dipercayakan kepada Udjang D’jai.

Cok Bongak ini keseluruhannya ada 14 episode. Yang telah tergarap tiga episode. Pada episode Menggunjing dalam Lipatan mengisahkan tentang Sanana (Eva Gusmala Yanti) bermaksud mengadu nasib di kota. Sebagai batu loncatan, ia bermukim dan menimba pengalaman dulu di sebuah desa pinggiran kota.

Sutradara film ini dipercayakan kepada Yan Amarni Lubis, salah seorang tokoh Teater Nasional (Tena). Menurut Yan Amarni Lubis, ini merupakan pengalaman pertamanya menyutradari film.

Seting cerita di desa yang dikenal sangat damai, sejuk, dan nyaman. Tenteram, adem, anyem. Karena itulah barangkali desanya diberi nama Desa Suka Terendem.

Namun apa yang terjadi? Kehadiran Sanana di desa itu belakangan dicibir banyak kaum ibu. Gaya dandanan kota yang coba-coba disandangnya, berbuntut gunjingan. Ibu-ibu warga desa menuduh dia mau TePe, alias tebar pesona.

Korban Gunjingan
Tok Dayon (Dayon Arora), warga ‘karatan’ desa setempat tak luput jadi korban gunjingan. Karena, beberapa hari belakangan itu Sanana selalu mampir dan ngobrol dengan Tok Dayon, di gubuk kopi milik lelaki parobaya itu. Dan di gubuk kopi itu pulalah si Ucok, alias Cok Bongak selalu nongkrong, lengkap dengan sejuta khayalnya.

Cok Bongak (Andy Mukly juga dari Tena), pun warga asli desa setempat. Mengaku pada semua orang kalau dia itu wartawan. Kadang lajang karam itu tak segan berlagak dirinya sebagai seorang pengusaha. Eh, belakangan baru ketahuan, yang dimaksud dengan pengusaha itu rupanya akronim dari pengangguran suka berleha. Tak heran kalau warga desa memberi embel Bongak di belakang namanya. Bongak, sudah barang tentu bermakna dengan hal-hal tak sedap. Belagak, sok, besar cakap, lantam, mentiko.

Akibat ulah Cok Bongak, yang menyebarluaskan rekayasa foto mesra Tok Dayon dan Sanana, bahtera rumah tangga Tok Dayon sempat oleng. Suasana itu, diperparah lagi dengan gunjingan ibu-ibu warga desa, dimotori Mak Gontar (Cici  Saja) dan Murkana (Duma Sari Nasution). Tok Dayon difitnah ada ‘maen serong’ dengan Sanana. Untung Biyah (Linda Djalal), salah satu ibu warga desa,  tak mau ikut campur urusan rumah tangga orang, hingga ia luput dari datangnya ganjaran.

Akhirnya, siapa yang menabur angin, dialah yang menuai badai.

Film Komedi Serial, yang cerita dan skenarionya ini ditulis oleh Yan Amarni Lubis, dan mengambil keseluruhan lokasi  di seputar Marindal, Patumbak, Deli Serdang. Sebahagian besar di sebuah lahan milik seorang aktivis pemuda daerah setempat yang akrab dipanggil Bang Jonjok.
Seperti diketahui, Yan Amarni Lubis adalah seorang aktor teater, sinetron dan film yang sudah sangat dikenal di Medan maupun Indonesia. Dengan pengalaman puluhan tahun sebagai pelakon di pentas teater maupun layar kaca, kali ini ia ingin merambah ke dunia penulisan cerita atau skenario dan penyutradaan film.

Menurutnya, belajar kan jauh lebih banyak bagusnya, ketimbang cakap-cakap saja. Dan, keputusan yang diambil Yan ini pun, didukung oleh kawan-kawan, terutama yang terlibat langsung dalam pembuatan film.

Selama puluhan tahun ini dia hanya sebagai pemain, baik di teater mau pun di sinetron, serta beberapa layar lebar. Ternyata, menurutnya, asyik juga menjadi sutradara.

Diperkirakan, dari pra produksi, hingga selesainya film ini dalam bentuk hasil jadi, memakan waktu lebih dari setengah bulan.

Patungan

Film yang digarap teman-teman ini, biaya didapat dari patungan dan bantuan orang-orang yang peduli. Mereka mau bersusah payah menggarap film karena film memberi multi efek proyek. Sebuah survey mengatakan banyak orang Indonesia tertarik ke Thailand karena menonton film James Bond yang lokasi shootingnya di pantai Pukhet. Untuk Indonesia, kita ramai-ramai ke Belitung, tidak lain karena buku dan film “Laskar Pelangi”. Pariwisata Belitung meningkat 800 persen.
Dalam pada itu, pengakuan Yan Amarni Lubis dalam suasana kerja pembuatan film inilah, pihaknya betul-betul dapat merasakan, film tidak hanya sebagai media ekspresi seni atau budaya semata, tapi merasuk menjadi pembentukan karekter diri. Di dalam proses pembuatannya, warga-warga desa sekitar begitu antusias memberikan kontribusinya dengan ikhlas dan penuh kekeluargaan, hingga mereka terkonsentrasi untuk memperoleh peningkatan pengetahuan tentang perfilman.
Bravo insan film Medan. Semoga langkah yang baik ini, jadi tonggak awal kebangkitan film Sumut (Medan) seperti tahun-tahun 70-an ke bawah. Amin.(*)

*Penulis adalah Peminat Masalah Sosial Budaya Menetap di Medan

Tekuni Bisnis Aksesoris

Raisa Fitri, Pilihannya untuk Berwirausaha

MEDAN – Untuk memulai bisnis tidak harus dengan modal besar. Asal ada kemauan dan kreatifitas yang tinggi, maka usaha kecil-kecilan dapat menghasilkan untung yang besar.  Berawal dari ketidakinginannya menjadi karyawan maka Raisa Fitri atau yang kerap disapa dengan Icha kelahiran, Lhokseumawe, 30 April 1988 ini mulai berfikir untuk membuka bisnis aksesoris wanita.

Aksesoris yang dihasilkan alumni 2010 Komunikasi Fisip USU ini beragam,. Mulai dari cincin, kalung, gelang, kerabu serta bross jilbab. Bahkan bahan yang digunakan untuk merangkainya tidak sembarangan, yang terpenting kepuasan konsumen diatas segalanya.

“Bahan-bahannya didatangkan dari Jakarta karena kualitasnya lebih bagus. Seperti kristal, mutiara, sintetik, batu, kawat, motte, swarovski crystal, dan sebagainya. “Lalu tinggal merangkainya saja dengan alat-alat seperti tang kecil dan gunting yang dibentuk sedemikian rupa,” ujar Icha saat ditemui di Mini Galeri Lovely Beads miliknya di Komplek Bumi Asri Blok E-69 Jalan Asrama Medan, belum lama ini.

Bahkan, kata Icha, konsumen dapat menentukan langsung model seperti apa yang disuka serta memilih bahannya. Untuk itu, konsumen juga terhindar dari pemakaian barang yang sama. “Jadi bisa dipesan, seperti kalung, konsumen mau bahannya apa aja, modelnya seperti apa, nanti saya yang merangkainya. Jadi, konsumen tidak perlu takut, kalau kalung yang dipakainya sama dengan milik orang lain,” ujarnya.

Untuk promosi, Icha memanfaatkan dunia facebook. Bahkan promosi melalui jejaring sosial ini tidak main-main, Lovely Beads sudah dikenal hingga Aceh dan Surabaya. Tak jarang warga negeri seberang juga memesan aksesoris buatan Icha.

“Awal merintisnya pada Oktober 2010. Setelah menamatkan kuliah, saya berfikir bisnis apa yang bisa dijalankan dengan modal sedikit.  Lalu saya lihat mama suka mengoleksi aksesoris wanita. Terus  saya belajar di Jakarta gimana cara membuatnya. Ternyata saya bisa, ‘’ terangnya.
Dengan modal pinjaman dari orangtua, Icha pun nekat membuka usaha mini galery nya. Dalam perharinya, Icha bisa membuat 5 sampai 10 aksesoris tergantung bahan dan kerumitan aksesoris yang akan dibuat.

“Soal model aksesoris, biasanya di searching melalui internet lalu dimodifikasi dengan unik. Bahkan tak jarang saya terinspirasi dengan pelanggan yang datang. Kalau harga aksesoris masih terjangkau dari Rp 3 ribu hingga Rp 200 ribu,” urainya lagi.
Seiring perkembangan usa hanya, Icha, mulai belajar untuk memanajemen  usahanya agar lebih baik.  (mag-11)

Sosialisasikan Sistem Pendidikan

MPPB Al Washliyah Gelar Rakernas I di Jakarta

MEDAN-Majelis Pendidikan Pengurus Besar (MPPB) Al Jam’iyatul Washliyah akan melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I dan Sosialisasi Sistem Pendidikan Al Washliyah selama tiga hari, yakni Jumat (2/3) sampai Minggu (4/3) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.
Rakernas dan sosialisasi tersebut rencana dibuka oleh Menteri Agama RI Suryadharma Ali.

Ketua MPPB Al Washliyah Drs H Ismail Effendi, M.Si kepada wartawan mengatakan, Rakernas dan sosialisasi yang diselenggarakan MPPB Al Washliyah ini adalah hasil keputusan Rakernas I Al Washliyah tanggal 14 – 15 Oktober 2011 lalu.

“Rakernas MPPB Al Washliyah ini akan diikuti 500 peserta yang terdiri dari ketua, sekretaris, serta ketua-ketua bidang MPPB Al Washliyah dari tingkat provinsi dan daerah. Ikut juga para rektor dan wakil serta kepala-kepala sekolah,” kata Ismail Effendi kepada wartawan, pekan lalu di Medan.
Rakernas yang bertemakan ‘Mewujudkan Kemandirian Lembaga Pendidikan Al Washliyah yang Profesional dan Modern’ ini, lanjut Ismail, adalah bukti MPPB Al Washliyah untuk kemajuan pendidikan yang bernaung di bawah Organisasi Al Washliyah. “Ini merupakan partisipasi Al Washliyah dalam
memajukan bangsa melalui pendidikan,” katanya didampingi Ketua Panitia Prof Dr Ilmi Abdullah, MSc, Sekretaris panitia Drs Akmal Samosir dan Bendahara H Khairuddin Syah.

Saat ini, lanjutnya, MPPB Al Washliyah adalah satu-satunya lembaga dalam organisasi Al Washliyah yang berwenang untuk mengelola dan melaksanakan segala kebijakan tentang pendidikan Al Washliyah. “Pada Rakernas I Al Washliyah Oktober 2011 lalu sepakat bahwa, badan hukum penyelenggara pendidikan Al Washliyah adalah organisasi Al Washliyah, dalam hal ini adalah MPPB Al Washliyah sesuai No Keputusan 070/PB-AW/XX/XII/2011,” imbuhnya.

Menurutnya, apa yang dikelola Al Washliyah ini adalah aset umat. Dalam mengelola aset ummat ini, katanya lagi, perlu memiliki hubungan yang struktural yang jelas dan tegas dengan seluruh lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di seluruh jajaran Al Washliyah.
“Makanya perlu dibentuk sistem yang mengkoordinir usaha-usaha organisasi ini yaitu MPPB Al Washliyah. Ini semua aset umat yang dikelola oleh Al Washliyah, jadi mari kita bersama-sama menjaga aset umat ini. Jangan aset ummat ini diarahkan atau dijadikan aset pribadi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Rakernas I dan Sosialisasi Sistem Pendidikan Al Washliyah Prof Dr Ilmi Abdullah, MSc menambahkan, dengan Rakernas ini diharapkan agar kedepan sistem pendidikan Al Washliyah bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan visi dan misi Mendikbud dan sesuai dengan karakter Al Washliyah yakni menuntu keprofesionalan dan modern, namun tetap pada berakhlakul karimah.  (*/ila)

Sampah di Pasar Sukaramai

MEDAN-Sampah di Pasar Sukaramai Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area ditangani khusus dari pagi hingga malam hari. Itu diberlakukan mengingat banyaknya sampah di Pasar Sukaramai.  “Pagi kita mengangkut sampah mulai pukul 07.00 WIB, kemudiaan siang hari pukul 13.000 WIB, serta malam hari mulai pukul 20.00 WIB,” kata Camat Medan Area, Khoiruddin Rangkuti SE, S.Sos kepada wartawan Sumut Pos di ruang kerjanya Jalan Rahmadsyah Medan, Selasa (28/2).

Mobil Dinas Kebersihan digunakan sebagai sarana transportasi untuk mengangkut sampah dan untuk patroli kebersihan. Dinas Kebersihan ini dibantu petugas kebersihan dari Pasukan Melati. “Untuk Pasukan Melati bekerja mulai pukul 06.00 WIB membersihkan Pasar Sukaramai,” terangnya.
Disamping tumpukan yang ada di Pasar Sukaramai, kata Khoiruddin,  juga memberikan perlakuan khusus bagi Kelurahan Sukaramai dengan cara mengangkut sampah yang ada di Gang Langgar.

“ Kalau untuk Gang Langgar telah dilakukan sebelumnya pada tanggal 4 Februari 2012 lalu, di mana kita melakukan pengangkatan sampah dari selokan drainesa, sehingga drainase berjalan lancar dan tidak banjir,” jelasnya.

Khoiruddin juga berharap kepada warganya agar tidak membuang sampah sembarangan, seperti membuang sampah ke lahan kosong atau drainase.
“Mari kita menjaga kelestarian dan keindahan Kecamatan Medan Area ini, dengan tidak membuang sampah sembarangan,” serunya.(omi)

Polisi Sebar Foto Penikam Pengusaha Perabot

Berangkat Usai Ajak Anak dan Istri Jalan-jalan

MEDAN-Sudah sepekan polisi belum juga behasil menciduk pelaku penikam pengusaha perabot Ahok alias Alex alias Petrus (70), yang tewas dengan luka tikam di rumahnya Jalan Dahlia, Komplek Cemara Asri Medan.

Untuk menangkap pelaku berinisial G (35), warga Jalan Kawat II Medan Deli, polisi mengerahkan seluruh anggota dan membentuk tim khusus. Polisi juga menyebarkan foto pelaku saat menikah dengan istrinya.

Polisi sudah melakukan pengejaran di kawasan Medan Utara seperti Tajung Mulia, Kota Bangun hingga ke Belawan, namun petugas belum juga bisa membekuk pelaku.

Kapolsekta Percut Seituan Kompol Maringan Simanjuntak mengatakan, terus melakukan pengejaran terhadap ayah bapak satu anak itu.
Maringan mengimbau masyarakat yang mengenal atau mengetahui keberadaan pelaku untuk segera melaporkan ke polisi terdekat agar ditangkap.
Selain melapor ke polisi warga yang melihat keberadaan pelaku bisa menghubungi nomor Kapolsekta Percut Seituan 08126086669. Sebelumnya polisi sudah melakukan pemeriksaan terhadap 9 orang saksi termasuk Fani (28), istri pelaku.

Dalam keteranganya Fani sampai saat ini tidak mengetahui keberadaan suaminya itu. Sampai semua keluarga sudah mencari namun tak ketemu.
Fani mengataakan terakhir berjumpa dengan suaminya, Sabtu (18/2) malam, saat itu suaminya mengajak Fani bersama anak mereka jalan-jalan, namun setelah pulang jalan-jalan suaminya langsung memulangkan istrinya, kemudian pergi tanpa pamit kepada sang istri.

“Saya nggak tahu dimana sekarang suami saya, sudah semua keluarga mencari tak ada satu pun yang mengetahui,” ujarnya.
Wanita berkacamata itu sempat bertanya kepada teman-teman suaminya namun tak ada yang mengetahui. Fani memang mengetahui suaminya bekerja di Komplek Cemara Asri, namun tidak mengetahui kalau bekerja di rumah Alex.

Fani selalu berdoa supaya suaminya cepat pulang dan menyerakan diri supaya jangan dicari-cari oleh polisi lagi. (gus)

Penculik Balita Diupah Rp500 Ribu

LUBUKPAKAM- Muhammad Ramadhan (2,5), balita yang diculik oleh teman bapaknya Darwin Lubis alias Kiwin (33), warga Jalan Rahayu, Dusun Tembung, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, akhirnya ditemukan personel Polres Deliserdang, Minggu (26/2). Muhammad Ramadhan alias Madan ditemukan di rumah Halimatussadiah Lubis (40), kakak kandung Darwin alias Kiwin di Jalan Bunga Rampai, Simalingkar B, Medan Tuntungan.
Penemuan itu berdasarkan keterangan Kiwin, yang terlebih dahulu ditangkap petugas Mapolsek Batangkuis. Kapolres Deliserdang AKBP Wawan Munawar Sik, menerangkan motif penculikan yang dilakukan Kiwin.

“Kiwin hendak membantu kakaknya Halimahtussadiah untuk memperoleh anak laki-laki. Kiwin menerima imbalan sekira Rp500 ribu dari Halimatussadiah,” kata Wawan Munawar.

Menurut Wawan, selama ini tersangka Kiwin memiliki catatan kriminal dua kali terlibat kasus penganiayaan dan sekali terjerat kasus penggunaan narkotika. Polisi menyita barang bukti berupa satu unit sepeda motor Yamaha Mio hitam BK 2638 MAG kendaraan yang dipakai tersangka Kiwin dan temannya Ade saat menculik korban dari rumah orangtuanya di Dusun 5, Desa Baru, Kecamatan Batangkuis pada Kamis (16/2) lalu. Kedua tersangka diancam Pasal 83 UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Dijelaskan Wawan, sebelum menculik Madan, Kiwin sempat mengambil foto balita malang ini lewat ponsel genggamnya untuk ditunjukkan kepada Halimah. Hal itu dibenarkan Halimah yang duduk di samping Kiwin saat diintrogasi di Sat Reskrim Polres Deliserdang.

“Saya suka anak itu, saat pertama kali melihat fotonya,” sebut Halimah. Dijelaskannya, dirinya dituntut untuk memiliki anak laki-laki oleh suami keduanya Leo Peranginangin (25). Padahal, dari pernikahannya pertama, Halimah sudah dikaruniai 4 orang anak dan sudah memiliki 3 orang cucu.(btr)
Atas keberhasilan penemuan itu membuat hati kedua orangtua korban, Ibnu Hajar dan Halidah Hasanah bersyukur. Saat ditemui di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Deliserdang, Senin, (27/2). Bahkan, pelukan serta ciuman tak mau mereka lepaskan dari anak ke lima dari enam bersaudara ini.

“Alhamdulillah dia sehat, sudah hampir dua minggu kami nggak jumpa sama dia,” ujar Halidah dengan rasa terharu.
Halidah tak bisa memaafkan kedua pelaku yang telah tega melakukan penculikan kepada anaknya. Halidah berharap kepolisian dapat menghukum berat pelaku dengan seberat beratnya.(btr)