26 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 13941

Tikus-tikus Pendidikan

Oleh:
Suhrawardi K Lubis

Divisi investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) beberapa waktu lalu melansir hasil temuan mereka tentang carut-marut penggunaan anggaran negara. Temuan itu intinya mengemukakan bahwa pencurian uang negara sepanjang tahun 2011, paling banyak terjadi di sektor pendidikan. Pencurian di sektor pendidikan bahkan mengalahkan pencurian uang negara di sektor keuangan dan sosial kemasyarakatan.

ICW dalam pemaparannya menegaskan, ada tiga sektor yang paling mencolok dari sepuluh besar sektor yang paling banyak uang negara dicuri. Pertama, sektor inevestasi pemerintah, kedua, sektor keungan daerah dan ketiga, sektor sosial kemasyarakatan. Sektor investasi pemerintah potensi kerugian negara mencapai Rp439 miliar, sektor keuangan daerah mencapai Rp417,4 miliar, sedangkan di sektor sosial kemasyarakatan potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp229 miliar.

ICW juga melansir, tingginya tingkat pencurian uang negara di sektor investasi pemerintah sebahagian besar disumbang oleh sektor pendidikan. Tingginya pencurian uang negara di sektor pendidikan disebabkan oleh meningkatnya jumlah anggaran pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Agus Sunaryanto (Kordinator divisi Investigasi ICW) mengemukakan bahwa koruptor itu seperti gula dan semut, di mana ada gula di situ ada semut yang berkumpul, di mana ada uang di situ ada koruptor yang menggerogoti.

Tingginya pencurian uang di sektor pendidikan ini terbukti dengan banyaknya kasus korupsi yang sedang diusut oleh aparat penegak hukum, yaitu sebanyak 54 kasus, sedangkan sektor keuangan daerah dan sektor sosial kemasyarakatan kasus yang sedang di usut hanya sebanyak 51 dan 42 kasus. Artinya kasus korupsi di sektor pendidikan melebihi sektor-sektor lainnya.

Namun sangat disayangkan, penindakan hukum terhadap pencuri-pencuri di sektor pendidikan tersebut semakin menurun. Menurut evaluasi kinerja pemberantasan penegakan hukum terhadap pencuri uang negara di sektor pendidikan yang dilakukan ICW selama tahun 1999-2011 bahwa 80 persen dari seluruh kasus korupsi di bidang pendidikan yang ditangani Kepolisan dan Kejaksaan tidak jelas tindak lanjutnya, padahal kasus-kasus tersebut sudah sampai ke tahap penyidikan. Dari tahun-tahun ke tahun penindakan hukum terhadap kasus-kasus pencurian uang negara di sektor pendidikan semakin menurun. Bahkan diduga kasus-kasus pencurian uang negara di sektor pendidikan tersebut sudah banyak yang disulap oleh aparat penegak hukum menjadi beras.

Tikus Pendidikan Merajalela

Hama tikus (korupsi) pendidikan pada masa belakangan ini semakin merajalela. Merajalelanya pencurian di sektor pendidikan disebabkan karena penindakan terhadap kasus-kasus pencurian uang negara di sektor pendidikan kurang (tidak) ditegakkan. Buktinya, dari 239 kasus korupsi yang diusut oleh kepolisian dan kerjaksaan, hanya 20 kasus korupsi yang sampai ke Pengadilan. Sisanya ke mana? Tentulah menguap begitu saja.
Siapa saja aktor pencuri di sektor pendidikan ini? Menurut temuan ICW pencuri utama di sektor pendidikan itu ialah kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan (seperti rektor, ketua dan direktur) dan pejabat struktural di lembaga yang memayungi bidang pendidikan.

Pimpinan atau manajer lembaga pendidikan yang mencuri uang negara sangat banyak, misalnya kepala sekolah mencuri sebahagin uang bantuan operasional sekolah (BOS). Rektor, direktur atau ketua yang memanipulasi bantuan yang diterima. BOS dan bantuan yang diterima.

Beragam macam modus pencurian yang dilakukan oleh pimpinan atau manajer lembaga pendidikan. Antara lain, bantuan pendidikan yang diterima dari pemerintah tidak dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah maupun Kampus. Bantuan dikelola secara tersendiri, dilaporkan secara tersendiri. Akibatnya, penggunaan bantuan pemerintah tersebut tanpa kontrol sama sekali, bahkan boleh jadi laporan penggunaan dana bantuan pemerintah yang dilaporkan itu dibiayai juga dari Anggaran Sekolah/Kampus. Artinya terjadi tumpang tindih anggaran.

Contoh kasus, berdasarkan temuan ICW bahwa salah satu sekolah berstandar Internasional di Jakarta tidak memasukkan dan BOS sebagai pendapatan sekolah. Di salah satu Kabupaten di Sumatera Utara, siswa-siswa dari berbagai kelas yang berbeda digabung dalam satu kelas, sehingga menjadi kelas besar dan bantuan BOS yang mengalirpun semakin besar. Modus lain, dana bantuan yang diperoleh dimasukkan dalam anggaran sebagai biaya pembelian barang-barang habis dan gaji guru dan dan karyawan honorer, padahal biaya tersebut tidak ada dikeluarkan sama sekali, atau sudah dikeluarkan dari Anggaran Sekolah/Kampus.

Bagaimana membasmi tikus-tikus pencuri uang negara di sektor pendidikan ini? Harapan tentunya tertumpu kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama. Karena kedua-dua kementerian inilah yang selama ini memayungi bidang pendidikan di Indonesia. Kedua-dua kementerian ini jangan hanya melakukan pencitraan belaka, tapi lakukan aksi nyata untuk membasmi tikus-tikus yang menngerogoti dana pendidikan. Apabila ini dapat dilakukan, tentulah dana bantuan yang diberikan dapat digunakan sesuai dengan peruntukannnya, dan pada gilirannya pembangunan di bidang pendidikan dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.

Selain itu, untuk membasmi tikus-tikus di sektor pendidikan ini juga diperlukan peran serta masyarakat untuk memberikan pengawasan terhadap penggunaan dana-dana bantuan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah, baik bantuan pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kota/kabupaten.

Masyarakat harus peduli terhadap penggunaan anggaran pendidikan, jangan berdiam diri saja kalau melihat terjadi penyimpangan. Selain itu, media pers maupun elektronik tentu diharapkan partisipasinya untuk melakukan pengawasan penggunaan anggaran pendidikan, demikian juga LSM-LSM.
Apabila semua pihak pro aktif melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan, mudah-mudahan tikus-tikus pencuri uang negara di sektor pendidikan akan dapat di minimalisir. Dengan itu diharapkan dana pendidikan akan dapat dipergunakan secara tepat guna. Amin!. (*)

Penulis adalah Dosen Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan

Minus Luis Pena

PERSELA vs PSMS

MEDAN- Bertandang ke Stadion Surajaya guna sua Persela petang ini menjadi pekerjaan berat bagi PSMS. Bagaimana tidak, pada laga yang disiarkan ANTV pada 15.30 WIB itu, Ayam Kinantan minus Luis Pena yang terkena akumulasi kartu dan Novi Handriawan yang terkena hukuman kartu merah.
Selain itu, lapangan di stadion Surajaya juga kurang bersahabat. Pasalnya, 60 persen dari lapangannya masih ditimbuni pasir. Dan stadion ini dianggap masih belum layak untuk dilaksanakan pertandingan.

Hal ini juga terucap dari pelatih PSMS Suharto AD. Ia mengaku, Stadion Surajaya kurang baik. “Kondisi lapangan 60 persen ditimbuni pasir yang tingginya mencapai 20 cm. Dengan keadaan seperti ini, akan menjadi pertandingan berat buat kita. Karena Markus dkk bakal sulit mengembangkan permainan,” ungkapnya didampingi asisten pelatih Roekinoy, usai memimpin sesi latihan sekaligus uji coba lapangan, Senin (27/2).
Namun, menghadapi tim berjuluk Laskar Joko Tingkir, yang notabene hingga pertandingan ke-12 belum pernah kalah di kandang, Suharto tetap yakin skuad asuhannya bisa mencuri poin.

Suharto juga bertarget mengukir sejarah dengan mengalahkan Persela di kandangnya. “Selain kita ingin memutus rekor Persela yang tak pernah kalah di kandang, kita juga ingin memperbaiki track record kita pada pertandingan away,” ujar pelatih berkepala plontos itu.

Pada empat laga tandang terakhir, PSMS hanya bisa mengoleksi satu poin, hasil seri saat bertandang ke Pelita Jaya dengan skor 2-2. Selebihnya, PSMS harus mengakui keunggulan tim tuan rumah. Seperti saat bertandang ke Persib Bandung, PSMS kalah dengan hasil akhir 3-1. Dijamu Arema Indonesia, PSMS ditekuk 2-1. Dan meladeni PSAP Sigli, PSMS juga harus menyerah dengan skor 2-1.

Pada laga tandang kali ini, meski tak diperkuat dua punggawa PSMS, Novi Handriawan yang terkena hukuman kartu merah dan Luis Pena karena akumulasi kartu kuning, Suharto yakin bisa mengangkat posisi PSMS di klasemen sementara ISL. “Kita harus bisa memanfaatkan laga tandang ini untuk mendongkrak posisi PSMS,” katanya.

Namun, tim besutan Miroslav Janu bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan. “Persela tim kuat, tapi kita optimis bisa menampilkan yang terbaik. Meski lapangan memang masih tak layak. Mudah-mudahan kita bisa menang, dan ini juga tak terlepas dari dukungan masyarakat Kota Medan yang sangat kita butuhkan,” tutur Suharto.

Pengganti Novi Handriawan, Suharto sudah menyiapkan Ledi Utomo dan mengisi posisi Luis Pena, ia akan mengandalkan Alamsyah Nasution. Kedua pemain pengganti ini dipastikan Suharto setelah melihat performa yang semakin baik pada tiga kali latihan di Surabaya dan Lamongan. Dan keduanya diberikan pelatihan khusus oleh Suharto dan Roekinoy.

Sementara, pelatih Persela Miroslav Janu menuturkan, menghadapi PSMS timnya menargetkan poin penuh. “Persela turun full team, termasuk gelandang terbaik Persela asal Argentina Gustavo Lopez,” ungkapnya.

Menurut Miroslav, Lopez merupakan kreator ulung yang tak tergantikan. Namun, Sukadana yang kerap membangun tempo permainan, menerima akumulasi kartu kuning sehingga tak bisa memperkuat tim. “Lopez memiliki skill yang lengkap. Begitu juga pemain asing Persela lainnya Roman Golian dengan tandukan yang kerap menyulitkan kiper lawan. Ia juga akan kita memanfaatkan untuk membobol gawang Markus. Golian telah mengkoleksi tiga gol dari tandukannya,” paparnya.

Ia berharap, anak-anak asuhannya harus bisa meredam permainan anak-anak Medan, termasuk kecepatan gelandang PSMS Anton Samba. “Terutama disiplin. Pengawalan terhadap pemain tamu wajib dilakukan, khususnya yang berpotensi membahayakan gawang Persela. Mengalahkan PSMS merupakan target Persela dalam laga ini,” tandasnya. (saz)

Anakku Mati Dibakar Orang…

Kejadian tragis di Kutalimbaru, Deliserdang, Minggu (26/2) malam, menyisakan cukup banyak pertanyaan. Duka keluarga dua korban tewas dibakar massa, Ricardo Sitorus dan Marco Siregar, seakan tiada henti. Apalagi, ketika keduanya pamit sebelum tewas untuk ke gereja.  

MEDAN- Saat rumah duka Ricardo Sitorus disambangi koran ini, suasana duka kental terasa di rumah bercat putih itu. Rekan dan kerabat korban tampak sudah memadati rumah duka di Jalan Perkutut, Gang Setuju, Kecamatan Helvetia.

Pada Posmetro Medan (grup Sumut Pos), S Sitorus (50) ayah korban mengaku, Minggu (26/2) sekira pukul 16.00 WIB Ricardo pamit untuk pergi ke gereja. Itulah pertemuan terakhir Sitorus dengan putra tercintanya sebelum meregang nyawa dibakar massa.
“Mau gereja di GBI Medan Plaza katanya, sudah mau diantarnya pun saya partamiangan tapi saya bilang tak usah karena saya takut mengganggu ibadahnya,” ujar Sitorus dengan wajah sembab dan berlinang air mata.

Setengah termangu, Sitorus mengaku malam harinya sekira pukul 20.00 WIB ia menelepon handphone Ricardo namun tak ada jawaban. Sekira pukul 04.00 WIB subuh, Effendi Hutasoit personel Reskrim Polresta Medan yang juga teman korban datang ke rumah Ricardo. “Katanya anak saya sudah mati dibakar orang,” urainya sambil berlinang air mata.

Sitorus meminta kepada kepolisian agar segera menangkap pelaku yang menyebabkan anaknya sampai tewas tak wajar. Menurutnya, ia tahu benar anaknya bukan seorang pencuri apalagi sampai nekat mencuri ternak. “Itu anak saya, saya tahu dia. Nggak mungkin dia mencuri lembu, dia bukan pencuri lembu. Anak saya usaha rental mobil,” tuturnya.

Selama ini Ricardo bekerja sebagai honorer di PD Pasar Simalungun. Namun, Ricardo juga menjalankan bisnis rental mobilnya. “Waktu pergi pakai kemeja lengan pendek, celana jeans. Pakai kalung mas putih 10 gram, cincin 10 gram, di tangan kanan ada cincin permata merah 3 gram,” urai pegawai Dinas Pendidikan ini.

Pengakuan yang sama juga terlontar di rumah duka Marco di Jalan Perkut Gang Gereja Kecamatan Helvetia. Sore itu pada waktu yang sama Marko pamit untuk pergi ke gereja.

“Katanya mau gereja, Bang,” ujar Putra (17) adik Marco saat disambangi di rumahnya.

Putra juga mengaku sore itu tak berfirasat buruk soal abangnya. “Perginya rapi, pakai kemeja dan pakai jeans,” tutur Siswa ST Thomas II itu sambil mengaku orangtuanya belum dapat ditanyai karena masih dalam keadaan berduka.

Pada kejatian Minggu (26/2) malam lalu, sejatinya Kepala Desa Lau Bakeri sempat mengamankan Brigadir Albertus Zebua dan meminta bantuan kepada Polsek Kutalimbaru. Tapi, banyaknya massa membuat nyali personel Reserse Polsek Kutalimbaru ‘ciut’ (lihat grafis). “Karena personel Polsek minim membuat warga terus menganiaya Ricardo dan Marco. Massa kemudian menyeret keduanya ke bawah kendaraan yang sudah dibalikkan,” jelas Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso. Setelah berada di samping mobil yang sudah terbalik, mobil yang dikendarai korban kemudian dibalikkan kembali sehingga posisinya kembali seperti semula. Lalu, massa membakar mobil tersebut hingga menewaskan Ricardo dan Marco.

“Keduanya tewas di TKP akibat luka bakar yang cukup parah, setelah itu kita mengamankan jasad korban untuk di autopsi di RS Adam Malik. Mobil korban juga sudah diamankan di Polresta Medan, berikut tiga orang yang selamat. Jadi itu bukan pencuri lembu,” ungkap Heru.

Heru mengaku saat ini polisi sedang memburu Kelana yang memancing warga bertindak anarkis hingga menyebabkan Ricardo dan Marco tewas diamuk massa. Ditanya soal SOP tindakan warga yang anarkis, Heru mengatakan anggotanya tak ada yang melakukan tembakan peringatan. “Massa sudah terlalu anarkis,” sebutnya.

Bentuk Frustasi Kolektif

Penasihat Kapolri Kastorius Sinaga, sangat menyesalkan sikap main hakim sendiri yang diperlihatkan massa di Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten DeliSerdang, Sumatera Utara. Pasalnya hanya karena diteriaki maling, massa langsung membakar dua orang hidup-hidup hingga tewas.
Namun meski menyesalkan hal tersebut, menurut sosiolog Universitas Indonesia ini secara khusus kepada Sumut Pos mengatakan tingginya aksi main hakim yang dilakukan masyarakat, merupakan bentuk frustasi kolektif karena kekecewaan yang berkepanjangan. Sehingga masyarakat gampang dihasut untuk melakukan tindakan anarkis.  “Jadi dalam hal ini, aparat kepolisian tidak dapat berbuat banyak. Polisi hanya menjadi petugas pemadam kebakaran yang hanya memadamkan sesaat dan menjaga aksi tersebut tidak meluas. Seharusnya kan mengatasi hal ini itu dilakukan oleh instansi-instansi yang ada,”ungkapnya.

“Jadi tingginya aksi kekerasan jika dilihat dari angka kuantitatif yang dilakukan masyarakat, memperlihatkan kalau Pemda di Sumut sangat belum bekerja dengan maksimal. Bahkan dari segi persentase, kenaikan aksi main hakim ditengah masyarakat Sumut, mencapai 15-20 persen setiap tahunnya. Sering kita lihat Pemda tidak berbuat apa-apa menyikapi apa yang terjadi,”ungkap Kastorius yang menyatakan Sumut dalam analisa kerawanan konflik di Indonesia, termasuk daerah kerawanan dalam kategori hotspot,” timpalnya lagi..

Menurut Kasto, Sumut urutan teratas peta kerawanan konflik, disebabkan beberapa hal. Kekecewaan yang berlarut-larut akibat persoalan tanah ini, begitu banyak terjadi. Belum lagi akibat kesulitan ekonomi dan hal-hal sosial lain. “Makanya saya sebut kalau ditanya mekanisme penanganan, itu tidak bisa ditangani kepolisian sendiri. Tapi Pemda, termasuk Badan Pertanahan Nasional dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada. Jadi harus diselesaikan secara konfrehensif. Pemda harus bijak menyikapi isu-isu pembebasan lahan perkebunan, tambang dan lain-lain. Kalau persoalan yang terjadi dapat diminimalisir, maka saya pikir masyarakat tidak akan gampang lagi terpicu hanya karena hasutan,”ungkapnya.(ala/smg/gir)

Mabes Polri dan Poldasu tak Kompak

Korban Tewas di Kutalimbaru Diyakini Anggota BIN

Identitas kedua korban yang dibakar hidup-hidup oleh warga karena diduga maling lembu masih menjadi perdebatan. Bahkan, ada yang mengatakan salah satu korban adalah anggota Badan Intelejen Negara (BIN).

Identitas korban sebagai anggota BIN malah dinyatakan pertama kali oleh Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso, pada wartawan di ruang kerjanya Senin (27/2) siang. “Salah satu korban yakni RJS merupakan anggota BIN, keterangan ini kita peroleh dari hasil pemeriksaan beberapa teman korban yang berhasil melarikan diri ke dalam hutan,” ujar Heru kemarin siang.

Selang beberapa jam, Heru malah meralat keterangannya. RJS alias Ricardo Jeferson Sitorus adalah warga Jalan Perkutut Gang Setuju Medan. Sedangkan seorang lagi – yang tewas dibakar juga – bernama Cristian Marko Siregar warga  Jalan Perkutut, Medan.

“Ricardo bukan anggota BIN ataupun anggota polisi, namun ia sering mengaku anggota BIN. Begitu juga M Siregar. Dia bukan anggota polisi. Kalau anggota polisi pasti kita bilang polisi,” kata Heru, tadi malam.

Senada dengan Heru, keterangan yang didapat dari Kapolresta Medan Kombes Monang Situmorang. “Tau dari mana informasi itu, kan tidak bisa dipertanggungjawabkan, keduanya diketahui sipil!” tegasnya.

Menariknya, keterangan Heru dan Monang berlawanan dengan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution. Dia membenarkan bahwa dua korban tewas akibat amuk massa di Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatra Utara, adalah anggota polisi. Keduanya adalah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Siregar, anggota Direskrim Polda Sumut. “Anggota yang meninggal ialah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Siregar. Mereka dianiaya warga dan kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dibakar,” ungkap Saud dalam keterangan persnya di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.
Saud Usman menjelaskan, saat itu kedua orang  korban bersama dengan tiga orang rekannya yakni Albertus Zebua, Moses Mindo Purba, dan Bambang Irwanto hendak melakukan penangkapan terhadap seorang bandar Togel berinisial K.

“Namun saat anggota kita hendak menangkap K, mereka diteriaki maling. Massa lalu mengejar anggota kita. Tiga berhasil melarikan diri. Tapi dua anggota kita tertangkap, dianiaya, dimasukkan ke mobil, dan dibakar,” kata Saud Usman.

Ketika keterangan Saud Usman diadu ke Heru, Kabid Humas ini pun langsung meralat. “Ya yang saya paparkan sama kamu tadi ya itu lah yang saya laporkan ke Mabes Polri. Salah itu, mungkin beliau sedang terburu-buru,” tegas Heru saat ditanya ada tidak membuat laporan ke Mabes Polri.
Selain soal identitas, motif kejadian tragis itu juga belum jelas. Pasalnya, banyak cerita yang berkembang dan semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Pertama, soal menciduk Kelana (lihat grafis), seorang bandar toto gelap (Togel).  “Kita belum bisa pastikan mau menggerebek atau apa, keterangan sementara kelimanya menjumpai bandar judi itu dan kasus ini kita masih melakukan pengumpulan bahan keterangan,” terang Kombes Monang Situmorang.

Apa yang diungkapkan Monang memberi cela berkembanganya isu kalau kedatangan korban dan rekan ke Kelana untuk mengambil ‘upeti’.
Selain soal bandar togel, motif lain adalah tentang sewa-menyewa mobil alias mobil rental. “Kepergian Marko dan temannya ke Kutalimbaru untuk menjemput mobil mereka karena mereka itu usaha rental mobil. Mereka mendengar mobil mereka berada di Kutalimbaru, lalu mereka pun ke sana untuk menjemput mobil. Tak benar keponakan saya itu melakukan perbuatan kriminal karena dia itu anaknya baik-baik dan sopan,” kata Wilmar Sihombing (37), paman Marko Siregar (salah korban tewas lainnya) saat berada di instalasi jenazah RSUP H Adam Malik, Senin (27/2) siang.

Ucapan sang paman juga didukung oleh teman-teman korban. “Mobil itu punya Pak Haji, katanya dirental nggak dibalik-balikkan. Jadi mereka mau nyari itu ke sana,” ujar teman korban, Franky.

Dulu, lanjut Franky, Ricardo memang honorer di PD Pasar Simalungun. Namun, Ricardo lebih memilih menjalankan bisnis rental mobilnya. “Memang dulu dia di Siantar, tapi seminggu dua kali saja dia ke sana. Nggak tahu sekarang entah masih aktif di sana atau nggak. Dia nggak tinggal disana, nginap-nginap saja di rumah kawannya di sana,” jelas Franky yang tinggal tak jauh dari rumah Ricardo.

Hal yang sama juga diakui beberapa teman Marko, mereka mengatakan sore itu Marko berniat menemani Ricardo untuk menjemput mobil yang disewa orang dan tak kunjung dikembalikan. “Dia cuma mau ngawani si Jeff (Ricardo), mereka memang join itu,” tutur Jhon Paul Siringo-ringo (29), teman Marko.

Terlepas dari itu, kejadian ini mungkin tidak akan terjadi jika warga bisa menahan emosi. Tapi, warga memang sudah geram atas dengan aksi pencurian yang sering terjadi daerah tersebut. “Kami sering kehilangan Bang, makanya kami geram dengan aksi pencurian, makanya kami dengar orang teriak maling, langsung mengajarnya,” kata seorang warga, R Pasaribu (40), kemarin.(mag-5/gus/uma/sam/ala/roy/eza/smg)

Kronologis Malam Mencekam di Kutalimbaru

Minggu (29/2)

Sekitar pukul 17.00 WIB

  1. Brigadir Albertus Zebua, Moses Minardo Purba, Cristian Marco Siregar, Rikardo Sitorus, dan Bambang Irwanto merental mobil Kijang Innova warna hitam (BK 1020 HK) di kawasan Jalan Rajawali Medan. Pemiliknya bernama Hj Nelima SH warga Jalan Terompet No 2 Kelurahan Titi Rantai Medan.
  2. Rombongan menelepon Koptu Suroso (anggota Koramil Pancurbatu). Koptu Suroso memberi info tentang adanya perjudian jenis toto gelap (Togel) di daerah Kampung Merdeka Desa Gelugur Rimbun Kecamatan Pancurbatu. Disebutkan bandar tersebut bernama Kelana.
  3. Rombongan bertemu dengan Koptu Suroso di sebuah rumah makan belut di kawasan Desa Sukaraya Kecamatan Pancurbatu. Mereka mengatur siasat untuk menangkap Kelana.
  4. Koptu Suroso bersama dengan Bambang Irwanto mengendarai sepeda motor matik meluncur ke lokasi penulisan judi togel yang mereka incar itu.
  5. Begitu sasaran target terlihat, keduanya pun kembali menemui rekannya yang lain itu di sebuah lahan kosong di kawasan Tanjung Anom.

Sekira pukul 19.00 WIB

  1. Rombongan kembali bergerak menuju Kolam Samsul di Desa Sukaraya Kecamatan Pancurbatu. Namun, Koptu Suroso tidak ikut lagi dalam rombongan tersebut.
  2. Bambang Irwanto menelepon Kelana untuk bertemu di depan kolam Samsul.
  3. Kelana tiba di Kolam Samsul tersebut.
  4. Cristian dan Brigadir Albertus Zebua langsung membekuk Kelana. Kelana pun berteriak “maling!” sambil melarikan diri ke arah ilalang dekat kolam tersebut.
  5. Warga yang mendengar teriak Kelana warga langsung mencari sumber suara.
  6. Rombongan dikejar massa yang mulai tak terkontrol emosinya.
  7. Rikardo Sitorus mengajak empat rekannya melarikan diri ke arah Desa Lau Bakeri Kecamatan Kutalimbaru dengan mengendarai mobil yang mereka rental.
  8. Warga yang sudah emosi mengejar dengan menggunakan sepeda motor dan meneriakinya maling. Sepanjang jalan, rombongan dilempari warga dengan menggunakan batu.

Sekira pukul 22.30 WIB

  1. Rombongan dikepung warga tepatnya di Glugur Rimbun Simpang Lonceng Blok H Perumahan Bumi Tuntungan Sejahtera Desa Lau Bekeri Kecamatan Kutalimbaru.
  2. Kelima orang dalam mobil ditarik warga keluar mobil dan menghujaminya dengan pukulan dan tendangan. Kelimanya pun dituduh sebagai komplotan maling lembu.
  3. Brigadir Albertus Zebua pun mengatakan kalau dirinya polisi, namun warga yang sudah emosi tidak lagi peduli.
  4. Rikardo Sitorus mengeluarkan kartu identitas serta diduga mengeluarkan senjata api jenis revolver.
  5. Moses Minarto Purba dan Bambang Irwanto diselamatkan oleh salah satu warga sekitar saat mereka mengaku kalau mereka merupakan warga sipil. Begitu keluar dari kerumunan massa Moses Minarto Purba dan Bambang Irwanto pun langsung melarikan diri ke hutan yang tak jauh dari lokasi mereka ditangkap warga.
  6. Brigadir Albertus Zebua dibawa masyarakat ke rumah kepala desa sedangkan Ricardo Sitorus dan Cristian Siregar terus dihajar warga.
  7. Keduanya diseret-seret sejauh 50 meter dan terus dipukuli. Begitu sampai di mobil yang mereka gunakan sebelumnya. Warga pun langsung menindih dengan pukulan bertubi-tubi di dalam mobil tersebut. Selanjutnya keduanya yang berada didalam mobil langsung dibakar hingga tewas.
  8. Kepala Desa Lau Bakeri menghubungi polisi dan menyerahkan Brigadir Albertus Zebua ke Polsek Kutalimbaru.

Sumber: Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang

Ikut Travel Tour, Murah Meriah

Jalan-jalan ke Luar Negeri 

Jalan-jalan ke luar negeri??? Mahal kalee! Barangkali itu isi pikiran sebagian pembaca. Tetapi bagi sejumlah orang, ‘mahal’ itu ternyata bisa diakali. Inilah pengakuan sekelompok ladies-ladies dari berbagai kota di Sumut, yang sepekan lalu baru pulang dari travel tour ke sejumlah kota di Cina.

Lilis, wanita pemilik sebuah salon di Kota Tebing, mengaku ketagihan jalan-jalan ke luar negeri. Candu itu muncul setelah beberapa tahun lalu mengawalinya untuk kali pertama. “Awalnya diajak teman ikut travel tour. Masih sebatas ke Singapura dan Penang. Lama-lama jadi ketagihan. Akhirnya, dalam setahun paling tidak harus ada dua kali acara jalan-jalan bersama keluarga. Tak mesti ke luar negeri. Domestik juga bisa,” kata wanita berpenampilan modis ini mengawali pembicaraan dengan Sumut Pos.

Sejak ikut travel tour ke luar negeri, ia sudah mengunjungi Malaysia, Cina, Bangkok, dan sejumlah negara lainnya. ‘Sementara ini masih kawasan Asia. Soalnya biayanya lebih murah dibanding Eropa,” ujar  ibu tiga anak ini. Untuk domestik, ia sudah mengunjungi Parapat, Jakarta, Bandung, Yokjakarta, Bali, dan lainnya.

Ikut travel tour, bagi Lilis tak selalu harus bersama teman. Terkadang ia berangkat bersama suami dan anak-anak, khususnya kalau perjalanan domestik.
Bagaimana soal biaya?

“Ya… kalau ikut travel tour ke luar negeri ‘kan biasanya sudah direncanakan jauh-jauh hari. Seperti misalnya ke Hong Kong-Macau pertengahan bulan ini, sejak tahun lalu kami sudah menabung. Trus, ya ikut jula-jula (semacam arisan, red) lo… untuk menambah-nambah persediaan,” lanjut wanita berusia 49 tahun yang terlihat awet muda ini.

Apa yang membuat dirinya ketagihan ke luar negeri? “Jalan-jalan ini semacam waktu untuk menikmati hasil kerja keras selama bekerja mencari duit. Kita tidak memikirkan bisnis, tidak memikirkan pekerjaan di rumah, dan segala tetek bengek lainnya. Benar-benar hanya untuk happy-happy menikmati waktu untuk diri sendiri. Kalau bawa suami, kita serasa pacaran lagi berdua,” senyumnya manis.

Lain lagi pengakuan Nengsi (49). Wanita pengusaha kebun sawit ini mengaku senang ikut travel tour, karena suka melihat negeri lain. “Banyak yang bisa dilihat dan dipelajari dari negeri lain. Jadi kita tak seperti katak dalam tempurung,” katanya. Ia lebih suka ikut travel tour dibanding bepergian sendirian, karena ada teman jalan sekaligus menambah teman baru.

Sementara Nurainun, pengusaha pupuk di Tanjung Balai, mengaku suka ikut travel tour karena banyak teman jalan selama bepergian. Soal biaya, ia mengatakan selalu menyisihkan penghasilan untuk biaya happy-happy. “Setelah capek bekerja keras mencari duit, harus dinikmati dong,’’sebutnya.
Irawati alias Awan (48), pengusaha toko bakery di Kota Tebing mengatakan hal serupa. Hanya saja ia bukan karena takut sendirian makanya ia lebih memilih ikut travel tour. “Saya malah lebih sering bertindak sebagai tour leader bagi teman-teman dari Tebing, yang berminat melancong ke luar negeri. Jadi di samping memang suka jalan-jalan, juga karena ini jadi pekerjaan,” kata dia.

Pengakuan senada juga diutarakan Dwi Ambarwati (32), Herni Ho (30), Lina (31), Shanti (34). Para ladies yang umumnya memiliki usaha sendiri atau suaminya pengusaha ini mengaku menikmati travel tour ke luar negeri, karena programnya sudah jelas dan biaya lebih bisa dikendalikan. “Lebih terarah. Jadi tidak bingung,” kata mereka.

Linawati alias Ana (37) asal Tanjungbalai, lebih luar biasa lagi. Meski sudah mengunjungi sejumlah negara kota besar di Asia, seperti Kualalumpur, Penang, Singapura, Beijing, Hong Kong, Macao, Bangkok, dan lainnya, ia masih ngebet ingin mengunjungi puluhan negara lain di seluruh dunia.
Nah, bagi para ladies yang berminat jalan-jalan ke luar negeri, ikut travel tour barangkali merupakan salahsatu pilihan menarik. Soal biaya, bagi yang tak memiliki uang melimpah, bisa menabung sejak sekarang, atau ikut jula-jula. Yang pasti, tidak kecewa. (mea)

Tiga Jembatan dan 4,6 Km Jalan Rusak

SIGLI- Memasuki hari ketiga pasca banjir bandang yang melanda Kecamatan Tangse Pidie, akses transportrasi masih terkendala. Sebab, tiga jembatan di daerah itu putus total dan tidak bisa dilintasi kenderaan roda dua dan empat, juga 4,6 kilometer jelan amblas sehingga menyulitkan petugas dalam mendistribusikan bantuan.

Data dari Posko Badan Penanggulangan Daerah (BPBD), Kabupaten Pidie, korban luka, warga Ule Gunong wanita dua orang, sementara jumlah penduduk Blang Malo 350 KK dan 1.400 jiwa, pengungsi 45 KK, 149 jiwa. Sedangkan jalan yang putus diantaranya, Gampong Blang Malo-Kuala Panteu 1 Km, Blang Malo-Pulo Pante 300 meter, Ulee Gunong-Kebun Dodok 3 km dan jalan Ulee Gunong-Dayah Lambo 300 meter amblas, sedangkan Daerah Aliran Sungai (DAS), yang rusak sepanjang 6 Km diantaranya, Gampong Neubok Badeuk 2 km, Pulo Seunong 1 Km, Pulo Kawa 1 Km, Pulo Mesjid I, 1 km dan Gampong Pulo Mesjid II 1 km. Sementara titik pengungsi ada tiga, Gampong Paya Guci, Blang Malo dan Kebun Nilam.

Kepala BPBD, Pidie Apriadi SSos kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos) Senin (27/2), mengatakan, selain mendistribusikan bantuan pihaknya juga terus berupaya memperbaiki kembali sarana jalan dan jembatan yang rusak agar transportrasi Tangse-Beureuneun lancar dan bisa dilalui. “Kita kerahkan semua personil termasuk 120 TNI dan 100 lebih personil Polisi serta BPBA, Satgana dan relawan PMI,” jelasnya.(mir/smg)

BBM Naik, Bantuan Siswa Miskin juga Naik

BOGOR- Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 April mendatang, langsung mendapatkan respon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kementerian yang dipimpin Mohammad Nuh itu sudah berancang-ancang menaikkan unit cost Bantuan Siswa Miskin (BSM). Upaya ini digunakan untuk meredam gejolak masyarakat terhadap kenaikan BBM.

Usai membuka perhelatan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2011 di Sawangan, Depok kemarin (27/12), Nuh mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi tentu akan mengakibatkan inflasi dan menurunnya daya beli. Terutama untuk masyarakat yang masuk kategori miskin dan hampir miskin.

Dampak tersebut, kata Nuh, jika tidak ditanggulangi bisa memperparah tingkat putus sekolah. Dia menyebutkan, sekitar 70 persen kasus drop out disebabkan karena persoalan ekonomi. Orang tua sudah tidak punya biaya lagi untuk membiayai sekolah anaknya. “Tentu kita harus memagari supaya angka drop out tidak menjadi-jadi akibat kenaikan harga BBM,” ujar menteri asal Surabaya.

Salah satu upaya atau perhatian untuk siswa miskin diberikan melalui BSM. Tahun ini, Kemendikbud menganggarkan nominal BSM mencapai Rp3,9 triliun. Nuh menegaskan, kenaikan unit cost BSM ini masih dalam tahap ancang-ancang. Siap dilakukan jika harga BBM bersubsidi benar-benar dinaikkan pemerintah.

Upaya Kemendikbud menaikkan unit cost BSM dimulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dan sederajat. Untuk unit cost BSM tingkat SD naik dari Rp 380 ribu menjadi Rp 450 ribu per siswa per tahun. Untuk tingkat SD jumlah penerima BSM mencapai 3,5 juta anak.

Sementara pada jenajgn SMP dan sederajat, unit cost BSM dinaikkan dari Rp 580 ribu menjadi Rp 700 ribuan per siswa per tahun. Jumlah siswa SMP pemerintah BSM mencapai sekitar 1,7 siswa. Terakhir untuk jenang SMA dan SMK, unit cost BSM naik dari Rp 700 ribuan menjadi Rp 1 juta. Total siswa SMA dan SMK yang menerima BSM ini sekitar 1,1 juta anak.

Sementara, utak-atik besaran kenaikan harga BBM terus dilakukan pemerintah. Pemerintah juga akan membahasnya dengan Komisi VII DPR untuk menentukan kepastian kenaikan BBM sebagai imbas melejitnya harga minyak dunia.

Meski begitu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, kenaikan harga yang rencananya akan diberlakukan bulan April itu tidak akan mencapai 40 persen dari harga saat ini. “(Kenaikan) tidak sampai segitu (40 persen),” kata Jero di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin (27/2).

Jika harga BBM saat ini Rp4.500, maka kenaikan maksimal (40 persen) adalah Rp1.800, sehingga harga BBM akan menjadi Rp6.300. Saat ini, beberapa kalangan memang menyarankan kenaikan harga BBM berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.500.
Jero menjelaskan, selain membahas kisaran kenaikan harga BBM, pemerintah juga merumuskan kompensasi yang akan diberikan kepada masyarakat miskin. Termasuk yang berhak mendapatkan kompensasi itu.(wan/fal/jpnn)

Kejagung Jerat Dhana Lima Pasal

JAKARTA- Kejaksaan Agung (Kejagung) benar-benar all out membongkar kasus mantan PNS Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak yang jadi tersangka korupsi Dhana Widyatmika. Korps Adhyaksa itu bahkan memprioritaskan kasus tersebut daripada kasus korupsi lainnya. Mereka yakin kejahatan tersebut tidak hanya berhenti di PNS golongan III-c tersebut.

“Speed kasus ini akan kami tingkatkan. Ini sudah jadi prioritas,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Noor Rachmad di Jakarta, Senin (27/2). Karena itu, kata Noor, semua sumber daya terbaik Kejagung dikerahkan untuk menuntaskan kasus dugaan makelar pajak model Gayus Tambunan itu.

Bahkan, kata Noor, saat ini tim khusus bentukan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Andhi Nirwanto sedang menyeleksi satu penyidik sebagai tambahan personel. Itu dilakukan agar kasus tersebut cepat rampung dan bisa dibawa ke meja hijau. “Sekarang sedang interview yang bersangkutan. Dengan tenaga baru di tim khusus, kasus bisa cepat tuntas,” katanya.

Saking “geregetannya”, penyidik pada JAM Pidsus bakal menjerat Dhana lima pasal sekaligus. Selain pasal-pasal tentang korupsi, bapak satu anak itu bakal dijerat pasal money laundering, gratifikasi, penerimaan suap, dan pemerasan. Sebab, ada indikasi Dhana tidak hanya “pasif” menerima suap dan gratifikasi. Tapi juga meminta bahkan mengarah ke mengancam jika tidak diberi.

Yang mengejutkan, kendati banyak yang menyebut kasus ini “Gayus baru”, justru perkara ini dilakukan jauh sebelum Gayus menjalankan aksinya. Jika Gayus melakukannya pada 2009, Dhana diduga melancarkan aksinya pada 2002. Saat itu, dia masih bertugas di Ditjen Pajak sebagai petugas pemeriksa pajak.(aga/kuh/jpnn)

Putra Baasyir Sebut Intervensi CIA

MA Vonis Kasasi Abu Bakar Baasyir 15 Tahun  

JAKARTA- Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan pidana dengan hukuman penjara 15 tahun kepada terdakwa kasus tindak pidana terorisme Abu Bakar bin Abud Ba’asyir atau biasa dikenal dengan sebutan Abu Bakar Ba’asyir. Putusan di tingkat kasasi dalam perkara itu dipimpin hakim agung Djoko Sarwoko, didampingi dua anggota yakni Mansur Kertayasa dan Andi Samsan Nganroe.

Dalam amar putusan perkara pidana khusus tindak pidana korupsi Nomor 2452 Kasasi/Pid. Sus/2011 tersebut, MA menolak permohonan Kasasi II terdakwa Abu Bakar Ba’asyir dan mengabulkan permohonan Kasasi I dalam tuntutan Penuntut Umum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 15 tahun.

“Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No 148/Pid.B/2011/PN tanggal 16 Juni 2011,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur pada saat membacakan petikan putusan perkara itu, di gedung MA, kemarin (27/2).
Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan Abu Bakar Ba’asyir dengan hukuman penjara 15 tahun dengan Putusan Nomor 148/Pid.B/2011/PN Jakarta Selatan 16 Juni 2011. Ba’asyir dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaan subsider, yakni pasal 14 jo pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme.

Anak Baasyir,  Abdul Rachim menilai putusan MA ini sewenang-wenang. “Ini adalah maker musuh Allah dan intervensi Amerika Serikat, CIA dan sekutunya,” kata pria yang akrab disapa Iim ini.

Keluarga langsung berangkat ke Jakarta menjenguk Baasyir hari ini di Bareskrim Mabes Polri. “Langkah selanjutnya akan kami konsultasikan dengan tim kuasa hukum dulu,” katanya. Yang jelas Iim menduga AS  melakukan intevensi karena dua hari sebelum putusan kasasi mengeluarkan pernyataan bahwa JAT yang didirikan Baasyir merupakan organisasi teroris internasional. (rdl/ris/jpnn)

KPK: Ketum Parpol tak Kebal Hukum

JAKARTA-Ketua KPK Abraham Samad mengatakan, jika hukum memerlukan, pihaknya akan memanggil Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. “Sehubungan dengan itu, kini KPK menginvestigasi lebih dalam kasus korupsi wisma atlet. Dengan sendirinya KPK tentu menelisik secara hukum dugaan keterlibatan Anas Urbaningrum,” kata Abraham di lobi ruang rapat Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, kemarin (27/2).

“Begini ya, di dunia ini tidak ada orang yang kebal hukum, termasuk seseorang itu dalam posisi ketua umum partai politik apa pun,” tegas Abraham.
Ketika ditanya proses hukum mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Angelina Sondakh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap kasus wisma atlet, Abraham menegaskan, pihaknya akan segera menahan Angelina bila persyaratan hukumnya sudah terpenuhi.

“Jika ditahan sebelum berkas perkara selesai, tersangka bisa bebas demi hukum saat masa tahanannya habis. Jadi, KPK harus berhati-hati,” ungkapnya. (fas/jpnn/c7/jpnn)